Tjokorda Sari Nindhia
Laboratorium Epidemiologi Dan Biostatistik Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Bali Indonesia

Published : 36 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Pola Pertumbuhan Dimensi Lingkar Tubuh Babi Bali Putra, I Made Wira Diana; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.08 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.32

Abstract

Pola pertumbuhan dimensi lingkar tubuh babi bali dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah umur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pada umur berapa masing masing dimensi lingkar tubuh babi bali mencapai titik infleksi dan ukuran dewasa. Babi yang digunakan dalam objek penelitian ini adalah babi bali yang dipelihara secara tradisional di Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, umur 0 sampai 26 minggu sebanyak 56 ekor yang terdiri dari babi bali jantan dan betina. Hasil regresi model sigmoid menunjukkan bahwa ukuran babi bali saat lahir memiliki dimensi lingkar yang sama antara babi Bali jantan dan betina. Lingkar leher babi bali jantan dan betina mencapai ukuran dewasa pada umur 21,840 minggu dan 22,893 minggu.
Pemeliharaan Anjing oleh Masyarakat Kota Denpasar yang Berkaitan dengan Faktor Risiko Rabies Kakang, Dorteany Mayani; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (2) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.184 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pemeliharaan anjing masyarakat Kota Denpasar yang berisiko terhadap penularan rabies serta pemahaman masyarakat tentang bahaya penyakit rabies. Metode yang dipakai adalah survei terhadap responden atau pemilik anjing di Kota Denpasar, meliputi tiga kecamatan yaitu Kecamatan Denpasar Barat, Denpasar Timur dan Denpasar Utara. Penelitian ini menggunakan 140 responden sebagai sampel yaitu 50 responden di Denpasar Barat, 60 responden di Denpasar Timur dan 30 responden di Denpasar Utara. Wawancara dilakukan dengan bantuan kuisioner (closed ended dan open ended). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pemeliharaan anjing masyarakat Kota Denpasar relatif baik namun ada sejumlah faktor risiko rabies yang perlu diwaspadai seperti anjing peliharaan berkontak dengan anjing lain, memelihara HPR (Hewan Pembawa Rabies) selain anjing dan sistem pemeliharaan dengan cara dilepas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sistem pemeliharaan anjing oleh sebagian besar masyarakat Kota Denpasar relatif baik. namun ada sejumlah faktor risiko rabies yang perlu diwaspadai seperti kontak dengan anjing lain, memelihara HPR lain dan pemeliharaan yang dilepasliarkan.
Persebaran dan Hubungan Kejadian Rabies pada Anjing dan Manusia di Denpasar Tahun 2008-2015 Sadipun, Elizabeth Liliane; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (5) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.415 KB)

Abstract

Rabies atau penyakit anjing gila merupakan penyakit zoonosis yang menyerang sistem saraf pusat yang disebabkan oleh virus Genus Lyssavirus dari Familia Rhabdoviridae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran dan hubungan kejadian rabies pada anjing dan manusia di Kota Denpasar tahun 2008-2015. Data sekunder dikumpulkan, ditabulasi, dan kemudian dipetakan pada peta wilayah Kota Denpasar. Analisis data sekunder dilakukan dengan analisis korelasi Range Spearman. Sepanjang tahun 2008-2015 telah terjadi sebanyak 53 kasus rabies pada anjing dan 11 kasus pada manusia. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif yang sangat nyata antara kejadian rabies pada anjing dan manusia tahun 2008-2015 dengan nilai koefisien korelasi 0,681 yang menunjukkan bahwa tingginya kejadian rabies pada anjing diikuti dengan kejadian pada manusia.
Pola Pertumbuhan Bobot Badan Itik Bali Betina Negara, Putu Maha Suta; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (1) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.813 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan bobot badan itik bali betina, sehingga dapat ditentukan pada umur berapa bobot badan itik bali betina mencapai titik infleksi dan ukuran dewasa. Itik yang digunakan dalam objek penelitian ini adalah 70 itik bali yang dipelihara secara semi intesif di Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali. Data yang di peroleh dianalisis dengan Sidik Ragam dan untuk mengetahui pada umur berapa mencapai titik infleksi dan umur dewasa dilakukan analisis regresi model sigmoid. Hasil penelitian menunjukkan saat berumur 0 sampai 8 minggu itik bali betina terjadi pertumbuhan bobot badan yang nyata ( P< 0,05) kemudian saat berumur 10 sampai 12 minggu pertumbuhannya sudah mulai lambat dan pada umur ini sudah terdapat peningkatan ukuran bobot badan yang tidak nyata (P> 0,05). Sedangkan pada fase tumbuh lambat terjadi perubahan bobot badan yang tidak nyata (P>0,05). Hasil analisis regresi model sigmoid menunjukkan bahwa bobot badan itik baru menetas (DOD) yaitu 0,046 kg, mencapai titik infleksi pada umur 0,806 minggu dengan bobot 0,19 kg. Dan mencapai ukuran dewasa pada umur 32,288 minggu dengan bobot 1,53 kg.
Pola Pertumbuhan Dimensi Panjang Pada Babi Bali Leonardo, Edo; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.583 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.6

Abstract

Penelitian pola pertumbuhan panjang bagian-bagian tubuh babi bali telah dilakukan di Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui panjang kepala, leher, telinga, punggung dan ekor pada saat kelahiran sampai ukuran maksimal yang dapat dicapai, serta menentukan kapan pertumbuhan telah mencapai titik infleksi dan ukuran dewasa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah babi bali pada usia 0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, 20, 22, 24, dan 26 minggu. Data dianalisis dengan model analisis regresi sigmoid, dengan menentukan panjang kepala, leher, telinga, punggung dan ekor saat lahir, ukuran maksimumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang kepala, leher, telinga, punggung dan ekor mengikuti pola sigmoid. Babi bali jantan dan betina pada saat lahir memiliki ukuran panjang kepala, leher, telinga, punggung dan ekor yang sama, sedangkan untuk ukuran maksimum, panjang bagian-bagian kepala, leher, telinga, punggung dan ekor terdapat perbedaan antara babi bali jantan dan betina. Titik infleksi yang paling cepat dicapai adalah panjang ekor babi bali betina pada usia 2 minggu dan yang paling lambat adalah panjang punggung pada umur 8 minggu, sedangkan ukuran dewasa tercepat dicapai adalah panjang teliga babi jantan pada usia 15 minggu dan yang paling lambat adalah panjang ekor pada umur 45 minggu.
IDENTIFIKASI SPESIES UDANG MANTIS (Stomatopoda) DI PERAIRAN PEMUTERAN DENGAN MENGGUNAKAN GEN CYTOCHROME C OXIDASE SUBUNIT-1 DARI DNA MITOKONDRIA OKA PUJAWAN, ANAK AGUNG NGURAH; KADE MAHARDIKA, I GUSTI NGURAH; SARI NINDHIA, TJOK
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (2) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.387 KB)

Abstract

Mantis shrimp is known as a bio-indicator of marine ecosystem health. Pemuteran is one of the waters in Indonesia that has a wealth of interesting marine life. Knowledge of the genetic structure was used for identification of species of mantis shrimp. The purpose of this study was to identify species of mantis shrimp in the waters of Pemuteran and determine their relationship with mantis shrimp in other areas of Indonesia around the world.The method used in this research was the polymerase chain reaction technique (PCR) of the molecular of marker Cytochrome c oxidase subunit 1 from mitochondrial DNA. The sample was mantis shrimps in the form of adult and larvae, that were collected in Pemuteran. The number of samples was 32. Sequence from each sample was determined by cycle sequencing technique and analyzed at Cornell University. Sequences obtained in this study and that downloaded from GeneBank were analyzed with MEGA5.3.The results showed that four species of mantis shrimp, i.e. Haptosquilla glyptocercus, Gonodactyllelus annularis, Gonodactylus viridis and Chorisquilla Hystrix, could be identified. Genetic relationship of mantis shrimp in Pemuteran to that of various regions varies. Close relationship was found to the mantis shrimp species in the Coral Triangle region. The species were genetically in a further distance to the mantis shrimp found in other areas, such as Australia's east coast. Determination of species from specimens that are close to Gonodactylus viridis and Chorisquilla Hystrix is necessary to justify whether the specimens are properly included to the corresponding species or they should be assigned as new species
Tumbuh Kembang Organ Visceral Itik Lokal Bali pada Masa Finisher Kristianto, Kartika; Nindhia, Tjokorda Sari; Sampurna, I Putu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.259 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.482

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tumbuh kembang organ visceral itik lokal bali pada masa finisher, sehingga dapat ditentukan perkiraan berat organ pada usia tertentu. Penelitian ini menggunakan itik jantan dan betina umur 8-16 minggu sebanyak 30 ekor yang dipelihara secara semi intensif di Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali. Penelitian ini tentang organ visceral (hati, jantung, paru-paru dan ventrikulus), dilakukan penimbangan berat organ setiap 2 minggu. Data yang diperoleh dianalisis dengan Multivariant dan regresi power. Hasil penelitian menunjukkan saat berumur 8 sampai 16 minggu itik bali terjadi pertumbuhan berat organ visceral yang nyata. Hasil analisis Multivariant menunjukkan berat organ visceral itik lokal bali jantan dan betina tidak berbeda nyata, hasil analisis regresi menunjukkan organ visceral mengalami laju tumbuh kembang yang nyata , yang paling awal tumbuh adalah ventrikulus, jantung, paru- paru dan yang terakhir adalah hati.
Laju Pertumbuhan Dimensi Lingkar Tubuh Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis) Jantan dan Betina di Kabupaten Lombok Tengah Sunarko, Stefanie Nadya Stellanora; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (5) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.885 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan dimensi lingkar tubuh kerbau lumpur (Bubalus bubalis) jantan dan betina di kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 54 ekor kerbau lumpur (27 ekor jantan dan 27 ekor betina). Kisaran umur kerbau yang diukur yaitu sembilan bulan sampai 20 bulan (9, 10, 11, 12, 13, 14, 18, 19, 20) bulan, setiap umur yang sama jantan dan betina diukur tiga ekor kerbau sebagai ulangan. Pengukuran dimensi lingkar dilakukan setiap sebulan sekali, selama tiga bulan. Data lingkar tubuh yang diperoleh dianalisis dengan multivariant dan regresi power. Hasil analisis multivariant menunjukkan jenis kelamin berbeda nyata terhadap ukuran dimensi lingkar tubuh serta terdapat interaksi antara jenis kelamin dengan umur. Hasil analisis regresi power menunjukkan koefisien korelasi masing-masing dimensi lingkar leher atas, leher bawah, dada, dan abdomen kerbau lumpur jantan dan betina berbeda nyata. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa dimensi lingkar tubuh kerbau lumpur jantan paling dini tumbuh yaitu dimensi lingkar leher atas kemudian disusul oleh lingkar abdomen, lingkar leher bawah, dan terakhir tumbuh yaitu lingkar dada. Sedangkan kerbau lumpur betina paling dini tumbuh yaitu dimensi lingkar leher bawah disusul oleh lingkar leher atas, lingkar abdomen dan terakhir tumbuh juga lingkar dada. Disarankan adanya penelitian lebih lanjut mengenai pola pertumbuhan dimensi lingkar tubuh kerbau lumpur jantan dan betina yang bertujuan untuk mengetahui kapan dimensi lingkar tubuh tercepat dan berhenti tumbuh.
Pertumbuhan Dimensi Lebar Tubuh Pedet Sapi Bali Eka, Yizhar; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 3 (3) 2014
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.68 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dimensi lebar tubuh pedet Sapi Bali. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran terhadap dimensi lebar tubuh pedet Sapi Bali yang meliputi : lebar kepala, lebar leher, lebar dada, lebar kemudi, dan lebar pantat. Penelitian ini mempergunakan sampel sebanyak 12 ekor pedet Sapi Bali masing - masing enam ekor pedet jantan, dan enam ekor pedet betina. Pengukuran dimensi lebar tubuh Sapi Bali dilakukan tujuh kali pengulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam. Model persamaan yang digunakan adalah y = a.e bx. Hasil sidik ragam dimensi lebar pedet Sapi Bali menunjukkan bahwa umur berpengaruh sangat nyata (p<0,01), serta terdapat interaksi yang sangat nyata (p<0,01) antara jenis kelamin dengan umur tehadap dimensi lebar pedet Sapi Bali. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecepatan/laju pertumbuhan dimensi lebar antara pedet Sapi Bali jantan dan betina yang mana pada pedet Sapi Bali jantan laju pertumbuhannya dimulai dari yang paling lambat lebar kepala, lebar dada, lebar leher, lebar kemudi, dan terakhir lebar pantat, sedangkan pada pedet Sapi Bali betina laju pertumbuhannya dimulai dari yang paling lambat lebar kepala, lebar kemudi, lebar leher, lebar dada, dan terakhir lebar pantat. Simpulan yang didapat dari hasil penelitian ini adalah lebar kepala, lebar leher, lebar dada, dan lebar pantat pedet Sapi Bali jantan laju partumbuhannya lebih cepat dibandingkan pedet Sapi Bali betina, sedangkan lebar kemudi Sapi Bali betina laju pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan pedet Sapi Bali jantan.
Korelasi dan Penyebaran Kejadian Rabies pada Anjing dan Manusia di Kabupaten Klungkung Bali Tahun 2010-2014 Pratama, Rendi Tegar; Batan, I Wayan; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (3) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.48 KB)

Abstract

Rabies atau penyakit anjing gila merupakan penyakit virus yang disebabkan oleh genus Lyssavirus dari famili Rhabdoviridae bersifat akut serta sangat berbahaya dan mengakibatkan kematian karena mampu menginfeksi sistem saraf pusat yakni otak dan sumsum tulang belakang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kawasan rabies, penyebaran rabies dan korelasi antara kejadian rabies pada anjing dan manusia di Kabupaten Klungkung tahun 2010-2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Untuk mengetahui hubungan kejadian rabies pada anjing dan manusia dilakukan uji korelasi Rank Spearman. Berdasarkan uji korelasi Spearman diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang searah antara kejadian rabies pada anjing dan manusia. Dari uji Spearman yang dilakukan nilai koefisiensi yang diperoleh adalah 0,468 dengan nilai signifikansi 0,037.
Co-Authors ANAK AGUNG NGURAH OKA PUJAWAN Anak Agung Sagung Kendran Ananda, Made Krisna Angelica Ramadya Putri Candrianisa Brigita Galilea Adu Cahyani, Ni Luh Risna D.N.K.P. Negara Dewa Kade Agung Hendra Putra Dinata Dwi Arum Permatasari Elfani Sarah Faradina Elizabeth Kezi Damayanti Florensia, Dheadora Geidha Lailia Luzain I Gusti Agung Ayu Suartini I Gusti Komang Dwijana I Gusti Ngurah Kade Mahardika I Gusti Ngurah Sudisma I K. SUATHA I Ketut Suada I Ketut Suatha I Made Bagus Arya Permana Ardiana Putra I Made Kardena I Made Widiyarta i Nengah Wandia I Nyoman Dodik Gunawan I Nyoman Suarsana I Nyoman Suartha I Putu Sampurna I Putu Windhu Mahardika I Wayan Batan I Wayan Suardana I Wayan Suardana I Wayan Surata I.B.P. Purwadnyana I.D.G.P. Swastika I.D.N.P. Swastika I.G.N.W. Gunawan I.W.A.R. Dana Ida Ayu Pasti Apsari Ida Ayu Pasti Apsari Ida Bagus Bagus Kade Suardana Ida Bagus Kade Suardana Ida Bagus Kade Suardana Ida Bagus Kade Suardana Suardana Ida Bagus Ketut Indra Permana Ida Bagus Ngurah Swacita Ida Bagus Oka Winaya Ihtifazhuddini, Fiqi Manaya Tibyana Iwan Harjono Utama Kadek Karang Agustina Kakang, Dorteany Mayani Keliat, Dosmonytha Br Ketut Ari Andhita Badraresta Arnaya Ketut Ayu Cudemani Putri Korbinianus Feribertus Rinca Kristianto, Kartika Leonardo, Edo Lijung, Derfina Mahindra, Aditya Try Marson, Fransiska Gratia Sonita Messy Saputri Boru Sembiring Negara, Putu Maha Suta Ni Ketut Suwiti Ni Luh Eka Setiasih Ni Luh Eka Setiasih Ni Luh Made Ika Yulita Sari Hadiprata Ni Made Suksmadewi Wisnantari Ni Nyoman Werdi Susari Nicolas Yarisetouw, Nicolas Oktryna Hodesi Sibarani Pero, Fransisco Victoriano Pratama, Rendi Tegar Putra, I Made Wira Diana Sadipun, Elizabeth Liliane Sri Kayati Widyastuti Sunarko, Stefanie Nadya Stellanora Suputra, Gusde Wahyu Krisna Suriana, Ni Komang Valerie Tjokorda Gde Tirta Nindhia Tomáš Ruml Yizhar Eka Zdenek Knejzlík