cover
Contact Name
I G. Made Krisna Erawan
Contact Email
krisnaerawan@unud.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Animal Hospital, Faculty of Veterinary Medecine Building, Udayana University, 2nd Floor, Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No 6, Banjar Gaduh, Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Veteriner
Published by Universitas Udayana
ISSN : 14118327     EISSN : 24775665     DOI : https://doi.org/10.19087/jveteriner
Core Subject : Health,
Jurnal Veteriner memuat naskah ilmiah dalam bidang kedokteran hewan. Naskah dapat berupa: hasil penelitian, artikel ulas balik (review), dan laporan kasus. Naskah harus asli (belum pernah dipublikasikan) dan ditulis menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah ilmiah yang telah diseminarkan dalam pertemuan ilmiah nasional dan internasional, hendaknya disertai dengan catatan kaki
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 25 No 1 (2024)" : 15 Documents clear
Gambaran Histopatologi Kulit Anjing Penderita Dermatitis Atopik Pascapemberian Eco Enzyme Rafi Ahmad Farhan; I Nyoman Suartha; Luh Made Sudimartini
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.81

Abstract

Dermatitis atopik merupakan salah satu penyakit paling umum terjadi pada anjing yang bersifat multifaktorial dan biasanya menyerang anjing usia 6-36 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologi kulit anjing penderita dermatitis atopik pascaterapi eco enzyme. Eco enzyme adalah suatu produk cairan hasil dari fermentasi limbah organik asal dapur seperti ampas buah dan sayuran, molase, serta air. Penelitian ini menggunakan lima ekor anjing penderita dermatitis atopik yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan. Kelompok A, terdiri atas tiga ekor sampel anjing yang dimandikan dengan cairan eco enzyme konsentrasi 10% setiap tiga hari sekali selama 28 hari. Pada perlakuan Kelompok B, dua ekor sampel anjing dimandikan dengan eco enzyme 10% setiap tiga hari sekali sampai hari ke-9, dilanjutkan dengan dimandikan eco enzyme 2% setiap satu minggu sekali (hari ke-13, ke-20, ke-27). Kedua kelompok perlakuan dimulai dari hari ke-0 hingga hari ke-28. Sampel kulit diambil dengan metode biopsi dan pengamatan perubahan histopatologi dilakukan dengan membuat preparat histopatologi kulit yang diwarnai dengan pewarnaan Hematoksilin dan Eosin. Pengamatan preparat dilakukan dengan mikroskop cahaya. Data yang diperoleh dianalisis dengan Uji sidik ragam dan dilanjutkan dengan Uji jarak berganda Duncan dan Uji Kruskall Wallis dilanjut dengan Uji Mann-Whitney, kemudian data dijelaskan secara deskriptif. Hasil Uji sidik ragam menunjukkan ketebalan epidermis dengan pemberian eco enzyme 2% dan 10% berbeda nyata (P<0,05). Untuk Uji Kruskall Wallis terhadap skoring infiltrasi sel radang dan degenerasi menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang nyata (P<0,05) pemberian eco enzyme 2% dan 10%. Cairan eco enzyme mampu menurunkan tingkat keparahan dermatitis atopik pada anjing. Pemberian eco enzyme konsentrasi 10% dan dilanjut konsentrasi 2% dengan waktu aplikasi yang diperpanjang dapat mengembalikan struktur histologis kulit anjing menuju normal terutama pada ketebalan epidermis, menurunkan infiltrasi sel radang, dan menurunkan degenerasi.
Respons Imun Mencit terhadap Vaksin DNA Virus Demam Babi Afrika A224L dan A276R dengan Enkapsulasi Lipofektamin, Kolesterol dan Polimer Sylvia Kamil; I Gusti Ngurah Kade Mahardika; Ida Bagus Kade Suardana
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.132

Abstract

Vaksin terhadap penyakit Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF) sangat diperlukan untuk mengurangi kerugian peternak babi di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan memaparkan pengujian vaksin DNA-ASF dengan gen A224L dan A276R pada mencit dengan adjuvan polimer, lipofektamin dan kolesterol. Setiap mencit divaksinasi secara intramuskuler dengan 25 ?g plasmid yang dienkapsulasi dengan adjuvan tersebut. Serum mencit dikumpulkan pada minggu ke-1, 2, 3 dan 4. Antibodi terhadap A224L dan A276R dideteksi dengan uji ELISA menggunakan peptida sintetik A224L dan A276R sebagai antigen. Nilai optical density (OD) dianalisis secara statistika menggunakan uji sidik ragam dengan aplikasi SPSS Versi 25. Hasil penelitian menujukkan nilai OD serum mencit yang diberikan vaksin DNA ASF-A224L dan A276R dengan adjuvan polimer (0,149), lipofektamin (0,080) dan kolesterol (0,058), serta mencit kontrol (0,020) berbeda sangat nyata (p=0,000), sementara waktu pengambilan serum tidak berpengaruh nyata (p=0,517). Simpulannya adalah nilai OD ELISA serum mencit yang diberikan vaksin DNA ASF-A224L dan A276R antarperlakuan adjuvan polimer, lipofektamin, kolesterol, dan kontrol secara statistika berbeda sangat nyata (p=0,000), sedangkan waktu pengambilan serum secara statistika tidak berpengaruh nyata (p=0,517) terhadap nilai OD ELISA serum mencit yang diberikan vaksin DNA ASF-A224L dan A276R. Kajian lebih lanjut diperlukan untuk memperbaiki protokol pencampuran adjuvan dengan plasmid menggunakan kuantitas lebih banyak.
Studi Kasus: Echocardiography Normal pada Anjing Siberian Husky Dewasa Mumtasya Karima Putri; Abdul Zahid Ilyas; Fitria Senja Murtinigrum; Bintang Nurul Iman; Deni Noviana
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.31

Abstract

Echocardiography digunakan secara umum pada bidang kedokteran hewan untuk mengevaluasi struktur dan fungsi jantung pada anjing. Studi kasus ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil echocardiography normal pada ras anjing Siberian Husky. Pengukuran echocardiography diperoleh dengan teknik standar, yaitu B-Mode, M-Mode, dan Color Flow Doppler menggunakan Acclarix AX3 Vet USG dan probe micro convex dengan frekuensi 5-9 MHz. Pemeriksaan dilakukan pada posisi hewan right parasternal dan left apical. Hasil menunjukkan bahwa anjing Siberian Husky berusia enam tahun dengan bobot badan 32 kg dalam studi kasus ini memiliki jantung yang normal. Hasil perbandingan echocardiography M-Mode dengan nilai rentang referensi normal untuk anjing dengan ukuran, peran, dan bobot badan yang serupa menunjukkan left ventricular internal dimension in diastole (LVIDd) di bawah rentang normal, sementara left ventricular posterior wall in diastole (LVWPd) dan left ventricular posterior wall in systole (LVPWs) lebih tinggi. Hasil ini menunjukkan perlunya interval referensi spesifik berdasarkan ras anjing. Studi kasus ini menjelaskan hubungan antara nilai echocardiography normal dengan fungsi jantung anjing yang digambarkan melalui nilai ejection fraction (EF) 66,04% dan fractional shortening (FS) 35,52%. Hasil echocardiography normal pada anjing Siberian Husky ini dapat dibandingkan dengan interval referensi ras serupa yang merupakan working dogs, sehingga menjadi nilai referensi yang penting untuk penelitian lebih lanjut.
Total Eritrosit, Kadar Hemoglobin, Nilai Hematokrit, dan Indeks Eritrosit Anjing Penderita Dermatitis Atopik Pascaterapi dengan Eco Enzyme Stephanie Ariella Gunawan; i nyoman suartha; nyoman sadra dharmawan
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.93

Abstract

Dermatitis atopik merupakan gangguan kulit yang terjadi pada anjing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pengobatan dengan eco enzyme terhadap anjing penderita dermatitis atopik dilihat dari perubahan total eritrosit, kadar hemoglobin, nilai hematokrit,dan indeks eritrosit. Pada penelitian ini digunakan dua kelompok anjing penderita dermatitis atopik: konsentrasi A (3 ekor) dimandikan eco enzyme konsentrasi 10% dengan interval tiga hari sekali, dan konsentrasi B (2 ekor) dimandikan eco enzyme konsentrasi 10% interval tiga hari sekali, kemudian dilanjutkan seminggu setelahnya dengan eco enzyme konsentrasi 2% dengan interval seminggu sekali. Kedua kelompok diberi perlakuan selama lima minggu. Data hematologi rutin yang diperoleh diuji dengan sidik ragam melalui pola berjenjang dan kemudian dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi eco enzyme dan lama pengamatan (minggu) tidak berpengaruh nyata terhadap total eritrosit, hemoglobin, hematokrit, MCH, dan MCHC, meskipun begitu berpengaruh terhadap MCV. Selain itu, terdapat interaksi yang nyata antara konsentrasi eco enzyme terhadap lama pengamatan pada MCH. Dapat disimpulkan bahwa terapi dengan eco enzyme belum mampu memperbaiki total eritrosit, hemoglobin, hematokrit, MCH, dan MCHC, namun mampu memperbaiki MCV pada anjing penderita dermatitis atopik.
Article Review: Identifications and Geographic Distribution of Six Anisakis Species (Nematoda: Anisakidae) in Indonesia Forcep Rio Indaryanto; Mohammad Mukhlis Kamal; Nurlisa A. Butet; Ridwan Affandi; Risa Tiuria
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.143

Abstract

Anisakis is a zoonotic nematode that causes anisakiasis in Europe and Asia. Food safety has recently become a major concern for consumers; therefore, accurate identification of Anisakis larvae is necessary for the correct diagnosis of Anisakis infection in humans and fish and for improving food safety. From 2001 to 2023, Anisakis examinations were carried out in 33 areas of Indonesian territory. Morphometric Anisakis of Indonesia generally have a body length of 0.10-34.50 mm with a diameter of 0.30-0.42 mm. Based on morphological and genetic identification, identified six species anisakis in Indonesia (A. simplex, A. physeteris, A. pegreffii, A. berlandi, A. typica and Anisakis sp. HC-2005), or identified six Anisakis genotypes based on genetic identification, namely A. typica (s.s), A. typica var Indonesiansis, A. physeteris, A. pegreffii, A. berlandi and Anisakis sp. HC-2005.Decapterus sp., Thyrsitoides marleyi, Euthynnus afifinis, Auxis rochei, Gempylus serpens, Katsuwonus pelamis and Trichiurus lepturus have a high prevalence (>90%), indicating that they are often infected with Anisakis. Anisakis spread throughout the waters in Indonesia with various types of fish as hosts and A. typica is the predominant species in Indonesia.
Profil Biokimia Serum dan Cairan Asites Kasus Feline Infectious Peritonitis tipe Efusif Bagas Pria Prasetyo; Soedarmanto Indarjulianto; Ida Tjahajati; Imron Rosyadi; Akbar Wicaksono
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.55

Abstract

Feline Infectious Peritonitis (FIP) merupakan penyakit fatal yang terjadi pada kucing di seluruh dunia yang disebabkan oleh Feline Coronavirus. Diagnosis antemortem FIP sulit akibat tanda klinis dan laboratoris yang kurang spesifik. Diagnosis yang cepat dan andal sangat penting untuk tujuan prognostik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi profil biokimia serum dan cairan asites kucing penderita FIP efusif. Penelitian ini menggunakan lima ekor kucing yang diduga kuat menderita FIP efusif. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis, uji Rivalta dan rapid test antibodi FIP terhadap sampel cairan asites. Kucing diambil serum darah dan cairan asites untuk pemeriksaan total protein, albumin, globulin, dan rasio albumin/globulin (A/G). Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan 5/5 (100%) kucing mengalami asites. Uji Rivalta terhadap sampel cairan asites didapatkan hasil positif eksudat dan rapid test antibodi positif FIP. Profil biokimia serum dan cairan asites menunjukkan rata-rata total protein serum dan cairan asites masing-masing sebesar 7,14 ± 1,36 g/dL dan 6,12 ± 0,33 g/dL (P<0,05); terjadi hipoalbuminemia pada sampel serum dengan rata-rata sebesar 1,94 ± 0,33 g/dL dan albumin cairan asites sebesar 1,69 ± 0,32 g/dL (P<0,05), globulin serum memiliki rata-rata sebesar 5,06±1,32 g/dL dan globulin asites sebesar 4,80 ± 0,88 g/dL (P>0,05). Semua kucing memiliki rata-rata rasio A/G yang rendah, yaitu 0,37 ± 0,36 pada serum dan 0,34 ± 0,01 pada cairan asites (P>0,05). Disimpulkan bahwa profil biokimia serum dan cairan asites pada FIP efusif kucing antara lain total protein serum dan asites normal, hipoalbuminemia, globulin serum normal dan penurunan rasio albumin-globulin. Namun demikian, perbedaan profil biokimia serum dan asites hanya terjadi pada total protein dan albumin, tetapi tidak pada globulin dan rasio A/G.
Perbedaan Aktivitas Antimalaria Citrus maxima, Anredera cordifolia, Kombinasi Solanum lycopersicum-Malus domestica-Daucus carota pada Mencit Diinfeksi Plasmodium berghei) Dewa Ayu Agus Sri Laksemi; Luh Putu Ratna Sundari; Ni Luh Rustini; Ketut Tunas; Putu Ayu Asri Damayanti; I Made Sudarmaja; Ni Made Linawati
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.103

Abstract

Resistensi obat malaria menyebabkan gejala berat dan kegagalan pengobatan. Untuk mengembangkan obat baru, dilakukan skrining terhadap beberapa tanaman yang berpotensi digunakan sebagai antimalaria. Penelitian ini bertujuan untuk memilih serta membandingkan aktivitas antimalaria Citrus maxima, Anredera cordifolia, Solanum lycopersicum, kombinasi Solanum lycopersicum-Malus domestica-Daucus carota pada mencit, Mencit Balb c jantan dibagi menjadi enam kelompok (n=5). Tanaman kering diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan metanol 80%. Uji selama 4 hari dilakukan untuk memastikan efek antimalaria dari berbagai tanaman tersebut. Setelah diinokulasi dengan Plasmodium berghei, kelompok perlakuan diberi ekstrak sebanyak 1000 mg/kg, sedangkan DHP (Dihydroartemisinine Piperaquine) dan RPMI 5% berperan sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan semua ekstrak menunjukkan tingkat parasitemia lebih rendah dibandingkan dengan kontrol negatif. Penelitian ini menunjukkan persentase penekanan parasit sebesar 58.7, 84.3, 77.4, 61.4, dan 83.9 % untuk kombinasi Anredera cordifolia, Citrus maxima, Solanum lycopersicum, Solanum lycopersicum-Malus domestica-Daucus carota dan Dihydroartemisinine Piperaquine. Penekanan parasit tertinggi (84,3%) terdapat pada kelompok yang diberi ekstrak Citrus maxima. Ekstrak buah Citrus Maxima, Anredera Cordifolia, Solanum Lycopersicum-Malus Domestica-Daucus Carota mempunyai aktivitas antimalaria yang berbeda dengan Citrus maxima memilikipotensi terbaik sebagai antimalaria.
Cajanus Cajan Leaf and Ginger Increase Antioxidant Defence in Pancreatic Diabetic Rats: An Immunohistochemical Study Tutik Wresdiyati; Bella Dinar Fauqii Cahyani; Hamzah Alfarisi; Siti Sa'diah; Made Astawan
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.1

Abstract

Hyperglycemia in diabetes mellitus results in stress oxidative condition. This study aims to analyze the antioxidant defence in pancreatic experimental-diabetic rats treated with a combined extract of Cajanus cajan leaf and ginger, using an immunohistochemical technique for copper, zinc – superoxide dismutase (Cu,Zn-SOD). A total of 25 male Sprague Dawley rats were used in this study. The rats were randomly divided into five groups; normal control group (NC), diabetic group (DM), two groups DM treated with a different dose combination of Cajanus cajan leaf extract and ginger extract (DME and DMF), and DM treated with glibenclamide (DMG). This study used 110 mg/kg BW alloxan induction to obtain diabetic conditions, and the treatments of the extract were conducted for 28 days. The pancreatic tissues were processed using the paraffin standard method and an immunohistochemical technique using monoclonal antibody Cu,Zn-SOD. The results showed that a combination of Cajanus cajan leaf extract and ginger extract lowered the level of blood glucose, increased body weight, and increased the level of Cu,Zn-SOD content in pancreatic tissues of experimental-diabetic rats. This study concluded that combining Cajanus cajan leaf extract and ginger extract increased antioxidant defence in pancreatic organs of experimental-diabetic rats.
Supplementation of Trace Mineral in Dry Feed Potential as Immunomodulator Against Aeromonas hydrophila Infection of African Catfish Indira Tiffani P Putri; Rifky Rizkiantino; Sarasati Windria; Andi Hiroyuki
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/veteriner.2024.25.1.44

Abstract

This study explored the potential trace mineral in increasing the immune response of juvenile African catfish (Clarias gariepinus) against the infection caused by Aeromonas hydrophila, which is highly prevalent in aquaculture. The experiment involved five groups that were given different treatments, which consisted of A (negative control), B (positive control), C (2 g/kg of trace mineral in feed), D (4 g/kg of trace mineral in feed), and E (6 g/kg of trace mineral in feed), with each treatment repeated thrice. The experimental fish underwent three days of acclimation before the experimental period, followed by two weeks of treatments in each respective group, and a challenge test by A. hydrophila injection given post-supplementation accompanied by observation, which lasted for a week. The final observation was made on day 8 post-infection, with significant findings revealed in the results. The results showed the survival rate (%) and total leukocyte counts (TLC) of experimental African catfish treated with trace mineral supplementation (groups C, D and E) were remarkably higher than the positive control (group B) after infected by A. hydrophila (P<0.05). Furthermore, groups C and D showed increased lymphocyte and monocyte percentages compared to other treatments (P<0.05). These results indicate that trace mineral supplementation has the potential to be an immunomodulator through its inclusion within the diet of juvenile catfish and its promising effect in boosting their immunity against infection.
Perubahan Lesi Makroskopis pada Anjing Kampung Penderita Dermatitis Setelah Dimandikan dengan Eco Enzyme Annisa Budiani; I Nyoman Suartha; Sri Kayati Widyastuti
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.62

Abstract

Penyakit yang paling umum dijumpai pada hewan kesayangan salah satunya ialah penyakit kulit (dermatitis). Gabungan klinis dari lesi primer dan lesi sekunder dapat teramati sebagai tanda klinis pada anjing penderita dermatitis. Penelitian ini bertujuan mengetahui perkembangan kesembuhan lesi yang dilihat dari perubahan lesi makroskopis pada kulit anjing penderita dermatitis pascapemberian eco enzyme. Anjing yang dijadikan sebagai objek penelitian merupakan anjing kampung dengan rentang umur 5-6 bulan, dan berjeniskelamin betina. Objek penelitian adalah anjing dermatitis yang memiliki keparahan lesi spesifik yaitu lesi yang kompleks gabungan antara lesi primer dan lesi sekunder dengan penyebaran lesi berupa multifokal-ektensif. Sampel penelitian sebayak lima ekor anjing penderita dermatitis dibagi menjadi dua kelompok. Pada Kelompok A, terdiri atas tiga sampel anjing dermatitis dimandikan dengan eco enzyme 10% tiga hari sekali. Pada Kelompok B yaitu terdiri atas dua sampel anjing dermatitis dimandikan dengan eco enzyme10% tiga hari sekali, sebanyak tiga kali mandi kemudian dilanjutkan dimandikan dengan eco enzyme 2% satu minggu sekali. Kedua kelompok diamati setiap tiga hari sekali dimulai dari hari ke-0 hingga hari ke-33. Data dianalisis dengan Uji Friedman dan Uji Wilcoxon, kemudian dijelaskan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian eco enzyme dapat membantu dalam perbaikan kondisi lesi hingga lesi mengering, papula, eritema dan krusta berkurang, merangsang pertumbuhan rambut hingga tidak dijumpai lagi adanya lesi primer maupun lesi sekunder. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan pemberian eco enzyme berpengaruh nyata terhadap proses kesembuhan lesi anjing penderita dermatitis dan didapatkan bahwa eco enzyme dengan konsentrasi 2% efektif digunakan untuk pengobatan dermatitis.

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2024 2024