cover
Contact Name
Markus T. Lasut
Contact Email
lasut.markus@unsrat.ac.id
Phone
+6285298070889
Journal Mail Official
jurnal.asm@unsrat.ac.id
Editorial Address
Jurnal Aquatic Science & Management, Gedung A Lantai 1, Pascasarjana, Universitas Sam Ratulangi, Jln. Kampus UNSRAT Bahu, Manado 95115, INDONESIA
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT
ISSN : 23374403     EISSN : 23375000     DOI : https://doi.org/10.35800/jasm.v10i1.37485
Journal of AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT publishes scientific articles of original research based on in-depth scientific study in the field of aquatic science and management, covering aspects of limnology, oceanography, aquatic ecotoxicology, geomorphology, fisheries, and coastal management, as well as interactions among them.
Articles 139 Documents
DNA extraction and amplification of the rbcL (ribulose-1,5-bisphosphate carboxylase/oxygenase large subunit) gene of red seaweed Gracilaria sp. from Bahoi Waters, North Minahasa Regency Hengkengbala, Irvan R; Gerung, Grevo S; Wullur, Stenly
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 6, No 2 (2018): October
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.6.2.2018.24836

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Ekstraksi DNA dan Amplifikasi gen rbcL(ribulose-1,5-bisphosphate carboxylase/oxygenase large subunit) Alga Merah Gracilaria sp. dari Perairan Desa Bahoi, Kabupaten Minahasa Utara The quality of DNA extraction and gene amplification in algae are influenced by several factors includingthe characters and components of the algal cell wall. Therefore, extraction procedure that successfully works in one species of algae mayfail for another type of algae.  The present study was aimed to examine several DNA extraction techniquesand rbcL (ribulose-1,5-bisphosphate carboxylase/oxygenase large subunit)gene amplifications of Gracilaria sp. collected inBahoi, North Minahasa (126043’48’’N 12501’33”E). DNA genom of Gracilariasp. was extracted using conventional method (CTAB, Cetyltrimethyl ammonium Bromide), and commercial extraction kits (innuPrep Plant DNA Kit and Geneaid Genomic Plant Mini Kit). Amplification of rbcLgene employed 2 primers (rbcL-aF; ATGTCACCACAAACAGAGACTA AAGC, rbcL-aR; GTAAAATC-AAGT CCACCRCG, and rbcL-1F ATGTCACCACAAACAGAAAC, rbcL-724R TCGCATGTA-CC TGCAGTAGC under 2 different annealing temperatures (45 and 500C). Genomic DNA of Gracilariasp. was successfully extracted using Geneaid DNA Mini Kit (Plant) indicated by a DNA band on the agarose gel. RbcLgene of Gracilaria sp. could be amplified using primer 1F-724R and annealing temperature at 500C indicated bya sharp DNA band at 300-400 bp (1kb marker, Solis Biodyne) as a partial amplification of the target gene.Kualitas hasil ekstraksi DNA dan amplifikasi gen pada alga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah karakter dan komponen penyususun dinding sel alga itu sendiri. Oleh karena itu, prosedur ekstraksi yang berhasil dilakukan pada pada satu jenis alga dapat saja gagal dilakukan untuk jenis alga lainnya.  Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji beberapa teknik ekstraksi DNA dan kondisi amplifikasi gen rbcL(ribulose-1,5-bisphosphate carboxylase/oxygenase large subunit) pada alga jenis Gracilariasp. dari perairan Bahoi, Minahasa Utara (126043’48’’N 12501’33”E).  Ekstraksi DNA Gracilaria sp. dilakukan menggunakan metode konvensional (CTAB, Cetyltrimethyl ammonium Bromide), dan menggunakan kit ekstraksi komersil (innuPrep Plant DNA Kitdan Geneaid Genomic Plant Mini Kit). Amplifikasi gen rbcLdilakukkan menggunakan 2 pasang primer (rbcL-aF; ATGTCACCACAAACAGAGACTA AAGC, rbcL-aR; GTAAAATCAAGTCCACCRCG, dan rbcL-1F ATGTCACCACA AACAGAAAC, rbcL-724R TCGCATGTACCTGCAGTAGC dan 2 kondisi suhu annealingberbeda(45 dan 500C). DNA genom alga (Gracilariasp.) dapat diekstraksi menggunakan prosedur Geneaid DNA Mini Kit (Plant) yang ditandai adanya pita DNA pada gel agarose. Gen rbcLof Gracilaria sp. dapat diamplifikasi menggunakan pasangan primer rbcL1F dan 724R pada suhu annealing 500C yang ditandai dengan adanya pita DNA tebal pada posisi sekitar 300-400 bp (1kb marker, Solis Biodyne).  Munculnya pita DNA target pada posisi tersebut mengindikasikan keberhasilan amplifikasi gen target secara parsial.
The effect of light intensity of blinking LED toward coral fishes catch of trap in the waters of Ternate Island Ammari, Janhar Al
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 1, No 1 (2013): April
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.1.1.2013.1967

Abstract

Using blinking Light Emiting Diode (LED) could increase the fishing power of bottom traps. The objective of this research was to study the effect of light intensity of LED (blinking lamp) inside the trap and moon phase toward the capture of coral fishes. Three light intensities of LED were used: 35 lux (2 LED), 70 lux (4 LED), 105 lux (6 LED) and one without blinking lamp as a control. Catch data were collected using 12 units of bottom traps operating in coral waters of Ternate Island at depths around 5 to 7 m.Data analysis wasdone based on randomized block design. The catch was 181 fish in total comprising 12 families, 17 genera and 28 species. Analysis of variance showed that using different light intensity of LED on bottom traps and different moon phase caused highly significant effect in catch. Least significant differences test showed that using light intensity 105 lux (6 LED) inside the trap is not significant in catch to 70 lux (4 LED), but highly significant to 35 lux (2 LED) and control. Light intensity 70 lux (4 LED) is not significant in catch to 35 lux (2 LED), but highly significant to control. There was no significant difference between light intensity 70 lux (4 LED) and control. Catch of trap could increase when using higher light intensity of blinking lamp (LED) and the catch of trap also increase when operated around dark moon. It is better to use high light intensity of blinking lamp (105 lux) inside the trap, and operated in dark moon to catch coral fishes© Penggunaan lampu LED (Ligh Emiting Diode) berkedip didalam bubu diduga dapat meningkatkan kemampuan tangkap. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh intensitas cahaya lampu LED berkedip di dalam bubu dan fase umur bulan terhadap hasil tangkapan ikan-ikan karang. Tiga jenis intensitas cahaya lampu yang digunakan, yaitu 35 lux (2 LED), 70 lux (4 LED), 105 lux (6 LED), dan lampu LED tanpa berkedip sebagai kontrol. Data dikumpulkan dengan mengoperasikan 12 unit bubu di perairan karang Pulau Ternate pada kedalaman sekitar 5–7 m; dan dianalisis berdasarkan Rancangan Acak Kelompok. Hasil tangkapan total sebanyak 181 ekor; terdiri dari 15 famili, 25 genus, dan 35 jenis. Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perbedaan intensitas cahaya lampu LED dalam bubu dan perbedaan fase umur bulan berpengaruh sangat nyata terhadap hasil tangkapan. Hasil uji BNT untuk perlakuan menunjukkan bahwa penggunaan lampu 6 LED (105 lux) pada bubu tidak berbeda nyata dengan penggunaan lampu 4 LED (70 lux) tetapi berbeda sangat nyata dengan penggunaan lampu 2 LED (35 lux) dan Kontrol. Demikian juga lampu 4 LED tidak berbeda nyata dengan lampu 2 LED tetapi berbeda sangat nyata dengan Kontrol; sedangkan antara lampu 2 LED dan Kontrol tidak ada perbedaan yang nyata. Hasil tangkapan bubu meningkat ketika menggunakan lampu kedip dengan intensitas yang lebih tinggi; dan dioperasikan pada saat bulan gelap. Sebaiknya menggunakan lampu LED berkedip 105 lux dan dioperasikan saat bulan gelap untuk menangkap ikan-ikan karang dengan bubu©
Ina sua, a fermented salted fish product from central Moluccas Nara, Selfia; Ijong, Frans; Suwetja, I K; Onibala, Hens
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 1, No 2 (2013): Oktober
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.1.2.2013.7279

Abstract

Ina sua is a traditional fermented salted fish product originating from Central Mollucas (Teon, Nila, Serua islands), which is processed by fermentation at room temperature during a certain period. There is little or no research on the characteristics of microbial and chemical aspects of this process. Therefore the current research was performed in a laboratory in order to analyse the microbial and chemical characteristics of this product collected from traditional fishermen. The results showed that the composition of bacteria consisted of Bacillus sp.(59.6%), Propionibacterium sp. (17.3%), Leuconostoc sp. (13.5%), and Lactobacillus sp. (9.6%), while the chemicals included soluble protein, peroxide value, and total value acid  increased during storage for 12 weeks at room temperature, while pH value of the product varied between 5.58 and 5.93. Ina sua adalah produk fermentasi ikan asin tradisional yang berasal dari Maluku Tengah (Pulau Teon, Nila, dan Serua) dimana dalam  proses fermentasi dilakukan dalam suhu ruang selama waktu tertentu. Penelitian mengenai karakteristik mikrobiologis dan biokimiawi produk ini belum banyak dilakukan. Oleh karena itu dilakukan pengujian untuk menganalisis karakteristik mikrobiologi dan biokimia terhadap produk ini yang diperoleh dari nelayan tradisional. Hasil penelitian menunjukkan komposisi bakteri yang diperoleh yaitu Bacillus sp. (59,6%), Propionibacterium sp. (17,3%), Leuconostoc sp. (13,5%), dan Lactobacillus sp. (9,60%), sementara untuk nilai karakteristik kimia protein terlarut, bilangan peroksida dan nilai total asam mengalami peningkatan selama 12 minggu penyimpanan pada suhu ruang, sedangkan nilai pH mengalami perubahan dari 5,58 menjadi 5,93.
Physical evaluation on freshwater crayfish, Cherax quadricarinatus, feed using several gluten materials Khartiono, Lady D.; Sampekalo, Julius; Mingkid, Winda M.
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 2, No 1 (2014): April
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.2.1.2014.12410

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Uji fisik pakan lobster air tawar, Cherax quadricarinatus, yang menggunakan beberapa bahan perekat The objective of this study was to evaluate the physical parameters of feed for freshwater crayfish (Cherax quadricarinatus) using different glutens. This study used a completely randomized design with four treatments and three replications. Treatment A was feed with starch gluten, treatment B was feed with sago gluten, treatment C was feed with seaweed gluten and treatment D was a commercial feed (control). ANOVA showed that the treatments gave a significant effect (P <0.05) on the breaking rate in the water, sinking speed, homogeneity, and hardness. The results showed that feed using seaweed gluten is very good to use. Feed with starch gluten was also better than feed of sago gluten. However, for sinking speed, control diet and starch gluten-based feed were faster than that of seaweed gluten. The result for water quality analysis including temperature, pH, DO and ammonia during the study showed tolerable ranges for freshwater crayfish. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara fisik pakan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) yang menggunakan beberapa bahan perekat. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan A pakan dengan bahan perekat kanji, perlakuan B pakan dengan bahan perekat sagu, perlakuan C pakan dengan bahan perekat rumput laut dan perlakuan D adalah pakan komersil (kontrol). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa antara perlakuan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecepatan pecah pakan dalam air, dispersi pakan, kecepatan tenggelam, homogenitas, dan tingkat kekerasan. Pakan dengan bahan perekat rumput laut sangat baik untuk digunakan. Pakan dengan bahan perekat tepung kanji juga lebih baik dibandingkan pakan berbahan perekat sagu. Tetapi untuk kecepatan tenggelam pakan kontrol dan pakan berbahan perekat kanji lebih cepat dibandingkan pakan berbahan perekat rumput laut. Hasil analisis kualitas air meliputi suhu, pH, DO dan amonia selama penelitian menunjukkan masih dalam batas kisaran yang bisa ditoleransi lobster air tawar.
Analysis of the business pattern and tuna fishing season in the Southeast Minahasa Regency, North Sulawesi Province Suprianto, Dedy; Budiman, Jhonny; Dien, Heffry V
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 5, No 2 (2017): October
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.5.2.2017.24565

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Analisis pola usaha dan musim penangkapan ikan tuna di Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi UtaraThis study was aimed to analyze the condition of the tuna fishery business pattern practiced by tuna fishermen and analyze the effort and the exploitation rate for fishing season determination. Data collection was done in Belang District, Southeast Minahasa Regency, for 5 months. The study was descriptive using primary and secondary data. Business pattern was determned using the interactive models of analysis and fishing season applied Average Percentage Methods based on Time Series Analysis. Results showed that fishermen in Southeast Minahasa Regency used the fishing boat owner to bear the operational cost under low selling. Tuna fishing season in Maluccas Sea, based on catches landed in the fishing port of Belang, occurred October to January and May to March because of good weather condition and high fish stock availability in the raft, while famine season occurred in in June to September because of bad weather, difficulty to operate the gear and low tuna stock. As a conclusion, in the famine season the fishermen in Southeast Minahasa Regency applied operational costs borne by the boat owner, but in the fishing season, it became a shared cost through revenue sharing. Tuna fishing season occurred in October to January.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi perikanan tuna guna mengetahui pola usaha yang dijalankan oleh nelayan tuna dan menganalisis upaya penangkapan serta tingkat pemanfaatan guna mengetahui musim penangkapan ikan tuna. Pengambilan data dilakukan di Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara, selama 5 (lima) bulan, Penelitian ini bersifat deskriptif, dengan penggunaan data primer dan sekunder. Selanjutnya data tersebut di analisis untuk mengetahui pola usaha nelayan tuna dengan menggunakan motode interactive model of analysis, sedangkanpola musim penangkapan ikan dianalisis menggunakan Metode Persentase Rata-rata yang didasarkan pada Analisis Runtun Waktu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nelayan Kabupaten Minahasa Tenggara menggunakan pola usaha dengan sistem pembiayaan ditanggung oleh pemilik dengan harga jual ikan rendah kepada pemilik perahu. Musim penangkapan ikan tuna di laut Maluku berdasarkan hasil tangkapan yang didaratkan di pelabuhan perikanan belang terjadi pada bulan Oktober sampai Januari dan Mei sampai Maret ini karena cuaca lebih baik dan ketersediaan ikan banyak di rakit, sedangkan musim pecaklik terjadi pada bulan Juni hingga September karena cuaca yang buruk, kesulitan untuk mengoperasikan alat tangkap, serta kurangnya ikan tuna di rakit. Sebagai kesimpulan, nelayan Kabupaten Minahasa Tenggara menggunakan pola usaha dengan sistem biaya operasional menjadi beban pemilik disaat musim peceklik, sedangkan pada musim ikan pola pembagian hasil dijalankan dengan biaya operasional menjadi beban bersama. Musim penangkapan ikan tuna terjadi pada bulan Oktober sampai Januari.
The use of β-glucan extracted from baker’s yeast (Saccharomyces cerevisiae) to increase non-specific immune system and resistence of tilapia (Oreochromis niloticus) to Aeromonas hydrophila Jamal, Ida N; Tumbol, Reiny A; Mangindaan, Remy E.P
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2288

Abstract

Motile Aeromonas Septicaemia disease (MAS) attacking tilapia has increased in recent years as a consequence of intensive aquaculture activities, which led to losses in aquaculture industry. The agent causing MAS disease is Aeromonas hydrophila. The disease can be controlled with the β-glucan. As immunostimulants, β-glucans can also increase resistance in farmed tilapia. Studies on the use of β-glucan extracted from baker's yeast Saccharomyces cerevisiae was intended to evaluate the non-specific immune system of tilapia that were challenged with Aeromonas hydrophila. The method used was an experimental method with a completely randomized design consisting of four treatments with three replicats. The dose of β-glucan used as treatments were 0 mg.kg-1 fish (Control), 5 mg.kg-1 fish (B), 10 mg.kg-1 fish (C) and 20 mg.kg-1 fish (D), each treatment as injected three times at intervals of 3 days, the injection volume of 0.5 ml/fish for nine days and resistance surveillance for seven days. The results showed that the difference in the amount of β-glucan and the frequency of the injected real influence on total leukocytes, phagocytic activity and resistance. Total leukocytes, phagocytic activity and resistance to treatment was best achieved by the administration of C a dose of  10 mg.kg-1 of the fish© Penyakit Motil Aeromonas Septicaemia (MAS) yang menyerang ikan nila mengalami peningkatan selama beberapa tahun terakhir sebagai konsekuensi dari kegiatan akuakultur intensif, yang menyebabkan kerugian dalam industri budidaya. Agen utama penyebab penyakit MAS adalah Aeromonas hydrophila. Untuk mengendalikan penyakit tersebut dapat dilakukan dengan pemberian β-glukan. Sebagai imunostimulan, β-glukan juga dapat  meningkatkan resistensi pada ikan nila yang dibudidayakan. Pengkajian mengenai pemanfaatan β-glukan yang diekstrak dari ragi roti Saccharomyces cerevisiae dimaksudkan untuk menguji sistem imun non spesifik ikan nila yang diuji tantang dengan bakteri Aeromonas hydrophila. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan. Dosis β-glukan  yang digunakan sebagai perlakuan sebesar 0 mg.kg-1 ikan (Kontrol), 5 mg.kg-1 ikan (B), 10 mg.kg-1 ikan (C) dan 20 mg.kg-1 ikan (D), masing-masing perlakuan diinjeksi sebanyak 3 kali dengan interval waktu 3 hari selama 9 hari, volume injeksi 0,5 mL/ekor ikan dan pengamatan resistensi selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan jumlah β-glukan dan frekuensi pemberian yang diinjeksikan memberikan pengaruh nyata terhadap total leukosit, aktivitas fagositosis dan resistensi. Total leukosit, aktivitas fagositosis dan resistensi terbaik dicapai pada perlakuan C dengan dosis 10 mg.kg-1 ikan©
The use of fish dryer to improve the quality of dry salted anchovy (Stolephorus heterolobus) during storage Daeng, Ruslan A.; Onibala, Hens; Agustin, Agnes T.
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 4, No 2 (2016): Oktober
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.4.2.2016.14448

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Penggunaan alat pengering ikan untuk meningkatkan mutu ikan teri (Stolephorus heterolobus) asin kering selama penyimpanan Dried salted fish processing, in general, is still traditional, since it is drying directly without using a dryer so that the resulting product can be easily damaged and quickly contaminated by bacterial decay. The use of fish dryers to be one solution in addressing the problems in the processing of fishery products such as dried salted fish. The purpose of this study was to look at the benefits of using fish dryers to the quality of dried salted fish products from various storing methods. Results showed that during 1, 2, and 3 months storage of dryer-based salted fish, total TPC and total fungi were still in the quality standards condition and below the threshold. Panelist’s assessment reflected that organoleptic appearance, odor, flavor, and consistency of the dryer-based salted fish products still met standards established by National Standard of Indonesia. Jenis usaha pengolahan ikan asin kering, pada umumnya, masih bersifat tradisional melalui penjemuran langsung tanpa menggunakan alat pengering sehingga produk, yang dihasilkan, mudah rusak dan cepat terkontaminasi oleh bakteri pembusuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat manfaat penggunaan alat pengering ikan (tipe bongkar pasang) terhadap nilai mutu dari produk ikan teri asin kering, yang dihasilkan dengan berbagai metode penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total TPC dan total kapang ikan teri asin kering, yang dikeringkan menggunakan alat pengering, masih sesuai dengan standar mutu dan jauh dari ambang batas. Hasil penilaian panelis terhadap nilai organoleptik kenampakan, bau, rasa, dan konsistensi pada produk ikan teri asin kering, yang dikeringkan dengan menggunakan alat pengering, secara keseluruhan, masih sesuai dengan standar mutu organoleptik yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia (SNI).
Determination of core zone of marine sanctuary in Bahoi Village, North Minahasa Regency Tasidjawa, Sonny; Mandagi, Stephanus V; Lasabuda, Ridwan
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 1 (2013): Mei
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2013.2271

Abstract

Bahoi village is located in West Likupang District of North Minahasa Regency. It is one of the villages that is included in the conservation network of North Sulawesi Province. A marine sanctuary has been established in this village in 2003 and it has been managed by local community, known as community-based marine sanctuary management, since then, this sanctuary has been in operation. As a small community-based marine protected area with lots of users, it requires an appropriate method to determine the Core Zone that allows an effective preservation of the marine biota. This is the driving factor of this study.  The purpose of this study is to examine the processes and output of determining the core zone of a Marine Sanctuary using a conventional method and Marxan Method. The conventional method is a simple method in determining a core zone such as using manta tow technique. While Marxan, it only requires input of data such as spatial and figures to generate information for determining the core zone. After comparing the processes of these two methods in the study site, it was found that Marxan method was more effective and more accurate with lower costs than the conventional one. In addition, the final decision of the core zone depended on the outcome of the village meetings when the conventional method was applied. This long process could be avoided when Marxan method was used. Therefore, it is highly recommended to use Marxan in determining core zones© Desa Bahoi terletak di Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara. Desa ini merupakan salah satu desa yang masuk dalam jejaringan kawasan konservasi di Provinsi Sulawesi Utara. Sebuah Daerah Perlindungan Laut telah didirikan di desa ini pada tahun 2003 dan dikelolah oleh masyarakat setempat, yang dikenal sebagai pengelolaan Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat, sejak saat itu Daerah Perlindungan Laut ini telah beroperasi. Sebagai Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat yang kecil namun memiliki banyak pengguna, diperlukan metode tepat yang akan menentukan Zona Inti yang memungkinkan pelestarian biota laut menjadi sangat efektif. Ini adalah faktor pendorong dari penelitian. Selanjutnya, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji proses dan hasil penentuan zona inti Daerah Perlindungan Laut dengan menggunakan metode konvensional seperti survei manta tow dan marxan. Metode konvensional adalah metode sederhana dalam menentukan zona inti seperti teknik manta tow. Sedangkan marxan, hanya perlu memasukan data seperti spasial dan angka untuk menghasilkan informasi penentuan zona inti. Setelah membandingkan proses dari dua metode di lokasi penelitian, ditemukan bahwa metode marxan jauh lebih baik dari pada metode konvensional, karena lebih efektif, lebih akurat dengan biaya yang lebih rendah. Selain itu, keputusan akhir dari zona inti tergantung pada hasil rapat desa ketika metode konvensional diterapkan, proses panjang ini dapat dihindari jika metode marxan digunakan©
Economic value analysis of mangrove forest ecosystems in Sorong, West Papua Province Tabalessy, Roger R
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Edisi Khusus 2 (2014): Oktober
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.0.0.2014.7305

Abstract

Coastal areas can either meet the human needs or give great contribution to the development. However, rapid infrastrural development in Sorong, west Papua, has been followed by high demand for mangrove timber and caused mangrove forest degradation due to exploitation. This exploitation could also result from high economic value of the mangrove timber. This study was done to analyze the economic value of mangrove wood utilized by the people to support the development process in Sorong. This study used primary data obtained through interviews and the economic value calculation of mangrove forests. It found that Sorong had mangrove economic value of IDR 165,197,833, 491. Wilayah pesisir selain dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia juga memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan. Cepatnya pembangunan infrastruktur di Kota Sorong diikuti pula dengan tingginya permintaan akan kayu mangrove dan menyebabkan terjadinya degradasi hutan mangrove akibat eksploitasi. Eksploitasi ini disebabkan juga akibat kayu mangrove memiliki nilai ekonomi. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk menganalisis nilai ekonomi kayu mangrove yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kota Sorong dalam proses menunjang pembangunan. Penelitian ini menggunakkan data primer yang diperoleh melalui hasil wawancara dan perhitungan nilai ekonomi hutan mangrove. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai ekonomi ekosistem hutan mangrove yang berada di Kota Sorong adalah Rp165.197.833.491.
Fishing vessel controlling development strategy of marine and fisheries resources monitoring center in Kema Districts, North Minahasa, Indonesia Purnomo, Edi; Manopo, Victoria E.; Karwur, Denny
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 3, No 2 (2015): Oktober
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.3.2.2015.14047

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Strategi pengembangan pengawasan kapal perikanan pos pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara, Indonesia Fishing activities practiced by fishermen or fisheries companies to use the fisheries resources must be balanced with controlling efforts to keep the sustainability of the fisheries and marine resources and to secure the fisheries activities and the livelihood continuity of the fisher communities. SWOT analysis was used to analyze implementation of fishing vessel control. The result was an IFAS matrix score of 4.40 and the EFAS matrix score of 4.20, indicating that the Marine and Fisheries Resources Monitoring Center in Kema has the best opportunity to develop and optimize the power. The right strategies are (a) maintaining service quality in relation to fishing permit issuance, (b) strengthening monitoring community group institution, (c) coordination improvement among law enforcement agencies, (d) improving the human resource capacity in relation to monitoring activities. Aktivitas kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan maupun pengusaha perikanan dalam rangka pemanfatan sumber daya ikan harus diimbangi dengan upaya pengawasan pemanfaatan untuk menjaga kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan, mengamankan usaha perikanan serta melindungi keberlanjutan mata pencaharian masyarakat perikanan. Metode yang digunakan dalam menganalis tingkat pelaksanaan pengawasan kapal perikanan adalah SWOT. Hasil yang diperoleh yaitu matrik IFAS sebesar 4,40 sedangkan total skor matrik EFAS sebesar 4,20. Hal ini mengartikan bahwa Pos Pengawasan Sumber Daya Kelautan Dan Perikanan Kema memiliki kemungkinan yang paling baik untuk dikembangkan dengan mengoptimalkan kekuatan serta memanfaatkan peluang. Strategi yang tepat dalam rangka pengembangan kinerja pengawasan kapal perikanan Pos Pengawasan Sumber Daya Kelautan Dan Perikanan Kema yaitu dengan (a) mempertahankan kualitas pelayanan penerbitan Surat Laik Operasi Kapal Perikanan, (b) Memperkuat kelembagaanKelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS), (c) Meningkatkan koordinasi antar penegak hukum, (d) Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia pengawas perikanan.

Page 4 of 14 | Total Record : 139