cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 432 Documents
SUBJECT WEEK PROGRAM ANTARA REALITAS DAN HARAPAN (Pengembangan Soft Skills dan Etos Berprestasi Siswa di Semesta Bilingual Boarding School Semarang) Permatasari, Niken Septiana; Fatimah, Nurul; Sulaha, Adang Syamsudin
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 1 (2018): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan soft skills dan etos berprestasi siswa melalui program subject week dalam mendukung budaya sekolah di Semesta Blingual Boarding School Semarang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan program subject week terdiri dari tahap perencanaan dan tahap pelaksanaan. Soft skills siswa yang dikembangkan melalui pelaksanaan program subject week ada tiga aspek yaitu: kecakapan mengenal diri, kecakapan berfikir rasional, dan kecakapan sosial. Habitus etos berprestasi telah tertanam baik dalam diri para siswa dan sebagian guru. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program subject week   antara lain waktu pelaksanaan yang kurang, beban kerja guru dan minimnya personil pelaksanaan kegiatan, anggaran dana, perubahan orientasi pendidikan dan iklim sekolah yang cenderung science sentris, serta beban tugas siswa. Upaya yang dilakukan guna mengatasi kendala yang ada yakni: mengadakan seremonial penutupan acara, pembentukan tim pelaksana, membuat rancangan anggaran rendah.   This research aims to analyze the development of soft skills and student achievement ethos through the subject week program in support of school culture in Semesta Bilingual Boarding School Semarang. This research uses Qualitative Research Method. Data collection using observation techniques, interviews, and documentation. The results showed that the implementation of subject week program consists of the planning stage and implementation phase. Soft skills of students who developed through the implementation of subject week program there are three aspects, namely: self-knowing skills, rational thinking skills, and social skills. Habitus achievement ethos has been embedded in both every students and some teachers. Obstacles encountered in the implementation of the program subject time, among others, less time of execution, teacher workload and lack of personnel implementation activities, budget funds, education orientation and climate changes that tend to science centric, as well as student task load. Efforts are made to overcome the existing obstacles: held ceremonial closing events, the formation of the executive team, making the low budget plan.
Folklor Tabu Pertanian Dalam Menanam Kacang Hijau Pada Masyarakat Dusun Pondok Kecamatan Dempet Kabupaten Demak Afifah, Nor; Brata, Nugroho Trisnu; Luthfi, Asma
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 1 (2018): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis folklor tabu pertanian dalam menanam kacang hijau pada masyarakat Dusun Pondok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini mengunjukkan bahwa 1) masyarakat Dusun Pondok masih mempercayai dan mempraktikkan folklor tabu pertanian dalam menanam kacang hijau. Bagi masyarakat Dusun Pondok kacang hijau merupakan tanaman yang memiliki jasa bagi kehidupan mereka, sehingga sebagai wujud rasa hormat masyarakat Dusun Pondok dilarang menanam kacang hijau, 2) kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Pondok untuk mendukung folklor tabu pertanian dalam menanam kacang hijau, yaitu slametan yang dilakukan setiap hari Sabtu Wage bertempat di Sawah dan haul yang bertempat di makam, haul diadakan setahun sekali, yaitu pada bulan Sya’ban (kalender Hijriyah), 3) folklor tabu pertanian dalam menanam kacang hijau memiliki tiga fungsi, yaitu religi, ekonomi, dan nilai budaya. This article aims to analyze the folklore of agricultural taboo in planting green beans in the community of Dusun Pondok. This study uses qualitative methods, data collection techniques used, namely observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that 1) Pondok Hamlet people still believe and practice folklore farming taboo in planting green beans. For the people of Dusun Pondok, green beans are plants that have services for their lives, so as a form of respect for the people of Dusun Pondok is prohibited to plant green beans, 2) the activities undertaken by Pondok Dusun community to support folklor taboo of agriculture in planting green beans slametan performed every Saturday Wage located in Sawah and haul located at the grave, haul held once a year, ie in the month of Shaban (Hijri calendar), 3) folklor taboo agriculture in planting green beans has three functions, namely religion, economy , and cultural values.
Redefinisi Konsep Maskulinitas Laki-Laki Pengguna Perawatan Kulit Di Klinik Kecantikan Armina Desa Robayan Jepara Maulida, Nur Awaliya; Arsi, Antari Ayuning; Alimi, Mohammad Yasir
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 1 (2018): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya fenomena menarik bahwa perawatan yang identik dengan perempuan, saat ini juga dilakukan laki-laki sehingga muncul redefinisi konsep maskulinitas pada laki-laki. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui redefinisi konsep maskulinitas pada laki-laki yang menggunakan perawatan kulit di klinik kecantikan Armina Desa Robayan Jepara. Penelitian ini menggunakan Metode Penelitian Kualitatif. Lokasi penelitian berada di klinik kecantikan Armina, tepatnya di Jalan Raya Welahan Gotri RT.24 RW.03 Desa Robayan Jepara. Penelitian ini dianalisis menggunakan Konsep Maskulinitas yang dikaitkan dengan konsep Chafez mengenai area maskulinitas dalam masyarakat. Hasil penelitian yaitu terdapat tiga aspek yang mengalami redefinisi konsep maskulinitas. Ada aspek yang tetap, redefinisi, dan penguatan. Terkait aspek yang tetap terjadi pada aspek fisik. Kemudian aspek yang mengalami redefinisi terjadi pada aspek penampilan, aspek sikap, aspek perilaku, dan aspek karakter, serta aspek yang mengalami penguatan terjadi pada aspek fungsional. Pada aspek fungsional yang diinginkan tidak sekedar bekerja saja, melainkan pekerjaan yang mapan supaya semua kebutuhan hidup terpenuhi. This research is based on a unique phenomenon which a care done by women, currently done by male so that appears redefinition of masculinity concept for male. The purpose of the research is to know the definition of concept masculinity in the male who use the skin care in the clinic beauty Armina in the villages Robayan Jepara. This study using the qualitative research. The location of the study were in the clinic beauty Armina, precisely at Jl. Raya Welahan Gotri RT.24 RW.03 in the villages Robayan Jepara. This study analyzed using the concept of the masculinity associated with the concept of Chafez about the area of masculinity in the community. The result of the research is there are three aspects that have redefined the concept of masculinity. The aspects is a fixed aspects, redefinition aspects, and reinforcement aspects. Related aspects that remain on the physical aspects. Then, aspects that experience redefinition occurs in aspects of appearance, attitude aspects, behavioral aspects, and aspects of character. Also, the reinforcing aspects occurs on the functional aspects. On the desired functional aspects, a person not only works, but does a steady job so that all life needs are met.
A Pembagian Kerja Secara Seksual Di Pertambangan “Sirtu” Sungai Pabelan Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang Luthfi, Asma; Nasukha, Reza Adi; Brata, Nugroho Trisnu
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 1 (2018): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pembagian kerja secara seksual dan pandangan masyarakat terhadap perempuan penambang di pertambangan “sirtu” Sungai Pabelan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawaancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teori nurture dan teori struktural John Stuart Mills dan Radcliff Brown. Hasil penelitian menunjukkan (1) Pembagian kerja secara seksual masih terjadi di pertambangan sirtu Sungai Pabelan, dapat dilihat dari jumlah dan jenis pekerjaan perempuan yang lebih sedikit dibandingkan dengan pekerjaan laki-laki, jika laki-laki bisa menjadi buruh muat dan penambang, perempuan hanya dapat menjadi pemukul batu untuk dijadikan split, Dengan adanya pembagian kerja secara seksual perempuan memperoleh penghasilan yang lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki.  (2) Pandangan masyarakat terhadap perempuan penambang di Sungai Pabelan mengaku menjadi perempuan penambang sah-sah saja dengan catatan tidak meninggalkan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. This article aims to find out the sexual division of labor and the public view of miner women in the sand and stone "sirtu" mine of the Pabelan River. The research method used is qualitative research method. Technique of data collecting done by observation, interview, and documentation. The data analysis used nurture theory and structural theory of John Stuart Mills and Radcliff Brown. The results show that (1) sexual division of labor still occurs in the mining of Pabelan River, can be seen from the number and types of womens occupations that are less than the mens work, if men can become load workers and miners, women can only be a stone batter to split, With the sexual division of labor women earn less income than men. (2) The societys view of the miners in the Pabelan River claimed to be the only legal miner with no record of leaving the job as a housewife.  
Pembagian Kerja Secara Seksual Di Pertambangan “Sirtu” Sungai Pabelan Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang Nasukha, Reza Adi; Brata, Nugroho Trisnu
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 1 (2018): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pembagian kerja secara seksual dan pandangan masyarakat terhadap perempuan penambang di pertambangan “sirtu” Sungai Pabelan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawaancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan teori nurture dan teori struktural John Stuart Mills dan Radcliff Brown. Hasil penelitian menunjukkan (1) Pembagian kerja secara seksual masih terjadi di pertambangan sirtu Sungai Pabelan, dapat dilihat dari jumlah dan jenis pekerjaan perempuan yang lebih sedikit dibandingkan dengan pekerjaan laki-laki, jika laki-laki bisa menjadi buruh muat dan penambang, perempuan hanya dapat menjadi pemukul batu untuk dijadikan split, Dengan adanya pembagian kerja secara seksual perempuan memperoleh penghasilan yang lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki.  (2) Pandangan masyarakat terhadap perempuan penambang di Sungai Pabelan mengaku menjadi perempuan penambang sah-sah saja dengan catatan tidak meninggalkan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga.   This article aims to find out the sexual division of labor and the public view of miner women in the sand and stone "sirtu" mine of the Pabelan River. The research method used is qualitative research method. Technique of data collecting done by observation, interview, and documentation. The data analysis used nurture theory and structural theory of John Stuart Mills and Radcliff Brown. The results show that (1) sexual division of labor still occurs in the mining of Pabelan River, can be seen from the number and types of womens occupations that are less than the mens work, if men can become load workers and miners, women can only be a stone batter to split, With the sexual division of labor women earn less income than men. (2) The societys view of the miners in the Pabelan River claimed to be the only legal miner with no record of leaving the job as a housewife.  
Hari Pasaran Legi dan Tindakan Sosial Ekonomi Masyarakat di Pasar Tradisional Sari, Ayu Ratna; Rini, Hartati Sulistyo
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 2 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena sosial ekonomi menarik di Pasar Tawangsari, bahwa pasar tersebut menjadi “istimewa” di hari Pasaran Legi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tindakan sosial ekonomi masyarakat di Pasar Tawangsari pada hari Pasaran Legi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teori Tindakan Sosial Max Weber digunakan untuk menganalisis penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa para pedagang melakukan berbagai tindakan sosial yang dapat disebut sebagai tindakan rasionalitas intstrumental dan tindakan rasionalitas berorientasi nilai, sedangkan pengunjung melakukan tindakan tradisional dan tindakan rasionalitas berorientasi nilai. The background of this research is the existence of interesting socio-economic phenomena in Tawangsari Market, that the market became "special" on Pasaran Legi. The purpose of this study was to find out the socio-economic actions of the community at Tawangsari Market on Pasaran Legi. This study uses qualitative methods using observation, interview and documentation techniques. The theory of Max Weber's Social Action was used to analyze this research. The results of the study show that traders carry out various social actions which can be referred to as actions of internal rationality and values oriented rationality actions, while visitors carry out traditional actions and values oriented rationality actions.
Persepsi Perempuan Buruh Pabrik Terhadap Pengasuhan Anak Pada Keluarga Buruh Pabrik Di Desa Ngajaran Ardiyanto, Bagas; Arsi, Antari Ayuning
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 2 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Ngajaran merupakan salah satu desa yang penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai buruh pabrik. Banyaknya perempuan yang telah berkeluarga bekerja sebagai buruh pabrik menyebabkan keluarga melibatkan peran nenek dalam pengasuhan anak meraka. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Kualitatif. Lokasi penelitian berada di Desa Ngajaran Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Penelitian ini menggunakan konsep Fenomenologi dari Alfred Schutz. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) perempuan buruh pabrik mempunyai alasan memilih bekerja jika dibandingkan dengan mengurus rumah tangga dan mengasuh anak, yaitu upah yang diterima sebagai buruh pabrik lebih baik daripada sektor lain, menambah pendapatan keluarga, dan memanfaatkan pendidikan yang telah diraih. (2) Perempuan buruh pabrik mempersepsikan Peran Pengasuhan bisa diserahkan kepada nenek. Pengasuhan diserahkan kepada nenek dilakukan perempuan buruh pabrik di Desa Ngajaran karena harus bekerja setiap harinya. Keadaan yang harus bekerja setiap hari membuat perempuan buruh pabrik lebih mengupayakan pememenuhan kebutuhan fisik anak dan keluarga menjadi suatu prioritas. Tujuan perempuan buruh pabrik ikut bekerja yaitu mewujudkan keluarga yang sejahtera di masa depan. Ngajaran Village is one of the villages whose residents have a living as factory workers. The number of women who have had a family working as factory workers has caused the family to involve the role of grandmother in the care of their children. This study used qualitative research methods. The research location is in the village of Ngajaran, Tuntang District, Semarang Regency. This study uses the concept of Phenomenology from Alfred Schutz. The results of this study indicate that (1) women factory workers have a reason to choose work compared to taking care of the household and caring for children, namely the wages received as factory workers are better than other sectors, increasing family income, and utilizing the education achieved. (2) Women factory workers perceive the role of care can be handed over to grandmother. Caregiving was handed over to grandmother by women factory workers in Ngajaran Village because they had to work every day. Conditions that must work every day make women factory workers more striving to fulfill the physical needs of children and families to become a priority. The purpose of women factory workers is to work, which is to realize a prosperous family in the future.
Internalisasi Nilai-Nilai Religius Islam Pada Remaja Blora Dalam Organisasi Himpunan Pengajian Remaja Islam Blora (HIMPARISBA) Lesmana, Bondan; Fatimah, Nurul; Gustaman, Fulia Aji
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 2 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk: 1) mengetahui internalisasi nilai-nilai religius Islam pada Remaja Blora dalam Organisasi HIMPARISBA; 2) mengidentifikasi perilaku religius yang diharapkan muncul pada remaja Blora dalam Organisasi HIMPARISBA. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan untuk menganalisis data adalah teori habitus Pierre Bourdieu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Internalisasi nilai-nilai religius Islam pada remaja Blora dalam Organisasi HIMPARISBA dilakukan saat tahap awal dan pelaksanaan program. Tahap awal yaitu saat open recruitment anggota baru, sedangkan tahap pelaksanaan yaitu saat penyelenggaraan program-program HIMPARISBA. LKP menjadi program yang kurang ramah untuk calon anggota karena beberapa kegiatannya yang terlalu memberatkan. Khusus untuk kajian KeIslaman, HIMPARISBA menghindari ustadz-ustadz yang cenderung radikal. Tidak semua anggota HIMPARISBA mengalami internalisasi nilai-nilai religius dengan mendalam, namun anggota yang lebih aktif serta yang bermotivasi besar saja yang mengalami hal demikian. Nilai-nilai religius yang muncul meliputi nilai keta’atan, keberanian, kedisiplinan, kepedulian, saling menghormati, dan jihad.; 2) Perilaku religius yang diharapkan muncul pada anggota HIMPARISBA meliputi perilaku religius dalam berhubungan dengan: Allah; pribadinya sendiri; sesama manusia; alam; dan pemenuhan kebutuhan lahir dan batin. This article aims to: 1) Know the internalization of Islamic religious values for Blora teenagers in the HIMPARISBA Organization; 2) Identify the expected religious behavior that appears in Blora teenagers in the HIMPARISBA Organization.This research used qualitative research methods, with data collection techniques through observation, interview, and documentation. The theory used to analyze data is Pierre Bourdieu's habitus theory. The results of this study showed that: 1) Internalization of Islamic religious values for Blora teenagers in the HIMPARISBA Organization is carried out during the initial stages and implementation of the program. The initial stage is when the open recruitment of new members, while the implementation phase is when the HIMPARISBA programs are held. LKP becomes a less friendly program for prospective members because some of its activities are too burdensome. Especially for Islamic studies, HIMPARISBA avoids radical religious teachers. Not all members of HIMPARISBA experience in-depth internalization of religious values, but members who are more active and those who are highly motivated experience this. Religious values that arise include values of devotion, courage, discipline, caring, mutual respect, and jihad; 2) Religious behavior that is expected to appear in the members of HIMPARISBA includes religious behavior in dealing with: God; his own personality; fellow human beings; natural; and fulfillment of physical and spiritual needs.
Relasi Sosial Pedagang Dalam Pemanfaatan Hutan Sebagai Wana Wisata (Studi Kasus Pedagang Warungan Di Hutan Jati Goa Terawang Di Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora) Nisbatin, Nisbatin; Gunawan, Gunawan
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 2 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan tulisan ini untuk mengetahui bagaimana akses masyarakat sekitar hutan dalam memanfaatkan keberadaan hutan jati Goa Terawang, Kabupaten Blora. Artikel ini akan memfokuskan pada persoalan seperti apa relasi sosial yang dibentuk oleh para pedagang warungan, yang membuka kios-kios kelontong di sekitar hutan jati Goa Terawang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Artikel ini bermaksud untuk mengetahui pengelolaan hutan jati Goa Terawang sebagai lahan pertanian dan sebagai tempat pariwisata, serta bentuk-bentuk relasi sosial pedagang warungan dalam pemanfaatan hutan Goa Terawang sebagai wana wisata. Teori yang digunakan yaitu cara pandang Peluso terkait akses masyarakat sekitar hutan dalam memanfaatkan sumber daya hutan dan disiplin ilmu Antropologi Kehutanan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terbukanya akses masyarakat sekitar hutan dalam memanfaatkan keberadaan hutan. Pihak Perhutani memberikan kesempatan bagi masyarakat sekitar hutan untuk bertani maupun berdagang di kawasan hutan jati Goa Terawang. Aktivitas berdagang menciptakan bentuk-bentuk relasi sosial diantara pedagang warungan. Relasi sosial tersebut bersifat sinergi dan oposisi. Relasi sosial sinergi ditunjukkan dengan adanya kerjasama, sedangkan relasi sosial oposisi ditunjukkan dengan adanya persaingan. The purpose of this paper is to find out how people access the forest in utilizing the existence of the Terawang Goa teak forest, Blora Regency. This article will focus on what kind of social relations are formed by warung traders, who open grocery stalls around the Goa Terawang teak forest. Data collection techniques are carried out by observation, interviews, and documentation. This article intends to find out the management of Goa Terawang teak forest as agricultural land and as a place of tourism, as well as forms of warrior social relations in the use of the Terawang Goa forest as a tourist attraction. The theory used is Peluso's perspective regarding access of communities around the forest in utilizing forest resources and the discipline of Forestry Anthropology. The results of this study indicate that the open access of communities around the forest in utilizing the existence of forests. Perhutani provides an opportunity for communities around the forest to farm and trade in the Goa Terawang teak forest area. Trading activities create forms of social relations among warrior traders. These social relations are synergy and opposition. Synergic social relations are indicated by the existence of cooperation, while opposition social relations are indicated by competition.
Fungsi Forum Ar-Robithoh Sebagai Pengelola Remitan Pada Keluarga Warteg Jakarta Di Desa Sidakaton Kecamatan Dukuh turi Kabupaten Tegal Tristanti, Nurma; Iswari, Rini
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 2 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk 1) Mengetahui alasan masyarakat Desa Sidakaton bekerja sebagai pedagang warteg di Jakarta, 2) Mengetahui fungsi Forum Ar-Robithoh dalam penyaluran remitan ekonomi ke keluarga warteg di Desa Sidakaton. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yautu dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Masyarakat Desa Sidakaton bekerja sebagai pedagang warteg di Jakarta karena lingkungan yang banyak menjadi pedagang warteg, salah satunya orang tua. Kebutuhan akan sekolah anak serta pendapatan yang kurang dari pekerjaan sebelumnya juga membuat masyarakat tertarik membuka usaha warteg di Jakarta, 2) Forum Ar-Robithoh sebagai lembaga sekunder membantu pedagang warteg mengirimkan remitan hanya dengan cara menghubungi agen penyalur remitan yang ada di desa melalui telepon. Jasa penyaluran remitan mempermudah pengiriman uang ke desa karena pedagang warteg tidak harus mengeluarkan uang terlebih dahulu untuk mengirim. Biaya administrasi yang diterapkan forum tidak memengaruhi pedagang warteg dalam menggunakan jasa penyaluran remitan dari forum. This article aims to 1) to know the reason of the society of Sidakaton village to work as a warteg trader in Jakarta, 2) to know the function of Ar-Robithoh Forum in distributing economic remittance to warteg family in Sidakaton Village. The method in this research is qualitative. Technique of collecting data in this research yautu with observation, interview and documentation. The results of this study indicate that 1) Society of Sidakaton Village works as a warteg trader in Jakarta because of the many neighborhoods becoming warteg traders, one of them parents. The need for children's schools and less income from previous jobs also made people interested in establishing a warteg business in Jakarta, 2) Ar-Robithoh Forum as a secondary institution assisting warteg traders to send remittances by simply contacting the remittance dealer in the village by telephone. Remittance service makes it easy to send money to the village because the warteg traders do not have to spend money in advance to send. Administration fees applied by forums do not affect warteg traders in using remittance services from forums.

Page 11 of 44 | Total Record : 432