cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development)
ISSN : 25415581     EISSN : 25415603     DOI : -
Core Subject : Health,
The "Higeia" (Journal of Public Health Research and Development) is a scientific periodical journal containing scientific papers in the form of qualitative and quantitative research reports or research articles (original article research paper) with focus on epidemiology, biostatistics and population, health promotion, health environment, occupational health and safety, health policy administration, public health nutrition, hospital management, maternal and child health, and reproductive health.
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020" : 30 Documents clear
KEJADIAN DIABETES MELITUS TIPE I PADA USIA 10-30 TAHUN Faida, Awaliyah Nor; Santik, Yunita Dyah Puspita
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i1.31763

Abstract

ABSTRAK Angka kejadian  Diabetes Melitus di Kabupaten Jepara sebanyak 2800 kasus dengan laki-laki 889 kasus dan perempuan 1856 kasus. Sedangkan untuk kategori Diabetes Melitus tipe I untuk usia 10-30 tahun di Kabupaten Jepara  terdapat kasus sebanyak 129 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian Diabetes Melitus tipe I pada usia 10-30 tahun di Kabupaten Jepara.Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan kasus kontrol (case control). Sampel yang ditetapkan sebesar 45 kasus dan 45 kontrol dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa kuesioner. Data analisis dengan menggunakan uji chi square.Hasil menunjukkan bahwa jenis kelamin (p value = 0,831), faktor genetik (p value = 0,000; OR = 16), penyakit autoimun (p value = 0,008; OR = 3,826), kondisi psikologis (p value = 0,205), adanya virus (p value = 0,314), penyakit kronis (p value = 0,000; OR =16). Adapun yang mempunyai hubungan dengan kejadian Diabetes Mellitus Tipe 1 pada usia 10-30 tahun adalah faktor genetik, penyakit autoimun dan penyakit kronis. Saran penelitian ini adalah mendeteksi dini penyakit keturunan yang ada dalam riwayat keluarga, menjalani gaya hidup dan pola makan sehat untuk menghindari pemicu faktor risiko penyakit Diabetes Mellitus tipe I, istirahat yang cukup, memberikan dukungan kepada penderita Diabetes Mellitus tipe 1.   ABSTRACT The incidence of diabetes mellitus in Jepara Regency is 2800 cases with men 889 cases and women 1856 cases. While for the type I Diabetes Mellitus for 10-30 years old in Jepara Regency there were 129 cases. The purpose of this study was to determine the risk factors associated with the incidence of type I diabetes mellitus at the age of 10-30 years in Jepara Regency. The type of research conducted was analytic observational research with case control design. The sample set was 45 cases and 45 controls with purposive sampling technique. The instrument used in this study was a questionnaire. Data analysis using the chi square test. The results showed that gender (p value = 0.831), genetic factors (p value = 0,000; OR = 16), autoimmune diseases (p value = 0,008; OR = 3,826), psychological conditions (p value = 0,205), presence of viruses ( p value = 0.314), chronic disease (p value = 0,000; OR = 16). As for those who have a relationship with the incidence of Type 1 Diabetes Mellitus at the age of 10-30 years are genetic factors, autoimmune diseases and chronic diseases. The suggestion of this study is to detect early hereditary diseases in family history, live a healthy lifestyle and diet to avoid triggering risk factors for type I Diabetes Mellitus, adequate rest, provide support for people with type 1 Diabetes Mellitus.  
DETERMINAN KEJADIAN BERHENTI PAKAI (DROP OUT) ALAT KONTRASEPSI Widyawati, Sigit Ambar; Siswanto, Yuliaji; Najib, Najib
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i1.32124

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan. Salah satu indikator penting untuk mengukur kualitas pemakaian alat/cara KB adalah berhenti pakai (drop out) yaitu kejadian berhentinya menjadi akseptor pada PUS yang sebelumnya sudah menjadi akseptor KB. Tujuan Penelitian: Umengetahui faktor determinan kejadian berhenti pakai alat kontrasepsi pada PUS 10?49 tahun pada tahun 2017. Metode Penelitian: Penelitian deskriptif menggunakan data sekunder daari SDKI Jateng Tahun 2017. Populasi adalah Pasangan Usia Subur (PUS) dengan status kawin yang berusia 10?49 tahun. Sampel adalah 3.414 PUS yaitu pasangan usia subur usia 10?49 tahun dengan status kawin, pernah menggunakan dan masih menggunakan kontrasepsi di Jawa Tengah.. Analisa menggunakan analisa deskriptif dengan uji korelasi Chi Square menggunakan program SPSS versi 17. Hasil: Ada hubungan yang signifikan antara kejadian drop out dengan tingkat pendidikan, tidak ada hubungan yang signifikan antara kejadian drop out dengan tingkat kesejahteraan pada PUS di Jawa Tengah. Simpulan: Tingkat pendidikan merupakan determinan kejadian berhenti pakai (drop out) alat kontrasepsi di Jawa Tengah.   Keywords : contraception,couples of childbearing, drop out     Abstract Background: Family Planning is an effort to regulate child birth, distance and ideal age for childbirth, regulate pregnancy. One of the important indicators for measuring the quality of use of methods is to stop using, namely the occurrence of cessation of being an acceptor in an Fertilage Age (EFA) who has previously been a family planning acceptor. Research Objectives: To find out the determinant factors of the incidence of stopping contraception at EFA 10?49 years in 2017. Research Method: Descriptive study using secondary data from the Central Java Year 2017. Population this research are couples of childbearing age 10?49 years who are married as much 3,414. Sample in this research are all couples of childbearing age of 10?49 years with marital status, have used and still use contraception in Central Java. The analysis uses descriptive analysis with Chi Square correlation test using SPSS version 17. Results: There was a significant relationship between the incidence of drop out and the level of education, there was no significant relationship between the incidence of drop out and the level of welfare at EFA in Central Java. Conclusion: Educational level is a determinant of the incidence of drop out in contraception in Central Java.   Keywords : contraception, couples of childbearing, drop out
POTENSI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO MENGGUNAKAN METODE HIRARC Puspitasari, Tiara; Koesyanto, Herry
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i1.32269

Abstract

Di PMU Revitalisasi Industri Kayu Demak terdapat proses Pabrik Penggergajian Mesin (PGM) yaitu pengolahan dari bahan baku kayu bundar (log) menjadi bentuk dan ukuran tertentu dengan menggunakan mesin gergaji. Dimana setiap langkah pada proses PGM tersebut memiliki berbagai potensi bahaya. Dibuktikan dengan, sebanyak 8 orang pekerja mengalami kecelakaan kerja dalam jangka waktu Juni 2018 hingga Januari 2019. 1 orang pekerja tersayat pisau gergajisaat proses pergantian pisau gergaji pada mesin Log Band Saw (LBS), Scroll Band Saw (SBS), dan Band Resaw (BRS). 3 orang pekerja pernah mengalami kejatuhan objek kerja. 4 orang pekerja lainya terjepit tumpukan kayu. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik untuk mengidentifikasii bahaya dan menganalisis risiko kecelakaan kerja.Identifikasi bahaya menggunakan teknik HIRARC dan analisis risiko menggunakan teknik semi kuantitatif W.T. Fine J yang mengalikan nilai consequence, exposure dan probability untuk menentukan tingkat risiko. Hasil dari penelitian menunjukan terdapat 14 jenis risiko K3 yang ada pada bagian PGM, 1 level risiko acceptable, 4 level risiko priority 3. 1 level risiko substantial. 3 level risiko  priority 1 dan  5 level risiko very high.
PERAN PUSKESMAS DALAM MELAKSANAKAN PROGRAM SANITASI PILAR STOP BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN Candrarini, Magistia Ramadhani
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i1.32958

Abstract

ABSTRAK Pada tahun 2014 sampai 2017 dari kelima desa/kelurahan yang ada dalam wilayah kerja Puskesmas Leyangan belum satupun yang melaksanakan desa Stop BABS (SBS).Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peran Puskemas Leyangan terhadap pelaksanaan program STBM pilar Stop BABS. Jenis penelitian ini deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Rancangan penelitian menggunakan studi kasus dengan fokus penelitian pada peran pasif dan aktif Puskesmas Leyangan terhadap pelaksanaan STBM pilar Stop BABS. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara mendalam. Informan dipilih secara purposive sesuai kebutuhan penelitian. Data disajikan melalui uraian singkat (narasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada peran pasif Puskesmas terdapat hal-hal yang belum dilaksanakan Puskesmas, diantaranya tenaga kesehatan tim STBM belum pernah mengikuti pelatihan, kurangnya pendanaan untuk pengadaan jamban, Puskesmas tidak melakukan penetapan target khusus, dan penyusunan perencanaan terkait teknis pelaksanaan STBM Pilar Stop BABS. Sedangkan pada pelaksanaan pemicuan program masih rendahnya kesadaran warga untuk buang air besar di jamban. Hal ini membuat capaian program belum sesuai target ODF 100%, masih terdapat desa yang persentasenya masih 35% yaitu Desa Kalirejo. Saran penelitian ini yaitu pihak dinas kesehatan sebaiknya lebih mengupayakan agar anggaran program STBM lebih di utamakan, dan pihak Puskesmas Leyangan perlu meningkatkan penyuluhan yang terfokus pada peningkatan pemanfaatan dan pemeliharaan jamban. ABSTRACT In 2014 to 2017, out of the five villages in the working area of Leyangan Health Center, none of them implemented a Stop BABS?s Village. The purpose of this study was to analyze the role of the Leyangan Health Center in implementing the STBM Programs pillar Stop BABS. This type of research is descriptive with a qualitative approach. The research design uses a case study with a research focus on the passive and active role of the Leyangan Health Center in the implementation of STBM pillars Stop BABS. Research data were collected through in-depth interviews. Informants were selected purposively according to research needs. Data is presented through a brief description (narration). The results showed that in the passive role of Leyangan Community Health Center there were things that had not been implemented by the Health Center, including the health staff of the STBM team who had never attended training, lack of funding for latrine procurement, the Health Center did not set specific targets, and the preparation of plans related to the technical implementation of the Pillar Stop STBM. BABS. While in the implementation of the STBM triggering program, the awareness of residents to defecate in the toilet was still low. This makes the program achievements in Leyangan Health Center not reach 100% ODF target, there are still villages with a percentage of 35%, namely Kalirejo Village.The suggestion of the research is that the health department should strive to prioritize the STBM program budget to be prioritized, and the Leyangan Health Center should increase counseling focused on increasing the use and maintenance of latrines.
IMPLEMENTASI RENCANA AKSI DAERAH PERCEPATAN KABUPATEN DEMAK BEBAS BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN Dafitri, Ais; Raharjo, Bambang Budi
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i1.33120

Abstract

ABSTRAK   Berdasarkan data dari STBM Kementerian Kesehatan Indonesia, pada tahun 2017 akses sanitasi di Kabupaten Demak paling rendah berada di wilayah Puskesmas Wedung II yaitu sebesar 60,9 %. Berdasarkan data STBM di Kecamatan Wedung dari 20 desa baru ada satu desa yang sudah verified Open Defecation Free (ODF). Upaya untuk menanggulangi permasalahan yang ada, pemerintah Kabupaten Demak menetapkan Peraturan Bupati Demak nomor 50 tahun 2017. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi Peraturan Bupati Demak nomor 50 tahun 2017 di wilayah kerja Puskesmas Wedung II. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara. Adapun teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa masih ada beberapa aspek yang belum optimal dalam implementasi peraturan Bupati Demak nomor 50 tahun 2017 anatara lain sumber daya, karakteristik agen pelaksana,kondisi lingkungan dan sikap pelaksana.  Saran penelitian ini yaitu Pemerintah desa harus memiliki standar operasional khusus untuk menjalankan program desa ODF agar pelaksanaan lebih terstruktur dan terarah dan Puskesmas perlu melakukan sosialisasi atau pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan ABSTRACK Based on data from STBM of Indonesia, in 2017 the lowest access to sanitation in Demak Regency is in the Puskesmas Wedung II, which is 60.9%. Based on STBM data in Kecamatan Wedung from 20 villages there is one village that has been verified Open Defecation Free (ODF). In an effort to overcome the existing problems, the government of Demak Regency stipulates the Regulations of the Demak Regent number 50 of  2017. The purpose of this study was to find out how the implementation of Demak Regent Regulation number 50 of 2017 in the working area of ??Puskesmas Wedung II.  This type of research is qualitative with a descriptive approach. The instrument used was an interview guide. The sampling technique using purposive sampling technique. The results showed that there were still some aspects that were not optimal in the implementation of Demak Regent regulation number 50 of 2017 among other resources, characteristics of the implementing agent, environmental conditions and the attitude of the implementer.  The suggestion of this research is that the village government must have special operational standards to run the ODF village program so that the implementation is more structured and directed and the Puskesmas need to conduct socialization or training to improve the knowledge of health cadres.    
PENERAPAN EMPAT PILAR PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI TUBERKULOSIS PARU Pitaloka, Winda; Siyam, Nur
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i1.33147

Abstract

Abstrak Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular yang menjadi penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian. Puskesmas Bandarharjo mempunyai kasus TB BTA positif tertinggi di Kota Semarang sebesar 54 kasus tahun 2017 dan 58 kasus tahun 2018, sehingga perlu diterapkan program PPI TB untuk mencegah terjadinya penularan. Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran secara mendalam terkait pelaksanaan empat pilar program PPI TB di Puskesmas Bandarharjo. Jenis penelitian ini deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Rancangan penelitian menggunakan studi kasus dengan fokus penelitian input, proses, dan output. Teknik pengambilan informan secara pusposive sampling terdiri dari 4 informan utama dan 2 informan triangulasi. Teknik pengambilan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat kendala pelaksanaan PPI TB seperti belum adanya SOP khusus terkait PPI TB, pengorganisasian belum terstruktur, kepatuhan pasien dalam penggunaan APD masih rendah, ruangan TB belum sesuai standar dan belum tersedia tempat pembuangan dahak untuk pasien TB dan evaluasi masih belum terlaksana dengan baik. Pelaksanaan empat pilar PPI TB di Puskesmas Bandarharjo belum berjalan secara optimal sesuai standar yang ditetapkan. Abstract Tuberculosis is an infectious disease caused the increase of morbidity and mortality rate. Bandarharjo community health center has the highest TBA BTA positive cases in Semarang city such as 54 cases in 2017 and 58 cases in 2018, that the implementation of PPI TB program is important to be done to prevent the transmission. This research aims to know the implementation of the PPI TB four pillars program at Bandarharjo community health center in depth. This research used descriptive analysis based on the qualitative approach. The design of this research used a case study which focused on input, process, and output. The technique to get the participants was adopted by using purposing sampling technique which consisted of 4 main participants and 2 triangulate participants. The technique to get the data were including the in-depth interview, observation, and documentation. The result of this research showed that there are some problems in the implementation of PPI TB such as there is no specific SOP about PPI TB, the unstructured organization, the low patient compliance in the use of APD, the unavailable sputum disposal for the TB patients, the low standard of TB room, and the deficient implementation of the evaluation. The implementation of four pillars program in the Tuberculosis prevention and infection control program at Bandarharjo community health center has not been implemented optimally by following the specified standard.
ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PERAWAT ETNIS BUGIS DI SULAWESI SELATAN Sidin, Indahwaty; Rivai, Fridawaty; Bulu, Rifa?ah Mahmudah
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i1.33681

Abstract

Abstrak Memahami budaya/etnik karyawan dalam organisasi adalah langkah efektif dalam mengelolah organisasi. Suku Bangsa To Ugi (Suku Bugis) adalah suku bangsa terbesar di kawasan Sulawesi Selatan dan menyebar di beberapa pulau di Indonesia, yang sangat menjunjung tinggi hubungan persaudaraan atau persahabatan atas kesadaran kesatuan etnis sehingga dengan nilai budaya yang sama seperti karakter yang teguh (getteng), kerja keras (matinulu) serta menjunjung tinggi kesatuan (assidengeng) akan mempengaruhi tingkat kedekatan, komunikasi dan kinerja yang akan berdampak pada tingkat OCB yang lebih baik. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran OCB perawat etnis Bugis. Jenis penelitan ini adalah penelitian observational analitic  dengan sampel berjumlah 300 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling pada enam rumah sakit di Sulawesi-Selatan. Data dianalisis dengan menggunakan SPSS dan dilakukan analisis univariat. Hasil penelitian diperoleh bahwa 184 responden (61,3%) perawat suku Bugis memiliki tingkat OCB yang tinggi.  Nilai budaya siri na passe  dari suku Bugis terefleksi dalam komitmen perawat untuk memiliki OCB yang tinggi. Kata kunci : Suku Bugis, organizational citizenship behavior.   Abstract Understanding the culture / ethnicity of employees in organizations is an effective step in managing organization. To Ugi Tribe (Bugis Tribe) is the largest ethnic group in the South Sulawesi region, they spread to several islands in Indonesia, they uphold  fraternity or friendship over the awareness of ethnic unity so they have the same cultural values ??as a firm character (getteng), hard work (matinulu) and upholding unity (assidengeng) that will affect the level of closeness, communication and performance on a better OCB level. The research conducted aims to find out the OCB frame of Bugis ethnic nurses. This type of research is an observational analytic study with a sample of 300 people selected using a purposive sampling technique at six hospitals in South Sulawesi. Data was analyzed using SPSS and univariate analysis was performed. The results obtained that 184 respondents (61,3%) have a high OCB level. The cultural value of siri na passe from the Bugis tribe is reflected in the commitment of nurses to have high OCB. Keyword: Bugis tribe, organizational citizenship behavior.  
PERAMALAN JUMLAH KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE BERDASARKAN SURVEILANS KASUS DAN CURAH HUJAN Syahbani, Aswi Nur; Sukendra, Dyah Mahendrasari
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i1.33686

Abstract

Kota Magelang memiliki jumlah kasus DBD yang fluktuatif dan tertinggi di Jawa Tengah pada tahun 2015 dan 2017. Tujuan penelitian ini untuk meramalkan jumlah kasus DBD pada 12 periode berikutnya. Penelitian ini merupakan penelitian non-reaktif dengan metode kausal, menggunakan analisis regresi linier sederhana. Hasil menunjukkan persamaan regresi linier sederhana yaitu ? = 1,915 + 0,003 (X). Peramalan jumlah kasus DBD di Kota Magelang bulan Februari 2019 hingga bulan Januari 2020 secara berturut-turut yaitu; 25 kasus, 9 kasus, 10 kasus, 4 kasus, 10 kasus, 10 kasus, 11 kasus, 11 kasus, 11 kasus, 12 kasus, 12 kasus, dan 13 kasus, serta curah hujan (p = 0,001; r = 0,114) berpengaruh terhadap jumlah kasus DBD di Kota Magelang. Kesimpulan hasil peramalan jumlah kasus DBD pada 12 periode selanjutnya yaitu 25 kasus, 9 kasus, 10 kasus, 4 kasus, 10 kasus, 10 kasus, 11 kasus, 11 kasus, 11 kasus, 12 kasus, 12 kasus, dan 13 kasus.
PENILAIAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI LABORATORIUM KIMIA Ridasta, Bagus Anggoro
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i1.33891

Abstract

Abstrak Laboratorium kimia merupakan tempat penelitian dan percobaan yang berpotensi menimbulkan suatu kecelakaan. Laboratorium Kimia memiliki jumlah kecelakaan yang tinggi dengan rata-rata 18 kasus per tahun. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran penilaian awal (baseline) penerapan SMK3 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 di Laboratorium Kimia Universitas Negeri Semarang.Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Instrumen penelitian ini menggunakan pedoman wawancara, lembar observasi dan lembar check list dokumen. Responden dalam penelitian ini adalah Kepala Laboratorium Kimia, Teknisi/Penanggung Jawab Laboratorium Kimia dan Admin Layanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 64 butir kriteria penerapan tingkat awal, kriteria yang tercapai sebesar 57,85% (37 kriteria) dan sebesar 42,15% (27 kriteria) belum terpenuhi. Simpulan dalam penelitian adalah penilaian (baseline) penerapan SMK3 termasuk dalam kategori penilaian kurang. Disarankan kepada Laboratorium Kimia UNNES untuk meningkatkan penerapan SMK3 pada kriteria yang belum sesuai.   Kata kunci: laboratorium kimia, SMK3   Abstract Chemical laboratory is a high risk place where scientific research and experiments may be performed. The average of accidents in chemical laboratory is 18 cases per year. The aim of this study is to figure out the preliminary assessment (baseline) of occupational safety and health management system based on Goverment Regulation Number 50 of 2012 at UNNES chemical laboratory. This was a descriptive quantitative study. The instruments used interview guidelines, observation sheets, and documentation check list. Respondents of this study were the head of chemical laboratory, technicians or person in charge of chemical laboratory, and the staff of administration service. The results from 64 criteria showed that 57,58% (37 criteria) complied the regulation and 42,15% (27 criteria) did not comply the regulation. This study concluded that the preliminary assessment of occupational safety and health management system was categorized in low level. This study recommended UNNES chemical laboratory to increase the implementation of occupational safety and health management system especially for 27 criteria.   Keywords: chemical laboratory, occupational safety and health management system
TINGKAT PENDIDIKAN BUKAN MERUPAKAN PREDIKTOR RISIKO DIABETES BERDASARKAN SKORING AMERICAN DIABETES ASSOCIATION Agustianto, Rafiv Fasya; Mudjanarko, Sony Wibisono; Prabowo, Gwenny Ichsan
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Jawa Timur termasuk 10 besar provinsi dengan prevalensi diabetes melitus (DM) tertinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan dan risiko diabetes di Surabaya. Penelitian ini merupakan suatu studi korelasi analitik dengan metode cross sectional, dilaksanakan pada tanggal 9 Desember 2018 dengan metode skoring berdasarkan kuesioner American Diabetes Association (ADA). Skor < 5 diklasifikasikan sebagai risiko rendah, sedangkan skor ? 5 dikategorikan sebagai risiko tinggi menderita diabetes melitus (DM). Data diproses dengan uji analisis chi-square menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistic 23. Sebanyak 113 subjek terlibat dalam penelitian ini, dengan 92 orang di antaranya memenuhi kriteria inklusi. Secara keseluruhan, 54 dari 92 subjek termasuk kelompok berisiko tinggi (58,70%), dengan 34 orang di antaranya berpendidikan rendah (62,96%). Mayoritas subjek adalah wanita (76,09%) dan lansia berusia lebih dari 60 tahun (34,78%). Secara statistik, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan bukan merupakan prediktor risiko diabetes berdasarkan skoring American Diabetes Association (p> 0,05), namun distribusi data menunjukkan prevalensi diabetes lebih banyak terdapat pada subjek berpendidikan rendah, wanita, dan lansia. ABSTRACT East Java is among the top 10 provinces with the highest prevalence of diabetes mellitus (DM) in Indonesia. This study aims to analyze the relationship between education level and diabetes risk in Surabaya. This cross-sectional study was conducted on December 9, 2018, with scoring method based on American Diabetes Association (ADA) questionnaire. Score < 5 is classified as low risk, while score ? 5 is categorized as high risk of suffering from diabetes mellitus (DM). Data were processed by chi-square analysis using IBM SPSS Statistics 23 software. A total of 113 subjects were involved in this study, with 92 of them fulfilling the inclusion criteria. Overall, 54 of 92 subjects were having high-risk (58.70%), 34 of them were low-educated (62.96%). Most of subjects were women (76.09%) and elderly aged over 60 years (34.78%). Statistically, this study indicates that education level is not a predictor of diabetes risk based on American Diabetes Association score (p> 0.05), however data distribution indicates diabetes prevalence was higher in low-educated, women and elderly subjects.  

Page 1 of 3 | Total Record : 30


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 8 No 3 (2024): July 2024 Vol 8 No 2 (2024): April 2024 Vol 8 No 1 (2024): January 2024 Vol 7 No 4 (2023): October 2023 Vol 7 No 3 (2023): July 2023 Vol 7 No 2 (2023): April 2023 Vol 7 No 1 (2023): January 2023 Vol 7 No Sup (2023): Suplemen July 2023 Vol 6 No 4 (2022): October 2022 Vol 6 No 3 (2022): HIGEIA: Juli 2022 Vol 6 No 2 (2022): Higeia: April 2022 Vol 6 No 1 (2022): HIGEIA: January 2022 Vol 5 No 4 (2021): HIGEIA: Oktober 2021 Vol 5 No 3 (2021): HIGEIA: Juli 2021 (Article in Press) Vol 5 No 3 (2021): HIGEIA: Juli 2021 Vol 5 No 2 (2021): HIGEIA: April 2021 Vol 5 No 1 (2021): HIGEIA: January 2021 Vol 5 No 1 (2021): HIGEIA: January 2020 Vol 4 No Special 4 (2020): HIGEIA: December 2020 Vol 4 No 4 (2020): HIGEIA: October 2020 Vol 4 No 3 (2020): HIGEIA: July 2020 Vol 4 No Special 3 (2020): HIGEIA: November 2020 Vol 4 No Special 2 (2020): HIGEIA: October 2020 Vol 4 No 2 (2020): HIGEIA: April 2020 Vol 4 No Special 1 (2020): HIGEIA: September 2020 Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020 Vol 3 No 4 (2019): HIGEIA: October 2019 Vol 3 No 3 (2019): HIGEIA: July 2019 Vol 3 No 2 (2019): HIGEIA: April 2019 Vol 3 No 2 (2019): HIGEIA: April 2019 Vol 3 No 1 (2019): HIGEIA: January 2019 Vol 3 No 1 (2019): HIGEIA: January 2019 Vol 2 No 4 (2018): HIGEIA Vol 2 No 4 (2018): HIGEIA Vol 2 No 3 (2018): HIGEIA Vol 2 No 3 (2018): HIGEIA Vol 2 No 2 (2018): HIGEIA Vol 2 No 2 (2018): HIGEIA Vol 2 No 1 (2018): HIGEIA Vol 2 No 1 (2018): HIGEIA Vol 1 No 4 (2017): HIGEIA Vol 1 No 4 (2017): HIGEIA Vol 1 No 3 (2017): HIGEIA Vol 1 No 3 (2017): HIGEIA Vol 1 No 2 (2017): HIGEIA Vol 1 No 2 (2017): HIGEIA Vol 1 No 1 (2017): HIGEIA Vol 1 No 1 (2017): HIGEIA More Issue