cover
Contact Name
Amelia Rahmi
Contact Email
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Isamic Communication Journal
ISSN : 25415182     EISSN : 26153580     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Islamic Communication Journal, ISSN: P-2541-5182 E-2615-3580, published by the Department of Communication and Islamic Broadcasting Faculty of Da'wa and Communication UIN Walisongo Semarang. This journal has a scope of studies and research on the science of communication, media and da'wah. Incoming articles can be either research or conceptual results of classical or current scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 292 Documents
KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI MAHASISWA THAILAND SELATAN MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA (BAHASA) DI UIN WALISONGO SEMARANG Handayani, Maya Rini
Islamic Communication Journal Vol 3, No 1 (2018): Edisi Januari - Juni
Publisher : Islamic Communication Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discusses the ability to speak (communicate) respondents from South Thailand at UIN Walisongo Semarang. The communication ability of the respondents is measured using the Indonesian language indicator (Bahasa) namely the ability to speak. Respondents aged between 20 to 28 years. Respondents numbered 37 people from the force 2012 to 2016. The 37 respondents consisted of 25 female students and 12 students. The original language of the respondents is Malay. The second language controlled by respondents is Thai. Respondents have not had enough Language skills before they arrive in Indonesia. The data collection in this article uses questionnaires. The results obtained from this research is the ability to communicate respondents using Language is in the category of being. This category uses a standard five interval that is very high, high, medium, low and very low. The mean or average of respondent data is at number 28. The number is between 26 - 29 which refers to the medium category. Keywords: communicate, language, south thailand students-------------------------------------------------------------------------------------Artikel ini membahas mengenai kemampuan berbicara (berkomunikasi) responden yang berasal dari Thailand Selatan di UIN Walisongo Semarang. Kemampuan komunikasi responden diukur menggunakan indikator bahasa Indonesia (Bahasa) yaitu kemampuan berbicara. Responden berusia antara 20 hingga 28 tahun. Responden berjumlah 37 orang yang berasal dari angkatan 2012 hingga 2016. Ke 37 responden terdiri dari 25 mahasiswi dan 12 mahasiswa. Bahasa asli dari responden adalah bahasa Melayu. Bahasa kedua yang dikuasai responden adalah bahasa Thailand. Responden belum cukup mempunyai bekal kemampuan Bahasa sebelum tiba di Indonesia. Pengumpulan data pada artikel ini menggunakan kuisioner. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah kemampuan berkomunikasi responden menggunakan Bahasa berada pada kategori sedang. Kategori ini menggunakan interval standar lima yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. Mean atau rata-rata data responden berada pada angka 28. Angka tersebut berada di antara angka 26 – 29 yang menunjuk pada kategori sedang.Kata kunci : berkomunikasi, bahasa, mahasiswa thailand selatan
PERAN POLA KOMUNIKASI ANTARBUDAYA DALAM MENCEGAH KONFLIK ANTAR KELOMPOK AGAMA Rizak, Mochamad
Islamic Communication Journal Vol 3, No 1 (2018): Edisi Januari - Juni
Publisher : Islamic Communication Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Intercultural communication becomes a norm in the midst of society that has been globalized. There are no more regional boundaries and cultural barriers that travel between one person and another. But in reality, cultural differences often cause ripples of problems and even lead to the emergence of social conflict. This is due to the strengthening of ethnic identity that led to the emergence of ethnocentrism and stereotype in which one group feels superior to other ethnic groups.This study discusses the relationship of communication and culture that is like two sides of the coin. Culture shapes human thoughts and behavior and shapes our patterns of communication. While with communication we can convey the result of creation, desire and taste to others. This study wanted to examine matters relating to intercultural communication, especially on religious groups that led to the emergence of prejudice, causing a sense of mutual suspicion and even hostility between religious groups. In this case prejudice becomes an obstacle in communicating.Intercultural communication aims to remove barriers as a result of cultural differences. As the principle of communication that the more like the cultural background will be more effective communication. Intercultural communication wants to make us human beings, ie people who look at others from the point of their culture not from the point of our culture so that will grow mutual respect.Keywords: communication, culture, religious group------------------------------------------------------------------------------------Komunikasi antar budaya menjadi norma di tengah-tengah masyarakat yang telah mengglobal. Tidak ada lagi batas-batas regional dan hambatan budaya yang bergerak antara satu orang dan yang lain. Namun dalam kenyataannya, perbedaan budaya sering menyebabkan riak masalah dan bahkan mengarah pada munculnya konflik sosial. Hal ini disebabkan menguatnya identitas etnis yang menyebabkan munculnya etnosentrisme dan stereotipe di mana satu kelompok merasa lebih superior dari kelompok etnis lain.Studi ini membahas hubungan komunikasi dan budaya yang seperti dua sisi mata uang. Budaya membentuk pikiran dan perilaku manusia dan membentuk pola komunikasi kita. Sementara dengan komunikasi kita dapat menyampaikan hasil ciptaan, keinginan dan rasa kepada orang lain. Penelitian ini ingin meneliti hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi antar budaya, terutama pada kelompok agama yang menyebabkan munculnya prasangka, menyebabkan rasa saling curiga dan bahkan permusuhan antar kelompok agama. Dalam hal ini prasangka menjadi kendala dalam berkomunikasi.Komunikasi antarbudaya bertujuan untuk menghilangkan hambatan sebagai akibat dari perbedaan budaya. Sebagai prinsip komunikasi yang lebih menyukai latar belakang budaya akan komunikasi yang lebih efektif. Komunikasi antarbudaya ingin menjadikan kita manusia, yaitu orang yang melihat orang lain dari sudut budaya mereka bukan dari sudut budaya kita sehingga akan tumbuh saling menghargai.Kata kunci: komunikasi, budaya, kelompok keagamaan 
PROSES PELIPUTAN BERITA “LINTAS PAGI” RRI SEMARANG DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI ISLAMI Ardani, Ahdini Rizqi
Islamic Communication Journal Vol 3, No 1 (2018): Edisi Januari - Juni
Publisher : Islamic Communication Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radio is an auditive communication media with several characteristics, among them is a crosshairs and contain interference. Listening to radio programs can only be done once. One of the radio programs is news. Dissemination of information and news via radio can take place quickly and wider. Broadcast news on the radio must be true, once the news is wrong in broadcast it is not possible to repeat again. Because the listener may only hear the error, do not hear what is rectified. It may also be that the listener did not hear the error, so that the wrong message rectified is correct. In the context of Islamic communication spreading good, true, and honest news is a must. Islamic communication is a way of communicating that is Islamic, which is not contrary to the teachings of the Quran and Hadith.This study aims to describe the news coverage process "Lintas Pagi" RRI Semarang in the perspective of islamic communication. This research is a descriptive qualitative research by using data analysis technique Miles and Huberman.Based on research conducted on the news coverage of "Lintas Pagi" RRI Semarang, then obtained the result that the news coverage process "Lintas Pagi" RRI Semarang in the perspective of Islamic communication without realizing has applied the principles of Islamic communication. These principles are qawlan sadidan, qawlan baligha, qawlan karima, qawlan marufan, qawlan layyina, and qawlan maisura.Keywords: news coverage , morning news, islamic communication perspective-----------------------------------------------------------------------------------Radio merupakan media komunikasi auditif dengan beberapa karakteristik, di antaranya adalah selintas dan mengandung gangguan. Mendengarkan program radio hanya dapat dilakukan sekali. Salah satu program radio adalah berita. Penyebaran informasi dan berita melalui radio dapat berlangsung cepat dan lebih luas. Menyiarkan berita di radio harus benar, sekali berita tersebut salah dalam menyiarkan tidak mungkin di ulang kembali. Karena pendengar mungkin hanya mendengar ralatnya saja, tidak mendengar apa yang diralat. Mungkin pula pendengar tidak mendengar ralatnya, sehingga berita salah yang diralat dianggapnya benar.  Dalam konteks komunikasi islami menyebarkan berita yang baik, benar, dan jujur adalah sebuah keharusan. Komunikasi islami merupakan cara berkomunikasi yang bersifat islami, yang tidak bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadits.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses peliputan berita “Lintas Pagi” RRI Semarang dalam perspektif komunikasi islami. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik analisis data Miles dan Huberman,Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap proses peliputan berita “Lintas Pagi” RRI Semarang, maka diperoleh hasil bahwa proses peliputan berita “Lintas Pagi” RRI Semarang dalam perspektif komunikasi islami tanpa di sadari telah menerapkan prinsip-prinsip komunikasi islami. Prinsip-prinsip ini yaitu qawlan sadidan, qawlan baligha, qawlan karima, qawlan ma’rufan, qawlan layyina, dan qawlan maisura. Kata kunci      :  liputan berita,  lintas pagi, perspektif komunikasi islami
DAKWAH PADA MASYARAKAT MINANGKABAU (STUDI KASUS PADA KAUM PADRI) Hati, Putri Citra
Islamic Communication Journal Vol 3, No 1 (2018): Edisi Januari - Juni
Publisher : Islamic Communication Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Da’wah is a part that must exist in the life of religious people. One of the teachings of Islam, da’wah ia a duty that is charged to the adherents of religion. Padri movement oriented on renewal of society’s behavior and moral improvement of society in general and specially try to apply shariah which sourced from Al-Qur’an and as sunnah. And of course this Padri movement of da’wah thought that has philosophy value of da’wah which is closely related to improvement, renewal, and development. all these aspects is anticipative, creative, dynamic and relevant in its time. Islam in Minangkabau is known as egalitarian society. It is an open advice to anyone through local value (dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung) and then expressed through a model of tolerance that is packaged in a cultural figure or more precisely the formula of social relationships naturally.Keywords:  padri , method of da’wah, minangkabau.------------------------------------------------------------------------------------Dakwah adalah bagian yang pasti ada dalam kehidupan umat beragama. Salah satu ajaran Islam, dakwah merupakan kewajiban yang dibebankan agama kepada pemeluknya. Gerakan kaum Padri tersebut, berorientasi pada pembaruan tingkah laku masyarakat dan perbaikan moral masyarakat secara umum dan secara khusus berupaya menerapkan syari`ah yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah. Dan tentu saja gerakan purifikasi kaum Padri mempunyai suatu langkah gerakan pemikiran dakwah yang memiliki nilai filosofi dakwah yang erat kaitannya dengan perbaikan (ishlah), pembaharuan (tajdid), dan pembangunan. Kesemua aspek tersebut merupakan metode pengembangan dakwah yang bersifat antisipatif, kreatif, dinamis dan relevan pada masanya.  Islam di Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang egaliter. Untuk konteks anjuran terbuka kepada siapapun melalui nilai lokal (dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung) kemudian diekspresikan melalui model toleransi yang dikemas dalam sosok kultural atau lebih tepatnya formula hubungan –hubungan sosial secara natural. Kata Kunci :  padri,  metode dakwah, minangkabau.
STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PROGRAM MUTIARA HIKMAH DI RADIO RASIKA FM Munir, Misbahul
Islamic Communication Journal Vol 3, No 1 (2018): Edisi Januari - Juni
Publisher : Islamic Communication Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is to know how communication strategy in program of Mutiara Hikmah at Radio Rasika Fm. The research used is qualitative research, taking place in Radio Rasika Fm which is located in Ungaran city of Semarang regency. Data collection techniques used are using observation methods, interview methods and documentation methods. The method of analysis used in this research is descriptive analysis method. This analysis is useful for researchers to find out how the communication strategy used in the program Mutiara Hikmah.       The result of this research is that the strategy used by Rasika Fm radio in Mutiara Hikmah program is to develop communication strategy and program strategy. In formulating the communication strategy can be seen from the analysis of the audience is through membership surveys, the preparation of messages through the AIDDA method, the determination of methods through redundancy and canalizing methods, and the selection of media communication by using various media to support the program Mutiara Hikmah to be better known by audience listeners. In terms of program strategy is through broadcast program planning process, production process and program purchase, program execution process, and supervision process and program evaluation, all of which are very important and needed in the process of preparing one of the program that is Mutiara Hikmah program,Keywords: strategy, communication, radio------------------------------------------------------------------------------------Penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana strategi komunikasi dalam program Mutiara Hikmah di Radio Rasika Fm. Penelitian yang digunakan merupakan penelitian kualitatif, dengan mengambil tempat di Radio Rasika Fm yang berada di kota Ungaran kabupaten Semarang. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan menggunakan metode observasi, metode wawancara dan metode dokumentasi. Adapun metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif. Analisis ini berguna bagi peneliti untuk menemukan bagaimana strategi komunikasi yang digunakan dalam program Mutiara Hikmah.Hasil dari penelitian ini bahwa secara umum strategi yang digunakan oleh radio Rasika Fm dalam program Mutiara Hikmah adalah menyusun strategi komunikasi dan strategi program. Dalam menyusun strategi komunikasi dapat terlihat dari analisis khalayak yaitu dengan melalui survey membership, penyusunan pesan melalui metode AIDDA, penetapan metode melalui metode redundancy dan canalizing,  dan pemilihan media komunikasi dengan menggunakan berbagai macam media untuk menunjang program Mutiara Hikmah agar lebih dikenal oleh khalayak pendengar. Dari segi strategi program yaitu melalui proses perencanaan program siaran, proses produksi dan pembelian program, proses eksekusi program, dan proses pengawasan serta evaluasi program, yang semua itu sangat penting dan dibutuhkan dalam proses penyusunan salah satu programnya yaitu program Mutiara Hikmah, Kata kunci: strategi, komunikasi, radio
RELASI INTERPERSONAL DALAM PSIKOLOGI KOMUNIKASI Wulandari, Rustini; Rahmi, Amelia
Islamic Communication Journal Vol 3, No 1 (2018): Edisi Januari - Juni
Publisher : Islamic Communication Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Survival of human life is proof that human being able to solve and fulfill requirements of life which is individual and also social. Human life is a building interpersonal relationship with each other, called interpersonal relationship. The more an active person building relationships with others it will build an extensive interpersonal network and produce quality self-competence. This is what can bring success in many ways. Generally humans can adjust to the situation faced by learning the previous experience. Overtime the relationship  develops an individual character. The psychological aspect of both parties involved in the relationship are more decesive compared with sociological and cultural aspects. The existence of psychological aspect that determine the process of interpersonal communication has led to a specific study in interpersonal relationships into studies in this article, although the study has not been based on in-depth research.Keywords: communication, psychology, interpersonal relationship-----------------------------------------------------------------------------------Kelangsungan hidup manusia di muka bumi hingga kini merupakan bukti bahwa manusia mampu menyelesaikan dan memenuhi kebutuhan yang bersifat individu dan sekaligus sosial.Kehidupan ini merupakan bangunan relasi antarpersonal satu dengan yang lainnya, disebut relasi interpersonal. Semakin seseorang aktif membangun relasi dengan sesama maka akan terbangun jaringan interpersonal yang luas dan menghasilkan kompetensi diri yang berkualitas. Hal inilah yang dapat membawa kesuksesan dalam banyak hal.Umumnya, manusia dapat menyesuaikan dengan situasi yang dihadapi dengan cara mempelajari pengalaman sebelumnya. Seiring dengan waktu hubungan berkembanglah sebuah karakter individu. Aspek-aspek psikologis yang dimiliki kedua belah pihak yang terlibat dalam relasi lebih menentukan dibanding dengan aspek sosiologis dan kultural.Adanya aspek psikologis yang menentukan proses komunikasi interpersonal telah memunculkan kajian spesifik dalam relasi interpersonal menjadi kajian dalam artikel ini, meskipun kajiannya belum berbasis riset secara mendalam Kata kunci: komunikasi, psikologi, relasi interpersonal.
PROBLEMATIKA PERS LOKAL DALAM MENGHADAPI KONTESTASI PEMILIHAN KEPALA DAERAH (PILKADA) DI PROVINSI SUMATERA BARAT Dianto, Icol
Islamic Communication Journal Vol 3, No 2 (2018): Edisi Juli - Desember
Publisher : Islamic Communication Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractLocal press problems in facing the contestation of the election of Regional Heads in West Sumatra Province can be grouped into two broad lines: first, the local press is dragged into a conflict of interest in the election of the Regional Head including 1) The Press supports one candidate pair, 2). Incitement of the success team, 3). The interests of media owners and stakeholders in media companies. Second, the intervention of the Regional Head towards local media includes 1). Change the Regional Head changes journalists, 2). Contract termination threats and 3). Media blockade. As for the solution to the problem, an alternative solution can be proposed that: 1). Re-guided Law Number 40 of 1999 concerning Press. 2). Balancing the press as a business industry with the press as a professional institution (social control). 3). The media owner should not use and manipulate his press company into the realm of practical politics. 5). In establishing cooperation with local governments, strive to stick to the principles and ethics of the journalistic profession. 6). Journalists must increase the capacity and quality of journalistic products, adhere to journalists code of ethics, and not bring the profession into the realm of practical politics. 7). Report regional heads or parties who attempt to intimidate the media and journalists in carrying out their profession, to the Public Information Commission (KIP), police and Ombudsman at certain levels of government.Keywords: Local Press, Problems, Pemilukada Contestation. AbstrakProblematika pers lokal dalam menghadapi kontestasi pemilihan Kepala Daerah di Provinsi Sumatera Barat dapat dikelompokkan pada dua garis besar: yaitu pertama, pers lokal terseret dalam konflik kepentingan pemilihan Kepala Daerah meliputi 1) Pers mendukung salah satu pasangan calon, 2). hasutan tim sukses, 3). kepentingan pemilik media dan pemangku kewenangan pada perusahaan media. Kedua, intervensi Kepala daerah terhadap media lokal meliputi 1). berganti Kepala Daerah berganti wartawan, 2). ancaman putus kontrak dan 3). blokade media. Adapun solusi untuk permasalahan tersebut, dapat diajukan alternative penyelesaiannya bahwa: 1). Mempedomani kembali Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. 2). Menyeimbangkan antara pers sebagai industry bisnis dengan pers sebagai lembaga professional (control social). 3). Pemilik media jangan memanfaatkan dan memperalat perusahaan pers miliknya ke ranah politik praktis. 5). Dalam menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah, upayakan tetap berpegang pada prinsip dan etika profesi jurnalistik. 6). Wartawan mesti meningkatkan kapasitas dan kualitas produk jurnalistiknya, menaati kode etik wartawan, dan tidak membawa profesi ke ranah politik praktis. 7). Melaporkan kepala daerah atau pihak-pihak yang berupaya mengintimidasi media dan wartawan dalam menjalankan profesinya, ke Komisi Informasi Publik (KIP), polisi dan ombusman pada level pemerintahan tertentu.Kata Kunci: Pers Lokal, Problematika, Kontestasi Pemilukada.
NETIZEN JURNALISME DAN TANTANGAN DAKWAH DI MEDIA BARU Aziz, Mokhamad Abdul
Islamic Communication Journal Vol 3, No 2 (2018): Edisi Juli - Desember
Publisher : Islamic Communication Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan media lama ke media baru diikuti dengan budaya baru masyarakat informasi. Mereka menyerbu internet dengan berbagai kompleksitasnya. Hal ini telah menguatkan budaya jurnalisme warga yang telah muncul beberapa tahun sebelumnya. Era kini bisa disebut sebagai era netizen journalism, yang harapannya dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Namun, saat ini tidak bisa dielakkan, dampak negatif internet begitu nyata, terbukti dengan banyaknya pelanggaran dan penyalahgunaannya. Ketidakpahaman atau keterbatasan pengetahuan netizen mengenai etika dan prinsip yang harus digunakan dalam bermedia sosial, maka dampak buruk terhadap penggunanya tidak bisa dihindari. Oleh sebab itu, diperlukan literasi media yang menyeluruh dan kontestual untuk menjelajah seluruh netizen agar memahami netiket di media baru. Kini netizen telah Social media bahkan harus dimanfaatkan sebagai sarana dakwah. Para ulama perilaku mencari format strategi yang jitu untuk berdakwah di media sosial. 
SHOWCASING SOCIAL PIETY: BETWEEN CHARITY OF THE HAVES AND RIGHTS OF THE HAVE-NOTS Ridho, Miftahur
Islamic Communication Journal Vol 3, No 2 (2018): Edisi Juli - Desember
Publisher : Islamic Communication Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religion based charity organizations, including those inspired by the Islamic teachings regarding caring for others, are prevalent around the world. They play significant role both in supporting the state to deliver social welfare services to the poor and the less fortunate and sidestepping or competing with the state in such provision. This paper, thus, aims at exploring the dynamic interplay between Islamic teachings regarding charitable practices and social welfare services provided by the state. Discussion on this paper suggests that Islamic charitable practices such as Zakat, shadakah, and others, can be observed through different lenses; as a charity of the rich and as rights of the poor. In Indonesia and other Muslim countries, such giving practices are widely accepted as charity of the rich partly because the idea of providing social welfare to the poor is perceived as the duty of the state. Hence, the rights of the poor lies on the obligation of the state, not the rich. 
MEDIA BARU DIGITAL SEBAGAI PERETAS KONTEKS KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI DAN KELOMPOK yudha, reza praditya; irwansyah, irwansyah irwansyah
Islamic Communication Journal Vol 3, No 2 (2018): Edisi Juli - Desember
Publisher : Islamic Communication Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Digital media creates a gap in the definition of the communication context created by West & Turner (2010). Situational boundaries are increasingly unclear when in the whole process the number of participants, distance, space, feedback, media functions, and variety of channels are integrated. This study aims to analyze the implications of digital media functions in elaborating interpersonal communication to successfully mobilize groups. The study was conducted by reviewing the literature on new digital media theories. As a result, connectedness occurs as a character of interpersonal communication in digital new media. When these context is elaborated by digital media so that integrating more participants, interaction is not just merely connection anymore, but focuses on shared meaning. At this point the context is shifted into group communication. Keywords : new digital media, communication context, interpersonal communication, group communication

Page 3 of 30 | Total Record : 292