cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2006)" : 12 Documents clear
Sindrom Sturge Weber Putu Junara Putra; I Komang Kari
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.69-74

Abstract

Sindrom Sturge Weber (SSW) atau disebut juga encephalofacialangiomatosis, merupakankelainan neurokutaneus yang ditandai dengan angioma leptomeningeal dan angiomakutaneus pada kulit wajah (Port Wine stain), terutama khas pada daerah perjalanannervus trigeminalis yaitu nervus oftalmikus (V1) dan nervus maksilaris (V2). PenyakitSSW disebabkan oleh anomali perkembangan bantalan vaskular pada stadium awalvaskularisasi otak yang mengakibatkan kelainan pada otak. Di Amerika, angka kejadianSSW diperkirakan sebesar 1 tiap 50.000. Kejadian SSW tidak dipengaruhi oleh ras danjenis kelamin. Kelainan neurologis dan perkembangan meliputi kejang, kelemahan, stroke,sakit kepala, hemianopsi, retardasi mental, dan kelainan perkembangan. Diagnosisditegakkan berdasarkan manifestasi klinis yang ditemukan pada tiga organ yaitu nervus,kulit dan mata, serta ditunjang oleh pemeriksaan pencitraan yaitu foto kepala, CT scan,MRI, single photon emission computed tomografi (SPECT), dan EEG.
Hubungan Asupan Zat Gizi dan Indeks Masa Tubuh dengan Hiperlipidemia pada Murid SLTP yang Obesitas di Yogyakarta Siti Nurul Hidayati; Hamam Hadi; W. Lestariana
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.185 KB) | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.25-31

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada anak dan remaja meningkatkan risiko penyakitdegeneratif dan kardiovaskular. Namun belum jelas apakah remaja yang obesitas berisikomengalami hiperlipidemiaTujuan. Menilai hubungan antara indeks masa tubuh (IMT), asupan karbohidrat danlemak dengan hiperlipidemia pada murid SLTP yang obesitas.Metoda. Penelitian cross sectional di Yogyakarta. Sampel 109 murid SLTP dengan IMT =persentile-95 kurve IMT dari NCHS-CDC, dipilih secara acak dari murid SLTP yang obesitas,yang didapat pada survei obesitas secara cross sectional. Tinggi badan diukur denganmicrotoise dan berat badan diukur dengan timbangan digital. Data asupan karbohidrat danlemak diperoleh dari wawancara menggunakan FFQ periode 3 bulan terakhir.Hasil. Prevalensi obesitas murid SLTP 4,9%, hiperkolesterolemia 88,1% danhipertrigliseridemia 100%. Asupan lemak berhubungan dengan kejadian hiperkolesterolemia(OR=6,48; KI 95%:2,80-15,02) dan hipertrigliseridemia (OR=5,31; KI95%:2,34-12,07). Asupan karbohidrat juga berhubungan dengan kejadianhiperkolesterolemia (OR=5,43; KI 95%:1,85-15,92) dan hipertrigliseridemia (OR=3,71:KI 95%:1,34-10,27). IMT tidak berhubungan dengan kejadian hiperlipidemia.Kesimpulan. Peningkatan asupan lemak dan karbohidrat berhubungan dengan kejadianhiperlipidemia pada anak yang obesitas.
Vulvovaginitis pada anak Sudung O. Pardede
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.75-83

Abstract

Vulvovaginitis merupakan masalah ginekologi yang paling sering ditemukan pada anakdan remaja, tetapi umumnya masih kurang mendapat perhatian di kalangan dokterspesialis anak. Vulvovaginitis dapat disebabkan infeksi bakteri, virus, jamur, protozoa,cacing, benda asing, trauma, reaksi alergi, atau merupakan bagian dari penyakit sistemik.Vulvovaginitis bakterialis dapat berupa vulvovaginitis non spesifik dan spesifik.Vulvovaginitis non spesifik biasanya terjadi pada pasien dengan higiene perineum yangburuk, dan vulvovaginitis bakterialis spesifik terutama disebabkan Gardnerella vaginalis.Pengeluaran sekret vagina sering merupakan gejala klinis yang membawa anak berobatke dokter. Gejala lain vulvovaginitis adalah pruritus, sering berkemih, disuria, atauenuresis. Dalam tata laksana vulvovaginitis, perlu diperhatikan higiene perineum, tidakmengenakan pakaian yang ketat, menggunakan sabun yang lunak, dan memelihara vulvatetap bersih, sejuk, dan kering. Pengobatan vulvovaginitis tergantung pada penyebabnya.Vulvovaginitis bakterialis dapat diterapi dengan antibiotik seperti amoksisilin atausefalosporin. Infeksi jamur diterapi dengan anti jamur imidazol, mikonazol, klotrimazol,dan nistatin. Vulvovaginitis trikomonads diterapi dengan metronidazol. Krim estrogentopikal atau salep polisporin dapat membantu.
Sindrom Nefrotik Sekunder pada Anak Dengan Limfoma Hodkin Partini Pudjiastuti T; Djajadiman Gatot
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.37-42

Abstract

Sindrom nefrotik sekunder ialah sindrom nefrotik yang berhubungan dengan penyakitatau kelainan sistemik, seperti keganasan. Diantara keganasan tersebut adalah penyakitHodgkin yang ditandai dengan limfadenopati. Beberapa kasus datang dengan gejalayang tidak biasa, di antaranya adalah sindrom nefrotik (0,4%). Sindrom nefrotik dapatmerupakan salah satu sindrom paraneoplastik yaitu kumpulan sindrom klinis yangmenyertai penyakit keganasan, yang timbul akibat efek sistemik keganasan tersebutnamun bukan akibat metastasis. Laporan kasus ini membahas tentang sindrom nefrotiksekunder sebagai manifestasi sindrom paraneoplastik pada pasien limfoma Hodgkin.Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun datang ke poliklinik Hematologi-OnkologiDepartemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RS Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dengankeluhan bengkak di seluruh tubuh dengan oliguria. Diagnosis limfoma Hodgkin telahditegakkan satu bulan sebelumnya, berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi. Tumorprimer berada di kuadran kanan bawah rongga abdomen, serta didapatkan pembesarankelenjar getah bening, soliter, di daerah inguinal kanan. Pemeriksaan laboratoriummenunjukkan adanya anemia, peningkatan laju endap darah (LED), proteinuria masif,hipoalbuminemia, hiperkolesterolemia, dan fungsi ginjal yang normal. Pemeriksaanfoto toraks, CT-scan abdomen, aspirasi sumsum tulang, tes sitologi terhadap urin dancairan serebrospinal, tidak menunjukkan adanya metastasis jauh. Pasien didiagnosissebagai sindrom nefrotik sekunder dan penyakit Hodgkin stadium 2. Pasien mendapatterapi berupa furosemid, infus albumin, prednison, dan sitostatik, yang terdiri darisiklofosfamid, vinkristin, etoposid, doxorubisin, bleomisin serta vinblastin.
Ketajaman Klinis dalam Mendiagnosis Bising Inosen Albert Daniel Solang; Najib Advani; I Boediman
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.32-6

Abstract

Latar belakang. Bising inosen adalah bising yang tidak berhubungan dengan kelainanorganik atau kelainan struktural jantung. Kepustakaan menyebutkan bising inosenditemukan pada 50% populasi anak sehat. Bising ini tidak bersifat patologis tetapisering disalahartikan sebagai bising organik, sehingga dilakukan berbagai pemeriksaanpenunjang yang mahal yang sebenarnya tidak diperlukan. Ketajaman klinis seorang dokteranak dalam mendiagnosis bising inosen sangat penting untuk mengatasi biaya tinggidan rasa kecemasan orang tua terhadap kondisi anak. Ketajaman klinis ini dapat diperolehdengan pengalaman dan pelatihan khusus pengenalan bising jantung pada anak.Tujuan. Membandingkan sensitivitas dan spesifitas pemeriksaan fisis denganpemeriksaan ekokardiografi (sebagai baku emas) dalam mendiagnosis bising inosen.Metode dan subyek penelitian. Desain penelitian adalah uji diagnostik. Populasiterjangkau pasien berusia 0 bulan–12 tahun yang berobat di Poliklinik Anak Umum RSDr. Cipto Mangunkusumo dari tanggal 1 Agustus sampai 31 Oktober 2005. Populasitarget adalah pasien dengan bising jantung tanpa sianosis. Baku emas ekokardiografidilakukan pada semua pasien dengan bising jantung untuk mengkonfirmasi hasilpemeriksaan fisis.Hasil. Sensitivitas diagnosis bising inosen berdasarkan pemeriksaan fisis oleh penelitiadalah 97% dan spesifisitas 50%. Nilai duga positif adalah 91% dan nilai duga negatif75%. Rasio kemungkinan untuk hasil positif adalah 1,94 dan hasil negatif adalah 0,6(hasil uji sedang).Kesimpulan. Pemeriksaan fisis oleh peneliti yang telah mendapat pelatihan khususpengenalan bising jantung, cukup dapat dipercaya sehingga dapat menurunkan keharusanpemeriksaan ekokardiografi yang mahal. Pelatihan berkala mengenal jenis-jenis bisingjantung pada anak bagi peserta Program Dokter Spesialis Anak (PPDS) 1 Ilmu KesehatanAnak dan dokter spesialis anak sebaiknya dilakukan untuk menambah kompetensi dalammendiagnosis bising inosen dan menghindari biaya tinggi pemeriksaan penunjang.
Rekomendasi Satgas Imunisasi Sri Rezeki S Hadinegoro; Soedjatmiko Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.154 KB) | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.84-92

Abstract

Menghadapi masalah kesehatan anak dunia, Indonesia tidak dapat berdiam diri namunharus turut berpartisipasi aktif. Pakar WHO menegaskan bahwa dalam upaya pencegahanpenyakit infeksi, dua hal yang harus menjadi perhatian utama ialah penyediaan air bersihdan imunisasi. Munculnya resistensi antibiotik pada beberapa mikroorganisme, keadaanimunokompromais, peningkatan kesehatan anak dengan risiko tinggi, telah memicupara ahli memalingkan arah untuk mencapai upaya pencegahan yang paripurna. Dalamsatu dasa warsa terakhir, imunisasi telah mengalami perkembangan yang sangat pesatseiring dengan kemajuan teknik rekayasa genetika dan biomolekuler. Masuknya vaksinbaru sebagai hasil teknologi modern yaitu vaksin influenza trivalen (TIV) dan vaksinpneumokokus (PCV7) memerlukan panduan penggunaannya yang dituangkan dalamRekomendasi Satgas Imunisasi IDAI.
Esofagitis Refluks Pada Anak Badriul Hegar; R. Lia Mulyani
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.43-53

Abstract

Esofagitis refluks adalah proses inflamasi pada esofagus akibat refluks gastroesofagus.Toksisitas isi refluks, frekuensi, durasi episode refluks, dan resistensi esofagus terhadapisi refluks merupakan faktor yang berperan terhadap kejadian esofagitis. Gejala klinisesofagitis refluks tidak spesifik. Pada bayi sering terlihat muntah disertai gejala klinisiritabel, tidur tidak nyaman, menolak makan, dan gagal tumbuh, sedangkan pada anakyang lebih besar didapatkan keluhan heartburn dan nyeri epigastrium. Esofagitis tersebarsecara ‘patchy’ dan tidak merata sehingga ketelitian pemeriksaan sangat diperlukan.Secara makroskopis mukosa esofagus dapat terlihat hiperemis, erosi, atau ulkus, sedangkanpada patologi anatomi terlihat gambaran hiperplasia membran basal dengan papila yangmemanjang. Antagonis reseptor H2 dan inhibitor pompa proton (IPP) telah digunakansecara luas untuk terapi esofagitis. Efek jangka pendek, jangka panjang, dan pencegahanrelaps obat-obat tersebut memperlihatkan hasil yang memuaskan, walaupun beberapadata menunjukkan keunggulan IPP dibanding antagonis reseptor H2.
Rasio IgM/IgG Fase Akut Untuk Menentukan Infeksi Dengue Sekunder Bagus Ngurah Putu Arhana
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.2-8

Abstract

Latar belakang. Uji hemaglutinasi inhibisi (HI) memerlukan waktu relatif lama untukmenentukan infeksi dengue primer dan sekunder, karena memerlukan pemeriksaan serumpada fase akut dan konvalesen. Beberapa penelitian dengan menggunakan rasio IgM/IgG untuk menentukan infeksi primer dan sekunder menghasilkan rasio yang berbedabeda.Tujuan. Untuk mengetahui gambaran IgM dan IgG pada infeksi Dengue dan akurasirasio IgM/IgG secara Elisa pada fase akut untuk menentukan infeksi sekunder.Metoda. Dilakukan uji diagnostik pada sampel yang diambil secara berkesinambungan(consecutive sampling) pada 62 anak yang dicurigai menderita demam berdarah dengueantara Juli 2003 sampai dengan Juni 2004, dengan menggunakan rasio IgM/IgG secaraElisa pada fase akut. Uji Hambatan Hemaglutinasi sesuai dengan kriteria WHO sebagaibaku emas.Hasil. Dari 62 anak yang ikut dalam penelitian ini, ditemukan 48 anak dengan infeksisekunder dan 14 anak dengan infeksi primer. Kadar rerata IgG pada anak denganDBD baik syok maupun tidak lebih tinggi secara bermakna daripada demam dengue.Prevalensi infeksi sekunder adalah 77,4%. Cut off point paling baik dari rasio IgM/IgG sebagai prediktor infeksi sekunder adalah < 0,9 (sensitivitas 87,5%, spesifisitas92,9%, rasio kemungkinan 12,3). Prevalensi dari syok pada infeksi sekunder adalah16,7%. Cut off point paling baik dari rasio kadar IgG sebagai prediktor SSD padainfeksi sekunder adalah > 165,0 U/mL (sensitivitas 87,5%, spesifisitas 97,5%, rasiokemungkinan 35,0).Kesimpulan. Kadar rerata IgG pada DBD nonsyok dan DBD syok secara bermaknalebih tinggi daripada demam dengue. Rasio IgM/IgG < 0,9 dapat dipakai sebagaiprediktor infeksi sekunder dan kadar IgG > 165,0 U/mL dapat dipakai sebagai prediktorterjadinya syok pada infeksi sekunder.
Penggunaan Kortikosteroid Intranasal Dalam Tata Laksana Rinitis Alergi pada Anak Benry P. Simbolon; Sjabaroeddin Sjabaroeddin; Lily Irsa
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.619 KB) | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.54-9

Abstract

Akhir-akhir ini terdapat peningkatan prevalensi kasus rinitis alergi pada anak. Penyakitini tidak hanya mengganggu kesehatan fisik dan psikososial, kualitas hidup, kapasitasbelajar dan bekerja anak, tetapi juga berperan terhadap timbulnya penyakit lain sepertiasma, sinusitis, dan otitis media. Tata laksana rinitis alergi meliputi pengendalianlingkungan untuk menghindari alergen, pemberian obat-obatan seperti antihistamin,dekongestan, dan kortikosteroid, serta imunoterapi. Pemberian kortikosteroid intranasalmerupakan indikasi bagi penderita rinitis alergi intermiten sedang-berat dan rinitis alergipersisten. Efek anti inflamasi dari obat ini diperantarai oleh pengaturan ekspresi gentarget spesifik. Kortikosteroid intranasal sangat efektif dalam menghilangkan gejala rinitisalergi. Obat ini dapat diberikan dalam bentuk semprot aqua dan inhaler dengan dosisterukur. Pemberian obat ini jarang menimbulkan efek samping sistemik, namun jikadiberikan bersamaan dengan kortikosteroid topikal lainnya, harus dilakukan titrasi sampaidosis paling rendah yang dapat mengontrol penyakit.
Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) Anak Meita Dhamayanti
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.9-15

Abstract

Latar belakang. Masalah perkembangan anak seperti gangguan berbahasa, perilaku,autisme, saat ini makin meningkat dan sebagai upaya untuk menurunkan angkakejadiannya diperlukan deteksi dini. Skrining merupakan cara deteksi dini yang efektif,namun hal ini masih jarang dilakukan oleh dokter mungkin karena keterbatasan waktudan biaya.Tujuan. Untuk mengetahui efektivitas KPSP sebagai alat praskrining perkembangananak.Metoda. Merupakan penelitian cross sectional yang dilakukan pada Desember 2003sampai Februari 2004 terhadap orang tua yang mempunyai anak umur 15-18 bulan didaerah kumuh wilayah kerja Puskesmas Padasuka, Kiaracondong dan Garuda KotaBandung. Kuesioner yang digunakan adalah KPSP dan Denver II, yang dilakukan olehtenaga terlatih.Hasil. Diantara 494 anak, diduga mengalami gangguan perkembangan 73 anak (15%)menurut KPSP dan 57 anak (12%) menurut Denver II. Sensitivitas dan spesifisitasKPSP masing-masing 60% dan 92%.Kesimpulan. Penggunaan KPSP dapat menimbulkan underdetection. Sebaiknyadilakukan revisi terhadap KPSP yang disesuaikan dengan Parent DevelopmentalQuestions (PDQ) II yang merupakan pengembangan Denver II. Penelitian sebaiknyadilakukan tidak hanya di daerah kumuh.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue