cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Developmental and Clinical Psychology
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Arjuna Subject : -
Articles 87 Documents
HUBUNGAN KOMUNIKASI THERAPEUTIC PERAWAT DENGAN MOTIVASI SEMBUH PADA PASIEN RAWAT INAP Rizky Hardhiyani
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v2i2.2577

Abstract

Penelitian ini di latarbelakangi oleh fenomena kurangnya motivasi sembuh pasien rawat inap di ruang melati RSUD Kalisari Batang. Penyebabnya antara lain kurang terjalinnya hubungan yang therapeutic antara perawat dan pasien sehingga menyebabkan pasien merasa kurang termotivasi untuk segera sembuh dari penyakitnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi therapeutic perawat dengan motivasi sembuh pada pasien rawat inap. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Subjek pada penelitian ini berjumlah 127 pasien. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi therapeutic dengan motivasi sembuh pasien rawat inap saling mempengaruhi dimana semakin tinggi komunikasi therapeutic perawat semakin tinggi pula motivasi sembuh pasien rawat inap begitu juga sebaliknya semakin rendah komunikasi therapeutic perawat maka semakin rendah pula motivasi sembuh pasien rawat inap.    This research's background is phenomenon lack of motivation heal the patient take care of to lodge in jasmine's room of RSUD Kalisari Batang. Its cause for example less intertwin of relation which therapeutic between nurse and patient, so that cause the patient feel to demotivate to immediately get over from their disease. This research aim to to know the relation between communications of therapeutic nurse with the motivation heal the patient take care of to lodge. This research represent the correlation quantitative research. Subjek at this research amount to 127 patient. Sampling technique used is accidental sampling. Result of research indicate that the communications therapeutic with the motivation heal the patient take care of to lodge is influencing each other. Excelsior of communications of therapeutic nurse, excelsior also motivate to heal the patient take care of to lodge. So also on the contrary, progressively lower the communications of therapeutic nurse, hence progressively lower also motivate to heal the patient take care of to lodge.
KEEFEKTIVAN KONSELING KELOMPOK PRA-PERSALINAN UNTUK MENURUNKAN TINGKAT KECEMASAN PRIMIGRAVIDA MENGHADAPI PERSALINAN Trias Novitasari
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v2i2.2578

Abstract

Kecemasan merupakan respon alami sebagai tanda bahaya akan suatu hal yang tidak menyenangkan  dan dapat terjadi pada siapa saja, tidak terkecuali terjadi pula pada calon ibu pada masa kehamilan hingga persalinan anak pertama. Namun, apabila kecemasan yang dialami oleh primigravida terjadi secara berkelanjutan dan semakin meningkat selama proses kehamilan tentu akan berimplikasi pada jiwa ibu dan bayi dalam kandungannya sehingga mempersulit proses persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektivan konseling kelompok pra-persalinan untuk mengurangi tingkat kecemasan primigravida menghadapi persalinan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen quasi. Pada sampel berjumlah 14 orang. Data penelitian diambil menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yang terdiri dari 14 pernyataan yang telah terstandar, dengan tingkat validitas sebesar 0, 93 dan reliabilitas sebesar 0,97. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  konseling kelompok pra-persalinan efektif untuk menurunkan kecemasan primigravida dalam menghadapi persalinan.    Anxiety is a natural response as a sign of danger would be an unpleasant thing and can happen to anyone, no exception occurs also in the mother during pregnancy to delivery first child. However, if the anxiety experienced by primigravida occurs in a sustainable and growing during pregnancy will certainly have implications for the soul of the mother and baby in the womb so that complicates the process of childbirth. This study aims to determine the effectiveness of the pre-natal counseling to reduce anxiety levels facing labor primigravida. This is a quasi experimental study. In the total sample of 14 people. The data were taken using the Hamilton Anxiety Rating Scale (Hars) which consists of 14 statements that have been standardized, with a validity rate of 0, 93 and a reliability of 0.97. The results showed that the pre-natal counseling effective in reducing anxiety in the face of labor primigravida.
PENERIMAAN ORANG TUA TERHADAP ANAK RETARDASI MENTAL DITINJAU DARI KELAS SOSIAL Hadid Khoiri
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 2 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v1i2.2627

Abstract

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah perbedaan tingkat penerimaan orang tua terhadap anak retardasi mental ditinjau dari kelas sosial. Beberapa kasus yang terjadi adalah orang tua kelas sosial tinggi menolak kehadiran anak yang mengalami retardasi mental. Idealnya, orang tua apapun kelas sosialnya bisa menerima dengan baik bagaimanapun keadaan anaknya. Penerimaan orang tua adalah suatu keadaan dimana orang tua memberikan kasih sayang dan perhatian terhadap anak, dan menghargainya tanpa membeda-bedakannya. Anak retardasi mental adalah anak yang mengalami hambatan perkembangan berupa kemampuan IQ yang kurang dari 70.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidak perbedaan tingkat penerimaan orang tua terhadap anak retardasi mental ditinjau dari kelas sosial. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparatif. Subjek penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak retardasi mental di SLBN Semarang. Diperoleh 38 subjek yang terbagi menjadi 5 subjek kelas sosial atas, 16 subjek untuk  kelas sosial menengah dan 17 untuk kelas sosial bawah. Metode pengumpulan data menggunakan angket kelas sosial dan skala penerimaan orang tua sebanyak 50 item. Hasil uji validitas dengan korelasi product moment diperoleh 34 aitem valid dengan kisaran koefisien validitas dari 0,339 sampai dengan 0,702. Hasil uji reliabilitas dengan rumus alpha cronbach diperoleh koefisien reliabilitasnya 0,870. Hasil analisis data dengan teknik Mann Whitney menunjukkan z=0,271 dengan  P=0,787.  (P>0,05) yang berarti tidak ada perbedaan penerimaan orang tua terhadap anak retardasi mental ditinjau dari kelas sosial menengah dan kelas sosial bawah. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa kelas sosial yang berbeda tidak membuat penerimaaan orang tua terhadap anak retardasi mental ikut berbeda. Penyebabnya adalah tingkat kemampuan beradaptasi orang tua yang baik terhadap keadaan anak, dan penerimaan diri orang tua sendiri.  Peneliti menyarankan kepada orang tua agar lebih meningkatkan penerimaan mereka terhadap anak, karena penerimaan akan kehadiran anak akan sangat membantu dalam proses perkembangan anak. Saran bagi peneliti selanjutnya, pengambilan responden penelitian secara lebih luas, dan lebih memperhatikan faktor lain yang juga mempengaruhi penerimaan orang tua.
PENERIMAAN ORANG TUA TERHADAP ANAK RETARDASI MENTAL DITINJAU DARI KELAS SOSIAL Hadid Khoiri
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v1i1.2628

Abstract

Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah perbedaan tingkat penerimaan orang tua terhadap anak retardasi mental ditinjau dari kelas sosial. Beberapa kasus yang terjadi adalah orang tua kelas sosial tinggi menolak kehadiran anak yang mengalami retardasi mental. Idealnya, orang tua apapun kelas sosialnya bisa menerima dengan baik bagaimanapun keadaan anaknya. Penerimaan orang tua adalah suatu keadaan dimana orang tua memberikan kasih sayang dan perhatian terhadap anak, dan menghargainya tanpa membeda-bedakannya. Anak retardasi mental adalah anak yang mengalami hambatan perkembangan berupa kemampuan IQ yang kurang dari 70.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidak perbedaan tingkat penerimaan orang tua terhadap anak retardasi mental ditinjau dari kelas sosial. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparatif. Subjek penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak retardasi mental di SLBN Semarang. Diperoleh 38 subjek yang terbagi menjadi 5 subjek kelas sosial atas, 16 subjek untuk  kelas sosial menengah dan 17 untuk kelas sosial bawah. Metode pengumpulan data menggunakan angket kelas sosial dan skala penerimaan orang tua sebanyak 50 item. Hasil uji validitas dengan korelasi product moment diperoleh 34 aitem valid dengan kisaran koefisien validitas dari 0,339 sampai dengan 0,702. Hasil uji reliabilitas dengan rumus alpha cronbach diperoleh koefisien reliabilitasnya 0,870. Hasil analisis data dengan teknik Mann Whitney menunjukkan z=0,271 dengan  P=0,787.  (P>0,05) yang berarti tidak ada perbedaan penerimaan orang tua terhadap anak retardasi mental ditinjau dari kelas sosial menengah dan kelas sosial bawah. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa kelas sosial yang berbeda tidak membuat penerimaaan orang tua terhadap anak retardasi mental ikut berbeda. Penyebabnya adalah tingkat kemampuan beradaptasi orang tua yang baik terhadap keadaan anak, dan penerimaan diri orang tua sendiri.  Peneliti menyarankan kepada orang tua agar lebih meningkatkan penerimaan mereka terhadap anak, karena penerimaan akan kehadiran anak akan sangat membantu dalam proses perkembangan anak. Saran bagi peneliti selanjutnya, pengambilan responden penelitian secara lebih luas, dan lebih memperhatikan faktor lain yang juga mempengaruhi penerimaan orang tua
DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DAN SPIRIT MENJADI SEHAT PENDERITA LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK Auxentia Erythrina Desmisagili
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v1i1.2629

Abstract

Lupus adalah penyakit otoimun yang menyerang satu atau seluruh sistem organ dalam tubuh manusia. Pasien lupus banyak mengalami gangguan psikis seperti depresi, stres, cemas, dan kemarahan. Gangguan psikis yang dialami odapus membutuhkan penanganan yang serius supaya tidak memperparah penyakitnya, sehingga dalam hal ini odapus membutuhkan suatu dukungan yang besar dari lingkungan. Keluarga merupakan lingkungan terdekat. Keluarga diharapkan bisa memberikan support kepada odapus untuk tidak menyerah pada penyakitnya, memberi harapan pada setiap peluang, dan memberi dukungan materi untuk pengobatan lupus agar tidak semakin merajalela. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bentuk dukungan sosial keluarga kepada penderita lupus dalam menumbuhkan semangat menjadi sehat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Unit analisis penelitian adalah keluarga penderita lupus, penderita lupus, dan tenaga medis yang merawat penderita lupus. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan observasi, pada 3 subjek penelitian (keluarga odapus), dan 9 orang informan (odapus, kerabat, dan tenaga medis) sebagai triangulasi data. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2011 di rumah masing-masing subjek penelitian. Penerimaan keluarga adalah dukungan yang paling dibutuhkan. Perhatian dan penerimaan keluarga kepada penderita lupus mampu menguatkan penderita untuk bisa mengatasi diri dan memiliki semangat menjadi sehat. Perceraian dan penolakan membuat kondisi fisik penderita lupus menjadi lemah dan memicu kekambuhan lupus yang berpotensi mengakibatkan kematian. Kehadiran buah hati menumbuhkan sebuah harapan. Adanya harapan akan membuat seseorang tetap berusaha mempertahankan hidup. Harapan muncul sebagai bentuk kesadaran pribadi dan saran/nasihat dari orang lain. Bentuk nyata semangat penderita lupus untuk menjadi sehat yaitu dengan menghindari/mengurangi faktor risiko kekambuhan (gangguan stres, sinar matahari, kelelahan), serta mengikuti anjuran dokter untuk rutin minum obat dan melakukan check up.
KUALITAS HIDUP PENDERITA KANKER Tita Febri Pratiwi
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v1i1.2630

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi subyek penderita kanker mengalami perubahan fisik dan psikis karena harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru dalam hidupnya. Kanker adalah penyakit pada sel jaringan tubuh yang menjadi ganas. Pengobatan yang berlangsung lama memiliki efek kesakitan tinggi, membawa dalam kondisi lemah bahkan depresi. Penderitaan tersebut mendorong penderita untuk menentukan sikap yang menggambarkan kualitas hidup. Kualitas hidup adalah persepsi individu mengenai keadaan dirinya pada aspek-aspek kehidupan untuk mencapai kepuasan hidup. Keterbatasan yang dialami justru disikapi positif oleh subyek, antara lain: tidak mengeluh, tidak mengasihani diri sendiri, penampilan fisik yang sehat dan keefektifan kinerja dalam hidupnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana kualitas hidup penderita kanker.  Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian studi kasus dan kualitas hidup penderita kanker sebagai unit analisis. Responden berjumlah tiga orang, delapan orang informan pendukung dan empat orang ahli. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan pengintepretasian tes grafis yang meliputi House Tree Person, Tree Test, dan Draw A Person Test oleh psikolog. Keabsahan data diuji dengan ketekunan pengamatan di lapangan dan triangulasi.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyakit kanker memberikan perubahan signifikan secara fisik maupun psikis individu, antara lain: kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan akan masa depan dan kematian. Kualitas hidup penderita kanker dipengaruhi pemahaman individu terhadap penyakitnya sehingga seseorang tahu cara menjaga kesehatan, serta faktor ekonomi dimana hal ini menjadi kekhawatiran khusus terhadap biaya pengobatan. Aspek dominan pembentukan kualitas hidup penderita kanker adalah aspek psikologis, meliputi spiritualitas, dukungan sosial dan kesejahteraan. Faktanya, aspek psikologis sangat menentukan kualitas hidup, penderita mendapatkan kekuatan dan merasa lebih sehat tanpa obat, hal ini disebabkan karena sugesti dalam diri individu tersebut untuk tetap sehat. Kecerdasan spiritualitas menuntun penderita memiliki penerimaan diri terhadap penyakitnya. Penderita mengalami peningkatan spiritual dibanding sebelum menderita kanker. Penderita merasa lebih dekat dengan Tuhan dan tidak menyalahkan Tuhan, melainkan menganggap sebagai sebuah anugerah Tuhan. Rasa cinta dan nyaman dari dukungan sosial memberi motivasi untuk sembuh dan kuat menjalani hidup. Akhirnya memberikan kesejahteraan yang menentukan kualitas hidup penderita. Saran bagi pemerintah adalah memberikan perhatian dan bantuan khususnya bagi penderita kanker kurang mampu. Bagi keluarga, agar memberi dukungan sehingga dapat menjadi partner yang baik untuk mencapai kesembuhan dan pemulihan secara fisik maupun psikis penderita kanker.
HUBUNGAN KOMUNIKASI IBU DAN ANAK DENGAN PERILAKU DELINKUEN REMAJA Ulfa Kusumawardani
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v1i1.2631

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi dari fenomena bahwa terjadi perilaku delinkuen remaja di Desa Karangjati Kabupaten Semarang. Perilaku delinkuen remaja diperkirakan berkaitan dengan intensitas komunikasi ibu dan anak yang rendah karena kesibukan ibu bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mencari dan mengetahui hubungan Komunikasi Ibu dan Anak dengan Perilaku Delinkuen Remaja di Desa Karangjati Kabupaten Semarang.Penelitian menggunakan metode kuantitatif korelasional. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja di Desa Karangjati Kab. Semarang dengan jumlah sebanyak 36 orang. Hasil analisis data yang dilakukan dengan menggunakan analisis product moment menunjukkan adanya hubungan negatif antara Komunikasi Ibu dan Anak ibu dan anak dengan perilaku delinkuen remaja di desa Karangjati Kabupaten Semarang dengan besar koefisien korelasi -0.388 dengan signifikansi 0,019 ( p< 0.05). Hasil penelitian tersebut memberikan kesimpulan bahwa ada hubungan negatif antara komunikasi ibu dan anak dengan perilaku delinkuen remaja di Desa Karangjati Kabupaten Semarang.
PERBEDAAN KEMANDIRIAN DAN AKTUALISASI DIRI REMAJA PUTERA-PUTERI PENGHUNI BALAI REHABILITASI SOSIAL Kiki Pramitha Sari
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v1i1.2632

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemandirian dan aktualisasi diri pada remaja putera dan remaja puteri di Balai Rehabilitasi Sosial “Wira Adhi Karya” Ungaran. Penelitian menggunakan desain komparatif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi adalah remaja di Balai Rehabilitasi Sosial “Wira Adhi Karya” Ungaran. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling. Sampel diambil sebanyak 50, yaitu 25 remaja putera dan 25 remaja puteri. Variabel dalam penelitian ini adalah kemandirian dan aktualisasi diri. Metode pengumpulan data menggunakan skala psikologi yaitu skala kemandirian dan skala aktualisasi diri. Data diolah menggunakan analisis uji T atau  t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kemandirian remaja putera di Balai Rehabilitasi Sosial “Wira Adhi Karya” Ungaran dalam kategori Tinggi (64%), dan rata-rata kemandirian remaja puteri juga dalam kategori Tinggi (68%). Rata-rata aktualisasi diri remaja putera di Balai Rehabilitasi Sosial “Wira Adhi Karya” Ungaran dalam kategori Tinggi (56,0%), dan aktualisasi diri remaja puteri juga dalam kategori Tinggi (60%). Hasil uji perbedaan kemandirian remaja putera dan puteri di Balai Rehabilitasi Sosial “Wira Adhi Karya” Ungaran diperoleh equal variance not assumed dengan nilai t sebesar -1.546, probabilitas sebesar 0,130 dengan taraf kepercayaan 95% dimana p>0,05. Kemudian hasil uji perbedaan aktualisasi diri remaja putera dan puteri di Balai Rehabilitasi Sosial “Wira Adhi Karya” Ungaran , juga diperoleh equal variance not assumed dengan nilai t sebesar -0.591, probabilitas sebesar 0,557 dengan taraf kepercayaan 95% dimana p>0,05. Berdasarkan hasil uji analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kemandirian dan aktualisasi diri pada remaja putera dan remaja puteri di Balai Rehabilitasi Sosial “Wira Adhi Karya” Ungaran.
STUDI DESKRIPTIF EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK TENTANG MASALAH SEKSUAL Luthfiana Luluq D’Vega
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v1i1.2633

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena mengenai efektivitas komunikasi orang tua dan anak tentang masalah seksual. Ketakutan anak untuk mengkomunikasikan masalah seksual kepada orang tua disebabkan karena anak takut salah ‘ngomong’ dan orang tua masih menganggap tabu pembicaraan seputar masalah seksual dengan anak. Hal itu menyebabkan rendahnya efektivitas komunikasi orang tua dan anak tentang masalah seksual. Pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran secara deskriptif efektivitas komunikasi orang tua dan anak tentang masalah seksual di SMA Negeri 1 Purwareja Klampok. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Subjek pada penelitian ini berjumlah 52 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Analisis data deskriptif dengan menggunakan program SPSS 17.00 for windows menunjukkan variabel efektivitas komunikasi orang tua dan anak tentang masalah seksual tergolong sedang cenderung rendah. Hasil tersebut ditinjau dari aspek keleluasaan dengan perolehan hasil terbanyak 76,92% atau 40 subjek pada kategori sedang, aspek lamanya waktu dengan perolehan hasil terbanyak 73,08% atau 38 subjek pada kategori sedang dan aspek kedalaman dengan perolehan hasil terbanyak 80,77% atau 42 subjek  pada kategori sedang. Kesimpulan yang didapat bahwa secara umum efektivitas komunikasi orang tua dan anak tentang masalah seksual di SMA Negeri 1 Purwareja Klampok tergolong dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa responden sudah cukup efektif dalam mengkomunikasikan masalah seksual dengan orang tua meskipun belum secara keseluruhan subjek bersedia terbuka kepada orang tua mengenai masalah tersebut.
DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DAN SPIRIT MENJADI SEHAT PENDERITA LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK Dyah Resti Andini
Developmental and Clinical Psychology Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v1i1.2634

Abstract

Penempatan dalam tempat khusus adalah salah satu jenis hukuman disiplin yang dijatuhkan kepada anggota kepolisian Negara Republik Indonesia yang telah melakukan pelanggaran disiplin dengan menempatkan terhukum dalam tempat khusus. Tempat khusus yang dimaksud adalah dapat berupa markas, rumah kediaman, ruangan tertentu, kapal, atau tempat yang ditunjuk oleh Ankum (Atasan yang berhak menghukum). Penerimaan Diri merupakan sikap menerima akan keadaan diri baik kelebihan maupun kekurangan yang ada pada dirinya dan memiliki kemampuan untuk berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan orang lain dalam menjalani kehidupan yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penerimaan diri pada polisi setelah mendapat hukuman penempatan dalam tempat khusus. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dalam bentuk studi kasus. Subjek penelitian ini adalah polisi yang pernah mendapatkan hukuman penempatan dalam tempat khusus dan masih mengalami dampak psikologis berjumlah dua orang. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara semi terstruktur dan observasi non partisipan, tes grafis, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian secara umum, gambaran penerimaan diri pada subjek penelitian diketahui bahwa subjek belum memiliki penerimaan diri atas hukuman penempatan dalam tempat khusus yang sudah dijalani. Tidak adanya penerimaan diri pada subjek karena tidak terpenuhinya aspek-aspek yang ada dalam penerimaan diri. Tidak adanya penerimaan diri pada subjek juga dilatarbelakangi adanya hambatan baik secara internal maupun eksternal. Hambatan internal berupa adanya kekhawatiran diterimanya berbagai reaksi negatif dari lingkungan. Hambatan eksternal yaitu belum kondusifnya norma sosial terhadap penempatan dalam tempat khusus, serta tidak banyak polisi yang mendapatkan hukuman penempatan dalam tempat khusus. Adapun saran yang disampaikan kepada keluarga adalah agar mengajak interaksi dan mendukung profesi subjek. Kepada Kepolisian agar lebih mengerti dan memahami subjek. Kepada teman agar memberikan perhatian, dukungan, dan sikap empatik pada subjek. Kepada subjek penelitian agar lebih terbuka dan mengakui kesalahan yang telah diperbuat dan bisa menjalankan hidup yang lebih baik tanpa ada rasa bersalah dan kepura-puraan.