Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

ANALISIS GAYA BAHASA WACANA DI ASAHI.COM Nurhayati, Silvia
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan gaya bahasa wacana dalam surat kabar online asahi.com. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk menganalisis data kalimat dan kata berbentuk tulisan dari asahi shinbun online. Penelitian ini menemukan bahwa bahasa yang digunakan oleh surat kabar online asahi.com lebih mengutamakan efesiensi penulisan yang tertuang dalam penggunaan gaya bahasa elipsis. Pelesapan terjadi pada unsur partikel no、unsur kata kerjasuru、dan kopula da. Meskipun terjadi pelesapan, hal itu tidak mempengaruhi atau mengaburkan makna informasi dan opini yang disampaikan kepada pembaca. Selain itu munculnya gaya bahasa eufemisme lewat media huruf katakana dan kata yang mengandung arti idiom, untuk melukiskan opini atau informasi yang dianggap kurang baik. Meskipun demikian tidak ada standar yang jelas mengenai penggunaan kedua gaya bahasa ini sehingga berakibat pada penggunaan bahasa Jepang yang midare (tidak teratur). This research aimed to find out the use of figurative language of discourse on the online newspaper asahi.com. It used qualitative method for analysing data. The data were sentences and words in a form of writings from asahi shinbun online. The result of the research was the language used by the online newspaper, asahi.com, prioritize more on writing efficiency filled on elliptical style. A vanishing language occured on no、particle, suru、verb element, and da copula. However, it did not influence and blur out significances of information and opinion uttered to the reader. Besides that, euphemism appeared through media of katakana letters and idiomatic words in order to illustrate less good opinion and information. As a result, there was no clear standard about the use of those two figures of speech, and it caused the use of midare (irregular) Japanese language. 
ANALISIS PENGGUNAAN AIZUCHI MAHASISWA BAHASA JEPANG DALAM KOMUNIKASI BERBAHASA JEPANG rahayu, meta gesti; Supriatnaningsih, Rina; nurhayati, silvia
Chie: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aizuchi merupakan suatu isyarat balik secara verbal maupun non verbal dalam bahasa Jepang yang seringkali diucapkan dan dilakukan oleh lawan bicara dalam komunikasi berbahasa Jepang. Kemunculan aizuchi juga seringkali digunakan sebagai indikator bahwa seseorang sedang mendengarkan pembicara dengan baik, terutama respon verbal, misalnya respon berupa ucapan “ はい“ atau “hai” yang berarti “ya”. Sementara, orang Indonesia memiliki cara respon berbeda dalam berkomunikasi. Pada penelitian ini, peneliti meneliti tentang penggunaan aizuchi dan kesalahan-kesalahan penggunaannya. Penelitian ini menggunakan teknik deskriptif kualitatif untuk mengetahui penggunaan aizuchi dan kesalahan-kesalahan penggunaannya. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah video rekaman pemaparan mata kuliah interview dalam rangkaian kegiatan Teacher Training di Japanese Language Institute, Japan Foundation, Kansai, Osaka, pada 2014. Penelitian ini menggunakan teknik rekam, simak dan catat untuk pengumpulan data dan teknik unsur pilah penenetu untuk analisis dan pengolahan data. Hasil analisis data menunjukkan bahwa dari 100% aizuchi yang dilakukan, 21% diantaranya adalah aizuchi verbal dan 79% sisanya adalah aizuchi non verbal, dan dalam 100% aizuchi verbal yang diucapkan, 11% diantaranya merupakan penggunaan aizuchi verbal yang salah. Aizuchi is verbal or non verbal backchannel in Japanese that is said very often by the partner of the speaker in a conversation in Japanese. The existence of aizuchi also being the indicator if thr listener is listening attentively and understand so far, especially verbal response like “ はい“ or “hai” which represent the meaning of “yes”. However, Indonesian has the different way to response the speaker in communication. In this research, the researcher analyze about the usage of aizuchi and the mistakes of it. This research using cualitative descriptive technique to know about the usage of aizuchi ang the mistakes of it. The source of data that are used in this research is some recorded videos of Presentation activity in Interview class of Teacher Training Programme that is held in Japanese Language Institute, Japan Foundation, Kansai, Osaka, in 2014. This research using record, watch and notes technique to collect the datas and determinant element selection technique to analyze the datas. The result of the analysis shows that in 100% of aizuchi done by Japanese students, 21% of it was verbal aizuchi, and the 79% is non verbal aizuchi, and in 100% of verbal aizuchi, 11% of it was mistaken aizuchi.
ANALISIS GAYA BAHASA WACANA DI ASAHI.COM Nurhayati, Silvia
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan gaya bahasa wacana dalam surat kabar online asahi.com. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk menganalisis data kalimat dan kata berbentuk tulisan dari asahi shinbun online. Penelitian ini menemukan bahwa bahasa yang digunakan oleh surat kabar online asahi.com lebih mengutamakan efesiensi penulisan yang tertuang dalam penggunaan gaya bahasa elipsis. Pelesapan terjadi pada unsur partikel no、unsur kata kerjasuru、dan kopula da. Meskipun terjadi pelesapan, hal itu tidak mempengaruhi atau mengaburkan makna informasi dan opini yang disampaikan kepada pembaca. Selain itu munculnya gaya bahasa eufemisme lewat media huruf katakana dan kata yang mengandung arti idiom, untuk melukiskan opini atau informasi yang dianggap kurang baik. Meskipun demikian tidak ada standar yang jelas mengenai penggunaan kedua gaya bahasa ini sehingga berakibat pada penggunaan bahasa Jepang yang midare (tidak teratur). This research aimed to find out the use of figurative language of discourse on the online newspaper asahi.com. It used qualitative method for analysing data. The data were sentences and words in a form of writings from asahi shinbun online. The result of the research was the language used by the online newspaper, asahi.com, prioritize more on writing efficiency filled on elliptical style. A vanishing language occured on no、particle, suru、verb element, and da copula. However, it did not influence and blur out significances of information and opinion uttered to the reader. Besides that, euphemism appeared through media of katakana letters and idiomatic words in order to illustrate less good opinion and information. As a result, there was no clear standard about the use of those two figures of speech, and it caused the use of midare (irregular) Japanese language. 
ANALISIS KESULITAN MAHASISWA PBJ UNNES DALAM MENGERJAKAN SOAL CHOUKAI N3 Primawida, Wulan Nusanita; Wardhaningtyas, Setiani; Nurhayati, Silvia
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8440

Abstract

UniversitasNegeri Semarang memiliki program studi Pendidikan Bahasa Jepang dan menyediakanmata kuliah menyimak, salah satunya yaitu choukai.Salah satu target yang diharapkan dapat dicapai dari mata kuliah ini adalahdapat lulus ujian kemampuan bahasa Jepang (NihongoNouryokushiken). Untuk dapat mencapai kelulusan pada Nihongo Nouryokushiken tersebut, materi yang  disampaikan di kelas disediakan berjenjangsesuai dengan tingkatan mahasiswa. Untuk angkatan 2012 yaitu mahasiswa semester6, latihan soal yang diberikan di kelas setara dengan soal-soal dalam NihongoNouryokushiken N3 maupun N2.Karenapenelitian ini menitikberatkan kesulitan NihongoNouryokushiken pada choukai, makasebelumnya peneliti melakukan 3 studi pendahuluan untuk menguatkan penelitianperlu dilakukan. Dari studi pendahuluan yang peneliti lakukan, sebagian besarresponden yaitu 58 mahasiswa PBJ UNNES angkatan 2012 yang mengikuti N3 diJogjakarta pada tanggal 7 Desember 2014 merasa kesulitan pada materi dokkai. Meskipun begitu setelah dilihatdari hasil tes keseluruhan responden diketahui hampir setengahnya memperolehskor choukai dibawah 30. Dan dari latihan soal choukai N3 diketahui masih adaresponden yang skornya dibawah 50%. Hal ini dapat dijadikan indikasi bahwamahasiswa masih mengalami kesulitan ketika mengerjakan soal choukai N3.Pendekatanyang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Dalampenelitian ini sampel yang diteliti adalah mahasiswa PBJ UNNES angkatan 2012yang mengikuti N3 di Jogjakarta pada tanggal 7 Desember 2014. Teknikpengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. Teknik analisis datadalam penelitian ini menggunakan deskriptif persentase.Berdasarkanpembahasan dan interpretasi data diketahui faktor-faktor yang mempengaruhikegiatan menyimak yang pertama yaitu faktor psikologis, pengalaman, motivasi,lingkungan fisik. Sedangkan kesulitan mahasiswa PBJ UNNES angkatan 2012 dalammengerjakan choukai N3 dari kelima jenis soal choukai Nihongo Nouryokushiken, kesulitan yang paling banyakdialami responden adalah jenis soal kadairikai(課題理解), dan gaiyou rikai(概要理解).
EFEKTIFITAS MODELPEMBELAJARAN TIME TOKEN ARENDS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA JEPANG TINGKAT DASAR SISWA SMAN 1 TENGARAN Mahardianti, Disti Ayu; Nurhayati, Silvia; Wardhana, Chevy Kususmah
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8461

Abstract

Guru dansiswa merupakan faktor penting dalam suatu kegiatan pembelajaran untuk mencapaitujuan pembelajaran. Selain itu, model pembelajaran juga mempunyai perananpenting dalam kegiatan belajar dan mengajar, karena penggunaan modelpembelajaran yang tepat dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.  Dalam pembelajaran bahasa asing khususnyabahasa Jepang berbicara merupakan tujuan utama yang harus bisa dicapai olehpembelajar, namun kemampuan berbicara siswa di SMA N 1 Tengaran masih kurangketika kegiatan berbicara berlangsung. Untuk meningkatkan kemampuan berbicarabahasa Jepang diantaranya menggunakan model pembelajaran Time Token Arends.Oleh karena itu, peneliti memilih model pembelajaran Time Token Arends untukmeningkatkan kemampuan berbicara bahasa karena model pembelajaran tersebut dapat melibatkan seluruh siswa yangaktif maupun pasif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas TimeToken Arends untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Jepang. Penelitianini merupakan penelitian eksperimen yaitu menguji efektifitas modelpembelajaran Time Token Arends pada kemampuan berbicara siswa menggunakanbahasa Jepang. Pengambilan sampel dalam populasi menggunakan teknik purposif.Metode tes digunakan dengan memberikan tes sebelum memberikan perlakuan ataupre test dan sesudah pemberian perlakuan atau post-tes. Tes tersebut digunakanuntuk memperoleh data nilai siswa. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakanrumus T-tes diperoleh                         adalah 3,27 > dari l 2,12 untuk signifikansi 5% maka dapat disimpulkan bahwapembelajaran bahasa Jepang menggunakan model pembelajaranTime TokenArendsefektifuntuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Jepang.
ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN FUTSUKEI DALAM KLAUSA PENJELAS MEISHI SHUUSHOKU PADA SAKUBUN MAHASISWA SEMESTER IV PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNNES Wahyuni, Septyani Tri; Nurhayati, Silvia; Setiawati, Ai Sumirah
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 4 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v4i1.8463

Abstract

Kesalahan yang terjadi dalam sakubun dapat disebabkan oleh adanyaperbedaan antara bahasa ibu pembelajar dan bahasa Jepang sehingga menyebabkankurang memadainya kemampuan tata bahasa, penguasaan kosa kata dan sebagainya.Perbedaan tersebut salah satunya adalah kata kerja, kata sifat, dan kata kerjabantu dalam bahasa Jepang yang dapat mengalami perubahan bentuk. Dari hasilstudi pendahuluan, mahasiswa mengalami kesulitan dalam menggunakan bentuk futsukei. Bentuk futsukei memiliki beberapa fungsi. Berdasarkan hasil pengamatan,kesalahan yang sering muncul adalah penggunaan futsukei pada klausa penjelas meishishuushoku. Oleh karena itu, perlu penelitian tentang kesalahan penggunaan futsukei pada klausa penjelas meishi shuushoku agar kesalahan tersebutnantinya tidak terjadi lagi.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatankualitatif. Penelitian ini menggambarkan secara rinci mengenai kesalahan yangterjadi dan penyebab terjadinya kesalahan. Data yang digunakan adalah kesalahanpenggunaan futsukei pada klausapenjelas meishi shuushoku di sakubun. Sumber data pada penelitian iniadalah 48 buah karangan atau sakubun mahasiswa UNNES semester IV dengantema “anke-to” (angket). Teknik pengumpulan data yangdigunakan pada penelitian ini adalah teknik simak dan teknik catat. Tekniksimak digunakan karena data penelitian ini adalah data tertulis berupa karanganatau sakubun. Penyimakan dilakukandengan membaca sakubun mahasiswa yangmerupakan sumber data pada penelitian ini. Adapun teknik catat digunakan  untuk mencatat potongan kalimat yangmengalami kesalahan.Berdasarkan hasilanalisis data, didapatkan kesalahan penggunaan futsukei bentuk lampau pada klausa penjelas meishi shuushoku sebanyak 66 kalimat dan  kesalahan penggunaan futsukei bentuk nonlampau pada klausa penjelas meishi shuushoku sebanyak 14 kalimat. Kesalahan terjadi dikarenakanmahasiswa kurang memahami konsep penggunaan kala baik pada tingkat kalimatmaupun pada klausa penjelas meishishuushoku (penggunaan kala pada tingkat klausa). Selain itu, mahasiswa tidakpaham apa yang dijelaskan grafik dan kurang memahami tentang struktur meishi shuushoku serta kurang hati-hati dalammenggunakan kata keterangan amaripada klausa penjelas meishi shuushokudan modalitas yang menyatakan keinginan pada orang ketiga.Errorsthat occur in sakubun can be caused by the differences between languagelearners and a Japanese mother, causing the insufficient ability of grammar,vocabulary mastery etc. The oneof the difference is verb, adjective, andverb in Japanese aids that can change shape. From the results of preliminarystudies, the students have difficulty in using futsukeiform (casual or called basic form in Japanese Grammar).  Futsukei form hasseveral functions. Based on observations, errors that often arises is the using futsukei on meishishuushoku explanatory clause. Therefore, theneed to research on the use futsukeierror on meishishuushoku explanatory clause that suchmistakes will not happen again.Thisresearch use a descriptive study witha qualitative approach. This study describes  details of  the errors that occurred and the cause of theerror. The used data are the errorsof  futsukeion meishi shuushoku explanatory clausesin sakubun. Source of data in this study were 48 pieces of student essays orsakubun UNNES with theme "anke-to"(questionnaire). Thestudents are second grade of UNNES Japanese Education Program. Data collectiontechniques in this research is the monitoring technique and writing notetechnique. Monitoring technique used for this research data because the datawritten in the form of essay or sakubun.Monitoring done by reading student’s sakubun, who is the source of the data in this research. As noted technique used torecord an error fragment.Basedon the analysis of data, there are 66 sentensces error in using past tense futsukei on meishi shuushoku explanatory clauses and there are 14 sentences error in usingnon-past form futsukei on meishi shuushoku explanatory clauses. The error occurs because the students do not understandthe concept of using tense in Japanase, especially tenses in meishi shuushoku’s clause (clause leveltenses). In addition, students can not looking the describing graph clearly andless-understanding of the structure of meishishuushoku, less-cautious in using adverbs ‘amari’ on meishi shuushokuclause and modalities expressed a desire in the third person (there aredeffirences both of Indonesian and Japanese to express that expression).
Dea; ANALISIS KARAKTERISTIK WAKAMONO KOTOBA DALAM ANIME HAIKYUU!! KARYA HARUICHI FURUDATE Farauzhulli, Dea; Supriatnaningsih, Rina; Nurhayati, Silvia
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 5 No 2 (2017): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v5i2.19497

Abstract

Abstract Wakomono kotoba is a language which was born from breaking Japanese grammatical standard rules. This type of language is used by young people in Japan in daily conversation. The usage is not limited in the‘real world’ but also in artwork, like anime. Anime which was used in this research as a source is anime Haikyuu!!. This anime is chosen because the characters are high school students who are using wakamono kotoba in daily conversation. This research aimed to find meaning, word derivation, and the characteristicsof wakamono kotoba found in the anime. This research used descriptive qualitative method, describing meaning, word derivation, and wakamono kotoba characteristics. The data source was anime Haikyuu!! Season 1 which has 25 episodes. The type of data in this research werewords or sentences belonged to wakamono kotoba. The data technique was content analysis technique. The technique of data analysis in this research was to find meaning and word derivation, and then classify it based on deviations either in Japanese word class or in new expressions form. Afterwards, analyzing each characteristics of those wakamono kotoba. Based on the research which has been conducted, it can be concluded that there were 57 wakamono kotoba in anime Haikyuu!! including 5 verbs, 14 adjectives, 10 nouns, 8 adverbs, 8 exclamation words, and 12 new expressions (phrase or bokashi kotoba). From all wakamono kotoba, there were wakamono kotoba which had the same or different meaning from the derived words. The characteristics of wakamono kotoba which were happened as seen from deviation ofword class or new form of expression were: a) syllable ~ru addition in verb; b) syllable ~sa addition in noun; c) syllable ~kusai addition in adjective; d) Japanese alphabets usage followed by initial word of absorbed word; e) New word is formed; f) sound changing; g) sentence or phrase shortening into new word; h) semantics changing and shifting; i) usage function changing and shifting; j) word formation reverse on followed byshortened word; k) loan word form usage even though there was Japanese standar language; l) loan word usage mixed with Japanese; m) usage of reading way from meaningful numbers; n) dialect usage; o) new expression (including phrase or bokashi kotoba).   ABSTRAK Wakomono kotoba adalah bahasa yang lahir dari penyimpangan aturan penggunaan bahasa baku pada bahasa Jepang. Ragam bahasa ini digunakan oleh anak-anak muda di Jepang dalam percakapan sehari-hari. Penggunaannya pun tidak terbatas pada dunia nyata tapi juga dituangkan dalam karya seni, contohnya anime. Pada penelitian ini anime yang dijadikan sumber penelitian yaitu animeHaikyuu!!. Anime ini dipilih karena karakter-karakter yang berperan di dalamnya adalah anak-anak SMA yang menggunakan wakamono kotoba dalam percakapan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna, kata asal, dan karakteristik wakamono kotoba yang ditemukan dalam anime tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu menjelaskan makna, kata asal, dan karakteristik wakamono kotoba. Sumber data yang digunakan adalah animeHaikyuu season 1 yang berdurasi 25 episode. Wujud data dalam penelitian ini yaitu kata maupun ungkapan yang termasuk wakamono kotoba. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik simak catat. Teknik analisis data pada penelitian ini adalah mencari makna dan kata asalnya, kemudian mengaklasifikasikannya berdasarkan penyimpangan-penyimpangan pada kelas kata bahasa Jepang maupun bentuk ungkapan baru. Selanjutnya menganalisis karakteristik masing-masing wakamono kotoba tersebut. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa wakamono kotoba dalam anime Haikyuu berjumlah 57 meliputi 5 kata kerja, 14 kata sifat, 10 kata benda, 8 kata keterangan, 8 kata seru, dan 12 ungkapan baru (frase baru maupun bokashi kotoba). Dari keselurahan wakamono kotoba yang ada, terdapat wakamono kotoba yang memiliki makna yang sama maupun makna yang berbeda dengan kata asalnya. Karakteristik wakamono kotoba yang terjadi dilihat dari penyimpangan pada kelas kata maupun bentuk ungkapan baru dalam bahasa Jepang adalah: a) penambahan silabel ~ru pada kata kerja; b) penambahan silabel ~sa pada kata benda; c) penambahan silabel ~kusai pada kata sifat; d) penggabungan huruf Jepang yang disertai inisial dari kata serapan; e) muncul kata baru; f) perubahan bunyi; g) penyingkatan kalimat maupun frase menjadi kata baru; h) perubahan dan pergeseran makna; i) perubahan dan pergeseran fungsi penggunaan; j) pembalikkan unsur-unsur kata yang disertai dengan peyingkatan kata; k) penggunaan bentuk kata serapan meski terdapat hyojungonya; l) penggunaan kata serapan yang digabungkan bahasa Jepang; m) penggunaan cara baca dari angka yang bermakna; n) penggunaan dialek; o) ungkapan baru (termasuk frase baru maupun bokashi kotoba).
Neny; ANALISIS VERBA DERU SEBAGAI POLISEMI DALAM NOVEL BOTCHAN Handayani, Neny; Nurhayati, Silvia; Prasetiani, Dyah
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 5 No 2 (2017): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v5i2.19498

Abstract

ABSTRAK Polisemi (多義語) adalah kata yang mempunyai makna lebih dari satu dan setiap makna tersebut satu sama lainnya memiliki keterkaitan yang dapat dideskripsikan. Bahasa Jepang mempunyai kata yang berpolisemi. Misalnya verba deru yang memiliki makna dasar keluar. Karena  verba deru ini merupakan verba polisemi maka verba deru tidak bermakna keluar saja, tetapi akan mengalami perluasan makna. Perluasan makna ini sering menimbulkan kesulitan bagi pembelajar bahasa Jepang dalam mengartikan dan memahami kalimat berverba polisemi. Hal tersebut akan menghambat proses pembelajaran bahasa Jepang. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan makna yang terdapat pada kalimat berverba deru berserta hubungan antar makna dasar dan makna perluasan verba deru. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pustaka dan teknik catat. Data yang dijadikan objek penelitian adalah kalimat berverba deru dalam novel Botchan. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pilah unsur penentu sebagai teknik dasar dan teknik hubung banding sebagai teknik lanjutan. Untuk menganalisis data, yang pertama dilakukan adalah menentukan objek yang akan diteliti dari sumber data. Setelah itu mencari dan mengumpulkan kalimat berverba deru serta menentukan makna dasar dan makna perluasannya. Terakhir, mendeskripsikan hubungan antar makna dasar dan perluasan yang dimiliki verba deru dengan majas yang mempengaruhi perluasan makna. Berdasarkan data yang diperoleh dari sumber data yang digunakan dapat disimpulkan bahwa terdapat kemunculan verba deru 22 kalimat. Makna dasar (keluar) terdapat 5 kalimat dan 9 makna perluasan verba deru. Makna perluasan verba deru yaitu bergabung muncul satu kali, berangkat satu kali, pergi 6 kali, muncul 2 kali, terjadi satu kali, timbul satu kali, tiba/sampai 3 kali, hadir satu kali, dan kambuh satu kali. Perluasan makna yang terjadi pada verba deru dipengaruhi oleh majas metafora.   ABSTRACT   Polysemic 「多義語」is a word that has more than one meaning and each of these meanings are relate to each other and can be described. In Japanese language there are many words that have more than one meaning. As example is verb deru (out), verb deru in another sense has been undergone and got extension meaning. Japanese language leaner usually found out that there was hard to interpret and understand about polysemic’s sentences. This situation hamper the process of Japanese language learning. This study was conducted to describe the meaning which include in verb deru and also the relation between the basic meaning and the expansion meaning of verb deru. in this research, bibliography method and note method was being used. The object of this research is sentences that in Botchan’s novel which has polysemic verbs. The analytical method that has been used in this research is a determining method which is used as a basic technique and as a equivalent relate technique. To analyze, the first thing to do is to decide the object which will be investigated from the data resource. Then, search and collect the sentences that has verb deru and decide the basic meaning, after that figure out the expansion meaning of verb deru. Finally, describe the relation between basic meaning and expansion meaning which has verb deru as a figure of speech that leverage the expansion meaning. Based from the data which has been got from data resource, the conclusion is resource come out 22 sentences. The basic meaning of deru is out 5 sentences, and as the expansion meaning has 9 meanings, there are join 1 sentence , go 1 sentence , leave 6 sentences, appear 2 sentences, happen 1 sentence, arise 1 sentence, arrive 3 sentences, attend 1 sentence, relapse 1 sentence. The expansion meaning is leveraged by metaphorical figure of speech.
ERROR ANALYSIS OF DOOSHI USAGE IN THE COLLAGE STUDENT’S ESSAY OF THE JAPANESE LANGUAGE EDUCATION STUDY PROGRAM UNNES IN THE SAKUBUN CHUKYU ZENHAN’S SUBJECT Cahya, Aditya Hendra; Nurhayati, Silvia; Rosliyah, Yuyun
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 6 No 1 (2018): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v6i1.22576

Abstract

Abstract ___________________________________________________________________ Based on interview to a lecture of SakubunChukyuZenhan’s subjectin preliminary studythat has been conducted, showed that errors are often experienced by collegers of Japanese Language Education Program UNNES in writing sakubun(essay). Based on the results of the preliminary study questionnaire to 20 students of the fourth semester who took the subject of Sakubun Chukyu Zenhan showed that 70% of students is having difficulty in using of verbs (dooshi) . Therefore, researcher want to analyze anyerror of the students in the usege of dooshi in Sakubun Chukyu Zenhan's subject. Data collection methods used in this research issentence fragment of the student's essay of the fourth semester of Japanese Language Education Program of State University of Semarang which is considered of less precise in the dooshi’s usage.Theamount of the data is 25 essay sthemed konbini no ankeeto of the second study group of Sakubun Chukyu Zenhan’s subjec. The approachment of this research is descriptive quantitative analysis. Following conclusions are obtained based on the results of the research. Based on the results of the research found that there are 83 errors in the usege of dooshi. The errors is consisting of 64 or 77% errors are in the verb changes (dooshi). Furthermore, there are 12 or 14% errors of diction selection on dooshi and the 7 or 8% of Error are in writing and selection of kanji dooshi.   Abstrak ___________________________________________________________________ Berdasarkan studi pendahuluan yang telah penulis laksanakan dengan melakukan wawancara tentang kepada pengampu mata kuliah Sakubun Chukyu Zenhan tentang kesalahan yang sering dialami oleh mahaiswa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang UNNES dalam menulis sakubun. Selain itu, menyebarkan angket kepada 20 mahasiswa semester IV yang mengambil mata kuliah Sakubun Chukyu Zenhan. Hasilnya, 70% mahasiswa mengalami kesulitan dalam penggunaan kata kerja (dooshi).Oleh karena itu, penulis meneliti kesalahan mahasiswa dalam penggunakan dooshi pada mata kuliah Sakubun Chukyu Zenhan. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini adalah penggalan kalimat pada karangan mahasiswa semester IV yang dianggap kurang tepat dalam menggunakan dooshi. Adapun sumber data yang digunakan adalah karangan mahasiswa semester IV Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Semarang. Karangan yang dijadikan sumber data berjumlah 25 karangan, diambil dari rombel 2 mata kuliah Sakubun Chukyu Zenhan dengan tema konbini no ankeeto. Hasil penelitian terdapat kesalahan dalam penggunaan dooshi sebanyak 83 kesalahan, yang terdiri atas 64 kesalahan dengan persentase 77% merupakan kesalahan pada perubahan kesalahan pada perubahan kata kerja (dooshi). Selain itu, terdapat kesalahan pemilihan diksi pada dooshi sejumlah 12 kesalahan dengan persentase 14%. Kesalahan dalam penulisan dan pemilihan kanji dooshi sejumlah 7 kesalahan dengan persentase 8%.
ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN KATA BANTU BILANGAN (JOSUUSHI) SISWA KELAS 11 SMK BAGIMU NEGERIKU SEMARANG TAHUN AJARAN 2016/2017 Putri, Emfina Arditiya; Nurhayati, Silvia; Prasetiani, Dyah
Chi'e: Journal of Japanese Learning and Teaching Vol 6 No 1 (2018): CHI'E Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang (Journal of Japanese Learning and Teaching
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/chie.v6i1.22578

Abstract

Kosakata bahasa Jepang berdasarkan asal-usulnya dapat dibagi menjadi tiga macam yakni wago, kango, dan gairaigo. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan mengenai goi dalam bahasa Jepang yaitu suushi (numerial) dan josuushi (kata bantu bilangan). Kata bantu bilangan atau josuushi (助数詞) biasanya digunakan untuk menyatakan barang, orang, kendaraan, waktu, dan lain-lain. Karena banyaknya kata bantu bilangan dalam bahasa Jepang mengakibatkan pembelajar melakukan kesalahan dalam penggunaan josuushi dengan tepat, khususnya siswa kelas 11 SMK Bagimu Negeriku Semarang tahun ajaran 2016/2017. Sehingga melalui penelitian ini penulis berharap dapat menjelaskan kesalahan penggunakan josuushi pada siswa kelas 11 dan faktor penyebab yang mempengaruhi kesalahan tersebut. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes kemudian peneliti menggunakan metode wawancara. Bentuk penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis tentang kesalahan siswa kelas 11 SMK Bagimu Negeriku dalam penulisan kata bantu bilangan untuk menit ~fun dengan prosentase 87.5% kesalahan terbanyak pada penulisan じゅっぷん juppun, kesalahan terbanyak dalam penggunaan konteks kyoudai dengan prosentase 70.8% , dan kesalahan dalam membedakan penggunaan kata bilangan tujuh pada kata bantu bilangan dengan rata- rata prosentase 41.8%. Faktor penyebab terjadinya kesalahan antara lain, pemahaman siswa mengenai bentuk perubahan bunyi kata bantu bilangan masih kurang, pemahaman siswa mengenai kata bantu bilangan dalam pemilihan kata bilangan masih kurang, dan penguasaan siswa dalam menulis huruf hiragana masih kurang khususnya pada huruf dengan bunyi rangkap soku on (っ) dan penggunaan huruf yang memiliki daku on dan handaku on (ぷ、じ、dst).