cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 2 (1) 2013" : 10 Documents clear
Alur Penyebaran Rabies di Kabupaten Tabanan Secara Kewilayahan (Spacial) Azis Nasution, Abdul; Batan, I Wayan; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (879.188 KB)

Abstract

Rabies menulari Bali pada akhir 2008 dan hingga Februari 2011 kasus rabies terus menyebar di Bali dan menyebabkan 122 orang meninggal dunia. Di Kabupaten Tabanan sendiri terdapat 18 kasus meninggal dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran rabies di Kabupaten Tabanan secara kewilayahan (spasial), sehingga dapat diketahui daerah yang tertular rabies. Data dikumpulkan dari berbagai instansi seperti Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dinas Peternakan Provinsi Bali, Dinas Kesehatan Kabupaten dan Dinas Peternakan Kabupaten Tabanan, Balai Besar Veteriner Denpasar. Data yang didapat kemudian disusun sedemikian rupa, ditabelkan dan selanjutnya dipetakan, sehingga ditemukan kasus rabies pertama dan bagaimana penyebaran rabies di Tabanan. Hewan Penular Rabies (HPR) di Tabanan yaitu Anjing, rabies pertama kali ditemukan di Desa Buahan (12 Agustus 2009), dan selanjutnya terus menyebar hingga menulari 13 desa di Kabupaten Tabanan. Penyebaran ini terjadi karena adanya campur tangan manusia dan penanganan rabies yang kurang tepat di daerah yang pertama tertular di Provinsi Bali. Rabies di tabanan telah menimbulkan 18 orang meninggal dunia, serta menulari 13 Desa.
Bioassay Toxoplasma Gondii pada Kucing manik, Agus manahan; made oka, Ida bagus; Dwinata, I made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.747 KB)

Abstract

Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii adalah parasit intraseluler dari golongan protozoa dan bersifat parasit obligat dengan hospes definitif adalah kucing dan family felidae lainnya, sedangkan hospes intermediernya adalah semua hewan berdarah panas seperti ayam, sapi, kambing, babi, domba dan belakangan ini diketahui dapat menginfeksi burung, rodensia, ikan paus dan juga bisa menginfeksi manusia. Kebanyakan kasus Toxoplasmosis disebabkan karena mengkonsumsi daging yang mengandung kista (berisi bradizoit), takizoit (bentuk proliferatif) yang proses pemasakannya kurang sempurna atau daging mentah. Selain itu kontak langsung dengan tanah, air atau makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh feses kucing yang mengandung ookista infektif. Penelitian ini dilakukan untuk menegakkan diagnosa Toxoplasma gondii pada ayam dengan cara bioassay, pada kucing melalui pemeriksaan ookista pada fesesnya. Diperiksa 5 ekor kucing yang bebas dari infeksi Toxoplasmosis masing – masing kucing selanjutnya diberikan organ ( hati, jantung, paru – paru, otak ) 25 ekor ayam kampung yang diperoleh dari Kabupaten Badung, Tabanan, Buleleng, Gianyar dan Karangasem. Penelitian dilakukan di Laboratorium Central For Studies on Animal Disease Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dengan menggunakan metode pengapungan. Dalam penelitian ini, hasil pemeriksaan feses 5 ekor kucing yang diberikan makan 25 organ ayam berupa hati, jantung, paru – paru, otak yang berasal dari Kabupaten Badung, Tabanan, Buleleng, Gianyar, dan Karangasem, hanya yang berasal dari Kabupaten Badung dan Gianyar didalamnya ditemukan ookista. Ookista dikeluarkan oleh kucing mulai hari ke 6 sampai hari ke 11 dengan kisaran 200 butir/gram sampai 4350 butir/gram.
Madu Berefek Protektif Terhadap Infiltrasi Sel Radang dan Perdarahan Ginjal Akibat Induksi Aspirin Ndagu, Lusiana Flora; Berata, I Ketut; Gde Arjana, Anak Agung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.294 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian madu terhadap histopatologi ginjal tikus putih yang diinduksi aspirin. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Penelitian bersifat eksperimental laboratorik dengan sampel yang digunakan berupa 24 ekor tikus putih jantan dengan berat rata- rata 180- 200 gram, yang dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan dan 6 kali ulangan. Semua tikus putih diberi perlakuan dimana Kelompok Kontrol (KK) diberi aquades, Kelompok Perlakuan 1 (KP 1) diberi madu dosis 1 cc, Kelompok Perlakuan 2 (KP 2) diberi madu 2 cc, Kelompok Perlakuan 3 (KP 3) diberi madu 3 cc secara peroral selama tujuh hari, pada hari ke enam dan tujuh diberi aspirin pada semua kelompok perlakuan dengan dosis 150 mg/kg BB tikus putih. Pada hari ke delapan tikus putih dikorbankan dengan cara euthanasia dengan menggunakan ether, kemudian organ ginjal diambil untuk selanjutnya dibuat preparat histologi dengan metode perwarnaan Harris Hematoksilin dan Eosin (HE). Gambaran histopatologi ginjal yang diamati dan dinilai berdasarkan kerusakan histologi berupa kongesti, infiltrasi sel radang pendarahan, dan nekrosis. Hasil ditentukan dengan skoring kemudian dilanjutkan dengan analisis statistik non parametrik Kruskall Wallis dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Hasil dari uji Kruskall Wallis menunjukkan pemberian berbagai dosis madu berpengaruh nyata (P 0,05) terhadap infiltrasi sel radang dan perdarahan. Hasil uji Mann-Whitney perbedaan pemberian dosis madu antara KK dengan KP 2, KK dengan KP 3, KP 1 dengan KP 3 berpengaruh sangat nyata ( 0,01) terhadap infiltrasi sel radang dan perdarahan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa madu terbukti memiliki efek protektif dalam mencegah infiltrasi sel radang dan pendarahan sel ginjal yang diinduksi aspirin.
Struktur Genetika Populasi Monyet Ekor Panjang Di Alas Kedaton Menggunakan Marka Molekul Mikrosatelit D18S536 lumban gaol, Alda dasril; wandia, I nengah; Suatha, I ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.143 KB)

Abstract

Struktur genetika populasi adalah kondisi intrinsik (genetik) suatu populasi. Pengungkapan struktur genetika dapat memberikan gambaran apakah kehidupan suatu populasi dalam keadaan aman atau terancam. Populasi dengan struktur genetika yang tinggi akan membuat potensial evolusi yang baik terhadap faktor-faktor yang bersifat stokastik. Pada tingkat DNA dengan menggunakan marka molekul mikrosatelit struktur senetika suatu populasi dapat diungkap. Marka molekul mikrosatelit merupakan segmen langsung dari genom (DNA) sehingga variasi genetik yang ditemukan mencerminkan variasi genetik yang sebenarnya. Penelitian menggunakan lokus mikrosatelit D18S536 untuk mengkaji struktur genetika populasi monyet ekor panjang di Alas Kedaton yang meliputi jumlah dan jenis alel, frekuensi alel, dan heterosigositas. Sejumlah 16 sampel darah dari populasi monyet ekor panjang di Alas Kedaton sebagai sumber DNA. DNA diekstraksi dengan menggunakan QIAamp DNA Blood Mini Kit dari Qiagen. Lokus mikrosatelit D18S536 kemudian di PCR, sebanyak 30 siklus dengan suhu annealing 450 C. Selanjutnya, pada gel poliakrilamid 7% alel dipisahkan dengan elekrtoforesis dan dimunculkan dengan pewarnaan perak. Hasil penelitian mengidentifikasi 5 jenis alel pada lokus D18S536 dalam populasi monyet ekor panjang di Alas Kedaton dengan panjang alel berkisar antara 160-176 pasang basa. Frekuensi alel bervariasi, alel 160 (0,31) memiliki frekuensi tertinggi di susul alel 164 (0,22), alel 168 (0,22), alel 172 (0,19) dan alel 176 (0,06). Heterosigositas populasi monyet ekor panjang di Alas Kedaton menggunakan lokus D18S536 sebesar 0,79. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lokus D18S536 pada populasi monyet ekor panjang di Alas Kedaton bersifat polimorfik.
Karakteristik Lokus Mikrosatelit D8S1100 pada Populasi Monyet Ekor Panjang di Bukit Gumang, Karangasem, Bali. Rumba, Jefri Ndawa; Wandia, I Nengah; Arta Putra, I Gusti Agung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.938 KB)

Abstract

Pengungkapan berbagai karakteristik genetik populasi memiliki nilai yang strategis. Selain merupakan khasanah informasi ilmiah, karakteristik tersebut dapat digunakan untuk memprediksi viabilitas masa depan suatu populasi, dan bahan pertimbangan untuk usaha-usaha konservasi. Mikrosatelit merupakan marka/penanda molekuler pilihan untuk studi pilihan genetik populasi. Mikrosatelit adalah segmen langsung dari materi genetik (DNA), sehingga penggunaannya sebagai marka molekuler akan lebih mencerminkan karakteristik genetik populasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengkarakterisasi lokus mikrosatelit D8S1100 dan mendapatkan informasi awal mengenai status poplimorfisme sebelum dipilih sebagai marka molekuler dalam studi genetik populasi. Variabel yang diamati adalah jumlah dan jenis alel, frekuensi, dan heterozigositas. Sembilan belas sampel darah monyet dikoleksi dari di Bukit Gumang, Karangasem, Bali, sebagai sumber DNA. DNA total diekstraksi menggunakan QIAmp DNA Blood Mini Kit. Lokus mikrosatelit D8S1100 di amplifikasi dengan teknik polymerase chain reaction (PCR), sebanyak 30 siklus dengan suhu annealing 540C. Selanjutnya, alel dipisahkan dengan elektroforesis pada gel poliakrilamid 7% dan dimunculkan dengan pewarnaan perak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ditemukan satu jenis alel pada lokus D8S1100 dalam populasi monyet ekor panjang di Bukit Gumang dengan panjang alel 196 pasang basa. Dapat disimpulkan bahwa lokus D8S1100 pada populasi monyet ekor panjang di Bukit Gumang bersifat monomorfik. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa lokus mikrosatelit D8S1100 kurang baik digunakan sebagai marka molekuler untuk mengkaji variasi genetik populasi monyet ekor panjang di Bukit Gumang.
Diversitas Genetik Populasi Monyet Ekor Panjang di Mekori Menggunakan Marka Molekul Mikrosatelit D3S1768 dewi, Evi kumala; Wandia, I nengah; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.61 KB)

Abstract

Diversitas genetik memainkan peran yang sangat penting dalam proses adaptasi suatu spesies. Diversitas genetik yang tinggi pada suatu populasi akan membuat potensial evolusi yang baik terhadap faktor-faktor yang bersifat stokastik. Seperti perubahan alam, inbreeding dan penyakit. Diversitas genetik populasi dapat diungkapkan pada tingkat DNA menggunakan marka molekul mikrosatelit yang merupakan segmen langsung dari genom (DNA). Pada penelitian ini, lokus mikrosatelit D3S1768 digunakan untuk mengkaji variabilitas genetik populasi monyet ekor panjang di Mekori meliputi jumlah dan jenis alel, frekuensi alel, serta heterosigositas. Sejumlah 14 sampel darah dikoleksi dari populasi monyet ekor panjang di Mekori sebagai sumber DNA. DNA total diekstraksi menggunakan QIAamp DNA Blood Mini Kit dari Qiagen. Lokus mikrosatelit D3S1768 di amplifikasi dengan tekhnik polymerase chain reaction (PCR), sebanyak 30 siklus dengan suhu annealing 54o C. Selanjutnya, Alel dipisahkan dengan elektroforesis pada gel poliakrilamid 7% dan dimunculkan dengan pewarnaan perak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan dua jenis alel pada lokus D3S1768 dalam populasi monyet ekor panjang di Mekori dengan panjang basa 188 dan 196. Frekuensi alel 188 sangat tinggi (0,96) sedangkan alel 196 rendah (0,04). Heterosigositas populasi monyet ekor panjang di Mekori menggunakan lokus D3S1768 sebesar (h= 0,08). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lokus D3S1768 pada populasi monyet ekor panjang di Mekori bersifat monomorfik, dikarenakan nilai frekuensi paling umum lebih dari 0,95 (0,96) dan nilai heterosigositasnya rendah.
Sebaran Umur Korban Gigitan Anjing Diduga Berpenyakit Rabies pada Manusia di Bali Iffandi, Calvin; Batan, I Wayan; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.391 KB)

Abstract

rabies termasuk penyakit zoonosis yang menyerang susunan saraf pusat serta dapat menyebabkan kematian. Kasus kematian akibat gigitan anjing rabies pada manusia di Bali dari Oktober 2008 sampai Februari 2011 adalah sebanyak 122 orang. Sebaran umur dari 122 orang korban gigitan akibat penyakit rabies bervariasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang didapat dari beberapa instansi seperti Dinas Peternakan Kabupaten dan Provinsi Bali, Dinas Kesehatan Kabupaten dan Provinsi Bali, dan BBVet Denpasar. Survey lapangan dilakukan dengan wawancara terhadap sejumlah keluarga korban rabies di Provinsi Bali. Data tersebut ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban gigitan hewan pembawa rabies (anjing) yang paling banyak berumur 41-50 tahun. Umur 81-90 tahun merupakan umur yang paling sedikit tergigit oleh hewan pembawa rabies (anjing). Untuk memperkecil jumlah korban penyakit rabies perlu digalakkan program vaksinasi secara berkala, pengontrolan terhadap populasi anjing, serta memberikan penyuluhan ke masyarakat luas tentang bahaya penularan penyakit rabies.
Konsumsi Urin Sapi Bali terhadap Kadar ALT dan AST serta Gambaran Histopatologi Hati Tikus Mahyuzar, Mahyuzar; Kardena, I Made; Suarsana, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.113 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari konsumsi atau urinotherapy urin sapi bali terhadap tingkat kadar ALT dan AST serta gambaran histopatologi hati tikus. Senyawa yang terkandung dalam urin sapi bali di analisis dengan menggunakan Kromatografi Gas Spektometri Massa (GCMS). Hasil kromatografi gas menunjukkan bahwa sapi bali analisis urin yang mengandung fenol, asam asetat, asam isosianat, asam propenoat, octacosane, dan senyawa nitrogen oksida. Hasil analisis kadar ALT dan AST plasma pada tikus yang diberi urin sapi bali, dimana kadar ALT dalam semua kelompok perlakuan tikus juga berbeda nyata (P>0,05) masing-masing dengan nilai 134,40 ± 5,32 IU/l, 132,40 ± 8,08 IU/l, 121,40 ± 6,43 IU/l, dan 139,60 ± 7,63 IU/l, sedangkan nilai kadar AST 155,60 ±8,44 IU/l, 132,80 ± 7,85 IU/l, 135,80 ± 9,73 IU/l, dan 223,80 ± 25,25 IU/l.Hasil pemeriksaan histopatologi sel hati menunjukkan bahwa kelompok kontrol (K1), K2 dan K3 tampak sel hati tidak mengalami perubahan. Sedangkan pada kelompok K4 tampak sel hati telah mengalami degenerasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian urin sapi bali berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kadar ALT dan AST plasma pada tikus. Pemberian urin sapi bali dosis 2 cc/ekor/hari menyebabkan kadar ALT dan AST lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok lainnya dan secara histopatologi terlihat sel hati mengalami nekrosis.
Bioaktivitas Ekstrak Daun Tapak Dara (Catharanthus Roseus) Terhadap Periode Epitelisasi Dalam Proses Penyembuhan Luka Pada Tikus Wistar Puspita Dewi, Ida Ayu Laksmi; Damriyasa, I Made; Anom Dada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.258 KB)

Abstract

Tanaman tapak dara merupakan salah satu sumber obat herbal yang mempunyai khasiat menyembuhkan luka. Secara empiris tanaman ini telah banyak digunakan sebagai obat luka di beberapa negara seperti India. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun tapak dara secara topikal pada tikus terhadap proses kesembuhan luka melalui pengukuran perubahan luas permukaan luka dan periode epitelisasi.Penelitian ini menggunakan tiga puluh dua ekor tikus Wistar jantan. Tikus tersebut dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kelompok kontrol maupun perlakuan sebelumnya dibuat luka iris kemudian diberikan vaselin secara topikal pada kelompok kontrol dan ekstrak daun tapak dara 15% secara topikal pada kelompok perlakuan. Luas permukaan luka kemudian diukur pada hari pertama, kelima dan kelima belas. Periode epitelisasi diukur pada saat luka mulai menutup secara sempurna. Untuk mengetahui perbedaan luas luka dan periode epitelisasi, pada masing-masing kelompok diuji secara statistik dengan ujiT.Dari hasil penelitian yang diperoleh diketahui bahwa pada hari kelima luas permukaan luka tidak berbeda nyata antara tikus kontrol dan tikus perlakuan. Pada hari kelima belas luas permukaan luka tikus perlakuan sangat bermakna lebih kecil dibanding dengan tikus kontrol. Demikian juga periode epitelisasi pada tikus perlakuan sangat bermakna lebih pendek dibandingkan dengan tikus kontrol. Sehingga dapat disimpulkan ekstrak daun tapak dara dapat mempercepat proses periode epitelisasi pada jaringan luka tikus Wistar.
Kualitas Daging Babi Ditinjau Dari Uji Obyektif Dan Pemeriksaan Larva Cacing Trichinella Spp Naibaho, Agustina A; Swacita, Ida Bagus Ngurah; Made Oka, Ida Bagus
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (1) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.941 KB)

Abstract

Daging merupakan pangan yang berkualitas, yang tiap tahun kebutuhannya semakin meningkat. Kebutuhan daging yang tiap tahunnya meningkat mengakibatkan pergeseran keinginan konsumen, dimana tidak hanya melihat kuantitas tetapi mulai bergeser pada kualitas daging (Arka, 1988). Daging memiliki nilai gizi baik dan seimbang untuk memenuhi kebutuhan gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas daging babi yang dipotong di RPH Pesanggaran ditinjau dari uji obyektif (pH, daya ikat air, dan kadar air) dan juga untuk mengisolasi adanya larva Trichinella spp. menggunakan metode kompresorium. Sampel penelitian ini diambil dari daging babi yang dipotong di RPH Pesanggaran sebanyak 30 sampel yang diambil setiap tiga hari sekali. Sampel untuk pengujian adanya larva Trichinella spp. diambil dari bagian diafragma sedangkan sampel untuk pengujian kualitas diambil dari bagian pahanya. Selanjutnya dibawa ke LAB Kesmavet FKH Unud untuk dilakukan uji kualitas daging dari segi uji obyektif (pH, daya ikat air, dan kadar air). Hasil penelitian menunjukan 95 % kualitas daging babi yang dipotong di RPH Pesanggaran baik (sehat). Hasil penelitian dengan metode kompresorium tidak ditemukan adanya larva Trichinella spp. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa daging babi yang dipotong di RPH Pesanggaran berkualitas baik sehingga layak untuk dikonsumsi serta aman dari infeksi parasit yang bersifat zoonosis.

Page 1 of 1 | Total Record : 10