cover
Contact Name
Seli Septiana Pratiwi
Contact Email
jsph.journal@um.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jsph.journal@um.ac.id
Editorial Address
Semarang St. No 5, Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis
ISSN : 25027875     EISSN : 25275879     DOI : https://doi.org/10.17977
Core Subject : Humanities,
Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis (JSPH) issued by the Department of Sociology, Faculty of Social Sciences, State University of Malang in collaboration with the Perkumpulan Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia (AP3SI). JSPH committed to being a scientific journals, relevant to the development of science, as a reference, especially in the fields of sociology, education and culture. JSPH published twice a year continuously (July and December). JSPH contains the results of research and conceptual ideas that have not been published anywhere.
Arjuna Subject : -
Articles 258 Documents
Perilaku Pencarian Informasi Mengenai Kebijakan Sekolah Tatap Muka oleh Orang Tua Siswa di kota Malang Kun Sila Ananda
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 6 No. 1 (2021): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i12021p1-17

Abstract

Recently, the Ministry of Education and Culture has established a policy for implementing face-to-face schools. Regarding this policy, students’ parents become a key point in order to make decisions to allow children to attend face-to-face schooling. Before decision making, parents must first reduce uncertainties and lack of information related to the policy. This study discusses the information-seeking behavior of parents related to face-to-face school policies and the decision-making. The method used is descriptive survey. Data collected through online surveys and interviews. The results showed that parents did the active and passive behavior on information seeking. The school (teachers, homeroom teachers, principals, etc.) is the most frequently referred source of information by parents and is considered the most trusted source of information. The most important information needed by parents is regarding the readiness of the school in the implementation of face-to-face learning during the pandemic. In decision-making process, parents often use information sources through online media and discussions with other parents. The majority of parents will delay decision making if the information obtained is deemed insufficient, while on the other hand parents can also experience decision-making failure due to information overload. Belakangan ini Kemdikbud telah menetapkan kebijakan pelaksanaan sekolah tatap muka. Selain akademisi, orang tua menjadi pihak krusial dalam hal ini terutama berkaitan dengan pengambilan keputusan untuk mengizinkan anak mengikuti pelaksanaan sekolah tatap muka. Sebelum mengambil keputusan terlebih dahulu orang tua harus mereduksi berbagai ketidakpastian dan kurangnya informasi terkait kebijakan tersebut. Penelitian ini membahas mengenai perilaku pencarian informasi yang dilakukan orang tua terkait kebijakan sekolah tatap muka hingga proses pengambilan keputusan. Metode yang digunakan adalah survei deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui survei dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua melakukan pencarian informasi secara aktif dan pasif. Pihak sekolah (guru, wali kelas, kepala sekolah, dsb) menjadi sumber informasi yang paling sering dirujuk oleh orang tua siswa sekaligus dianggap sebagai sumber informasi yang paling terpercaya. Informasi yang dianggap paling penting oleh orang tua siswa adalah mengenai kesiapan sekolah dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka di masa pandemi. Adapun dalam pengambilan keputusan orang tua seringkali memanfaatkan sumber informasi melalui media daring dan diskusi bersama orang tua siswa lainnya. Mayoritas orang tua akan menunda pengambilan keputusan jika informasi yang didapatkan dirasa belum cukup, sementara di sisi lain orang tua juga dapat mengalami kegagalan pengambilan keputusan karena paparan informasi yang terlalu berlebihan.
Iron Cage Birokrasi Pendidikan: Suatu Analisis Sosiologis Siti Ikramatoun; Khairul Amin; Darwin; Halik
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 6 No. 1 (2021): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i12021p18-29

Abstract

This article aims to describe the education bureaucracy as a tool to achieve the objectives of education through a qualitative approach to the literature study model. The data in this paper is sourced from relevant literature and the author's experience while active in educational activities. The results of this study indicate that the bureaucracy in the form of educational administration has changed to an iron cage that shackles the educational activity itself. The delivery of education loses its orientation and turns into ceremonial routines to meet the demands of the bureaucracy. Various training, capacity building, and teacher competence have been done, but they have not significantly changed the face of education. Iron cage bureaucracy makes teachers "appear" to be developing their competence, but in fact, they are meeting the demands of the bureaucracy. Education must come out of the iron cage bureaucracy by reducing all administrative aspects that bind the noble activities of education. Bureaucracy is a human creation, so bureaucracy should be subject to humans and not humans who are subject to the will of the bureaucracy. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan birokrasi pendidikan sebagai alat untuk mencapai tujuan penyelenggaraan pendidikan melalui pendekatan kualitatif dengan model studi literatur. Data dalam tulisan ini bersumber dari literatur yang relevan dan pengalaman penulis selama aktif dalam aktivitas pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa birokrasi dalam bentuk administrasi pendidikan berubah menjadi “kerangkeng besi” yang membelenggu aktivitas pendidikan itu sendiri. Penyelenggaraan pendidikan kehilangan orientasinya dan berubah menjadi rutinitas seremonial demi memenuhi tuntutan birokrasi. Beragam pelatihan dan peningkatan kapasitas maupun kompetensi guru dalam dunia pendidikan telah dilakukan, namun belum mampu mengubah wajah pendidikan secara signifikan. Kontrol birokrasi membuat para guru “terlihat” sedang mengembangkan kompetensinya, padahal sejatinya sedang memenuhi tuntutan birokrasi. Untuk itu, pendidikan harus keluar dari “jerat birokrasi” dengan cara mereduksi semua aspek administratif yang membelenggu aktivitas mulia pendidikan. Birokrasi adalah hasil ciptaan manusia, maka seharusnya birokrasi tunduk pada manusia dan bukan manusia yang tunduk pada kehendak birokrasi.
Attitudes Towards Blended Learning : A Study of Leadership Training Education (Diklat PIM) IV Year 2018 Training Participants Nadya Megawati Rachman; Caterin Magdalena Simamora; Ratnaningsih Hidayati
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 6 No. 1 (2021): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i12021p30-38

Abstract

The advancement of information technology is one of the driving factors for implementing e-Government. Nevertheless, the learning process in government official capacity development is now conceivably conducted online. This research aims to discover government officials' attitudes towards blended learning in a population of 40 respondents of Leadership Training Education or Diklat PIM IV in 2018. This research is conducted with a quantitative methodology approach. The T-test used to test the first research hypotheses. A one-way ANOVA was performed for examining the second and third hypotheses. The result shows there is a favorable attitude towards blended learning among the Diklat PIM IV 2018 training participants. There are significant differences in attitudes toward blended learning based on gender but there is no significant difference in attitudes towards blended learning based on age classification.
Menelisik Pencegahan Pernikahan Usia Anak di Kota Surakarta Giyartika; Nurhadi; Yuhastina
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 6 No. 1 (2021): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i12021p39-54

Abstract

This study aims to understand and explain efforts to prevent child marriage in Surakarta city in the study of population sociology. The areas sampled were five “Kampong KB” (Family Planning Villages) spread over five subdistricts in the city of Surakarta. Data were collected through in-depth interviews with 16 informants and structured interviews with 48 informants, consisting of Family Planning Instructors (PKB), Regional Family Planning Assistants (PPKBD), parents, teenagers and government officials. Data analysis was carried out in three stages, namely data reduction or the selection process, simplification, abstraction and transformation of raw data, then data presentation. Conclusions and verification are carried out continuously during the study. The results showed that in the effort to prevent the practice of child marriage in Surakarta city, there were several strategies implemented by various parties, namely Family Planning Instructors (PKB), Regional Family Planning Assistants (PPKBD) and government officials, so as to form a patterns of social interaction and evolutionary processes, also known as symbolic interactionism. The strategies that are carried out include taking a cultural approach, synergy of Activity Groups, enthusiasm for achievement, building interventions, commitment and consistency in running programs, maximizing the use of social media and orderly administration. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menjelaskan upaya pencegahan pernikahan usia anak di Kota Surakarta dalam kajian ilmu sosiologi kependudukan. Wilayah yang dijadikan sampel adalah lima Kampung KB (Kampung Keluarga Berencana) yang tersebar di lima Kecamatan di Kota Surakarta. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 16 informan dan wawancara terstruktur dengan 48 informan, yang terdiri dari Penyuluh Keluarga Berencana (PKB), Pembantu Pembina Keluarga Berencana Daerah (PPKBD), orangtua, remaja dan aparatur pemerintah. Analisis data dilakukan melalui tiga tahapan, yakni reduksi data atau proses pemilihan, penyederhanaan, abstraksi dan transformasi data mentah, kemudian penyajian data. Penarikan kesimpulan serta verifikasi data dilakukan terus menerus selama penelitian berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam upaya pencegahan pernikahan usia anak di Kota Surakarta terdapat beberapa strategi yang dilakukan oleh berbagai pihak, yakni Penyuluh Keluarga Berencana (PKB), Pembantu Pembina Keluarga Berencana Daerah (PPKBD) dan aparatur pemerintah, sehingga terbentuk suatu pola interaksi sosial dan proses evolusioner atau yang dikenal dengan interaksionisme simbolik. Adapun strategi yang dilakukan diantaranya, melakukan pendekatan budaya, sinergisitas Kelompok Kegiatan (PokTan), semangat berprestasi, membangun intervensi, komitmen dan konsistensi menjalankan program, memaksimalkan penggunaan media sosial dan tertib administrasi.
Makna Upacara Balian dalam Ritual Pengobatan Tradisional Suku Paser Kabupaten Paser Cucu Widaty; Yuli Apriati; Aldian Hudaya; Siska Kusuma
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 6 No. 1 (2021): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i12021p55-64

Abstract

This study describes the balian ceremony in the form of a ritual that is carried out as a traditional treatment in the Paser tribe, Paser district, East Kalimantan. This is motivated by the belief of the Paser people who still maintain healing rituals with the balian ceremony because of hereditary and entrenched beliefs, considerations of alternative medicine, perceptions and views of life. This study aims to uncover 3 important focuses, namely: the form of the balian ceremony procession, the meaning of the balian ceremony for the Paser tribal community, and the function of the balian ceremony. The research method used in this study is qualitative with an ethnographic approach. This study uses data collection techniques in the form of observation, in-depth interviews, and documentation with primary data sources and secondary data sources. The results showed that the form of the balian ceremony procession consists of three stages, the first is the preparation stage, namely the organizer prepares the equipment and coordinates with the parties involved in the balian ceremony. Second, the core activity stage is a mulung dancing along with reciting healing spells. Third, the closing stage is mulung awareness, wiping water, and returning ceremonial equipment. The meaning of the Balian ceremony is the struggle for life, harmony, welfare, safety, good morals, and opening of sustenance, the meaning of asking for protection, remembering God, and remembering the nature of life. The function of the balian ceremony is an effort to heal patients, as a medium of public entertainment, as a medium for connecting the Paser tribal community to the spirits of their ancestors. Penelitian ini mendeskripsikan upacara balian berupa ritual yang dilaksanakan sebagai pengobatan tradisional pada suku Paser kabupaten Paser Kalimantan Timur. Hal ini dilatarbelakangi kepercayaan masyarakat Paser yang tetap mempertahankan ritual penyembuhan dengan upacara balian karena kepercayaan turun-temurun dan membudaya, pertimbangan pengobatan alternatif, persepsi dan pandangan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk menguak menguak 3 fokus penting yakni: bentuk prosesi upacara balian, makna upacara balian bagi masyarakat suku Paser, dan fungsi upacara balian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan sumber data primer dan sumber data sekunder. Hasil penelitian diketahui bahwa bentuk prosesi upacara balian terdiri dari tiga tahap, Pertama tahap persiapan yaitu penyelenggara mempersiapkan perlengkapan dan berkoordinasi dengan pihak yang terlibat pada upacara balian. Kedua, tahap kegiatan inti yaitu seorang mulung menari bersamaan dengan pembacaan mantra penyembuhan. Ketiga, tahap penutup yaitu penyadaran mulung, pengusapan air ,dan pengembalian peralatan upacara. Makna dari dilaksanakannya upacara balian adalah perjuangan hidup, keharmonisan, kesejahteraan, , keselamatan, moral baik,dan pembuka rezeki, makna memohon perlindungan, mengingat tuhan, dan mengingat alam kehidupan. Fungsi upacara balian adalah upaya penyembuhan pasien, sebagai media hiburan masyarakat, sebagai media penghubung masyarakat suku Paser terhadap roh leluhurnya.
The Religius Diversity Space Formation Based Private Schools Affiliation in Malang City Ibnu Mujib
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 6 No. 1 (2021): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i12021p65-78

Abstract

The intolerance that has threatened Indonesia in the last ten years is an important trail to show that the management of diversity in Indonesia is currently having a complex problem. Many parties are starting to question the wisdom of schools as a participatory diversity laboratory. This research emphasizes best practice tolerance education that is integrated into the realm of the learning curriculum in schools, this study more focused on three high school level schools in Malang city based on religion using a comparative descriptive method described by a qualitative critical approach. There is a perspective that is the finding of this research, namely the vision of tolerance and the definition of diversity built-in schools to give birth to patterns of student interaction in daily synergy with other different students. This perspective theoretically can produce five patterns of diversity interaction, namely: first: collegial interaction, second; dialogical experiment, third; intergroup community formation, fourth; participatory ethics, and fifth; transformative action. These five patterns were naturally formed by the vision of tolerance created by the three schools through various activities, both intra and extracurricular, and became patterns of intense participatory interaction in daily activities at school.
Kontribusi Modal Sosial Dalam Pengembangan Desa Wisata Mas-Mas Kabupaten Lombok Tengah Isnan Nursalim; Rosiady Husaenie Sayuti; Oryza Pneumatica Inderasari
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 6 No. 1 (2021): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i12021p79-92

Abstract

This study discusses the contribution of social capital in the development of the Mas-Mas Tourism Village. The method used is the Mixed method which is a combination of quantitative and qualitative approaches. The results of the study show the importance of social capital in the development of the Mas-Mas Tourism Village. Through the network created in the form of relationships between members of the organization and other stakeholders, resulting in community participation as measured by community involvement in training, mutual cooperation and promotion of the Mas-Mas Tourism Village. Values and norms are shown by local wisdom that is still maintained. This is because of the awiq-awiq or rules for tourists that must be obeyed and socialized to tourists. This is what increases public trust in tourism village managers, tourists and stakeholders. Factors that play a role in the development of the Mas-Mas Tourism Village are the driving factors and inhibiting factors. The right strategy is carried out by Mas-Mas Tourism Village in developing tourism for now is to optimize the potential of the community and innovate with the tourism programs offered.This study discusses the contribution of social capital in the development of the Mas-Mas Tourism Village. The method used is the Mixed method which is a combination of quantitative and qualitative approaches. The results of the study show the importance of social capital in the development of the Mas-Mas Tourism Village. Through the network created in the form of relationships between members of the organization and other stakeholders, resulting in community participation as measured by community involvement in training, mutual cooperation and promotion of the Mas-Mas Tourism Village. Values and norms are shown by local wisdom that is still maintained. This is because of the awiq-awiq or rules for tourists that must be obeyed and socialized to tourists. This is what increases public trust in tourism village managers, tourists and stakeholders. Factors that play a role in the development of the Mas-Mas Tourism Village are the driving factors and inhibiting factors. The right strategy is carried out by Mas-Mas Tourism Village in developing tourism for now is to optimize the potential of the community and innovate with the tourism programs offered. Penelitian ini membahas kontribusi modal sosial dalam pengembangan Desa Wisata Mas-Mas. Metode yang digunakan yaitu Mixed method yang merupakan gabungan antara pendekatan kuantitatif dengan kualitatif.. Hasil Penelitian menunjukan pentingnya modal sosial dalam pengembangan Desa Wisata Mas-Mas. Melalui jaringan yang tercipta berupa relasi antar anggota organisasi dan stakeholders lainnya menghasilkan partisipasi masyarakat yang diukur dari keterlibatan masyarakat dalam mengikuti pelatihan, gotong royong serta melakukan promosi Desa Wisata Mas-Mas. Nilai dan Norma ditunjukan dengan kearifan lokal yang masih terjaga. Hal ini karena adanya awiq-awiq atau aturan bagi wisatawan yang harus dipatuhi dan disosialisasikan kepada wisatawan. Hal ini yang membuat meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada pengelola desa wisata, wisatawan dan stakeholders. Faktor yang berperan dalam pengembangan Desa Wisata Mas-Mas berupa faktor pendorong dan faktor penghambat. Strategi yang tepat dilakukan oleh Desa Wisata Mas-Mas dalam mengembangkan pariwisata untuk saat ini adalah mengoptimalkan potensi yang dimiliki masyarakat serta berinovasi dengan program wisata yang ditawarkan.
Penerapan Pendidikan Humanis Demokratis di Sekolah Dasar Eksperimental Mangunan Anatoli Kasparov Putuabdullah; Sunarso
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 6 No. 2 (2021): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i22021p93-107

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pendidikan humanis demokratis di SD Eksperimental Mangunan. Dilatarbelakangi situasi pendidikan saat ini yang cenderung berpusat pada guru, sehingga menjadikan siswa sebagai objek yang pasif. Artikel ini merupakan penelitan studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan di Sekolah Dasar Eksperimental Mangunan Yogyakarta pada Juli-Agustus tahun 2021. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data mengunakan teknik triangulasi sumber dan teknik. Sedangkan teknik analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif Miles dan Huberman, dengan tahap: (1) mereduksi data yang diperoleh, (2) menyajikan data dengan teks naratif dan gambar, (3) melakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan penelitian ini adalah SD Eksperimental Mangunan telah menerapkan pembelajaran humanis demokratis Mangunwijaya, yang ditandai dengan anggapan bahwa setiap anak memiliki tujuh modal dasar yang harus dimekarkan dengan berbagai program, pembelajaran yang memerdekakan anak melalui kegiatan koper (kotak pertanyaan) dan nggiwar (berfikir tidak linier), pembelajaran yang bermakna dengan menjadikan masyarakat sebagai sekolah dan sekolah sebagai masyarakat, model pembelajaran menggunakan project based learning yang mendorong siswa untuk aktif bereksploratif dan berkreasi guna menemukan pengetahuannya sendiri. This research aims to find out: (1) Y.B. Mangunwijaya’s thoughts on humanistic education, (2) the implementation of humanistic education in Mangunan Experimental Elementary School. This research was a case study research using a qualitative approach. The research was conducted at the Experimental Elementary School of Mangunan Yogyakarta on July-August 2021. The subjects of this research were the Principal of the Mangunan Experimental Elementary School, the head of Dynamics of Primary Education (Dinamika Edukasi Dasar), and the teachers of Mangunan Experimental Elementary School. The research data were collected using interview and documentation techniques. The data validation used a triangulation technique. The data analysis used Creswell’s qualitative analysis technique that included the following steps: (1) preparing the data for analysis, (2) reading the entire data, (3) starting a detailed analysis, (4) presenting descriptions and themes in qualitative narratives, and (5) interpreting data. The results of this research are the descriptions about some implications of humanistic education at the Mangunan Experimental Elementary School are: a) every child has seven basic assets that must be developed through various programs, b) learning that liberates children are held through suitcase (question box) and nggiwar (non-linear thinking) activities, c) meaningful learning means making the community as the school and the school as the community while the community is also the learning source, d) the learning model used is project-based learning that encourages students to actively explore and be creative in order to find their own knowledge.
Makna Pendidikan dan Pewarisan Ajaran Samin bagi Masyarakat di Desa Sambongrejo Kecamatan Sambong Kabupaten Blora Rohana Siti Nurkasanah; Agus Purnomo; Bayu Kurniawan
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 6 No. 2 (2021): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i22021p108-118

Abstract

Masyarakat Samin adalah salah satu komunitas di Jawa Tengah yang biasa dikenal dengan sedulur sikep. Masyarakat Samin muncul sebagai bentuk penolakan terhadap Belanda. Penolakan tersebut diikuti dengan sikap tidak setuju terhadap beberapa hal, misalnya keberadaan sekolah. Akan tetapi, perkembangan zaman yang semakin maju telah membawa banyak perubahan pada masyarakat Samin. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan sejarah, makna pendidikan formal, dan ajaran Samin. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian dilakukan di Desa Sambongrejo Kecamatan Sambong Kabupaten Blora. Data diperoleh dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa ajaran Samin yang dipelopori Samin Surosentiko pada tahun 1890 dan langsung diterima oleh masyarakat Blora. Hal tersebut dikarenakan keadaan masyarakat Blora sangat memprihatinkan. Tekanan dari pemerintahan Belanda pada bidang pendidikan, melalui sekolah masyarakat akan mendapat penanaman nilai yang berbasis kebudayaan Belanda. Sekitar tahun 1945 setelah Indonesia merdeka, sedikit demi sedikit masyarakat Samin mulai menerima pendidikan formal. Mulai tahun 2000-an mayoritas masyarakat Samin sudah menempuh pendidikan formal sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Ajaran Samin yang masih dipegang teguh sebagai patokan hidup masyarakat Samin yaitu ucapan, pikiran, dan tingkah laku. The Samin community is a community in Central Java which is commonly known as sedulur sikep. The Samin community emerged as a form of rejection of the Dutch. This rejection was followed by disagreement with several things, for example the existence of a school. However, the progress of the times has brought many changes to the Samin community. The purpose of this study was to describe the history, meaning of formal education, and Samin's teachings. This research uses qualitative research with a descriptive approach. The research was conducted in Sambongrejo Village, Sambong District, Blora Regency. Data obtained from primary and secondary data. Data collection techniques using observation, interviews, and documentation. Based on the research, it can be concluded that the Samin teachings were pioneered by Samin Surosentiko in 1890 and were immediately accepted by the people of Blora. This is because the condition of the people of Blora is very apprehensive. The pressure from the Dutch government on education, through community schools, will get the inculcation of values based on Dutch culture. Around 1945 after Indonesia's independence, little by little the Samin people began to receive formal education. Starting in the 2000s, the majority of the Samin people have taken formal primary and junior high school education. The Samin teachings that are still firmly adhered to as the standard of life for the Samin community are speech, thoughts, and behavior.
Akademisi Perempuan, Beban Ganda dan Peran Komunikasi Keluarga di Masa Pandemi Farisha Sestri Musdalifah; Annisa Rahmawati
JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 6 No. 2 (2021): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis)
Publisher : Faculty of Social Science, Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um021v6i22021p119-139

Abstract

Kebijakan WFH (Work From Home) dan SFH (School From Home) yang diberlakukan oleh pemerintah Indonesia selama masa pandemi membuat beban ganda yang dijalankan oleh dosen perempuan semakin berat. Sebagai seorang ibu, dosen perempuan kini memiliki kewajiban baru untuk mengawasi dan membimbing anak-anaknya selama sekolah daring. Beban ganda yang makin berat di masa pandemi ini dapat berkurang jika akademisi perempuan memiliki pola komunikasi keluarga yang baik. Penelitian ini merupakan studi fenomenologi yang membahas pengalaman komunikasi keluarga pada akademisi perempuan dalam menghadapi beban ganda selama pandemi Covid-19. Komunikasi keluarga dianalisis berdasarkan enam dimensi, yaitu listening skill, speaking skill, self-disclosure, clarity, continuity tracking, dan respect or regard. Wawancara mendalam dilakukan kepada tiga akademisi perempuan untuk mendapatkan pengalaman mereka menjalani beban ganda di masa pandemi dan bagaimana komunikasi keluarga turut berperan di tengah situasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga informan akademisi perempuan dalam penelitian ini memiliki pemaknaan yang berbeda-beda mengenai beban ganda yang mereka jalani. Berdasarkan enam dimensi komunikasi keluarga, tiga informan dalam penelitian memiliki komunikasi keluarga yang baik sehingga keluarga mampu memberikan kekuatan tersendiri dan mendukung akademisi perempuan dalam menjalankan beban gandanya di masa pandemi Covid-19. The implementation of theWork From Home and School From Home policies imposed by the Indonesian government during the pandemic have made the double burden of female academic lecturers even havier. As a mother, female academic lecturers now have a new obligation to supervise and guide their children during online school. The double burden that is getting havier during this pandemic can be reduced if female academics have good family communication patterns. This research is a phenomenological study that discusses the experience of family communication in female academics facing a double burden during the Covid-19 pandemic. Family communication was analyzed based on six dimensions: listening skills, speaking skills, self-disclosure, clarity, continuity tracking, and respect or regard. In-depth interviews were conducted with three female academics to gain their experience of undergoing a double burden during a pandemic and how family communication plays a role during this situation. The results showed that this study's three female academic informants had different meanings about the double burden as an academician and as a mother. Based on the six dimensions of family communication, the three informants in the study had good family communication. The family provided its own strength and supported female academics in carrying out their double burden during the Covid-19 pandemic

Filter by Year

2016 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 11 No. 1 (2026): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 10 No. 2 (2025): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 10 No. 1 (2025): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 9 No. 2 (2024): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 9 No. 1 (2024): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol 9, No 1 (2024): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol. 8 No. 2 (2023): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol 8, No 2 (2023): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol. 8 No. 1 (2023): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol 8, No 1 (2023): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 7, No 2 (2022): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol. 7 No. 2 (2022): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 7 No. 1 (2022): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol 7, No 1 (2022): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol. 6 No. 2 (2021): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol. 6 No. 1 (2021): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol. 5 No. 2 (2020): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 5 No. 1 (2020): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol. 4 No. 2 (2019): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol. 4 No. 1 (2019): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol. 3 No. 2 (2018): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol. 3 No. 1 (2018): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol. 2 No. 2 (2017): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 2 No. 1 (2017): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis Vol. 1 No. 2 (2016): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol. 1 No. 1 (2016): JSPH (Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis) Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis More Issue