cover
Contact Name
Eny Puspani
Contact Email
jurnaltropika@unud.ac.id
Phone
+62361-222096
Journal Mail Official
jurnaltropika@unud.ac.id
Editorial Address
Fakultas Peternakan Universitas Udayana Kampus UNUD, Bukit Jimbaran Badung, Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Peternakan Tropika
Published by Universitas Udayana
ISSN : jurnaltr     EISSN : 27227286     DOI : https://doi.org/10.24843/JPT
Core Subject : Health,
Jurnal Peternakan Tropika (JPT) was published by the Faculty of Animal Husbandry, Udayana University. Jurnal Peternakan Tropika (JPT) is published regularly, three times a year, in January-April, May-August, and September - December. Jurnal Peternakan Tropika (JPT) summarizes various manuscripts in the field of animal husbandry such as nutrition, production, reproduction, post-harvest (processing and technology) and socio-economic fields of livestock. Open manuscripts for lecturers and researchers related to the field of animal husbandry, and open to S1, S2 and S3 students, by following the rules set by Jurnal Peternakan Tropika (JPT).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2015)" : 15 Documents clear
KAJIAN PENGGUNAAN ASAP CAIR DENGAN LAMA PERENDAMAN BERBEDA PADA BAKSO AYAM TERHADAP TINGKAT PENERIMAAN PANELIS Wulandari N.P; Lindawati S.A; Miwada IN.S
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.037 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter responden terhadap produk bakso ayam (warna, aroma, tekstur, citarasa dan penerimaan secara keseluruhan) yang diberi perlakuan lama perendaman dalam asap cair. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yang meliputi P15 (lama perendaman 15 menit), P20 (lama perendaman 20 menit), P25 (lama perendaman 25 menit) dan P30 (lama perendaman 30 menit). Variabel yang diamati pada penelitian ini yaitu warna, aroma, tekstur, citarasa dan penerimaan keseluruhan. Pengujian kualitas organoleptik pada lama perendaman yang berbeda dengan konsentrasi asap cair 3% memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap bakso ayam ditinjau dari segi aroma, citarasa dan penerimaan secara keseluruhan serta tidak nyata (P>0,05) terhadap warna dan tekstur. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lama perendaman selama 25-30 menit bakso ayam dalam asap cair (konsentrasi 3%) disukai oleh panelis dengan skor nilai yaitu 3,77 (mengarah ke kriteria suka).
KECERNAAN DAN NILAI NUTRISI DEDAK PADI YANG DIFERMENTASI DENGAN Saccharomyces sp ISOLAT DARI RAGI TAPE Santi N.P.A.A; Bidura IG.N.G; Candrawati D.P.M.A
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.924 KB)

Abstract

Tinggi kandungan serat kasar pada dedak padi berpengaruh pada efiesiensi penggunaan ransum, oleh karena itu pemberian dedak padi pada ransum harus dibatasi. Keterbatasan penggunan dedak padi disebabkan karena tingginya kandungan serat kasar, yang berdampak pada menurunnya kecernaannya.Oleh karena itu ransum yang menggunakan komponen  dedak padi yang cukup tinggi (20-30%) perlu dilakukan rekayasa bioteknologi fermentasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan khamir Saccharomyces spyang diisolasi dari tape sebagai inokulan fermentasi dedak padiuntukmeningkatkannilai nutrisi dan nilai cerna dedak padi. Rancangan yang diamati adalah rancangan Acak Lengkap  (RAL) dengan 3 perlakuan dan 6 kali ulangan. Ketiga perlakuan tersebut adalah dedak padi tanpa fermentasi (A),dedak padi terfermentasi dengan 0,20% kultur khamir Saccharomyces sp (B),dedak padi terfermentasi dengan 0,40%dan kultur khamir Saccharomyces sp (C). Variabel yang diamati adalah kandungan nutrient yang diamati adalah  bahan kering, bahan organik, protein kasar,dan serat kasar,koefisien cerna yang diamati adalah koefisien cerna bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan serat kasar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan bahan kering dan bahan organik dedak padi perlakuan B dan C tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan dengan kontrol (A). Namun kandungan protein kasar dan serat kasar meningkat nyata (P<0,05) dibandingkan di kontrol. Fermentasidedak padi perlakuan B dan C nyata (P<0,05) dapat meningkatkan koefisien cerna bahan kering bahan organik, protein kasar dan serat kasar dedak padi dibandingkan di kontrol (A). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa fermentasi dedak padi yang menggunakan kulturkhamir Saccharomyces spyang diisolasi dari ragi tape dapat meningkatkan kandungan protein kasar kasar dan serat kasar serta koefisien cerna bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan koefisien cernaseratkasar dedak padi.
POPULASI MIKROBA INOKULAN YANG DIPRODUKSI DARI CAIRAN RUMEN SAPI BALI DAN RAYAP Dewi M.P.L; Suryani N.N; Mudita IM.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.748 KB)

Abstract

Penelitian yang bertujuanuntuk mengetahui populasi mikroba inokulan yang telah diproduksi dengan menggunakan kombinasi cairan rumen sapi bali dan rayap, dilaksanakan dari tanggal 3 Mei 2013 sampai dengan akhir Oktober 2013 di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan yaitu Inokulan yang diproduksi menggunakan 10% cairan rumen dan 0,3% rayap (BR1T3), 20% cairan rumen dan 0,2% rayap (BR2T2) serta 20% cairan rumen dan 0,3% rayap (BR2T3) dan tiga ulangan. Peubah yang diamati adalah populasi bakteri anaerob, populasi bakteri selulolitik, populasi bakteri asam laktat, populasi total fungi, populasi fungi selulolitik dan derajat keasaman inokulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa populasi bakteri anaerob sebesar (3,99-5,49 x 108 koloni/ml,), populasi bakteri selulolitik (3,61-4,59 x 108 koloni/ml), populasi bakteri asam laktat (2,87-4,53 x 107 koloni/ml), populasi total fungi (4,40-5,60 x 107 koloni/ml) dan populasi fungi selulolitik (2,13-2,93x 107 koloni/ml) serta derajat keasaman inokulan masing-masing sebesar 4,46-4,66. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan kombinasi cairan rumen sapi bali 20% dengan penggunaan rayap 0,2% dan 0,3% pada inokulan (BR2T2 dan BR2T3) mampu meningkatkan populasi bakteri anaerob, bakteri selulolitik, dan fungi selulolitik, namun populasi bakteri asam laktat, populasi total fungi dan derajat keasaman tidak berpengaruh.
KORELASI UKURAN TESTIS TERHADAP PRODUKSI DAN KUALITAS SEMEN CAIR BABI LANDRACE DALAM RANGKAIAN INSEMINASI BUATAN Parasara IG.N.A.M.; Sumardani N.L.G; Suranjaya IG.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.869 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengamati korelasi ukuran testis terhadap produksi dan kualitas semen cair babi Landrace dalam rangkaian inseminasi buatan. Pejantan babi Landrace yang digunakan adalah milik UPT BIBD Provinsi Bali (Baturiti Tabanan dan Buruan Gianyar). Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan masing-masing 5 ekor pejantan Landrace per lokasi sebagai unit pengamatan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa  panjang testis kanan dan kiri babi Landrace di Buruan adalah 16.58±2.72 cm dan 18.16±2.31 cm, sementara di Baturiti  adalah 13.1±1.75 cm dan 13.22±0.88 cm. Lebar testis kanan babi Landrace di Buruan sebesar 8.68±1.80 cm dan di Baturiti sebesar 7.67±0.33cm, sedangkan lebar testis kiri di Buruan 9.73±1.53 cm dan di Baturiti 7.66±0.39 cm. Korelasi antara ukuran testis dengan volume semen adalah signifikan (P<0,05), sedangkan korelasi antara lebar testis kanan dengan volume semen adalah non signifikan (P>0,005). Volume semen babi Landrace di Buruan adalah 411.6 ± 140.9 ml dan nyata lebih tinggi (P<0.05) dari volume semen di Baturiti yaitu 218.4±68.7 ml. Untuk kualitas semen yaitu motilitas spermatozoa, konsentrasi dan persentase spermatozoa hidup dan mati secara statistik adalah berbeda tidak nyata (P>0.05). Hasil penelitian menunjukan bahwa ukuran testis berkorelasi nyata dengan volume semen (P<0.05), tetapi volume semen tidak berkorelasi nyata dengan kualitas semen. Untuk keperluan inseminasi buatan maka produksi semen babi Landrace di Buruan dan Baturiti  memiliki peluang untuk digunakan karena kualitas semen yang dihasilkan adalah baik.
KARKAS KELINCI LOKAL (Lepus negricollis) YANG DIBERI RANSUMDENGAN IMBANGAN ENERGI DAN PROTEIN BERBEDAYANG DIPELIHARA PADA KANDANG UNDERGROUND SHELTER Adhitya R.P; Nuriyasa IM.; Candrawati D.P.M.A
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.974 KB)

Abstract

Penelitian ini telah dilakukan selama 12 minggu, bertujuan untuk mengetahui karkas kelinci yang diberi ransum dengan imbangan energi dan protein dan berbeda. Kelinci yang digunakan adalah kelinci jantan lokal umur 5 minggu sebanyak 20 ekor dengan berat 189,25 ± 1,54 g. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan, tiap perlakuan diulang lima kali dan tiap unit menggunakan satu ekor kelinci. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan yaitu imbangan energi protein (R) yang terdiri dari ransum dengan imbangan energi protein 156,88 (R1), imbangan energi protein 154,97 (R2), imbangan energi protein 153,05 (R3) dan imbangan energi protein 151,44 (R4).Variabel yang diamati adalah variabel berat potong, berat karkas, presentase karkas, berat recahan karkas, serta komposisi fisik karkas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan ransum R3 menyebabkan berat potong dan berat karkas lebih tinggi (P<0,05) daripada R1, R2 dan R4. Presentase karkas pada ransum R1 lebih rendah (P<0,05) daripada R2, R3 dan R4. Presentase recahan karkas berbeda tidak nyata (P>0,05) diantara perlakuan ransum dengan imbangan energi dan protein berbeda, sedangkan presentase daging yang diberi perlakuan ransum R3 lebih tinggi (P<0,05) daripada R1, R2, dan R4. Presentase tulang pada R3 lebih rendah (P<0,05) daripada R1, R2, dan R4. Presentase lemak pada perlakuan R1, R2, R3 dan R4 memberikan perbedaan tidak nyata (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa ransum dengan energi termetabolis 2603 kkal/kg dan CP 17% dengan imbangan energi protein 153,05 (R3) menghasilkan karkas yang lebih tinggi daripada perlakuan ransum dengan energi termetabolis 2801 kkal/kg dan CP 18,5% dengan imbangan energi protein 151,44 (R4), ransum dengan energi termetabolis 2402 kkal/kg dan CP 15,5% dengan imbangan energi protein 154,97 (R2), ransum dengan energi termetabolis 2201 dan CP 14% dengan imbangan energi protein 156,88 (R1).
RESPON DIMENSI TUBUH DAN HUBUNGANYA DENGAN BOBOT BADAN SAPI BALI YANG DIBERI RANSUM MENGANDUNG KOMPOSISI HIJAUAN BERBEDA Dhany K.G; Oka A.A; Suryani N.N
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.908 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertambahan panjang badan, lingkar dada dan tinggi gumba serta hubunganya dengan berat badan pada sapi bali yang diberikan ransum mengandung komposisi hijauan berbeda. Sebanyak 12 ekor sapi bali dengan berat rata-rata kelompok I= 212,75±2,50 kg, kelompok II= 245,25±7,14 kg dan kelompok III= 262,00±19,51 kg. Penelitian ini di laksanakan pada kelompok ternak Wibuh Mandiri,di Banjar Tangkeban Desa Batuyang Kangin, Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar. Penelitian berlangsung selama 12 minggu, pengukuran dimensi tubuh dan penimbangan bobot badan dilakukan tiap 2 minggu . Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan ransum dengan tiga kelompok berat badan sebagai ulangan. (A) : 45% rumput gajah + 15% gamal + 10% kaliandra + 30% konsentrat (B) : 30% rumput gajah + 10% jerami padi + 20% gamal + 10% kaliandra + 30% konsentrat (C) : 15% rumput gajah + 20% jerami padi + 25% gamal +10% kaliandra + 30% konsentrat (D) : 30% jerami padi + 30% gamal + 10% kaliandra + 30% konsentrat. Peubah yang diamati adalah bobot awal, pertambahan berat badan selama penelitian, panjang badan, lingkar dada dan tinggi gumba. Hasil penelitian menujukkan sapi yang mendapatkan  ransum perlakuan C nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan sapi yang mendapatkan ransum perlakuan A, B dan D terhadap panjang badan. Sementara lingkar dada dan tinggi gumba berbeda tidak nyata (P>0,05) dari semua perlakuan. Hubungan antara bobot badan dengan tiga peubah panjang badan, lingkar dada, tinggi gumba dapat di buat rumus Y= -992,5 + 2,30X1 + 1,03X2 + 6,81X3 dengan R2=0,88 dimana Y (bobot badan), X1 (panjang badan), X2 (lingkar dada) dan X3 (tinggi gumba).
KANDUNGAN BAHAN KERING DAN NUTRIEN SUPLEMEN BERPROBIOTIK YANG DIPRODUKSI DENGAN TINGKAT LIMBAH ISI RUMEN BERBEDA Tripuratapini S; Mudita IM.; Candrawati D.P.M.A
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.676 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan bahan kering dan nutrien suplemen berprobiotik yang diproduksi dengan tingkat limbah isi rumen berbeda. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, sehingga secara keseluruhan terdapat 12 unit percobaan yang meliputi: Suplemen yang diproduksi menggunakan limbah isi rumen 20% (SP20), penggunaan limbah isi rumen 40% (SP40), penggunaan limbah isi rumen 60% (SP60), dan penggunaan limbah isi rumen 80% (SP80). Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah kandungan bahan kering (BK), bahan organik (BO), protein kasar (PK), dan serat kasar (SK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan bahan kering suplemen tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) antar perlakuan. Akan tetapi kandungan bahan organik nyata (P<0,05) menurun dengan meningkatnya penggunaan limbah isi rumen. Persentase kandungan bahan kering suplemen pada perlakuan SP20 lebih tinggi dibanding perlakuan SP40, SP60, dan SP80 secara berturut-turut sebesar 0,66%, 2,16%, dan 4,22%. Sedangkan hasil analisis kadungan protein kasar pada perlakuan SP20, SP40, dan SP60 berbeda tidak nyata (P>0,05) namun nyata (P<0,05) menurun pada perlakuan SP80 (13,96%). Hasil analisis kandungan serat kasar nyata (P<0,05) meningkat seiring dengan penambahan penggunaan limbah isi rumen. Persentase serat kasar pada perlakuan SP20, SP40, dan SP60 berturut-turut sebesar 26,04%, 16,51%, dan 6,10% lebih rendah berbeda nyata (P<0,05) dari kandungan serat kasar pada perlakuan SP80. Hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan limbah isi rumen sapi bali sebanyak 20% berpengaruh berbeda tidak nyata terhadap bahan kering namun mampu meningkatkan kandungan bahan organik suplemen, serta menghasilkan kandungan serat kasar yang paling rendah. Penggunaan limbah isi rumen sapi bali sebanyak 20%, 40%, dan 60% dapat menigkatkan kandungan protein kasar suplemen. Sedangkan penggunaan limbah isi rumen hingga 80% dapat menurunkan kandungan bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan meningkatkan kandungan serat kasar suplemen.
PENGARUH KOMPOSISI HIJAUAN DENGAN LEVEL KONSENTRAT BERBEDA PADA RANSUM KAMBING PERANAKAN ETAWAH TERHADAP NERACA NITROGEN Saskara IM.T; Suryani N.N; Astawa IP.A
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.325 KB)

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian komposisi hijauan dan level konsentrat yang berbeda terhadap neraca nitrogen pada kambing Peranakan Etawah (PE) telah di lakukan pada bulan Juli sampai Oktober 2014 di Bukit Jimbaran dengan menggunakan metode koleksi total. Analisis sample dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan diulang 3 kali berdasarkan bobot badan awal kambing yaitu A: 15% rumput gajah + 20% jerami padi + 25% gamal + 10% kaliandra + 30% konsentrat, B: 30% rumput gajah + 30% gamal + 40% konsentrat dan C: 20% rumput gajah + 20% gamal + 60% konsentrat. Berat badan kambing yang digunakan rata-rata ±12,55 kg/ekor. Hasil penelitian menunjukkan retensi N (g/e/h), Net Nitrogen Utilization (%) dan Biological Value (%) mencapai nilai tertinggi yaitu 2,086, 25,19, dan 33,7 pada kambing yang mendapat perlakuan A, namun memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata (P>0,05) dengan perlakuan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa komposisi hijauan dengan level konsentrat berbeda tidak berpengaruh terhadap konsumsi N, N feses, N urin dan Retensi N pada semua perlakuan
PENAMPILAN SAPI BALI YANG DIBERI RANSUM BERBASIS LIMBAH PERTANIAN TERFERMENTASI INOKULAN CAIRAN RUMEN DAN RAYAP Ariwibawa G.P; Mudita IM.; Wibawa A.A.P.P; Wirawan IW.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.017 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fermentasi ransum berbasis limbah pertanian menggunakan inokulan cairan rumen dan rayap terhadap penampilan sapi bali jantan. Penelitian dilaksanakan di kandang Farm Fakultas Peternakan Universitas Udayana Bukit Jimbaran. Penelitian berlangsung selama 6 bulan. Analisis sampel dilaksanakan di Laboratorium Bersama Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Penelitian menggunakan 12 ekor sapi bali jantan dengan bobot badan awal 118,33 ± 22,99 kg. Perlakuan yang diberikan terdiri atas ransum tanpa terfermentasi (RBo), ransum terfermentasi inokulan 20% cairan rumen dan 0,2 % rayap (RBR2T2), ransum terfermentasi inokulan 10% cairan rumen dan 0,3 % rayap (RBR1T3) dan ransum terfermentasi inokulan 20% cairan rumen dan 0,3 % rayap (RBR2T3).Variabel yang diamati meliputi Pertambahan Bobot Badan Harian, Feed Conversion Ratio, Konsumsi Bahan Kering, Konsumsi Bahan Organik, Konsumsi Serat Kasar, Konsumsi Protein Kasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan inokulan cairan rumen dan rayap (RBR1T3, RBR2T2 dan RBR2T3) sebagai fermentor ransum berbasis limbah pertanian mampu meningkatkan konsumsi bahan kering, konsumsi bahan organik, dan konsumsi protein kasar, menurunkan konsumsi serat kasar, meningkatkan pertambahan bobot badan harian sapi bali serta meningkatkan efisiensi pemanfaatan ransum dibandingkan dengan pemberian ransum  tanpa terfermentasi inokulan. Dapat disumpulkan bahwa pemanfaatan inokulan 20% cairan rumen dan 0,3% rayap sebagai Fermentor ransum berbasis limbah pertanian dapat meningkatkan penampilan sapi bali yang lebih baik.
PENURUNAN SIFAT WARNA BULU PUTIH DAN COKLAT PADA KAMBING GEMBRONG Dyantari K.D.P; Lanang Oka I.G; Warmadewi D.A.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.337 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan cara penurunan sifat (mode of inheritance) variasi warna bulu kambing gembrong. Observasi dan wawancara kepada petani pemelihara kambing gembrong yang ada di Kabupaten Karangasem, Bali Timur dilaksanakan di bulan Desember 2014 sampai dengan Pebruari 2015 untuk membuat silsilah segregasi warna putih dan coklat yang dijumpai. Perbandingan antara keturunan yang berwarna putih dan coklat hasil perkawinan antara kambing gembrong warna putih heterozygot dengan warna coklat homozygot dianalisis dengan “tes-X2” untuk mendukung kesimpulan yang diperoleh dari analisis silsilahnya. Disimpulkan bahwa warna bulu kambing gembrong bersifat menurun dan warna putih menurun secara dominan autosomal terhadap warna coklat.

Page 1 of 2 | Total Record : 15