cover
Contact Name
Putra Afriadi
Contact Email
putraafriadi12@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
hartono_sukorejo@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Catharsis
ISSN : 25024531     EISSN : 25024531     DOI : -
Catharsis: Journal of Arts Education provides an international forum for research in the field of the art and creative education. It is the primary source for the dissemination of independently refereed articles about the visual arts, performances (music, dance, drama/theater/play), creative process, crafts, design, and art history, in all aspects, phases and types of education contexts and learning situations (formal and informal).
Arjuna Subject : -
Articles 506 Documents
FUNGSI MUSIK DALAM KESENIAN KUNTULAN KUDA KEMBAR DI DESA SABARWANGI KECAMATAN KAJEN KABUPATEN PEKALONGAN SEBAGAI SARANA INTEGRASI SOSIAL
Catharsis Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMusik merupakan faktor penting dalam setiap rangkaian pertunjukan, baik pada bentuk pertunjukan rudat, akrobat, sulap, maupun lawak. Musik mempunyai fungsi untuk menghidupkan suasana sekaligus untuk memberitahu kepada penonton akan dimulainya pertunjukan dan selesainya pertunjukan. Lagu yang digunakan untuk mengiringi kesenian kuntulan memiliki nilai fungsi terhadap kebutuhan masyarakat sehingga mampu berintegrasi dalam kehidupan sosial. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan bentuk pertunjukan kesenian kuntulan kuda kembar, (2) mendeskripsikan bentuk musik dalam kesenian kuntulan kuda kembar, dan (3) menganalisis bentuk integrasi musik dalam kesenian kuntulan kuda kembar di Desa Sabarwangi, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, wawancara, serta metode dokumen, sedangkan teknik analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) bentuk pertunjukan kesenian kuntulan kuda kembar terdiri dari rudat, akrobat, sulap dan lawak, (2) bentuk musik dalam kesenian kuntulan terdiri dari musik pembuka, musik pengiring rudat, musik pengiring akrobat, musik pengiring sulap, serta musik pengiring lawak, (3) bentuk integrasi sosial musik kuntulan kuda kembar di desa Sabarwangi yaitu sebagai sarana penyampaian pesan bagi wong gedhe dalam  acara peringatan hari kemerdekaan, sebagai media hiburan bagi wong cilik dalam acara khitanan, sebagai sarana upacara dan hiburan dalam khitanan adat bagi golongan abangan, sebagai hiburan bagi pinisepuh, sebagai penanaman nasionalisme bagi kawula mudha melalui keikutsertaan sebagai pemain kuntulan, bagi sedulur dan wong liya berfungsi sebagai media hiburan dalam acra khitanan, maupun acara pernikahan. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang disampaikan adalah kepada pemerintah kabupaten Pekalongan agar meningkatkan dana pembinaan dan melakukan pelatihan organisasi kesenian kerakyatan, kepada pemerintah desa Sabarwangi agar melakukan usaha pembenahan dan bimbingan dibidang musik,  kepada bapak Santoso agar melakukan kaderisasi dan sosialisasi tentang fungsi musik kesenian kuntulan agar kesenian kuntulan dapat selalu berintegrasi dalam kehidupan masyarakat.AbstrakMusic has an important factor in its set of  the show, also in the form of  Rudat performances, acrobatics, magic, and comedy. The function of  music is to liven things up at once and to tell the audience that the show will be the started and finished. The used song in Kuntulan art has a value to integrate certain community in social life. The purposes of  this study are (1) to describe the form of   Kuntulan Kuda Kembar art performance, (2) to describe a form of  Kuntulan Kuda Kembar music,  (3) to analyze the music form of   Kuntulan Kuda Kembar  in Desa Sabarwangi, Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan. This study uses qualitative research methods with an ethnographic approach. Data Collection techniques used are observation , interviews, and document, while the analytical technique consists of  three flow events occurring simultaneously, namely data reduction, presentation of  data, drawing conclusions/verification. These results indicate that (1) The form of   Kuntulan Kuda Kembar art performance consists of  Rudat, acrobatics, magic and come-dy, (2) the forms music in Kuntulan consists of  appetizers, Rudat, acrobatics , magic, and comedy musical accompani-ment, (3) the social integration of  Kuntulan Kuda Kembar in Sabarwangi village are as a means of  delivering a message to wong gedhe in commemoration of  Independence Day, as a medium of  entertainment for the people in the ceremony circumcision, as a means of  entertainment in circumcision ceremonies and customs for abangan, as entertainment for the olders, as the implementation of  nationalism for the youth Kuntulan players,  as a medium of  entertainment in the circumcisions, and weddings for the others. Based on the findings, the suggestions are (1) district government is expected to increase the funding in coaching and training, (2)the village should improve the quality in order to make business improved, (3)Mr. Santoso should begin the regeneration to preserve the culture.
BENTUK ARANSEMEN MUSIK KERONCONG ASLI KARYA KELLY PUSPITO DAN RELEVANSINYA BAGI REMAJA DALAM MENGEMBANGKAN MUSIK KERONCONG ASLI
Catharsis Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMusik keroncong merupakan musik asli Indonesia karena tumbuh dan berkembang di Indonesia. Namun perkembangannya tidak sebaik jenis musik barat seperti pop, rock ataupun musik dangdut. Musik keroncong sering dianggap sebagai musik yang dikonsumsi kalangan orang tua saja karena memang peminat musik keroncong sebagian besar adalah orang tua. Seorang komponis keroncong asal Semarang yaitu Kelly Puspito tergugah untuk mengembangkan musik keroncong karena melihat musik keroncong sudah mulai ditinggalkan oleh para remaja. Kelly Puspito melakukan inovasi terhadap musik keroncong asli dengan cara mengembangkan harmonisasi atau progresi akor dengan menambahkan akor-akor yang sudah baku, melodi yang bervariasi bergerak melangkah dan melompat,  rentangan nada yang luas, ritmis bervariasi yaitu bernilai seperempatan, seperdelapanan, hingga seperenambelasan, serta interval nada yang cukup tajam baik naik maupun turun. Hal itu sesuai dengan karakteristik remaja yaitu selalu ingin berinovasi, menyukai tantangan dan ingin mencoba hal-hal yang baru. Bukan hanya remaja saja yang menyukai keroncong asli karya Kelly Puspito, para seniman keroncong pun semakin terinspirasi untuk berkarya dan berinovasi dalam musik keroncong Sehingga musik keroncong mulai diminati oleh para remaja dan masyarakat pada umumnya.AbstractKeroncong is an original music from Indonesia because it develops in Indonesia. However, its development isn’t as good as pop, rock or even dangdut. Eroncong is associated with the elders. A composer from Semarang, Kelly Puspito awaken to develop Keroncong after seeing the phenomenon. Kelly Puspito develops harmony by adding exact accor variatively using jump and step, tone range, and variative rhytmic like quarto, octo, sixteen, also extreem tones. Those things accord with the characteristics of  youth which are, innovative, excited of  challange, and inquisitive. Kelly Puspito could attract not only the youth to love Keroncong  but also the keroncongist to innovate more for the betterment of  eroncong itself. 
MODEL PEMBELAJARAN MOVING CLASS MATA PELAJARAN SENI BUDAYA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEMANDIRIAN SISWA (KAJIAN KASUS) DI SMA KARANGTURI SEMARANG
Catharsis Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMoving class merupakan proses pembelajaran yang bercirikan siswa mendatangi guru di kelas,  setiap pergantian  pelajaran siswa  berpindah-pindah ruang sesuai dengan mata pelajaran yang diikutinya. Model pembelajaran moving class pada mata pelajaran seni rupa merangsang siswa menjadi lebih aktif  dan kreatif, serta memberikan kesempatan pada guru untuk lebih memaksimalkan proses pembelajarannya. Beberapa kelebihan model pembelajaran  moving class  diantaranya: pemanfaatan media pembelajaran dengan lebih maksimal, peserta didik lebih leluasa dalam mengekspresikan kemampuannya, guru lebih punya banyak waktu untuk mempersiapkan proses pembelajaran, dan dengan model moving class peserta didik selalu aktif   dalam proses pembelajaran.  Penerapan model moving class dalam pembelajaran seni budaya juga merupakan sebuah upaya untuk menumbuhkan kemandirian siswa, sehingga dampak yang muncul siswa tidak hanya mampu menguasai materi pelajaran, tapi juga mampu membangun karakter siswa, khususnya dalam aspek kemandirian. Bentuk penanaman nilai-nilai kemandirian melalui model pembelajaran  moving class pada mata pelajaran seni rupa yaitu dalam bentuk apresiasi dan berkreasi karya seni rupa. Nilai-nilai kemandirian yang terkandung dalam model pembelajaran moving class pada mata pelajaran seni rupa meliputi: nilai kedisiplinan, keberanian, percaya diri, tanggungjawab, cakap & terampil.AbstractMoving class is a learning process in which students attend their teachers, they will move the class when the lesson changed. Moving class in fine arts triggers students  to be active and creative, also give the chance to the teachers to optimize the learning process. There are some benefits in having moving class: The optimum use of  facilities and students creativity; Prepared material for the teacher; and The activeness of  students in moving class. Moving class is an attempt to trigger students’ self  autonomous that lead into character building.  The application of  this self  autonomous is realized by the appreciation and creation of  fine arts. Whereas The values of  them are realized by discipline, bravery, confidence, and competence.
PENGEMBANGAN SISTEM SCALE CHORD DALAM PEMBELAJARAN HARMONI MANUAL PADA PROGRAM STUDI MUSIK GEREJA SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN PROTESTAN NEGERI SENTANI JAYAPURA
Catharsis Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengembangkan sistem Scale Chord matakuliah  Harmoni Manual dengan mengkonversikan sistem penotasian dari notasi balok ke-notasi angka disertai dengan simbol-simbol akor, penjarian dan pertandajarian sehingga mempermudah mahasiswa dalam belajar keyboard. Hasil penelitian menunjukkan:(1) pengembangan Sistem Scale Chord pembelajaran Harmoni Manual yang mengadopsi model (Borg & Gall) menghasilkan system Scale chord yang, praktis; (2) jenis informasi yang diperoleh ketika model Scale Chord diterapkan adalah hasil pengamatan dan penilaian kemampuan, pemahaman terhadap keterampilan proses sistem scale chord dan kualitas produk; (3) pemanfaatan pokok hasil penilaian Sistem Scale Chord digunakan sebagai umpan balik kepada mahasiswa dan refleksi bagi Dosen Harmoni manual untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran; (4) tingkat keterlaksanaan dan efektivitas Sistem  Scale Chord dalam pembelajaran Harmoni manual cukup tinggi. Hal ini terbukti baik dari hasil pengamatan langsung maupun hasil-hasil empirik. (5) ditemukan adanya perbedaan yang signifikan dibandingkan model konvensional (Pilling).AbstractThis study aims to develop a system of  course Harmony at the Keyboard Scale Chord by converting the system of  notation beam the notation numbers along with chord symbols, and fingerings that facilitate students in learning the keyboard.The results showed: (1) developing the learning Chord Scale System adopted Harmony at t the keyboard type of  information that is obtained when applied Chord Scale models are the result of  observation and assessment skills, understanding the chord scale systems process skills and the quality of  the product, (3) the principal use of  assessment results chord Scale system is used as feedback to students and lecturers reflection for Harmony at the keyboard to enhance learning effectiveness, (4) the level and effectiveness chord Scale systems in learning Harmony manual is quite high. It is evident from the results of  direct observation and empirical results. (5) found a significant difference compared to conventional models (Pilling).
EKSISTENSI TARI TOPENG IRENG SEBAGAI PEMENUHAN KEBUTUHAN ESTETIK MASYARAKAT PANDESARI PARAKAN TEMANGGUNG
Catharsis Vol 2 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksistensi Tari Topeng Ireng ditunjukkan dengan seringnya tampil pentas, sehingga dapat memberikan hiburan masyarakat dari pertunjukan yang indah, bahkan berdampak sebagai pencitraan bagi si penanggap. Tujuan penlitian ini adalah (1) menjelaskan nilai-nilai estetik yang terkandung dalam Tari Topeng Ireng di Pandesari Parakan Temanggung, (2) menjelaskan eksistensi Tari Topeng Ireng sebagai pemenuhan kebutuhan estetik masyarakat Pandesari Parakan Temanggung. Penelitian ini mengunakan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan perekaman. Analisis data menggunakan analisis data Miles dan Huberman meliputi penyajian data, reduksi data dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan (1) Nilai estetik Tari Topeng Ireng terdapat gerak, pola lantai, iringan, tata rias dan kostum. Gerak yang ditunjukkan dengan bersifat energik, dinamis, ekspresif dan atraktif. Pola lantai terlihat dinamis karena variasi arah hadap, level dan perpindahan penari. Iringannya ritmis, menghentak, lagu-lagunya lebih variatif. Alat musiknya sudah menggunakan ornamen hiasan yang lebih indah. (2) Eksistensi Tari Topeng Ireng ditunjukkan dari dampak pemenuhan kebutuhan estetik yaitu pencitraan, penyaluran hobi.  Existence Topeng Ireng Dance indicated by the frequent performing stage, so as to provide the entertainment community of wonderful performances, even as the impact of imaging for the responders. This interesting study because of the existence of Topeng Ireng Dance in Temanggung got a good position in the hearts of the people. This study uses qualitative. Note was collected using observation, interviews, documentation, and recording. Analysis of the data using the model of Miles and Huberman data analysis that includes data presentation, data reduction and verification. Results showed The value of the aesthetic movement there Topeng Ireng Dance, floor patterns, accompaniment, makeup and costumes. Motion is indicated with an energetic, dynamic, expressive and attractive. Floor pattern looks dynamic due to variations in the direction toward. Rhythmic accompaniment, stomping, more songs fariatif.The existence of a Topeng Ireng Dance Ireng indicated that the impact on the aesthetic needs of imaging, hobby.
MUSIK DANGDUT KOPLO DI GRUP BHALADIKA SEMARANG DALAM KONTEKS PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA
Catharsis Vol 2 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dangdut adalah salah satu jenis musik popular di Indonesia.Menyimak repertoar musik dangdut, tentunya tidak dapat terlepas dari amatan terhadap berbagai elemen musiknya. Kajian terhadap repertoar musik dangdut pada dasarnya merupakan sebuah kajian tentang bentuk dan  struktur musik, pola harmonisasi, orkestrasi, gaya, organologi, dan  sejumlah komponen musik lainnya. Musik dangdut mengalami perkembangan sesuai dengan konteks perkembangan sosial budaya masyarakat.Perkembangan tersebut juga terjadi di grup musik dangdut Bhaladika Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bentuk musik dangdutkoplo di grup Bhaladika Semarang dalam konteks perubahan sosial budaya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatanSosio-Budaya Pitirim Sorokin. Dilihat dari bentuknya, bagian utama komposisi musik dangdut umumnya menggunakan  bentuk lagu tiga bagian dengan skema: A, B, A’; A, A’, B, A’;A, A’, B, B’, A’, atau A, B, C. Komposisi musik dangdut terdiri atas bagian introduksi, interlude, dan koda.Pada aspek instrumen ada penambahan alat musik seperti drum setdan adanya perubahan dalam pembawaan gitar, keyboard, kendang. Sementara itu, beberapa hal yang dianggap masih tetap melekat dalam arti tidak berubah adalah gaya pembawaan vokal dangdut, gaya pembawaan suling dan gitar bass yang secara khusus dibawakan di dalam musik dangdutkoplo(2) Pada tahap perkembangannya dangdut dipengaruhi oleh perkembangan industri musik dan adanya tuntutan selera masyarakat. Dangdut is a popular type of music in Indonesia. Listen to dangdut music repertoire, of course, can not be separated from the observations of the various elements of his music. This research is aimed to find out and analyze the form of dangdut koplo in Bhaladika Group Semarang in the contect of social cultural. From its form, it can be seen that the main part generally uses three parts of song with scheme: A, B, A’; A, A’, B, A’; A, A’, B, B’, A’, or A, B, C. Meanwhile, the additional section of dangdut consists of introduction, interlude, and coda. The form of dangdut koplo in Bhaladika Semarang musicologically is similar with the form of original dangdut but there is a drum set as an addition. There are also some changing in playing the guitar, keyboard, and kendang. Some things that consider remained in this kind of music are the performance style of dangdut vocal, the flute, and bass guitar which are especially performed in the dangdut koplo. (2) At this stage of its development is influenced by the development of dangdut music industry and the demands of public taste.
PEMBELAJARAN MELALUI BERNYANYI UNTUK MENSTIMULASI SIKAP DAN PERILAKU MUSIKAL ANAK PADA PUSAT UNGGULAN PAUD TAMAN BELIA CANDI SEMARANG
Catharsis Vol 2 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bernyanyi adalah salah satu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran di PAUD. Hal itu juga yang diterapkan di Pusat Unggulan PAUD Taman Belia Candi Semarang. Penelitian ini mengungkap (1) proses pembelajaran melalui bernyanyi, (2) proses pembelajaran bernyanyi dalam menstimulasi sikap dan perilaku musikal anak, (3) proses pembelajaran bernyanyi dalam menstimulasi sikap dan perilaku sosial anak. Penelitian ini adalah penelitian Kualitatif, dengan hasil penelitian (1) proses pembelajaran melalui bernyanyi menggunakan dua konsep, yaitu belajar bernyanyi dan bernyanyi untuk pembelajaran, dengan cara sederhana yaitu menyanyikan lagu yang akan diajarkan, (2) musikalitas anak menjadi terstimulasi, dengan bernyanyi kemampuan dan kepekaan anak mengenal lagu menjadi lebih baik, (3) lirik lagu bisa digunakan untuk menstimulasi sikap dan perilaku sosial anak, dengan mengenalkan lagu bertema sosial, anak mengenal kalimat yang berupa nasihat yang ada pada lirik lagu. Dapat disimpulkan bahwa bernyanyi bisa digunakan sebagai salah satu metode pembelajaran yang efektif di PAUD, selain caranya sederhana dan menyenangkan, dengan bernyanyi anak bisa belajar banyak hal.Singing is one of the approaches  used in teaching learning process in Early Age Education for Children. This approach is also used  at PAUD Taman Belia. This research finds out: 1) Teaching learning process through singing, 2)  the process of teaching learning of singing to stimulate musicality and social attitude & behavior of the students. This research is a qualitative research  with the outcomes as follows (1) the process of teaching learning through singing using two concepts; learning to sing and singing for  learning, using a simple way of singing the song to be taught, (2)  musicality of  the children are being stimulated; by singing the ability and sensitivity of the students to get to know a song increase, (3) Lyrics of the songs can be used to stimulate social attitude & behavior of the students ; by knowing social theme songs students get to know  sentences in form of advices.  It can be concluded that singing can be used as one of the effective teaching learning method in Early Age Education for Children. It is simple and fun, and furthermore by singing students can learn many things.
FUNGSI IRINGAN MUSIK DALAM KESENIAN SINTREN DI DESA PAGEJUGANKABUPATEN BREBES
Catharsis Vol 2 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian fungsi musik iringan kesenian sintren di desa Pagejugan Brebes dilakukan untuk mendeskripsikan bentuk musik iringan Sintren, fungsi musik iringan kesenian Sintren bagi kesenian itu sendiri, dan fungsi musik iringan Sintren bagi masyarakat pendukungnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data diperoleh dengan cara wawancara, pengamatan dan studi dokumen. Keabsahan data menggunakan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil menunjukan bahwa musik pada sintren merupakan iringan musik campuran dari vokal dan instrumental. Bentuk musik iringan Sintren menggunakan laras slendro. Irama musik iringan kesenian Sintren di desa Pagejugan berirama lancar dan harmonisasi pada musik dalam kesenian sintren disesuaikan dengan vokal sinden. Bentuk lagu pada iringan kesenian sintren adalah bentuk kumuda dan ladrang. Fungsi musik iringan bagi kesenian itu sendiri adalah fungsi yang berhubungan dengan bentuk musik dan proses pertunjukan Sintren, yaitu gending bentuk kumuda berirama tanggung merupakan pembentuk suasana tenang dan romantis dan gending bentuk ladrang berirama tanggung merupakan pembentuk suasana  gembira, senang, dan lincah. Fungsi musik bagi masyarakat pendukungnya adalah sebagai sarana komunikasi, sebagai sarana, sebagai penghayatan estetis, sebagai persembahan simbolis, dan sebagai sistem proyeksi.   The purpose of research the function of musical accompaniment Sintren in Pagejugan Brebes, done to describeform of musical accompaniment, the function of musical accompaniment for the art itselfand the functionfor community supporters. This study used a qualitative approach.The data Collection techniques obtained by interview, observation, and study of document.Validity of data using methodby data collection, data reduction, the presentation of the data, and withdrawal conclusion. The results indicate that the musical accompanimentsintrenis a mixture musical of vocal and instrumental.Themusical accompanimentof Sintren use Slendro scales. The form of songs are Kumuda and Ladrang. Musical function for art itself is a function related to the form of music and performances Sintren process, forms kumuda responsibility is forming a quiet and romantic atmosphere, at the time of formation Sintren dancer, at the presentation of entertainment, and closing procession. Ladrang responsibility is forming a excited, happy, and agile, the formation Sintren dancers, entertainment presentation, and application process. The function for community supporter are music is a means of communication, as a means, as an aesthetic appreciation, as a symbolic offering, and as a projective system.
REPRESENTASI FEMINISME SRIKANDI DALAM PERTUNJUKAN WAYANG ORANG LAKON BISMA GUGUR
Catharsis Vol 2 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksistensi Srikandi dalam petunjukan wayang orang lakon Bisma Gugur merupakan representasi dari emansipasi perempuan berbasis kultural Jawa. Fenomena di masyarakat sering muncul persepsi negatif bahwa dalam budaya Jawa dan juga Indonesia cenderung memosisikan perempuan menjadi subordinat laki-laki. Penelitian ini membahas nilai-nilai feminisme  dalam tokoh Srikandi, yang  dapat menjadi sumber inspirasi dan patut diteladani. Metode yang digunakan  kualitatif dengan kajian semiotik interpretatif. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Tanda dianalisis dengan pendekatan semiotika Van Zoest. Pemaknaan atas tanda dengan konsep Roland Brathes. Hasilnya dapat diformulasikan (1) nilai-nilai feminisme Srikandi bersifat kontradiktif. Kefeminimannya  digunakan sebagai strategi untuk mengalahkan lawan. Hal tersebut merupakan gambaran dari suatu transformasi sosial untuk menciptakan keadaan kesetaraan antara kaum perempuan dan laki-laki sehingga perempuan mendapatkan haknya dalam konteks bela negara. (2) nilai teladan dari tokoh Srikandi adalah: (a) nilai semangat pantang menyerah, (b) nilai keberanian dan tanggung jawab, (c) nilai menghormati dan saling menghargai, (d) nilai realita dan ilmu pengetahuan, dan (e) nilai estetika Srikandi character in a traditional stage performance Bisma Gugur shows a woman emancipation representation which expresses and struggle for woman’s right. A phenomenon which comes in society shows that woman’s existence is less in its part.The problem in this research is how the values of feminism in Srikandi character be an inspiration and model for the public society. The method used is qualitative with interpretative semiotic studies. Techniques of data collection by using interview, observation, and documentation. The sign analyzes with Van Zoest semiotic and its meaning by using Roland Brathes concept.  The result shows (1) there is a contradictive in values of feminism of Srikandi in a traditional stage performance Bisma Gugur. Its feminism is used to as a strategy to against enemy. A contradictive feminism Srikandi value shows a portrait from social transformation to compose the same social status between woman and man, so she can get the same right to depend her country. (2) a good moral value from Srikandi is a) prohibition of surrender spirit , b) brave and responsible, c) respecting, d) reality value and science, and e) aesthetic value.
CALUNG SEBAGAI MEDIA EKSPRESI PENGAMEN JALANAN “JAWARA MUSIK” DI KABUPATEN TEGAL
Catharsis Vol 2 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengamen Calung  jalanan ”Jawara Musik” merupakan grup pengamen jalanan yang berbeda dengan para pengamen yang biasa dijumpai di jalan-jalan. Bentuk penyajian dari grup pengamen calung jalanan ”Jawara Musik” berbeda dengan pengamen yang lainnya. Analisapenelitian ini melalui langkah-langkah: (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) verifikasi atau kesimpulan. Temuan penelitian menemukan bahwa grup pengamen calung “Jawara Musik” menggunakan calung sebagai instrumen musik dalam kegiatan mengamen. Grup ini didirikan melalui kesepakatan para pemuda untuk mengisi keluangan waktu mereka yang pada akhirnya dijadikan sebagai sarana pencarian nafkah. Proses komunikasi yang lancar antar kedua belah pihak akan membuat Interaksi semakin baik dan pada akhirnya kedua belah pihak akan mendapatkan keuntungan masing-masing. Calung street musician “jawara Music” is a group of street musicians that a quite different to another street musicians we have seen before. Research method is qualitative because the data disclosed by or presented data outlining the words of actions of people and events observed were consistent with the fact that is an accurate and systematic. Throught research analysis steps: (1) data reductions, (2) the presentsation of the data, (3) verification or conclusions.Findings of the study found that the group of street musician used calung as a media of expression. They also have other objectives, one of them is to help preserve the Indonesian traditional art. In the activity of singing, there is also an interaction between the singers of calung Jawara Music with the audiences. A well communication between them will make a better interaction and eventually both of them will get their own benefits.