cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 6 (2017)" : 14 Documents clear
Profil Kematian Neonatus di RSUD dr. Soetomo Shanty Djajakusli; Agus Harianto; Risa Etika; Martono TU
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.474-80

Abstract

Latar belakang. Upaya menurunkan angka kematian neonatus belum optimal sesuai dengan yang ditargetkan MDG’s 2015, yaitu menurunkan angka kematian neonatus menjadi 23/1000 kelahiran hidup. Tujuan. Mengetahui profil kematian neonatus berdasarkan faktor maternal, faktor neonatal, sosio-demografi, keadaan klinis neonatus lahir hidup, usia ≤ 7 hari, sampai 28 hari serta mengetahui penyebab kematian neonatus dini dan neonatus lanjut.Metode. Penelitian deskriptif dilakukan di ruang Intensif Instalasi Rawat Darurat, Gedung Bedah Pusat Terpadu dan ruang Intermediate Neonatal SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD dr. Soetomo. Penelitian dimulai 1 September 2014 sampai 28 Februari 2015. Pengumpulan data menggunakan Lembar Pengumpul Data Perinasia Pusat, setiap neonatus yang dirawat kemudian meninggal dimasukkan kematian neonatus dini maupun lanjut, dicatat keadaan klinis, serta faktor risiko dari ibu dan neonatus.Hasil. Dari 807 kelahiran neonatus didapatkan 101 (12,5%) kematian neonatus terdiri dari 63 (7,8%) kematian neonatus dini dan 38 (4,7%) kematian neonatus lanjut. Kematian neonatus dini dan lanjut ditemukan paling banyak pada neonatus BBL ≥2500 g (34,9% dan 50%) , laki-laki (61,9% dan 71,1%), tunggal (95,2% dan 199%) dan sesuai masa kehamilan (79,4% dan 84,2%) serta usia ibu 20-25 tahun (82,5% dan 71,1%). Sesak (95,2% dan 86,8%) dan sepsis (66,7% dan 63,2%) merupakan keadaaan klinis neonatus pada usia ≤ 7 hari sementara keadaan klinis kematian neonatus lanjut sampai usia 28 hari terutama sesak (100%), sepsis (84,2%), dan pneumonia (52,6%).Kesimpulan. Profil penyebab kematian neonatus yang sering ditemukan adalah sepsis, prematuritas, asfiksia, dan kelainan bawaan.
Hubungan antara Status Gizi dengan Prestasi Belajar Siswa SDN 03 Pondok Cina Depok Tahun 2015 Tazkya Amany; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.487-91

Abstract

Latar belakang. Di Indonesia, kondisi status gizi anak usia sekolah tergolong buruk sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan peringkat indeks pembangunan manusia yang rendah. Status gizi merupakan salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar.Tujuan. Mengetahui hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar siswa SDN 03 Pondok Cina.Metode. Penelitian dilaksanakan bulan Oktober 2015 sampai dengan September 2016 dengan desain potong lintang analitik. Jumlah subjek penelitian 179 siswa. Pengambilan data dilakukan dengan pengukuran BB dan TB, pengisian kuesioner faktor sosiodemografi, dan pendataan nilai rapor. Data dianalisis dengan menggunakan uji chi square.Hasil. Berdasarkan indeks BB/TB, sebagian besar siswa memiliki status gizi normal (46,40%), obesitas (21,20%), gizi kurang (20,10%), dan gizi lebih (12,30%). Terdapat lebih banyak siswa dengan prestasi belajar yang rendah pada mata pelajaran Bahasa Indonesia (50,80%), Matematika (53,60%), dan IPA (50,30%). status gizi (dibagi menjadi normal dan tidak normal) menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan prestasi belajar Bahasa Indonesia (p=0,019) dan IPA (p=0,029).Kesimpulan. Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara status gizi dengan prestasi belajar Bahasa Indonesia dan IPA pada siswa SDN 03 Pondok Cina. 
Hubungan Masalah Perilaku pada Remaja dengan Irritable Bowel Syndrome Yudianita Kesuma
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.144 KB) | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.492-7

Abstract

Latar belakang.  Irritable bowel syndrome (IBS) merupakan nyeri perut berulang pada remaja yang paling banyak terjadi. Pada remaja, IBS akan menimbulkan gangguan perilaku yang serius.Tujuan.  Menganalisis hubungan antara masalah perilaku dengan IBS pada remaja.Metode. Penelitian potong lintang semua siswa SMA Nurul Iman. Pencatatan dilakukan meliputi karakteristik umum dan pemeriksaan fisis. Selanjutnya dilakukan uji Rome III (irritable bowel syndrome) dan PSC-17 (masalah perilaku). Analisis statistik digunakan analisis bivariat dengan uji chi-square.Hasil. Dari semua siswa SMA Nurul Iman didapatkan 180 subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi. Prevalensi  IBS 58 (32,2%) subyek, terdiri atas 22 subtipe konstipasi, 23 subtipe diare, dan 13 subtipe campuran. Prevalensi  masalah perilaku 40,6%, terdiri atas 28,9% masalah perilaku internalisasi, 2,8% masalah eksternalisasi, 0,6% masalah perilaku perhatian, dan 8,4% variasi dari 3 gangguan. Faktor risiko terjadinya IBS, antara lain, mengonsumsi daging olahan, teh, makan terburu-buru, serta di-bully. Terdapat hubungan yang bermakna antara IBS dengan masalah perilaku (p=0,001). Nilai Odds Ratio yang diberikan 3,015 (IK95%=1,580-5,754).Kesimpulan. Remaja yang mengalami IBS mempunyai risiko yang meningkat untuk terjadinya masalah perilaku. 
Ketepatan Waktu Pelayanan Skrining Hipotiroidism Kongenital di Yogyakarta Rini Anggraini; Suryono Yudha Patria; Madarina Julia
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1235.584 KB) | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.436-42

Abstract

Latar belakang. Deteksi dan pengobatan dini hipotiroid kongenital dapat mengurangi risiko terjadinya disabilitas intelektual, sehingga ketepatan waktu pelayanan merupakan kunci keberhasilan program skrining hipotiroid kongenital (SHK) pada bayi baru lahir. Tujuan. Mengevaluasi pelaksanaan program SHK pada bayi baru lahir di Yogyakarta tahun 2013-2015. Metode. Data ketepatan waktu pengambilan, pengiriman spesimen ke laboratorium dan data umpan balik hasil skrining dikumpulkan melalui catatan dan pelaporan program di fasilitas pelayanan kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi DIY dan Laboratorium Patologi Klinik FK UGM. Hasil. Persentase pengambilan spesimen yang tidak tepat waktu pada kelompok dana pemerintah (25%-32%) lebih besar daripada kelompok dana mandiri (11%-15%). Persentase pengiriman spesimen ke laboratorium yang tidak tepat waktu dari kelompok dana pemerintah (38%-45%) lebih besar daripada kelompok dana mandiri (7%-11%). Hasil tes TSH tinggi diterima oleh Dinas Kesehatan Provinsi DIY/Patologi Klinik UGM ketika usia bayi sudah lebih dari 2 minggu, sedangkan hasil tes yang tidak terbaca diterima ketika usia bayi 22-59 hari. Kesimpulan. Setelah dilaksanakan hampir 10 tahun, cakupan program skrining hipotiroid kongenital di Yogyakarta baru mencapai 10% bayi baru lahir. Masih banyak terjadi ketidaktepatan waktu pelayanan. Alur jejaring kerjasama program juga kurang efisien.
Pengaruh Euthyroid Sick Syndrome pada Mortalitas Anak Sakit Kritis Ony Sapto Pramana; Sri Martuti; Bambang Soebagyo
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.851 KB) | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.453-8

Abstract

Latar belakang. Penelitian di Indonesia tentang pengaruh euthyroid sick syndrome (ESS) pada mortalitas anak memberikan hasil berbeda dan terbatas pada subjek anak dengan sepsis. Tujuan. Menilai pengaruh ESS pada mortalitas dan faktor risiko mortalitas pada anak sakit kritis.Metode. Penelitian kohort prospektif dilakukan pada bulan Mei hingga Juli 2016 di PICU dan HCU RS Dr. Moewardi Surakarta. Sampel 40 anak diambil secara konsekutif. Data dianalisis menggunakan statistik uji x2, uji t, dan regresi logistik dengan program SPSS 20.0.Hasil. Terdapat 40 subjek, 21 anak laki-laki, 25 anak dengan penyakit non bedah dan 27 anak gizi baik. Kejadian ESS terdapat pada 27 (67,5%) anak dan 8 (29,6%) di antaranya meninggal. Faktor risiko yang berhubungan dengan mortalitas adalah skor PELOD ≥20, sepsis dan penggunaan inotropik. Jenis kelamin, usia, status gizi, dan jenis penyakit tidak berhubungan dengan mortalitas. ESS tidak berpengaruh terhadap mortalitas (p=0,120; OR 5,05; IK95%: 0,56-45,64). Hasil analisis multivariat menunjukkan skor PELOD ≥20 merupakan faktor risiko utama mortalitas (p=0,042; OR 14,48; IK95%: 1,10-190,42). ESS tidak berpengaruh terhadap mortalitas (p=0,120; OR 5,05; IK95%: 0,56-45,64). Kesimpulan. Euthyroid sick syndrome tidak berpengaruh pada mortalitas anak sakit kritis, ESS terjadi pada 67,5% anak sakit kritis, dan skor PELOD ≥20 merupakan faktor risiko utama mortalitas.
Perbandingan Profil Hematologi dan Trombopoietin sebagai Petanda Sepsis Neonatorum Awitan Dini Rocky Wilar; Silfy Welly; Nurhayati Masloman; Suryadi Tatura
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.956 KB) | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.481-6

Abstract

Latar belakang. Sepsis neonatorum memiliki gejala klinis yang tidak spesifik dan diagnosis dengan pemeriksaan kultur memerlukan waktu yang lama. Telah dilaporkan beratnya derajat sepsis bertambah seiring peningkatan kadar trombopoietin (TPO) sehingga TPO dapat dijadikan salah satu petanda derajat sepsis.Tujuan. Membandingkan profil hematologi dengan TPO sebagai petanda sepsis neonatorum awitan dini (SNAD).Metode. Studi potong lintang, dilakukan di Sub Bagian Neonatologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP.Prof.Dr.R.D.Kandou, bulan November 2012 sampai April 2014. Didapatkan 103 neonatus tersangka SNAD. Diperbandingkan kadar profil hematologi (jumlah leukosit, jumlah trombosit dan IT rasio) dengan TPO. Hasil. Hasil uji diagnostik TPO dengan cut-off point 259 pg/mL pada SNAD diperoleh nilai sensitivitas 76,8% dan spesifisitas 24,4%; jumlah trombosit (T) sensitivitas 42,9% dan spesifisitas 87,2%; jumlah leukosit (L) sensitivitas 30,4% dan spesifisitas 87,3%; IT-rasio (IT) sensitivitas 67,3% dan spesifisitas 50%; L+T diperoleh sensitivitas 58,9% dan spesifisitas 74,5%; L+IT sensitivitas 73,2% dan spesifisitas 46,8%; T+IT sensitivitas 78,6% dan spesifisitas 44,7% sedangkan L+T+IT sensitivitas 83,9% dan spesifisitas 34%.Kesimpulan. Sensitivitas dan spesifisitas TPO tidak lebih tinggi dibandingkan dengan profil hematologi sebagai petanda diagnosis SNAD.  
Kesediaan Mendapat Vaksinasi Human Papilloma Virus pada Remaja Putri Di Yogyakarta Kurniawati Arifah; Wahyu Damayanti; Mei Neni Sitaresmi
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.253 KB) | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.430-5

Abstract

Latar belakang. Kanker serviks merupakan keganasan terbanyak keempat pada wanita di dunia. Jumlah kasus baru setiap tahun di Indonesia sebanyak 20.928 dengan kematian 9498. Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) risiko tinggi adalah penyebab utama kanker serviks. World Health Organization (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan vaksinasi HPV untuk wanita 9−14 tahun. Vaksin HPV mulai diberikan melalui bulan imunisasi anak sekolah (BIAS).Tujuan. Mengetahui kesediaan vaksinasi HPV dan hal-hal yang dipertimbangkan dalam menerima vaksinasi pada remaja putri di Yogyakarta.Metode. Penelitian cross-sectional dengan kuesioner anonim pada 319 remaja putri yang dipilih secara cluster random sampling pada September−Oktober 2016. Kriteria inklusi adalah pelajar putri sekolah menengah pertama (SMP) di kota Yogyakarta, bersedia mengikuti penelitian, mendapat persetujuan dari pihak sekolah dan orang tua. Lima dieksklusi karena data tidak lengkap.Hasil. Kesediaan mendapat vaksinasi sebesar 9,9%. Kehalalan dan keamanan vaksin adalah hal yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan vaksinasi.Kesimpulan. Kesediaan mendapat vaksinasi HPV pada remaja putri masih rendah.
Hubungan Kepatuhan Cuci Tangan Terhadap Kejadian Infeksi Aliran Darah di Unit Neonatal Sebelum dan Setelah Edukasi Mustarim Mustarim; Rinawati Rohsiswatmo
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.125 KB) | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.443-7

Abstract

Latar belakang. Cuci tangan merupakan strategi efektif menurunkan kejadian infeksi aliran darah (IAD). Namun, angka kepatuhan cuci tangan tenaga kesehatan masih belum optimal, khususnya di Unit Neonatal. Program edukasi terhadap tenaga kesehatan dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan cuci tangan. Tujuan. Mengetahui hubungan kepatuhan cuci tangan tenaga kesehatan terhadap kejadian IAD di Unit Neonatal sebelum dan setelah edukasi.Metode. Studi dengan desain potong lintang dilakukan di Unit Neonatal RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) periode Juli 2012-September 2014 sebelum dan setelah edukasi. Hasil. Rerata kepatuhan cuci tangan 68%, dengan kepatuhan tertinggi adalah perawat (69% sebelum edukasi dan 72,5% setelah edukasi), sedangkan terendah adalah petugas laboratorium (22%). Tingkat kepatuhan cuci tangan di unit level 2 lebih tinggi (73%) daripada level 3 (68,5%). Kepatuhan cuci tangan tenaga kesehatan terhadap kejadian IAD baik sebelum dan setelah edukasi tidak bermakna secara statistik (nilai p>0,05).Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara kepatuhan cuci tangan tenaga kesehatan terhadap kejadian IAD di Unit Neonatal sebelum dan setelah edukasi.
Gangguan Ginjal terkait Obesitas pada Anak Sudung Oloan Pardede; Alvina Christine; Jumaini Andriana
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.504-12

Abstract

Prevalensi obesitas pada anak serta komplikasinya cenderung mengalami peningkatan. Salah satu komplikasi obesitas adalah kelainan ginjal yang disebut obesity-related renal injury atau gangguan ginjal terkait obesitas. Banyak faktor yang berperan dalam terjadinya obesity-related renal injury. Overweight atau obesitas berhubungan erat dengan berbagai faktor risiko penyakit ginjal kronik yaitu hiperinsulinemia, gangguan metabolisme glukosa, hipertensi, hiperlipidemia, dan sindrom metabolik. Di antara semua faktor tersebut, faktor yang paling berperan antara obesitas dan kerusakan ginjal adalah berkurangnya sensitivitas insulin. Manifestasi klinis  obesity related renal injury biasanya berupa proteinuria bermakna tanpa edema, albumin plasma sedikit menurun, dan kolesterol normal atau sedikit meningkat. Salah satu tata laksana obesity-related renal injury adalah penurunan berat badan. Pengurangan asupan diet dan penurunan berat badan dapat menyebabkan berkurangnya lesi glomerulosklerosis fokal segmental. Terapi lainnya adalah pemberian obat yang memiliki efek negatif terhadap sistem renin-angiotensin seperti inhibitor angiotensin-converting-enzyme dan angitensin receptor blocker. Dapat juga diberikan obat yang meningkatkan sensitivitas insulin. Golongan statin mempunyai peranan dalam melindungi ginjal. Usaha mencegah atau menangani obesitas sejak dini memberikan dampak besar terhadap insidens, progresivitas, biaya, dan komorbiditas penyakit ginjal
Perbedaan Prevalensi Alergi pada Anak Obes Dibandingkan dengan Indeks Massa Tubuh Normal Utami Dewi; Cahya Dewi Satria; Endy Paryanto
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.468-73

Abstract

Latar belakang. Peningkatan prevalensi obesitas dan alergi merupakan dua masalah kesehatan yang penting. Kelebihan berat badan maupun obesitas merupakan faktor risiko potensial terjadi manifestasi penyakit alergi yang berat.Tujuan. Mengetahui perbedaan prevalensi alergi dan mendeskripsikan faktor risiko alergi pada anak obes dan IMT normal.Metode. Kami melakukan penelitian potong lintang pada 45 orang anak obes dan 45 anak non obes antara Februari-Maret 2013. Data yang diperoleh merupakan data primer. Digunakan analisis dengan uji statistik kategorikal menggunakan uji chi-square untuk mengetahui perbedaan prevalensi alergi pada kelompok subyek obes dan kelompok indeks massa tubuh normal.Hasil. Tidak ada perbedaan bermakna kejadian alergi pada kelompok anak obes maupun IMT normal (p=1,000).Kesimpulan. Tidak ada perbedaan prevalensi dan profil faktor risiko alergi pada populasi anak obes maupun IMT normal.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue