cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Journal of Linguistics
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : 24427586     DOI : -
Core Subject : Education,
E-JURNAL LINGUISTIK adalah jurnal ilmiah linguistik yang terbit dua kali setahun, yaitu bulan Maret dan September yang dimulai pada awal bulan September. Jurnal ini memuat artikel yang mengkaji aspek-aspek kebahasaan, baik mikrolinguistik maupun makrolinguistik. Penerbitan jurnal ini bertujuan untuk mewadahi pemublikasian karya tulis ilmiah mahasiswa Program Magister (S2) Linguistik) Program Pascasarjana Universitas Udayana.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2. Mei 2008 No. 1" : 6 Documents clear
PEMAKAIAN BAHASA MANGGARAI DALAM MISA INKULTURATIF DIKABUPATEN MANGGARAI Pius Pampe; Prof. Dr. I Wayan Jendra, S.U.
e-Journal of Linguistics Vol. 2. Mei 2008 No. 1
Publisher : Doctoral Studies Program of Linguistics of Udayana University Postgraduate Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.468 KB)

Abstract

Wacana BM yang digunakan dalam misa inkulturatif di Kabupaten Manggarai merupakan wacana ekspresif berwujud monolog. Wacana ini unik, karena hanya terdiri dari satu paragraf pendek, namun struktur pertuturannya utuh yang ditunjukkan oleh ada bagian pendahuluan, prainti, inti, prapenutup, dan penutup. Demikian juga pada aspek fonologis memiliki keunikan yang ditunjukkan oleh bunyi [o] pada kata io ‘ya’, kata kepok ‘puji syukur’, serta bunyi [i] pada kata Mori ‘Tuhan’ yang diucapkan relatif panjang serta intonasi agak tinggi. Keunikan lain terlihat pada aspek sintaksis yang ditunjukkan oleh penggunaan kalimat predikat verba serial serta penggunaan kalimat konstruksi pasif pada kalimat majemuk yang memiliki hubungan ketergantungan parataktik. Verba pada kalimat majemuk ini berupa kata kerja transitif dan oblig agent berupa frase preposisi l-ami ‘oleh kami’ dan l-ite ‘oleh engkau’, sedangkan subjek berupa nomina yang memiliki fungsi sintaktik sebagai patient. BM yang digunakan dalam misa inkulturatif memiliki tiga ragam, yakni ragam biasa, semibeku, dan ragam beku. Makna dan nilai religius yang terkandung di balik penggunaan kedua ragam tersebut kurang dipahami oleh UKEM, karena masing-masing hanya mencapai 43. 22% dan 44, 34%. Mereka hanya memahami makna dan nilai yang terkandung pada penggunaan ragam biasa yang mencapai 71,52%.
Relasi Gramatikal BahasaMelayu Klasik dalam Hikajat ‘Abdullah Muhammad Yusdi; Prof. Dr.Aron Meko Mbete; Prof. Dr. Drs. I Ketut Artawa, M.A., Ph.d.; Prof. Dr. I Wayan Pastika, M.S.
e-Journal of Linguistics Vol. 2. Mei 2008 No. 1
Publisher : Doctoral Studies Program of Linguistics of Udayana University Postgraduate Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.155 KB)

Abstract

Beberapa orang ahli linguistik telah mengkaji naskah Bahasa Melayu Klasik namun naskah BMK pada Hikajat ‘Abdullah yang berkenaan dengan Relasi Gramatikal belum pernah dilakukan hingga sekarang ini. Penelitian dan pembahasan tentang tipologi sintaksis BMK secara khusus belum menjadi perhatian para peneliti dan pengamat BMK dengan kerangka kerja sesuai dengan tipologi linguistik. Penelitian ini membahas perihal relasi gramatikal dengan kerangka kerja linguistis Adapun yang menjadi pokok bahasan dalam disertasi ini ialah “Bagaimana Relasi Gramatikal” saling berhubungan dalam BMK yang terdapat pada Hikajat ‘Abdullah. Selain dengan pembahasan yang dilandasi dengan teori tipologi linguistik, penelaahan data penelitian ini juga dilakukan dengan teori tata bahasa formal yaitu Tata bahasa Relasional (TR) dan pembahasan ini juga melibatkan peran semantis yang tercakup pada sebuah bangunan sintaksis secara keseluruhan sehingga orang tidak kehilangan momentum dan masih menyadari bahwa bahasa adalah maujud hak milik umat manusia yang berartikulasi ganda, yaitu bentuk (bunyi) di satu pihak dan arti (makna) di pihak lain. Sasaran pembahasan ini dititik beratkan pada tataran sintaksis namun dengan tidak meninggalkan sama sekali keberterimaan semantis seperti yang disebutkan di atas tadi. Adapun di antara pokok persoalan yang dianalisis tersebut ialah masalah akusativitas, ergativitas, dan medialitas. Adapun tujuan utama penelitian ini ialah menganalisis dan membahas sifat-perilaku gramatikal yang pada gilirannya memperlihatkan peran semantis juga pada tataran sintaktis BMK HABAKM. Dengan demikian, dapatlah ditentukan relasi gramatikal dan peran semantis dari segi tipologi sintaksis BMK HABAKM ini.Setelah menelaah data yang ada pada BMK HABAKM secara tipolgis, dapat disimpulkan bahwa, secara sintaktis, BMK HABAKM memperlakukan S sama dengan A, dan perlakuan yang berbeda dikenakan pada P (S = A, ? P). Oleh karena itu, BMK HABAKM termasuk kelompok bahasa yang bervivot S/A. Sistem relasi gramatikal yang seperti ini membuktikan bahwa BMK pada saat Hikajat ‘Abdullah itu ditulis berkaidah sintaksis sebagai bahasa yang bertipologi nominatif-akusatif. Kalau diamati dengan teliti, perilaku A dan P verba intransitif dalam bahasa ini, kemudian dihubungkan dengan S secara semantis dengan pemakaiannya, kelihatanlah bahwa BMK HABAKM tergolong dalam bahasa yang bersistem Sa dan Sp sebagaisub-bahagian S. Pemarkahan morfologis menunjukkan bahwa terdapat S terpilah (split) dan S alir (fluid) dalam BMK dengan verbanya sebagai poros. Dengan demikian, secara tipologis, BMK lebih merupakan bahasa nominatif-akusatif yang menurunkan diatesis aktif >< pasif karena secara morfosintaktis dimarkahi oleh pola Sintaksis SPvt + (men- >< di-) O daripada bahasa ergatif yang menurunkan diatesis ergatif dan anti-pasif itu. Pengkajian tipologis yang menempatkan BMK sebagai bahasa nominatif-akusatif, secara sintaktis, membuktikan bahwa terdapat dua perbandingan penting dalam menentukan tipologi BMK: (i) perbandingan klausa intransitif dan klausa transitif, (ii) perbandingan peran semantik A dan P pada klausa intransitif. Dengan mempertimbangkan betapa penting perilaku relasi gramatikal, peran semantis, dan juga fungsi (komunikatif) pragmatis pada klausa BMK, maka ada baiknya kajian tipologi sintaksis diteruskan dengan kajian tipologi fungsional.Jika dikaitkan dengan fungsi pragmatis, maka BMK termasuk bahasa yang menonjolkan/mementingkan subjek. Dengan perkataan lain, konstruksi dasar klausa BMK lebih tepat diperlakukan sebagai “Subjek-Predikat” daripada sebagai “Topik-Komen”. Sebagai bahasa yang bertiopologi sintaktis nominatif-akusatif BMK HABAKM mengenal diatesis aktif (diatesis dasar) >< diatesis pasif (diatesis turunan), ergatif, dan diatesis medial.
PERILAKU PENJANGKA KAMBANG DALAM BAHASA RONGGA Jeladu Kosmas; Prof.Drs.Ketut Artawa, M.A., Ph.D; Prof. Dr. I Wayan Pastika., M.S.
e-Journal of Linguistics Vol. 2. Mei 2008 No. 1
Publisher : Doctoral Studies Program of Linguistics of Udayana University Postgraduate Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.978 KB)

Abstract

Penjangka kambang merupakan salah satu alat tes kesubjekan lintas bahasa, selain pengetesan melalui perelatifan, penaikan, dan penyisipan adverbial. Akan tetapi, BR memperlihatkan perilaku penjangka kambang yang unik. Penjangka kambang pada bahasa ini tidak bisa dijadikan sebagai alat pembuktian SUBJ. Meskipun terjadi pengambangan, acuannya tidak hanya kepada SUBJ, tetapi juga kepada OBJ dan fungsi gramatikal lainnya. Selain itu, setiap terjadi pengambangan, selalu direalisasikan berbeda karena penjangka pada BR selalu terikat posisi.
Bentuk Potensial Bahasa Indonesia: Kesenjangan antara Kaidah Pembentukan Kata dengan Pruduktivitas dan Kreativitas Penutur Suatu Bahasa Muhammad Sukri; Ni Luh Sutjiati Beratha
e-Journal of Linguistics Vol. 2. Mei 2008 No. 1
Publisher : Doctoral Studies Program of Linguistics of Udayana University Postgraduate Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.908 KB)

Abstract

Penelitian ini berpijak pada teori morfologi generatif. Teori morfologi generatif memiliki perangkat kaidah untuk membentuk kata-kata baru atau kalimat-kalimat baru dengan menggunakan kaidah-kaidah transformasi.Proses pembentukan kata yang menggunakan paradigma morfologi generatif mensyaratkan empat komponen, yakni 1) daftar morfem, 2) kaidah pembentukan kata, 3) saringan, dan 4) kamus. Kamus tidak hanya berisi kata bentukan yang sesuai dengan KPK, tetapi juga dapat diisi oleh “kata baru” (yang sebelumnya dikenal dengan bentuk potensial tetapi lolos ke komponen kamus) dikarenakan produktivitas dan kreativitas penutur suatu bahasa.Parameter kepotensialan suatu kata bentukan dalam BI berdasarkan pada kriteria: 1) pelekatan afiks tertentu, terutama dari arti gramatikal afiks tersebut setelah menurunkan kata bentukan, 2) terlepas dari ambivalensi normatif bahasa, yang praksisnya digunakan oleh manusia sebagi alat komunikasi, unsur fundamental bahasa sebenarnya satu, yakni bunyi. Jadi, bentuk bunyi apa pun yang digunakan oleh manusia sebagai pengguna bahasa, itulah kenyataan bahasa, 3) meskipun ada banyak kata-kata potensial dalam suatu bahasa, beberapa di antaranya lebih mungkin menjadi kata-kata aktual, dan 4) produktivitas adalah gagasan kemungkinan dan bukan bagian dari tata bahasa. Oleh karena itu, produktivitas seyogianya diperlakukan sebagai suatu fenomena yang dihubungkan dari sudut kompetensi penutur.
WACANA KRITIK SOSIAL WAYANG CENK BLONK, JOBLAR, DAN SIDIA I Nyoman Suwija; Prof. Dr. I Wayan Cika, M.S.; Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna S.U.; Prof. Dr. I Made Suastika, S.U.
e-Journal of Linguistics Vol. 2. Mei 2008 No. 1
Publisher : Doctoral Studies Program of Linguistics of Udayana University Postgraduate Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.982 KB)

Abstract

Wayang C?nk Blonk, Joblar, dan Sidia yang termasuk pertunjukan wayang kulit Bali kreasi baru dan diminati oleh masyarakat belakangan ini cukup banyak mengkomunikasikan wacana-wacana kritik sosial.Penelitian ini bertujuan untuk membahas enam permasalahan berkenaan dengan wayang C?nk Blonk, Joblar, dan Sidia yaitu: (1) eksistensi dan pe-minggiran kedudukan wayang kulit Bali, (2) Kemasan wacana kritik sosial, (3) bentuk wacana kritik sosial, (4) fungsi wacana kritik sosial, (5) sasaran dan amanat wacana kritik sosial, dan (6) tanggapan penonton terhadap wacana kritik sosial wayang C?nk Blonk, Joblar, dan Sidia.Landasan teori penelitian ini adalah teori wacana naratif, teori resepsi sastra, dan teori dekonstruksi. Penerapan teori-teori tersebut disertai dengan metode pengumpulan data: (1) observasi, (2) wawancara, (3) studi dokumen; Metode dan teknik analisis datanya, deskriptif kualitatif; dengan metode penyajian hasil penelitian formal dan informal.Analisis bentuk wacana kritik sosial menghasilkan temuan bahwa wacana kritik sosial dapat dikomunikasikan melalui: (1) dialog antarpenasar, (2) dialog penasar dengan ksatria, (3) dialog atman dengan dewa, (4) dialog punakawan dengan raksasa, dan (5) dialog dewa dengan raja. Kajian bentuk kebahasaannya meliputi: (1) alternatif pemilihan tata ungkapan, (2) pemakaian paribasa Bali, (3) pepatah bahasa Indonesia, dan (4) pelesetan lagu pop Bali. Tingkatan bahasa Bali yang digunakan: (1) basa kasar, (2) basa andap, dan (3) basa madia.Analisis fungsi wacana kritik sosial menghasilkan temuan: (1) fungsi hiburan, (2) fungsi pendidikan, (3) fungsi informatif, dan (4) fungsi pelestarian budaya. Kritik sosial para dalang mencapai sasaran: (1) pemimpin, (2) masyarakat pemilih, (3) calon DPR/DPR, (4) seorang anak, (5) hakim/penegak hukum, (6) balian atau dukun, (7) penjudi, (8) seorang suami. dan (9) masyarakat luas lainnya. Amanat yang tersirat di dalamnya meliputi: (1) amanat kepemimpinan; (2) amanat hutang dan yadnya anak; (3) amanat petuah dan nasihat; (4) amanat kepribadian dan (5) amanat seni budaya. Tanggapan penonton terhadap wacana kritik sosial yang dikomunikasikan para dalang sangat positif.
KESANTUNAN BERBAHASA PADA PENUTUR BAHASA KAMBERA DI SUMBA TIMUR I Wayan Simpen; Prof. Dr. Aron Meko Mbete; Prof. Drs. I Made Suastra, Ph.D.; Prof. Dr. I Wayan Pastika, M.S.
e-Journal of Linguistics Vol. 2. Mei 2008 No. 1
Publisher : Doctoral Studies Program of Linguistics of Udayana University Postgraduate Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.022 KB)

Abstract

Seperti halnya bahasa lain, bahasa Kambera memiliki fungsi sebagai alat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan, sebagai alat untukmemahami pikiran dan perasaan, dan sebagai alat berpikir dan berasa. Kesantunan berbahasa adalah salah satu aspek kebahasaan yang dapat meningkatkan kecerdasan emosional penuturnya. Kajian terhadap kesantunan berbahasa pada penutur bahasa Kambera bertujuan untuk menemukan, mendeskripsikan, dan menganalisis satuan verbal yang digunakan sebagai kesantunan, menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi kesantunan, makna kesantunan, unsure suprasegmental yang mempengaruhi kesantunan, dan unsur paalainguistik yang menyertai kesantunan.Penelitian kesantunan berbahasa pada penutur bahasa Kambera bertumpu pada teori Linguistik Kebudayaan dan teori Sosiopragmatik. Metode yang digunakan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu metode dan teknik pengumpulan data, metode dan teknik penganalisisan data, dan metode dan teknik penyajian hasil analisis. Data dikumpulkan dengan metode observasi terlibat aktif dan wawancara, dengan teknik pancingan, pencatatan, dan perekaman. Data yang terkumpul diklasifikasi berdasarkan jenis, bentuk, dan variabel penent. Analisis tidak menggunakan data secara kuantitatif, sehingga tidak ada analisis secara statistik. Hasil analisis disajikan dengan metode informal, dan dibatu dengan teknik penyajian secara deduktif dan induktif.Hasil analisis memperlihatkan bahwa kesantunan berbahasa pada penutur bahasa Kambera menggambarkan ideologi yang dijadikan dasar kesantunan berbahasa. Satuan verbal yang digunakan untuk kesantunan berbentuk kata, gabungan kata, kalimat, dan peribahasa. Kesantunan berbahasa dipengaruhi oleh faktor status, jenis kelamin, usia, dan hubungan kekerabatan. Makna kesantunan merefleksikan latar budaya yang dianut penutur dengan berorientasi pada sistem kepercayaan, sistem mata pencaharian, hubungan kekerabatan, stratifikasi sosial, dan sistem pernikahan.Berdasarkan hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa sampai saat ini penutur bahasa Kambera masih memegang teguh prinsip hidupnya. Prinsip hidup itu  tertuang dalam ideologi yang mereka sebut Hopu li li witi- Hopu li la kunda’ akhir dari segala pembicaraan –akhir dari segala pintalan’. Satuan verbal yang digunakan kesantunan berbentuk kata, gabungan kata, kalimat, dan peribahasa. Faktor seperti usia, jenis kelamin, status, dan hubungan kekerabatan sangat berpengaruh dalam kesantunan. Makna kesantunan menggambarkan latar budaya yang berkaitan dengan sistem kepercayaan, sistem mata pencaharian, sistem kekerabatan, dan sistem pernikahan.Unsur suprasegmetal dan paralinguistik berpengaruh terhadap kesantunan verbal. Ada satu aspek kebahasaan yang perlu dikaji lebih dalam, yaitu luluku. Ini merupakan lahan baru yang cukup menantang untuk dikaji.

Page 1 of 1 | Total Record : 6