cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Laporan Kasus: Scabiosis pada Anjing Lokal yang Disertai Anemia Defisiensi Zat Besi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.199

Abstract

Seekor anjing lokal berjenis kelamin betina, bernama Layla, berumur 6 bulan memiliki keluhan gatal-gatal pada seluruh tubuh yang telah berlangsung selama dua bulan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya alopesia, eritema, dan krusta pada bagian kaki belakang, kaki depan, kedua telinga, abdomen, dan ekor. Pada pemeriksaan superficial skin scrapping ditemukan tungau Sarcoptes sp. Pemeriksaan hematologi menunjukkan hewan kasus mengalami penurunan pada komponen darah yakni RBC, HGB, HCT, MCV, MCH, dan PLT. Pemeriksaan apusan darah ditemukan adanya inklusi intracytoplasmic pada eritrosit. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang, hewan kasus didiagnosis menderita scabiosis yang disertai anemia defisiensi zat besi dengan prognosis fausta. Terapi yang diberikan berupa ivermectin dengan dosis 300 mcg/kg BB diberikan 0,15 mL (7 hari sekali) selama 28 hari, chlorpheniramine maleate dengan dosis anjuran 2-8 mg/kg BB diberikan satu tablet (dua kali sehari), multivitamin B-kompleks satu tablet (sehari sekali) selama 21 hari, minyak ikan satu tablet (sehari sekali) selama 28 hari, serta dimandikan dengan sampo yang memiliki kandungan sulfur (dua kali seminggu) selama 28 hari. Setelah 4 minggu terapi, hewan kasus menunjukkan perkembangan yang baik ditandai dengan kondisi hilangnya lesi berupa papula, krusta, eritema, dan adanya pertumbuhan rambut halus pada bagian yang mengalami alopesia.
Laporan Kasus: Invasi Lambung oleh Cacing Toxocara canis dan Infeksi Skabies pada Anjing Kacang Berusia Dua Bulan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.258

Abstract

Seekor anak anjing lokal jantan berusia dua bulan dengan bobot badan 2,5 kg diperiksa dengan keluhan pruritus intensitas tinggi pada daerah telinga, ekor, ventral abdomen, dan perianal; alopesia dan eritema bilateral pada daerah telinga, dorsal abdomen sinistra serta dextra, ekstremitas kranial dan kaudal, serta bagian ekor; terdapat papula pada daerah ventral abdomen dan leher; terdapat keropeng pada kedua telinga; bagian dalam kedua telinga kotor; sering menggesek perianal; kulit tubuh berminyak; defekasi dua hari sekali dengan konsistensi tinja padat dan berwarna gelap; dan distensi abdomen. Pemeriksaan penunjang dengan kerokan kulit dan natif feses menunjukkan adanya tungau Sarcoptes scabiei dan telur cacing Toxocara canis. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan anjing kasus mengalami leukositosis dan anemia mikrositik hipokromik. Anjing didiagnosis skabies dan toksokariosis dengan prognosis fausta. Terapi yang diberikan adalah terapi kausatif secara topikal dengan sabun sulfur yang dimandikan dua kali seminggu selama satu bulan, salep sulfur dan asam salisilat yang dioleskan sebanyak dua kali sehari, serta obat cacing pyrantel pamoate (70 mg/kg BB) per oral diulang setelah dua minggu pemberian. Terapi simtomatik berupa antihistamin chlorpheniramine maleate (0,8 mg/kg BB) per oral dua kali sehari selama 10 hari dan antikonstipasi sorbitol (5 mL) dengan metode enema, lalu terapi suportif dengan multivitamin dan multimineral (0,5 tablet) per oral satu kali sehari selama 30 hari. Hasil penanganan selama empat minggu menunjukkan perkembangan kondisi yang sangat baik pada anjing kasus yang ditandai hilangnya eritema, keropeng pada kedua telinga dan intensitas pruritis, terjadinya pertumbuhan rambut, menurunnya jumlah papula pada ventral abdomen, tidak terjadinya distensi abdomen, dan defekasi kembali normal. Selain itu, tidak adanya tungau Sarcoptes scabiei pada kerokan kulit, telur cacing Toxocara canis pada uji natif feses, dan peningkatan hasil hematologi.
Kajian Pustaka: Kasus Intususepsi Ganda pada Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.311

Abstract

Intususepsi ganda adalah invaginasi sebagian usus (intususceptum) ke dalam lumen segmen usus yang berdekatan (intussuscipiens) searah dengan aliran ingesta normal atau kadang-kadang dalam arah yang berlawanan (retrograde). Intususepsi lebih sering terjadi sebagai intususepsi ileokolika, meskipun gastroduodenal, duodenojejunal, jejunojejunal, intususepsi ileoileal dan kolokolika telah dilaporkan kejadiannya pada anjing dan anjing muda. Metode yang dilakukan pada penulisan artikel ini adalah penelusuran literatur. Disajikan 10 kasus anjing yang mengalami muntah akut-kronis, anoreksia, takipnea, diare berdarah, penurunan berat badan, teraba massa abdomen, dan nyeri abdomen. Pada pemeriksaan penunjang seperti USG dan radiografi ditemukan ada massa hipoekoik vaskularisasi usus. Diagnosis intususepsi ganda ditegakkan berdasarkan tanda klinis dan pemeriksaan penunjang. Setelah stabilisasi awal pasien, penanganan bedah dilakukan dengan laparatomi, pada kebanyakan kasus hewan yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda gastrointestinal yang abnormal ataupun mengalami kenaikan berat badan, mengkonfirmasikan keberhasilan pengobatan. Laparotomi eksplorasi yang ditarik mengungkapkan intususepsi. Setelah eksplorasi, diagnosis intususepsi ganda ditegakkan. Pada beberapa kasus setelah 24 jam kemudian anjing meninggal. Pada kasus lain beberapa hari setelah perawatan kondisi anjing membaik ditandai dengan nafsu makan normal, buang air normal serta tidak ada muntah, maka anjing dapat dipulangkan. Pembedahan adalah tindakan yang tepat untuk penanganan intususepsi usus. Dilakukan pencegahan untuk menghindari kejadian penyakit ini yaitu dengan tidak membiarkan hewan makan sembarangan dan selalu menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal hewan.
Laporan Kasus: Penanganan Demodekosis pada Anjing Pomeranian Betina dengan Minyak Mimba dan Zat Keratolitik
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (2) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.2.298

Abstract

Demodekosis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau Demodex sp.. Demodekosis pada kasus ini teramati pada anjing pomeranian betina, berumur dua tahun, dengan bobot tubuh 5,2 kg. Anjing memiliki tanda klinis berupa alopesia, eritema dan scale pada bagian wajah, leher, punggung, dan kaki. Pemeriksaan penunjang dilakukan pada anjing kasus untuk menegakkan diagnosis. Hasil pemeriksaan kerokan kulit yang dalam dan tape skin test ditemukan tungau Demodex sp.. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan anjing kasus mengalami anemia mikrositik normokromik, leukositosis, dan limfositosis. Pengobatan dilakukan dengan pemberian topikal minyak mimba (Azadirachta indica) dan sampo benzoil peroksida. Minyak mimba diberikan dua kali sehari. Setelah diberikan terapi selama satu bulan, anjing kasus menunjukkan kondisi membaik dengan mulai tumbuh rambut pada lokasi lesi dan luka pada bagian tubuh sudah mengering.
Kualitas Daging dan Produk Olahan Daging yang Dijual di Pasar Tradisional Kota Denpasar, Bali Tama, Kevin Tri; Remontara, Al Afuw Niha; Arta, I Komang Wira Kusuma Maha; Dhayanti, Ni Luh Evy; Priharyanthi, Luh Komang Ayu Puteri; Swacita, Ida Bagus Ngurah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (3) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.3.351

Abstract

Kualitas daging adalah ukuran yang penting dalam hal palatabilitas dan penerimaan kepada konsumen. Kandungan gizi yang tinggi dalam daging merupakan media yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroorganisme sehingga menyebabkan daging mudah rusak dan busuk. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui kualitas daging dan produk olahan daging dengan menggunakan sampel yang didapat dari pasar tradisional di Kota Denpasar seperti Pasar Batu Kandik, Pasar Poh Gading, Pasar Badung, dan Pasar Kumbasari. Pengujian ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Epidemiologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Pengujian dilakukan secara subjektif dan objektif. Uji subjektif daging dan olahan daging meliputi warna, aroma, konsistensi, tekstur, tenunan pengikat, serta kepualaman. Uji objektif daging meliputi uji pH, daya ikat air, kadar air, dan cemaran mikrob. Pengujian daging dan olahan daging menunjukkan bahwa warna, aroma, dan konsistensi dalam beberapa sampel dikategorikan normal sesuai dengan jenis daging dan produk daging, kecuali daging ikan dari Pasar Batu Kandik yang konsistensinya berair dan memiliki aroma amis. Tenunan pengikat dan kepualaman daging sapi dan babi masing-masing memiliki mutu II dan 10%, sedangkan daging ayam dan ikan memiliki mutu I dan 0%. Pada uji objektif, kadar pH daging dikategorikan normal berdasarkan jenisnya berkisar 5,4-6,4, sedangkan produk olahan daging seperti bakso berkisar 6-7 dan sosis 6-6,5; daya ikat air berkisar 64,43-83,75%; kadar air berkisar 71,7-81,9%, dan angka lempeng total bakteri (ALTB) 196 x 103-440 x 103 CFU/g. Namun, pertumbuhan Coliform melebihi batas normal dengan nilai 68-222 CFU/g. Hasil dari pengujian tersebut menunjukkan produk olahan daging memiliki kualitas baik. Seluruh daging dari Pasar Poh Gading dan Pasar Batu Kandik memiliki nilai organoleptik yang baik, kecuali daging ikan dari Pasar Batu Kandik. Seluruh daging memiliki nilai cemaran Coliform di atas batas normal kecuali daging ikan dari Pasar Poh Gading.
Pertumbuhan Alometri Lingkar Tubuh Kerbau Jantan Selama Penggemukan di Desa Kalianget, Seririt, Buleleng, Bali Keliat, Dosmonytha Br; Sampurna, I Putu; Nindhia, Tjokorda Sari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (6) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.6.776

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Desa Kalianget, Seririt, Buleleng, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pertumbuhan ukuran lingkar tubuh kerbau yaitu lingkar leher depan, leher belakang, lingkar dada, dan lingkar pinggul kerbau jantan selama penggemukan. Kerbau yang digunakan sebagai objek penelitian adalah kerbau lumpur (Bubalis bubalus) dengan kisaran umur 11-74 bulan. Data diambil dengan teknik sampling jenuh yaitu teknik sampel yang diambil adalah semua kerbau jantan yang digemukkan selama tiga bulan yang memenuhi persyaratan untuk diteliti dari segi kesehatan dan keadaan fisiknya. Pengambilan sampel dilakukan secara bertahap, pada tahap pertama diukur 20 ekor kerbau jantan, selanjutnya setelah satu bulan dilakukan pengukuran tahap kedua, dan selanjutnya tahap ketiga setelah satu bulan tahap kedua dilakukan. Total data yang diperoleh dari ketiga tahap pengukuran sebanyak 60 buah data. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan regresi model power dengan persamaan alometri Y=aXb. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan koefisien korelasi yang nyata antara lingkar tubuh kerbau selama penggemukan. Pertumbuhan dimensi lingkar tubuh dimulai dari lingkar dada, kemudian diikut lingkar pinggul, lingkar leher depan, dan lingkar leher belakang. Lingkar leher depan dan belakang potensi pertumbuhannya lebih tinggi dari pada lingkar dadar dan lingkar pinggul. Dengan mengetahui potensi pertumbuhan lingkar tubuh ternak, maka peternak bisa mengetahui kapan sebaiknya ternak tersebut dipotong.
Laporan Kasus: Sparganosis dan Ankilostomiosis pada Kucing Lokal Burhan, Haris; Batan, I Wayan; Erawan, I Gusti Made Krisna
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.713

Abstract

Sparganosis adalah penyakit zoonosis yang ditularkan melalui makanan yang disebabkan oleh larva plerocercoid (spargana) dari diphyllobothroid cacing pita yang termasuk dalam genus Spirometra sp.. Ankilostomiosis adalah penyakit zoonosis pada anjing dan kucing yang disebabkan oleh parasit yang termasuk dalam genus Ancylostoma sp.. Kucing kasus adalah seekor kucing lokal jantan berusia 3,5 tahun dengan bobot badan 4,1 kg. Pemilik mengeluhkan kucingnya kurang aktif dan tinja agak lunak serta belum pernah diberi obat cacing. Feses kucing kasus konsistensinya agak lunak, dengan skor 3,5. Pada pemeriksaan feses dengan metode natif ditemukan telur Spirometra sp. dan Ancylostoma sp.. Kucing kasus didiagnosis menderita sparganosis disertai ankilostomiosis. Kucing kasus diobati dengan menggunakan Caniverm® kaplet sebanyak 1/2 kaplet diberikan secara peroral dua kali dengan selang waktu tujuh hari. Evaluasi kucing setelah 10 hari pascaterapi terjadi perubahan feses dari skor 3,5 ke skor 2 terbentuk dengan baik dan tidak meninggalkan bekas saat diambil. Setelah 10 hari pascapengobatan dilakukan pemeriksaan feses dengan metode natif tidak ditemukan telur cacing. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan laboratorium dapat disimpulkan bahwa kucing kasus mengalami sparganosis disertai ankilostomiosis dengan prognosis fausta. Terapi kausatif dengan Caniverm® menunjukkan hasil yang baik. Pemeriksaan laboratorium pendukung lainnya yaitu hitung darah lengkap, yang menunjukkan bahwa kucing kasus tersebut mengalami trombositopenia. Dalam kasus ini tidak diberikan obat steroid yang membuat sistem kekebalan tubuh berhenti menyerang dan menghancurkan platelet, karena trombositopenia ringan bisa sembuh dengan sendirinya. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk mendiagnosis dan mengetahui efektivitas pengobatan pada kucing lokal yang mengalami penyakit sparganosis dan ankilostomiosis.
Laporan Kasus : Penyakit Saluran Perkencingan Bagian Bawah pada Kucing Peranakan Persia yang disebabkan Struvite Firdaus, Ihanul; Soma, I Gede; Jayanti, Putu Devi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (3) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.3.373

Abstract

Penyakit saluran perkencingan bagian bawah pada Kucing atau Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada saluran urinasi kucing. Salah satu penyebab terjadinya penyakit tersebut adalah adanya urolith atau batu kemih. Seekor kucing jantan peranakan persia dengan rambut berwarna oranye belum disteril umur 2,5 tahun dan bobot badan 3,5 kg datang dan diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan anoreksia, pasif, distensi abdomen, stranguria, hematuria, dan anuria. Pemeriksaan laboratorium hematologi rutin kucing mengalami leukositosis dan hasil ultrasonografi/USG menunjukkan terdapat endapan partikulat yang tampak hyperechoic pada vesika urinaria. Berdasarkan uji sedimentasi urin diidentifikasi adanya kristal struvite (magnesium ammonium phosphate) dan hasil uji dipstick didapatakan bobot jenis/spesific gravity (1,020), pH (8), leukosit (2+), nitrit (positif), protein (2+), glukosa (3+), bilirubin (1+), dan darah/hemoglobin (4+). Penanganan yang dilakukan yaitu dengan pemasangan kateter urin, pemberian antibiotik cefotaxime 10 mg/mL, antibiotik cefadroxil monohydrate syrup 125 mg/5mL 22 mg/kg BB selama tujuh hari, pemberian antiinflamasi dexamethasone 0,5 mg dosis terapi 0,15 mg/kg BB selama tiga hari, dan pemberian obat herbal kejibeling satu tablet secara per oral, satu kali sehari selama tujuh hari. Hasil yang didapatkan adalah kucing kasus setelah diterapi terlihat tidak mengalami kesulitan urinasi dan tidak menunjukkan tanda klinis hematuria.
Kajian Pustaka: Upaya Menelan Berlebihan dan Regurgitasi pada Anjing Penderita Akalasia Krikofaringealis Mahaputra, I Made; Juniartini, Wieke Sri; Bolla, Nelci Elisabeth; Nazara, Agustina Lesmauli; Robi, I Made; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.619

Abstract

Krikofaringeal akalasia adalah gangguan menelan langka dari sfingter esofagus bagian atas pada anjing dan hewan muda lainnya. Tanda klinis yang umum terjadi pada anjing yang terkena krikofaringeal akalasia adalah disfagia, regurgitasi setelah berusaha menelan, batuk, hipersalivasi, refluks hidung, nafsu makan menurun sehingga pertumbuhan buruk. Krikofaringeal akalasia merupakan kondisi yang jarang terjadi pada anjing, tetapi harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding dalam kasus disfagia dan regurgitasi. Krikofaringeal akalasia merupakan salah satu penyebab disfagia orofaringeal yang langka ditandai dengan ketidakmampuan untuk melewatkan bolus ke dalam esofagus cervical akibat kegagalan membuka sfingter esofagus bagian atas. Kejadian krikofaringeal akalasia dapat disebabkan oleh hipertrofi krikofaringeal atau myositis atau atrofi yang menyebabkan ketidakmampuan fisik pada esofagus bagian atas. Secara histologis dari fragmen otot menunjukkan myositis neutrofilik fokal dan atrofi otot. Anjing penderita krikofaringeal akalasia dilaporkan memiliki penyakit penyerta seperti hipertiroidisme dan pneumonia. Penanganan krikofaringeal akalasia dapat dilakukan dengan pendekatan bedah myectomy dan pascaoperasi dapat diberikan opioid, antibiotika, dan dexamethasone. Prognosis dapat diberikan baik pada kasus krikofaringeal akalasia yang terdeteksi lebih awal dengan kondisi hewan yang baik. Sedangkan prognosis tanpa perawatan bedah biasanya buruk karena kesulitan dalam memelihara dan mengendalikan pneumonia aspirasi secara efektif pada hewan. Sebanyak lima laporan kasus krikofaringeal akalasia pada anjing dipilih dan rekam medisnya dijadikan sebagai sumber informasi untuk kajian pustaka.
Prevalensi Protozoa Gastrointestinal Eimeria spp. Pada Sapi Bali Di Baturiti, Tabanan, Bali Hutapea, Maria Anastasia; Apsari, Ida Ayu Pasti; Kencana, Gst Ayu Yuniati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.517

Abstract

Ternak sapi potong merupakan salah satu komoditas peternakan yang menjadi tumpuan pemerintah Indonesia. Salah satu jenis sapi potong yang terkenal di Indonesia adalah sapi bali sehingga keberadaannya perlu dilestarikan karena merupakan plasma nutfah asli Indonesia. Upaya yang bisa dilakukan untuk melestarikan sapi bali adalah dengan menjaga kesehatan melalui pencegahan dan penanggulangan penyakit. Ternak sapi bali sangat mudah terinfeksi penyakit, salah satu di antaranya penyakit yang disebabkan oleh parasit. Infeksi parasit dapat mengakibatkan lambatnya pertumbuhan sapi terutama pada ternak muda. Salah satu infeksi parasit pada sapi adalah infeksi protozoa gastrointestinal. Infeksi protozoa gastrointestinal masih menjadi faktor yang mengganggu kesehatan sapi bali dan dapat menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi protozoa gastrointestinal Eimeria spp., yang menginfeksi sapi bali. Sampel penelitian berupa feses segar sapi bali berjumlah 60 sampel yang diambil di Kelompok Tani Suka Dharma Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Feses sapi yang berhasil dikumpulkan selanjutnya diperiksa dengan metode konsentrasi apung menggunakan larutan gula sheater. Prevalensi protozoa gastrointestinal dihitung dengan cara, jumlah sampel terinfeksi dibagi jumlah sampel yang diperiksa kemudian dikalikan 100%. Hasil penelitian didapatkan prevalensi protozoa gastrointestinal Eimeria spp. yang menginfeksi sapi bali di Baturiti, Tabanan, Bali adalah 28,33%.