cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Karakteristik Hasil Pemeriksaan Endoskopi Saluran Pencernaan dan Temuan Patologi Anatomi pada Anak dengan Nyeri Perut Berulang di Rumah Sakit Kandou Lingas, Linda; Manoppo, Jeanette I. Ch.; Warouw, Sarah M.
Sari Pediatri Vol 27, No 4 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.4.2025.224-30

Abstract

Latar belakang. Nyeri Perut Berulang (RAP) pada anak adalah keluhan pediatri umum yang memengaruhi kualitas hidup anak dan keluarganya. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi temuan diagnostik dari esophagogastroduodenoscopy (EGD), kolonoskopi, dan penilaian patologi anatomi (PA) pada anak dengan RAP. Metode. Penelitian deskriptif retrospektif dilakukan pada 95 anak berusia 5-18 tahun dengan RAP sesuai Kriteria ROME IV yang menjalani endoskopi di RSUP Kandou Manado dari Januari 2023 hingga Juni 2024. Data usia, jenis kelamin, status gizi, hasil endoskopi, dan patologi dianalisis. Hasil. Dari 95 anak, 67 menjalani EGD dan 28 menjalani kolonoskopi. Median usia pasien dalam penelitian adalah 15 tahun dengan IQR 13-16 tahun. RAP lebih sering terjadi pada perempuan (81,1%). Sebagian besar pasien memiliki berat badan normal (57,9%), diikuti obesitas/kelebihan berat badan (17,9%), dan gizi kurang (8,4%). Temuan EGD berupa gastritis (71,6%) dan esofagitis (9%), sedangkan kolonoskopi mengidentifikasi hiperplasia nodular multipel di ileum terminal (64,3%). Gastritis (85,3%) dan ileitis (40,0%) mendominasil hasil penillaian Patologi Anatomi. Mual dan muntah berhubungan signifikan dengan diagnosis gastritis (p=0,002; p=0,003) sedangkan perdarahan saluran cerna berhubungan signifikan dengan diagnosis hiperplasia dan ileitis (p<0,001). Kesimpulan. Pada anak RAP yang menjalani endoskopi, gastritis dan multiple nodular hyperplasia merupakan temuan tersering, menunjukkan bahwa endoskopi dapat membantu mengidentifikasi penyebab organik pada kelompok terpilih ini.
Tuberkulosis Perinatal: Tinjauan Komprehensif Penyakit yang Sering Dilupakan Jasin, Madeleine Ramdhani; The, Valensia Vivian; Priestley, Fuka; Sjahrullah, Muhammad Azharry Rully
Sari Pediatri Vol 27, No 4 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.4.2025.275-82

Abstract

Tuberkulosis (TB) perinatal merupakan kasus yang jarang dijumpai, tetapi hingga saat ini masih menjadi masalah terutama di daerah endemis. Kondisi ini memiliki spektrum dan gejala klinis yang beragam dari asimptomatik hingga distres napas berat. Penegakan diagnosis yang seringkali terlambat membuat angka mortalitas TB perinatal tinggi. Pemeriksaan histopatologis maupun bakteriologis termasuk dari plasenta penting untuk dilakukan. Tata laksana meliputi terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) bila bayi lahir tanpa gejala, dan terapi dengan obat antituberkulosis (OAT) bila bayi terdiagnosis sebagai TB kongenital atau TB neonatal. Pengetahuan mengenai TB perinatal yang menyeluruh dapat membantu menurunkan angka kematian neonatus.
Hubungan Tebal Lipatan Kulit dan Aktivitas Penyakit pada Anak dengan Lupus Eritematosus Sistemik Arum, Wuryan Dewi Miftahtyas; Kawuryan, Diah Lintang; Martuti, Sri
Sari Pediatri Vol 27, No 4 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.4.2025.259-65

Abstract

Latar belakang. Aktivitas penyakit lupus eritematosus sistemik dapat dipengaruhi oleh kegemukan atau obesitas. Adipositas yang tinggi meningkatkan respon inflamasi. Tebal lipatan kulit merupakan indikator antropometri sederhana yang dapat menilai adipositas.Tujuan. Menganalisis hubungan tebal lipatan kulit dan aktivitas penyakit lupus eritematosus sistemik.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada 30 anak berusia 6-18 tahun dengan diagnosis lupus eritematosus sistemik di poliklinik anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi pada bulan April - September 2024. Analisis menggunakan SPSS 25. Nilai p<0,05 dianggap signifikan secara statistik.Hasil. Kejadian obesitas pada anak dengan LES sebesar 26,7%. Analisis multivariat menunjukkan anak dengan TLK menurut usia >p85 berisiko 11,3 kali lebih besar memiliki penyakit LES yang aktif (IK=1,37-93,06; p=0,024). Tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin, lama terapi, dosis steroid, kepatuhan minum obat, dan paparan sinar matahari dengan aktivitas penyakit pada LES.Kesimpulan. Tebal lipatan kulit berhubungan dengan aktivitas penyakit pada anak dengan LES.
Perubahan Status Gizi pada Anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut Selama Kemoterapi: Studi Observasional Retrospektif Anggreini, Marnellya Sylvia; Pambudi, Bobby; Rompies, Ronald; Gunawan, Stefanus
Sari Pediatri Vol 27, No 4 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.4.2025.240-6

Abstract

Latar belakang. Malnutrisi sering terjadi pada pasien kanker anak dan telah diketahui sebagai faktor risiko kekambuhan dan kelangsungan hidup. Mempertahankan status gizi yang tepat dianggap sebagai persyaratan tambahan untuk hasil terapi yang optimal. Oleh karena itu, perlu untuk mencatat status gizi dan memberikan intervensi dini untuk hasil yang lebih baik dari pasien leukemia anak terutama di Indonesia. Tujuan. Menilai status gizi dan perubahannya pada anak dengan leukemia limfoblastik akut pada titik waktu tertentu selama menjalani kemoterapi. Metode. Kami melakukan penelitian retrospektif pada pasien leukemia limfoblastik akut di Rumah Sakit Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dari Januari 2022 hingga Desember 2023, dengan mengumpulkan data epidemiologi dan antropometri dari catatan medis pada empat waktu: saat diagnosis, di tengah kemoterapi intensif, di akhir kemoterapi intensif, dan di tengah terapi pemeliharaan.Hasil. Tiga puluh tujuh pasien diteliti, dengan mayoritas (64,9% laki-laki, median 7 tahun, 67,6% leukemia berisiko tinggi) memiliki berat badan normal saat awal kemoterapi. Persentase pasien kelebihan berat badan/obesitas meningkat dari 8,1% saat diagnosis menjadi 35% di akhir terapi intensif, dengan perbedaan signifikan pada berat badan terhadap tinggi badan (p<0,001). Selain itu, terjadi peningkatan signifikan pada berat badan dan indeks massa tubuh, serta retardasi pertumbuhan, terutama pada pasien leukemia berisiko tinggi (p=0,016).Kesimpulan. Anak-anak yang diobati untuk ALL memiliki risiko obesitas yang lebih tinggi dan secara bersamaan mengalami retardasi pertumbuhan. Intervensi nutrisi harus dilakukan pada semua pasien anak untuk mempertahankan status nutrisi yang tepat, menghindari konsekuensi negatif dari kelebihan gizi, meminimalkan gangguan pertumbuhan, dan mengoptimalkan hasil pengobatan dini.
Prediktor Respons Klinis Imunoterapi pada Anak Asma yang Mendapatkan Imunoterapi Anindita, Nadila; Triasih, Rina; Sumadiono, Sumadiono
Sari Pediatri Vol 27, No 4 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.4.2025.247-52

Abstract

Latar belakang. Asma pada anak memerlukan tata laksana jangka panjang. Imunoterapi merupakan terapi adjuvan yang bertujuan menginduksi toleransi imun. Identifikasi faktor prediktor respons imunoterapi penting untuk mencapai kontrol asma optimal.Tujuan. Mengetahui apakah jenis kelamin, usia, obesitas, paparan asap rokok, riwayat atopi keluarga, dan derajat keparahan asma merupakan prediktor respons klinis imunoterapi.Metode. Penelitian observasional analitik dengan desain kohort prospektif menggunakan data sekunder. Subjek adalah anak asma usia 4-18 tahun yang mendapat imunoterapi di RSUP Dr. Sardjito (Maret 2021–Januari 2022). Parameter dianalisis terhadap luaran Asthma Control Test (ACT). Analisis univariat dan multivariat dengan uji chi-square digunakan.Hasil. Dari 27 subjek, 66,7% berespons baik. Usia merupakan faktor prediktor independen untuk kontrol asma. Pasien usia lebih muda (4-<12 tahun) memiliki kemungkinan 5,9 kali lebih besar mengalami perbaikan klinis dibandingkan kelompok usia lebih tua (12-18 tahun) [RR=5,95; IK95% 1,96-36,87; p=0,002]. Faktor lain seperti jenis kelamin, obesitas, paparan asap rokok, riwayat atopi keluarga, dan derajat keparahan asma tidak menunjukkan hubungan signifikan.Kesimpulan. Usia lebih muda (4-<12 tahun) merupakan prediktor independen untuk kontrol asma yang lebih baik pada anak yang menjalani imunoterapi.
Analisis Pengaruh Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif Terhadap Angka Kejadian Perawakan Pendek pada Anak di Indonesia Ramadhany, Nurul Fajar; Nugroho, Hari Wahyu; Kawuryan, Diah Lintang
Sari Pediatri Vol 27, No 4 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.4.2025.253-8

Abstract

Latar belakang. Perawakan pendek merupakan suatu kondisi dimana panjang badan (PB) atau tinggi badan (TB)anak lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Ukuran ini diukur berdasarkan PB atau TB menurut usia lebih rendah dari minus dua standar deviasi (< -2SD) kurva pertumbuhan. Pemberian ASI eksklusif dapat melindungi anak dari kondisi perawakan pendek dan mencegah dampak jangka pendek maupun jangka panjang.Tujuan. Mengetahui pengaruh pemberian ASI eksklusif terhadap insidensi perawakan pendek pada anak di Indonesia.Metode. Studi potong lintang (cross sectional) dengan mengambil data dari Indonesian Family Life Survey 5.0 terhadap anak usia 1-5 tahun yang mendapatkan ASI eksklusif dan tidak mendapat ASI eksklusif, serta memiliki perawakan pendek pada bulan Desember 2022 hingga Maret 2023. Hasil analisis dideskripsikan dengan Odds Ratio dan dinyatakan signifikan jika nilai p<0,05.Hasil. ASI eksklusif berhubungan dengan kejadian perawakan pendek (OR 0,60; p=0,854; IK95% 0,51-0,72). Faktor lain yang memengaruhi perawakan pendek adalah usia (OR 0,80; p=0,047; IK95% 0,56-1,13), status gizi (OR 0,65; p=0,036; IK95% 0,32-1,30), dan jenis kelamin (OR 0,63; p=0,490; IK95% 0,52-0,76).Kesimpulan. ASI eksklusif berhubungan tidak langsung terhadap kejadian perawakan pendek sebab ASI eksklusif berperan sebagai faktor proteksi terhadap perawakan pendek. Subyek yang tidak mendapat ASI eksklusif memiliki risiko lebih besar untuk memiliki perawakan pendek dibandingkan subyek dengan pemberian ASI eksklusif.
Perbedaan Profil Klinis dan Lama Rawat Community-Acquired Pneumonia pada Anak Rawat Inap Berdasarkan Kelompok Usia: Sebuah Studi Cross-Sectional Garina, Lisa Adhia; Nurhayati, Eka; Purbaningsih, Wida
Sari Pediatri Vol 27, No 4 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.4.2025.231-9

Abstract

Latar belakang. Pneumonia merupakan penyakit menular penyebab utama rawat inap di seluruh dunia, dengan angka kesakitan dan kematian tinggi di Indonesia. Pneumonia memiliki gejala yang bervariasi dan tidak spesifik tergantung dengan faktor seperti etiologi, usia dan respon imun.Tujuan. Menganalisis perbedaan profil klinis, terapi, lama rawat, dan luaran pneumonia pada anak berdasarkan usia. Metode. Penelitian observasional dengan desain cross-sectional. Data pasien berdasarkan rekam medis di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung Tahun 2022 - 2023. Diagnosis CAP ditentukan SpA berdasarkan pemeriksaan dan penunjang. SpO2 diperiksa menggunakan pulse oksimetri. Penggolongan usia dikelompokan menjadi <1 tahun (bayi), ?1 tahun sampai dengan <5 tahun, dan ?5 tahun. Analisis bivariat dengan Uji Kruskal-Wallis dan Uji Kolmogorov-Smirnov menggunakan SPSS versi 25.Hasil. Dari 177 pasien pneumonia anak, 114 data memenuhi kriteria inklusi dengan sebagian besar laki-laki, di kelompok usia <1 tahun dan ?1 - <5 tahun (44,7% dan 50,9%), keluhan demam sebanyak 72,8%, sesak 89,5%, dan batuk 97,4%. Temuan klinis takipnea dan retraksi dada (25,4% dan 32,5%), sianosis 2,6%. Rerata lama demam 2±3 hari, rerata lama rawat 3±2 hari, dan hanya 1 pasien dengan luaran meninggal. Tidak terdapat perbedaan profil klinis dan pemberian jenis terapi antibiotik, tetapi terdapat perbedaan rerata lama rawat pada pasien pneumonia anak berdasarkan usia (p<0,001).Kesimpulan. Kelompok usia pasien pneumonia <1 tahun mendapatkan lama hari rawat yang lebih lama dibandingkan kelompok usia ?1 - <5 tahun dan ?5 tahun. Disfungsi imunitas pada bayi, serta perkembangan paru bayi yang belum sepenuhnya berkembang akan rentan terhadap invasi patogen eksternal.
Peran Skrining Tumbuh Kembang pada Anak Hemihipertrofi Maddeppungeng, Martira; Pongsibidang, Nancy; Astari, Merlyn Meta; Artati, Ratna Dewi
Sari Pediatri Vol 27, No 4 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.4.2025.266-74

Abstract

Latar belakang. Hemihipertrofi suatu kondisi klinis ditandai pertumbuhan tubuh asimetri yang dapat berdiri sendiri atau berkaitan dengan sindrom. Kelainan otak yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan. Pada umumnya penyebab hemihipertrofi belum jelas. Upaya diagnosis dini gangguan pertumbuhan dan perkembangan diharapkan dapat memberikan prognosis yang lebih baik.Tujuan. Mengetahui keterkaitan keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan pada anak hemihipertrofi. Metode. Penelusuran pustaka dilakukan secara ekstensif melalui beberapa pangkalan data, yaitu Pubmed, Semantic scholar, dan Google scholar dengan kata kunci “child” atau “children”, “hemihypertrophy” atau “hemihyperplasia” dan “development”. Hasil. Penelusuran literatur diperoleh 3 artikel yang terpilih kemudian dilakukan telaah kritis, yaitu studi potong lintang oleh Butti dkk pada tahun 2024 dan studi potong lintang berbeda oleh Butti dkk pada tahun 2022, serta studi kohort retrospektif oleh Romaris dkk pada 2022 dengan level of evidence 2b. Studi tersebut menunjukkan bahwa anak hemihipertrofi terutama dengan sindrom dapat memiliki keterlambatan perkembangan bahasa (p=0,007), sosial (p<0,001), motorik kasar (p=0,014) dan masalah perilaku internalisasi (p<0.001). Pertumbuhan prenatal anak-anak dengan hemihipertrofi normal, kecuali pada anak perempuan dengan hemihipertrofi komplek (p=0.022) yang cenderung meningkat.Kesimpulan. Pertumbuhan dan perkembangan anak pada umumnya normal. Keterlambatan perkembangan dapat terjadi pada anak hemihipertrofi yang berhubungan dengan sindrom atau disertai abnormalitas otak.
Pengaruh Edukasi Buklet Makanan Pendamping Air Susu Ibu Terhadap Pengetahuan Ibu dalam Pencegahan Weight Faltering di Puskesmas Alianyang Pontianak Harafat, Frezy Tarisha; Andriani, Rini; Effiana, Effiana
Sari Pediatri Vol 27, No 4 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.4.2025.217-23

Abstract

Latar belakang. Weight faltering merupakan suatu kondisi terjadinya kegagalan pertumbuhan pada bayi yang ditandai dengan berat badan yang tidak bertambah atau laju pertumbuhan yang melambat dibandingkan perkiraan normal untuk usia dan jenis kelaminnya. Kondisi ini merupakan tanda awal kekurangan gizi dan risiko stunting. Pengetahuan ibu yang kurang mengenai praktik Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat dapat mengakibatkan asupan nutrisi yang tidak adekuat, sehingga berkontribusi terhadap weight faltering. Intervensi edukasi melalui buklet MPASI diharapkan dapat meningkatkan pemahaman ibu tentang praktik pemberian MPASI yang tepat untuk mencegah weight faltering.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi edukasi menggunakan buklet menu MPASI terhadap pengetahuan ibu mengenai praktik pemberian MP-ASI yang benar sebagai bagian dari upaya pencegahan weight faltering pada anak.Metode. Penelitian kuantitatif dengan desain one group pre-test and post-test pada 62 responden. Analisis data menggunakan analisis bivariat dengan uji Paired Samples T-Test.Hasil. Responden memiliki tingkat pengetahuan kurang baik pada pre-test (56,45%, n=35) dan tingkat pengetahuan sedang pada post-test (64,52%, n= 40).Kesimpulan. Terdapat pengaruh yang signifikan antara edukasi buklet menu MPASI terhadap tingkat pengetahuan ibu mengenai praktik pemberian MPASI yang ditunjukkan dengan nilai p<0,001 pada uji statistik.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue