cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
madesrisatyawati@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Linguistika
Published by Universitas Udayana
ISSN : 08549613     EISSN : 26566419     DOI : -
Core Subject : Education,
The linguistic journal as a vehicle for the development of the linguistic horizon is published by the Linguistics Master Program (S2) Linguistics and Doctoral Program of Udayana University Graduate Program. The publication of this journal in 1994, led by the Chairman and Secretary of Master Program (S2) and S3 Postgraduate Program of Udayana University, Prof. Dr. I Wayan Bawa and Prof. Dr. Aron Meko Mbete. In its development, there are various changes in linguistic journals, such as cover colors, style selingkung, and the number of articles published.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 18 (2011): September 2011" : 10 Documents clear
PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN BAHASA: Tinjauan Historis dan Sosiolinguistik Akhmad Haryono
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 18 (2011): September 2011
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.02 KB)

Abstract

Perubahan dan perkembangan bahasa dapat terjadi secara internal maupun eksternal. Dalam artikel ini perubahan dan perkembangan bahasa secara internal akan ditinjau melalui kajian historis dengan melihat perubahan dan perkemabangan  bahasa berdasarkan sejarah perkembangannya. Akan tetapi, perubahan dan perkembangan secara ekternal akan ditelaah melalui kajian sosiolinguistik dengan menelaah dan mencermati perubahan dan perkembangan bahasa yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial budaya yang terjadi di masyarakat.Perubahan secara internal awalnya terjadi pada perilaku para penutur dalam kehidupannya sehari-hari untuk saling menyesuaikan diri, dan disusul oleh kecenderungan berinovasi pada kelompok masyarakat yang sudah akrab, kemudian diikuti perubahan-perubahan lain secara berantai, yang akhirnya menjadikan bahasa-bahasa itu berbeda-beda satu sama lain, walaupun awalnya berasal dari satu rumpun bahasa. Perubahan bahasa secara eksternal adalah perubahan dan perkembangan  bahasa yang diakibatkan oleh adanya kontak suatu bahasa dengan bahasa yang lainnya, dimana manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya telah saling berhubungan baik antarbangsa di dunia maupun antaretnis di suatu negara.
STRUKTUR SEMANTIS VERBA SEBAGAI CERMINAN POLA PIKIR KOMUNITAS DAYAK NGAJU: SEBUAH KAJIAN LINGUISTIK KEBUDAYAAN Maria Arina Luardini
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 18 (2011): September 2011
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.726 KB)

Abstract

Teks merupakan aset budaya yang di dalamnya mengandung makna dan nilai. Legenda yang merupakan bagian dari teks lisan mempunyai makna dan nilai dapat ditinjau dari pembicara dan dari bahasa yang digunakan. Legenda dalam bahasa DN mempunyai beberapa struktur semantis yang dapat ditelusuri melalui kajian linguistik kebudayaan dalam ranah etnosemantik dan lexcor (lexical and corpus) yang merupakan bagian dari SFL. Pembentukan struktur semantis verba ditunjukkan melalui bentuk – bentuk: verba aktif, yang didominasi oleh bentuk nasal {maN –}; verba pasif yang sebagian besar berbentuk prefix {iN –}; dan bentuk serialis atau paralelisme semantis, yaitu bentukan dari dua verba yang mempunyai makna yang sama. Berdasarkan kajian Linguistik Kebudayaan bentuk-bentuk verba/ tipe proses menggambarkan pola pikir komunitas DN sebagai kosmosentris yang ditunjukkan melalui kesamaan kekuasaan dan peran dari semua partisipan di bumi, yaitu manusia, hewan dan tumbuhan.      
TIPE KONSTRUKSI REFLEKSIF DALAM BAHASA INDONESIA DAN STRUKTUR VERBA PEMBANGUNNYA I Nyoman Kardana
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 18 (2011): September 2011
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.979 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas tentang konstruksi refleksif dalam bahasa Indonesia. Data penelitian ini diperoleh melalui metode observasi atau metode simak terhadap pemakaian bahasa Indonesia oleh penutur bahasa Indonesia di Kota Denpasar. Secara teoretis terdapat tiga tipe refleksif, yaitu refleksif leksikal, refleksif koreferensial, dan refleksif klitik. Namun, berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap data yang terkumpul bahasa Indonesia hanya memiliki dua tipe reflesif, yaitu refleksif leksikal dan refleksif koreferensial. Refleksif koreferensial dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan ke dalam koreferensial langsung, koreferensial tak langsung, dan koreferensial logoforik. Dilihat dari struktur verbanya, refleksif leksikal dibangun oleh verba {ber-}, {ber-/-an}, dan verba dasar. Sedangkan verba yang membangun koreferensial langsung adalah verba {meN-}, verba {meN-/-kan}, dan verba {meN-/i}. Koreferensial tak langsung dibangun oleh verba intransitif dan kategori adjektiva. Sementara itu, koreferensial logoforik dibangun oleh verba {meN-/-kan}.
PEMBENTUKAN VERBA BERSUFIKS {-KAN} BAHASA INDONESIA STRUKTUR ARGUMEN, STRUKTUR LOGIS, DAN MAKNA SUFIKS {-KAN} I Nyoman Sedeng
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 18 (2011): September 2011
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.317 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mencari jawaban atas tiga permasalahan yang muncul terhadap aplikasi sufiks {-kan} dalam BI; i) bagaimana mekanisasi pembentukan verba bersufiks {-kan} BI? ii) bagaimana struktur argumen verba bersufiks {-kan} dan iii) bagaimana struktur logis dan makna sufiks {-kan) BI? Data penunjang analisis dipetik dari empat buah novel Indonesia yang ditulis oleh Maria A. Sarjono dan satu oleh Hirata. Dan teori yang dipakai untuk membedah permasalahan proses morfosintaksis ini adalah teori morfologi yang ditulis oleh Katamba dan pembicaraan makna akan mengaplikasikan Tatabahasa Peran dan Acuan. Hasil analisis menunjukkan; i)verba bersufiks {-kan} dapat diturunkan dari bentuk dasar; prakatagorial, adjektiva, adverbia, verba intransitif, bi-intransitif, dan mono intransitif. Proses morfosintaksis  pembentukan verba bersufiks {-kan perubahan fungsi gramatikal. Proses tersebut mencakup; pengausatifan, pengaplikativan yang mencakup makna benefaktif, lokatif, instrumen dan terakhir adalah proses koorporasi. ii) Verba bersufiks {-kan} memiliki struktur argumen, seperti; mematikan (x, y)à (agen, pasien), membawakan (x, y, z)à (afektor, benefaktor, tema), menempelkan (x, y)(z)à(afektor, tema)(lokatif). iii) Sufiks {-kan} BI mengandung makna; memberi, mendapatkan, memindahkan posisi, menempatkan, menyampaikan, perpindahan kepemilikan dan kausatif.    
SISTEM MOOD BAHASA BALI Putu Sutama
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 18 (2011): September 2011
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.386 KB)

Abstract

Terminologi mood sangat populer dikenal dalam aliran Linguistik Sistemik Fungsional (LSF). Kata mood berarti pandangan, pertimbangan, atau pendapat pribadi pemakai bahasa terhadap makna paparan pengalaman dalam bentuk klausa yang disampaikan dalam interaksi (Saragih, 2002 : 97). Dalam bahasa Bali (BB) system mood berada dalam kerangka metafungsi bahasa, yaitu fungsi mempertukarkan pengalaman. Jadi fungsi mempertukarkan tersebut merupakan fungsi interpersonal dengan menghasilkan makna pertukaran yang direalisasikan oleh gramatika sistem mood, khususnya struktur mood. Dengan demikian, realisasi sistem mood dalam BB berada pada fungsi berbicara (speech function) yaitu fungsi menyampaikan pernyataan (statement), mengajukan pertanyaan (question), memberikan perintah (command ) serta menyampaikan penawaran (offer). Fungsi-fungsi inilah yang direalisasikan oleh modus tertentu termasuk modalitas (Eggins, 2004 : 148).
ALIH KODE BAHASA MUNA TERHADAP TUTURAN BAHASA INDONESIA DI KOTA KENDARI Haerun Haerun A
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 18 (2011): September 2011
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.277 KB)

Abstract

Masalah penelitian ini adalah  bagaimana bentuk dan alasan penggunaan alih kode bahasa Muna terhadap tuturan bahasa Indonesia bagi masyarakat Muna di Kota Kendari? Tujuan penelitian ini adalah untuk mendekripsikan bentuk dan alasan penggunaan alih kode bahasa Muna terhadap tuturan bahasa Indonesia bagi masyarakat Muna di Kota Kendari. Data dalam penelitian ini adalah alih kode tuturan  yang bersumber pada masyarakat Muna di Kota Kendari. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, pengamatan berperan serta, wawancara terbuka, dan perekaman. Data dianalisis dengan menggunakan analisis sosilinguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alih kode bahasa Muna ke dalam tuturan bahasa Indonesia meliputi (1) alih kode berdasarkan topik pembicaraan; (2) klarifikasi alih kode berdasarkan ruang lingkup; dan (3) alih kode berdasarkan kepermanenannya. Alih kode bahasa Muna terhadap tuturan bahasa Indonesia dilakukan secara sengaja dengan alasan-alasan: (1) antarpenutur memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang sama; (2) hadirnya orang ketiga; (3) ada yang dirahasiakan; (4) adanya perbedaan status sosial; (5) perbedaan topik pembicaraan; dan (6) penciptaan jarak sosial. alih kode, komunikasi, bilingualisme  
DIGITALISASI TEKS LISAN BAHASA DHAO : Sebuah Metode Dokumentasi dan Revitalisasi Modern Jermy Imanuel Balukh
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 18 (2011): September 2011
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.661 KB)

Abstract

Makalah ini membahas perihal revitalisasi bahasa Dhao, sebuah bahasa dengan sekitar 3000 penutur di Pulau Ndao, Provinsi NTT. Pembahasan difokuskan pada pemanfaatan dan digitalisasi teks lisan untuk berbagai tujuan. Agar teks lisan dapat dimanfaatkan, maka digunakan teknologi digitalisasi – perekaman, anotasi, penyuntingan, dan lain-lain. Hasilnya, konstruksi kalimat, tataurut kata, intonasi, data leksikal dan berbagai expresi diperoleh secara alamiah. Untuk tujuan pendidikan, maka dilakukan penyuntingan rekaman yang nantinya menyertai teks tertulis hasil transkripsi. Dengan digitalisasi, upaya pengembangan ranah dan fungsi bahasa Dhao dapat tercapai. Transmisi bahasa pun tidak hanya mengandalkan kemampuan para penutur, melainkan pengalaman berbahasa secara alamiah yang terdokumentasi dengan baik. 
NOMINAL AND VERBAL IN DIALECT SASAK KUTO-KUTE BAYAN, WEST LOMBOK REGENCY: DESCRIPTION AND ANALYSIS I Ketut Warta
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 18 (2011): September 2011
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.845 KB)

Abstract

Kehidupan dan bahasa merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan antara kehidupan dan bahasa sangat erat sehingga setiap bangsa dan etnis memiliki bahasa sendiri yang digunakan oleh penuturnya . Di Lombok, Nusa Tenggara Barat terdapat bahasa Sasak g digunakan oleh oleh masyarakat Sasak. Bahasa Sasak mendapat perhatian khusus para linguis. Banyak penelitian telah dilakukan untuk menggambarkan karakteristik bahasa Sasak. Sebuah penelitian mengatakan bahwa adanya potensi konflik antaretnik penutur bahasa yang berbeda karena faktor penggunaan bahasa. Dikatakan bahwa miskomunikasi menyebabkan kesalahpahaman, dan kesalahpahaman disebabkan oleh kurangnya pengetahuan linguistik. Pemahaman yang baik terhadap sebuah bahasa merupakan siati keharusan karena hal itu bisa menghindarkan konflik. Sebuah penelitian untuk menggambarkan dan menganalisis nominal dan verbal dialek sasak Kuto-Kute sangat diperlukan. Penelitian ini merupaka suatu upaya untuk menggambarkan dan menganalisis dialek verbal dan nominal sasak Kuto-Kute di Kabupaten Bayan, Kabupaten Lombok barat. Ini adalah penelitian deskriptif dan eksploratif. Empat siswa sasak, asli dialek Kuto-Kute diwawancarai untuk memperoleh data. Mereka mampu berbicara bahasa dengan baik, memiliki organ berbicara yang normal, tamatan sekolah dasar, berusia sekitar 20-40 tahun, dan tinggal di luar pulau Lombok. Data dikumpulkan melalui studi observasi, wawancara dan kepustakaan. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Penelitian ini menghasilkan proses morfologi pada nominalisasi dan verbalisasi yang melibatkan penggunaan prefiks (7), infiks (1), dan akhiran (1) dan 7 simulfixes. Proses morfemis dapat mengubah bentuk dan arti dari morfem bebas. Dan morfem diidentifikasi sebagai bebas dan terikat.
KALIMAT MAJEMUK SETARA BAHASA BALI BERUNSUR TIGA KLAUSA: KAJIAN KESETARAAN KLAUSANYA Ida Ayu Putu Aridawati
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 18 (2011): September 2011
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.716 KB)

Abstract

Kajian kesetaraan klausa ini membahas sifat kesetaraan klausa dalam kalimat majemuk setara. Masalah kesetaraan ini dipilih karena pembicaraan mengenai kalimat majemuk setara selalu diasumsikan bahwa sifat kesetaraan klausa selalu sejenis, yaitu setara mutlak. Pada kalimat majemuk setara yang berunsur dua klausa, konstruksi klausa-klausanya dibangun setara mutlak. Namun, pada kalimat majemuk setara bahasa Bali yang berunsur tiga klausa, kesetaraan klausanya tidak selalu bersifat mutlak (tidak sejenis). Kesetaraan dapat bersifat mutlak atau berjenjang bergantung pada ada tidaknya penggugusan yang membedakan sifat keunsurlangsungan klausanya. Jika setiap klausa diturunkan dari simpul yang sama, kesetaraannya bersifat mutlak. Sebaliknya, jika setiap klausa tidak diturunkan dari simpul yang sama, kesetaraan menjadi berjenjang (bergugus).      
PROSES DERIVASI DALAM BAHASA BIAK Christ Fautgil
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 18 (2011): September 2011
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (51.321 KB)

Abstract

Bahasa Biak adalah salah satu bahasa Austronesia yang luas sebarannya di bagian utara Papua dengan jumlah penutur kurang lebih 50.000 – 70.000 orang. Bahasa ini memiliki proses derivasi yang unik karena (1) hanya terdapat  pada verba dan adjektiva yang berubah menjadi nomina, (2) pada umumnya verba dan adjektiva yang memiliki dua sampai tiga suku kata, (3) proses derivasi berkaitan dengan suku kata, (4) derivasi kata terjadi dengan penggabungan morfem <a> dalam suku kata dengan berbagai alomorf, (5) hasil proses derivasi berbentuk reduplikasi atau pengulangan yang rumit namun di balik itu ada keteraturan, terutama pada kata-kata yang bersuku satu dan dua.    

Page 1 of 1 | Total Record : 10