cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Department of Foreign language and literature, Faculty of Language and Art, Semarang State University, Sekaran Campus, Gunungpati, Semarang, Central Java, Indonesia, 50229.
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Chi`e: Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang
ISSN : 22526250     EISSN : 26856662     DOI : https://doi.org/10.15294/chie
Core Subject : Education,
CHI’E: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA JEPANG, (E-ISSN: 2685-6662, P-ISSN:2252-6250) is an OPEN-ACCESS, Peer-reviewed, International DOAJ Indexed Journal has the perspectives of Japanese languages, literature and language teachings. This journal has the Focus and Scope of presenting and discussing some outstanding contemporary issues dealing with Japanese Language Teaching, Japanese Literature & Japanese Linguistics. This journal is published every March and October by Prodi Pendidikan Bahasa Jepang, Universitas Negeri Semarang, Indonesia, and accredited by the Indonesian Ministry of Research, Technology and Higher Education (RistekDikti) of the Republic of Indonesia in SINTA (Achieving Sinta 4) since November 11, 2019. The recognition was published in Director Decree (SK No. 30/E/KPT/2019), effective until 2023.
Arjuna Subject : -
Articles 272 Documents
PERBANDINGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA YANG BERASAL DARI JAWA DAN LUAR JAWA DI SMK BAGIMU NEGERIKU SEMARANG mega silvia jelita; Andy Moorad Oesman; dyah prasetiani
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8425

Abstract

Motivasi mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Tetapi, motivasi setiap pembelajar ada kalanya berbeda. Motivasi yang berbeda pada tiap pembelajar dapat mempengaruhi ketercapaian dalam tujuan belajarnya. Perbedaan motivasi setiap siswa dikarenakan berbagai faktor, antara lain adalah cita-cita siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa,dan  kondisi lingkungan siswa. Setiap siswa tentu mempunyai kondisi lingkungan yang berbeda seperti lingkungan tempat tinggal atau daerah asal yang berbeda dan latar belakang keluarga yang berbeda. Perbedaan latar belakang siswa menjadi faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, terlihat juga di SMK Bagimu Negeriku Semarang. Berdasarkan pengamatan peneliti selama kegiatan praktik pengalaman lapangan (PPL), terdapat siswa yang berasal dari latar belakang daerah yang berbeda. Hal ini dikarenakan siswa di sekolah ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain perbedaan kondisi lingkungan siswa, tempat tinggal, dan latar belakang keluarga, terdapat pula perbedaan hasil belajar (termasuk hasil belajar bahasa Jepang) pada siswa kelas XI. Hasil belajar siswa  kelas XI yang berasal dari Jawa cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang berasal dari luar Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana motivasi belajar siswa dari Jawa dan luar Jawa, serta perbandingannya. Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian kuantitatif dan kualitatif. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Bagimu Negeriku Semarang sebanyak 125 siswa dan 50 siswa. Pengumpulan data menggunakan angket. Analisis data menggunakan analisis deskriptif presentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil angket, motivasi belajar siswa yang berasal dari Jawa sebesar 78,90% sedangkan siswa luar Jawa sebesar 77,85% yang sama-sama termasuk dalam kategori tinggi. Terbukti bahwa motivasi siswa dari Jawa dan luar Jawa mempunyai motivasi yang tinggi dalam mempelajari bahasa Jepang di SMK Bagimu Negeriku Semarang. Tingkat motivasi belajar siswa yang berasal dari Jawa paling tinggi adalah minat sebesar 94%, sedangkan siswa luar Jawa adalah keinginan berhasil sebesar 95%. Disisi lain, tingkat motivasi belajar siswa yang berasal dari Jawa paling rendah adalah tingkat kesadaran diri siswa sebesar 68,5%, sedangkan siswa yang berasal dari luar Jawa adalah kondisi lingkungan siswa sebesar 68%.
ANALISIS PENGGUNAAN AIZUCHI MAHASISWA BAHASA JEPANG DALAM KOMUNIKASI BERBAHASA JEPANG meta gesti rahayu; Rina Supriatnaningsih; silvia nurhayati
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8426

Abstract

Aizuchi merupakan suatu isyarat balik secara verbal maupun non verbal dalam bahasa Jepang yang seringkali diucapkan dan dilakukan oleh lawan bicara dalam komunikasi berbahasa Jepang. Kemunculan aizuchi juga seringkali digunakan sebagai indikator bahwa seseorang sedang mendengarkan pembicara dengan baik, terutama respon verbal, misalnya respon berupa ucapan “ はい“ atau “hai” yang berarti “ya”. Sementara, orang Indonesia memiliki cara respon berbeda dalam berkomunikasi. Pada penelitian ini, peneliti meneliti tentang penggunaan aizuchi dan kesalahan-kesalahan penggunaannya. Penelitian ini menggunakan teknik deskriptif kualitatif untuk mengetahui penggunaan aizuchi dan kesalahan-kesalahan penggunaannya. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah video rekaman pemaparan mata kuliah interview dalam rangkaian kegiatan Teacher Training di Japanese Language Institute, Japan Foundation, Kansai, Osaka, pada 2014. Penelitian ini menggunakan teknik rekam, simak dan catat untuk pengumpulan data dan teknik unsur pilah penenetu untuk analisis dan pengolahan data. Hasil analisis data menunjukkan bahwa dari 100% aizuchi yang dilakukan, 21% diantaranya adalah aizuchi verbal dan 79% sisanya adalah aizuchi non verbal, dan dalam 100% aizuchi verbal yang diucapkan, 11% diantaranya merupakan penggunaan aizuchi verbal yang salah. Aizuchi is verbal or non verbal backchannel in Japanese that is said very often by the partner of the speaker in a conversation in Japanese. The existence of aizuchi also being the indicator if thr listener is listening attentively and understand so far, especially verbal response like “ はい“ or “hai” which represent the meaning of “yes”. However, Indonesian has the different way to response the speaker in communication. In this research, the researcher analyze about the usage of aizuchi and the mistakes of it. This research using cualitative descriptive technique to know about the usage of aizuchi ang the mistakes of it. The source of data that are used in this research is some recorded videos of Presentation activity in Interview class of Teacher Training Programme that is held in Japanese Language Institute, Japan Foundation, Kansai, Osaka, in 2014. This research using record, watch and notes technique to collect the datas and determinant element selection technique to analyze the datas. The result of the analysis shows that in 100% of aizuchi done by Japanese students, 21% of it was verbal aizuchi, and the 79% is non verbal aizuchi, and in 100% of verbal aizuchi, 11% of it was mistaken aizuchi.
THE COHERENCE BETWEEN THE TEACHING PLOT WRITTEN IN LESSON PLAN WITH THE IMPLEMENTATION IN THE CLASSROOM OF JAPANESE SUBJECT Musdalifah Yuliati Putri; Yuyun Rosliyah; Andy Moorad Oesman
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8438

Abstract

To achieve a learning goal, in the teaching learning activity there is a component that must interact one another. Those components are lesson material, teaching learning activity, media and evaluation. Therefore, the teacher must plan a teaching plot in the lesson plan. There are many things causing the learning goal was not achieved. One of them is the teaching plot that is not coherence with the implementation in the classroom. As what happen in the Japanese subject in SMA N 14 Semarang. According to the researcher’s observation which is conducted during PPL there are 3 of 38 students that were able to confirm or able to use the sentence pattern that was taught. In the introductory study, the teaching plot written in lesson plan was coherence with the teaching goal. Based on the problems above the researcher conducted a study in the coherence between the teaching plot written in the lesson plan and in the implementation in a classroom. This study was aimed to know the coherence between the teaching plot written in the lesson plan and in the implemetation in the classroom for Japanese subject in SMA N 14 Semarang. This study was a descriptive qualitative study. The technique of data collection was using documentation and observation. The observation was conducted by observing and equipped with the observation sheet in a form of checklist. The observation was done in three meetings in class XI IS 2. However, in the implementation it can be seen from the analysis result of this study about the coherence of the teaching plot consisted of three categories which is coherence, coherence with the note, and incoherence. The coheerence step is step which explained the learning goal, basic training, closing. The activity which is coherence with the note step is the greeting, drill, conclusion. The activity which is incoherence is the activity in the step of giving motivation, games, training application, and reflecting of the activity.
PERBANDINGAN PELAKSANAAN PENGAJARAN BAHASA JEPANG KELAS XI SMA N 1 SUKOHARJO Renita Candra Dewi; Rina Supriatnaningsih; Yuyun Rosliyah
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8439

Abstract

Sekolah Menengah Atas di JawaTengah yang mengajarkan bahasa Jepang disetiap programnya adalah SMA N 1Sukoharjo, di sekolah tersebut bahasa Jepang diajarkan diprogram IlmuPengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Bahasa. OlehkarenabahasaJepangdiajarkandiseluruhprogramnya,sehingga memerlukan lebih dari satu pengajar. SMA N 1 Sukoharjo mempunyai duapengajar bahasa Jepang. Mengajar bahasa Jepang di kelas berbeda dan diajarkanoleh pengajar yang berbeda tentunya memiliki perbedaan kalau tidak menggunakanteori alur pengajaran bahasa Jepang.Berdasarkan angket pada studi pendahuluanyang diberikan kepada kedua pengajar,  terdapatperbedaan dalam melaksanakan alur pengajaran anatar guru tersebut. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mendeskripsikan persamaan dan perbedaan pelaksanaanpengajaran guru bahasa jepang di SMA N 1 Sukoharjo. Pendekatan penelitian yangdigunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan deskriptif kualitatif. Deskriptrifkualitatif digunakan untuk mendeskripsikan hasil data dari lembar observasi mengenaipersamaan dan perbedaan perlaksanaan pengajaran bahasa Jepang di SMA N 1Sukoharjo yang dilakukan dua pengajar. Teknik pengumpulan data menggunakan teknikobservasi dan dokumentasi.Persamaan pelaksanaan pengajaranantara guru A dan guru B adalah pada bagian pengantar adalah, keduanya memulaidengan salam, mempresensi siswa, mengulang materi, dan guru A dan B tidakmenyampaikan tujuan pembelajaran. Pada latihan dasar pengenalan kosakata keduanya melakukan latihan pengulangan, tidak melakukan latihan pengubahan bentukdanlatihan tanya jawab. Padalatihan pengenalan pola kalimat, keduanya melakukan latihan pengulangan dan latihantanya jawab, kadang melakukan latihan mengembangkan kalimat,tetapitidak melakukan latihan penggantian. Pada tahap akhir keduanyamemberikan simpulan tentang pembelajaran.Perbedaan antara guru A dan guru Badalah pada penggunaan media, guru A menggunakan media hampir disetiap tahappengajaran, guru B tidak menggunakan media. Guru A melakukan latihanpenerapan/kegiatan,tetapi guru B tidak melakukan latihan penerapan/kegiatan.Senior HighSchool in Central Java that teach Japanese in every program is SMA N 1Sukoharjo, in this school Japanese is taught in Science, Social Science, andLanguage program. Because of Japanese is taught in every program, so more thanone teacher is needed. SMA N 1 Sukoharjo has two Japanese teachers. TeachingJapanese in a classroom is different and that there will always a difference ifit is taught by different teacher if it does not using Japanese teaching plottheory. Based on thequestionnaire in the introductory study that is given to the two teachers,there is a difference in the implementation of the teaching plot between theteachers. The purpose of this study is to describe the similarity and thedifference of the teaching implementation of Japanese teachers in SMA N 1Sukoharjo. The approach of the study used in this study was a descriptivequalitative method. Descriptive qualitative was used to describe the result ofthe observation sheet about the similarity and the difference of the Japaneseteaching implementation in SMA N 1 Sukoharjo that was conducted by the twoteachers. The data collection technique was using observation and documentationtechnique.            The similarity of the teachingimplementation both teacher A and teacher B was that in the introduction, theybegin with greeting, checking the attendance, reviewing the material, and bothteacher A and B did not convey the lesson goal. In the basic training of vocabularyintroduction both of them did a repetition practice, did not conducting a formchanging and question and answer practice. In the introduction of sentencepattern, they did a repetition and question and answer practice, sometimesconducting a sentence developing practice, but did not conduct a substitutingpractice. In the final step both of them gave a conclusion about the lesson.The difference between teacher A and B was in the media using, teacher A usedmedia in almost all teaching steps, teacher B did not use media. Teacher Aconducted an application/activity practice, but teacher B did not.
ANALISIS KESULITAN MAHASISWA PBJ UNNES DALAM MENGERJAKAN SOAL CHOUKAI N3 Wulan Nusanita Primawida; Setiani Wardhaningtyas; Silvia Nurhayati
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8440

Abstract

UniversitasNegeri Semarang memiliki program studi Pendidikan Bahasa Jepang dan menyediakanmata kuliah menyimak, salah satunya yaitu choukai.Salah satu target yang diharapkan dapat dicapai dari mata kuliah ini adalahdapat lulus ujian kemampuan bahasa Jepang (NihongoNouryokushiken). Untuk dapat mencapai kelulusan pada Nihongo Nouryokushiken tersebut, materi yang  disampaikan di kelas disediakan berjenjangsesuai dengan tingkatan mahasiswa. Untuk angkatan 2012 yaitu mahasiswa semester6, latihan soal yang diberikan di kelas setara dengan soal-soal dalam NihongoNouryokushiken N3 maupun N2.Karenapenelitian ini menitikberatkan kesulitan NihongoNouryokushiken pada choukai, makasebelumnya peneliti melakukan 3 studi pendahuluan untuk menguatkan penelitianperlu dilakukan. Dari studi pendahuluan yang peneliti lakukan, sebagian besarresponden yaitu 58 mahasiswa PBJ UNNES angkatan 2012 yang mengikuti N3 diJogjakarta pada tanggal 7 Desember 2014 merasa kesulitan pada materi dokkai. Meskipun begitu setelah dilihatdari hasil tes keseluruhan responden diketahui hampir setengahnya memperolehskor choukai dibawah 30. Dan dari latihan soal choukai N3 diketahui masih adaresponden yang skornya dibawah 50%. Hal ini dapat dijadikan indikasi bahwamahasiswa masih mengalami kesulitan ketika mengerjakan soal choukai N3.Pendekatanyang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Dalampenelitian ini sampel yang diteliti adalah mahasiswa PBJ UNNES angkatan 2012yang mengikuti N3 di Jogjakarta pada tanggal 7 Desember 2014. Teknikpengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. Teknik analisis datadalam penelitian ini menggunakan deskriptif persentase.Berdasarkanpembahasan dan interpretasi data diketahui faktor-faktor yang mempengaruhikegiatan menyimak yang pertama yaitu faktor psikologis, pengalaman, motivasi,lingkungan fisik. Sedangkan kesulitan mahasiswa PBJ UNNES angkatan 2012 dalammengerjakan choukai N3 dari kelima jenis soal choukai Nihongo Nouryokushiken, kesulitan yang paling banyakdialami responden adalah jenis soal kadairikai(課題理解), dan gaiyou rikai(概要理解).
EFEKTIFITAS MODELPEMBELAJARAN TIME TOKEN ARENDS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA JEPANG TINGKAT DASAR SISWA SMAN 1 TENGARAN Disti Ayu Mahardianti; Silvia Nurhayati; Chevy Kususmah Wardhana
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8461

Abstract

Guru dansiswa merupakan faktor penting dalam suatu kegiatan pembelajaran untuk mencapaitujuan pembelajaran. Selain itu, model pembelajaran juga mempunyai perananpenting dalam kegiatan belajar dan mengajar, karena penggunaan modelpembelajaran yang tepat dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.  Dalam pembelajaran bahasa asing khususnyabahasa Jepang berbicara merupakan tujuan utama yang harus bisa dicapai olehpembelajar, namun kemampuan berbicara siswa di SMA N 1 Tengaran masih kurangketika kegiatan berbicara berlangsung. Untuk meningkatkan kemampuan berbicarabahasa Jepang diantaranya menggunakan model pembelajaran Time Token Arends.Oleh karena itu, peneliti memilih model pembelajaran Time Token Arends untukmeningkatkan kemampuan berbicara bahasa karena model pembelajaran tersebut dapat melibatkan seluruh siswa yangaktif maupun pasif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas TimeToken Arends untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Jepang. Penelitianini merupakan penelitian eksperimen yaitu menguji efektifitas modelpembelajaran Time Token Arends pada kemampuan berbicara siswa menggunakanbahasa Jepang. Pengambilan sampel dalam populasi menggunakan teknik purposif.Metode tes digunakan dengan memberikan tes sebelum memberikan perlakuan ataupre test dan sesudah pemberian perlakuan atau post-tes. Tes tersebut digunakanuntuk memperoleh data nilai siswa. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakanrumus T-tes diperoleh                         adalah 3,27 > dari l 2,12 untuk signifikansi 5% maka dapat disimpulkan bahwapembelajaran bahasa Jepang menggunakan model pembelajaranTime TokenArendsefektifuntuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Jepang.
ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN FUTSUKEI DALAM KLAUSA PENJELAS MEISHI SHUUSHOKU PADA SAKUBUN MAHASISWA SEMESTER IV PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNNES Septyani Tri Wahyuni; Silvia Nurhayati; Ai Sumirah Setiawati
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8463

Abstract

Kesalahan yang terjadi dalam sakubun dapat disebabkan oleh adanyaperbedaan antara bahasa ibu pembelajar dan bahasa Jepang sehingga menyebabkankurang memadainya kemampuan tata bahasa, penguasaan kosa kata dan sebagainya.Perbedaan tersebut salah satunya adalah kata kerja, kata sifat, dan kata kerjabantu dalam bahasa Jepang yang dapat mengalami perubahan bentuk. Dari hasilstudi pendahuluan, mahasiswa mengalami kesulitan dalam menggunakan bentuk futsukei. Bentuk futsukei memiliki beberapa fungsi. Berdasarkan hasil pengamatan,kesalahan yang sering muncul adalah penggunaan futsukei pada klausa penjelas meishishuushoku. Oleh karena itu, perlu penelitian tentang kesalahan penggunaan futsukei pada klausa penjelas meishi shuushoku agar kesalahan tersebutnantinya tidak terjadi lagi.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatankualitatif. Penelitian ini menggambarkan secara rinci mengenai kesalahan yangterjadi dan penyebab terjadinya kesalahan. Data yang digunakan adalah kesalahanpenggunaan futsukei pada klausapenjelas meishi shuushoku di sakubun. Sumber data pada penelitian iniadalah 48 buah karangan atau sakubun mahasiswa UNNES semester IV dengantema “anke-to” (angket). Teknik pengumpulan data yangdigunakan pada penelitian ini adalah teknik simak dan teknik catat. Tekniksimak digunakan karena data penelitian ini adalah data tertulis berupa karanganatau sakubun. Penyimakan dilakukandengan membaca sakubun mahasiswa yangmerupakan sumber data pada penelitian ini. Adapun teknik catat digunakan  untuk mencatat potongan kalimat yangmengalami kesalahan.Berdasarkan hasilanalisis data, didapatkan kesalahan penggunaan futsukei bentuk lampau pada klausa penjelas meishi shuushoku sebanyak 66 kalimat dan  kesalahan penggunaan futsukei bentuk nonlampau pada klausa penjelas meishi shuushoku sebanyak 14 kalimat. Kesalahan terjadi dikarenakanmahasiswa kurang memahami konsep penggunaan kala baik pada tingkat kalimatmaupun pada klausa penjelas meishishuushoku (penggunaan kala pada tingkat klausa). Selain itu, mahasiswa tidakpaham apa yang dijelaskan grafik dan kurang memahami tentang struktur meishi shuushoku serta kurang hati-hati dalammenggunakan kata keterangan amaripada klausa penjelas meishi shuushokudan modalitas yang menyatakan keinginan pada orang ketiga.Errorsthat occur in sakubun can be caused by the differences between languagelearners and a Japanese mother, causing the insufficient ability of grammar,vocabulary mastery etc. The oneof the difference is verb, adjective, andverb in Japanese aids that can change shape. From the results of preliminarystudies, the students have difficulty in using futsukeiform (casual or called basic form in Japanese Grammar).  Futsukei form hasseveral functions. Based on observations, errors that often arises is the using futsukei on meishishuushoku explanatory clause. Therefore, theneed to research on the use futsukeierror on meishishuushoku explanatory clause that suchmistakes will not happen again.Thisresearch use a descriptive study witha qualitative approach. This study describes  details of  the errors that occurred and the cause of theerror. The used data are the errorsof  futsukeion meishi shuushoku explanatory clausesin sakubun. Source of data in this study were 48 pieces of student essays orsakubun UNNES with theme "anke-to"(questionnaire). Thestudents are second grade of UNNES Japanese Education Program. Data collectiontechniques in this research is the monitoring technique and writing notetechnique. Monitoring technique used for this research data because the datawritten in the form of essay or sakubun.Monitoring done by reading student’s sakubun, who is the source of the data in this research. As noted technique used torecord an error fragment.Basedon the analysis of data, there are 66 sentensces error in using past tense futsukei on meishi shuushoku explanatory clauses and there are 14 sentences error in usingnon-past form futsukei on meishi shuushoku explanatory clauses. The error occurs because the students do not understandthe concept of using tense in Japanase, especially tenses in meishi shuushoku’s clause (clause leveltenses). In addition, students can not looking the describing graph clearly andless-understanding of the structure of meishishuushoku, less-cautious in using adverbs ‘amari’ on meishi shuushokuclause and modalities expressed a desire in the third person (there aredeffirences both of Indonesian and Japanese to express that expression).
Comparative Analysis of Japanese Language Teaching in Senior High School in Semarang That Use the Curriculum KTSP and Curriculum 2013 Tika Ayu Kusumawardani
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 5 No 1 (2017): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v5i1.10170

Abstract

Senior High school and vocational high school in Central Java, which many school have a Japanese language, have a distinction of the course curriculum held. It happened due to the Indonesian education curriculum often changes. And at this moment, there are two valid curriculum in Indonesia, namely the Curriculum KTSP and Curriculum 2013.Curriculum 2013 enacted to replace the existing curriculum KTSP. However, because there are still problems in the readiness of the book, the assessment system, upgrading of teachers, assistant teachers and training of school principals who are not evenly distributed, Curriculum 2013 eventually dismissed. But for schools that became the main school in there town, who have applied in curriculum 2013 still applied that. The schools are used as school curriculum development and pilot implementation in curriculum 2013. Based on preliminary studies through observation that the author did in July 2015 in ten high school in Central Java,  the authors chose SMA Negeri 16 Semarang (Curriculum KTSP) and SMA 1 Semarang (Curriculum 2013) as the sample for this research. The purpose of this research was to determine differences in teaching Japanese language to implement Curriculum KTSP and Curriculum 2013. In this study, the research approach used is qualitative descriptive approach, because in this study the authors will describe data from observations and interviews. Equation Curriculum KTSP and Curriculum 2013 is at the initial stage, they begin learning with a greeting, checking student attendance, fukushuu or repeat material that has past, aperspsi and deliver the learning objectives. At the end of the lesson both shut learning by doing review and conclude learning. Differences between the KTSP Curriculum and Curriculum 2013 is on core activities. Curriculum KTSP uses three stages of exploration, elaboration and confirmation. While on Curriculum 2013 using five stages: to observe, ask, try, associate / reasoning and communicating or commonly known as 5M in Indonesian teacher due.
TANGGAPAN MAHASISWA TERHADAP KEGIATAN SHADOWING DALAM MATA KULIAH CHOUDOKKAI Ika Hervina Widyaningtyas
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 5 No 1 (2017): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v5i1.10411

Abstract

The shadowing method is a method of repetition by listening to audio recordings. The shadowing method is a new method for Japanese Language Education Learning Program UNNES. The method was applied in 2011 mainly on learning Choukai. For students shadowing is unfamiliar methods used in learning, so that need for student responses about the shadowing activities. The problem in this research is how the responses of students to shadowing activities in the course Choudokkai. The purpose of this study was to determine the response of students about shadowing. The study was conducted by using the quantitative descriptive method by respondents as many as 25 students. The data collection technique using a combination of an open and closed questionnaire. Data were analyzed using frequency percentage formula. Based on the analysis that has been done, it can be concluded that as many as 64,8 % of the students understand the shadowing and shadowing activities can help students to learn Japanese on course Choudokkai.
ANALISIS PENGGUNAAN IIKAE ATAU PARAFRASE DALAM PERCAKAPAN BAHASA JEPANG Rio Rizki Romando
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 5 No 1 (2017): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v5i1.10473

Abstract

This research is aiming to find out the types, how to convey, and paraphrase’s purposes or in Japanese is iikae. Paraphrase  in Japanese communication is the fundamental aspect for the Japanese language learners. However, in the communication, there are still many problems, for example, vocabulary knowledge limit and grammar knowledge. Although, there are still many problems, it could be overcome with paraphrase or iikae in Japanese. The data source of this research is TV Show Ameejipangu which is broadcasted on TBS channel or can be downloaded on YouTube. Data were collected by watch and note method on the sentences which consist of iikae or paraphrase from foreigner to Japanese. The results of this research are four types iikae or paraphrases. There are definitive paraphrase, suironteki iikae (parphrase based on conclusion), synonym paraphrase, and explicative paraphrase. Thence, how to convey iikae with gairaigo (foreign origin words), gesture, and periphrase. Finally, iikae’s purposes are to give a general image to listener, giving prominent, to make the sentence shorter, etc.

Filter by Year

2012 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 11 No 2 (2023): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 11 No 1 (2023): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 10 No 2 (2022): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 10 No 1 (2022): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 9 No 2 (2021): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching) Vol 9 No 1 (2021): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching) Vol 8 No 2 (2020): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching) Vol 8 No 1 (2020): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching) Vol 7 No 2 (2019): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching) Vol 7 No 1 (2019): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 7 No 1 (2019): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching) Vol 6 No 2 (2018): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 6 No 2 (2018): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching) Vol 6 No 2 (2018): CHI'E: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 6 No 1 (2018): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching) Vol 6 No 1 (2018): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 5 No 2 (2017): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching) Vol 5 No 2 (2017): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 5 No 1 (2017): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching) Vol 5 No 1 (2017): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015) Vol 4 No 1 (2015) Vol 3 No 1 (2014) Vol 3 No 1 (2014) Vol 2 No 1 (2013) Vol 2 No 1 (2013) Vol 1 No 1 (2012) Vol 1 No 1 (2012) More Issue