cover
Contact Name
Tri Wahyono
Contact Email
wahyonotri25@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
hsosiati@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur)
ISSN : 25803271     EISSN : 26565897     DOI : 10.18196/jmpm
Core Subject : Engineering,
Jurnal Material DAN Proses Manufaktur focuses on the research and research review in the field of engineering material and manufacturing processes. The journal covers various themes namely Design Engineering, Process Optimization, Process Problem Solving, Manufacturing Methods, Process Automation, Material research and investigation, Advanced Materials, Nanomaterials, Mechanical solid and fluid, Energy Harvesting and Renewable Energy.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2019): Juni" : 16 Documents clear
KONTUR TEKANAN DAN KECEPATAN ALIRAN FLUIDA PADA POMPA HYDRAULIC-RAM Sukamta, Sukamta; Mahendra S, Binanda Braja; Krisdiyanto, Krisdiyanto; Janalto, Ongky; Priambodo, Wursito Adi
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3138

Abstract

AbstrakKarakteristik aliran fluida sangatlah penting diprediksi agar dapat dilakukan upaya pencegahan dini terhadap kerusakan yang terjadi pada saluran perpipaan. Salah satu metode yang tepat untuk memprediksi karakteristik aliran tersebut adalah Computational Fluid Dynamics (CFD). Metode ini sangat cocok digunakan untuk melakukan analisis sebuah sistem yang rumit dan sulit dipecahkan dengan perhitungan manual. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui fenomena aliran yang terjadi pada pompa Hydram dengan simulasi numerik menggunakan software ANSYS Fluent 19 R2 academic. Simulasi ini dilakukan pada pompa Hydram berdiameter tabung 8 inch dan panjang pesat 7,3 m. Simulasi pada kondisi transien ini dilakukan dengan menggunakan metode layering mesh dinamis. Hasil simulasi menunjukkan karakteristik aliran fluida di dalam pompa Hydram dengan kontur tekanan yang tidak merata tetapi terkonsentrasi pada titik tertentu. Tekanan di area badan pompa lebih tinggi daripada di area tabung, perbedaan tekanan disebabkan oleh gerakan katup dan perbedaan diameter pipa. Kecepatan aliran pada pipa pesat sangat berpengaruh pada tekanan yang dihasilkan, dan hal ini akan mempengaruhi head pompa Hydram juga akan meningkat. AbstractIt is important to predict the characteristics of the fluid flow so that early prevention efforts can be made. An appropriate method for predicting the flow characteristics is Computational Fluid Dynamics (CFD). This method is suitable for analyzing complex systems that are difficult to solve using manual calculations. This research was conducted to determine the flow phenomenon that occurs in Hydram pumps with numerical simulations using ANSYS Fluent 19 R2 academic software. This simulation was carried out on a Hydram pump with a diameter of 8 inches and a pipe length of 7.3 m. Simulations on these transient conditions are carried out using the layering dynamic mesh method. The simulation result in the fluid flow characteristics at Hydram pump with uneven pressure contours but concentrated at a certain point. Pressure in the pump body area is higher than that in the tube area, the pressure difference is caused by the movement of the valve and the difference in pipe diameter. The flow velocity on the pipe is very fast influencing the pressure generated, and this will affect the Hydram pump head will also increase.
SIFAT TARIK DAN STRUKTUR MIKRO SAMBUNGAN LAS GESEK TAK SEJENIS BAJA-TEMBAGA Romadhan, Ady Ryan; Nugroho, Aris Widyo; Suwanda, Totok; Wilza, Romi
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3133

Abstract

AbstrakTembaga dikenal memilki keunggulan sifat fisis sehingga sering diaplikasikan bersamaan dengan baja menggunakan teknik brazing yang membutuhkan filler. Friction welding memberikan alternatif penyambungan tak sejenis tanpa filler dan asap. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek tekanan gesek terhadap sifat mekanis sambungan las gesek pada sambungan dissimilar baja-tembaga. Silinder tembaga dan baja dibubut menjadi bentuk setengah bagian dari benda uji standar JIS Z 2201. Proses pengelasan dilakukan pada putaran 1000 rpm dengan variasi tekanan gesek sebesar 30, 35, dan 40 MPa dengan tekanan tempa 80 MPa. Waktu gesek dan waktu tempa masing-masing 5 detik. Hasil penyambungan masing-masing diamati struktur mikro, kekerasan dan sifat tariknya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan meningkatnya tekanan gesek maka daerah TMAZ melebar. Struktur mikro berbutir halus teramati di bagian baja, sedangkan di daerah tembaga, orientasi butir berubah memanjang searah dengan permukaan sambungan. Pada daerah termomechanically affected zone (TMAZ) dan welding center zone (WCZ) kekerasan masing-masing logam turun seiring dengan kenaikan tekanan gesek. Lebar daerah TMAZ yang cukup membuat kekuatan tarik tertinggi diperoleh dari spesimen dengan variasi 35 MPa sebesar 89 MPa. Metode las ini dapat digunakan untuk penyambungan logam tak sejenis baja-tembaga dengan memperhitungkan luasan daerah TMAZ. AbstractCopper is often used along with steel due to it excellence properties by using brazing technique. Friction welding technique offers an alternative technique for joining dissimilar metal without fillers and smoke. This research purpose is to study the effect of the friction pressure on the mechanical properties of steel-cooper friction welded joints. Copper and steel bars were turned into half the shape of the specimen according to JIS Z 2201. The welding process was carried out at a speed of 1000 rpm with the friction pressures of 30, 35, and 40 MPa under an upset stress of 80 MPa for 5 seconds of friction time and upset time. The results showed that with increasing friction pressure the TMAZ area was widened in fine grained microstructure for the steel region. Whereas in the copper region, the orientation of elongated grains inline with the direction of the joining surface. In the TMAZ and WCZ areas the hardness of each metal decreases with increasing friction pressure. The sufficient width of the TMAZ results in the highest tensile strength of 89 MPa. It was obtained from the specimens with friction pressure of 35 MPa. This welding method is potentially used for dissimilar steel-copper joint by considering the area of the TMAZ region.Keywords: Friction welding, dissimilar metals joint, pressure friction, TMAZ
UNJUK KERJA MESIN DIESEL BERBAHAN BAKAR CAMPURAN BIODIESEL JARAK DAN BIODIESEL JELANTAH Wahyudi, Wahyudi; Sarip, Sarip; Sudarja, Sudarja; Suhatno, Haris
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3135

Abstract

AbstrakCadangan bahan bakar fosil yang bersifat tidak dapat diperbarui semakin menipis. Pengembangan energi terbarukan perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, diantaranya dengan pemanfaatan minyak nabati menjadi biodisel. Pada penelitian ini digunakan bahan baku biodisel campuran minyak jarak dan biodisel minyak jelantah yang dikombinasikan dengan minyak solar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja dari mesin disel dengan menggunakan bahan bakar solar 100% dan campuran biodisel jarak ? jelantah dan solar dengan variasi 5% biodisel ? 95% solar (B5), 10% biodisel ? 90% solar (B10) dan 15% biodisel ? 85% solar (B15). Penelitian dimulai dengan melakukan pengujian sifat fisis bahan bakar meliputi viskositas, densitas, flashpoint, nilai kalor. Selanjutnya dilakukan uji unjuk kerja mesin disel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya yang dihasilkan dari bahan bakar B5, B10, B15 masih lebih rendah daripada bahan bakar solar murni. Laju konsumsi bahan bakar pada biodisel B5, B10, dan B15 lebih rendah dibanding bahan bakar solar murni. AbstractReserves of non-renewable fossil fuels are diminishing. Renewable energy development needs to be done to reduce dependence on fossil fuels, including the utilization of vegetable oil into biodiesel. This research used a mixture of jatropha and waste cooking oil biodiesel combined with diesel oil. The purpose of this study was to determine the performance of diesel engines using 100% diesel fuel and biodiesel with a variation of 5% biodiesel - 95% diesel (B5), 10% biodiesel - 90% diesel (B10) and 15% biodiesel - 85% diesel (B15). The study has begun by testing the physical properties of the fuel, including viscosity, density, flashpoint, heating value. Then the diesel engine performance test was carried out. The results showed that the power produced from B5, B10, B15 fuels was lower than pure diesel fuel. The fuel consumption rate of B5, B10, and B15 biodiesel is lower than pure diesel fuel.
PERANCANGAN SISTEM AUTONOMOUS PADA PESAWAT MODEL UAV JENIS GLIDER Azmi, Azhim Asyratul; Wahyudi, Wahyudi
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3134

Abstract

AbstrakPesawat model jenis glider merupakan pesawat yang mampu terbang dangan kecepatan rendah dan memiliki efisiensi tinggi dalam penggunaan sumber daya tenaga yang digunakan, sehingga banyak digunakan untuk misi pemantauan. Misi pemantauan menggunakan pesawat glider memiliki keterbatasan. Pilot sebagai ahli kemudi pesawat memiliki keterbatasan jarak pandang, sehingga misi pemantauan yang dilakukan hanya sebatas jarak pandang pilot itu sendiri. Untuk meningkatkan luas area pemantauan, pesawat harus dapat terbang secara mandiri atau biasa disebut dengan aotonomous. Pesawat model yang mampu terbang secara autonomous disebut dengan pesawat model Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Paenerapan sistem autonomous pada pesawat model UAV dilakukan dengan menggunakan perangkat autonomous berupa flight controller, GPS, software GCS dan telemetri. Pemilihan perangkat autonomous disesuaikan terhadap spesifikasi pesawat model Solfix yang meripan pesawat model jenis glider untuk pemantauan titik api kebakaran hutan. Pemberian parameter atur yang merupan kontrol PID dilakukan dengan metode eksperimen uji terbang secara langsung. Nilai parameter atur diperoleh dari observasi yang dilakukan terhadap pergerakan pesawat ketika auto mode. Waypoint uji terbang berbentuk persegi dengan jarak 500m untuk setiap sisi.Pesawat model Solfix dapat terbang secara autonomous dengan stabil melewati waypointyang ditentukan. AbstractGlider model airplane is an aircraft model with low speed cruising capability and high energy efficiency, widely used for observation missions. The main problem of using glider model plane to observation missions is the limitation of pilot visibility. Glider model airplane must be able to fly autonomously that also known as Unamanned Aerial Vehicle (UAV) to increase observation area futher. Implimitation of autonomous system on glider model airplane can be carried out by applying flight controller, GPS, GCS software and telemetry. Autonomous system was applied and adjusted to glider model airplane called Solfix. Arduflyer 1.5 Flight controller was used in this topic with flight test experimental approach to reach flight setup and tuning. Rectangle shape waypoint was set up with 90 m width and 100 m long. The flying set up and tuning was reached by observed airplane movement behavior on auto mode to follow the waypoint. Solfix model airplane was successfully flown on auto mode by following the waypoint with flight tuning: RLL2SRV_P=1,5;RLL2SRV_D=0,1;PTCH2SRV_P=1,5; PTCH2SRV_D =0,12; YAW2SRV_RLL=1,0; YAW2SEV_DAMP=0,3 and Rudder Mix=0,250.       
DEGUMMING, PERLAKUAN ALKALI, DAN KARAKTERISASI SERAT PANDAN BERDURI (PANDANUS TECTORIUS) Sudarisman, Sudarisman; Atmaja, Nanda Satria; Nur Rahman, Muhammad Budi; Purbono, Kunto
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3136

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh parameter degumming terhadap sifat tarik serat pandan berduri (Pandanus Tectorius). Daun pandan berduri lokal direndam dalam waterbath pada suhu 95?C selama 1, 2, 3, atau 4 jam, kemudian dipres untuk diambil seratnya. Serat kemudian direndam dalam larutan NaOH dengan kadar 2,5 wt% atau 5 wt% selama 2 jam. Selanjutnya, proses dilanjutkan dengan menetralisasi dengan direndam dalam air bersih selama 8×6jam dan dikeringkan pada suhu kamar. Uji tarik dilakukan untuk mengetahui kuat tarik, regangan dan modulus elastisitas serat. Pemisahan serat dari daun pandan berduri berhasil dilakukan. Hasil uji tarik menunjukkan bahwa serat yang dialkalisasi dengan NaOH 5 wt% diperoleh kuat tarik yang lebih rendah dibandingkan dengan yang konsentrasi NaOH-nya 2,5 wt%. Pada kadar NaOH 2,5 wt%, naiknya lama waktu perendaman sampai dengan 3 jam juga akan menaikkan kuat tarik serat. Kuat tarik, regangan patah dan modulus elastisitas tertinggi diperoleh dengan perlakuan alkali dengan kadar NaOH 2,5 wt%. Kuat tarik, regangan patah dan modulus elastisitas tertinggi, berturut-turut 203,02 MPa, 3,733% dan 11,938 GPa, diperoleh dari lama waktu perendaman 3 jam. AbstractThe objective of this research is to determine the effect of degumming parameters on tensile properties of the resulted local (Pandanus Tectorius) fiber. Prickly pandanus leaves were soaked in a waterbath containing plain water at 95?C for either 1, 2, 3, or 4 hours, then pressed to yield their fibers. The fibers were then soaked in a solution containing either 2,5 wt% or 5 wt% of NaOH for 2 hours. Next, the fibers were neutralized by soaking them in plain water for 8×6 hours, and slowly dried at room temperature. Tensile test was carried out to obtain the tensile strength, strain-to-failure and modulus of the fibers. Fiber separation from Pandanus Tectorius leaves has successfully been carried out. It was found out that pretreatment using 2,5 wt% NaOH content solution produced higher tensile strength, strain-to-failure and elastic modulus in comparison with those using 5 wt% NaOH content  solution. Tensile properties increases with the increase of soaking time up to 3 hours. The highest tensile strength, strain-to-failure and modulus, 203.02 MPa, 3.733 % and 11.938 GPa, respectively, were obtained at 3 hours of soaking time.
MANUFAKTUR DAN UJI KINERJA PROSES VACUUM FORMING UNTUK BAHAN POLYMETHYL METHACRYLATE (PMMA) Permana, Cepi Rahmatullah; Budiyantoro, Cahyo; Prabandono, Bayu
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3131

Abstract

AbstrakMesin pembuat kemasan yang sederhana dan murah dengan kinerja yang memadai diperlukan untuk meningkatkan nilai ekonomis produk industri rumah tangga (UKM). Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan menguji kinerja mesin vakum forming pada bahan Polymethylmetacrylate (PMMA).Tahapan dalam pembuatan mesin ini adalah studi rancangan, manufaktur bagian mesin, cetakan, perakitan dan uji coba kinerja. Cetakan dibuat dari bahan kayu jati berukuran 140 mm x 210 mm x 15 mm. Pengujian kinerja mesin dilakukan dengan memanaskan lembaran plastik PMMA tebal 0.25 mm pada variasi waktu pemanasan 15, 20 dan 25 detik dan waktu vakum 5, 10 dan 15 detik, menggunakan pemanas 100 watt dan tekanan vakum maksimum 12 kPa. Dimensi dan geometri produk dibandingkan dengan cetakan dan dievaluasi dengan pengukuran linier serta pengamatan visual.Hasil pengujian menunjukkan bahwa kombinasi waktu pemanasan 15 detik dan waktu vakum 5 detik menghasilkan produk dengan radius yang besar pada bagian dasar. Kombinasi waktu pemanasan 20 detik dan waktu vakum 10 detik dapat memperkecil ukuran radius. Hasil cetakan yang mendekati bentuk cetakan diperoleh dengan parameter suhu pemanasan 105 ?, waktu pemanasan 25 detik dan waktu vakum 15 detik.AbstractA simple and inexpensive packaging machine with adequate performance is needed to increase economic added value of the smal scale industries. This study aims to manufacture and to evaluate the performance of customized vacuum forming machine on Polymethylmetacrylate (PMMA)l. Manufacturing of components and molds, assembly and performance testing have been carried out to build the machine. The mold was made of teak wood with the dimension of 140 mm x 210 mm x 15 mm. Machine performance testing was done by heating a 0.25 mm thick PMMA sheet with heating time variation of 15, 20 and 25 second and vacuum time of 5, 10 and 15 second, respectively. The heating power was 100 watts and the maximum vacuum pressure was 12 kPa. Product quality were compared with mold by linear measurements and visual observations.The processing parameter of 15 second heating time and 5 second vacuum time produced a specimen with a large radius at the bottom. The combination of 20 second heating time and 10 second vacuum time reduced the size of the radius. The best product can be obtained with a heating temperature of 105 ?, heating time of 25 second and a vacuum time of 15 second. 
UNJUK KERJA GENERATOR LISTRIK BERBAHAN BAKAR BIOGAS Caroko, Novi; Surahmanto, Fredy; Sulistiyo, Rizki
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3137

Abstract

AbstrakPengujian unjuk kerja generator berbahan bakar biogas belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui unjuk kerja genset berbahan bakar biogas. Bahan baku biogas yang digunakan pada penelitian ini berasal dari kotoran sapi. Pengambilan biogas dilakukan di kelompok ternak sapi Pandan Mulyo, Bantul, Yogyakarta. Generator yang digunakan berkapasitas daya 2.200-Watt dan variasi pembebanan 660, 720, 780, 840, dan 900 Wat. Parameter yang diambil berupa tegangan, arus, putaran mesin, dan debit biogas. Hasil penelitian menunjukkan daya keluaran genset dari 5 variasi pembebanan yaitu 660, 720, 780, 840, dan 900 Watt berturut-turut adalah 599,4; 651; 681,6; 676,5; dan 668,5 Watt. Nilai konsumsi bahan bakar dari 5 variasi pembebanan yaitu 0,645; 0,652; 0,673; 0,680; dan 0,727 kg/jam. Dari 5 variasi pembebanan menunjukkan bahwa unjuk kerja paling optimal dari genset berbahan bakar biogas ini berada pada tingkat pembebanan 660 Watt dengan daya keluaran yang dihasilkan sebesar 599,4 Watt.AbstrakThe performance testing of biogas-fueled generators has not been carried out much. This study aims to determine the performance of biogas fueled generators. The biogas raw material used in this study was cow dung. Biogas extraction was carried out in the Pandan Mulyo cattle group, Bantul, Yogyakarta. The generator used is 2,200-Watt power capacity and variations in loading 660, 720, 780, 840, and 900 Watt. The parameters are taken in the form of voltage, current, engine rotation, and flow of biogas. The results showed the generator output power of 5 experiment variations, 660, 720, 780, 840, and 900 Watt, respectively, were 599.4; 651; 681.6; 676.5; and 668.5 Watt. The fuel consumption of 5 variations are 0.645; 0.652; 0.673; 0.680; and 0.727 kg / hour. From all variations, showed that the optimal performance of the biogas fueled generator is at 660 Watt with the output power of 599.4 Watt.
SIFAT TARIK, BENDING DAN IMPAK KOMPOSIT SERAT SABUT KELAPA-POLYESTER DENGAN VARIASI FRAKSI VOLUME Gundara, Gugun; Rahman, Muhammad Budi Nur
JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur Vol 3, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : JMPM : Jurnal Material dan Proses Manufaktur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3132

Abstract

AbstrakPotensi serat sabut kelapa perlu diteliti untuk dibuat komposit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh fraksi volume serat sabut kelapa terhadap sifat tarik, sifat bending dan ketangguhan impak komposit dengan matrik polyester, katalis MEKPO, dan NaOH. Serat sabut kelapa yang digunakan ber diameter 0.2 mm. Komposit dibuat dengan metode cetak tekan pada fraksi volume 20-35%. Pengujian sesuai standar ASTM D638 (uji tarik), ASTM D790 (uji bending) dan ASTM D5941 (uji impak) dengan metode impak izot. Pengamatan foto makro untuk menganalisis kegagalan. Kekuatan tarik dan regangan tarik semakin meningkat dengan peningkatan fraksi volume. Modulus elastisitas tertinggi pada Vf 31,4% sebesar 0,206 GPa dan menjadi 0,11 GPa pada Vf 34,88% dengan kekuatan tarik 17,48 MPa, regangan 16.64%. Kekuatan bending meningkat dengan penambahan fraksi volume. Peningkatan kekuatan bending tertinggi (tanpa perlakuan alkali) pada fraksi volume 33,7% sebesar 34.17 MPa dan modulus bending sebesar 2.10 GPa. Peningkatan fraksi volume serat sabut kelapa dapat meningkatkan ketangguhan impak, dengan nilai tertinggi sebesar 26,42 kJ/m2 pada fraksi volume 35,84%. Penampang patah pada pengujian tarik didominasi patahan tunggal sedangkan pada pengujian bending dan impak terjadi patahan banyak serta terjadi fiber pull-out. AbstractThe potential of large coir fibers needs to be investigated to make composites. The purpose of this study was to determine the effect of the volume fraction of coconut coir fiber on tensile properties, bending properties and toughness of composite impacts with a polyester matrix, MEKPO catalyst, and NaOH. Coconut coir fiber used has diameter of 0.2 mm. Composites are made by compressive with fiber volume fraction 20-35%. Tests were according to ASTM D638 standard (tensile test), ASTM D790 (bending test) and ASTM D5941 (impact test) with the izot impact method. Observation macro photo is used to analyze failure. Tensile strength and tensile strain increase with increasing volume fraction. The highest modulus of elasticity at Vf 31.4% was 0.206 GPa and it became 0.11 GPa at Vf 34.88% with a tensile strength of 17.48 MPa, strain of 16.64%. Bending strength increases with the addition of a volume fraction. The highest increase in bending strength (without alkali treatment) at 33.7% volume fraction was 34.17 MPa and bending modulus was 2.10 GPa. Increasing the volume fraction of coconut coir fiber can increase impact toughness with the highest was 26.42 kJ / m2 in the volume fraction of 35.84%. The fracture crossing in tensile testing is dominated by a single fracture while in bending and impact testing there is a lot of fracture and fiber pull-out occurs.  
Perancangan Sistem Autonomous pada Pesawat Model UAV Jenis Glider Azhim Asyratul Azmi; Wahyudi Wahyudi
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 3, No 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3134

Abstract

AbstrakPesawat model jenis glider merupakan pesawat yang mampu terbang dangan kecepatan rendah dan memiliki efisiensi tinggi dalam penggunaan sumber daya tenaga yang digunakan, sehingga banyak digunakan untuk misi pemantauan. Misi pemantauan menggunakan pesawat glider memiliki keterbatasan. Pilot sebagai ahli kemudi pesawat memiliki keterbatasan jarak pandang, sehingga misi pemantauan yang dilakukan hanya sebatas jarak pandang pilot itu sendiri. Untuk meningkatkan luas area pemantauan, pesawat harus dapat terbang secara mandiri atau biasa disebut dengan aotonomous. Pesawat model yang mampu terbang secara autonomous disebut dengan pesawat model Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Paenerapan sistem autonomous pada pesawat model UAV dilakukan dengan menggunakan perangkat autonomous berupa flight controller, GPS, software GCS dan telemetri. Pemilihan perangkat autonomous disesuaikan terhadap spesifikasi pesawat model Solfix yang meripan pesawat model jenis glider untuk pemantauan titik api kebakaran hutan. Pemberian parameter atur yang merupan kontrol PID dilakukan dengan metode eksperimen uji terbang secara langsung. Nilai parameter atur diperoleh dari observasi yang dilakukan terhadap pergerakan pesawat ketika auto mode. Waypoint uji terbang berbentuk persegi dengan jarak 500m untuk setiap sisi.Pesawat model Solfix dapat terbang secara autonomous dengan stabil melewati waypointyang ditentukan. AbstractGlider model airplane is an aircraft model with low speed cruising capability and high energy efficiency, widely used for observation missions. The main problem of using glider model plane to observation missions is the limitation of pilot visibility. Glider model airplane must be able to fly autonomously that also known as Unamanned Aerial Vehicle (UAV) to increase observation area futher. Implimitation of autonomous system on glider model airplane can be carried out by applying flight controller, GPS, GCS software and telemetry. Autonomous system was applied and adjusted to glider model airplane called Solfix. Arduflyer 1.5 Flight controller was used in this topic with flight test experimental approach to reach flight setup and tuning. Rectangle shape waypoint was set up with 90 m width and 100 m long. The flying set up and tuning was reached by observed airplane movement behavior on auto mode to follow the waypoint. Solfix model airplane was successfully flown on auto mode by following the waypoint with flight tuning: RLL2SRV_P=1,5;RLL2SRV_D=0,1;PTCH2SRV_P=1,5; PTCH2SRV_D =0,12; YAW2SRV_RLL=1,0; YAW2SEV_DAMP=0,3 and Rudder Mix=0,250.       
Degumming, Perlakuan Alkali, dan Karakterisasi Serat Pandan Berduri (Pandanus tectorius) Sudarisman, Sudarisman; Atmaja, Nanda Satria; Nur Rahman, Muhammad Budi; Purbono, Kunto
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 3, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3136

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh parameter degumming terhadap sifat tarik serat pandan berduri (Pandanus Tectorius). Daun pandan berduri lokal direndam dalam waterbath pada suhu 95˚C selama 1, 2, 3, atau 4 jam, kemudian dipres untuk diambil seratnya. Serat kemudian direndam dalam larutan NaOH dengan kadar 2,5 wt% atau 5 wt% selama 2 jam. Selanjutnya, proses dilanjutkan dengan menetralisasi dengan direndam dalam air bersih selama 8×6jam dan dikeringkan pada suhu kamar. Uji tarik dilakukan untuk mengetahui kuat tarik, regangan dan modulus elastisitas serat. Pemisahan serat dari daun pandan berduri berhasil dilakukan. Hasil uji tarik menunjukkan bahwa serat yang dialkalisasi dengan NaOH 5 wt% diperoleh kuat tarik yang lebih rendah dibandingkan dengan yang konsentrasi NaOH-nya 2,5 wt%. Pada kadar NaOH 2,5 wt%, naiknya lama waktu perendaman sampai dengan 3 jam juga akan menaikkan kuat tarik serat. Kuat tarik, regangan patah dan modulus elastisitas tertinggi diperoleh dengan perlakuan alkali dengan kadar NaOH 2,5 wt%. Kuat tarik, regangan patah dan modulus elastisitas tertinggi, berturut-turut 203,02 MPa, 3,733% dan 11,938 GPa, diperoleh dari lama waktu perendaman 3 jam. AbstractThe objective of this research is to determine the effect of degumming parameters on tensile properties of the resulted local (Pandanus Tectorius) fiber. Prickly pandanus leaves were soaked in a waterbath containing plain water at 95˚C for either 1, 2, 3, or 4 hours, then pressed to yield their fibers. The fibers were then soaked in a solution containing either 2,5 wt% or 5 wt% of NaOH for 2 hours. Next, the fibers were neutralized by soaking them in plain water for 8×6 hours, and slowly dried at room temperature. Tensile test was carried out to obtain the tensile strength, strain-to-failure and modulus of the fibers. Fiber separation from Pandanus Tectorius leaves has successfully been carried out. It was found out that pretreatment using 2,5 wt% NaOH content solution produced higher tensile strength, strain-to-failure and elastic modulus in comparison with those using 5 wt% NaOH content  solution. Tensile properties increases with the increase of soaking time up to 3 hours. The highest tensile strength, strain-to-failure and modulus, 203.02 MPa, 3.733 % and 11.938 GPa, respectively, were obtained at 3 hours of soaking time.

Page 1 of 2 | Total Record : 16