cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Infeksi Tuberkulosis Laten pada Anak: Diagnosis dan Tatalaksana Nastiti Kaswandani; Madeleine Ramdhani Jasin; Gufron Nugroho
Sari Pediatri Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.2.2022.134-40

Abstract

Infeksi laten tuberkulosis (ILTB) adalah keadaan respons imun persisten terhadap antigen Mycobacterium tuberculosis tanpa bukti manifestasi klinis tuberkulosis aktif. Anak-anak lebih mudah terinfeksi dan menjadi penderita tuberkulosis (TB) aktif dibandingkan orang dewasa setelah kontak erat dengan pasien TB aktif. Masa inkubasi TB bervariasi selama 2-12 minggu, biasanya 4-8 minggu. Investigasi kontak dan penegakan diagnosis ILTB harus dilakukan pada anak yang memiliki risiko tinggi terinfeksi, yaitu memiliki kontak erat dengan penderita TB aktif, dengan HIV, serta dengan kondisi imunokompromais lainnya. Pengobatan pencegahan ILTB bertujuan mencegah anak yang terinfeksi M.tuberculosis berkembang menjadi tuberkulosis aktif. Pedoman WHO yang kemudian diadopsi oleh Petunjuk Teknis Penanganan Infeksi Laten Tuberkulosis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2020 memberikan rekomendasi pemberian terapi pencegahan tuberkulosis yang terdiri dari beberapa pilihan obat dan durasi pemberian, antara lain isoniazid selama 6 bulan, isoniazid – rifampisin selama 3 bulan, isoniazid -  rifapentin sekali sepekan dalam 3 bulan, atau rifampisin selama 4 bulan. Diagnosis dini dan pemberian terapi pencegahan yang cepat penting untuk menurunkan kejadian TB aktif sehingga visi pemberantasan TB dunia pada tahun 2050 bisa tercapai.
Peran Kadar Bilirubin Umbilikal sebagai Prediktor Hiperbilirubinemia pada Neonatus Vita Pramatasari Harti; Yulidar Hafidh; Evi Rokhayati
Sari Pediatri Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.2.2022.119-26

Abstract

Latar belakang. Kadar puncak bilirubin terjadi pada 72 hingga 96 jam setelah bayi baru lahir. Hiperbilirubinemia pada neonatus dapat berdampak serius jika tidak ditangani dengan tepat. Untuk menghindari dampak serius dari hiperbilirubinemia, dibutuhkan pemeriksaan yang dapat memprediksi hiperbilirubinemia pada neonatus.Tujuan. Mengetahui nilai prediksi kadar bilirubin umbilikal terhadap kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus. Metode. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan kohort prospektif. Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling pada bayi baru lahir di RSUD Dr. Moewardi pada bulan Januari 2021 – Juni 2021. Data dianalisis menggunakan uji chi square dan uji Mann Whitney, tingkat kemaknaan hasil uji ditentukan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Dari 30 subyek neonatus, didapatkan 10 neonatus dengan hiperbilirubinemia dan 20 neonatus tanpa hiperbilirubinemia. Kadar bilirubin umbilikal pada neonatus dengan hiperbilirubinemia (7,22+7,06 mg/dL) lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan neonatus tanpa hiperbilirubinemia (3,33+1,82 mg/dL) (p=0,003). Nilai cut off bilirubin umbilikal untuk hiperbilirubinemia adalah >3,78 mg/dL dengan sensitivitas 90%, spesifisitas 80%, dan risiko relatif (RR) 11,769; (IK 95% 1,699- 81,545).Kesimpulan. Kadar bilirubin umbilikal dapat digunakan sebagai prediktor hiperbilirubinemia dengan nilai cut off untuk hiperbilirubinemia adalah >3,78 mg/dL.
Karakteristik Pasien Anak dengan Infeksi Dengue yang Dirawat Inap pada Satu Tahun Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 Qurota Ayuni; Djatnika Setiabudi; Elsa Pudji Setiawati
Sari Pediatri Vol 24, No 3 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.3.2022.173-80

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue memiliki manifestasi klinis yang bervariasi dan jika tidak ditangani secara cepat dan tepat dapat menyebabkan kematian. Pandemi Covid-19 juga menjadi tantangan baru dalam kasus infeksi dengue karena adanya pembatasan mobilisasi masyarakat ke rumah sakit. Mengetahui karakteristik pasien anak dengan infeksi dengue merupakan hal penting sebagai data dasar untuk penelitian selanjutnya.Tujuan. Untuk mengetahui gambaran karakteristik klinis pasien anak dengan infeksi dengue berdasarkan usia, jenis kelamin, status gizi, riwayat orang terdekat, diagnosis, lama rawat inap, dan kondisi saat pulang dari rumah sakit pada saat satu tahun sebelum dan saat pandemi Covid-19.Metode. Studi deskriptif dengan pendekatan potong lintang untuk melihat karakteristik pasien anak dengan infeksi dengue pada satu tahun sebelum dan saat pandemi Covid-19. Hasil. Terdapat 200 pasien sebelum pandemi. Saat pandemi, jumlah pasien turun hingga lima kali lipat (41). Usia pasien banyak ditemukan pada rentang 5-11 tahun, 36% sebelum pandemi dan 34,1% saat pandemi. Sebelum pandemi, pasien laki-laki mendominasi sebanyak 50,5%. Saat pandemi, perempuan mendominasi dengan jumlah 56,1%. Status gizi pasien yang banyak ditemukan bergizi baik, 68% sebelum pandemi dan 53,7% saat pandemi. Diagnosis demam dengue dominan sebelum pandemi (54,5%) dan saat pandemi (43,9%). Ditemukan lebih banyak pasien yang tidak memiliki riwayat orang terdekat mengalami penyakit serupa. Lama rawat inap pasien = paling banyak ditemukan pada rentang 4-7 hari. Pasien dengan kondisi pulang perbaikan mendominasi dalam penelitian ini.Kesimpulan. Infeksi dengue paling sering terjadi pada usia 5-11 tahun dengan jumlah pasien perempuan dan laki-laki hampir sama. Sebagian besar pasien berstatus gizi baik dan tidak memiliki riwayat orang terdekat yang mengalami penyakit serupa. Pada sebelum dan saat pandemi, demam dengue menjadi diagnosis paling banyak. Lama rawat inap paling banyak ditemukan pada rentang 4-7 hari. Keadaan pasien saat pulang terbanyak adalah perbaikan.
Hubungan Berat Lahir dan Faktor Perinatal terhadap Kejadian Leukemia pada Anak Fajar Yuniftiadi; Bambang Sudarmanto; M. Heru M. Muryawan
Sari Pediatri Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.2.2022.69-74

Abstract

Latar belakang. Etiologi definitif penyebab kanker pada anak masih belum jelas dan bersifat multifaktorial. Berat bayi lahir lebih dikaitkan dengan risiko terjadinya leukemia pada anak. Hal ini disebabkan karena tingginya hormon pertumbuhan pada bayi besar yang mempunyai efek onkogenik pada perkembangan sistem imun tubuhnya sehingga meningkatkan risiko dari progresifitas terjadinya leukemia. Tujuan. Menganalisis hubungan berat lahir dan faktor perinatal terhadap kejadian leukemia pada anak.Metode. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2018 hingga bulan Juni 2019 dengan desain case control pada pasien hemato-onkologi anak di RSUP dr. Kariadi Semarang. Data berat lahir dan faktor risiko perinatal dianalisis menggunakan uji Mann Whitney dan chi square untuk melihat hubungan berat lahir dan faktor perinatal antara anak penderita leukemia akut dengan anak yang tidak menderita leukemia. Nilai p dianggap bermakna apabila p< 0,05.Hasil, Penelitian ini terdiri dari 184 pasien, 90 (48,91%) adalah kelompok subjek yang menderita leukemia, dan 94 (51,,09%) adalah kelompok kontrol yang tidak menderita leukemia, Sebanyak 79 (87,7%) subjek menderita acute lymphoblastic leukemia, 7 (7,8%) subjek menderita acute myeloblastic leukemia dan 4 (4,.4%) subjek menderita chronic myeloblastic leukemia. Didapatkan nilai p 0,151 (p>0.05) dari hubungan berat lahir dan kejadian leukemia, nilai p=0,861 (p>0,05) dari hubungan usia ibu saat hamil terhadap kejadian leukemia dan nilai p=0,543 (p>0,05) dari hubungan jenis persalinan dengan kejadian leukemia.Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara berat lahir, usia ibu saat hamil dan jenis persalinan terhadap kejadian leukemia pada anak di RSUP dr. Kariadi.
Hubungan Kadar Resistin dengan C-Reactive Protein dan Prokalsitonin pada Anak dengan Sepsis Dwi Andriyani; Dzulfikar Djalil Lukmanul Hakim; Anggraini Alam
Sari Pediatri Vol 24, No 3 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.3.2022.196-202

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada layanan kesehatan anak di seluruh dunia. Resistin merupakan salah satu hormon peptida yang berpotensi sebagai penanda dalam sepsis didasari dari aktivitas resistin dalam sekresi mediator inflamasi. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menilai korelasi kadar resistin dengan CRP dan PCT pada anak yang terdiagnosis sepsis.Metode. Penelitian cross-sectional dilakukan pada pasien anak berusia usia >1 bulan – 18 tahun yang dirawat di RSHS periode September – Desember 2021. Data yang diambil berupa karakteristik dasar, kadar resistin, CRP, dan PCT. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman dan analisis multivariat regresi linier.Hasil. Sebanyak 60 pasien yang terdiri atas 31 (51,7%) perempuan dan 29 (48,3%) laki-laki. Sebagian besar usia berada pada rentang 1-6 tahun (53,3%), dengan median usia sebesar 5,5 tahun dengan IQR sebesar 8,9 tahun. Status gizi pada riset ini sebagian besar normal sebanyak 25 anak (41,7%) dan malnutrisi berat sebanyak 15 (25,0%). Hasil analisis bivariat terdapat korelasi positif lemah antara resistin dengan CRP (r=0,225; p=0,042), tidak terdapat korelasi resitin dengan PCT (r=0,114; p=0,193), serta terdapat korelasi positif sedang antara CRP dengan PCT (r=0,442; p<0,001).Kesimpulan. Penggunaan resistin sebagai penanda sepsis pada anak-anak harus dikonfirmasi lebih lanjut dengan penelitian lain.
Perbandingan Terapi Tunggal Kortikosteroid Intravena dengan Kombinasi Imunoglobulin dan Kortikosteroid Intravena pada Pasien Multisystem Inflammatory Syndrome in Children Yogi Prawira; Nicodemus Suwandy
Sari Pediatri Vol 24, No 3 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.3.2022.203-9

Abstract

Latar belakang. Tata laksana MIS-C saat ini menggunakan imunoglobulin intravena (IVIG) dan kortikosteroid intravena sebagai dua pilar terapi utama. Mekipun demikian, belum terdapat bukti sahih berupa uji klinis acak terkendali mengenai efektivitas terapi kombinasi tersebut. Klinisi di negara berkembang juga menemui kendala ketersediaan IVIG dan harga yang relatif mahal. Tujuan. Membandingkan efektivitas terapi kombinasi IVIG-kortikosteroid dengan kortikosteroid saja pada kasus MIS-C.Metode. Penelusuran literatur dilakukan melalui Pubmed, ScienceDirect, EBSCO, Elsevier, dan Google Scholar. Kombinasi kata kunci yang digunakan meliputi MIS-C, guidlines treatment for MIS-C, treatment in MIS-C, IVIG and steroid in MIS-C.Hasil. Didapatkan empat studi yang relevan, 1 laporan kasus, 2 studi kohort, 1 studi observasional yang mendukung bahwa penggunaan kortikosteroid menghasilkan luaran yang sama baiknya dengan pemberian terapi kombinasi IVIG-kortikosteroid dalam tata laksana MIS-C.Kesimpulan. Penggunaan kortikosteroid intravena sebagai terapi tunggal lini pertama pasien dengan MIS-C dapat dipertimbangkan karena menghasilkan luaran yang sama baiknya dengan pemberian kombinasi IVIG dan metilprednisolon.
Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Bidan Terkait Deteksi Dini dan Tata laksana Gagal Tumbuh pada Bayi Air Susu Ibu Eksklusif Aylicia Aylicia; Ellen Wijaya
Sari Pediatri Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.2.2022.75-82

Abstract

Latar belakang. Gagal tumbuh (growth faltering) ditandai dengan perlambatan laju pertumbuhan karena ketidakseimbangan antara asupan energi dengan kebutuhan biologis untuk pertumbuhan. Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan lini pertama untuk menemukan kejadian gagal tumbuh sejak dini.Tujuan. Mengetahui pengaruh pengayaan materi terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku bidan dalam deteksi dini dan tata laksana gagal tumbuh pada bayi.Metode. Duapuluh pertanyaan berupa kuesioner diuji validitas dan reliabilitas . Kuesioner yang valid dibagikan kepada bidan yang bekerja di puskesmas wilayah Samarinda dalam studi eksperimental crossover selama bulan Juni-Oktober 2021 sebelum dan sesudah pengayaan materi. Pengetahuan dinilai melalui kuesioner, sedangkan sikap dan perilaku dinilai melalui pencatatan penimbangan dan keterangan dalam data buku kohort bayi yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu bayi cukup bulan, berat badan lahir normal, diberikan asi eksklusif, dan usia kronologis kurang dari enam bulan. Data dianalisis dengan SPSS 22.Hasil. Terdapat 13 dari 20 pertanyaan kuesioner yang memenuhi nilai r >0,3783. Terdapat 18 bidan dibagi dalam dua kelompok. Terdapat peningkatan rerata nilai kuesioner sebesar 3,22±1,72 (IK95% 1,90-4,54) dan 2,89±1,05 (IK 95% 2,08-3,70). Keduanya menunjukkan peningkatan bermakna pada uji T berpasangan setelah dilakukan intervensi pengayaan materi. Pada hasil ketepatan tata laksana yang dinilai dari 543 data bayi yang memenuhi kriteria inklusi, diperoleh perbedaan bermakna antara kelompok A dan B pada pengambilan data kedua (sebelum crossover) dengan p=0,002. Terdapat 77/138 (55,8%) bayi dengan gagal tumbuh yang berhasil mengalami peningkatan berat badan signifikan setelah penelitian selesai dilakukan. Namun, 36/138 (26,1%) bayi tetap memiliki status gagal tumbuh sampai penelitian selesai.Kesimpulan. Pengetahuan, sikap, dan perilaku bidan berpengaruh terhadap deteksi dini dan tata laksana gagal tumbuh pada bayi ASI eksklusif. Pentingnya materi pengayaan terkait gagal tumbuh yang berfokus pada upaya tata laksana serta penanganan kendala yang ditemukan dalam praktik sehari-hari untuk menurunkan angka kejadian bayi dengan gagal tumbuh.
Profil Klinis dan Luaran Pasien Anak dengan Covid-19 yang Dirawat di Ruang Isolasi Rumah Sakit Umum Daerah Balaraja Selama Gelombang Ketiga Angelina Angelina; Shanaz Novriandina; Arfianti Chandra Dewi
Sari Pediatri Vol 24, No 3 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.3.2022.141-50

Abstract

Latar belakang. Terdapat peningkatan kasus Covid-19 dan angka rawat inap anak selama gelombang pandemi ketiga di Indonesia, Januari sampai April 2022. Banyak hal baru muncul terkait Covid-19 pada anak, tetapi data dan penelitiannya masih terbatas.Tujuan. Mengetahui profil klinis dan luaran pasien anak yang dirawat inap dengan Covid-19 selama gelombang ketiga.Metode. Penelitian observasional deskriptif menggunakan data rekam medis dari pasien anak berusia 0-18 tahun terkonfirmasi Covid-19 dengan tes PCR SARS-CoV-2 di ruang isolasi Covid-19 RSUD Balaraja selama bulan Februari - April 2022. Hasil. Terdapat 23 pasien, terbanyak (43,5%) berusia 1-5 tahun. Gejala tersering adalah demam <3 hari (78,3%), gejala respiratori (69,6%), gastrointestinal (69,6%), neurologis (52,2%). Diagnosis kerja terbanyak adalah status epileptikus dan kejang demam (34,8%), diare dan vomitus dengan dehidrasi (26,1%). Satu orang meninggal dan rerata lama rawat 6,3+4 hari. Pasien dengan CRP positif lebih banyak yang dirawat lama. Rerata leukosit dan trombosit pada pasien yang dirawat lama adalah 20.940,0+18.197,9/µL dan 477.400+230.402,5/µL.Kesimpulan. Gejala klinis bervariasi, umumnya lebih dari satu sistem organ. Diagnosis kerja terbanyak berhubungan dengan masalah neurologis. Secara umum luaran pasien baik, pasien dengan gejala respiratori dan CRP positif lebih banyak yang dirawat lama dengan nilai leukosit dan trombosit lebih tinggi.
Hubungan Pola Asuh Nutrisi dengan Kejadian Stunting Sebuah Tinjauan Systematic Review Kurniasari Armayana Ahmad; Lisa Safira; Tri Faranita
Sari Pediatri Vol 24, No 2 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.2.2022.91-8

Abstract

Latar belakang. Stunting merupakan keadaan hasil pengukuran tinggi badan anak <-2 z-score atau di bawah median standar pertumbuhan tinggi badan terhadap umur WHO. Prevalensi stunting cukup tinggi di Indonesia. Faktor yang penyebab balita stunting salah satunya yaitu kurangnya asupan gizi pada anak yang sangat bergantung pada pola asuh nutrisi orang tua. Tujuan. Melihat hubungan antara pola asuh nutrisi dengan kejadian stunting sehingga orang tua terutama ibu dapat mengetahui pentingnya menjaga pola asuh nutrisi agar asupan gizi anak terpenuhi. Metode. Systematic review dilakukan dengan pencarian jurnal pada bulan Januari hingga April 2021. Pencarian dilakukan pada basis data PubMed, Google Scholar, dan Science Direct menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses Protocols (PRISMA-P). Hasil. Data didapatkan sebanyak 10 jurnal dengan hasil 9 jurnal memiliki hubungan signifikan antara pola asuh nutrisi dengan kejadian stunting dengan nilai p<0,005, dan satu jurnal tidak memiliki hubungan signifikan dengan nilai p 0,30. Kesimpulan. Terdapat hubungan antara pola asuh nutrisi dengan kejadian stunting. Anak yang mendapat pola asuh nutrisi yang buruk lebih beresiko mengalami stunting dibandingkan anak yang mendapat pola asuh nutrisi yang baik. Pola asuh nutrisi yang buruk dapat menyebabkan asupan nutrisi anak tidak terpenuhi sehingga menghambat pertumbuhan anak.
Pengaruh Pemberian Probiotik Terhadap Integritas Usus pada Obesitas: Uji Coba pada Tikus Sprague Dawley Mira Mariana Ulfah; Ninung Rose Diana Kusumawati
Sari Pediatri Vol 24, No 3 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.3.2022.157-64

Abstract

Latar belakang. Obesitas berhubungan dengan perubahan komposisi mikrobiota usus yang dapat mengganggu integritas usus. Protein pengikat tight junction, occludin, ekspresinya berkurang saat integritas usus terganggu. Probiotik dilaporkan dapat memperbaiki ekspresi occludin dengan cara modulasi mikrobiota usus. Tujuan. Membuktikan adanya pengaruh pemberian probiotik terhadap integritas usus melalui peningkatan ekspresi occludin pada obesitas. Metode. Tiga puluh ekor tikus Sprague Dawley jantan dibagi tiga kelompok dan diberi diet berbeda, yaitu kelompok chow diet selama 8 minggu (Kn), kelompok high fat high fructose diet (HFHFr) selama 12 minggu (Kp), dan kelompok HFHFr selama 12 minggu dilanjutkan dengan pemberian probiotik (Lactobacillus acidophilus, Bifidobacterium longum, dan Streptococcus thermophiles) selama 8 minggu (P). Setelah selesai masa perlakuan, setiap kelompok dilakukan pemeriksaan imunohistokimia dari potongan jaringan ileum yang diwarnai occludin lalu gambar difoto menggunakan system VS120-S5. Skoring ekspresi occludin menggunakan indeks skala Remmele, Immuno Reactive Score, yaitu perkalian skor persentase sel immunoreaktif dengan skor intensitas warna sel immunoreaktif. Uji normalitas distribusi data menggunakan uji Saphiro Wilk, kemudian uji beda ekspresi occludin pada ketiga kelompok dengan uji One Way Anova, perbedaan bermakna apabila nilai p<0,05.Hasil. Ekspresi occludin dari yang paling rendah secara berurutan sebagai berikut: Kp (3,64+1,29); P (3,95+1,40); dan Kn (4,71+1,66). Tidak terdapat perbedaan ekspresi occludin yang bermakna pada ketiga kelompok tikus (p=0,261). Kesimpulan. Pemberian probiotik tidak memberikan pengaruh terhadap integritas usus melalui peningkatan ekspresi occludin pada obesitas.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue