cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 4 (5) 2015" : 11 Documents clear
Status Praesen Sapi Bali Dara Madu, Eustokia Yulisa; Suartha, I Nyoman; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.062 KB)

Abstract

Sapi bali (Bibos sondaicus) merupakan sumber daya genetik asli Indonesia. Pelestarian sapi bali dilakukan dengan penyediaan sapi bali dara calon indukan yang sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status praesen sapi bali dara umur  6-18 bulan yang meliputi temperatur tubuh, frekuensi pulsus, frekuensi respirasi, dan frekuensi detak jantung. Status praesen ini penting untuk mengetahui status kesehatan sapi bali dara. Penelitian ini menggunakan 20 ekor sapi bali dara dengan kelompok umur 6-12 bulan sebanyak 10 ekor dan 12-18 bulan sebanyak 10 ekor. Pengukuran status praesen dilakukan pada pagi, siang, dan sore hari. Hasil pengukuran status praesen rataan temperatur tubuh 38,38 ± 0,60°C, frekuensi pulsus 75,55 ± 5,99 x/menit, frekuensi respirasi 20,67 ± 2,28 x/menit, frekuensi detak jantung adalah 76,22 ± 6,33 x/menit. Status praesen ini  diharapkan dapat digunakan sebagai acuan status praesen sapi bali dara yang meliputi temperatur tubuh, frekuensi pulsus, frekuensi respirasi, dan frekuensi detak jantung.
Hubungan Erat Antara Warna Kuning Cairan Empedu Terhadap Kebengkakan dan Jaringan Ikat pada Hati Sapi Bali Ardia, Eva Candra; Utama, Iwan Harjono; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.179 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengamati hubungan kelainan makroskopik organ hati terhadap tampilan fisik empedu yang dihasilkannya (berupa warna dan kekeruhan). Sebanyak 50 sapi bali terdiri dari 25 jantan dan 25 betina, yang dipotong di Rumah Potong Hewan Pesanggaran sebagai sampel penelitian ini, dicermati gambaran makroskopik hatinya di bagian lateral dan medial. Hasil penelitian menunjukkan tampilan fisik warna empedu bervariasi dari hijau kebiruan, hijau transparan, kuning kecoklatan, hijau kekuningan, dan kuning. Hati yang abnormal diklasifikasikan dalam perdarahan, kebengkakan, jaringan ikat dan nekrosis, serta penebalan saluran empedu. Pemberian skor dimulai dari 0 sampai 3, yakni skor 0 tidak adanya kelainan, 1 kelainan di bawah 50%; 2 kelainan antara 50%-75%; 3 kelainan di atas 75%. Hasil uji Spearman memperlihatkan adanya korelasi yang nyata (P<0,05) antara warna empedu yang berwarna kuning dengan kebengkakan dan pertambahan jaringan ikat. Dapat disimpulkan bahwa kebengkakan dan pertambahan jaringan ikat menyebabkan warna kuning pada cairan empedu.
Gambaran Histopatologi dan Klasifikasi Tumor Mamae pada Anjing di Kota Denpasar idah, Ruwa; Mirah Adi, Anak Agung Ayu; Eli Supartika, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.24 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai gambaran histopatologi dan klasifikasi tumor mamae pada anjing penderita tumor mamae di kota Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologi serta jenis tumor mamae terbanyak pada anjing penderita tumor di kota Denpasar tahun 2008-2014. Penelitian ini menggunakan 20 sampel preparat histopatologi dari anjing positif menderita tumor mamae. Preparat diamati dengan menggunakan mikroskop. Hasil pemeriksaan menunjukan terdapat 7 jenis tumor mamae diantaranya mix malignant, adenocarcinoma, solid carcinoma, papillary adenocarcinoma, mucinius carcinoma, fibrosarcoma, dan malignant myoepithelioma. Gambaran umum yang menonjol pada kasus tumor mamae dari anjing penderita yang diamati adalah: ditemukannya nukleus hiperkromatik, hilangnya struktur parenkim dan stroma, ditemukan sel-sel yang pleomorfik, serta ditemukannya bentukan asini sel-sel tumor. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan perhitungan frekuensi dapat disimpulkan dari 7 jenis tumor mamae, tumor jenis mix malignant memiliki frekuensi tertinggi dengan persentase sebesar 35% .
Faktor Risiko Penyebaran Escherichia coli O157:H7 pada Sapi di Mengwi, Badung, Bali Hastuti, Yunita Sri; Suada, I Ketut; Suardana, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.527 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor resiko serta signifikasi dari masing-masing faktor resiko terhadap penyebaran E. coli O157:H7. Sampel yang digunakan sebanyak 60 sampel feses sapi. Penelitian menggunakan metode cross sectional dan pengambilan sampel menggunakan tehnik sampling purposif (purposive sampling). Isolasi Bakteri E. coli dimulai dengan menumbuhkan bakteri pada media EMBA, selanjutnya diuji pewarnaan Gram, dan tes IMVIC. Konfirmasi bakteri E. coli O157:H7 dibiakkan dengan menumbuhkan isolate pada media SMAC, Latex Agglutination Test dan uji serologi H7. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dan di uji dengan Odds ratio dan uji Chi square. Hasil penelitian pada uji Odds ratio menunjukkan jenis kelamin sapi jantan dengan nilai odds ratio 1,52, sumber air non PAM dengan nilai odds ratio 1,52, dan keadaan cuaca hujan dengan nilai odds ratio 2,05 yang berarti memiliki resiko lebih tinggi terhadap penyebaran E. coli O157:H7. Kesimpulan dari variabel dari faktor risiko infeksi E. coli O157:H7 menunjukkan bahwa sapi dengan jenis kelamin jantan yang mendapat sumber air non-PAM pada saat cuaca hujan lebih berisiko terhadap penyebaran infeksi E. coli O157:H7. Namun, nilai chi square menunjukkan bahwa faktor-faktor resiko tidak berasosiasi secara nyata(P>0,05) terhadap infeksi E. coli O157:H7 di Kecamatan Mengwi.
Insidensi Escherichia Coli O157:H7 pada Sapi Bali Di Kecamatan Petang dan Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung Perdana, Asyauqi Ilham; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Suardana, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.378 KB)

Abstract

Escherichia coli O157:H7 merupakan satu dari ratusan strain bakteri E. coli yang berbahaya, dapat menghasilkan toksin yang sangat kuat dan dapat menyebabkan penyakit diantaranya hemorrhagic colitis dan hemolytic uremic syndrom. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan perbedaan Insidensi Escherichia coli O157:H7. Sampel diambil dari Kecamatan Petang dan Kecamatan Abisansemal Kabupaten Badung. Jumlah sampel yang diambil dari Kecamatan Petang sebanyak 58 sampel dan Kecamatan Abiansemal 60 sampel. Data hasil pengamatan disajikan dalam bentuk deskriptif dan selanjutnya dianalisis dengan uji Chi square untuk mengetahui signifikasi insidensi diantara kedua Kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan keberadaan Escherichia coli O157:H7 pada sapi bali di Kecamatan Petang sebesar 8,62% dan Kecamatan Abiansemal sebesar 10%. Insidensi di Kecamatan Petang 8,62% tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan dengan Kecamatan Abiansemal sebesar 10%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa keberadaan bakteri E.coli O157:H7 di Kecamatan Petang dan Kecamatan Abiansemal dan Insidensi E. coli O157:H7 pada sapi bali di Kecamatan Petang tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung.
Gambaran Histopatologi Penyebaran Tumor Mammae pada Anjing Melalui Pembuluh Darah dan Limfe Sartini, Sari; Berata, I Ketut; Supartika, I Ketut Eli
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.319 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas tentang tumor kelenjar mammae pada anjing yang menyebar melalui pembuluh darah dan limfe. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya metastase tumor melalui darah dan pembuluh limfe. Penelitian ini menggunakan 20 sampel preparat anjing yang positif terkena tumor mammae antara tahun 2008-2014. Indikasi penyebaran metastase tumor mammae berdasarkan adanya temuan sel tumor pada pembuluh darah dan pembuluh limfe kelenjar mammae. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menemukan semua kasus tumor mammae pada anjing termasuk dalam kategori ganas. Sepuluh dari 20 kasus telah mengindikasikan adanya metastase sel-sel tumor melalui pembuluh darah dan pembuluh limfe ke organ tubuh lainnya. Secara histopatologi, adanya metastase sel-sel tumor ditandai dengan adanya sel-sel tumor di dalam pembuluh darah dan pembuluh limfe. Sel tumor tunggal atau bergerombol terlihat menempel pada dinding pembuluh darah dan pembuluh limfe dengan bentuk dan ukuran sel yang bervariasi. 50% kasus tumor kelenjar mammae telah mengindikasikan adanya metastase sel-sel tumor melalui pembuluh darah dan limfe.
Identifikasi dan Prevalensi Cacing Nematoda Saluran Pencernaan pada Anak Babi di Bali Fendriyanto, Ady; Oka, Ida Bagus Made; Agustina, Kadek Karang
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.333 KB)

Abstract

pencernaan pada anak babi yang dijual di pasar tradisional di wilayah Bali. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 250 sampel feses anak babi yang berasal dari pasar ternak di Kabupaten Karangasem, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Bangli, dan Kabupaten Gianyar. Sampel diperiksa dengan menggunakan metode sedimentasi formol ether dan diidentifikasi berdasarkan morfologi telur cacing. Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil bahwa prevalensi infeksi cacing nematoda saluran pencernaan pada anak babi yang dijual dipasar tradisional adalah sebanyak 71,6% (179/250). Setelah dilakukan identifikasi diketahui ada empat jenis cacing nematoda saluran pencernaan yaitu, Ascaris suum, Trichuris suis, cacing tipe Strongyl dan Macrachantorynchus dengan prevalensi masing – masing sebesar 33,2%, 14,0%, 57,6% dan 2%.
Pemberian Ivermectin Sebelum Vaksinasi Hog Cholera Menekan Pembentukan Antibodi Galingging, Tri Suci; Suartha, I Nyoman; Budiasa, Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.564 KB)

Abstract

Penelitian ini dirancang untuk membandingkan antara titer antibodi anak babi yang diinjeksikan ivermectin, dengan titer anak babi yang tidak diberikan ivermectin. Anak babi dibagi menjadi tiga kelompok yaitu anak babi kontrol, anak babi yang diberikan ivermectin dan anak  babi yang tidak diberikan ivermectin.  Babi yang digunakan adalah babi berumur tiga minggu dengan 10 ekor ulangan untuk setiap perlakuan. Pemeriksaan titer antibodi hog cholera yang dilakukan dengan menggunakan uji ELISA menunjukkan bahwa penggunaan ivermectin memberikan pengaruh terhadap penurunan titer antibodi Hog Cholera dengan nilai protektivitas antibodi masing-masing 100% untuk anak babi kontrol, 80% untuk anak babi yang diberi ivermectin, dan 100% untuk anak babi yang tidak diberi ivermectin. Secara statistik persentase hambatan (PI) antibodi anak babi yang divaksinasi hog cholera tanpa ivermectin berbeda nyata (P<0.05) dibandingkan anak babi yang divaksinasi hog cholera dengan ivermectin. Namun tidak berbeda nyata dengan anak babi kontrol. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, pemberian ivermectin tidak berpengaruh terhadap protektivitas antibodi hog cholera pada anak babi.
Pertumbuhan Dimensi Panjang Tubuh Pedet Sapi Bali Surya Dharma, I Gusti Ngurah Bagus; Sampurna, I Putu; Suatha, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.672 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan dimensi panjang pedet sapi bali umur 0 – 6 bulan. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola split-time. Sebagai faktor utama terdiri dari dua taraf jenis kelamin yaitu jantan dan betina. Tiap jenis kelamin terdiri dari 6 ekor pedet jantan dan 6 ekor pedet betina sehingga pedet yang digunakan sebanyak 12 ekor. Pengambilan data dilakukan secara langsung dengan mengukur dimensi panjang tubuh pedet sapi bali di kandang meliputi dimensi panjang kepala, panjang leher, panjang tubuh dan panjang ekor. Hasil penelitian menunjukkan laju pertumbuhan pedet sapi bali jantan umur 0 – 6 bulan tidak nyata (p>0,05) lebih cepat dari pada pedet sapi bali betina. Laju pertumbuhan panjang kepala, panjang leher, panjang tubuh, dan panjang ekor pedet sapi bali tidak terdapat perbedaan nyata (p>0,05) baik pada sapi bali jantan maupun sapi bali betina. Laju pertumbuhan dimensi panjang pada sapi jantan umur 0-6 bulan tercepat adalah panjang ekor 0,103, disusul panjang leher 0,098, tubuh 0,090 dan paling lambat adalah panjang kepala 0,086 sedangkan laju pertumbuhan dimensi panjang pada sapi betina umur 0-6 bulan tercepat adalah panjang ekor 0,094, disusul panjang tubuh 0,088, leher 0,083 dan paling lambat adalah panjang kepala 0,081. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Laju pertumbuhan pedet sapi bali jantan umur 0-6 bulan lebih cepat dari pedet sapi bali betina. Laju pertumbuhan dimensi panjang kepala, leher, badan dan ekor pedet sapi bali jantan dan betina umur 0-6 bulan sama. Laju pertumbuhan dimensi panjang pada sapi jantan umur 0-6 bulan tercepat adalah panjang ekor, disusul panjang leher, tubuh dan paling lambat adalah panjang kepala.
Dimensi Kuku Sapi Bali Yarisetouw, Nicolas; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.271 KB)

Abstract

Kaki sapi bali yang baik adalah kaki yang proporsional dengan ukuran tubuh, mampu menopang tubuh secara tegak lurus. Bagian kuku perlu diperhatikan karena kuku yang terganggu akan membuat pertumbuhan sapi kurang optimal. Kuku sapi harus kokoh, tidak sensitif, dapat tumbuh dan berkembang terus, dan memiliki elastisitas yang tinggi. Sapi bali yang digemukan cenderung memiliki kuku yang tumbuh lebih panjang dibandingkan dengan sapi bali yang dibiarkan bebas. Tujuan Penelitian untuk mengetahui dimensi ukuran kuku kaki depan dan kaki belakang sapi bali serta menentukan ukuran standar normal (panjang kuku, tinggi kuku, diagonal kuku, lebar kuku, luas kuku, tinggi tumit)  kaki depan dan kaki belakang sapi bali jantan dan betina. Sampel  yang digunakan pada penelitian ini adalah sapi bali dewasa sebanyak 40 ekor, terdiri dari 20 jantan dan 20 betina dewasa di Pasar Hewan Bringkit Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, dan pengukuran dilakukan pada sapi dalam keadaan berdiri. Metode Penelitian ini menggunakan uji Independent-Samples T-test pada selang kepercayaan 95% dan 99% dengan Statistical Program for Social Science(SPSS) for Window versi 17.0. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa dimensi ukuran  kuku  kaki yang terdiri dari ukuran-ukuran standar kuku, panjang, tinggi tumit, diagonal kuku, dan lebar kuku kaki sapi jantan lebih besar dari pada kuku sapi betina.

Page 1 of 2 | Total Record : 11