cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 432 Documents
Pola Sosialisasi Anak Pada Keluarga Wanita Pekerja Seksual Di Lokalisasi Gambilangu Farkhomah, Siti Aliyah; Fatimah, Nurul
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 2 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai pola sosialisasi anak yang diterapkan pada keluarga Wanita Pekerja Seksual di Lokalisasi Gambilangu. Tujuan dari penelitian ini yaitu, untuk mengetahui harapan dan keinginan orangtua (WPS) terhadap masa depan anak, mengetahui pendidikan anak yang diterapkan pada keluarga WPS, dan peran orang-orang sekitar dalam proses sosialisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Fenomena dalam penelitian ini dianalisis menggunakan teori sosialisasi George Herbert Mead. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orangtua yang berprofesi sebagai WPS di Lokalisasi Gambilangu mempunyai harapan dan keinginan terhadap masa depan anak, yaitu anak memiliki pendidikan formal yang baik, memiliki pengetahuan agama, dan tidak memiliki pengalaman yang sama seperti orangtua, keluarga WPS mendidik anak dengan menerapkan konsep Sosialisasi Herbert Mead yang termasuk dalam pola demokratis dan otoriter dan peran para tetangga dalam proses sosialisasi ada yang peduli menegur anak ketika melakukan salah dan juga ada yang tidak peduli ketika ada anak yang bermain di sekitar mereka. serta peran jasa pengasuhan anak berpengaruh terhadap perilaku dan perkembangan anak di lingkungan Lokalisasi. This research explained about the child socialization patterns that are applied to the family of Sexual Workers in Gambilangu Localization. The purpose of this study is to find out the expectations and desires of parents (WPS) towards the future of the child, to know the children's education that is applied to the WPS family, and the role of the surrounding people in the socialization process. This study uses a qualitative method. The phenomenon in this study was analyzed using George Herbert Mead's socialization theory. The results of this study indicate that parents who work as WPS in Localization Gambilangu have hopes and desires for the future of children, namely children have good formal education, have religious knowledge, and do not have the same experience as parents, WPS families educate children by applying the concept Herbert Mead's socialization included in a democratic and authoritarian pattern and the role of neighbors in the socialization process there were those who cared about rebuking the child when doing wrong and there were also those who did not care when children played around them. and the role of childcare services influences children's behavior and development in the Localization environment.
Struktur Organisasi Kerja Di Kalangan Penambang Pasir Dan Dampak Terhadap Lingkungan, Ekonomi Dan Sosial Di Segitiga Pertambangan Pasir Maulidah, Siti; Brata, Nugroho Trisnu
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 2 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas bekerja selalu melekat dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini membahas tentang struktur organisasi kerja di kalangan masyarakat yang bekerja menambang pasir. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang menjadi alasan masyarakat menambang pasir, mengetahui struktur organisasi kerja pertambangan pasir, dan mengetahui dampak struktur organisasi kerja terhadap lingkungan, ekonomi dan sosial masyarakat sekitar area pertambangan. Lokasi penelitian di daerah “segitiga pertambangan pasir” Kecamatan Boja yang berada di tiga dusun yang salin berbatasan yaitu Dusun Klesem, Teseh dan Kedungdowo. Peneliti menggunakan metode kualitatif dalam melakukan penelitian ini. Analisis atas data menggunakan teori struktur agrarian ala Gunawan Wiradi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan yang menyebabkan masyarakat melakukan penambangan pasir adalah faktor ekonomi yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sempitnya lapangan pekerjaan, faktor usia yang sudah tidak produktif lagi, dan faktor aturan yang tidak mengikat ketat. Struktur organisasi kerja terbentuk dengan adanya aktivitas produksi, distribusi dan konsumsi dalam pertambangan pasir. Dalam struktur organisasi kerja ini terdapat relasi antara satu agensi dengan agensi lain. Dampak struktur organisasi kerja pertambangan pasir menimbulkan beberapa dampak yaitu dampak lingkungan,  dampa kekonomi dan dampak sosial. This research explained about the work organizational structure among sand miners. The purpose of this study is to determine the causes of sand mining, to know the organizational structure of sand mining work, and to know the impact of the work organizational structure on the environment, economy and social community around the mine. The location of the study was in the Sand Mining Triangle in the District of Boja in three hamlets namely Klesem Hamlet, Teseh Hamlet and Kedungdowo Hamlet. Researchers used qualitative methods in this study. Data analysis uses Gunawan Wiradi agrarian structure theory. The results showed that the causes of sand mining were caused by economic factors because to meet the needs of life and economic limitations, the age factor was no longer productive and the rules were not bound. The organizational structure of work is formed by the activities of production, distribution and consumption in sand mining in the structure of this work organization has a relationship between one party and another. The impact of the organizational structure of sand mining work caused some impact are environmental impact, economic impact and social impacts.
Hiperealitas Kampung Pelangi Semarang Wulandari, Siti Suci; Luthfi, Asma
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 2 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program Kampung Pelangi Semarang merupakan salah satu program Pemerintah Kota Semarang untuk merenovasi perkampungan kumuh yaitu Kampung Wonosari. Kampung Pelangi menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Semarang yang populer dan banyak didatangi oleh pengunjung. Tetapi, populernya Kampung Pelangi tidak merujuk pada referensi utamanya, sehingga menyebabkan terjadinya hiperealitas. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui hiperealitas yang terjadi di Kampung Pelangi. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Kampung Pelangi berawal dari ketertarikan pemerintah terhadap kampung wonosari yang terlihat kumuh setelah dilakukan pemugaran pasar kembang, 2) Masyarakat mengekspresikan perasaan cemas saat awal program melalui aktifitas menutup pintu, dan duduk di depan rumah. Histeria pengunjung yang datang ke Kampung Pelangi terdiri dari histeria untuk dikonsumsi publik massa, dan mengisi waktu luang tanpa memiliki tujuan yang jelas, 3) Hiperealitas Kampung Pelangi dilakukan melalui bantuan teknologi simulasi seperti fotografi yang  menghasilkan citra atau realitas semu. Kampung Pelangi memiliki polisemi makna baik di masyarakat, pengunjung, maupun pemerintah. The Program of Kampung Pelangi Semarang (Rainbow Village) is one of the programs from the Semarang City Government to renovate one area of highly populated village in this city (slums), namely Wonosari Village. Kampung Pelangi has become a popular tourist destination in the city and is visited by many visitors. However, the popularity of Kampung Pelangi does not refer to its main reference, which causes hyperreality. This article aims to find out the hyperreality occurs in Kampung Pelangi. Method used in this study is qualitative. Data collection techniques used in this study are observation, interviews and documentation. The results of this study indicate that: 1) Kampung Pelangi was originated from the government's interest in the village of Wonosari which looked rather shabby after the restoration of Pasar Kembang (flower market), 2) Citizens expressed anxiety at the beginning of the program through closing the door, and sitting in front of the house. The hysteria of visitors who come to Kampung Pelangi consists of hysteria to be consumed by the masses, and to fill their spare time without having a clear goal, 3) The hyperreality of Kampung Pelangi is supported by the simulation of technology such as photography that produces false images or reality. Kampung Pelangi has a polysemy definition in the community, visitors, and the government.
Kajian Etnomedisin Dan Pemanfaatan Tumbuhan Obat Oleh Penyembuh Lokal Pada Masyarakat Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus Oknarida, Sri; Husain, Fadly; Wicaksono, Harto
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 2 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendiskripsikan pengetahuan pengobatan tradisional yang ada di Desa Colo. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus terdapat  seorang penyembuh lokal yang dikenal dengan sebutan Mbah Yai yang menjadi rujukan masyarakat di desa untuk menyembuhkan penyakit. Penyakit yang diobati oleh Mbah Yai adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan dalam pengobatan keluarga. Proses pengobatan yang dilakukan Mbah Yai dengan cara melakukan petungan, penerawangan, pemberian resep tumbuhan obat, wirid dan rajah.  This article aims describe knowledge of traditional medicine in Colo Village. The method in this research is qualitative. Technique of collecting data in this research yautu with observation, interview and documentation. Data analysis is using qualitative data analysis method consisting of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion. The results of this study indicate that to 1) Mbah Yai as a practinioner of traditional medicine in Colo village which aims to cure a patient’s illnes. The treatment process carried out by Mbah Yai by doing petungan, laughing, prescribing medicinal plants, wirid and rajah.
Akulturasi Budaya dalam Kehidupan Keluarga Arab-Jawa (Studi Kasus di Kampung Arab Dadapsari Semarang) Pratiwi, Ulfita Hani; Prasetyo, Kuncoro Bayu
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 7 No 2 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya fenomena menarik di kampung Arab Dadapsari, bahwa masih banyak ditemukan keturunan Arab menikah dengan masyarakat Jawa. Idealnya konsep pernikahan pada keturunan Arab adalah menggunakan pernikahan endogami. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk-bentuk akulturasi yang berlangsung dalam kehidupan keluarga Arab-Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis teori adalah menggunakan konsep Akulturasi dari Jhon W. Berry. Hasil dari penelitian menunjukan: Bentuk-bentuk akulturasi dalam keluarga Arab-Jawa tersebut tidak terlihat secara kuat karena budaya dan tradisi laki-laki (etnis Arab) terlihat lebih mendominasi, sementara budaya dan tradisi perempuan (etnis Jawa) seolah-olah hilang dan teserap dalam tradisi budaya Arab yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. The background of this research is the existence of interesting phenomenan in Kampung Arab Dadapsari which are still widely found Arab descent married with Javanese’s people. Ideally, wedding concept of Arab descent us endogamy wedding. That phenomenon make the researcher interest to do research in Kampung Arab Dadapsari Semarang. The purpose of this research is to know the form of acculturation that happen in of Arab-Javanese family life in Kampung Arab Dadapsari Semarang. This research uses qualitative method by using observation technique, interview and documentation. Theoretical analysis is to use the concept of Acculturation by Jhon W. Berry. The results of the research show: The form of acculturation in Arab-Javanese family life not seen strongly, because the culture and the tradition of men (Arab ethnic) look more dominating. While the culture and the tradition of women (Javanese ethnic) as if lest and absorbed in cultural tradition of Arab which is widely used indaily life.
Warung Kopi sebagai Ruang Ketiga bagi Pelajar SMA di Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang Ma’sum, Abdul; Gunawan, Gunawan
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 8 No 1 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini warung kopi digunakan sebagai ruang publik bagi masyarakat. Di Kabupaten Rembang, warung kopi tidak hanya menjadi ruang publik bagi orang tua dan dewasa. Warung kopi turut menjadi ruang bagi pelajar SMA dalam kesehariannya. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui daya tarik warung kopi bagi pelajar SMA, aktivitas pelajar SMA di warung kopi, serta alasan pelajar SMA memilih warung kopi sebagai ruang untuk menghabiskan waktu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Daya tarik yang dimiliki warung kopi antara lain memberikan pelayanan dan penyajian sebaik mungkin, menyediakan fasilitas penunjang, harga terjangkau, jam buka yang panjang, dan tata ruang yang bervariasi 2) Aktivitas pelajar SMA di warung kopi antara lain mengobrol, minum kopi dan merokok, memanfaatkan fasilitas dan bolos sekolah, 3) Pelajar SMA memilih warung kopi karena beberapa alasan antara lain  mencari hiburan, mencari kenyamanan, kebiasaan dan tempat berkumpulnya komunitas. Sebagai ruang ketiga, warung kopi dijadikan sebagai alternatif dari rumah dan sekolah, serta lingkungan yang mempromosikan dukungan sosial, persahabatan, dan komunitas.
Nilai Kearifan Lokal dan Etos Kerja Diaspora Minangkabau di Kota Semarang Prasetyo, Kuncoro Bayu; Mustafid, Imam Zulkhifli
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 8 No 1 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya fenomena menarik yang terjadi pada diaspora Minangkabau di Kota Semarang, dimana sebagian besar kehidupan mereka berpedoman pada nilai kearifan lokal. Nilai kearifan lokal tersebut kemudian juga membentuk sebuah etos kerja para diaspora Minangkabau. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk-bentuk nilai kearifan lokal yang masih dipercayai diaspora Minangkabau serta bagaimana nilai kearifan lokal tersebut membentuk etos kerja diaspora Minangkabau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis teori adalah menggunakan teori reproduksi budaya dari Arjun Appadurai dan Hannerz serta teori habitus dari Pierre Bordieu. Hasil dari penelitian menunjukan: Bentuk-bentuk nilai kearifan lokal yang masih diyakini tersebut berwujud pada pepatah-petitih yang syarat dengan nilai budaya lokal Minangkabau. Nilai-nilai tersebut kemudian direproduksi kembali oleh diaspora Minangkabau di Semarang dan menjadi sumber etos kerja mereka.  
Bentuk Toleransi Umat Beragama Islam dan Konghucu di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang Kurnianto, Rahadhion Dwi; Iswari, Rini
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 8 No 1 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Toleransi menjadi hal yang penting bagi masyarakat khususnya pada masyarakat yang bersifat multikultural. Keberanekaragaman yang ada di Indonesia rawan menyebabkan konflik horizontal di masyarakat, terutama potensi konflik antar agama. Perbedaan yang ada mampu untuk diterima dengan sikap toleransi oleh masyarakat Desa Karangturi, Lasem. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Konsep yang digunakan yaitu Multikultural H.A.R Tilaar dan Toleransi Djohan Effendi. Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) Desa Karangturi sebagai daerah multikultural yang terkenal dengan masyarakat keturunan Tionghoa mampu hidup rukun dan damai dengan masyarakat asli Jawa. 2) Berbagai bentuk toleransi yang ada di Desa Karangturi Lasem mencerminkan sikap masyarakat Lasem menerima etnis pendatang Tionghoa sehingga berdiri kawasan Pecinan. 3) Sikap toleransi yang ada di Desa Karangturi merupakan sikap turun termurun yang sudah ada sejak datang dan menetapnya keturunan Tionghoa. Penanaman nilai dan norma yang diberikan sejak kecil bertujuan untuk menjaga kerukunan yang ada di masyarakat.
MAKNA SIMBOLIK RITUAL BUANG ANAK DI DESA PONCOHARJO KECAMATAN BONANG KABUPATEN DEMAK Suliyah, Suliyah; Brata, Nugroho Trisnu
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 8 No 1 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ritual “buang anak” adalah ritual di mana anak “harus dibuang” karena memiliki hari kelahiran atau weton sama dengan salah satu anggota keluarganya. Fenomena ini terjadi pada masyarakat di Desa Poncoharjo Kecamatan Bonang Kabupaten Demak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pelaksanaan ritual “buang anak” di Desa Poncoharjo, (2) tata cara pengembalian hak asuh secara simbolik, dan (3) fungsi ritual “buang anak”. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi, validasi data, dan triangulasi data. Analisis data memakai metode analisis data kualitatif yang terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) di dalam kehidupan masyarakat terdapat pelaksanaan ritual “buang anak” yang didasarkan dengan hari kelahiran atau weton yang dimiliki sama dengan anggota keluarga yang lain, (2) Pengembalian hak asuh anak secara simbolik akan dilaksanakan jika anak yang bersangkutan laki-laki yaitu ketika dikhitan. Sedangkan untuk anak perempuan yaitu ketika melangsungkan pernikahan, (3) Fungsi dilaksanakanya ritual “buang anak” sebagai upaya mencari keselamatan atau tolak balak bagi seluruh anggota keluarga yang bersangkutan, dan menjadi ritual yang dipercaya oleh masyarakat.
Partisipasi Masyarakat dalam Kegiatan Pemberdayaan melalui Program Kampung Tematik (Studi Kasus di Kampung Batik Kelurahan Rejomulyo Kecamatan Semarang Timur Kota Semarang) Syarifa, Nisa Hafizhotus; Wijaya, Atika
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 8 No 1 (2019): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan mengenai partisipasi masyarakat dalam kegiatan pemberdayaan melalui program Kampung Tematik yang merupakan program pembangunan dari Pemerintah KotaSemarang.Program ini bertujuan untuk mengurangi tingkat kemiskinan masyarakat perkotaan melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan pariwisata di wilayah kampung kota. Salah satu kampung yang menjadi Kampung Tematik adalah Kampung Batik.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) keberhasilan kegiatan pemberdayaan dapat dilihat dari partisipasi masyarakat dalam tahap perencanaan, pelaksanaan serta pengawasan dan evaluasi pada kegiatan pemberdayaan. (2) Setelah adanya Kampung Tematik, masyarakat menjadi lebih mandiri dan tingkat kesejahteraan meningkat. (3) Pelaksaan program Kampung Tematik di Kampung Batik belum optimal, karena adanya perkembangan yang belum merata di beberapa RT. Kurangnya aktor penggerak kegiatan pemberdayaan serta rendahnya motivasi masyarakat untuk mengembangkan wilayahnya secara swadaya di beberapa wilayah Kampung Batik, menjadi kendala pelaksanaan program Kampung Tematik. Masyarakat merespon hal tersebut dengan memberikan saran atau ide satu sama lain supaya seluruh wilayah di Kampung Batik dapat berkembang.