cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Community Health
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Community Health terbit empat kali setahun, yaitu bulan Januari, April, Juli, dan Oktober. Jurnal CH menerbitkan hasil penelitian mahasiswa yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat seperti kebijakan kesehatan, kesehatan ibu dan anak, kesehatan lingkungan, gizi kesehatan masayarakat, kesehatan kerja, promosi kesehatan, ekonomi kesehatan, manajemen kesehatan serta ilmu ilmu dasar yang berkaitan seperti bioteknologi kesehatan, biologi molekuler, bioinformatik dan genetik, tanaman, hewan, serta sel yang terkait dengan kesehatan masyarakat.
Arjuna Subject : -
Articles 43 Documents
Persepsi Staf Mengenai Proses Pertanggungjawaban Klaim Jamkesmas Pada Pelayanan Rawat Inap Tingkat Lanjutan Di BRSU Tabanan Tahun 2012 Sukmawan, Komang Wendy
Community Health Vol 2 No 1
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.583 KB)

Abstract

BRSU Tabanan merupakan salah satu pelaksana penyelenggaraan program Jamkesmas pelayanan kesehatan lanjutan yang memiliki kewajiban untuk mengirimkan pertanggungjawaban klaim Jamkesmas kepada tim pengelola Jamkesmas pusat setiap bulannya. Dari hasil wawancara, observasi dan penelusuran data pendahuluan diperoleh bahwa BRSU Tabanan mengalami keterlambatan pengiriman pertanggungjawaban klaim Jamkesmas setiap bulannya yang mengakibatkan terganggunya arus kas pembiayaan pelayanan kesehatan rumah sakit. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat pandangan staf BRSU Tabanan terhadap proses pertanggungjawaban klaim Jamkesmas pelayanan rawat inap tingkat lanjutan. Penelitian ini termasuk penelitian cross-sectional deskriptif kualitatif dengan sembilan informan yang dipilih menggunakan purposive sampling. Terdiri dari dua dokter spesialis, dua petugas pendaftaran dan kasir rawat inap Jamkesmas, dua petugas administrasi ruangan, satu petugas rekam medis, dan dua petugas entry data dan klaim Jamkesmas. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam kepada informan dan data dianalisis secara kualitatif. Staf BRSU Tabanan sudah memiliki pengetahuan dan sikap yang cukup baik mengenai proses pertanggungjawaban klaim Jamkesmas, termasuk pelaksanaannya yang sudah mengacu pada Manlak Jamkesmas 2012. Hambatan proses memenuhi pertanggungjawaban klaim Jamkesmas adalah peserta tidak lengkap membawa persyaratan Jamkesmas, dokter terlambat mengisi resume medis, terlambat menyetor resume medis ke unit entry data klaim Jamkesmas, kekeliruan memasukan kode diagnose dan tindakan, adanya software entry data dan klaim Jamkesmas yang baru dan kurangnya dukungan dari unit-unit kerja terkait. Tujuan proses tersebut adalah untuk mendapatkan dana rumah sakit yang telah dikeluarkan dan bermanfaat untuk pengeluaran biaya operasional rumah sakit. Adapun kerugian yang dialami bila terlambat mengirimkan pertanggungjawaban klaim Jamkesmas adalah terhambatnya dana turun yang akan menyebabkan terganggunya arus kas rumah sakit. Sebagian besar staf BRSU Tabanan sudah mengetahui dan memiliki sikap yang cukup baik, termasuk tujuan dan manfaat, serta kerugian yang dialami bila terlambat mengirimkan pertanggungjawaban klaim Jamkesmas sesuai dengan arahan yang terdapat dalam Manlak Jamkesmas 2012. Hal ini perlu dibarengi dengan mengadakan sosialisasi yang baik oleh pihak manajerial rumah sakit dan rapat yang dihadiri setiap unit kerja yang terlibat untuk membahas permasalahan yang dialami.
Tingkat Pengetahuan Dan Perilaku Pencegahan Wisatawan Terhadap Penyakit Rabies Di Ubud Sebagai Daerah Tujuan Wisata Di BALI Purnawan, I Nyoman
Community Health Vol 1 No 2
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.083 KB)

Abstract

Penyakit rabies merupakan salah satu penyebab kematian di dunia. Oleh karena itu rabies merupakan masalah kesehatan global. Di Kecamatan Ubud, kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) pada tahun 2012 meningkat dua kali dibandingkan tahun sebelumnya dengan jumlah rata-rata kasus tertinggi kedua di Kabupaten Gianyar. Kasus GHPR di Ubud tidak hanya menimpa masyarakat setempat melainkan pada sebagian wisatawan yang menginap dan berlibur di Ubud. Jika masalah ini tidak ditangani akan berpengaruh langsung kepada penurunan industri pariwisata di Ubud. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat pengetahuan dan perilaku pencegahan wisatawan terhadap penyakit rabies di Ubud sebagai daerah tujuan wisata di Bali. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan crossectional. Sampel penelitian ini adalah 96 wisatawan yang menginap dan berlibur di ubud baik wisatawan domestik maupun internasional. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan kuesioner dan pengukuran kemudian dianalisis secara deskriptif dan uji bivariat (Chi-square) dengan tingkat kemaknaan 5%. Hasil penelitian ini menunjukan sebagian besar wisatawan sudah memiliki pengetahuan yang tinggi terhadap rabies yaitu sebanyak 65.6% dan yang memiliki pengetahuan rendah sebanyak 34.4%. Sama halnya dengan pengetahuan, perilaku pencegahan wisatawan sebagian besar tergolong baik yaitu sebanyak 72.9%. Penelitian ini juga menunjukan adanya hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku pencegahan penyakit rabies pada wisatawan yang menginap dan berlibur di ubud (OR = 3.132, p = 0.014, CI 95% = 1.231 – 7.967). Disarankan kepada pemerintah dan instansi terkait untuk mengadakan perbaikan kebijakan guna meningkatkan pengetahuan masyarakat kaitanya dengan perubahan perilaku kesehatan dalam hal penggunaan media informasi untuk mensosialisasikan bahaya rabies kepada masyarakat khususnya penggunaan media elektronik.
Kajian Pengelolaan Limbah Di Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Astuti, Agustina
Community Health Vol 2 No 1
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.936 KB)

Abstract

Indonesia  diperkirakan  memproduksi  limbah  padat  rumah  sakit  sebesar 376.089  ton/hari  dan  produksi  limbah  cair  48.985,70  ton/hari.  Pengelolaan  limbah medis  dan  non  medis  rumah  sakit  sangat  dibutuhkan  bagi  kenyamanan  dan kebersihan  rumah  sakit  karena  dapat  memutuskan  mata  rantai   penyebaran  penyakit menular,  terutama  infeksi  nosokomial.  Pengelolaan  limbah  cair  juga  perlu diperhatikan,  pembuangan  air  limbah  ke  sungai  ini dapat  membuat  sungai  menjadi dangkal  dan  alirannya  mampat.  Untuk  mencegah  dampak  dari  pencemaran lingkungan perlu adanya kajian terhadap sistem pengelolaan  limbah di rumah sakit. Penelitian  ini  merupakan  penelitian  crossectional  deskriptif  yang  bertujuan untuk mengkaji sistem pengelolaan limbah yang ada di Rumah Sakit Umum Provinsi NTB. Objek penelitian adalah unit pengelolaan limbah padat dan cair. Data diperoleh dengan  cara  wawancara  dan  observasi  yang  berpedoman  pada  Kepmenkes  RI  No. 1204 tahun 2004 dan di analisa secara deskriptif. Hasil  penelitian  menunjukkan  jumlah  limbah  medis  padat  yang  dihasilkan rumah  sakit  sebanyak  56,77  kg/hari  dan  limbah  non  medis  padat  sebanyak  597,15 kg/hari. Proses pengelolaan limbah medis dan non medis dimulai dengan pewadahan, pengangkutan,  transportasi,  TPS  dan  TPA/pemusnahan.  Pengelolaan  limbah  padat dan  cair  masih  belum  sesuai  dengan  Kepmenkes  RI  No.1204  tahun  2004.  Tahap pewadahan  limbah  masih  banyak  tercampur  antara  limbah  medis  dan  non  medis. Incinerator  yang  digunakan  untuk  membakar  limbah  medis  menghasilkan pembakaran  yang  kurang  sempurna.  Hasil  pemeriksaan  pada  outlet  IPAL menunjukkan  kandungan  residu  tersuspensi,  amonia  dan  fosfat  masih  belum memenuhi  baku  mutu  sesuai  keputusan  Menteri  Lingkungan  Hidup  Nomor  Kep-58/MENLH/12/1995 tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan rumah sakit. Kesimpulan  penelitian  ini  adalah  pengelolaan  limbah  padat  dan  cair  di Rumah  Sakit  Umum  Provinsi  NTB  masih  belum  memenuhi  syarat  kesehatan lingkungan sesuai dengan Kep menkes RI No. 1204 tahun 2004.
Evaluasi Program Vaksinasi Kanker Serviks Di Kabupaten Badung Tahun 2012 Yuliana, Made Somantari
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.105 KB)

Abstract

Kanker Serviks merupakan jenis kanker terbanyak nomor tiga di kalangan perempuan di dunia setelah kanker payudara. Kanker serviks disebut juga “silent killer” karena perkembangan kanker ini sangat sulit dideteksi. Perjalanan dari infeksi virus menjadi kanker membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar 10-20 tahun. Pada tahun 2005, jumlah wanita berusia 15-64 tahun di Indonesia sebanyak 65 juta dan prevalensi kanker serviks adalah 50 per 100.000 perempuan. Di Bali setiap 2 hari ada 3 perempuan meninggal karena kanker serviks. Dengan memperhatikan hal tersebut Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Badung melaksanakan tindakan pencegahan penyakit kanker serviks dengan melakukan Vaksinasi HPV sebanyak 1534  siswi kelas X SMA Negeri se-Kabupaten Badung Tahun 2012. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk melakukan evaluasi pelaksanaan program vaksinasi kanker serviks di Kabupaten Badung tahun 2012. Penelitian ini  adalah suatu evaluasi program dan pengumpulan data dilakukan di seluruh instansi kesehatan dan organisasi profesi serta SMA Negeri terkait program dengan menggunakan kuisioner terstruktur.Hasil penelitian menyatakan bahwa input program vaksinasi kanker serviks telah berjalan dengan baik 69,6% diantaranya adalah baik 100% pada metode, baik 56,5% pada dana, baik 87,0% pada orang yang terlibat dalam program dan sarana dinyatakan baik 60,9%. Proses dinyatakan baik sebesar 52,2% diantaranya baik 91,3% pada Penentuan Sasaran dan tidak baik 56,5% pada Sosialisasi. Output dinyatakan baik sebanyak 87,0%. Secara keseluruhan Program Vaksinasi Kanker Serviks di Kabupaten Badung Tahun 2012 dinyatakan “Baik” sebanyak 69,6 % dan “Tidak Baik” sebanyak 21,7 %. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Badung untuk melakukan pengembangan program pencegahan kanker serviks selanjutnya, khususnya meningkatkan persiapan dalam hal sosialisasi dengan mempertimbangkan penggunaan media sosial dan media elektronik untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kanker serviks dan cara pencegahannya kaitannya dengan  peningkatan derajat kesehatan dan mengurangi risiko terkena kanker serviks.
Perhitungan Unit Cost Rawat Inap VIP Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Klungkung Tahun Estrada Adhi Saputra, I Ketut
Community Health Vol 1 No 1
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.099 KB)

Abstract

RSUD Kabupaten Klungkung ,up to now, can not afford to cover its operational cost. This is because income gained from inpatient care especially from VIP ward was not optimal. This study aimed is to calculate unit cost from inpatient care VIP A,B,C and Maha Utama RSUD Kabupaten klungkung. This research is a case study using direct activities in inpatient care unit and indirect activities in supporting unit as a study object. Datas are collected through literature study from hospital reports and participation observation to find out activities happen during the production process. Research found that the higher direct cost is in Maha Utama ward, which was Rp 166.596 and the lowest is in VIP C ; Rp 138.697. On the other hand, the  highest indirect cost is in VIP C ; Rp 144.377 and the lowest is in Maha utama ; Rp 144.330. From the calculation, unit cost of inpatient care services  in VIP A, B, C and Maha utama are different one to another : Rp. 291.525, Rp. 284.112, Rp. 283.344 and Rp. 310.925 respectively. This study concluded that hat unit cost for inpatient care was increase along with the inpatient room level.
Gambaran Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku Ibu Rumah Tangga Terhadap Garam Beryodium Di Desa Lodtunduh Wilayah Kerja UPT Kesehatan Masyarakat Ubud I Tahun 2013 Prawini, Gusti Ayu Made
Community Health Vol 1 No 2
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.704 KB)

Abstract

Kabupaten Gianyar  merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Bali yang tidak termasuk endemis GAKY, namun pencapaian konsumsi garam beryodium di tingkat rumah tangga di Kabupaten Gianyar sebesar 68,03% dan masih di bawah target yang ditetapkan oleh Dinkes Provinsi Bali yaitu sebesar 80%. Terjadinya GAKY sangat erat kaitannya dengan tingkat konsumsi garam beryodium seseorang. Desa Lodtunduh merupakan salah satu desa yang menjadi wilayah kerja UPT Kesehatan Masyarakat Ubud I Kabupaten Gianyar yang pencapaian konsumsi garam beryodium di tingkat rumah tangga terendah selama 3 tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan, sikap dan perilaku ibu rumah tangga di Desa Lodtunduh terhadap garam beryodium. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan rancangan RAP yang menggunakan metode pengumpulan data FGD yang dilaksanakan pada kelompok informan berpendidikan tinggi dan kelompok informan berpendidikan rendah serta wawancara mendalam pada 2 informan kunci. Selain itu juga dilakukan observasi terhadap beberapa informan. Total informan dalam penelitian ini berjumlah 30 informan. Analisis data dilakukan dengan metode tematik yaitu disesuaikan dengan tema dari tujuan penelitian.Validasi dilakukan dengan teknik triangulasi sumber, triangulasi metode dan peer debriefing. Berdasarkan hasil penelitian, ibu rumah tangga di Desa Lodtunduh kurang memahami pentingnya konsumsi garam beryodium dan cara penggunaan garam beryodium yang benar. Hal ini mempengaruhi sikap yang muncul dari ibu rumah tangga di Desa Lodtunduh yang secara umum menunjukkan sikap yang negatif terhadap garam beryodium akibat dari rasa yang ditimbulkan oleh garam beryodium pada masakkan. Adanya pemahaman yang kurang dan sikap negatif terhadap garam beryodium tersebut mempengaruhi sebagian besar perilaku ibu rumah tangga di Desa Lodtunduh sehingga tidak mengkonsumsi garam beryodium. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan sosialisasi yang lebih intensif tentang pentingnya garam beryodium dan cara menggunakan garam beryodium yang benar untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu rumah tangga di Desa Lodtunduh, sehingga pada akhirnya diharapkan mempunyai perilaku yang positif terhadap garam beryodium.
Pengaruh Pemicuan Masalah Demam Berdarah Berbasis Masyarakat Terhadap Pengetahuan, Sikap, Dan Perilaku Pencegahan DBD Pada Kader PKK Di Kelurahan Sesetan Tahun 2013 Prasetya, Wahyu Adhy
Community Health Vol 2 No 1
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.259 KB)

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit infeksi yang kejadiannya masih tetap tinggi. Pencegahan yang tepat harus lebih ditingkatkan untuk menurunkan angka kejadian DBD. Kelurahan Sesetan merupakan daerah yang memiliki kasus DBD tertinggi pada tahun 2011 di wilayah kerja Puskesmas I Denpasar Selatan. Metode partisipasif sangat diperlukan untuk mengajak masyarakat berperan serta dalam upaya preventif promotif, salah satunya melalui metode pemicuan masalah demam berdarah berbasis masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemicuan masalah demam berdarah berbasis masyarakat terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan DBD pada kader PKK di Kelurahan Sesetan tahun 2013. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan rancangan Quasi Eksperimen dengan Non equivalent control group design yang menggunakan pengukuran berulang. Tujuh belas wanita mendapat intervensi. Kelompok perlakuan diberikan intervensi dengan pelatihan pemicuan DBD, sedangkan kelompok kontrol hanya diberikan leaflet. Hasil pre dan 2 kali post test dianalisis secara deskriptif dengan uji General Linear Model (GLM) Repeated Measure. Hasil penelitian ini menunjukan ada peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku kader PKK di Kelurahan Sesetan yang mendapatkan intervensi mengenai pencegahan DBD sebelum dan setelah diberikan pemicuan. Namun, pemicuan ini belum dapat dikatakan meningkatkan pengetahuan pada kelompok intervensi jika dibandingkan kelompok kontrol karena terjadi bias histori dan bias instrumen. Sedikit berbeda dengan hasil pengukuran sikap dan perilaku yang menunjukkan adanya peningkatan efek pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol Disarankan kepada instansi terkait untuk mengupayakan pemicuan DBD sebagai salah satu alternatif promosi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku dalam pencegahan demam berdarah di masyarakat.
Status Gizi Anak Baru Masuk Sekolah di Kota Denpasar Suastiti, Ni Made Ayu
Community Health Vol 1 No 1
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.979 KB)

Abstract

The proportion of newly enrolled elementary students at age 6-9 years in city of Denpasar in 2007 that consider as stunted was 36,1%. Proportion of thin boys was 9,2% and thin girls 7,4%. Meanwhile, boys and girls who were overweight was 18,3% and 11,5%, respectively. Newly enrolled elementary students are risk of getting nutritional problem either under or overweight. The aim of this study was to analyze the nutritional status of newly enrolled elementary students in City of Denpasar in 2011 based on antropometric indexes including weight for age, height for age and BMI for age. This was an observational study that applying cross sectional desigen. There ware 300 samples in the study that were selected by cluster random samplin method. The data for determining the nutritional status of the children was obtain and analyzed from report of the newly enrolled elementary students health screening in 2011. It than was presented in either table or description. It was found that based on BMI for age index more than half of the children 59,30% had normal nutritional status, 26,70% was overweight and 14,00% was undernourishhed.
Tingkat Pengetahuan Dan Upaya Pencegahan Petugas Kesehatan Terhadap Infeksi Toxoplasmosis Di Kabupaten Badung Prawita, I Gusti Ayu Tia Dewi
Community Health Vol 1 No 3
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.974 KB)

Abstract

Toxoplasmosis dapat terinfeksi ke manusia dan menimbulkan dampak yang berat pada manusia bahkan dapat menimbulkan kematian. Di wilayah endemik infeksi ini dilaporkan masih ada 55,6% petugas kesehatan yang memiliki tingkat pengetahuan kurang mengenai infeksi toxoplasmosis. Tidak adanya program khusus infeksi toxoplasmosis dari Pemerintah, menyebabkan belum diketahui sejauh mana tingkat pengetahuan dan upaya pencegahan infeksi toxoplasmosis pada petugas kesehatan. Berdasarkan hal tersebut di Kabupaten Badung dilaporkan prevalensi toxoplasmosis cukup tinggi 41,3% dan di Kabupaten Badung belum pernah dilakukan penelitian mengenai tingkat pengetahuan dan upaya pencegahan toxoplasmosis pada petugas kesehatan. Penelitian ini bertujuan melihat gambaran tingkat pengetahuan dan upaya pencegahan petugas kesehatan terhadap infeksi toxoplasmosis di Kabupaten Badung. Desain penelitian ini menggunakan deskriptif crossectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pemegang program P2M, KIA dan PROMKES di puskesmas se Kabupaten Badung sebanyak 36 petugas yang diambil secara Total Sampling Hasil penelitian ini menunjukan sebagian besar petugas kesehatan memiliki tingkat pengetahuan yang kurang terhadap infeksi toxoplasmosis yaitu sebanyak 27 (75%), sedangkan yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi sebanyak 9 (25%.), sama halnya dengan pengetahuan, upaya pencegahan petugas kesehatan sebagian besar tergolong kurang yaitu sebanyak 20 (55,6%) sedangkan petugas kesehatan yang memiliki upaya pencegahan baik sebanyak 16 (44,4%). Penelitian ini juga menunjukan adanya hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan petugas kesehatan dengan upaya pencegahan petugas kesehatan terhadap infeksi toxoplasmosis di Kabupaten Badung Disarankan bagi pemerintah diharapkan mengadakan pelatihan kinerja petugas kesehatan mengenai infeksi toxoplasmosis, dan untuk petugas kesehatan diharapkan untuk melakukan upaya pencegahan toxoplasmosis ke masyarakat lebih intensif, serta untuk penelitian selanjutnya diharapkan lebih meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan dan upaya pencegahan petugas kesehatan terhadap infeksi toxoplasmosis
Pengaruh Faktor Motivasi Terhadap Kinerja Juru Pemantau Jentik Dalam Pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk Di Kecamatan Denpasar Selatan Tahun 2013 Sandhi, Ni Putu Desi Ary
Community Health Vol 2 No 1
Publisher : Community Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.55 KB)

Abstract

Kasus tertinggi Demam Berdarah Dengue terdapat di Kecamatan Denpasar Selatan dengan total penderita 371 orang. Jika dilihat dari Angka Bebas Jentik Kecamatan Denpasar Selatan memiliki presentase terendah yaitu 93,13%. Rendahnya Angka Bebas Jentik di Kecamatan Denpasar Selatan < 95% mengindikasikan rendahnya kinerja jumantik dalam pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk belum maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor lingkungan kerja, kompensasi, dan supervisi terhadap kinerja juru pemantau jentik dalam pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk di Kecamatan Denpasar Selatan. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling dengan sampel berjumlah 57 orang. Jenis penelitian yang digunakan analitik kuantitatif dengan rancangan penelitian crossectional. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan regresi logistik. Hasil Penelitian ini menunjukkan analisis univariat variabel lingkungan kerja sebagian besar memiliki kategori kurang baik 35 orang (61,4%), variabel kompensasi separuhnya memiliki kategori kurang baik 29 orang (50,9%), variabel supervisi sebagaian besar memiliki kategori kurang baik 33 orang (57,9%), dan variabel kinerja sebagian besar memiliki kategori kurang baik 32 orang (56,1%). Berdasarkan analisis bivariat lingkungan kerja dan kompensasi tidak ada hubungan signifikan dengan kinerja jumantik dengan nilai p value 0,197 dan 0,147 (p>0,05) sedangkan supervisi memiliki hubungan signifikan dengan kinerja jumantik dengan nilai p value 0,000 (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan lingkungan kerja dan kompensasi tidak berpengaruh signifikan dengan kinerja jumantik dengan nilai p value 0,194 dan 0,495 (p>0,05) sedangkan supervisi memiliki pengaruh signifikan dengan kinerja jumantik dengan nilai p value 0,000 (p<0,05). Simpulan dari penelitian bahwa yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja jumantik yaitu variabel supervisi. Saran yang dapat diberikan agar pihak Dinas Kesehatan Kota Denpasar harus selalu memenuhi sarana dan prasarana jumantik serta memberikan penghargaan kepada jumantik berprestasi sehingga dapat meningkatkan kinerja jumantik.