cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Developmental and Clinical Psychology
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Arjuna Subject : -
Articles 87 Documents
INTENSI DAN PERILAKU ORANG TUA DALAM MEMBERIKAN PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK USIA DINI (STUDI DESKRIPTIF PADA IBU-IBU DI KELURAHAN SEKARAN KECAMATAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG) Umi Kulsum
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v2i1.2103

Abstract

Pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran deskriptif intensi dan perilaku orang tua dalam memberikan pendidikan seks pada anak usia dini di Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan melibatkan 108 ibu di Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang sebagai subjek penelitian. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah one stage cluster random sampling. Intensi dalam memberikan pendidikan seks pada anak usia dini diukur dengan menggunakan skala intensi. Skala intensi mempunyai 47 item, kemudian dianalisis menggunakan teknik product moment dan dinyatakan 6 item tidak valid sehingga didapatkan 41 item yang valid. Skala intensi mempunyai nilai reliabilitas sebesar 0,887. Sedangkan perilaku orang tua dalam memberikan pendidikan seks pada anak usia dini diukur dengan angket perilaku. Angket perilaku mempunyai 39 item, kemudian dianalisis menggunakan teknik product moment dan dinyatakan 6 item tidak valid sehingga didapatkan 33 item yang valid. Angket perilaku mempunyai nilai reliabilitas sebesar 0,924. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensi orang tua dalam memberikan pendidikan seks pada anak usia dini di Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang tergolong pada kriteria intensi yang cukup kuat. Sedangkan perilaku orang tua dalam memberikan pendidikan seks pada anak usia dini di Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang tergolong pada kriteria perilaku yang cukup cenderung kuat. Implementation of this research aims to describe the descriptive intentions and behavior of parents in providing sex education in early childhood in the Village of Sekaran District of Gunungpati Semarang. This research is a descriptive study involving 108 mothers in the Village of Sekaran District of Gunungpati Semarang as research subjects. The sampling technique used in this study is a one stage cluster random sampling. Intentions in providing sex education in early childhood was measured using the intention scale. Intention scale has 47 items, and then analyzed using product moment and declared 6 invalid items so get 41 valid items. Intention scale has a reliability value of 0.887. While the parents’s behavior in providing sex education in early childhood was measured using behavior questionnaire. Behavior questionnaire has 39 items, and then analyzed using product moment and declared 6 invalid items so get  33 valid items. Behavior questionnaire has a reliability value of 0.924. The results showed that the intentions of parents in providing sex education in early childhood in the Village of Sekaran District of Gunungpati Semarang belong to a fairly strong intensity criteria. While the behavior of parents in providing sex education in early childhood in the Village of Sekaran  District of Gunungpati Semarang belong to the behavioral criteria that tend to be strong  enough.
EFEKTIVITAS BRAIN GYM TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK PRASEKOLAH Sandra Rizki Wardani
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v2i1.2107

Abstract

Usia prasekolah merupakan usia yang tepat untuk mengembangkan berbagai potensi termasuk potensi berbahasa.. Namun tidak semua anak dapat mengembangkan kemampuan berbahasanya dengan baik. Tekanan-tekanan dari luar dirinya dapat menghambat perkembangan kemampuan berbahasa anak. Dibutuhkan stimuli yang dapat membantu meningkatkan kemampuan berbahasa anak prasekolah dengan cara yang menyenangkan dan tidak membebani, salah satunya adalah Brain Gym. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Brain Gym dalam meningkatkan kemampuan berbahasa anak prasekolah. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksperimental. Populasi penelitian ini adalah siswa-siswa kelompok B TK X Semarang tahun ajaran 2012/2013 dengan karakteristik siswa laki-laki dan perempuan berusia 5-7 tahun, dan pendidikan terakhir Ibu adalah perguruan tinggi. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Subjek penelitian berjumlah 60 anak. Data penelitian diambil menggunakan rating scale. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan eksperimen setelah dilakukan posttest dan ada perbedaan yang signifikan pada hasil pretest dan posttest kelompok eksperimen setelah brain gym diberikan. Brain Gym terbukti efektif meningkatkan kemampuan berbahasa anak prasekolah. Diharapkan siswa dapat terus melakukan Brain Gym agar hasil lebih maksimal. Preschool age is the right age to develop the potential of including the potential language. However, not all children can develop language skills well. Pressures from outside himself may inhibit the development of a child's language skills. It takes stimuli that can help improve language skills of preschoolers in a fun way and not burden, one of which is the Brain Gym. This study aims to determine the effectiveness of Brain Gym in improving the language skills of preschoolers. This research is quantitative experimental. The study population was a group B students Kindergarten X Semarang academic year 2012/2013 with the characteristics of boys and girls aged 5-7 years, and last Mother's education is college. The sampling technique used total sampling. Subjects numbered 60 children. The data were taken using  rating scale. The results showed significant difference between the control and experimental groups after the posttest and significant difference in the pretest and posttest results of the experimental group after Brain Gym was given. Brain Gym proven effective in improving language skills of preschoolers. Students are expected to continue to do Brain Gym in order to maximize results.
GRIEF PADA REMAJA AKIBAT KEMATIAN ORANGTUA SECARA MENDADAK Adina Fitria S
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v2i2.2569

Abstract

Penelitian ini berusaha menggambarkan secara lebih jelas dan mendalam tentang bagaimana griefpada remaja akibat kematian orangtua secara mendadak. Penelitian ini menggunakan metodewawancara (interview). Subjek pada penelitian ini yaitu dua orang remaja dengan latar belakangmengalami kematian orangtua secara mendadak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa griefyang dialami oleh subjek tidak banyak mengalami perbedaan. Proses perkembangan grief yangsubjek alami telah dilalui dengan baik dimulai dari inisial respon, intermediate, dan recovery, namunpada proses perkembangan yang terakhir yaitu recovery subjek belum sepenuhnya terlewati.Adapun faktor yang menyebabkan greif pada remaja yaitu hubungan individu dengan almarhum,kepribadian, usia, jenis kelamin, proses kematian, dukungan dari orang-orang terdekat subjek, danjuga posisi subjek dalam keluarga. Selain dari faktor-faktor tersebut ditemukan satu faktor lagiyang menyebabkan grief pada remaja yaitu attachment. Semakin remaja tersebut memilikiattachment yang kuat terhadap almarhum maka akan semakin lama dan dalam grief yang dialamioleh remaja. study attempted to describe more detail and deeply on how grief in teenagers caused by parent who suddendied. This study uses interview as the method. Subjects for this study are two teenagers who experienced losingparent because of sudden death. The result of this study indicates that grief experienced by the subjects do notencounter any differences. Grief development process experienced by the subject has been passed well start fromintial response, intermediate, and recovery, but in the last development process, recovery, the subject has notfully passed. Thus, factors that caused grief experienced by the subject are the relationship between the subjectand the person who passed away; subject’s personality, subject’s age, subject’s gender, death incident process,relatives’ encouragement, and subject’s position in the family. Besides those factors, found one more factor thatcaused grief in teenagers, that is attachment. The more a teenager has the attachment toward someone whopassed away, the more time needed by the teenager to experience grief.
TINGKAT KEBERMAKNAAN HIDUP DAN OPTIMISME PADA IBU YANG MEMPUNYAI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS Amelia Putri Nirmala
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v2i2.2570

Abstract

Anak yang terlahir sempurna merupakan harapan semua orang tua. Orang tua mendambakan memiliki anak yang sehat, secara jasmani maupun rohani. Ketika mengetahui anaknya berbeda dibanding anak-anak lainnya, seringkali orang tua menunjukkan reaksi emosional tertentu. Salah satu cara rasional yang dapat dilakukan ibu untuk anak berkebutuhan khusus adalah dengan menerima keadaannya dan memberi dukungan. Penerimaan ibu terhadap anak berkebutuhan khusus dapat menghantarkan kepada makna hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebermaknaan hidup dan optimisme pada ibu yang mempunyai anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang menyekolahkan anaknya di SLB Manunggal Slawi sebanyak 99 ibu. Teknik  sampling digunakan adalah Total Sampling. Data penelitian diambil menggunakan skala kebermaknaan hidup dan skala optimisme. Metode analisis data yang digunakan adalah korelasi Product Moment. Skala kebermaknaan hidup terdiri dari 50 aitem valid dan 3 item tidak valid dan koefisien alpha cronbach reliabilitasnya 0,862. Skala optimisme dari 61 aitem valid dan koefisien alpha cronbach reliabilitasnya 0,899. Peneliti menyimpulkan hasil penelitian menunjukkan Ibu yang mempunyai anak berkebutuhan khusus mempunyai kebermaknaan hidup dan optimisme yang tinggi sehingga seorang ibu dapat mengisi kehidupannya dengan penuh makna, mempunyai harapan masa depan, mampu berfikir positif dan mempunyai motivasi untuk memperoleh tujuan hidup yang akan membuat ibu bahagia dalam menjalani hidup.   Children who are born perfect is the hope of all parents. Parents are anxious to have children who are healthy, both physically and spiritually. When he found out his son is different than the other kids, parents often indicate certain emotional reactions. One way to do rational mothers to children with special needs is to accept the situation and provide support. Acceptance mothers of children with special needs to deliver to the meaning of life. This study aims to determine the level of meaningfulness of life and optimism in mothers who have children with special needs. This research is descriptive. The population in this study were all mothers who send their children to special schools SlawiManunggal by 99 mothers. The sampling technique used is total sampling. The research data were taken using a scale of meaningfulness of life and optimism scale. Data analysis method used is Product Moment Correlation. Meaningfulness of life scale consisting of 50 aitem valid and invalid 3 items and Cronbach alpha reliability coefficient of 0.862.Optimism scale of 61 aitem valid and Cronbach alpha reliability coefficient of 0.899. The researchers concluded the results showed mother who had children with special needs have the meaningfulness of life and optimism is high that a mother can fill his life with meaning, having hope for the future, be able to think positive and motivated to obtain life goals that will make mom happy in living life.
HUBUNGAN ANTARA ADVERSITY INTELLIGENCE DENGAN WORK-FAMILY CONFLICT PADA IBU YANG BEKERJA SEBAGAI PERAWAT Diyah Arfidianingrum
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v2i2.2571

Abstract

Work-family conflict merupakan suatu fenomena yang seringkali tidak bisa dihindari oleh individu, tidak terkecuali pada ibu yang bekerja sebagai perawat. Keterlibatan ibu dalam peran pekerjaan (keluarga) akan membawanya pada kesulitan untuk memenuhi tuntutan peran keluarga (pekerjaan). Dibutuhkan suatu kemampuan untuk mengatasi situasi sulit yang dialami oleh ibu bekerja agar terhindar dari perilaku yang merugikan. Adversity intelligence merupakan kemampuan seseorang dalam menghadapi dan bertahan terhadap kesulitan hidup dan tantangan yang dialaminya. Usaha tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara adversity intelligence dengan work-family conflict pada ibu yang bekerja sebagai perawat. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang bekerja sebagai perawat di dua rumah sakit swasta Kota Semarang. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Data penelitian diambil menggunakan skala work-family conflict dan skala adversity intelligence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara adversity intelligence dengan work-family conflict pada ibu yang bekerja sebagai perawat di RS Panti Wilasa Semarang dengan rxysebesar -0,477. Sumbangan efektif adversity intelligence terhadap work-family conflict adalah sebesar 22,8% dan sisanya 77,2% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini.  Work-family conflict is a phenomenon that often can not be avoided by individuals, is no exception to the mother who works as a nurse. Mother's involvement in the work role (family) will take the trouble to meet the demands of the family role (job). It takes an ability to overcome the difficult situation faced by working mothers to avoid harmful behaviors. Adversity intelligence is a person's ability to confront and survive the hardships and challenges they experienced. The efforts made ​​to achieve certain goals. The purpose of this study was to determine the relationship between adversity intelligence with work-family conflict among women who worked as nurses. This study is a quantitative correlation. Respondents in this study were mothers who worked as a nurse in a private hospital two Semarang. The sampling technique used is total sampling. The data were taken using a scale of work-family conflict and adversity intelligence scale. The results showed that there is a significant negative relationship between adversity intelligence with work-family conflict in the mother who worked as a nurse at Panti Wilasa Semarang with rxysebesar -0.477. Effective contribution adversity intelligence to work-family conflict is 22.8% and the remaining 77.2% is influenced by other factors that are not revealed in this study.
PENGARUH OPTIMISME MENGHADAPI MASA PENSIUN TERHADAP POST POWER SYNDROME PADA ANGGOTA BADAN PEMBINA PENSIUNAN PEGAWAI (BP3) PELINDO SEMARANG Fandy Achmad Yunian
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v2i2.2572

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi fenomena mengenai gejala-gejala post power syndrome yang dialami para anggota BP3 Pelindo yang anggotanya adalah sekumpulan individu yang sudah tidak bekerja atau pensiun. Post power syndrome ini timbul akibat dari perasaan tidak bisa menerima keadaan barunya sebagai seorang pensiunan. Pensiun menimbulkan perasaan - perasaan tidak berguna, depresi, kekecewaan, dan menimbulkan frustasi yang mengganggu fungsi kejiwaan dan organiknya.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh optimisme menghadapi masa pensiun terhadap post power syndrome pada anggota BP3 Pelindo. Subjek pada penelitian ini berjumlah 63. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Post power syndrome diukur dengan skala post power syndrome. Skala post power syndrome terdiri dari 63 item valid. Item yang valid tersebut mempunyai p< 0,05 yaitu dengan  rentang signifikansi 0,000-0,001. Skala post power syndrome mempunyai koefisien reliabilitas sebesar 0,945. Optimisme diukur dengan menggunakan skala optimisme. Skala Optimisme terdiri dari 57 aitem valid. Aitem yang valid tersebut memiliki p<0,05 yaitu pada rentang signifikansi 0,000-0,001.Skala konflik peran ganda mempunyai koefisien reliabilitas sebesar 0,956. Uji korelasi menggunakan teknik korelasi product moment dan uji pengaruh digunakan analisis regresi yang dikerjakan menggunakan bantuan program SPSS 17.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan variabel post power syndrome pada anggota BP3 Pelindo tergolong rendah.  Berbeda dengan variabel optimisme menghadapi masa pensiun pada anggota BP3 Pelindo tergolong tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang negatif antara post power syndrome dengan optimisme dengan nilai F sebesar 201,240. Pengaruh post power syndrome dengan optimisme diperoleh koefisien r = - 0,876 dengan signifikansi atau p = 0,000. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh optimisme menghadapi pensiun terhadap post power syndrome dengan R Square sebesar 76,7%. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada pengaruh negatif yang signifikan antara optimisme menghadapi masa pensiun terhadap post power syndrome pada anggota Badan Pembina Pensiunan Pegawai (BP3) Pelindo Semarang.   The study was backed by the phenomenon of the symptoms of post power syndrome experienced by the members of the BP3 Pelindo whose members are a group of individuals who were not working or retired. Post power syndrome arises as a result of feeling couldn't accept his new condition as a retiree. Retire cause useless feelings, depression, disappointment, and frustration that interfere with the function of psychiatric and organic. This research is quantitative korelasional research aims to know the influence of optimism against the retirement of post power syndrome on the BP3 member of Pelindo. The subject of this research totalled 63. The sampling technique used is the total sampling. Post power syndrome is measured by the scale of post power syndrome. The scale of post power syndrome consists of 63 items. Items that have a valid p & lt; 0.05 the significance of range 0.000-0.001. The scale of post power reliability coefficient of syndrome has 0,945. Optimism is measured using a scale of optimism. The scale consists of 57 aitem Optimism. A valid Aitem has p & lt; 0.05 in the range 0.000-0.001 significance. the scale of the conflict has a dual role of reliability coefficient 0,956. Test correlation using the correlation test effect of product moment and used regression analysis that was done using SPSS 10.0 program help for windows. The results showed a variable power syndrome post on Member BP3 Pelindo is low. In contrast to the optimism of variables facing retirement at a member of Pelindo BP3 is high. The results showed that there is a negative influence of post power syndrome with optimism to the value F of 201,240. The influence of post power syndrome with optimism obtained coefficients of r =-0,876 with significance or p = 0.000. The results showed the influence of optimism to face retirement of post power syndrome with R Square of 70.7%. It shows that there is a significant negative influence of optimism against the retirement of post power syndrome on board the coach Retired employees (BP3) Pelindo Semarang
IDENTITAS DIRI REMAJA PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2 PEMALANG DITINJAU DARI JENIS KELAMIN Fisnanin Purwanti
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v2i2.2573

Abstract

Identitas diri dapat dibentuk oleh banyak faktor salah satu diantaranya adalah jenis kelamin. Remaja dapat mengupayakan pembentukan identitas diri positif dengan berbagai cara. Adanya perbedaan Identitas diri remaja antara laki-laki dan perempuan dapat dilihat dari bagaimana remaja tersebut sukses dalam pencarian identitas dirinya.Untuk mendapatkan hasil yang lebih terpercaya mengenai perbedaan identitas diri remaja, maka dilakukan penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mengetahui identitas diri pada peserta didik kelas XI SMA Negeri 2 Pemalang.; (2) mengetahui adanya perbedaan identitas diri  pada siswa kelas XI SMA Negeri 2 Pemalang ditinjau dari jenis kelamin. Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 2 Pemalang. Subjek penelitian berjumlah 78 orang yang ditentukan menggunakan teknik Proportional Sample. Identitas diri diukur dengan menggunakan skala Identitas diri yang terdiri dari 55 item. Koefisien reliabilitas skala Identitas diri sebesar 0,952. Uji perbedaan menggunakan teknik Mann-Whitney U Test dengan bantuan program SPSS 17.0 for windows. Hasil uji hipotesis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara identitas diri pada siswa laki-laki dan siswa perempuan. Identitas diri pada siswa laki-laki dengan nilai rata-rata 208,44 lebih tinggi dibandingkan dengan identitas diri pada siswa perempuan nilai rata-rata 190,64 yang berarti siswa laki-laki mempunyai identitas diri yang lebih positif dibandingkan siswa perempuan.    Identity can be shaped by many factors, one of which is gender. Teens can seek positive self-identity formation in various ways. Identification of differences in adolescents between men and women can be seen from how teens are successful in the search for identity dirinya.Untuk get more reliable results about the differences in adolescent identity, then do the research. The purpose of this study was: (1) the identity of students in class XI at SMAN 2 Pemalang., (2) determine the identity differences in class XI student of SMAN 2 Pemalang in terms of gender. This study was conducted at SMA N 2 Pemalang. Subjects numbered 78 people were determined using the technique of Proportional Sample. Identity was measured using Identity scale comprising 55 items. Identity of the scale reliability coefficient of 0.952. Test differences using the Mann-Whitney U technique Test with SPSS 17.0 for windows. Hypothesis test results showed a significant difference between self-identity in the male students and female students. Identity of the boys with an average value of 208.44 is higher than the female students' self-identity on the average value of 190.64 which means that male students have a more positive self-identity than female students.
KECEMASAN PADA ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK TERLAMBAT BICARA (SPEECH DELAY) DI RSUD DR. M. ASHARI PEMALANG Inas Tsuraya
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v2i2.2574

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang orang tua yang memiliki anak speech delay di RSUD. Dr. M. Ashari Pemalang. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua. Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan teknik insidental sampling, pada waktu pengumpulan data diperoleh secara kebetulan yang ditemui peneliti. Metode pengumpulan data dilakukan menggunakan skala kecemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan orang tua yang memiliki anak speech delay tergolong dalam kriteria rendah.     This study aimed to describe the children of parents who have speech delay in hospitals. Dr.. M. Ashari Pemalang. The population is the elderly. In this study sampling was performed by incidental sampling technique, at the time of data collection obtained by chance the researchers found. Method of data collection using the anxiety scale. The results showed that the anxiety of parents of children with speech delay relatively low in the criteria.
HUBUNGAN ANTARA BODY IMAGE DENGAN PERILAKU DIET (PENELITIAN PADA WANITA DI SANGGAR SENAM RITA PATI) Nur Lailatul Husna
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v2i2.2575

Abstract

Diet merupakan suatu perencanaan atau pengaturan pola makan dan minum yang bertujuan untuk menurunkan berat badan  atau menjaga kesehatan. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku diet adalah faktor kepribadian seseorang  yang berkaitan dengan kepercayaan diri terhadap bentuk tubuhnya.. Ketidaksesuaian antara gambaran ideal dengan persepsi terhadap diri dapat menyebabkan body image menjadi negatif Jika seseorang merasa tidak percaya diri dengan kondisi tubuhnya maka ia akan melakukan diet untuk mendapatkan tubuh yang ideal. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian korelasional. Penelitian ini menggunakan studi populasi. Populasi pada penelitian ini adalah member di sanggar senam Rita sebanyak 30 orang. Variabel dalam penelitian ini adalah perilaku diet dan body image. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala psikologi, yaitu skala perilaku diet sebanyak 25 item dan skala body image sebanyak 27 item. Teknik uji validitas menggunakan rumus korelasi product moment dan uji reliabilitas dilakukan dengan rumus alpha cronbach. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistik korelasi product moment dari Karl Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa body image masuk dalam kriteria positif. Sedangkan perilaku diet masuk dalam kriteria sedang. Hasil koefisien korelasi (r) sebesar -0,447 dengan taraf signifikan p = 0,013 dimana p < 0,05  hal ini menunjukkan ada hubungan negatif antara body image dengan perilaku diet pada wanita di Sanggar Senam “Rita” Pati.   Diet is defined as plane or arrangement of regular food and drink consumed by a person, which usually  aims to lose weight or to maintain his health. One factor commonly influences a diet program is a person’s personality relate to his self-confidence in viewing his body shape. A negative image of  one’s body shape may occur if there is incongruity between ideal conception of “good” body shape and the perception towards his body. When a person loses his self-confidence towards his body shape, he will do a diet program to get an ideal body shapeResearch is correlational research. This study uses a population study. The population in this study were member in the gymnasium Rita, there were 30 people. The variable in this study is the dietary behavior and body image. Methods of data collection in this research using psychological scales, the scale of body image of 27 items and dietary behavior scale of 25 items. Validity test technique using the product moment correlation formula and reliability test conducted with alpha cronbach formula. Methods of data analysis in this study using statistical correlation of Karl Pearson product moment. The results showed that the body image in the positive criteria. While the dietary behavior in the medium criteria. Results of correlation analysis showed the value of r = -0,447 with p = 0.013 (p <0.05) which means there is a negative relationship between body image and dietary behavior which means there is a negative relationship between body image and dietary behavior in gymnasium Rita Pati.
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN TEMPER TANTRUM PADA ANAK PRA SEKOLAH Rizkia Sekar Kirana
Developmental and Clinical Psychology Vol 2 No 2 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v2i2.2576

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kecenderungan pola asuh yang digunakan orang tua di Negmplak Bawen, mengetahui gambaran tingkat temper tantrum dan mengetahui adanya hubungan pola asuh orang tua dengan temper tantrum pada anak pra sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Jumlah subjek 88 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah teknik total sampling. Pengukuran menggunakan dua skala yaitu skala pola asuh orang tua dan skala temper tantrum. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa intensitas temper tantrum pada anak pra sekolah tergolong sedang. Pola asuh yang digunakan cenderung otoriter. Terdapat hubungan antara pola asuh otoriter dan pola asuh permisif dengan temper tantrum pada anak pra sekolah. Dapat disimpulkan bahwa anak yang dibesarkan dengan pola asuh demokatis memiliki intensitas temper tantrum yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter dan permisif.    This research has purpose to find the preference picture of parenting which is used by the parents in Ngemplak Bawen. to find the grading pictures of temper tantrum and to find that there is a relation between parenting with the temper tantrum of preschool child. This research used quantitative method. The amount of subjects is 88 people. Sampling technique which is used is total sampling. The measuring used two scales, there are scale of parenting and scale of temper tantrum. The result of research showed that te temper tantrum intentity of preschool is medium, the parenting is use by parents was inclined authoritative parenting. There is a relation between authoritative parenting and permissive parenting with temper tantrum of preschool child. It can be concluded that the child which is grow up with democratic parenting has the lower intensity of temper tantrum compared with the child which is grow up with authoritative and permissive parenting.