cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Diroyah : Jurnal Studi Ilmu Hadis
ISSN : 25409050     EISSN : 25409069     DOI : -
Core Subject : Religion,
Diroyah: Jurnal Studi Ilmu Hadis dengan nomor E-ISSN 2540-9069 dan P-ISSN 2540-9050 adalah jurnal ilmiah yang memuat kajian, hasil penelitian dan publikasi akademik di bidang hadis dan ilmu hadis. Jurnal ini diterbitkan oleh Jurusan Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung bekerjasama dengan Asosiasi Ilmu Hadis (ASILHA) 2 kali dalam setahun yakni bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2017)" : 9 Documents clear
Perkembangan Hadis di Indonesia Pada Abad XX Badri Khaeruman
Diroyah : Jurnal Studi Ilmu Hadis Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.681 KB) | DOI: 10.15575/diroyah.v1i2.2067

Abstract

Penelusuran sejarah hadis di Indonesia dapat dikatakan mulai berkembang pada bcbcmpa uhun terakhir ini. Walaupun belum memadai namun kajian ini scmakin membola salju seiriing Wacana Islam Nusantara yang menyentuh berbagai cabang ilmu keislaman di Indonesia Selain karena alasan bahwa kajian hadis tidak seintens kajian di keislaman yang lain, seperti a1-Qur‘an, fiqh, akhlak dan scbagainya, kajian hadis bisa dikatakan berkembang sangat lambat. Hal dapat diukur melalui kenyataan bahwa para ulama Nusantara mulai menulis di bidang  hadis sejak abad ke-l7. Artikel ini akan mcncoba mengulas perkembangan study  hadis di Indones pada abad ke dua puluh yang melibatkan beberapa karya yang dibahas oleh para ahli hadis atau bisa  dikatakan pemerhati hadis di Nusantara. Baik itu  kurya- karya atau naskah asli berbahasa Arab dan juga ada beberapa karya yang bcrsit'at sudurun terhadap karya lainnya 
Pengelolaan Harta Anak Yatim Dalam Perspektif Hadis Ecep Ismail
Diroyah : Jurnal Studi Ilmu Hadis Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/diroyah.v1i2.2061

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja hak dan kewajiban seorang wali dalam mengelola harta anak yatim.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodologi hadits. Metode ini digunakan untuk menguraikan hasil pengumpulan data secara jelas dan sistematis mengenai hadits yang relevan dengan pembahasan atau masalah penelitian.Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa seorang wali harus malakukan kewajibannya, antara lain; Menahan diri dari memakan harta anak yatim, dan barangsiapa yang miskin maka ia boleh makan harta itu menurut yang wajar. Seorang wali tidak boleh memiliki niat untuk menguasai harta anak yatim. Mengurus urusan harta anak yatim secara patut adalah baik, jika mengurus harta anak yatim untuk hal-hal yang tidak baik (dzalim) adalah tidak boleh. Boleh menggunakan harta anak yatim dengan tujuan yang lebih bermanfaat, bukan untuk menghabiskan hartanya. Memakan harta anak yatim secara dzalim adalah termasuk dari tujuh perkara yang dapat membinasakan manusia. Adapun hak bagi seorang wali anak yatim adalah pertama, diperbolehkan mengambil atau memakan harta anak yang ada dalam perwaliannya, dengan catatan bahwa wali adalah golongan fakir miskin. Kedua, wali berhak mengelola harta anak yatim dengan tujuan yang baik; bukan atas dasar ingin menguasai atau memakan harta anak yatim secara dzalim. 
Hadis Muttafaq `Alaih Dalam Kitab Riyâdh Al-Shâlihîn Mujiyo Mujiyo
Diroyah : Jurnal Studi Ilmu Hadis Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.558 KB) | DOI: 10.15575/diroyah.v1i2.2065

Abstract

Dalam kajian ilmu hadis riwayah perbedaan redaksi hadis merupakan hal yang sangat diperhatikan dan para ulama hadis sepakat menganggap dua riwayat yang berbeda redaksinya sebagai dua hadis.t Mereka tidak memperbolehkan mengubah redaksi hadis di satu kitab dengan menambah atau mengurangi satu kata maupun satu hurufpun dengan tetap menisbatkan hadis itu kepada kitab tersebut. Oleh karena itu mestinya hadis muttafaq `alaih yang terdapat dalam kitab-kitab himpunan hadis benar-benar redaksinya terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim . Apabila suatu hadis yang disebut muttafaq `alaih redaksinya tidak bisa ditemukan pada sumber aslinya dengan redaksi yang sama, maka pencantuman hadis itu merupakan pelanggaran kode etik periwayatan hadis. Hal terakhir ini terjadi pada hadis “Innamâ al-a`mâl bi al-niyyât” pada awal kitab Al-Arba`în al-Nawawiyyah dan kitab Riyâdh al-Shâlihîn karya Al-Nawawi (w. 676 H). Temuan ini menjadi alasan cukup kuat untuk meneliti lebih lanjut hadis-hadis muttafaq `alaih di dalam Riyâdh al-Shâlihîn mengingat dalam kitab ini jumlah hadis muttafaq `alaih mencapai sekitar separoh dari jumlah hadis yang tercantum di dalamnya, yaitu sekitar 900 hadis dari 1800 hadis. Hasil penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa teks hadis-hadis muttafaq `alaih dapat diklasifikasi menjadi tiga, yaitu hadis yang benar-benar sama dengan teks hadis dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim , hadis yang hanya sama dengan salah satunya atau merupakan kutipan darinya, dan hadis yang berbeda sama sekali dengan keduanya. Maka dengan penelitian ini diharapkan dapat ditemukan kasus hadis muttafaq `laih katagori ketiga yang bervariasi dan merupakan pelanggaran kode etik periwayatan hadis yang dilakukan penulis Riyadh al-Shalihin. Meskipun demikian temuan ini dapat dijadikan bahan perumusan kriteria hadis muttafaq `alaih selain dua kriteria yang sudah disepakati.Dengan ditemukannya rumusan kriteria-kriteria hadis muttafaq `alaih katagori ketiga dalam kitab Riyadh al-Shalihin, maka akan dihasilkan teori baru bagi kajian hadis muttafaq `alaih yang selama ini tidak pernah dipersoalkan dan dipertanyakan. Teori tersebut pada gilirannya dapat mempermudah para penulis karya ilmiah dalam merujuk hadis muttafaq `alaih kepada sumber primernya.
Wawasan Hadis Nabi Tentang Wara' Asrar Mabrur Faza
Diroyah : Jurnal Studi Ilmu Hadis Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.51 KB) | DOI: 10.15575/diroyah.v1i2.2060

Abstract

Antara hadis dan tasawuf sebagai cabang keilmuan dalam Islam, kerap memberikan sisi perbedaan secara konseptual maupun praktkal. Tasawuf sebagai amalan simbolik dar perenungan mistisme Islam tidak jarang berujung pada pertentangan dengan praktik nabawi dalam sunnahnya. Tuduhan bid’ah bahkan sesat terhadap praktik riyadhah sufistik sering dihadapkan pada teks hadis nabi. Artikel ini mencoba mengurai salah satu amal maqam sufistik, yakni Wara dalam perspektif hadis. Secara dialogis Maqam Wara akan ditelusuri sejauh mana keberadaan dan pemaknaannya dalam riwayat hadis. Dialog ini akan mengantarkan pada kesimpulan bahwa tidak ada pertentangan antara tasawuf dan hads. Karena pada personafikasi amal ‘mursyid agung’ yakni Rasulullah SAW. Disinilah konsep tasawuf nabawi bisa menjadi wawasan penting khususnya dalam tema wara.  
Merumuskan Kembali Makna dan Standarisasi Riba: Kajian Kontekstualisasi Hadis Muhamad Ridwan Nurrohman
Diroyah : Jurnal Studi Ilmu Hadis Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.67 KB) | DOI: 10.15575/diroyah.v1i2.2064

Abstract

Artikel ini akan membahas tentang riba dalam perspektif hadis. Tujuannya untuk mengetahui bahwa riba itu dilarang oleh agama Islam. Dalam menjelaskannya penulis menggunakan pendekatan historis, dan teologisuntuk memahami seluruh matan hadiuis yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada banyak hal yang menjadi standar dan ukuran riba terkait jual beli barang, meminjam uang, tukar-menukar barang, serta untuk mengetahui hukum memakan riba atau menggunakan hasil riba bahwa riba itu hukumnya haram. Riwayat lainnya bahkan berbicara tentang pelaku-pelaku riba diancam oleh Nabi saw. Mereka adalah pemakan riba, pemberinya, penulisnya, kedua saksinya, mereka semua sama mendapat laknat, penghasilan dari riba itu tidak akan mendapat berkah dari Allah swt., sehingga pada suatu saat akan mengalami kebangkrutan harta.Implikasi penelitian ini adalah keharusan bagi setiap muslim agar berhati-hati terkait segala hal yang ada terdapat unsur riba didalamnya. Dengan mengetahui penyebab riba, jenis-jenis riba, hukum riba serta ancaman pelaku riba, maka bagi mereka yang bertakwa kepada Allah semoga menjauhinya. 
Etika Penggunaan Media Massa Dalam Perspektif Hadîts Fahrul Rizal
Diroyah : Jurnal Studi Ilmu Hadis Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.119 KB) | DOI: 10.15575/diroyah.v1i2.2068

Abstract

Pada zaman sekarang, media massa menjadi arus utama dalam proses komunikasi dan informasi. Oleh karena itu, penggunaannya harus diperhatikan. Sebagai Muslim, segala tindak tanduk Nabi harus menjadi pedoman dalam hidup. Dengan demikian, penggunaan alat komunikasi pun harus mencontoh pada Nabi. Hadîts-ẖadîts dan praktek komunikasi pada zaman Nabi merupakan sumber yang dapat dijadikan pedoman baik aturan atau kode etik dalam menggunakan media massa.Dalam penelitian ini, digunakan kutub al-Sittah dan buku Sirah Nabawiyahkarya al-Mubarakfury sebagai sumber data. Di samping itu, metode yang digunakan adalah analisis deskriptif mawdhû′î yaitu untuk menganalisis dan menggambarkan suatu hasil penelitian berdasarkan tema tertentu.Setelah dilakukan pengkajian pada Kutub al-Sittah dan buku Sirah Nabawiyah karya Shafiyyurahman al-Mubarakfury ditemukan enam ẖadîts (3 riwayat Muslim, 2 riwayat Bukhârî dan 1 riwayat Tirmidzî) serta empat prkatek komunikasi pada zaman Nabi yaitu penggunaan surat, syair, periwayatan ẖadîts dan pengiriman utusan. Dari segi kualitas, dapat dinilai terdapat 5 ẖadîts shaẖîẖ dan 1 ẖadîts ẖasan. Sedangkan dari segi kandungan ẖadîts dan empat praktek komunikasi dalam Sirah dapat disimpulkan bahwa etika penggunaan media massa bisa dilihat dari tiga aspek yakni komunikasi, pesan dan media yang digunakan. Pada aspek komunikasi (mencakup penerima dan penyampai informasi) diharuskan memperhatikan keimanan seseorang, bersikap selektif, jujur dan netral. Sementara itu, pesan yang disampaikan harus bersifat benar, proporsional, mencantumkan sumber informasi dan disampaikan secara etis. Sedangkan terkait media, Nabi SAW memberikan kebebasan dalam menggunakan media apa saja untuk menyampaikan informasi sesuai dengan perkembangan zaman dan kondisi masyarakat.
“Syaz” dan Permasalahannya Reza Pahlevi Dalimunthe
Diroyah : Jurnal Studi Ilmu Hadis Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.619 KB) | DOI: 10.15575/diroyah.v1i2.2058

Abstract

Tidak ada argument untuk menolak kualitas sanad hadis dikatakan shahih, sepanjang seluruh periwayat yang terdapat yang terdapat dalam sanadnya berkualitas tsiqah dan mutassil, yakni sanadnya bersambung. Faktanya ada sanad hadis yang tampak berkualitas shahih akan tetapi setelah dilakukan penenlitian ulang dan seksama melalui komparasi semua matan yang semakna, ditemukan adanya kejanggalan. Dalam wacana ilmu hadis kejanggalan dinamai syaz atau syudzudz. Cabang ilmu ini menegaskan bahwa kegiatan penelitian sanad masih belum dinyatakan selesai bila penelitian tengtang kemungkinan adanya syaz belum dilaksanakan dengan cermat. Penelitian ini akan membahas wacana syaz dan permasalahannya dalam wacana ilmu hadis. 
Kritik Terhadap Pemikiran Jalaludin Rakhmat Dalam Buku Al-Mushthafa Tentang Hadis Mudhtharib Pada Shahîh Al-Bukhârî: Studi Analisis Hadis Abu Bakar Menjadi Imam Salat Kinkin Syamsudin
Diroyah : Jurnal Studi Ilmu Hadis Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.022 KB) | DOI: 10.15575/diroyah.v1i2.2063

Abstract

Jalaludin Rakhmat adalah salah satu tokoh muslim Indonesia yang memiliki konsern terhadap isu-isu agama, termasuk Islam. Melalui berbagai tulisannya, ia mencurahkan beberapa gagasannya tentang cara pandang dalam memahami Islam dan berbagai permasalahan yang ada di dalamnya. Dalam buku Al-Mushthafa, Jalal berasumsi bahwa hadis-hadis yang menceritakan peristiwa Abu Bakar menjadi imam salat di hari-hari terakhir sebelum Rasulullah wafat adalah hadis mudhtharib. Ia menyuguhkan setidaknya ada enam alasan kenapa hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari itu patut untuk diragukan keabsahannya karena tidak bisa dijadikan hujjah. Tulisan ini mencoba untuk menggali seperti apa metodologi yang digunakan Jalal dalam memaknai hadis-hadis yang dimaksud. Adapun penelitiannya difokuskan pada dua permasalahan, yaitu 1) konsep hadis mudhtharib menurut Jalaludin Rakhmat, 2) argumentasi Jalaludin Rakhmat tentang adanya hadis mudhtharib dalam Shahîh al-Bukhârî. 
Metode Dewan Hisbah Persis Dalam Ber- Istidlâl Dengan Hadis: Studi Fatwa Tentang Tambahan Raka’at Makmum yang Masbuq Solehudin Solehudin; Widiana Rismawati Rismawati
Diroyah : Jurnal Studi Ilmu Hadis Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.339 KB) | DOI: 10.15575/diroyah.v1i2.2062

Abstract

Istidlâl adalah meminta petunjuk atau mencari petunjuk (dalil) dari sumber-sumber yang telah disepakati yaitu Alquran, Sunnah, Ijma’ dan qiyas maupun yang masih ada pertentangan di dalamnya. Dewan Hisbah adalah lembaga yang berada dalam tubuh organisasi Persatuan Islam (Persis) yang bertugas  meneliti masalah yang membutuhkan keputusan. Lembaga ini selalu memberi jawaban  dengan dalil-dalil landasannya, yang di pandang selalu berbeda dengan oraganisasi yang lainnya yang ada di Indonesia. Penelitian ini bersifat deskriptifkualitatif dengan sumber data buku Thuruq Al-istinbath Dewan Hisbah Persatuan Islam, serta tehnik pengumpulan data dari berbagai sumber untuk  kemudian diolah. Berdasarkan hasil penelitian penulis, dapat diambil kesimpulan bahwa Pandangan Dewan Hisbah terhadap hadis, adalah bahwa hadis atau sunnah dapat di jadikan hujjah dalam menentukan suatu hukum, dan dapat berfungsi seperti Alquran dalam menentukan halal dan haram, dan wajib atau sunnah. Dewan Hisbah menentukan rumusan metodologi istinbath-nya yaitu ber-Istidlâldengan Hadisyang di dalamnya disebutkan qaidah-qaidah yang diterima dan yang tidak diterima oleh Dewan Hisbah dalam menentukan kualitas hadis untuk sebuah keputusan. Dan Dewan Hisbah tidak memakai hadis tentang makmum masbuq mendapat ruku’ imam di hitung satu raka’at, karena dinilai dha’if, dan makmum yang ketinggalan al-fatihah tidak dihitung satu raka’at, artinya harus di tambah raka’at yang tertinggalnya tersebut

Page 1 of 1 | Total Record : 9