Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis (JSPH) issued by the Department of Sociology, Faculty of Social Sciences, State University of Malang in collaboration with the Perkumpulan Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia (AP3SI). JSPH committed to being a scientific journals, relevant to the development of science, as a reference, especially in the fields of sociology, education and culture. JSPH published twice a year continuously (July and December). JSPH contains the results of research and conceptual ideas that have not been published anywhere.
Articles
258 Documents
Kearifan Lokal Masyarakat Etnis Tolaki Dalam Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Di Kecamatan Lalonggasumeeto Kabupaten Konawe Provinsi Sultra
Sulsalman Moita
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 2 No. 1 (2017): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um021v2i12017p16-22
Penelitian dengan lokus di Kecamatan Lalonggasumeeto Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara, bertujuan untuk: (1) menganalisis pola pengelolaan sumber daya pesisir berbasis nilai-nilai kearifan lokal etnis Tolaki; (2) mengkaji perubahan nilai-nilai kearifan lokal sebagai dampak dari modernisasi dan kapitalisme; dan (3) menganalisis konsekuensi perubahan nilai-nilai kearifan lokal terhadap kebertahanan masyarakat sebagai sistem sosial. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Dalam pengumpulan data, peneliti bertindak sebagai instrumen penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Pola pengelolaan sumber daya pesisir yang berbasis pada nilai-nilai kearifan lokal etnis Tolaki seperti tradisi mondonduri, mepuka, meboso, mearano, dan melupai,; menjadi katup pengaman entitas ekosistem perairan dari eksploitasi yang berlebihan; (2) Dinamika dan perubahan nilai-nilai kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya perairan, menyasarpada kelompok-kelompok penangkap dan budi daya perikanan yang berorientasi pada akumulasi modal dan spirit kapitalisme. Mereka adalah jaringan nelayan yang berafiliasi dengan kelompok pemodal kuat sehingga mengabaikan realitas kearifan lokal; (3) konsekuensi perubahan nilai-nilai kearifan lokal, secara faktual tidak terjadi secara holistik, karena sistem pranata perikanan etnis lokal mampu menjaga kebertahanan sistem sosial masyarakat.
Pemanfaatan Hutan Berkelanjutan Berbasis Kelembagaan Di Kawasan Gunung Sasak
Anisa Puspa Rani;
Dwi Setiawan Chaniago
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 2 No. 1 (2017): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um021v2i12017p23-32
Hutan Gunung Sasak merupakan kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) seluas ± 477 Ha. Status HKm bertujuan untuk mempermudah proses rehabilitasi hutan dengan pemanfaatan ekonomis masyarakat di sekitar kawasan. Faktanya status HKm diartikan oleh masyarakat sebagai legitimasi pemanfaatan pribadi. Hal tersebut berdampak pada kerusakan hutan baik secara ekologis maupun ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pemanfaatan HKm berbasis kelembagaan guna terwujudnya pemanfaatanhutan berkelanjutan dengan memperhatikan keseimbangan manfaat ekologis dan ekonomis dari fungsi hutan. Penelitian ini menggunakan teori strukturasi dan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlu upaya reorientasi pemanfaatan HKm Gunung Sasak dari semula bersifat individual ke kelembagaan, guna mencapai hal tersebut diperlukan dukungan multipihak dengan fokus intervensi meliputi pengembanganinfrastruktur, peningkatan kapasitas, serta pemantapan aspek jaringan ekonomi budidaya lebah madu pada Kelompok Madu Sari.
PENDIDIKAN KAUM TERTINGGAL DI SAMPANG
Ardhie Raditya
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 2 No. 1 (2017): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um021v2i12017p41-49
As stated in Perpres number 131/2015, Sampang is one of the least developed regions in Indonesia. This lag phenomenon is seen by the educational aspect. This phenomenon can be seen in SDN Bluuran 2 Sampang which appears in several ways: First, the students and their parents have no hope and ideal future. Their goals goes to school is without hope. Second, the success of education is not determined by factors cleverness, but luckiness. Third, the strong geographical and religious pressures force the surrounding communities to have no freedom to determine their educational future
Mengkompromikan Yang Formal Dan Moral:Rasionalitas Tindakan Ekonomi Pengusahahome Industrydi Sriharjo, Bantul, Yogyakarta
Ahmad Arif Widianto;
Lia Hilyatul Masrifah
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 1 No. 2 (2016): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um021v1i22016p87-102
Beralihnya kecenderungan masyarakat pedesaan dari sektor agraris ke non agraris mendorong pertumbuhan home industry di pedesaan. Salah satunya adalah home industry rempeyek di Pelemmadu, Sriharjo, Bantul, Yogyakarta. Namun, pesatnya pertumbuhan industri kemudian membawa konsekuensi-konsekuensi di antaranya adalah persaingan dan permainan pasar. Kondisi demikian menjadikan para pengusaha rempeyek dilematis. Sebagai homo economicus mereka tentu ingin mendulang keuntungan semaksimal mungkin (rasional). Tulisan ini membahas bagaimana rasionalitas tindakan ekonomi pengusaha home industry dalam menghadapi transformasi corak produksi beserta konsekuensi-konsekuensinya. Pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara mendalam terhadap 11 Informan. Penentuan informan dipilih secara purposive .Hasil penelitian menunjukkan bahwa para pengusaha rempeyek mengembangkan mekanisme alternatif dalam menghadapi persaingan dan permainan pasar dengan mengompromikan rasionalitas formal dan moral dalam tindakan ekonomi mereka. Selain berdasarkan pada rasionalitas formal yakni dengan quality control dan perluasan jaringan bisnis, para pengusaha juga didorong oleh nilai-nilai moral seperti “tuna sathak bathi sanak” sehingga mampu memperjuangkan kepentingan individual tanpa harus mengabaikan kepentingan sosial. Nilai-nilai tersebut lantas dilembagakan dalam kelompok pengusaha sebagai sarana untuk mengembangkan usaha bersama-bersama.
Pendidikan Politik Dalam Kuasa Simbolik Kajian Mengenai Dinamika Politik Anak Muda
Nanda Harda P.M.
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 1 No. 2 (2016): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um021v1i22016p103-116
Saat ini dunia perpolitikan kerap memperoleh stigma negatif akibat tindakan-tindakan oknum kader di dalamnya. Maka tak heran apabila masyarakat terutama kaum muda makin apatis dengan hal-hal yang berbau politis. Namun rupanya masih ada anak-anak muda yang masih memiliki kepedulian bahkan bergabung dengan partai politik. Pun demikian di Kota Malang dimana salah satu partai politik memiliki cukup banyak kader muda. Bahkan beberapa di antara mereka berhasil untuk masuk daftar calon legislatif pada Pemilu 2014 lalu. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan biografi digunakan untuk memperoleh data dan menganalisa keterlibatan anak-anak muda tersebut dalam dunia politik. Terutama terkait pendidikan politik yang didapatkan mereka selama di partai. Menggunakan model purposive, pemilihan informan dalam penelitian kali ini lebih menitikberakan pada anak muda yang bergelut di dalam dunia politik. Namun rupanya masih terdapat ketimpangan yang anak-anak muda tersebut rasakan selama berada di partai. Masih terdapat kesenjangan antara mereka yang senior dan yang muda. Hal tersebut yang kemudian memunculkan kekerasan simbolik pada anak-anak muda tersebut. Terlebih di dalam tubuh partai politik dimana kerap kali sering muncul perebutan kekuasaan antar elit. Sementara mereka yang muda hanya menjadi pendukung atau bahkan penonton semata.
Masjid Dan Ambivalensi Demokrasi (Studi Kritis Padamasjid Jogokariyan Mantrijeron, Yogyakarta)
Ika Silviana
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 1 No. 2 (2016): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um021v1i22016p117-16
Ruang publik menjadi salah satu media komunikasi aktif antar masyarakat publik dengan tujuan mengkoordinir permasalahan sosial yang berdasar pada nalar publik. Melalui gerakan kaum muslim di Mantrijeron Yogyakarta, Masjid Jogokariyan melaksanakan fungsinya sebagai ruang publik dengan melahirkan kegitan-kegiatan yang menjawab permasalahan sosial masyarakat. Pronsip dasar dari gerakan ini adalah humanisme Islam yang selaras dengan nilai-nilai ideal dari konsep ruang publik ideal Jürgen Habermas. Pemanfaatan ruang publik dengan mendasarkan pada demokrasi deliberatif dapat berimplikasi positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Disisi lain praktik yang dilakukan oleh masjid Jogokariyan menyeret masyarkat publik untuk bersifat konsumtif dan dependen terhadap peran para aktor (takmir). Dengan demikian perlu pengawalan secara terus menerus untuk menciptakan ruang publik deliberatif, tentu melalui komunikasi yang efektif.
Generasi Sadar Wisata (Pemberdayaan Pemudadan Pendidikan Pariwisatawisatadi Kabupaten Trenggalek)
Prisca Kiki Wulandari
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 1 No. 2 (2016): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um021v1i22016p140-148
Pengembangan industri kepariwisataan memerlukan dukungan dari berbagai elemen, mulai dari pemerintah, masyarakat di sekitar Obyek dan Daya Tarik Wisata (ODTW), masyarakat di luar ODTW, dan peran dari generasi muda. Pemberdayaan generasi muda dalam bidang kepariwisataan sangat diperlukan, guna mendukung soft skill nya. Penelitian ini menelisik lebih dalam bagaimana usaha pemerintah daerah khususnya Kabupaten Trenggalek dalam mengembangkan soft skill generasi muda di bidang industri kepariwisataan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara secara purposive sampling, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora)Kabupaten Trenggalek melakukan pemberdayaan pemuda di bidang kepariwisataan dengan memberikan pendidikan bagi calon duta wisata selama proses seleksi duta wisata Kabupaten Trenggalek. Calon duta wisata dikarantina selama 3 hari dan diberikan materi-materi seputar industri kepariwisataan di Kabupaten Trenggalek sebelum terjun ke lapangan memperkenalkan potensi Kabupaten Trenggalek kepada konsumen.
Corporate Social Responsibility (CSR), Ideologi dan Keberpihakan Di Indonesia: Telaah Teori Kritis Madzhab Frankfurt
Abdul Kodir
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 1 No. 2 (2016): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um021v1i22016p149-160
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah CSR (Corporate Social Responsibility) adalah bentuk kepedulian korporasi atau mempunyai agenda terselubung yang hanya mencari selamat mengenai keberadaanya di lingkungan suatu masyarakat dan juga mengura jejak ideologi. Selain itu penelitian ini hendak menjelaskan bagaimana cara kerja ideologi beroperasi pada CSR. Analisis dalam penelitian ini menggunakan teori kritis dengan menggunakan metode kritik ideologi atau kritik atas metodologi positivisme dengan menggunakan langkah subversif atau keluar dari common sense dan historis. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa terdapat inkonsistensi dalam regulasi di tubuh CSR itu sendiri. Sehingga keberadaan regulasi tersebut menyebabkan multitafsir. Selain itu diperburuk dengan kenyataan program CSR yang hanya bersifat brand image. Disisi lain, CSR membuat masyarakat semakin terbelenggu dan menggantungkan CSR sebagai sebuah alternatif untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. CSR juga menganut ideologi investasi yang mana para pemodal akan terus melaku kepada perusahaan yang melakukan CSR dikarenaka citra positif yang dibangun di masyarakat.
Agenda Pengembangan Kajian Kepemudaan di Indonesia
Oki Rahadianto Sutopo
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 1 No. 2 (2016): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um021v1i22016p161-172
Artikel ini menawarkan ide-ide kritis untuk mengembangkan kajian kepemudaan di Indonesia. Secara spesifik, ide-ide ini difokuskan pada agenda teoritis dan praktis yang relevan dengan kondisi kontemporer pemuda di Indonesia. Pemuda sebagai subjek studi menempati posisi ambigu dalam konstelasi produksi pengetahuan. Pemuda dianggap penting dan krusial sebagai sebagai subjek bagi masa depan bangsa. Di sisi yang lain, pemuda sebagai subjek juga berada dalam posisi marjinal tidak hanya dalam konteks produksi pengetahuan namun juga dalam hal pembuatan kebijakan. Kondisi ini merupakan peringatan dini bagi agen-agen sosial yang peduli terhadap kajian kepemudaan di Indonesia. Berdasarkan refleksi kritis, observasi empiris dan studi terhadap literatur kajian kepemudaan yang relevan, saya menawarkan agenda teoritis dan praktis untuk mengembangkan kajian kepemudaan di Indonesia. Agenda teoritis tersebut antara lain: menjembatani antara pendekatan transisi pemuda dan buday pemuda, pengarusutamaan konsep kelas sosial dan kesenjangan sosial, dan pengembangan kajian kepemudaan berdasarkan konteks Indonesia. Sedangkan agenda praktis yang ditawarkan antara lain: pengarusutamaan riset strategis dan diseminasi kajian kepemudaan secara merata. Sebagai kesimpulan, harapan saya semoga ide-ide dalam artikel ini dapat menjadi titik masuk bagi terwujudnya generasi muda Indonesia yang lebih tercerahkan dan teremansipasi di masa depan.
Manifestasi Pendidikan Kritis (Pendidikan Hadap Masalah Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah di Salatiga)
Nora T. Ayudha
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 1 No. 2 (2016): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.17977/um021v1i22016p173-182
Studi ini dilakukan untuk menjelaskan argumentasi sekolah alternatif Qaryah Thayyibah yang menolak menggunakan pendidikan yang telah mapan dan menjadi arus utama. Serta bagaimana metode manifestasi pendidikan kritis yang diterapkan di sekolah tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan tipe penelitian deskriptif. Teknik penentuan informan yang digunakan adalah dengan teknik purposive, dan jumlah informan dalam penelitian ini berjumlah tujuh informan. Penelitian ini menggunakan teori pendidikan hadap-masalah sebagai analisa untuk menjelaskan permasalahan penelitian. Berdasar pemikiran sekolah Qaryah Thayyibah, pendidikan yang selama ini dijalankan nyatanya melanggengkan sistem penindasan, dengan guru sebagai pihak yang mendominasi terhadap muridnya. Dalam mode pendidikan ini, ijazah dijadikan legitimasi hasil belajar dengan anggapan sebagai tafsiran kemampuan seseorang. Maka bertolak dari fakta tersebut, Qaryah Thayyibah menggunakan pendekatan berbeda dalam aktivitas pembelajarannya. Murid mempunyai otoritas penuh dalam menciptakan sistem pendidikan dan guru sebatas pendamping adalah prinsip dari pembelajaran ini. Selain itu, karya menjadi alternatif tolak ukur yang lebih adil dalam menilai sebuah kemampuan.