cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 10 (5) 2021" : 12 Documents clear
Penerapan Biosecurity Dapat Menekan Angka Kejadian Kesakitan dan Kematian pada Peternakan Babi di Gianyar, Bali Putra, I Made Maha; Agustina, Kadek Karang; Sukada, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.701

Abstract

Pengelolaan peternakan babi di Bali tidak lepas dari kendala yang dihadapi, salah satunya adalah menjangkitnya agen penyakit pada ternak babi. Dalam peternakan babi, Biosecurity merupakan aspek penting untuk mencegah penularan penyakit dalam peternakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penerapan biosecurity dan analisis faktor risiko kejadian babi sakit dan kematian babi pada peternakan babi di Kabupaten Gianyar. Sebanyak 40 peternak babi digunakan sebagai sampel. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan melakukan survey dan wawancara dengan peternak mengenai kejadian kesakitan dan kematian yang terjadi dalam bulan Maret sampai Agustus 2020. Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif, untuk membandingkan data antara peternakan yang menerapkan dan tidak menerapkan biosecurity dilakukan analisis uji Chi-Square secara statistik menggunakan Statistical Product and Service Solutions versi 25 for windows. Sementara untuk analisis faktor risiko digunakan uji Odd ratio. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa peternakan yang menerapkan biosecurity mengalami sembilan kejadian kesakitan dan delapan kejadian kematian babi, sedangkan pada peternakan babi yang tidak menerapkan biosecurity diperoleh 18 kejadian kesakitan dan 17 kejadian kematian pada peternakan babi. Faktor risiko kemunculan kejadian kesakitan dan kematian pada peternakan babi adalah lokasi kandang dekat dengan pemukiman, menggunakan pakan sisa, tidak menggunakan pakaian khusus kandang, tidak melakukan disinfeksi pada kandang, dan akses tidak terbatas. Simpulan dari penelitian ini adalah penerapan biosecurity dapat mengurangi angka kejadian kesakitan dan kematian pada peternakan babi.
Penurunan Bobot Badan dan Jantung yang Tidak Diikuti Pembesaran Miosit Otot Jantung Ayam Pedaging yang Diberikan Tepung Belatung Hermetia illucens Ginting, Regina Bonifasia Br; Berata, I Ketut; Sumadi, I Ketut; Setiasih, Ni Luh Eka; Sulabda, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.690

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung belatung black soldier fly (Hermatia illucens) dalam pakan komersial terhadap bobot badan, kemudian dilihat hubungan bobot badan dan jantung, serta gambaran histologi jantung ayam pedaging. Penelitian menggunakan 24 Day Old Chicken (DOC) berjenis kelamin jantan yang dibagi ke dalam empat perlakuan masing-masing dengan enam ulangan. Perlakuan diberikan pada kontrol (P0) yaitu diberikan pakan komersial tanpa tambahan tepung belatung BSF, sedangkan kelompok P1, P2 dan P3 masing-masing diberi pakan komersial yang ditambah tepung belatung BSF 1%, 2% dan 3%. Pakan dan air minum diberikan secara ad libitum. Perlakuan dilakukan dari umur 14 sampai 35 hari, selanjutnya dilakukan penimbangan bobot badan. Kemudian dinekropsi untuk mengambil organ jantung. Jantung ditimbang dan selanjutnya diproses untuk pembuatan sediaan histopatologi. Pembuatan sediaan histopatologi dilakukan dengan teknik pewarnaan hematoksilin eosin (HE). Peubah yang diukur adalah bobot badan dan jantung serta gambaran histopatologi jantung. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata bobot badan dan jantung masing-masing 2100,175 g dan 8,417. Hasil analisis data statistika menunjukkan bahwa penambahan tepung belatung BSF taraf 1%-3% pada pakan komersial berpengaruh nyata (P<0,05) dalam penurunan bobot badan ayam pedaging. Hubungan bobot badan dan bobot jantung diuji menggunakan regresi sederhana dengan nilai koefisiensi korelasi (R) sebesar 0,754 termasuk nilai korelasi kuat. Pemberian pakan tambahan tepung belatung taraf 1%, 2%, 3% maupun kontrol, tidak menyebabkan perubahan struktur histologi otot jantung ayam pedaging. Dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan tambahan tepung belatung pada ayam pedaging menyebabkan penurunan bobot badan dan tidak menyebabkan perubahan struktur histologi otot jantung. Terjadi korelasi kuat antara peningkatan bobot badan dengan bobot jantung ayam pedaging.
Pemunculan Pubertas Sapi Bali Dara Peliharaan Kelompok Ternak di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Hewan Sobangan, Mengwi, Badung, Bali Pridayanti, Ni Kadek Nila; Laksmi, Desak Nyoman Dewi Indira; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.758

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh manajemen pemeliharaan terhadap munculnya pubertas pada sapi bali dara pada beberapa kelompok ternak di wilayah kerja Puskeswan Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Penelitian ini menggunakan 75 ekor sapi bali dara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode survei menggunakan teknik sampling jenuh. Data manajemen pemeliharaan sapi bali dara dan munculnya pubertas diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap 51 orang peternak menggunakan kuesioner serta pengamatan secara langsung. Jenis data yang dikumpulkan adalah jenis data primer. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis deskriptif distribusi frekuensi kuantitatif dan dilanjutkan dengan hierarchical cluster dengan umur pubertas sebagai variabel dan manajemen pemeliharaan sebagai objek. Hasil yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel keanggotaan klaster dan grafik dendogram. Hasil penelitian menunjukkan munculnya pubertas pada sapi bali dara pada beberapa kelompok ternak di wilayah Puskeswan Sobangan adalah 21,61 ± 5,24 bulan dengan sebaran terbanyak pada umur 15-20 bulan sebanyak 45,33%. Berdasarkan analisis klaster diperoleh enam keanggotaan klaster dan keanggotaan klaster tidak dipengaruhi oleh manajemen pakan maupun manajemen kandang, hal ini dapat dilihat dari skor manajemen pakan dan manajemen kandang yang tersebar secara merata pada setiap keanggotaan klaster.
Hubungan Berat Badan dengan Berat Hati serta Gambaran Histologi Hati Broiler yang Diberikan Tepung Maggot Damara, Doni; Berata, I Ketut; Ardana, Ida Bagus Komang; Setiasih, Ni Luh Eka; Sulabda, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.714

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung maggot Black Soldier Fly (Hermetia illucens) sebagai pakan tambahan pada broiler (Gallus domesticus) terhadap berat badan, berat dan struktur histologi hati. Broiler yang digunakan sebanyak 24 ekor dibagi ke dalam empat kelompok perlakuan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) masing-masing P0=0%, P1=1%, P2=2% dan P3=3% tepung maggot dalam pakan. Penelitian dilakukan selama 21 hari, broiler berumur 14- 35 hari. Parameter yang diteliti meliputi berat badan, berat dan struktur histologi hati yang diambil pada akhir penelitian. Analisis data untuk berat badan dan berat hati dilakukan dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Untuk mengetahui hubungan antara keduanya dilakukan uii regresi. Analisis terhadap struktur histologi hati dilakukan dengan uji Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung maggot 1%, 2%, dan 3% menyebabkan berat badan dan berat hati broiler lebih rendah dibandingkan kontrol. Hasil uji regresi.menunjukkan terdapat hubungan yang kuat antara berat badan dengan berat hati. Pada pemeriksaan histologi hati menunjukkan terjadi degenerasi melemak pada hepatosit baik pada kelompok kontrol maupun perlakuan, serta tidak terjadi perbedaan nyata antara kelompok perlakuan. Dapat disimpulkan bahwa pemberian tepung maggot dalam pakan dapat menurunkan berat badan dan hati broiler. Ada hubungan kuat antara berat badan dengan berat hati. Tidak ada perbedaan gambaran histologi hati broiler antara perlakuan dengan kontrol.
Laporan Kasus: Ringbone pada Kuda Warmblood Sembiring, Messy Saputri; Widyastuti, Sri Kayati; Erawan, I Gusti Made Krisna; Rukisti, Eniza; Dumayanti, Jeanni
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.771

Abstract

Ringbone adalah pertumbuhan tulang abnormal yang terdapat pada os. phalanx proximal, os. phalanx media dan os. phalanx distal. Penyakit ini dapat menimbulkan ketimpangan, rasa sakit dan pembengkakan disekitar tulang phalanx. Hewan kasus adalah seekor kuda Warmblood bernama Wulinda, berumur 12 tahun, berjenis kelamin betina dan berwarna dark bay. Hewan kasus mengalami gangguan sistem muskuloskeletal berupa ketimpangan dan rasa nyeri pada kaki depan kiri. Pada pemeriksaan klinis ditemukan kelainan berupa krepitasi dan respon sakit pada area phalanx kaki depan kiri. Pemeriksaan hematologi lengkap menunjukkan leukopenia, anemia normositik hipokromik, penurunan prokalsitonin dan penurunan aktivitas trombosit, sedangkan pemeriksaan kimia darah terkait pertulangan menunjukkan hasil normal. Pada pemeriksaan rontgen ditemukan pertumbuhan tulang abnormal pada os. phalanx proximal dan os. phalanx media. Kuda kasus didiagnosa mengalami ringbone. Pengobatan dilakukan dengan zoledronic acid, gentamicin, dexamethasone, meloxicam, Hematodin®, Biodin®, Curcuma Plus® dan hydrotherapy. Sebulan setelah pengobatan, kuda kasus sembuh dari ketimpangan, sikap berdiri kembali normal dan kuda kembali dapat ditunggangi dengan baik.
Persentase Jeroan dan Lemak Abdomen terhadap Bobot Potong Broiler yang Diberi Tepung Maggot Hermetia illucens Saputri, Meidhea Reforma; Siswanto, Siswanto; Sumadi, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.725

Abstract

Belatung black soldier fly mengandung protein kasar cukup tinggi (37,31%) sehingga banyak digunakan sebagai sumber protein alternatif pada pakan ternak. Penelitian-penelitian sebelumnya membuktikan bahwa belatung dapat meningkatkan pertumbuhan ternak termasuk ayam pedaging. Namun demikian, tidak sedikit penelitian yang menyatakan hasil negatif dari pemberian belatung. Tujuan dilakukannya penelitian mengenai penambahan maggot ke dalam ransum komersial adalah untuk mengetahui pengaruh murni maggot terhadap bobot potong, persentase jeroan, dan persentase lemak abdomen broiler. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan empat perlakuan dan enam ulangan, sehingga total sampel adalah 24 ekor. Tepung belatung diberikan pada ayam pedaging berumur 14-35 hari dengan dosis adalah 0% (P0), 1% (P1), 2% (P2), dan 3% (P3). Peubah yang diamati meliputi bobot potong, persentase jeroan (ampela, hati, empedu, usus), dan persentase lemak abdomen terhadap bobot potong. Rata-rata bobot potong pada P0 sebesar 2.280,12 g, P1 sebesar 2.109,65 g, P2 sebesar 1.943,13 g, dan P3 2.067,80 g. Rata-rata jeroan pada P0 sebesar 5,03%, P1 sebesar 4,94%, P2 sebesar 5,09%, dan P3 sebesar 4,76%. Persentase lemak abdomen pada P0 sebesar 1,24%, P1 sebesar 1,50%, P2 sebesar 1,07%, dan P3 sebesar 1,16%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa bobot potong ayam pedaging yang diberikan tepung belatung dengan dosis 1%-3% menurun secara nyata, sedangkan persentase lemak abdomen meningkat pada P1, serta tidak berpengaruh nyata terhadap persentase jeroan. Sehingga penambahan tepung belatung tanpa pemrosesan dalam pakan komersial ayam pedaging tidak disarankan.
Nekrosis Limpa, Infiltrasi Sel Radang dan Hemoragi Jantung pada Ayam Kampung yang Diberikan Minyak Rajas secara Oral Nugraha, Gede Wiyasa Ardy; Sudira, I Wayan; Supartika, I Ketut Eli
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.735

Abstract

Minyak rajas digunakan oleh peternak ayam sebagai bahan peningkat produktivitas, khususnya pemacu pertumbuhan. Minyak rajas memiliki banyak zat aktif yang jika dikombinasikan belum diketahui efek negatif yang dihasilkan terhadap tubuh ayam kampung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian minyak rajas secara oral terhadap gambaran histopatologi limpa dan jantung ayam kampung. Sebanyak 24 ekor ayam kampung jantan berumur delapan minggu dengan bobot 500-800 g digunakan dalam penelitian ini. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancang acak lengkap. Hewan coba diambil secara acak dan dibagi menjadi empat perlakuan yaitu P0 (tanpa pemberian minyak rajas), P1 (0,1 mL/kgbb), P2 (0,2 mL/kgbb) dan P3 (0,4 mL/kgbb) dengan masing-masing perlakuan terdiri dari enam ekor ayam. Perlakuan sampel diawali dengan masa adaptasi satu minggu dengan pemberian pakan dan air minum ad libitum kepada semua perlakuan. Pada minggu ke-2 sampai minggu ke-4, ayam-ayam P1, P2 dan P3 diberi minyak rajas sesuai dosis, dicampur kedalam pakan dan diberikan secara oral, sedangkan kelompok P0 tidak. Pengambilan sampel organ limpa dan jantung dilakukan setelah ayam dikorbankan nyawanya dengan cara dislokasi os Vertebrae cervicalis guna pembuatan preparat histopatologi untuk melihat adanya hemoragi, infiltrasi sel radang, dan nekrosis. Pewarnaan yang digunakan adalah pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Berdasarkan hasil pengamatan histopatologi limpa, ditemukan nekrosis pada perlakuan P1(14,50) dan P3(14,50). Pada pengamatan histopatologi jantung, ditemukan infiltrasi sel radang pada perlakuan P0(15,83), P1(14,17) dan P3(12,50) serta adanya hemoragi pada perlakuan P0(12,83), P1(11,50), P2(14,17), dan P3(11,50). Simpulannya adalah minyak rajas tidak memberikan perubahan yang berarti terhadap gambaran histopatologi limpa dan jantung ayam kampung, dengan demikian aman digunakan.
Jarak Beranak Sapi Bali pada Kelompok-kelompok Ternak di Wilayah Kerja Pusat Kesehatan Hewan Sobangan, Mengwi, Badung, Bali juliantari, Ni Komang Ade; Laksmi, Desak Nyoman Dewi Indira; Bebas, Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.748

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jarak beranak (calving interval) pada sapi bali menurut tingkat paritas dan body condition score. Total sampel yang digunakan adalah sebanyak 62 sampel. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, mencari rata-rata calving interval dan dibedakan berdasarkan body condition score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beragam nilai calving interval. Jika dilihat dari body condition score 2, rata-rata 15,33 ± 0,94 bulan, 13 ± 1 bulan, 14 bulan, 15 bulan, hingga 16,5 ± 0,5 bulan, semakin tua sapi yang diternakkan maka semakin lama kemunculan estrus postpartum sehingga makin panjang juga periode calving intervalnya. Pada body condition score 3, rata-rata 12,91 ± 1,65 bulan, 12,87 ± 1,65 bulan, 12,5 ± 0,5 bulan, 13,25 ± 0,43 bulan, dan 14 bulan. Faktor penyebab panjangnya calving interval dapat dilihat dari segi ternak, peternak, maupun inseminator. Segi ternak yang mempengaruhi yaitu kesehatan ternak. Segi peternak yang mempengaruhi adalah deteksi birahi, pemeliharaan ternak, dan penyapihan yang dilakukan. Segi inseminator adalah prosedur pelaksanaan dan kualitas semen. Hal ini sangat penting karena jika sapi yang diternakkan mengalami faktor-faktor yang disebutkan maka akan mempengaruhi daripada nilai calving interval yang berakibat pada penurunan pendapatan peternak karena jumlah anak yang dihasilkan akan berkurang selama masa produktif.
Laporan Kasus: Penanganan Demodekosis General pada Anjing Kacang Sibarani, Oktryna Hodesi; Suartha, I Nyoman; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.794

Abstract

Demodekosis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh perkembangbiakan tungau Demodex sp. secara berlebihan. Demodekosis diklasifikasikan berdasarkan distribusi lesi yaitu demodekosis lokal dan demodekosis general/umum. Demodekosis terjadi pada hewan yang mengalami penurunan sistem imun, hewan tua, dan anak anjing yang berumur kurang dari satu tahun. Seekor anjing lokal berumur satu tahun dengan bobot badan 5,6 kg datang ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keadaan anjing tidak mau makan, lemas, dan kerontokan rambut pada wajah, sekitar mata, telinga, bagian punggung, serta pada bagian ekstremitas. Pada pemeriksaan fisik ditemukan eritema dan pustula pada bagian kaki belakang dan perut. Anjing menunjukkan rasa gatal. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan hewan kasus mengalami anemia dan peningkatan limfosit. Diagnosis demodekosis diteguhkan berdasarkan pemeriksaan kerokan yang dalam pada kulit ataudeep skin scraping ditemukan tungau Demodex sp. Prognosis anjing kasus adalah fausta. Anjing kasus diterapi dengan ivermectin (0,4 mg/kg BB) dan amitraz. Anjing kasus juga diobati dengan cefalexin (22 mg/kg BB, q12h) dan cyproheptadine HCl (1.5 mg/kg BB, dua kali seminggu) selama seminggu.
Laporan Kasus: Dermatofitosis oleh Microsporum spp., dan Curvularia spp., pada Anjing Pomeranian Kurniawati, Ni Made Ayu; Erawan, I Gusti Made Krisna; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (5) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.5.804

Abstract

Dermatofitosis merupakan infeksi jamur yang sering disebabkan oleh Microsporum canis, M. gypseum, dan Trichophyton mentagrophytes. Anjing dalam kasus ini merupakan anjing ras pomeranian jantan berusia lima tahun dengan bobot badan 6 kg. Anjing kasus menderita lesi kemerahan pada permukaan kulit, yang kemudian menjadi keropeng dan menyebar ke beberapa bagian tubuh secara multifokal. Anjing kasus sempat dibawa ke dokter hewan untuk pengobatan, namun lesi semakin parah dan obat sebelumnya tidak dapat dinilai. Pemeriksaan penunjang berupa tape skin test dilakukan untuk melihat agen penyebab penyakit. Sampel diambil dari lesi yang ada dipermukaan kulit, dan rambut hewan. Kapang Microsporum spp. dan Curvularia spp. ditemukan pada pemeriksaan tape skin test. Anjing diberikan pengobatan antijamur berupa itraconazole (5 mg/kg, q 24 jam) selama 28 hari dan cephalexin (15 mg/kg, q 12 jam) selama tujuh hari. Pengamatan pascaterapi menunjukkan keadaan hewan kasus kembali normal dengan pertumbuhan rambut yang bagus.

Page 1 of 2 | Total Record : 12