cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Kajian Pustaka: Sindroma Pendarahan Usus pada Sapi Perah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.164

Abstract

Sindroma pendarahan usus adalah penyakit yang relatif umum pada sapi perah dan sapi potong yang memiliki tingkat kematian yang tinggi. Penyakit ini diklasifikasikan sebagai enteritis akut, sporadis dan necrohemorrhagic. Hal ini biasanya terlihat pada sapi perah yang sangat produktif. Penyebab sindroma pendarahan usus tidak jelas dan patogenesisnya tidak dipahami dengan baik. Namun, Clostridium perfringens tipe A telah diusulkan sebagai agen etiologi utama dan toksin alfa dan beta-2 nya diduga memiliki peran penting dalam terjadinya penyakit sindroma pendarahan usus. Penyakit ini terutama diamati pada tiga bulan pertama laktasi pada sapi perah laktasi. Kesalahan dalam memilih bahan-bahan yang akan digunakan dalam ransum dan fermentasi yang tidak tepat dari pakan yang diberikan tampaknya menjadi faktor predisposisi yang paling penting dalam perkembangan sindroma pendarahan usus. Toksemia berat (enterotoksemia) dan perdarahan hebat di usus kecil menyebabkan perubahan patologis di usus. Pembekuan darah di lumen usus, temuan spesifik dari sindroma pendarahan usus hanya dapat ditunjukkan pada 19% sapi yang terinfeksi. Diagnosis sering didasarkan pada temuan klinis, ultrasonografi, nekropsi dan juga dengan diagnosis banding enteritis hemoragik lainnya yang disebabkan oleh salmonellosis, bovine viral diarrhea, coccidiosis dan lain lain. Dilakukannya bedah laparotomy, penggunaan feed additive, manajemen nutrisi yang baik dan pemberian vaksin dianjurkan untuk pengendalian penyakit.
Kajian Pustaka: Hepatitis pada Anjing Peliharaan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.181

Abstract

Hepatitis merupakan penyakit umum pada anjing yang menyebabkan hilangnya fungsi dan seiring waktu terjadi hilangnya jaringan hati akibat nekrosis dan sirosis. Hepatitis dapat disebabkan karena adanya infeksi virus seperti Canine adenovirus tipe-1 (CAV-1), infeksi parasit seperti Capillaria hepatica, infeksi bakteri seperti leptospirosis, infeksi mikotik yang umum terjadi seperti kandidiasis, histoplasmosis, dan aspergillosis, toksin, dan obat-obatan seperti antikonvlusan atau obat antijamur. Kajian pustaka ini menyajikan 15 laporan kasus hepatitis pada anjing yang ditandai dengan gejala klinis secara umum yaitu penurunan nafsu makan, anoreksia, penurunan bobot badan, muntah, dan diare. Penurunan fungsi pada hati menyebabkan kekuningan/jaundice dan ascites. Pemeriksaan penunjang yang umum digunakan dalam menegakkan diagnosis meliputi pemeriksaan darah, biokimia darah, ultrasonografi (USG), radiografi, dan biopsi. Terapi dalam kasus ini umumnya dilakukan terapi kausatif jika penyebabnya diidentifikasi seperti pemberian antibiotik, terapi simptomatik dengan obat golongan steroid, dan terapi suportif melalui pemberian cairan infus. Prognosis dari hepatitis mulai dari baik hingga buruk dapat terjadi tergantung pada faktor penyebab dan keparahan dari penyakit. Metode yang digunakan pada penulisan artikel ini adalah kajian literatur, dengan sumber yang dapat berasal dari buku, jurnal, dan artikel yang terkait dengan topik hepatitis pada anjing. Hasil kajian literatur mengenai pengobatan untuk hepatitis akut dapat diberikan terapi suportif untuk pemulihan, sedangkan hepatitis kronis idiopatik masih dalam peninjauan. Berbagai macam terapi pengobatan dilakukan dalam pengobatan hepatitis dan didapatkan hasil yang baik dan juga terdapat kematian pada beberapa hewan kasus karena kondisi hewan yang sudah memburuk.
Kajian Pustaka: Faktor-Faktor Risiko Penyakit Mulut dan Kuku pada Hewan Pemamah Biak (Ruminansia) Kecil
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.140

Abstract

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merupakan penyakit akut yang sangat menular. Selain itu, virus penyakit mulut dan kuku diketahui menghambat pertumbuhan dan reproduksi pada hewan ruminansia kecil. PMK merupakan penyakit yang sangat penting karena menyerang ternak ruminansia dengan seroprevalensi keseluruhan sebesar 11,48%. Saat ini, wabah penyakit mulut dan kuku sedang meningkat di Indonesia sehingga tulisan ini diharapkan dapat menjadi informasi yang berguna untuk menekan penyebarannya. Tinjauan pustaka yang digunakan pada studi literatur ini yaitu menggunakan penelusuran pustaka dengan melakukan pencarian artikel jurnal yang terkait dengan topik yang akan dibahas yaitu faktor risiko PMK pada ruminansia kecil dari beberapa sumber seperti artikel-artikel pada Frontiers in Veterinary Science dan Google Scholar. Faktor risiko pada hewan ternak ruminansia kecil yang berhubungan dengan seropositif PMK meliputi agroekologi, sistem produksi, umur, jenis kelamin, kontak dengan satwa liar, iklim, ras, interaksi dengan ternak lain, manajemen, dan sanitasi ternak. PMK diduga awalnya terjadi di Italia Utara pada tahun 1514 dan di Afrika Selatan pada tahun 1780. Penyakit ini memiliki morbiditas yang tinggi hingga 100% dan mortalitas yang rendah. Berdasarkan hasil pustaka ini dapat disimpulkan bahwa ditemukan adanya beberapa faktor risiko penyakit mulut dan kuku pada ruminansia kecil terdapat lima yaitu spesies, ras, umur, jenis kelamin, dan asal hewan. Mengingat terbatasnya penelitian yang telah dilakukan hingga saat, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kejadian penyakit mulut dan kuku terutama pada ruminansia kecil.
Kajian Pustaka: Gambaran Klinik dan Penanganan Pankreatitis Akut pada Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.150

Abstract

Pankreatitis akut adalah kondisi inflamasi yang menimbulkan nyeri abdomen dan enzim pankreas diaktivasi secara prematur dan mengakibatkan autodigestif pankreas. Pankreatitis dapat bersifat akut atau kronis, dengan gejala ringan sampai berat. Dilakukan kajian pustaka dari artikel pankreatitis akut yang dilaporkan di seluruh dunia secara online melalui Google Scholar dan PubMed menggunakan kata kunci pencarian “Pancreatitis”, “Acute Pancreatitis”, “Radiograph”, “USG”, dan “CT-Scan”. Dari sembilan kasus yang dibandingkan, ditemukan kesamaan anamnesis, yaitu nyeri perut dan muntah. Hal ini disebabkan karena pankreatitis akut menimbulkan nyeri karena enzim pankreas diaktivasi secara prematur dan mengakibatkan pankreas mengalami autodigestif. Peneguhan diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan hematologi, pemeriksaan radiografi, ultrasonografi (USG), ataupun dengan computerized tomography scan (CT-scan). Temuan yang muncul adalah area lobulasi jaringan hipoekoik yang abnormal pada lobus pankreas dengan pemeriksaan ultrasonografi serta peningkatan kadar lipase dan protein C-reaktif yang merupakan indikator yang bisa digunakan untuk mengetahui terjadinya pankreatitis akut. Penanganan dan pengobatan dilakukan dengan pemberian terapi cairan, obat anti muntah maropitant, antibiotik ampisilin, antibiotik metronidazol, obat asam lambung omeprazole, dan diet rendah lemak. Laparotomi dilakukan pada dua dari sembilan kasus guna meredakan nyeri pada abdomen. Gastrotomi dilakukan pada kasus enam, yaitu pada anjing betina ras Bull terrier berumur dua tahun akibat adanya benda asing (dua buah karet) pada bagian kardiak lambung. Jika anjing mengalami tanda-tanda klinis mengarah ke pankreatitis harap segera dibawa ke klinik hewan untuk diperiksa dan dilakukan pemeriksaan berupa pemeriksaan darah lengkap, biokimia serum, dan ulrasonografi agar diketahui apabila memang terjadi kasus pankreatitis akut dan bisa diberikan treatment lanjutan sehingga peluang anjing pulih dan selamat lebih besar.
Laporan Kasus: Suspect Gagal Jantung Kongestif Kiri disertai Edema Pulmunom pada Anjing Ras Labrador
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.212

Abstract

Gagal jantung kongestif merupakan keadaan patofisiologi jantung berupa sindrom klinik akibat ketidakmampuan jantung memompa darah untuk memenuhi kebutuhan jaringan. Anjing jantan ras labrador umur 15 tahun dibawa ke klinik Anom Vet dengan keluhan lesu, nafsu makan dan minum menurun, batuk, dan intoleransi latihan. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan gangguan respirasi berupa takipnea, dispnea, batuk, suara krepitasi, dan aritmia. Pada auskultasi thorak terdengar suara krepitasi dari paru dan suara bising disertai aritmia dari jantung. Anjing kasus menunjukkan tanda klinis batuk sekitar lima bulan dan semakin parah seminggu sebelum dilakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan radiografi dengan posisi lateral menunjukkan terjadinya kardiomegali dengan VHS (vertebral heart size): 11,2. Sedangkan pada posisi ventrodorsal menunjukkan perubahan ukuran dan bentuk jantung terutama pembesaran pada ventrikel kiri, peningkatan opasitas (radiopasitas cairan) terutama pada lobus kranial paru, dan arteri pulmonalis lobus kaudal paru lebih hiperekhoik. Berdasarkan anamnesis, hasil pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radiografi anjing kasus diduga mengalami gagal jantung kongestif kiri dengan prognosis infausta. Pengobatan dilakukan dengan menggunakan furosemide (4 mg/kg BB, q12h, selama 8 hari), digoxin (0,25 mg/kg BB, q12h, selama 8 hari), dan captopril (0,25 mg/kg BB, q12h, selama 8 hari). Setelah delapan hari pengobatan, anjing kasus menunjukkan perbaikan kondisi menjadi lebih responsif, berkurangnya frekuensi batuk, dan auskultasi pada jantung membaik tetapi masih terdengar aritmia, sehingga terapi furosemide dihentikan dan hanya dilanjutkan captopril.
Laporan Kasus: Koinfeksi Anaplasmosis, Erhlichiosis, dan Malasezia pada Anjing Golden Retriever
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.273

Abstract

Seekor anjing ras golden retriever berjenis kelamin jantan, berumur tiga bulan, dengan bobot badan 6 kg datang ke klinik Sunset Vet Kuta dengan keluhan anjing tersebut tidak mau makan dan muntah dua kali selama di rumah. Pada pemeriksaan fisik, telinga anjing kasus terlihat kotor dengan warna serumen telinga cokelat kegelapan dan ditemukan caplak Rhipicephalus sp. Pada pemeriksaan hematologi rutin, anjing kasus mengalami anemia hipokromik mikrositik, trombositopenia, limfositopenia, dan leukositopenia. Pada pemeriksaan sitologi sampel serumen telinga ditemukan adanya infeksi Malasezia spp. dan infeksi bakteri berbentuk kokus. Untuk membantu penegakkan diagnosis, dilakukan pemeriksaan rapid test dan uji Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil rapid test pada darah anjing kasus terdeteksi antibodi Anaplasma sp. serta untuk mencegah adanya positif palsu dilakukan pemeriksaan berdasarkan genetik DNA melalui uji PCR, didapatkan hasil positif yang ditunjukan oleh adanya garis pita pada sumur uji Anaplasma sp. dan E. canis serta pada sumur kontrol. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang (laboratorium), anjing kasus didiagnosis mengalami anaplasmosis, ehrlichiosis, dan malaseziosis dengan prognosis fausta. Selama 10 hari, pengobatan yang diberikan yaitu antibiotik doxycycline, obat tetes telinga, vitamin, dan zat besi penambah darah yaitu sangobion dan Chinese Fu Fang Jiao. Pemberian antibiotik doxycycline tetap dilanjutkan sampai hari ke-28 untuk mengatasi inklusi intracytoplasmic. Setelah pengobatan anjing kasus secara klinis tampak sehat.
Laporan Kasus: Ascites Disertai Distensi Vena Abdominalis Akibat Gangguan Fungsi Hati pada Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.223

Abstract

Gangguan fungsi hati merupakan salah satu penyebab yang sering ditemukan pada kasus ascites. Seekor anjing ras campuran betina berumur delapan tahun, dengan bobot badan 6,25 kg mengalami distensi abdomen selama empat bulan dan kesulitan bernapas. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan capillary refill time (CRT) normal, suhu tubuh 39,3°C, frekuensi napas tinggi, dan terdapat distensi vena abdominalis. Hasil pemeriksaan rontgen menunjukkan adanya akumulasi cairan pada abdomen. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan penurunan hemoglobin, mean corpuscular hemoglobin concentration (MCHC), dan platelet. Pemeriksaan biokimia darah menunjukkan peningkatan alanine aminotransferase (ALT), aspartate aminotransferase (AST), blood urea nitrogen (BUN), dan kreatinin, serta penurunan nilai albumin serum. Pemeriksaan cairan abdomen dengan teknik abdominocentesis dan pemeriksaan X-ray diketahui bahwa cairan ascites yang diperiksa tergolong jenis ascites transudatif, yaitu tidak berwarna dan bening. Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis dan penunjang yang dilakukan, anjing kasus disimpulkan mengalami gangguan fungsi hati dengan prognosis dubius. Terapi yang dilakukan adalah terapi simptomatik dengan memberikan obat diuretik furosemid 3,2 mg/kg BB dua kali sehari selama tujuh hari dan terapi suportif dengan multivitamin sebanyak 1 tablet sehari selama tujuh hari serta penggantian pakan dengan dog food Bolt®. Setelah satu minggu perawatan, distensi abdomen berkurang dan frekuensi napas anjing membaik. Walaupun demikian, distensi pada vena abdominalis masih terlihat.
Laporan Kasus: Penanganan Peritonitis Menular Tipe Basah pada Ras Kucing Inggris Berambut Pendek Menggunakan Antivirus Remdesivir
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.285

Abstract

ABSTRAK Seekor kucing ras British shorthair bernama Sultan, umur empat tahun, jenis kelamin jantan, bobot badan 4,41 kg, warna rambut abu-abu dibawa ke klinik Estimo dengan keluhan perut tiba-tiba membesar. Hasil pemeriksaan fisik kucing kasus terlihat lemas, turgor kulit sedikit lambat, sedikit flu, mukosa mata pucat kekuningan dan suhu tubuh mencapai 40,6°C. Pemeriksaan penunjang ultrasonografi (USG) menunjukkan akumulasi cairan dirongga abdomen dan pembesaran ukuran ginjal. Pemeriksaan abdominocentesis menunjukkan akumulasi cairan berwarna kuning keruh dirongga abdomen. dan uji Rivalta menunjukkan hasil positif. Pemeriksaan CBC kucing kasus mengalami anemia mikrositik hipokromik, anemia makrositik, penurunan jumlah limfosit, eosinofil dan basophil, meningkatnya kadar neutrofil dan monosit. Pemeriksaan biokimia darah menunjukkan peningkatan kadar glukosa, globulin, dan AST, serta penurunan kadar kreatinin, presentase albumin/globulin dan ALKP. Berdasarkan anamnesis, tanda klinis, dan pemeriksaan penunjang kucing kasus didiagnosa mengalami feline infectious peritonitis (FIP). Pengobatan yang diberikan adalah sodium chloride 0,9% (IV; selama tiga hari pertama). Hematodin 0,5 mL (IV; q24h; tiga hari pertama). Milk thistle ½ tablet (PO; q24h; 10 hari). Ornipural 1,5 mL (IM; seminggu sekali). Remdensivir 10 mg/kg BB (SC; q24h; 10 hari). mefloquine HCL 10 mg/kg BB (PO; dua kali seminggu). Tolfedin 4 mg/kg BB (IM; q24h; sekali pemberian). Transfer factor plus satu kapsul (PO; q24h; 10 hari). Viusid 0,5 mL (IM; q24h; tujuh hari). Sangobion 0,3 mL (PO; q24h; enam hari). Setelah 11 hari pengobatan, kucing kasus menunjukkan kemajuan kondisi kesehatan yang baik yang ditandai dengan cairan asites semakin berkurang, suhu tubuh kembali normal, makan dengan lahap, minum dengan baik dan kembali aktif. Pengobatan terus dilanjutkan sampai 12 minggu (84 hari) untuk mencegah resiko FIP kembali kambuh.
Laporan Kasus: Skabiosis oleh Notoedres cati dan Otitis Eksterna oleh Otodectes cynotis pada Seekor Kucing Kampung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.233

Abstract

Skabiosis pada kucing merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Notoedres cati, sedangkan otitis eksterna merupakan penyakit telinga pada kucing yang disebabkan oleh Otodectes cynotis. Kucing kasus merupakan kucing domestik bernama Joni, berjenis kelamin jantan, berumur kurang lebih tiga bulan, warna rambut putih dengan bobot badan 0,52 kg. Kucing dibawa ke Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan mengalami gatal yang sudah berlangsung kurang lebih tiga minggu. Kucing kasus mengalami takipnea, hipotermia, serta adanya alopesia dan keropeng di seluruh tubuhnya. Hasil pemeriksaan laboratorium dengan kerokan kulit dan swab telinga menunjukkan adanya N.cati dan O.cynotis. Kucing kasus didiagnosis menderita skabiosis dan otitis eksterna. Terapi yang diberikan pada kucing kasus di antaranya yaitu ivermectin secara injeksi dengan dosis 0,4 mg/kg BB, injeksi diphenhydramine HCl dengan dosis 1mg/kg BB dalam sekali pemberian dan dilanjutkan pemberian cetirizine 2,5 mg/ekor dua kali sehari selama 10 hari per oral yang berfungsi sebagai antihistamin, lalu diberikan amitraz (1 mL dilarutkan dalam 100 mL air) dengan cara dimandikan dengan interval sekali seminggu, obat tetes telinga dengan kandungan ivermectin dan chloramphenicol diberikan sebanyak dua tetes dua kali sehari selama tujuh hari pada telinga yang terinfeksi. Cephalexin 35 mg/kg BB diberikan dua kali sehari selama 10 hari per oral, multivitamin diberikan sebanyak 0,5 mL dua kali sehari selama tujuh hari per oral, dan minyak ikan satu kapsul sekali sehari selama 15 hari per oral sebagai terapi suportif.
Laporan Kasus: Pyometra Pasca Pemberian Pil Kontrasepsi pada Anjing Peranakan Pomeranian Setengah Baya
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.245

Abstract

Anjing betina dengan usia tua sangat rentan terserang penyakit pada saluran reproduksi, salah satunya adalah pyometra. Pyometra adalah akumulasi sekresi purulen pada rongga uterus. Seekor anjing dengan ras campuran pomeranian berwarna hitam dan cokelat, jenis kelamin betina berusia 5 tahun, memiliki bobot badan 7 kg datang dengan keluhan keluarnya leleran purulen dari vagina dan tidak dapat berdiri pada malam sebelumnya. Anjing tidak mau makan dan tidak dapat defekasi sejak satu hari sebelumnya. Anjing pernah diberikan pil kontrasepsi Mycrogynon® dengan kandungan levonorgestrel (hormon progesterone) 0,15 mg dan Ethinylestradiol (hormon estrogen) 0,03 mg per oral sebanyak satu tablet, diberikan satu bulan sebelum diperiksakan. Anjing pernah melahirkan sebanyak dua kali. Pemeriksaan darah rutin menunjukkan anemia non regenerative mikrositik normokromik. Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan ekogenesitas hipoecoic pada uterus anjing. Dari hasil pemeriksaan fisik dan ultrasonografi, anjing didiagnosis mengalami pyometra terbuka. Histopatologi jaringan uterus dan ovarium setelah dilakukan tindakan pembedahan ovariohysterectomy (OH) menunjukkan adanya hiperemi dan infiltrasi sel-sel neutrofil. Terapi pascaoperasi OH diberikan antibiotik amoksisilin 20 mg/kg BB selama 5 hari secara oral, dexamethason 0.15 mg/kg BB diberikan sebagai antiinflamasi selama 5 hari secara oral. Untuk mengatasi anemia diberikan Sangobion® selama 7 hari secara per oral. Setelah perawatan selama 7 hari, kondisi anjing kasus membaik dan nafsu makan kembali normal.