cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 4 (2010)" : 12 Documents clear
Faktor Risiko Sepsis Awitan Dini Rocky Wilar; Ellen Kumalasari; Diana Yuliani Suryanto; Stefanus Gunawan
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.265-9

Abstract

Latar belakang. Insiden sepsis neonatorum masih tinggi, oleh karena itu diperlukan perhatian khusus padadeteksi dini untuk tata laksana lebih dini.Tujuan. Mengetahui faktor risiko potensial yang menyebabkan sepsis awitan dini.Metode. Studi retrospektif kohort dilaksanakan pada Bagian Neonatologi RS Prof DR RD Kandou daribulan Januari - Juli 2009. Kriteria inklusi adalah bayi yang dilahirkan di RS Prof. R.D. Kandou yang memilikifaktor risiko sepsis. Faktor risiko sepsis apabila terdapat dua faktor risiko mayor atau satu faktor risikomayor dengan dua faktor risiko minor. Diagnosis sepsis ditegakkan berdasarkan adanya gejala klinis danfaktor risiko sepsis serta pemeriksaan laboratorium. Data dievaluasi dengan Pearson chi-square dan Fisher’sexact test, dianalisis dengan SPSS 17. Dikatakan berhubungan signifikan antara faktor risiko dengan sepsisbila p<0,05.Hasil. Dari 72 kasus bayi dengan faktor risiko sepsis, 58 bayi didiagnosis sepsis. Hanya ketuban pecah dini>18 jam yang merupakan salah satu faktor risiko mayor berhubungan signifikan dengan sepsis (p=0,002,IK95% 1,2 4;1,59). Faktor risiko mayor lain yaitu demam intrapartum >38oC, korioamnionitis, ketubanberbau, denyut jantung janin >160x/menit dan faktor risiko minor yang meliputi ketuban pecah dini >12jam, demam intrapartum >37,50C, skor APGAR rendah, bayi berat lahir sangat rendah, kembar, usia kehamilan<37 minggu, keputihan, infeksi saluran kemih tidak berhubungan dengan sepsis.Kesimpulan. Ketuban pecah dini >18 jam berhubungan dengan sepsis awitan dini.
Risiko Gangguan Pendengaran pada Neonatus Hiperbilirubinemia Gatot Irawan Sarosa; Alifiani Hikmah Putranti
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.222-7

Abstract

Latar belakang. Menurut data WHO tahun 2007, diperkirakan prevalensi gangguan pendengaran padapopulasi penduduk Indonesia 4,2%, salah satu penyebab gangguan pendengaran adalah hiperbilirubinemiapada neonatus. Identifikasi dini gangguan pendengaran dan intervensi optimal pada usia enam bulanpertama dapat mencegah gangguan bicara dan bahasa, prestasi akademik, hubungan personal sosial, danemosional pada anak.Tujuan. Membuktikan dan menganalisis risiko hiperbilirubinemia terhadap terjadinya gangguanpendengaran pada neonatus.Metode. Dilakukan penelitian kohort pada 36 neonatus dengan hiperbilirubinemia di RS Dr. Kariadi,Maret 2009 – Maret 2010, terdiri dari 18 kelompok kasus dengan kadar bilirubin indirek >12 mg/dl dan18 kelompok kontrol dengan kadar bilirubin indirek <12 mg/dl. Subyek penelitian dipilih menggunakanmetode consecutive sampling. Dicatat data klinis, laboratorium, dilakukan tymphanometri, OtoAcusticEmission (OAE) dan Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) pertama serta OAE dan BERA tigabulan kemudian. Analisis dilakukan dengan uji Chi-square, uji Mc Nemar dan uji t tidak berpasangan.Hasil. Kejadian gangguan pendengaran pada pemeriksaan BERA awal sebanyak 9 kasus (25%) dan 3 kasus(8,3%) pada pemeriksaan BERA kedua, secara statistik tidak bermakna (p>0,05). Pada pemeriksaan BERAawal, rerata kadar bilirubin indirek tidak berbeda bermakna (p>0,05) antara neonatus dengan gangguanpendengaran 14,1 8+6,289 mg/dl dan neonatus tanpa gangguan pendengaran (11,29+2,995) mg/dl. Nilairisiko relatif (RR) 2,0 (p>0,05; 95% CI 0,6-6,8), namun secara statistik tidak bermakna.Kesimpulan. Kejadian gangguan pendengaran pada neonatus dengan hiperbilirubinemia adalah 25%.Kadar bilirubin indirek >12 mg/dl belum dapat disimpulkan sebagai faktor risiko gangguan pendengaranpada neonatus dengan hiperbilirubinemia.
Sensitifitas dan Spesifisitas Pemeriksaan Procalcitonin, C-Reactive Protein (CRP), dan Hitung Leukosit untuk Memprediksi Infeksi Bakterial pada Sindrom Syok Dengue di Pediatric Intensive Care Unit Henny Rosita Iskandar; Antonius Pudjiadi; Dharma Mulyo; A. Pratiwi; Y. Suryatin
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.768 KB) | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.233-40

Abstract

Latar belakang. Pada sindrom syok dengue (SSD) dapat terjadi iskemia usus yang dapat menyebabkangangguan gut barrier sehingga terjadi translokasi bakteri dan produknya (endotoksin) ke dalam sirkulasisistemik. Di Indonesia, terdapat beberapa pemeriksaan laboratorium yang tersedia untuk mendeteksi infeksibakteri antara lain procalcitonin (PCT), CRP, hitung leukosit, dan biakan bakteri, sedangkan pemeriksaanneoptrin dan endotoksin belum tersedia secara komersial. Biakan darah memerlukan waktu yang lama dandapat memperburuk prognosis bila pemberian antibiotik harus menunggu hasil pemeriksaan.Tujuan. Mengetahui sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan PCT, CRP, dan hitung leukosit untuk memprediksiinfeksi bakteri pada pasien SSD yang dirawat di pediatic intensive care unit (PICU).Metode. Studi prospektif kasus SSD yang dirawat di PICU RSAB Harapan Kita Jakarta dari Januari sampaidengan Desember 2006. Diagnosis SSD sesuai dengan kriteria WHO 1997 dikonfirmasi dengan pemeriksaanserologi Dengue blot pada hari kelima demam. Pemeriksaan PCT, CRP, biakan darah, dan hitung leukositpada hari pertama masuk PICU. Data dianalisis dengan program SPSS versi 17.Hasil. Subyek penelitian didapatkan 28 pasien dengan umur 12 bulan sampai 180 bulan (rerata 86 bulan,SD 39 bulan). Seluruh kasus merupakan infeksi dengue sekunder. Kematian terjadi pada 3 dari 28 pasien(10,7%). PCT (cut of point >0,5 ng/ml), CRP (cut of point >6mg/l) dan hitung leukosit (cut of point >11.000/IU) tidak berkorelasi secara bermakna dengan hasil biakan. Receiver operating characteristic curves (ROC)PCT 0.400 dengan p=0.490 dan CRP 0,422 dengan p=0,549, hitung leukosit 0,500 dengan p=1,000.Perbandingan sensitifitas dan spesifisitas PCT ,CRP, dan hitung leukosit masing-masng 20% dan 30,4 %CRP 60% dan 69,6 % sedangkan leukosit 20% dan 21,7%Kesimpulan. Pemeriksaan PCT, CRP, dan hitung leukosit tidak dapat digunakan untuk memprediksi infeksibakterial pada pasien SSD di PICU.
Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak dan Remaja di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSUPN dr. Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta Tjhin Wiguna; Paul Samuel Kris Manengkei; Christa Pamela; Agung Muhammad Rheza; Windy Atika Hapsari
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.992 KB) | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.270-7

Abstract

Latar belakang. Anak dengan masalah emosi dan perilaku mempunyai kerentanan untuk mengalamihendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, terutama dalam fungsi belajar dan sosialisasi. Masalah tersebutseringkali sulit dikenali oleh orangtua sehingga anak dengan masalah ini datang berobat dalam kondisiyang cukup berat.Tujuan. Untuk mengetahui persepsi orangtua terhadap perubahan emosi dan perilaku pada anak merekapada saat berkonsultasi di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSCM Jakarta selama periode November2009–Mei 2010.Metode. Penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder dari catatan medik anak dan remaja diPoliklinik Anak dan Remaja RSCM, selama periode November 2009 – Mei 2010. Kriteria inklusi adalah,catatan medik lengkap mengenai data anak beserta orangtuanya, dan kuesioner Strength and DifficultiesQuestionaire (SDQ) diisi dengan lengkap.Hasil. Selama periode enam bulan didapatkan 161 subjek penelitian yang memenuhi kriteria yang sudahditentukan. Enam puluh lima koma sembilan puluh persen dari seluruh subjek penelitian berada pada usiakurang dari 12 tahun dan mempunyai tingkat pendidikan setara dengan sekolah dasar. Proporsi terbesaradalah masalah hubungan dengan teman sebaya 54,81%, dan masalah emosional 42,2%.Kesimpulan. Masalah teman sebaya dan emosi merupakan masalah yang terbesar yang dijumpai pada pasienanak dan remaja yang datang berobat ke Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSCM. Perlu dipertimbangkanuntuk menerapkan suatu program keterampilan sosial di masyarakat atau sekolah sehingga diharapkandapat menurunkan masalah ini di kemudian hari.
Penilaian CAT (cognitive adaptive test)/CLAMS (clinical linguistic & auditory milestone scale) pada Anak di Tempat Penitipan Anak Werdhi Kumara I Denpasar I Gusti Ayu Trisna Windiani; Soetjiningsih Soetjiningsih
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.228-32

Abstract

Latar belakang. Gangguan perkembangan dan perilaku didapatkan pada 12%-16% anak di Amerika Serikat.Sedangkan gangguan komunikasi dan kognitif didapatkan 8% dari gangguan perkembangan. Deteksi dini sangatpenting untuk mencegah terjadinya gangguan perkembangan.Tujuan. Menentukan prevalensi anak yang mungkin memiliki gangguan kognitif dan bahasa di TPA Werdhi KumaraI Denpasar dengan menggunakan tes skrining perkembangan cognitif adaptive test (CAT)/clinical linguistic& auditory milestone scale (CLAMS).Metode. Desain penelitian deskriptif potong lintang dilakukan di TPA Werdhi Kumara I Denpasar. Data diperolehmelalui kuesioner dan dari hasil pemeriksaan CAT/CLAMS pada bulan September 2009.Hasil. Empat puluh sembilan anak ikut dalam dalam penelitian. Empat puluh satu (83,7%) anak memilikihasil skrining normal, 7 (14,3%) anak didapatkan hasil skrining suspek, dan 1 (2,0%) anak didapatkan denganketerbelakangan mental. Kedua orangtua subyek yang bekerja di luar rumah 46 (93,9%) orang, dan 32 subyek(65,3%) memiliki 1-2 saudara kandung.Kesimpulan. Didapatkan 14,3% anak di TPA Werdi Kumara I Denpasar menunjukkan gangguan kognitif danbahasa melalui pemeriksaan CAT/CLAMS, diperlukan penilaian lebih lanjut untuk diagnosis dan tata laksanaselanjutnya.
Rituximab: Dapatkah Dipakai Sebagai Terapi “Rescue” pada Sindrom Nefrotik Dependen Steroid Berat dan Dependen Siklosporin Serta Resisten Steroid pada Anak? Husein Alatas
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.260-4

Abstract

Pengobatan sindrom nefrotik dependen steroid (SNDS)/dependen siklosporin dan SN resisten steroid (SNRS)sampai saat ini masih merupakan masalah di bidang Nefrologi anak karena belum ada yang memuaskan. Berbagaiobat supresi imun telah diberikan yaitu antara lain siklofosfamid (atau klorambusil), siklosporin A, mikofenolatmofetil, takrolimus. Demikian pula levamisol hanya bersifat memperpanjang masa remisi sementara.Penggunaan obat baru rituximab suatu antibodi monoklonal terhadap CD 20 sel B memberi harapan barupada pengobatan SNDS maupun SNRS, baik dengan gambaran histopatologi kelainan minimal (SNKM)maupun glomerulosklerosis fokal segmental (GSFS). Dosis obat yang dipergunakan 375 mg/m2 per mingguselama 4 minggu berturut-turut atau bahkan ada yang hanya 1-2 kali pemberian dapat menimbulkan remisitotal sampai beberapa bulan. Dalam makalah diuraikan studi literatur pengobatan SN secara kronologikserta tingkat level of evidence dan kemungkinan penggunaan rituximab sebagai terapi rescue pada SNDSberat/SNRS pada anak.
Surveilans Influeza pada Pasien Rawat Jalan Putu Siadi Purniti; Ida Bagus Subanada; Ida Sri Iswari
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.688 KB) | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.278-82

Abstract

Latar belakang. Influenza merupakan infeksi yang sering terjadi dan memberikan dampak yang besar padakelompok usia anak. Informasi mengenai tingkat kunjungan pasien seasonal influenza diperlukan untukmenilai besarnya dampak yang ditimbulkan penyakit influenza Rapid influenza test dapat membantu diagnosisdan penanganan pasien yang datang dengan manifestasi klinis seasonal influenza.Tujuan. Untuk mengetahui tingkat kunjungan pasien dengan seasonal influenza dan nilai diagnostik pemeriksaanrapid influenza test.Metode. Surveilans seasonal influenza dilaksanakan di Poliklinik Rawat Jalan Bagian//SMF Ilmu KesehatanAnak RSUP Sanglah Denpasar Bali selama periode 1 Januari 2005 sampai 31 Desember 2006. Pasien usia1 bulan sampai dengan 12 tahun dengan manifestasi klinis influenza like illness berdasarkan kriteria WHOdiikutsertakan dalam penelitian. Pada subyek penelitian dilakukan apusan hidung untuk pemeriksaan rapid influenzadan apusan tenggorok untuk pemeriksaan reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR).Hasil. Didapatkan prevalensi seasonal influenza pada anak di RSUP Sanglah Denpasar Bali 16,8%. Duapuncak kejadian terjadi pada periode bulan Januari sampai April dan September sampai Desember. Pemeriksaanrapid influenza memiliki sensitivitas 12,87% (IK 95%: 12,54-12,89%), spesifisitas 99,6% (IK 95%:99,59-99,61%), nilai duga positif 86,67% (IK 95%: 86,47-86,94%), nilai duga negatif 84,98% (IK 95%:82,18-87,78%), rasio kemungkinan positif 32,18% (IK 95%: 28,45-35,91%), dan rasio kemungkinannegatif 0,88% (IK 95%:62,1-113,8%).Kesimpulan. Prevalensi seasonal influenza pada penderita rawat jalan di Poliklinik anak RSUP SanglahDenpasar Bali 16,8%. Dua puncak kejadian terjadi pada periode bulan Januari–April dan September–Desember. Pemeriksaan rapid influenza memiliki sensitivitas yang rendah tetapi spesifisitas dan nilai dugapositif yang tinggi
Hubungan Kadar Seng dan vitamin A dengan Kejadian ISPA dan Diare pada Anak Fedriyansyah Fedriyansyah; HM Nazir Hz; Theodorus Theodorus; Syarif Husin
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.848 KB) | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.241-6

Abstract

Latar belakang. Rendahnya sistem imunitas dianggap turut berpengaruh terhadap kejadian ISPA dandiare. Beberapa penelitan menyatakan bahwa kadar seng dan vitamin A dalam serum yang rendah jugaberpengaruh terhadap sistim imun.Tujuan.Untuk mengetahui hubungan antara status seng dan vitamin A dengan kejadian ISPA dan diarepada anak.Metode. Penelitian kohort selama enam bulan di lima posyandu di wilayah kerja Puskesmas Talang Ratu,Palembang. Subjek penelitian adalah anak berumur 12-60 bulan yang datang ke Posyandu pada bulanFebruari 2009. Kadar seng dan vitamin A diperiksa, serta mendapat vitamin A sesuai program pemerintah.Data ISPA dan diare dari subjek, dikumpulkan selama 6 bulan dan selanjutnya dianalisis dengan programSPSS 15.Hasil. Terdapat 100 subjek ikut dalam penelitian, namun 8 subjek tidak melanjutkan, sehingga terdapat 92subjek. Ditemukan 62% mengalami defisiensi seng dan 68,5% defisiensi vitamin A. Didapatkan hubunganyang bermakna antara defisiensi seng dan vitamin A (RR=5,833;KI 95%:2,816-12,085). Selama 6 bulandidapatkan 62% subjek menderita ISPA dan 30,4% menderita diare. Terdapat hubungan yang bermaknakejadian ISPA dengan anak defisiensi seng dan atau vitamin A (RR=2,455;KI 95%:1,403-4,297). Ditemukanjuga hubungan yang bermakna pada kejadian diare dengan anak defisiensi seng dan atau vitamin A(RR=5,984;KI 95%:1,522-23,534).Kesimpulan. Status seng dan vitamin A merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA dan diarepada anak.
Penggunaan Anti Tetanus Serum dan Human Tetanus Immunoglobulin pada Tetanus Anak Martinus M. Leman; Alan R. Tumbelaka
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.283-8

Abstract

Latar belakang. Salah satu pilar terapi kasus tetanus adalah netralisasi toksin tetanus dalam sirkulasi.Terdapat dua pilihan terapi netralisasi toksin, yaitu anti tetanus serum (ATS) yang berasal dari serum kudadan human tetanus immunoglobulin (HTIG) dari manusia.Tujuan. Membandingkan perbedaan dampak ATS dan HTIG dalam mortalitas dan efek samping padatetanus anak.Metode. Dilakukan penelusuran literatur secara online dan manual terhadap publikasi ilmiah berbahasaIndonesia atau Inggris, dengan kata kunci tetanus, anti tetanus serum, dan human anti tetanusimmunoglobulin, dengan rentang waktu publikasi antara 1960-2010.Hasil. Didapatkan sembilan publikasi ilmiah yang berkaitan. Tiga publikasi membahas efek samping ATS,dua membahas efek samping HTIG, dan empat membandingkan efektivitas ATS dan HTIG.Kesimpulan. Data yang ada menunjukkan HTIG memberikan angka kematian sama atau lebih rendahdibanding ATS. Pemberian HTIG juga memberikan risiko efek samping reaksi hipersensitif sistemik danreaksi lokal lebih kecil dibandingkan ATS.
Nefritis Tubulointerstisialis pada Kasus Anak yang Menjalani Biopsi Ginjal Hertanti Indah Lestari; Partini Pudjiastuti Trihono
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.349 KB) | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.247-53

Abstract

Latar belakang. Nefritis tubulointerstisialis (NTI) adalah sindrom yang merupakan spektrum penyakit akutdan kronik, yang secara histologis ditandai oleh inflamasi dan kerusakan struktur tubulus dan interstisial,dengan sedikit pengaruh pada elemen glomerular dan vaskular. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkanbiopsi ginjal, karena tidak ada pemeriksaan klinis dan penunjang non invasif yang spesifik dan sensitif.Tujuan. Mengetahui gambaran histopatologi yang menunjukkan keterlibatan tubulointerstisialis sertahubungannya dengan gambaran klinis dan laboratorium pada kasus anak usia kurang dari 18 tahun yangmenjalani biopsi ginjal pada periode 2005-2009.Metode. Penelitian retrospektif deskriptif dengan sumber data sekunder rekam medik Departemen IlmuKesehatan Anak dan Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – RS Dr.Cipto Mangunkusumo Jakarta.Hasil. Terdapat 45 kasus anak yang menjalani biopsi ginjal, terdiri dari 24 orang laki-laki dan 21 perempuanyang berusia 6 bulan sampai 16 tahun. Indikasi biopsi adalah glomerulonefritis akut, sindrom nefrotik,nefritis lupus, dan tumor ginjal. Gambaran klinis yang ditemukan yaitu edema, hipertensi, oliguria, demam,pucat, dan muntah. Gambaran laboratorium yaitu peningkatan kreatinin, asidosis metabolik, hipokalemia,proteinuria, hematuria, dan leukosituria steril. Gambaran nefritis tubulointerstisialis adalah infiltrasi selradang kronik, atrofi tubulus, fibrosis interstisialis, dan edema interstisialis. Beberapa gejala yang lebihbanyak terjadi pada pasien dengan lebih atau sama dengan satu kelainan tubulointerstisialis yaitu demam(p<0,05), anemia, muntah, dan asidosis metabolik.Kesimpulan. Nefritis tubulointerstisialis sebagai suatu entitas diagnosis cukup banyak ditemukan dan perludiberikan lebih banyak perhatian, dalam upaya menurunkan morbiditas dan mortalitas dari penyakit ginjalpada anak. 

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue