cover
Contact Name
Amelia Rahmi
Contact Email
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Isamic Communication Journal
ISSN : 25415182     EISSN : 26153580     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Islamic Communication Journal, ISSN: P-2541-5182 E-2615-3580, published by the Department of Communication and Islamic Broadcasting Faculty of Da'wa and Communication UIN Walisongo Semarang. This journal has a scope of studies and research on the science of communication, media and da'wah. Incoming articles can be either research or conceptual results of classical or current scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2022)" : 8 Documents clear
Islam wasathiyah value in photojournalism in Guo Ji Ri Bao newspaper Dewi Rahmayuni; Arief Tri Setiawan; Andi Faisal Bakti
Islamic Communication Journal Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2022.7.1.10655

Abstract

Photojournalism is one of the various channels to convey messages in visual form. It is a combination of images and texts that produces a single communication unit that reflects events and issues in a society. In the A8 section of Guo Ji Ri Bao, a Mandarin-language newspaper in Indonesia, dated September 25, 2020, seven photojournalism materials were discovered to contain signs and symbols related to Islam Wasathiyah value. This implied message indicated the media’s “agenda” in presenting reality or social issues, where the agenda typically corresponds to the ideology of the media itself. The media construct the frame of mind for their readers even with symbols and this study originated with the formulation of the main problem: “How is the value of Islam wasathiyah reflected in photojournalism on the Guo Ji Ri Bao newspaper viewed from the perspective of meanings and media?” An analysis of semiotics, structuralism, connotation and denotation based on Gill Branston and Roy Stafford's Meanings and Media perspective were utilized in this study. It was discovered that Guo Ji Ri Bao newspaper played a significant role in conveying the value of Islam Wasathiyah. This value is important to convey to all levels of society even through photos because it will be one of the ways to preach (da’wah) that lead us to a happy, peaceful, and harmonious life.***Foto jurnalistik merupakan salah satu saluran penyampai pesan dalam bentuk visual. Foto jurnalistik terbentuk sebagai kombinasi dari gambar dan teks yang menghasilkan satu kesatuan komunikasi yang mencerminkan makna tersendiri dan permasalahan dalam masyarakat. Pada media Guo Ji Ri Bao surat kabar berbahasa Mandarin di Indonesia, pada rubrik A8 25 September 2020, ditemukan tujuh materi foto jurnalistik yang memuat tanda dan simbol terkait nilai Islam wasathiyah. Pesan yang tersirat ini berkaitan dengan “agenda” media dalam  menyajikan realitas atau isu-isu sosial yang terjadi. Agenda sebuah media erat kaitannya dengan ideologi media itu sendiri. Sehingga, media kerap mengkonstruksi bingkai pemikiran pembacanya bahkan dengan unsur simbol dan tanda sekalipun. Studi ini hadir dengan rumusan masalah utama: “Bagaimana nilai Islam wasathiyah dalam foto jurnalistik pada surat kabar Guo Ji Ri Bao dalam perspektif meanings and media, dengan fokus menggali aspek semiotika, strukturalisme, dan makna konotasi dan denotasi berdasarkan perspektif makna dan media karya Gill Branston dan Roy Stafford. Kesimpulan pada penelitian menyatakan bahwa surat kabar Guo Ji Ri Bao memainkan peran penting dalam menyampaikan nilai-nilai Islam wasathiyah. Nilai ini penting untuk disampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat bahkan melalui foto karena akan menjadi salah satu corong dakwah untuk mengantarkan kita pada tatanan kehidupan yang aman, damai, tenteram, dan bahagia. 
Communication-based on local wisdom as a fortress of family resilience in the era of globalization: Experiences from Javanese speech culture Muhammad Muhajir
Islamic Communication Journal Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2022.7.1.8837

Abstract

This study discusses the urgency of communication in a family relationship. The author makes use of communication-based on Javanese local wisdom as an effort to build family resilience in the era of globalization. The method used is descriptive-analytic in explaining the communication based on Javanese local wisdom in the family is realized to build family resilience in the era of globalization. The results of this study show that the local wisdom of Java; 1) "ana catur mungkur," 2) "yen ana rembug dirembug, nanging olehe ngrembug kanthi ati sing sareh," and 3) "aja tumindak grusa-grusu, nanging tumindak kanthi landesan pikiran kang wening," is a local Wisdom of Java that has philosophical, cultural, and moral values that can be used for effective communication as an effort to build family resilience. The three local wisdom of Java can be realized openness, mutual care, and mutual protection. These attitudes make communication within a family better. If the communication pattern is well-realized, the family resilience will be better according to the function and purpose of the family itself.***Tulisan ini fokus membahas tentang urgensi komunikasi dalam sebuah hubungan keluarga. Penulis menggunakan komunikasi berbasis kearifan lokal Jawa sebagai upaya membentuk ketahanan keluarga di era globalisasi. Studi ini merupakan kajian kepustakaan (library research) dengan metode deskriptif-analitik dalam menjelaskan bagaimana komunikasi berbasis kearifal lokal Jawa dalam keluarga dapat digunakan sebagai upaya membentuk ketahanan keluarga di era globalisasi. Hasil studi menunjukkan bahwa kearifan lokal berupa tutur Jawa; 1) “ana catur mungkur,” 2) “yen ana rembug dirembug, nanging olehe ngrembug kanthi ati sing sareh,” dan 3) “aja tumindak grusa-grusu, nanging tumindak kanthi landesan pikiran kang wening,” merupakan kearifan lokal Jawa yang mempunyai nilai-nilai filosofis, budaya, dan moral yang dapat digunakan untuk komunikasi yang efektif sebagai benteng ketahanan keluarga. Ketiga kearifan lokal Jawa tersebut mewujudkan sikap keterbukaan, saling memahami, dan saling menjaga. Sikap-sikap tersebut menjadikan komunikasi dalam sebuah keluarga lebih baik. Jika pola komunikasi telah terwujud dengan baik, maka ketahanan keluarga pun akan semakin baik sesuai fungsi dan tujuan keluarga itu sendiri.
Strategi komunikasi media Islam alif.id dan ibtimes.id dalam penyebaran paham moderasi Firda Dwi Aprilyawati; Nurudin Nurudin
Islamic Communication Journal Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2022.7.1.9044

Abstract

This study aims to know the media communication strategies of Alif.id and IBTimes.id as website media with a moderate Islamic background. The approach adopted in this study is a descriptive qualitative approach. The results of this study indicated that the strategies used by the media Alif.id and IBTimes.id are the strengthening of the character and the branding of each media by using a cultural approach. Thus, Alif.id and IBTimes.id are also consistent in maintaining the quality of the Islamic missionary (da'wah) content presented through articles and readings. In addition, the publication through social media becomes an important strategy because it is able to reach a broad and fast target audience. Again, the presentation of variations in content such as events, presentations, news, and inspirational videos can also increase engagement and awareness of target audience.  As an implication, this study recommends the necessity of using media in an effort to spread the values of religious moderation in the midst of a lot of counter-productive content with universal religious spirit.***Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui strategi komunikasi media Alif.id dan IBTimes.id sebagai media Islam moderat. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Studi menunjukkan hasil bahwa strategi yang digunakan oleh media Alif.id dan IBTimes.id, yaitu penguatan karakter dan branding media masing-masing dengan menggunakan pendekatan secara kultural. Alif.id dan IBTimes.id konsisten dalam menjaga kualitas muatan dakwah yang disajikan melalui artikel dan bacaan. Publikasi melalui media sosial menjadi strategi yang penting karena mampu menyentuh target khalayak secara luas dan cepat. Selain itu, penyajian variasi konten seperti event, sajian, berita, video inspiratif juga mampu meningkatkan ketertarikan dan keterikatan target audience. Sebagai implikasinya, studi ini menganjurkan keharusan penggunaan media dalam upaya menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama di tengah banyaknya konten yang kontra-produktif dengan semangat keagamaan universal. 
Strategi dakwah di masa pandemi: Studi pada Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Aisyiyah Devi Anggraeni; Imam Suprabowo
Islamic Communication Journal Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2022.7.1.10252

Abstract

The Covid-19 pandemic condition requires all activities to be limited. All activities turned to virtual activities, which of course became a new challenge for da'wah activities. This study discusses how the Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Aisyiyah (the Tablighi Assembly of the Central Leadership of Aisyiyah), as a women's organization that has religious authority, carries out a da'wah strategy in the pandemic era in facing the existing challenges. This study uses a descriptive qualitative approach with an interview method that examines public relations strategies consisting of fact finding, planning, communication, and evaluation. The results of this study are the Tablighi Assembly of the Central Leadership of Aisyiyah applies several principles of da'wah strategy during the pandemic, namely (1) using a social approach by being open, (2) applying the principle of professional achievement, (3) paying attention to psychological principles in seeing the recipients (mad'u), (4) developing Human Resources (HR) with trainings such as public speaking training and media training, and always monitoring and evaluating the implementation of da'wah. The implication is that the contextualization of da'wah strategies in responding to various social challenges is a necessity, one of which is public relations-based da'wah.***Kondisi pandemi Covid-19 mengharuskan semua aktivitas dibatasi. Semua kegiatan beralih ke kegiatan virtual, yang tentunya menjadi tantangan baru bagi kegiatan dakwah. Penelitian ini membahas tentang bagaimana Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Aisyiyah, sebagai organisasi perempuan yang memiliki otoritas keagamaan, menjalankan strategi dakwah di era pandemi dalam menghadapi tantangan yang ada. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode wawancara yang mengkaji strategi humas yang terdiri dari pencarian fakta, perencanaan, komunikasi, dan evaluasi. Hasil kajin ini adalah Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Aisyiyah menerapkan beberapa prinsip strategi dakwah di masa pandemi, yaitu (1) menggunakan pendekatan sosial dengan bersikap terbuka, (2) menerapkan prinsip pencapaian profesional, (3) memperhatikan prinsip psikologis dalam melihat penerima dakwah (mad'u), (4) mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan pelatihan-pelatihan seperti pelatihan public speaking dan pelatihan media, dan selalu melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan dakwah. Implikasinya, kontekstualisasi strategi dakwah dalam menjawab berbagai tantangan sosial menjadi sebuah keniscayaan, yang salah satunya adalah dakwah berbasis kehumasan.
Representasi selebriti mikro bercadar di media sosial Sinta Lestari
Islamic Communication Journal Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2022.7.1.10991

Abstract

Social media has become a new space for users, one of whom is a veiled woman through user-generated content. For micro-celebrities, the representation of the veil is part of a Muslim's identity, which influences its development. The study aims to explore how micro-celebrity representations with veils on social media display their identities. The study used descriptive qualitative methods using analytical units in the form of photo posts, videos, and narrative captions. The study will analyze the semiotics of Charles Sanders Pierce's model. The results showed that covert micro-celebrity representations on social media used Pierce's analysis through three things, including: first, at the sign or ground level, this suggests that social media is capable of being an alternative medium of communication. Secondly, at the object level, it indicates that female micro-celebrities with veils engage in productive activities. Third, at the interpretant level, it provides an overall picture that micro-celebrity representations in veiled women have an identity background in wearing clothing as a religious background integrated with fundamental characteristics.***Media sosial telah menjadi ruang baru bagi pengguna, salah satunya perempuan  bercadar melalui konten buatan pengguna. Bagi selebriti mikro, representasi cadar merupakan bagian dari identitas seorang Muslim, yang mempengaruhi perkembangannya. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana representasi selebriti mikro bercadar di media sosial dalam menampilkan identitas dirinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan unit analisis berupa, postingan foto, video, dan narasi caption. Penelitian ini akan menganalisis dengan semiotika model Charles Sanders Pierce. Hasil menunjukkan bahwa representasi selebriti mikro bercadar di media sosial  menggunakan analisis Pierce melalui tiga hal, yaitu: pertama, pada level tanda atau ground menunjukkan bahwa media sosial mampu menjadi media komunikasi alternatif. Kedua, pada level obyek menunjukkan bahwa selebriti mikro perempuan bercadar terlibat pada kegiatan produktif. Ketiga, pada level interpretan memberikan gambaran secara keseluruhan bahwa representasi selebriti mikro perempuan bercadar memiliki latar belakang identitas dalam mengenakan pakaian sebagai latar belakang agama diintegrasikan dengan sifat fundamental.
Digital religion: How digital immigrants access religious content during pandemic Sofia Aunul; Daniel Handoko
Islamic Communication Journal Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2022.7.1.10088

Abstract

The Covid-19 pandemic has changed human interactions including how they carry out religious practices and this situation has made them change everything that the activities now through media. Digital immigrants aged from 38 years old and above categorized as generation born before digital era that requires them more to adopt the technology. This paper aims at how digital immigrants in Jakarta search for religious content during pandemic Covid-19. Media dependency theory is used in this research for analysing the research results. Media dependency theory has evolved with the changing communication environment and expanded its theoretical framework to communication infrastructure theory to cover new relationships between individuals and media. The research method used is qualitative descriptive of ten informants categorized as digital immigrants and data were collected through interview. The results found that the informants depended on digital media in searching for religious contents and participated on some religious circles in some digital (social) media platforms.***Pandemi Covid-19 telah mengubah interaksi manusia termasuk bagaimana mereka menjalankan praktik keagamaan dan situasi ini telah membuat mereka mengubah segala sesuatu yang aktivitasnya sekarang melalui media. Imigran digital berusia 38 tahun ke atas dikategorikan sebagai generasi yang lahir sebelum era digital yang menuntut mereka untuk lebih mengadopsi teknologi. Tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana para imigran digital di Jakarta mencari konten religi di masa pandemi Covid-19. Teori ketergantungan media digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis hasil penelitian. Teori ketergantungan media telah berkembang dengan lingkungan komunikasi yang berubah dan memperluas kerangka teoretisnya ke teori infrastruktur komunikasi untuk mencakup hubungan baru antara individu dan media. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif terhadap sepuluh informan yang dikategorikan sebagai imigran digital dan data dikumpulkan melalui wawancara. Hasil kajian menemukan bahwa informan bergantung pada media digital dalam mencari konten keagamaan dan berpartisipasi pada beberapa kalangan keagamaan di beberapa platform media (sosial) digital.
Tingkat pengetahuan literasi media pada mahasantri di Pondok Pesantren Fadhul Fadhlan Semarang Nilnan Ni'mah; Alifa Nur Fitri; Fitri Fitri
Islamic Communication Journal Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2022.7.1.9734

Abstract

The development of technology and information today has placed the internet as a primary need in life. The simple to complex problems can be solved with the help of the internet. This fact has realized by Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan Islamic (PPFF). PPFF is a life skills religious education institution that has many students at various levels. Media literacy at PPFF is important. Increased internet consumption necessitates a need for intelligent and critical media skills. This study focuses on the media literacy knowledge of students (mahasantri). This study aims to see the literacy skills of PPFF students. This type of research is field research. The method used is descriptive quantitative where the researcher intends to measure the media literacy ability of students. Data was collected by spreading questionnaires to respondents. The type of sampling method used simple random sampling. The level of media literacy knowledge is measured using the Likerts Summated Rating Scale (LSRS). Researchers used 9 media literacy instruments from Jenskin. There are play, performance, simulation, multitasking, distributed cognitions, collective intelligence, judgment, networking and negotiations. The results show that students at Pondok Pesantren Fadhul Fadhlan have good media literacy knowledge.***Kemajuan teknologi dan komunikasi saat ini telah menempatkan internet sebagai kebutuhan primer dalam kehidupan. Berbagai persoalan mulai dari yang sederhana sampai yang rumit dapat diselesaikan dengan bantuan internet. Fakta tersebut disadari oleh Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan (PPFF). PPFF merupakan lembaga pendidikan agama life skill yang memiliki santri dengan berbagai jenjang pendidikan. Literasi media di Ponpes Fadhul Fadhlan merupakan kajian yang menarik. Konsumsi internet yang meningkat meniscayakan sebuah kebutuhan skill cerdas dan kritis bermedia. Kajian ini fokus pada pengetahuan literasi media santri mahasiswa (mahasantri). Kajian ini bertujuan untuk melihat kemampuan literasi peserta didik PPFF. Jenis kajian ini adalah kajian lapangan dengan metode kuantitatif deskiptif dimana peneliti bermaksud untuk mengukur kemampuan literasi media mahasantri. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada responden. Jenis metode sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Pengukuran tingkat pengetahuan literasi media memakai Likkerts Summated Rating Scale (LSRS). Peneliti menggunakan 9 instrument literasi media dari Jenskin yaitu play, performance, simulation, multitasking, distributed cognitions, collective intelegence, judgment, networking dan negotiations. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa mahasantri di Pondok Pesantren Fadhul Fadhlan sudah memiliki pengetahuan literasi media yang baik. 
Identifikasi kompetensi komunikasi lulusan perguruan tinggi di era gig economy Fitri Annisaa; Prahastiwi Utari; Chatarina Heny Dwi Surwati
Islamic Communication Journal Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2022.7.1.9490

Abstract

This research aims to identify the communication competencies needed by college graduates to face the gig economy era. In addition, this research will look at the latest trends in required competencies in the gig economy era. These competencies are essential to discuss because graduates in the COVID-19 era need to adapt to the needs of the industry and a disruptive work environment. Using a case study method, we conducted this research with six informants' purposive sampling data collection techniques and in-depth interviews. In addition, we also conducted interviews with informants who have different types of gig jobs to enrich the research results. The results of this study are that the communication competencies needed are public speaking, creative writing, networking, and good teamwork in separated team. However, communication competence alone is not enough. The research informants also added that universities must also change and teach various other competencies such as how to read and negotiate contracts and look at job trends and minimum salaries for gig workers in these fields.***Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kompetensi komunikasi yang dibutuhkan lulusan perguruan tinggi untuk menghadapi era gig economy. Selain itu, penelitian ini akan melihat tren terkini kompetensi yang dibutuhkan di era gig economy. Kompetensi tersebut penting untuk dibahas karena lulusan di era COVID-19 perlu beradaptasi dengan kebutuhan industri dan lingkungan kerja yang disruptif. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode studi kasus, dengan teknik pengumpulan data purposive sampling dan wawancara mendalam pada enam informan. Peneliti melakukan wawancara dengan informan yang memiliki jenis pekerjaan gig berbeda agar memperkaya hasil penelitian. Hasil dari penelitian ini adalah kompetensi komunikasi yang dibutuhkan adalah kemampuan berbicara di depan umum, menulis kreatif, berjaringan, serta bekerja sama dalam tim yang terpisah. Namun, kompetensi komunikasi saja tidak cukup. Para informan penelitian juga menambahkan bahwa perguruan tinggi juga harus berubah dan mengajarkan berbagai kompetensi lain, seperti cara membaca dan menegosiasi kontrak, serta melihat tren pekerjaan dan gaji minimum pekerja gig di bidang tersebut.

Page 1 of 1 | Total Record : 8