cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 5 (1) 2016" : 12 Documents clear
PENGUKURAN BESAR SUDUT KUKU SAPI BALI Marta, Anggi Windo; Widyastuti, Sri Kayati; Utama, Iwan Harjono
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.851 KB)

Abstract

Sapi bali termasuk dalam ordo Artiodactyla, yaitu golongan hewan berkuku genap. Untuk melaksanakan fungsi kuku sebagai penopang tubuh yang baik, sudut kuku yang normal terhadap bidang tumpu kurang lebih 45?. Besar sudut kuku sapi bali yang diukur dengan menggunakan rumus teminologi geometri trigonometri (sin). Besar sudut kuku yang dihitung berasal dari 50 sapi bali (terdiri dari 25 sapi jantan dan 25 sapi betina) yang dipotong di Rumah Potong Hewan Kota Denpasar. Hasil perhitungan sapi jantan sudut kuku kaki kanan depan lateral 45?-47?, sudut kuku kaki kanan depan medial 45?-47?, sudut kuku kaki kanan belakang lateral 53?-55?, sudut kuku kaki kanan belakang medial 53?-55?, sudut kuku kaki kiri depan lateral 47?-48?, sudut kuku kaki kiri depan medial 45?-47?, sudut kuku kaki kiri belakang lateral 53?-55?, sudut kuku kaki kiri belakang medial 50?-52? sedangkan hasil perhitungan sapi betina sudut kuku kaki kanan depan lateral 45?-47?, sudut kuku kaki kanan depan medial 45?-47?, sudut kuku kaki kanan belakang lateral 50?-52?, sudut kuku kaki kanan belakang medial 50?-51?, sudut kuku kaki kiri depan lateral 45?-47?, sudut kuku kaki kiri depan medial 45?-47?, sudut kuku kaki kiri belakang lateral 50?-52?, sudut kuku kaki kiri belakang medial 53?-55?. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa besar sudut kuku depan lebih kecil daripada besar sudut yang dihasilkan pada kaki belakang.
Perbandingan Telur Asin yang Dibuat dengan Media Kulit Buah Manggis dan Media Batu Bata Hutasoit, Supriaty; Swacita, Ida Bagus Ngurah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.247 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kualitas telur asin yang dibuat dengan media kulit buah manggis ditinjau dari bobot telur, diameter kantung udara dan warna kuning telur. Sampel yang digunakan adalah telur itik sebanyak 24 butir. 12 butir dibuat telur asin dengan menggunakan media kulit buah manggis dan 12 butir dengan media batu bata. Perbandingan media dengan garam yaitu 3:1. Pengamatan dilakukan pada hari ke-1, ke-7, ke-14 dan ke-21. Bobot telur media kulit buah manggis 0.017, 2.286, 4.084 dan 5.035. Bobot telur media batu bata 0.015, 2.583, 4.115 dan 5.472. Diameter kantung udara media kulit buah manggis 1.847, 2.733, 3.540 dan 4.293. Diameter kantung udara batu bata 1.833, 2.940, 3.543 dan 4.497. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak adanya perbedaan berat telur asin dan diameter kantung udara yang nyata (P>0,05) antara telur asin yang dibuat dengan menggunakan media batu bata dan kulit buah manggis. Warna kuning telur media kulit buah manggis 13.333, 13.667, 14.000 dan 13.667. Warna kuning telur media batu bata 13.667, 11.667, 13.333 dan 13.667. Nilai uji warna kuning telur dari telur asin yang dibuat dengan menggunakan media kulit buah manggis nyata (P<0.05) lebih tinggi dari telur asin batu bata. Dapat disimpulkan bahwa media kulit buah manggis dapat dimanfaatkan sebagai media dalam pembuatan telur asin.
Titer Antibodi dan Hitung Jenis Leukosit Ayam Potong Jantan Pasca Vaksinasi Virus Newcastle Disease Wanto, Sis; Sulabda, I Nyoman; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.046 KB)

Abstract

Penelitian tentang titer antibodi dan gambaran hitung jenis leukosit ayam potong jantan pasca vaksinasi telah dilakukan di Laboratorium Bersama, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Denpasar bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari pengaruh vaksinasi terhadap titer antibodi dan perubahan jumlah jenis-jenis leukosit dalam darah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola split in time dengan dua faktor utama yaitu K = kontrol (tanpa vaksinasi), dan V (dengan vaksinasi). Masing-masing faktor dikelompokkan ke dalam 3 taraf waktu (yaitu 7, 14, dan 21) hari pasca vaksinasi sebagai V1, V2, dan V3. Masing-masing K dan V terdiri dari sepuluh ulangan sehingga diperlukan jumlah hewan coba dua puluh ekor ayam. Jenis ayam yang digunakan adalah ayam potong jenis CP 707 umur 1 hari. Setelah hari ke 7, 14, dan 21 pasca vaksinasi (untuk kelompok V), dan hari ke 7, 14, dan 21 pasca injeksi pelarut vaksin (untuk kelompok K) seluruh ayam diambil darahnya untuk diamati titer antibodi dan hitung jenis leukositnya. Analisis data dilakukan dengan uji ragam taraf 5 % dan bila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Sidak 5% (Steel dan Torrie, 1981). Hasil menunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang nyata (P<0,05) terhadap titer antibodi dan jenis/prosentase limfosit, dan tidak berbeda nyata terhadap prosentase heterofil, esinofil, basofil dan monosit).
Penyebaran Rabies dan Analisis Korelasi Kejadiannya pada Anjing dengan Manusia di Kabupaten Bangli Tahun 2009-2014 Andriani, Findri; Batan, I Wayan; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.998 KB)

Abstract

Rabies atau penyakit anjing gila merupakan suatu penyakit virus yang disebabkan oleh genus Lyssavirus dari famili Rhabdoviridae bersifat akut serta sangat berbahaya dan mengakibatkan kematian karena mampu menginfeksi sistem saraf pusat yakni otak dan sumsum tulang belakang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kawasan rabies, penyebaran rabies dan korelasi antara kejadian rabies pada anjing dan manusia di Kabupaten Bangli Bali tahun 2009-2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Data kejadian rabies pada anjing dan manusia yang telah dikumpulkan kemudian digambar pada peta wilayah Kabupaten Bangli. Selanjutnya data tersebut ditabulasi. Analisis data yang digunakan meliputi uji normalitas dilakukan dengan Shapiro Wilk, uji homogenitas dengan Lavene Statistic, analisis korelasi dilakukan dengan uji Spearman. Total kasus rabies pada anjing dari tahun 2009 sampai 2014 sebanyak 124 kasus dan pada manusia lima orang. Sebanyak 39 dari 72 desa di Kabupaten Bangli telah tertular rabies. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan adanya hubungan sebab akibat negatif yang artinya bahwa kejadian rabies pada anjing tergolong relatif tinggi namun tidak diikuti dengan tingginya kejadian rabies pada manusia. Ada korelasi yang nyata antara kejadian rabies pada anjing dan manusia di Kabupaten Bangli tahun 2009 sampai 2014.
Cover, Staf Redaksi & Daftar Isi Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.302 KB)

Abstract

Cover, Staf Redaksi & Daftar Isi
Bentuk dan Kelainan Kuku Sapi Bali yang Dipelihara Dalam Kandang Berlantai Keras Alfanandyah, Zaidany; Widyastuti, Sri Kayati; Utama, Iwan Harjono
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.266 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati bentuk kuku sapi dan jenis-jenis kelainan yang ditemukan pada kuku sapi bali yang dipelihara pada kandang berlantai keras. Penelitian dilakukan pada sapi bali. Sebanyak 100 ekor sapi bali di Kecamatan Gianyar diamati kukunya secara acak. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, jenis kelainan kuku yang ditemukan pada sampel selanjutnya dikelompokkan dan ditabulasikan. Perhitungan persentase dilakukan berdasarkan lokasi terjadinya kelainan bentuk pada kuku yang ada pada sapi bali yang abnormal. Hasil menunjukkan bahwa dari 100 ekor sapi yang diamati terdapat 40 ekor sapi bali yg normal (6 jantan; 34 betina), dan 60 ekor sapi bali yang kuku kaki depan dan kaki belakangnya mengalami kuku panjang. Kuku panjang yang ditemukan pada sapi bali jantan ditemukan sebanyak 4% (> Lateral 3%; > Medial 1%) yang artinya, dari persentase kejadian kasus yang terjadi sebanyak 4% pada kuku bagian lateral sebanyak 3% dan pada kuku medial sebanyak 1% dan pada sapi bali betina ditemukan sebanyak 56% (> Lateral 24%; > Medial 32%) yang berarti dari 56% kejadian kasus, 24% terjadi pada kuku kaki bagian lateral dan 32% pada bagian medial.
Penilaian Penerapan Animal Welfare pada Proses Pemotongan Sapi di Rumah Pemotongan Hewan Mambal Kabupaten Badung Mandala, Aletha Yuliana; Swacita, Ida Bagus Ngurah; Suada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.92 KB)

Abstract

Rumah Pemotongan Hewan (RPH) adalah kompleks bangunan dengan desain tertentu yang dipergunakan sebagai tempat memotong hewan secara benar bagi konsumsi masyarakat luas serta harus memenuhi persyaratan-persyaratan teknis tertentu, termasuk dalam hal penerapan animal welfare sebagai upaya untuk mendukung tercapainya produk pangan yang ASUH (aman, sehat, utuh dan halal). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan animal welfare di RPH Mambal Kabupaten Badung khususnya pada proses pemotongan sapi. Penelitian ini menggunakan 50 ekor sapi yang diamati rata-rata 5-7 ekor per hari selama 10 hari penelitian. Sapi diamati mulai dari diturunkan dari pick up sampai disembelih yang selanjutnya dicatat dalam lembaran kuisioner. Hasil penelitian menunjukan RPH Mambal telah menerapkan animal welfare pada proses sebelum penyembelihan sudah memenuhi persyaratan sebesar 63,04% dan pada proses penyembelihan sebesar 75,96%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan animal welfare di RPH Mambal sudah memenuhi persyaratan 63,04% sebelum penyembelihan dan 75,96% pada proses penyembelihan
Operasi Perbaikan Hernia Umbilicalis pada Anak Babi Landrace dengan Anestesi Kombinasi Xylazine dan Ketamine Putra, I Putu Cahyadi; Gorda, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.801 KB)

Abstract

Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan penanganan kasus hernia umbilicalis pada anak babi landrace dengan menggunakan anestesi kombinasi xylazine dan ketamine. Seekor anak babi ras landrace betina berumur 1,5 bulan dengan bobot badan 9 kg menderita hernia umbilicalis berdiameter 7 cm. Telah dilakukan operasi perbaikan hernia dengan metode memotong kantong hernia, mengembalikan isi hernia, debridement dan menutup cincin hernia. Anestesi yang digunakan adalah kombinasi xylazine (0,5–3 mg/kg) dan ketamine (10–20 mg/kg) diinjeksikan secara intramuskular. Selama operasi berlangsung dilakukan pemeriksaan fisik yaitu denyut jantung, pulsus, respirasi, capillary refill time (CRT) dan suhu rektal. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan pada menit ke-50 merupakan titik terendah turunnya denyut jantung (52 ×/menit), respirasi (40 ×/menit) dan suhu rectal (37,6oC). Hasil penghitungan pulsus selama operasi terpantau sangat berfluktuasi tiap 10 menitnya, pulsus terendah (48 ×/menit) terhitung pada menit ke-30. CRT terhitung dari awal hingga akhir operasi adalah 1–2 detik. Pasca operasi, hewan diberikan terapi amoxicillin (15-20 mg/kg IM/SC q48h) dan Novaldon® (methampyrone 250 mg, pyromidone 50 mg dan lidocaine 15 mg). Hasil operasi menunjukkan hewan mengalami kesembuhan pada hari ke sembilan.
Derajat Keparahan Patologi Usus Dan Paru Babi Penderita Kolibasilosis Meha, Hendrina Konda M; Berata, I Ketut; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.695 KB)

Abstract

Kolibasilosis merupakan penyakit pada babi ditandai dengan adanya diare putih dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh Enterotoxigenic Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi histopatologi derajat keparahan gambaran usus dan paru babi penderita kolibasilosis. Penelitian ini menggunakan 21 sampel preparat histolopatologi kolibalosis yang telah terkonfirmasi positif dengan isolasi dan identifikasi E. coli pada media Eosin Methylene Blue Agar (EMBA). Sampel tersebut diambil dari kasus kolibasilosis yang masuk ke Laboratorium Patologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dari tahun 2009-2013. Preparat diperiksa dibawah mikroskop dengan pembesaran 10X, 40X dan 100X, pada 5 lapang pandang mikroskopik. Variasi derajat perubahan histopatologi yang diamati berupa kongesti, peradangan dan perdarahan dikaitkan dengan umur babi penderita kolibasilosis yaitu umur dibawah 2 minggu, 2-4 minggu dan diatas 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan variasi kongesti dan infiltrasi sel radang pada usus tertinggi terjadi pada umur dibawah 2 minggu sedangkan infiltrasi sel radang pada organ paru tertinggi terjadi pada umur dibawah 2 minggu. Lesi kongesti tertinggi terjadi pada umur 2-4 minggu dibandingkan umur diatas 4 minggu. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa keparahan lesi histopatologi dipengaruhi oleh faktor umur, dimana semakin meningkatnya umur semakin menurun keparahan kolibasilosis.
Kejadian Karang Gigi Pada Anjing Yang Diberi Dog Food Sembiring, Stefani; Yudhi Arjentinia, Putu Gede; Widiastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (1) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.421 KB)

Abstract

Permasalahan gigi pada anjing yang sering ditemukan adalah keberadaan karang gigi. Karang gigi terbentuk biasanya disebabkan oleh pengaruh makanan. Anjing yang diberikan pakan berupa dog food mungkin saja dapat berpengaruh pada keberadaan karang gigi pada anjing tersebut. Dalam penelitian ini terlebih dahulu dilakukan wawancara dengan pemilik anjing untuk mengetahui riwayat medis dari anjing, yaitu umur, ras, dan juga memastikan bahwa sejak lahir memang diberi pakan berupa dog food kering. Pengamatan dilakukan pada 30 anjing yang terdiri dari 16 ekor anjing jantan dan 14 ekor anjing betina yang diberikan pakan dog food kering selama 1-2 tahun. Dari hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa dari 30 ekor anjing yang diamati, 24 ekor anjing positif menunjukan adanya karang gigi, enam ekor anjing tidak menunjukkan adanya karang gigi. Dari 24 ekor anjing yang menunjukkan positif memiliki karang gigi, delapan ekor anjing memiliki tingkat karang gigi yang parah dan 16 ekor anjing memiliki tingkat karang gigi yang ringan. Predileksi karang gigi anjing paling banyak ditemukan secara berurutan pada caninus, premolar 4, molar 1 dan molar 2 terutama pada bagian maksila. Presentase kejadian karang gigi pada anjing yang diberi dog food kering adalah sebanyak 80%.

Page 1 of 2 | Total Record : 12