cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Laporan Kasus: Infeksi Canine parvovirus Tipe Enteritis pada Anak Anjing Kacang dengan Induk yang Divaksinasi Lengkap
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.42

Abstract

Seekor anjing Kacang jantan bernama Sapi, berumur tiga bulan, bobot badan 5,43 kg, berwarna putih cokelat dengan postur badan tegap datang ke Estimo Petshop & Clinic dengan keluhan tidak nafsu makan, muntah, diare berdarah, dan lemas selama tiga hari sebelum dibawa ke klinik. Anjing tidak memiliki riwayat vaksin dan pemberian obat cacing. Induk anjing sudah divaksin lengkap. Pemeriksaan klinis anjing kasus menunjukkan frekuensi detak jantung, frekuensi pulsus, napas dan suhu tubuh normal, serta Capillary Refill Time (CRT) di atas dua detik. Selain itu turgor kulit lambat, mukosa pucat, responss muntah saat palpasi lambung, dan saat palpasi abdomen terasa kosong. Pemeriksaan hematologi lengkap menunjukkan anjing mengalami anemia mikrositik hiperkromik dan terjadi peningkatan jumlah limfosit. Pemeriksaan test kit parvovirus positif dan pemeriksaan feses negatif. Penanganan dilakukan dengan terapi cairan sodium klorida dan pemberian hematodin 0,4 mL (dua kali sehari) selama lima hari untuk penanganan anemia. Penanganan muntah dilakukan dengan memberikan Metoclopramide HCl 1 mL (dua kali sehari) selama lima hari. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis definitif adalah pemeriksaan hematologi lengkap, tes kit parvovirus, dan pemeriksaan feses. Pencegahan dari infeksi sekunder dilakukan dengan pemberian Metronidazole 10 mL (dua kali sehari) selama lima hari. Setelah lima hari menjalani perawatan, anjing diperbolehkan pulang karena menunjukkan peningkatan kondisi tubuh.
Laporan Kasus: Penanganan Kelopak Mata Ketiga Unilateral yang Menonjol pada Anjing Kacang dengan Metode Eksisi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.102

Abstract

Seekor anjing Kacang, berjenis kelamin jantan, berumur 14 bulan, dengan bobot badan 7,8 kg diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Anjing dibawa dengan keluhan terdapat benjolan berwarna merah muda pada sudut medial mata kanan. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan adanya kelainan berupa penonjolan kelopak mata ketiga atau dikenal dengan cherry eye. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan bahwa anjing dalam keadaan baik, sehingga dilanjutkan dengan tindakan pembedahan terhadap kelopak mata ketiga. Premedikasi dilakukan dengan pemberian atropine sulfate dengan dosis 0,02 mg/kg bobot badan, sediaan 0,25 mg/mL sehingga diberikan sebanyak 0,6 mL secara subkutan. Kemudian diinduksi anestesi ketamine dosis 10 mg/kg bobot badan, sediaan 100 mg/mL sehingga diberikan sebanyak 0,8 mL dan xylazine dosis 1 mg/kg bobot badan, sediaan 20 mg/mL sehingga diberikan 0,4 mL. Pemberian anestesi ketamine dicampur dalam satu spuit dengan xylazine dan diinjeksi secara intramuskuler. Metode operasi yang dilakukan yaitu metode eksisi atau pengangkatan kelopak mata ketiga. Perawatan pascaoperasi diberikan dengan salep mata chlorampenicol 1% (3 kali sehari) selama lima hari pemberian. Hasil evaluasi menunjukkan terjadinya peradangan sampai hari ketiga pascaoperasi. Hari keempat pascaoperasi, tidak ditemukan adanya indikasi radang pada mata kanan anjing yang mengalami pembedahan.
Perbedaan Titer Antibodi Penyakit Tetelo pada Ayam Pedaging yang Divaksinasi Umur Satu Hari dan 14 Hari
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.1

Abstract

Virus penyakit tetelo atau Newcastle Disease (ND) yang termasuk dalam famili paramyxoviridae ini dapat menyebabkan penyakit yang dikenal dengan nama tetelo di masyarakat. Strategi utama untuk mencegah munculnya penyakit tetelo adalah dengan vaksinasi yang baik. Vaksinasi ND pada ayam pedaging umur satu hari yang dilakukan oleh perusahaan pembibitan ayam masih dapat menyebabkan terjadinya kasus ND pada peternakan komersial di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan titer antibodi ND pada ayam pedaging yang divaksinasi umur satu hari oleh pabrik pembibitan dan umur 14 hari dengan vaksin ND aktif. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap pola tersarang dengan menggunakan 30 ekor ayam pedaging umur satu hari yang dibagi menjadi tiga, yaitu ayam pedaging yang tidak divaksinasi (P0), yang divaksinasi pada umur satu hari oleh perusahaan pembibitan ayam (P1), dan yang divaksinasi umur 14 hari (P2). Vaksin ND aktif yang digunakan yaitu vaksin ND Hitchner B1. Ayam pedaging dipilih secara acak, selanjutnya untuk P1 diambil darahnya pada umur 7, 14, dan 21 hari setelah vaksinasi, P2 pada umur 14 hari sebelum vaksinasi, umur 21, 28, dan 35 hari setelah vaksinasi, serta P0 umur tujuh, 14, 21, 28, dan 35 hari melalui vena brachialis. Serum yang diperoleh diperiksa secara serologis dengan uji hambatan hemaglutinasi (HI). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dengan taraf signifikansi 95% dan dilanjutkan dengan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kenaikan titer antibodi ND yang signifikan pada perlakuan P1 dengan rerata secara berturut-turut 5,5; 3,9; 2,6 pascavaksinasi dibandingkan dengan perlakuan P2 dengan rerata secara berturut-turut 7,5; 5,5; 3,0 pascavaksinasi. Hasil analisis regresi secara statistik membuktikan perlakuan P2 memiliki lama fase protektif (titer antibodi ? 4 HI log 2) lebih panjang dibandingkan dengan perlakuan P1.
Laporan Kasus: Gagal Jantung Kongestif pada Anjing Shih-Tzu
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.55

Abstract

Gagal jantung kongestif atau congestive heart failure (CHF) adalah suatu kondisi patologis ketika jantung tidak dapat menjalankan fungsinya dalam memompa darah secara memadai untuk mencukupi kebutuhan metabolisme tubuh termasuk oksigen dan nutrisi. Seekor anjing ras Shih-Tzu berjenis kelamin betina dengan umur 13 tahun, bobot badan 6,5 kg dibawa ke Anom Veterinary Clinic pada tanggal 1 April 2022 dengan keluhan kejang dan nafsu makan menurun. Sebelumnya hewan pernah didiagnosis mengalami dilatasi jantung. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan mukosa mulut pucat, capillary refill time (CRT) normal, hewan kesulitan bernapas sehingga bernapas menggunakan mulut, dan pemeriksaan jantung menunjukkan suara murmur sistol derajat IV dari VI. Hasil rontgen menunjukkan anjing mengalami pembesaran jantung. Hasil pemeriksaan Complate Blood Count (CBC) tidak ada perubahan yang signifikan. Anjing didiagnosis mengalami gagal jantung kongestif. Pengobatan yang diberikan pada anjing kasus yaitu cairan infus ringer laktat 100 mL/hari, dexamethasone 0,3 mg/kg BB, furosemide 4 mg/kg BB, amynophylin 2 mg/kg BB, carbamazepine 4 mg/kg BB, captropil 0,5 mg/kg BB, digoxin 0,005 mg/kg BB, dan Transfer Factor Plus ½ tablet/hari. Setelah empat hari perawatan kondisi anjing sudah sangat membaik. Anjing tidak menunjukkan gejala kesulitan bernapas, kelemahan dan kejang. Pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan ekokardiografi disarankan untuk mengetahui penyebab gagal jantung kongestif.
Laporan Kasus: Penanganan Flu Kucing akibat Feline Herpesvirus pada Kucing Kampung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.114

Abstract

Feline Herpesvirus tipe 1 (FHV-1) adalah agen penyebab penyakit saluran pernapasan yang menyebabkan rhinitis dan konjungtivitis. Seekor kucing kampung betina berumur 14 bulan dengan bobot 2,01 kg diperiksa dengan keluhan tidak makan selama tiga hari, lemas, dan sering bersin. Pemeriksaan fisik menunjukkan leleran pada kedua mata dan hidung, konjungtiva merah, dan mata buram atau cloudy. Pemeriksaan penunjang dengan tes cepat antigen FHV dan Calicivirus menunjukkan kucing kasus positif FHV. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukkan kucing kasus mengalami anemia normositik normokromik dan leukositosis. Hewan didiagnosis menderita flu kucing akibat FHV tipe 1 dengan prognosis fausta. Terapi yang diberikan adalah terapi suportif dengan menjaga hidrasi, nebulasi salbutamol (100 mg/ekor) dan gentamisin (8 mg/kg BB) satu kali sehari, L-lysine (500 mg/ekor) dua pompa (2 kali sehari), bromhexin HCl (1 mg/kg BB) secara per oral (2 kali sehari) selama tujuh hari, salep mata framixin satu tetes (2 kali sehari) selama tujuh hari, antibiotik doksisiklin (10 mg/kg BB) per oral (2 kali sehari) selama 14 hari, trimethoprim/sulfonamide (30 mg/kg BB) intramuskuler (sekali setiap 2 hari) selama 12 hari, dan intrafer (0,02 mg/kg BB) secara intramuskuler di hari ketiga dan kesembilan. Hasil pengobatan selama 12 hari menunjukkan terjadi perubahan leleran kedua mata dan hidung serta frekuensi bersin yang berkurang. Hasil pemeriksaan darah dan mukosa mulut kembali normal.
Isolasi dan Identifikasi Enterococcus sp. dari Feses Lutung Jawa (Trachypitecus auratus) di Javan Langur Center
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.12

Abstract

Populasi lutung jawa (Trachypithecus auratus) yang semakin sedikit di alam, saat ini hanya sekitar 500 ekor. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya perburuan gelap, perubahan pola makan dan penyakit. Upaya untuk pelestarian telah dilakukan, namun karena sangat sedikit informasi ilmiah yang dilaporkan, sehingga upaya hanya sebatas pada tindakan fisik seperti metode penangkaran. Sampai saat ini belum ada penelitian tentang keberadaan Enterococcus sp. pada lutung jawa, khususnya pada saluran ususnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya Enterococcus sp. pada saluran usus lutung jawa, karena bakteri ini merupakan reservoir penting dari gen resistansi antibiotik. Penelitian ini dilakukan di pusat penangkaran lutung jawa di Javan Langur Center. Sampel lutung jawa (Trachypitechus auratus) sebanyak dua ekor yang baru masuk ke penangkaran. Spesimen berupa swab rektum yang diambil dengan menggunakan cotton swab steril sesuai dengan prosedur medical check-up. Kemudian dilanjutkan dengan metode isolasi pada media Sheep Blood Agar (SBA) dan MacConkey Agar (MCA) dan pewarnaan Gram serta dilanjutkan dengan prosedur identifikasi menggunakan uji biokimia meliputi: Triple Sugar Iron Agar (TSIA), uji Sulfide Indole Motility (SIM), uji Simmon Citrate Agar, uji Methyl Red Voges Proskauer (MRVP), dan uji urease. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa semua sampel lutung jawa yang baru masuk penangkaran ternyata semua ditemukan adanya Enterococcus sp. di saluran ususnya. Hal ini sangat menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut tentang adanya sifat resistensi antibiotik, yang sangat erat kaitannya dengan kesehatan manusia.
Laporan Kasus: Koleps Trakhea Tingkat Satu (Grade I) pada Anjing Peranakan Pomeranian
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.67

Abstract

Koleps trakhea merupakan suatu kondisi pengempisan bagian dorsoventral dari cincin trakhea akibat degenerasi progresif tulang rawan. Koleps trakhea umum terjadi pada anjing ras kecil dengan usia sekitar tujuh tahun. Hewan kasus adalah seekor anjing peranakan pomeranian jantan berusia sembilan tahun dengan bobot badan 8,5 kg dan rambut berwarna cokelat. Anjing sering mengalami kejang, sempat sinkop satu kali, dan batuk non-produktif setiap kali anjing beraktivitas berlebihan. Anjing memiliki riwayat bronkitis pada tahun 2015 dan trakeobronkitis pada tahun 2020 serta telah mengalami pemulihan. Hasil pemeriksaan klinis mengungkapkan anjing aktif dan responsif, frekuensi napas meningkat, dan terdapat respons batuk saat dilakukan palpasi pada leher. Pada pemeriksaan hematologi menunjukkan jumlah hitung sel darah putih/white blood cell (WBC) dan persentase limfosit meningkat (53,6%), serta jumlah granulosit menurun (36,1%). Hasil pemeriksaan radiografi menunjukkan adanya penyempitan pada trakhea. Anjing didiagnosis mengalami koleps trakhea. Terapi yang diberikan berupa pemberian Aminofilin 100 mg dengan dosis 10 mg/kg BB dua kali sehari selama 5 hari peroral, untuk meredakan nyeri anjing diberi antiradang injeksi Tolfedin 40 mg/mL dengan dosis 4 mg/kg BB (0,85 mL) secara intramuskular dan Carproven 25 mg dengan dosis 2 mg/kg bobot badan sekali sehari selama lima hari. Anjing juga diberikan antibiotik yaitu Pulveres Doksisiklin 200 mg dalam bentuk kapsul dengan dosis 10 mg/kg BB (40 mg/kapsul) diberikan peroral dua kali sehari selama lima hari. Hasil terapi menunjukkan adanya perbaikan kondisi pasien dengan menurunnya frekuensi napas menjadi normal yaitu 40 kali/menit, serta tidak mengalami sinkop. Hewan kasus dipulangkan dengan diberikan obat oral.
Laporan Kasus: Penanganan Pyometra Terbuka pada Kucing Kampung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.126

Abstract

Pyometra adalah penyakit yang menyerang sistem reproduksi hewan betina yang dapat menyebabkan infeksi dan akumulasi nanah (pus) pada dinding uterus. Pada hewan kesayangan ada dua jenis pyometra, yaitu pyometra serviks tertutup dan pyometra serviks terbuka. Seekor kucing lokal betina, berusia delapan bulan, dengan bobot badan 4,07 kg, berwana hitam dan putih, datang ke rumah sakit hewan dengan keluhan perut sedikit membesar dan disertai keluar leleran nanah berwarna putih krem sejak sebulan yang lalu. Pemeriksaan darah lengkap, USG dan X-ray dilakukan untuk menegakkan diagnosis. Hasil pemeriksaan darah lengkap menunjukkan penurunan sel darah merah, hemoglobin, hematokrit dan platelet. Hasil pemeriksaan USG ditemukan pembesaran pada uterus dengan gambaran hypoechoic menandakan adanya penumpukan cairan. Pada pemeriksaan X-ray terlihat pembesaran uterus dengan struktur tubular besar pada caudoventral. Dari hasil pemeriksaan USG dan X-ray, kucing didiagnosis mengalami pyometra dengan serviks terbuka dengan prognosis fausta. Penanganan dilakukan dengan ovariohisterektomi (OH) yaitu pengangkatan organ uterus dan ovarium. Pascaoperasi kucing diberikan antibiotik cefotaxime 25 mg/kg BB dengan dosis pemberian 1 mL (dua kali sehari) selama tiga hari intravena, dilanjutkan dengan pemberian cefixime 5 mg/kg BB dengan dosis pemberian 1 mL (dua kali sehari) selama lima hari peroral. Kucing juga diberikan analgesik tolfedin 4 mg/kg BB dengan dosis pemberian 0,4 mL (sekali sehari) selama tiga hari subkutan. Kucing menunjukkan kesembuhan total yang ditandai dengan nafsu makan yang normal, luka operasi yang telah mengering, serta luka jahitan sudah dilepas pada hari ke-16 pascaoperasi.
Prevalensi dan Histopatologi Proventrikulus pada Itik Bali yang Terinfeksi Cacing Tetrameres spp. di Bali
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.22

Abstract

Itik merupakan ternak unggas penghasil daging dan telur yang memiliki kandungan protein tinggi dan lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan ayam. Salah satu parasit yang dapat menginfeksi sistem pencernaan itik adalah cacing Tetrameres spp. yang berpredileksi pada proventrikulus itik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prevalensi dan perubahan histopatologi proventrikulus pada itik di Bali yang terinfeksi cacing Tetrameres spp.. Sampel itik berjumlah 50 ekor diambil dengan metode purposive sampling pada itik hidup yang dijual di Pasar Badung dan Pasar Gianyar. Itik dikelompokkan berdasarkan lokasi pasar tempat pembelian itik, umur, dan jenis kelamin itik. Itik dinekropsi dan proventrikulus itik yang positif terinfeksi Tetrameres spp. diawetkan dengan Bouin Solution untuk dijadikan preparat histopatologi dengan menggunakan pewarnaan Hematoxylin Eosin (HE). Perubahan histopatologi yang terjadi akan dianalisis secara deskriktif kuantitatif dan hubungan antara lokasi pasar tempat pembelian itik, umur dan jenis kelamin itik dengan prevalensi di analisis menggunakan uji chi-square. Prevalensi cacing Tetrameres spp. pada itik di Bali sebesar 12%. Perubahan histopatologi yang diterjadi pada proventrikulus itik yang terinfeksi yaitu: terjadinya nekrosis pada vili yang terdapat pada proventrikulus itik, kelenjar proventrikulus itik mengalami atrofi, ditemukan adanya sel radang dengan sedikit fibroblas pada proventrikulus itik, dan ditemukannya tubuh dari cacing Tetrameres spp. di proventrikulus itik yang terinfeksi. Kesimpulanya adalah lokasi pasar tempat pembelian itik, umur, dan jenis kelamin itik tidak menunjukkan adanya hubungan yang berpengaruh nyata dengan prevalensi.
Laporan Kasus: Penanganan Ehrlichiosis pada Anjing Akita dengan Pemberian Doksisiklin dan Transfusi Darah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (1) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.1.79

Abstract

Ehrlichiosis merupakan penyakit pada anjing yang dapat menyerang semua umur dan ras. Ehrlichiosis disebabkan oleh Ehrlichia sp. yang merupakan bakteri obligat intraseluler Gram negatif dari genus Ehrlichia. Seekor anjing jantan ras Akita bernama Yama, warna rambut putih dan cokelat, berumur tujuh tahun, dan bobot badan 28 kg dibawa ke Anom Vet Clinic dengan keluhan lemas, nafsu makan menurun, dan mengalami epistaksis sebelum dibawa ke klinik. Hasil pemeriksaan klinis anjing kasus ditemukan kepucatan pada mukosa mulut dan konjungtiva, infestasi caplak Rhipicephalus sanguineus pada kulit dan anjing mengalami epistaksis bilateral. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan bahwa anjing kasus mengalami anemia mikrositik normokromik, trombositopenia, dan leukopenia. Hasil pemeriksaan test kit menunjukkan hasil positif mengandung antibodi E. canis. Berdasarkan anamnesis, tanda klinis, hasil pemeriksaan hematologi, dan pemeriksaan menggunakan test kit, maka anjing kasus didiagnosis menderita ehrlichiosis dengan prognosis dubius. Penanganan yang diberikan pada anjing kasus yaitu, dengan pemberian cairan Ringer Laktat 910 mL/hari, doksisiklin 5 mg/kg BB, BID, PO selama tujuh hari, transfusi darah sebanyak 337 mL, dan pemberian vitamin B kompleks satu tablet per hari selama 10 hari. Penanganan pada hewan kasus menunjukkan hasil yang baik secara klinis dengan epistaksis sudah tidak terlihat dan nafsu makan mulai membaik pada hari ketiga. Pada hari ke-10 kondisi anjing kasus membaik secara klinis dan diperbolehkan pulang.