cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Kajian Pustaka: Gangguan Pencernaan Akibat Indigesti Vagus pada Ruminansia Besar dan Kecil
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.956

Abstract

Gangguan pencernaan vagus atau indigesti vagal pada ruminansia adalah suatu kondisi yang berhubungan dengan gangguan fungsional lambung depan atau omasum. Gangguan tersebut yang mengakibatkan kerusakan total atau parsial akibat kompresi atau peradangan saraf vagus. Terdapat dua jenis gangguan indigesti vagal yaitu stenosis fungsional proksimal antara retikulum dan omasum, dan stenosis fungsional distal antara abomasum dan duodenum. Indigesti vagal dapat disebabkan oleh berbagai hal diantaranya adanya benda asing dalam saluran pencernaan, perkembangan kebuntingan, phytobenzoar, fibropapiloma, hemangioma hati, abses retikuler, volvulus abomasum kanan, impaksi abomasum, abses hati, impaksi omasum, perikarditis, dan penyakit idiopatik. Dari enam laporan kasus yang dikaji, umumnya ruminansia yang terserang meliputi sapi, kerbau, kambing, dan domba. Tanda klinis pada hewan pemamahbiak yang mengalami indigesti vagal yaitu adanya distensi abdomen pada daerah legok lapar kiri atau fossa paralumbar sinistra yang berbentuk papple. Diagnosis indigesti vagal dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah lengkap, biokimia darah, pemeriksaan cairan rumen, dan tes atropin. Penanganan pada hewan yang mengalami indigesti vagal dilakukan dengan mengeluarkan isi rumen melalui prosedur rumenotomi atau laparorumenotomi. Pengobatan yang umumnya diberikan yaitu antibiotik spektrum luas, terapi cairan tubuh menggunakan natrium klorida, kalium klorida, dan kalsium serta pemberian analgesik yang diberikan secara parenteral.
Laporan Kasus: Dermatitis Akibat Infeksi Jamur Curvularia sp., Penicilium sp., dan Aspergillus sp. pada Anjing Kampung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.922

Abstract

Dermatitis akibat infeksi jamur merupakan salah satu gangguan kulit yang sering terjadi pada anjing yang disebabkan oleh infeksi berbagai jenis jamur. Gejala klinis akibat dermatitis berupa gabungan klinis dari lesi primer dan sekunder. Seekor anjing kampung berumur 3,5 bulan mengalami masalah kulit dengan tanda klinis gatal-gatal. Sebelumnya anjing tersebut sudah pernah diberikan obat sarolaner yang merupakan obat anti ektoparasit. Pemeriksaan kulit menunjukan adanya alopesia, eritrema, dan kulit yang berminyak. Pemeriksaan pada kerokan kulit dilakukan secara deep skin scrapping, tapi tidak ditemukan adanya ektoparasit. Pada pemeriksaan tape smear dan diamati di bawah mikroskop cahaya ditemukan adanya hifa jamur berbentuk tabung dan memiliki sekat, sehingga dilanjutkan dengan melakukan kultur jamur pada media Sabourd Dextrose Agar (SDA) dan ditemukan pertumbuhan jamur Curvularia sp., Penicillium sp., dan Aspergillus sp. Pemeriksaan hematologi menunjukan hewan mengalami anemia mikrositik hipokromik, leukositosis, monositosis, eosinofilia dan neutropenia. Anjing kasus didiagnosis dermatitis akibat infeksi jamur. Pengobatan diberikan secara kausatif, simptomatif, dan suportif. Pengobatan secara kausatif diberikan berupa anti-jamur itraconazole 100 mg PO selama 14 hari. Pengobatan simptomatif diberikan anti-radang cetirizine 10 mg PO selama 14 hari dan antihistamin diphenhydramine HCl 20 mg/mL SC. Pengobatan suportif diberikan fish oil 500 mg PO selama 14 hari, dan sabun sulfur secara topikal untuk dimandikan dua sampai tiga kali dalam seminggu. Evaluasi 14 hari pascaterapi kondisi anjing kasus membaik dengan pruritus mulai berkurang. Eritrema sudah mulai menghilang secara perlahan. Kulit superfisial yang awalnya berminyak juga sudah mulai menghilang secara signifikan. Rambut sudah mulai tumbuh secara signifikan.
Kajian Pustaka: Penanganan Megakolon Idiopatik pada Kucing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.937

Abstract

Kucing rentan terhadap beberapa gangguan sistem pencernaan seperti megakolon. Megakolon merupakan suatu kondisi abnormalitas dilatasi dari kolon dan rendahnya motilitas dari kolon, hal ini biasanya dihubungkan dengan adanya akumulasi material feses yang tidak dapat dikeluarkan. Kasus ini jarang dilaporkan pada anjing, akan tetapi sering dilaporkan terjadi pada kucing. Megakolon dapat terbentuk oleh beberapa penyebab, baik primer ataupun sekunder. Salah satu penyebab sekunder adalah obstructive lessions yang pada umumnya adalah fraktur tulang pelvis. Penyebab potensial lainnya termasuk kanker pada usus besar atau komplikasi yang terkait dengan operasi usus sebelumnya. Kucing yang mengalami megakolon menunjukkan tanda klinis seperti sulit buang air besar, adanya darah dalam feses, feses keras dan kering, atau tidak adanya defekasi. Diagnosis megakolon didasarkan pada riwayat pasien, pemeriksaan klinis, dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang radiografi bagian abdomen. Kucing penderita biasanya memiliki riwayat lesu, nafsu makan berkurang, dan kegagalan untuk buang air besar dalam periode waktu yang panjang. Penanganan dari kasus megakolon dapat dilakukan secara konservatif seperti terapi medis atau pembedahan. Manajemen konservatif mencakup pemberian obat pencahar, enema, dan evakuasi digital tinja dari dalam kolon, sedangkan untuk pembedahan dapat dilakukan koloplasti, kolektomi total atau kolektomi parsial.
Kajian Pustaka: Kasus Cyathostominosis pada Gastrointestinal Kuda
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.966

Abstract

Cyathostominosis merupakan infeksi parasit cacing yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem gastrointestinal kuda. Kejadian penyakit ini umum dilaporkan pada kuda di seluruh dunia. Saat ini dianggap sebagai parasit usus yang paling banyak menyerang kuda, lebih sering terjadi pada kuda usia muda yang belum terbentuk kekebalan tubuhnya. Penyakit ini disebabkan oleh cacing Cyathostomins (cacing benang) yang berpredileksi pada mukosa usus besar. Larva 3 infektif menulari kuda melalui rute ingesta kemudian bermigrasi menuju mukosa usus besar untuk berkembang menjadi cacing dewasa dan menimbulkan gangguan. Periode prepaten cacing ini adalah 1-2 bulan. Keparahan infeksi berkaitan dengan usia hewan. Kuda muda berumur 2-3 tahun lebih mudah tertular dan mengalami infeksi cukup berat dibandingkan dengan usia yang lebih dewasa. Tanda-tanda klinis yang umum adalah diare, dehidrasi, edema subkutan, kolik intermiten, dan penurunan bobot badan. Dari enam kasus yang dilaporkan menunjukkan gejala klinis yang hampir sama yaitu diare, kolik, anoreksia, dan lemah. Pada kasus kedua hewan menunjukkan adanya gejala gangguan neurologis yaitu kepincangan pada kedua kaki depan dan kaki belakang kiri. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis cyathostominosis pada kuda yaitu analisis hematologi dan biokimia darah, pemeriksaan ultasonografi, dan pemeriksaan feses. Pencegahan dan pengobatan melalui pemberian anthelmintik disarankan untuk mencegah penyebaran dan menekan populasi cacing.
Kajian Pustaka: Penyumbatan Saluran Pencernaan Akibat Bola Rambut (Trichobezoar) pada Kucing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imx.2022.11.6.1013

Abstract

Trichobezoar adalah kumpulan rambut di dalam saluran pencernaan. Menelan rambut dianggap fisiologis normal pada kucing karena kebiasaan menjilat rambutnya dan struktur lidahnya yang berduri. Biasanya rambut ini melewati saluran pencernaan dan dikeluarkan dalam feses. Namun, trichobezoar kadang-kadang dapat terperangkap di dalam saluran pencernaan ketika ada kelebihan rambut yang tertelan atau perubahan motilitas pada saluran cerna bagian atas. Trichobezoar yang terperangkap telah dilaporkan di nasofaring, esofagus, lambung hingga usus menyebabkan obstruksi baik parsial atau obstruksi secara menyeluruh. Tanda-tanda klinis yang umum akibat trichobezoar pada saluran pencernaan seperti muntah intermiten, regurgitasi, dispnea, hipersalivasi, terkadang disertai dengan nyeri pada abdomen, dehidrasi, kurang nafsu makan, dan dermatitis pruritus akibat infeksi ektoparasit. Dari 10 kasus yang dilaporkan, penyakit ini menyerang kucing baik berjenis kelamin jantan maupun betina yang telah di steril dengan tanda klinis dehidrasi, teraba adanya massa pada organ yang mengalami obstruksi, muntah, infeksi kutu, rambut kusam dan kurang terurus, serta anoreksia. Kucing yang mengalami obstruksi akibat trichobezoar memiliki rentang umur 7 bulan hingga 15 tahun. Diagnosis trichobezoar dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang seperti radiografi, ultrasonografi, pemeriksaan darah, dan laparotomi eksplorasi. Pencegahan terbentuknya trichobezoar melibatkan manajemen dari penyakit yang mendasari akumulasi rambut di saluran pencernaan. Penanganan untuk trichobezoar dengan ukuran yang besar dilakukan melalui tindakan pembedahan untuk mengangkat trichobezoar.
Kajian Pustaka: Penanganan Gastrointestinal Benda Asing Linear dan Non-Linear pada Kucing dan Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.979

Abstract

Kucing memiliki sifat kecenderungan untuk bermain dan/atau mengunyah benda-benda non-makanan (seperti mainan) tersebut dan dalam proses melakukannya, benda-benda ini besar kemungkinannya dapat tertelan secara tidak sengaja. Kucing dapat menelan benda asing (foreign bodies) sehingga dapat menyebabkan obstruksi pada saluran pencernaan, hal ini merupakan salah satu gangguan pencernaan paling umum yang memerlukan perawatan dan tindakan bedah darurat. Obstruksi gastrointestinal dapat memengaruhi dan mengakibatkan gangguan pada keseimbangan cairan, status asam-basa, dan konsentrasi elektrolit serum karena hipersekresi dan sekuestrasi dalam saluran pencernaan yang diperburuk oleh muntah, gangguan asupan cairan, dan nutrisi oral. Gastrointestinal akibat benda asing menunjukkan persentase klinis yang bervariasi dalam praktik kedokteran hewan. Obstruksi benda asing pada bidang linear, dapat mengakibatkan penyakit kronis, intermittent gastrointestinal pada kucing. Penyebab obstruksi pada kucing meliputi tumor (lomfosarkoma, adenosarkoma, tumor sel mast), benda asing, intususepsi, volvulus, torsi usus, hernia, abses intramural, granuloma atau hematoma, dan malformasi kongenital. Dalam mendiagnosis dapat dilakukan dengan palpasi abdomen bila ditemukan kecurigaan adanya massa pada abdomen, namun biasanya dibutuhkan juga diagnosis lainnya untuk menemukan etiologinya. Diagnosis ini termasuk radiografi abdomen, ultrasonografi, studi kontras, endoskopi, dan eksplorasi laparotomi. Pendekatan gastrotomi dan enterotomi dengan menjahit area nekrotik kecil menjadi alternatif yang valid. Beberapa enterotomi biasanya diperlukan untuk pengangkatan benda asing linear.
Kajian Pustaka: Intestinal Volvulus pada Anjing
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6.992

Abstract

Intestinal volvulus merupakan kelainan yang langka terjadi pada anjing yang melibatkan rotasi intestinal pada ujung mesenterium dan menyebabkan oklusi arteri mesenterika. Obstruksi arteri dapat menyebabkan iskemia (keadaan kurangnya aliran darah ke organ tubuh yang mengakibatkan organ tersebut kekurangan oksigen) pada duodenum distal, jejunum, ileum, sekum, kolon asending, dan kolon desending proksimal. Iskemia dapat berujung pada terjadinya nekrosis usus besar, pelepasan toksin, dan syok. Pada anjing, kejadian ini adalah langka. Penyebab spesifik untuk volvulus mesenterika pada anjing biasanya tidak terlihat, tetapi telah dilaporkan berhubungan dengan infeksi cacing, infeksi parvovirus, intususepsi, olahraga berat, trauma perut tertutup, bersamaan dilatasi lambung-volvulus, benda asing gastrointestinal, enteritis limfositik-plasmasitik, karsinoma ileokolika, dan insufisiensi eksokrin pankreas. Gejala klinis dari volvulus intestinal adalah sakit pada bagian abdominal, distensi abdominal, hematocheziam, membran mukosa pucat, takikardia, pulsus lambat, dan yang paling parah adalah kematian. Diagnosis volvulus pada usus dapat ditegakkan berdasarkan pada riwayat pasien, temuan pemeriksaan klinis, serta pemeriksaan radiografi abdominal. Pengobatan yang dilakukan yaitu bedah laparatomi, pada bagian yang mengalami volvulus direposisi. Selanjutnya dilakukan penjahitan kolon pada dinding abdomen dan dilakukan juga tindakan menjahit sekum ke dinding abdomen. Tindakan enterektomi dilakukan jika usus mengalami nekrosis. Dari hasil penanganan ke tujuh kasus tersebut, dua kasus di antaranya hewan tidak bisa diselamatkan dan lima kasus setelah dilakukan operasi kondisi anjing-anjing tersebut membaik.
Kajian Pustaka: Kasus Oxyuris equi pada Kuda dan Pengobatannya
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (6) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.6. 1002

Abstract

Oxyuris equi atau bisa disebut cacing kremi pada kuda, diklasifikasikan ke dalam famili Oxyuridea. Cacing ini terdistribusi secara global dan ditemukan hampir pada setiap benua. O. equi lebih umum ditemukan pada kuda pekerja dibandingkan dengan kuda hiburan dan kuda olahraga. Infeksi dimulai ketika kuda yang rentan menelan larva infektif dari lingkungan. Telur yang tertelan menetas di usus halus, L3 berkembang di sekum dan usus besar lalu menyerang kripta Lieberkuhn. Sekitar 3-11 hari, L4 menempel pada mukosa usus besar yang selanjutnya berkembang menjadi L5 dan menjadi dewasa hingga sekitar 100 hari. Sebanyak 10 kasus kuda yang terinfeksi O. equi mengalami gatal, anoreksia, eritema, edema, alopesia pada daerah perineum, menggosok-gosokkan pantatnya pada dinding kandang, dan pruiritus ditemukan pada daerah perineal bagian kiri dan kanan. Metode yang digunakan pada penulisan artikel ini adalah penulusuran literatur. Penulusuran pustaka dilakukan dengan pencarian data dari buku, jurnal, dan artikel terkait dengan topik yang akan dibahas dari beberapa sumber pangkalan data seperti Google Scholar, PubMed, ResearchGate, Elsevier, dan Sage Journal dengan kata kunci “Case report of Oxyuris equi in horse”. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah hematologi, pemeriksaan parasitologi, dan pemeriksaan biokimia. Diagnosis ditegakkan berdasarkan tanda klinis dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan parasitologi dengan cara metode skin scrapping. Setelah eksplorasi, ditegakkan diagnosis bahwa kuda tersebut terinfeksi oleh O. equi. Pengobatan menggunakan pirantel, oxfendazole, dan mebendazole dinilai efektif untuk membunuh cacing O. equi. Beberapa hari setelah perawatan, kuda dinyatakan sehat dan terbebas dari infeksi cacing O. equi. Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengetahui etiologi, siklus hidup, patogenesis, gejala klinis, serta cara pengobatan pada kuda yang terinfeksi oleh cacing O. equi.
Gambaran Sel Darah Merah Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis) pada Lingkungan Kering di Letekonda Selatan, Loura, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.32

Abstract

Kerbau (Bubalus bubalis) merupakan salah satu ternak ruminansia yang dipelihara oleh para peternak yang berfungsi sebagai penghasil daging, ternak kerja, serta sarana upacara adat dan keagamaan. Pemeriksaan kondisi kesehatan kerbau sangat penting dilakukan untuk mempertahankan populasi. Pemeriksaan darah salah satu indikator yang digunakan dalam menunjang diagnosis terhadap suatu penyakit. Penelitian tentang gambaran darah pada kerbau betina dewasa di Indonesia belum banyak dilaporkan, khususnya pada kerbau yang dipelihara di lingkungan kering. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran sel darah merah kerbau lumpur betina dewasa yang dipelihara pada lingkungan kering. Sampel yang digunakan adalah sampel darah dari 20 ekor kerbau dewasa dengan jenis kelamin betina yang berasal dari Desa Letekonda Selatan, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Pengambilan darah dilakukan pada vena jugularis dan darah yang telah diambil kemudian dimasukkan ke dalam tabung berisi antikoagulan Ethylene Diamine Tetraacetic Acid (EDTA). Pemeriksaan sel darah merah dilakukan menggunakan Hematology Analyzer di Balai Besar Veteriner Denpasar. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa gambaran sel darah merah kerbau betina dewasa diperoleh hasil total eritrosit (6,29 ± 0,98 x 106/µL), hemoglobin (12,96 ± 1,12 g/dL), hematokrit (34,35 ± 3,33%), MCV (50,72 ± 4,50 fL), MCH (20,87 ± 2,26 pg), dan MCHC (41,11 ± 1,32%). Nilai parameter yang telah diperoleh dapat dijadikan acuan profil sel darah merah pada kerbau yang dipelihara di Indonesia khususnya di daerah kering.
Laporan Kasus: Penanganan Prolapsus Bulbus Oculi Dekstra pada Kucing Kampung dengan Enukleasi Transpalpebral
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.90

Abstract

Prolapsus bulbus oculi merupakan keluarnya bola mata dari rongga mata yang dapat disertai perdarahan subkonjungtiva sampai dengan putusnya nervus optikus. Kucing kampung dengan jenis kelamin jantan, bernama Oncom, berumur 2,5 bulan memiliki bobot badan 0,7 kg mengalami penonjolan pada bola mata kanan hingga tampak keluar, mata tersebut berwarna merah kehitaman (hifema), abnormalitas struktur mata dan lakrimasi yang disertai cairan eksudat. Pemeriksaan hematologi menunjukkan leukositosis, limfositosis, trombositopenia dan anemia mikrositik hiperkromik. Kucing ini ditangani dengan tindakan pembedahan yaitu enukleasi pendekatan transpalpebral. Enukleasi merupakan tindakan pembedahan untuk mengangkat keseluruhan bola mata, tindakan ini dilakukan karena kelainan mata pada kucing dimana kasus tersebut tidak bisa disembuhkan oleh terapi obat-obatan. Sebelum dilakukan pembedahan diberikan premedikasi atropine sulfate (0,04 mg/kg BB) secara subkutan, lalu 15 menit kemudian diinduksi dengan kombinasi ketamin (33 mg/kg BB) dan xylazin (2 mg/kg BB) secara intravena. Pasca operasi hewan diberikan terapi antibiotik cefotaxime (20 mg/kg BB) secara intravena dan antiinflamasi tolfedine (4 mg/kg BB) secara intramuskuler, dilanjutkan dengan pemberian antibiotik cefixime (8 mg/kg BB) dan meloxicam (0,1 mg/kg BB) secara peroral selama lima hari. Berdasarkan hasil pengamatan luka hingga hari ketujuh, luka insisi masih belum mengering sempurna tapi proses penyembuhan luka berjalan baik dan tanpa disertai infeksi pada daerah luka. Namun, pada hari kedelapan kucing mengalami kematian.