cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 432 Documents
Adegan Kekerasan Dalam Tayangan Hiburan Di Televisi (Studi Kasus Tayangan Yuk Keep Smile Di Trans TV) Valentina, Lena Mileer; Arsi, Antari Ayuning
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 6 No 2 (2017): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengangkat tentang adegan kekerasan dalam tayangan hiburan di televisi, tayangan yang diteliti adalah Yuk Keep Smile (YKS). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisi wacana. Teknik pengumpulan data terdiri dari studi pustaka, melihat dan menyimak, memilah dan mengelompokkan, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa YKS adalah tayangan yang hanya menitik beratkan pada unsur hiburan tanpa diimbangi dengan unsur edukasi di dalamnya. Di dalam tayangan YKS juga banyak mengandung unsur kekerasan, diantaranya dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan psikis dan kekerasan simbolik. Dalam setiap adegan yang dianggap lucu oleh penonton sebenarnya banyak mengandung adegan kekerasan. Di dalam satu adegan, bisa mengandung banyak bentuk kekerasan sekaligus atau dapat disebut kekerasan kompleks, maksudnya dalam satu adegan terdapat bentuk  kekerasan fisik, psikis, dan simbolik. Respon audience terhadap tayangan YKS melalui berbagai media, baik media sosial, media massa maupun aksi langsung yakni ada masyarakat yang memberi respon menentang, karena dianggap tidak mendidik dan adapula yang mendukung karena dianggap memiliki konsep yang kreatif dan menghibur.   This research studying about violence in entertainment shows on television, impressions studied were Yuk Keep Smile ( YKS ). This study used a qualitative method of discourse analysis approach. Data collection techniques consist of literature, look and listen, sorting and grouping, and documentation. The results showed that YKS are impressions that only focuses on the elements of entertainment without balanced with educational elements in it. In the impressions YKS also contains elements of violence, including in the form of physical violence, psychological violence and symbolic violence. In every scene that is considered funny by the audience actually contains many scenes of violence. In one scene, can contain many forms of violence at once or can be called complex violence, that in one scene there are forms of physical, psychological, and symbolic. YKS audience response to the show through various media, social media, media and direct action that there are people who respond oppose, because they are not educated and those that support because they have a concept of creative and entertaining.    
Konflik Dalam Relasi Sosial Masyarakat Jawa Dan Lampung Di Wilayah Transmigrasi (Studi Kasus di Desa Bandar Agung Kecamatan Bandar Sribhawono Kabupaten Lampung Timur) Miyanti, Cyrli Yunita; Rini, Hartati Sulistyo; Luthfi, Asma
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 6 No 2 (2017): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Bandar Agung adalah desa transmigrasi di mana ada dua suku yang tinggal di sana yaitu etnis Lampung dan Jawa. Hubungan sosial antara dua suku tidak berjalan dengan baik karena mereka kurang terbuka satu sama lain, di samping kurangnya masyarakat Jawa adaptasi dengan lingkungan baru yang membuat mereka sering bertentangan  dengan masyarakat Lampung. Konflik di Desa Bandar Agung disebabkan oleh beberapa aspek seperti aspek sosial yang meliputi kedatangan transmigrasi, stereotip etnis dan juga perebutan kekuasaan antara kepala desa dan sultan. Aspek ekonomi seperti kesenjangan ekonomi yang terjadi antara Jawa dan Lampung serta aspek budaya juga dapat menimbulkan konflik. Masyarakat desa Bandar Agung memiliki cara tersendiri untuk mengelola konflik yakni dengan membatasi pergaulan mereka dengan kelompok etnis yang berbeda, selain itu jika ada konflik mereka akan melakukan musyawarah dan dilanjutkan dengan melakukan kegiatan pasca-konflik yang bertujuan untuk membuat komunikasi antara Jawa dan Lampung dapat ditingkatkan.   Bandar Agung is a transmigration village where there are two tribes living there; they are Lampung and Javanese ethnics. Social relations between the two ethnics are not going well because they are less open to each other, besides the lack of adaptation of Javanese community to the new environment frequently brings them into conflict with Lampung community. Conflicts in Bandar Agung village are caused by several aspects such as social aspects including the arrival of transmigrants, ethnic stereotypes and also the power struggle between the headman and sultan. The economic aspects, such as economic gap between Java and Lampung, and cultural aspects can also lead to the conflict. The villagers in Bandar Agung have their own ways in managing the conflicts; that are by limiting their association with different ethnics, besides if there is a conflict they will hold a deliberation then it is continued by holding a post-conflict activity in order to enhance the communication between Javanese and Lampung community.  
Makna Gelar Adat Terhadap Status Sosial Pada Masyarakat Desa Tanjung Aji Keratuan Melinting Kholiffatun, Umi; Luthfi, Asma; Kismini, Elly
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 6 No 2 (2017): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Tanjung Aji berada di daerah pesisir Lampung yang masuk dalam Keratuan Melinting. Mayoritas masyarakatnya adalah ulun (orang) Lampung yang berprofesi sebagai petani. Masyarakat Tanjung Aji masih berpegang teguh pada kearifan lokalnya, salah satunya adalah ritual pemberian gelar adat saat atau setelah perkawinan.Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan proses pemberian gelar adat pada masyarakat Lampung Saibatin dan mengetahui implikasi pemberian gelar adat terhadap status sosial masyarakat Lampung Saibatin.  Dengan metode penelitian kualitatif, penelitian ini menggunakan teori interaksionisme simbolik sebagai kajian analisis. Hasil penelitian menjelaskan bahwa prosesi pemberian gelar melalui beberapa proses diantaranya membayar uang adat seperti dau penerangan, dau pengecupan, serta babak kibau. Makna dari pemberian gelar adat meliputi, penghormatan dan status sosial dalam upacara adat, pengaturan relasi dalam kekerabatan, simbol kedewasaan, serta mekanisme pelestarian budaya yang dilakukan secara turun temurun. Implikasi gelar adat terhadap status sosial meliputi, peran, pengakuan sosial dalam komunitas, dan sebagai kontrol sosial.   Tanjung Aji Lampung village is located in the coastal areas which are included in Keratuan Melinting. The majority of people in Tanjung Aji are ‘ulun’ (the people) Lampung people working as farmers. The people in Tanjung Aji still cling to their local wisdom, one of which is the traditional ritual of customary title granting done during or after a marriage ceremony. This study aimed at explainingthe process of customary title granting to Lampung Saibatin communityand knowing the implications of customary title granting toward the social statusof Lampung Saibatin community. In applying qualitative research methods, this study used the theory of symbolic interactionism as the study analysis. The results of the study explained that customary title granting involves several processes such as paying customary money like ‘dau penerangan’,’dau pengecupan’, and ‘babak kibau’. The meanings of customary title granting are admiration and social status in traditional ceremonies, setting the relations in kinship, a symbol of maturity, as well as the mechanisms of cultural preservation which is done for generations. Implications of customary title toward social status are role, social recognition in the community, and social control.  
Dari Tari Nasionalisme Menjadi Komoditas, Komodifikasi Tari Dayakan Di Desa Wisata Panusupan Kecamatan Rembang Kabupaten Purbalingga Afianti, Afiat; Gunawan, Gunawan; Husain, Fadly
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 1 (2018): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Dayakan merupakan salah satu pertunjukan tari tradisional masyarakat Desa Panusupan yang mengalami komodifikasi sebagai salah satu tontonan pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pementasan Tari Dayakan dan perubahannya setelah menjadi tontonan wisata di Desa Panusupan, mengetahui proses komodifikasi pada Tari Dayakan, serta mengetahui hubungan sosial masyarakat Desa Panusupan pasca komodifikasi pada Tari Dayakan. Hasil penelitian ini yaitu, (1) Pementasan Tari Dayakan mengalami perubahan setelah menjadi salah satu tontonan wisata baik dalam audiens, waktu, durasi, kompleksitas, dan lokasi pementasan setelah dimodifikasi (2) Proses komodifikasi dilakukan langusung oleh anggota Grup Tari Dayakan dengan cara: membuat merk komoditas, pembagian posisi dalam grup, penambahan alat musik, menciptakan lagu-lagu baru, membuat pola-pola gerakan penari, apropriasi budaya massa dalam pertunjukan, serta massalisasi pertunjukan Tari Dayakan. Proses komodifikasi merubah Tari Dayakan yang awalnya benilai historis menjadi bernilai komersial (3) Proses komodifikasi yang terjadi membentuk identitas baik itu pada anggota grup Tari Dayakan, masyarakat Kali Lutung, serta masyarakat Desa Panusupan pada umunya. Identitas komunitas yang tertanam digunakan sebagai sumber daya yang dimanipulasi untuk tujuan sosial dalam hubungan sosial di masyarakat. Dayakan dance is one of the traditional dance performances of Panusupan Village who experienced commodification as one of the tourism spectacle. The purpose of this research is to know the Dayakan dance performance and its change after being a tourist spectacle in Panusupan Village, to know the process of commodification on Dayakan Dance, and to know the social relation of Panusupan Village community after commodification in Dayakan Dance. The result of this research are (1) Dayakan dance performance changed after becoming one of the tourist spectacle in audience, time, duration, complexity, and location of staging after modification (2) commodification process done by member of Dayakan Dayak Group by: making commodity brand, group positioning, adding musical instruments, creating new songs, creating dancers movement patterns, appropriating mass culture in performances, and massising the Dayakan Dance show. The commodification process transformed the Dayakan Dance which was originally historically valuable to commercial value (3) The process of commodification that occurred formed the good identity of the members of the Dayakan Dance group, the Kali Lutung community, and the people of Panusupan Village in general. The embedded community identity is used as a manipulated resource for social purposes in social relationships in society.
Eksistensi Ojek Pangkalan Didalam Perkembangan Transportasi Berbasis Informasi Dan Teknologi Purwanto, Andhika Cahya; Luthfi, Asma; Arsal, Thriwarty
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 1 (2018): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui eksistensi ojek pangkalan ditengah perkembangan transportasi berbasis informasi dan teknologi di kota Semarang, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang didasarkan pada penggunaaan metode pengumpulan dengan wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil dari penelitian menemukan bahwa Hasil penelitian ini menemukan bahwa: (1) Pelanggan Ojek Pangkalan adalah ibu rumah tangga yang memiliki tingkat mobilitas rendah dan lebih banyak berada pada sektor domestik, pekerja swasta yang bertempat tinggal dekat dengan tempat bekerja, serta pelajar dan mahasiswa yang memiliki keterbatasan dalam mengakses kendaraan, (2) Pengemudi Ojek Pangkalan melakukan berbagai strategi dan inovasi seperti meningkatkan pelayanan, memberikan layanan pemesanan melalui pesan singkat, serta memiliki pelanggan tetap yang diupayakan agar para pengemudi ojek pangkalan tetap mendapatkan pelanggan, (3) Faktor yang mempengaruhi ojek pangkalan tetap bertahan adalah rasa solidaritas dan rasa kekeluargaan yang tinggi, adanya sistem antri yang memberikan kesempatan yang sama dalam mendapatkan pelanggan, adanya arisan bulanan yang menjadi jaminan sosial dan ekonomi, lokasi dari pangkalan ojek yang lebih menguntungkan, dan pelanggan yang setia menggunakan ojek pangkalan   This article aim is to know the existence of motorcycle taxi in the development of information and technology-based transportation in Semarang City, Central Java. This study uses qualitative method based on interview, observation and studying document. The result of this study found that 1) the customer of motorcycle taxis are housewives who have low mobility and more are in the domestic sector, employee who lives near the workplace, and students and college students who have limited access to vehicles. (2) motorcycle taxi drivers perform various strategies and innovation such as improving services, provide booking service via short message, and having a regular customer strived to keep motorcycle taxi drivers steady in getting customers. (3) the factors that affecting the motorcycle taxi survive are a sense of solidarity and high sense of kinship, the existence of queue system that provide equal opportunities in getting customers, a monthly social gathering (arisan) that becomes social and economic security, the location of motorcycle taxi base is more profitable, and the loyal customers that using motorcycle taxi.
Makna Pernikahan Pada Istri Tki Di Desa Cihonje Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas Maulina, Annisa Medika; Arsi, Antari Ayuning; Kismini, Elly
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 1 (2018): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Cihonje merupakan salah satu desa pemasok TKI terbesar di wilayah Banyumas. Banyaknya para warga yang menjadi buruh migran menyebabkan para TKI harus menjalani hubungan pernikahan jarak jauh. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Kualitatif. Lokasi penelitian berada di Desa Cihonje Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan konsep Fenomenologi Alfred Schutz. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  pernikahan dianggap sebagai sesuatu yang penting terlebih dalam hubungan pernikahan jarak jauh yang dijalani oleh istri TKI. Pentingnya makna pernikahan muncul karena adanya konsekuensi atas keputusan memilih menikah dengan pasangan. Konsekuensi tersebut memunculkan tanggung jawab atas pilihan yang diambil dan tujuan yang ingin dicapai dalam pernikahan di masa yang akan datang. Cihonje village is one of the largest village with suppliers TKI in the area of Banyumas. The large number of citizens who became migrant workers led to the TKI must undergo a long distance marriage relationship. This research uses Qualitative Research methods. This Research located in the of Cihonje Village Gumelar Sub-District of Banyumas Regency. This research uses the concept of Phenomenology of Alfred Schutz. The results of this research show that marriage is regarded as something important first in the long-distance marriage relationship according to TKI wifes. The importance of marriage appears because there is a consequence of choosing to marry with partner. A consequence is got the responsibility for option taken and purpose to be achieved in marriage in the future.  
Pelestarian Wayang Di Kabupaten Tegal Melalui Sanggar Satria Laras Setiawan, Dedi Arif; Iswari, Rini; Alimi, Mohammad Yasir
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 1 (2018): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sanggar Satria Laras merupakan salah satu sanggar yang ada di Kabupaten Tegal yang memiliki perhatian terhadap kesenian wayang. Sanggar Satria Laras tidak hanya melakukan pementasan wayang saja, melainkan juga melakukan pengembangan wayang dan pementasannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk-bentuk pelestarian wayang dan faktor pendorong pendorong dan penghambat yang dialami Sanggar Satria Laras dalam melestarikan wayang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan konsep pelestarian dinamis milik Sedyawatu dan teori difusi inovasi milik Rogers. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pelestarian yang dilakukan oleh Sanggar Satria Laras diantaranya 1) produksi Wayang, 2) pengembangan wayang dan pementasannya, 3) pemanfaatan Sanggar Satria Laras dan Rumah Wayang 2, dan 4) perlindungan wayang oleh Sanggar Satria Laras. Sanggar Satria Laras (Satria Laras Studio) is one of studios in Tegal Regency which gets attention to the puppets, wheter leather puppets art. Sanggar Satria Laras is not only doing Puppets show, but also doing development to puppets and the show. The purpose of this reseaech is to find out the kinds of puppets preservation and the supportive and the obstacle factors happened to Sanggar Satria Laras in preserving puppets. The research method used is qualitative research method. The technique of collecting data used by observation, interview and documentation. The data analysis used the dinami preservation concept by Sedyawati and diffusion innovation theory by Rogers. The result of the research shows that the kind of preservation done by Sanggar Satria Laras as follow 1) puppets production, 2) puppets development, 3) the utilization of Sanggar Satria Laras and Rumah wayang 2, and 4) the puppets protection by Sanggar Satria Laras.
Kesehatan Rumah Tangga di Lingkungan Pesisir (Kajian Antropologi Kesehatan Lingkungan di Tambak Rejo Kelurahan Tanjung Mas Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang Hapsari, Frieda Nur; Husain, Fadly; Iswari, Rini
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 1 (2018): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh kondisi lingkungan Tambak Rejo yang kumuh sehingga perlu adanya kajian tentang PHBS di Lingkungan Tambak Rejo sebagai salah satu upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan (1) PHBS dalam rumah tangga di Lingkungan Tambak Rejo belum terlaksana sepenuhnya, karena masih banyak terdapat anggapan masyarakat bahwa lingkungan yang kumuh membuat manusia kebal terhadap berbagai penyakit sehingga PHBS dalam Rumah Tangga di Lingkungan Tambak Rejo kurang diperhatikan (2) Tingkat kepedulian dan kesadaran masyarakat sehubungan dengan kesehatan dan kebersihan lingkungan di Lingkungan Tambak Rejo masih kurang karena budaya masyarakat yang menggunakan tumpukan sampah untuk bahan meninggikan rumah. The background of this research is done for the need of PHBS study at Tambak Rejo as an healthy increasement in that area conducted by the dirty enviromental conditions of Tambak Rejo. Qualitative method is used in this research. data collection techniques used are observation, interviews, and documentation. The results are showing (1) PHBS of enviromental health at Tambak Rejo has not been fully applied because people still considered that dirty enviromental will make them immune to any disease, so it makes PHBS at Tambak Rejo less attention (2) the level of awareness of behaviour related to the enviromental health of household in Tambak Rejo is lacking because of the culture of the community who use the garbage for the material to make higher the house.
Etiologi Dan Praktik Pengobatan Penyakit “Demarinen” Pada Masyarakat Desa Lanjan Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang Suprapti, Lia; Prasetyo, Kuncoro Bayu
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 1 (2018): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui etiologi penyakit demarinen dan praktek pengobatan yang digunakan dalam menyembuhkan penyakit demarinen. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawaancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teori sistem medis dan konsep etiologi penyakit milik Foster dan Anderson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak balita mengalami demarinen disebabkan karena faktor irasional yaitu adanya ibu hamil disalah satu anggota keluarga besarnya. Penyakit tersebut diketahui oleh masyarakat dari pengetahuan yang dimiliki oleh sesepuh-sesepuh dan gagalnya pengobatan pada sistem medis modern. Pengobatan dilakukan dengan menghubungkan penyebab timbulnya penyakit, sehingga pengobatan dilakukan dengan ngedusi anak balita yang perankan oleh ibu hamil. The purpose of this article was to investigate the etiology of demarinen disease and the treatment practices used in the treatment of demarinen diseases. The research method used is qualitative research method. Data completion technique is done by observation, interview, and documentation. The data analysis used system theory and disease etiology concept of Foster and Anderson. The results showed that children under five suffered from demarinen due to irrational factors, namely the presence of pregnant women in one family member. The disease is known to the public from the knowledge possessed by the elders and the failure of treatment in modern medical systems. Treatment is done by causal relationship of the disease, so the treatment is done by ngedusi children under five who play by pregnant mother.  
Kemiskinan Dan Perilaku Konsumtif Masyarakat Petani Cengkeh Di Kabupaten Ende, NTT Sudi, Maria Ansela; Rini, Hartati Sulistyo
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 1 (2018): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui fenomena kemiskinan dan perlaku konsumtif masyarakat petani cengkeh Desa Watumite, Kecamatan Nangapanda, KabupatenEnde, NTT. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa (1)masyarakat Watumite memiliki pandangan sendiri mengenai kemiskinan antara lain jika tidak bisa menyelenggarakan pesta, tidak bisa menyekolahkan anak, dan tidak memiliki rumah batu, (2)Bentuk-bentuk perilaku konsumtif masyarakat Desa Watumite antara lain perilaku konsumtif untuk keperluan pesta dan untuk keperluan hiburan dan rekreasi, (3)Faktor yang mendorong masyarakat melakukan perilaku konsumtif antara lain menginginkan pengakuan statu sosial di masyarakat, adanya pengaruh budaya luar , pendapatan petani cengkeh yang tinggi, budaya atau tradisi,  teknologi. This article aims to find out the phenomenon of poverty and consumptive behavior of clove farmers community in Watumite Village, District Nangapanda, Ende Regency, East Nusa Tenggara. This research uses qualitative method with ethnographic approach. The results of this study found that (1) the Watumite community has its own views on poverty, among others, if it can not organize a festivity, can not send children to school, and has no permanent house, (2) Consumtive behavior forms of Watumite villagers include consumptive behavior for festivity puposes and for recreational purposes (3) Some factor that encourage people to engage in consumptive behaviors such as social statue recognition in the community, the influence of external culture, high income of clove farmers, culture or tradition, and technology.

Page 10 of 44 | Total Record : 432