cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Geoscience Journal
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Padjadjaran Geoscience Journal adalah suatu jurnal Geologi berskala nasional yang mencakup berbagai pokok persoalan dalam kajian ilmu Geologi. Bidang kajian dalam jurnal ini meliputi Geologi Dinami,Geofisika, Geokimia dan Geothermal, Geomorfologi dan Penginderaan Jauh, Paleontologi, Petrologi dan Mineral, Sedimentologi dan Geologi Kuarter, Stratigrafi, Geologi Teknik dan Geologi Lingkungan serta Hidrogeologi
Arjuna Subject : -
Articles 495 Documents
KARAKTERISTIK BEDROCK PEMBENTUK ENDAPAN NIKEL LATERIT BLOK “X”, PROVINSI SULAWESI SELATAN Aton Patonah, Mega Fatimah Rosana, Ahmad Amiruddin, Daffa Rafli Prinaldi,
Geoscience Journal Vol 8, No 2 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v8i2.57214

Abstract

Lokasi daerah penelitian termasuk dalam area kontrak karya PT. Vale Indonesia, Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasi penelitian merupakan endapan nikel laterit dengan litologi Kelompok Ultramafik (Ku), terdiri dari dunit, lherzolit, harzbugit, wherlit dan batuan ubahan serpentinit. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik batuan dasar (bedrock) endapan nikel laterit hasil observasi lapangan dan petrografi. Litostratigrafi tidak resmi, satuan batuan daerah penelitian terdiri dari Satuan Batuan Dunit, Satuan Batuan Lherzolit, Satuan Batuan Harzburgit, Satuan Batuan Wherlit, dan Satuan Batuan Serpentinit. Secara umum, batuan dasar ini menunjukkan tekstur porfiritik-faneritik dengan komposisi batuan disusun oleh mineral olivin, orthopiroksen, klinopiroksen, sebagai penyusun utama batuan, sementara mineral lainnya, seperti mineral serpentin, opak, oksida, brusit, talk hadir sebagai mineral sekunder maupun aksesoris. Pada beberapa sampel memperlihatkan struktur rekahan berupa vein yang terisi oleh mineral silika maupun serpentin. Mineral serpentin merupakan mineral sekunder, ubahan olivin dan piroksen. Berdasarkan hasil petrografi, bedrock endapan nikel laterit adalah didominasi oleh lherzolit, harzburgit, wherlit, dan dunit yang sebagian mengalami metamorfisme menjadi serpentinit.Kata kunci : Batuan dasar, Ultramafik, Petrografi, Nikel laterit
PENENTUAN UMUR RELATIF BATUAN MENGGUNAKAN FORAMINIFERA BENTONIK BESAR DI DAERAH SEPAKU, KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA, KALIMANTAN TIMUR Lia Jurnaliah, Winantris, Firda Aulya Nisa, Lili Fauzielly,
Geoscience Journal Vol 7, No 4 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i4.53316

Abstract

Foraminifera bentonik besar memiliki persebaran yang luas dan melimpah dengan kecenderungan berevolusi yang sangat cepat. Umur dan lingkungan pengendapan yang menjadi fokus pada korelasi stratigrafi dapat dengan mudah dipelajari dengan bantuan identifikasi jenis foraminifera tersebut. Kalimantan merupakan pulau dengan tektonik geologi yang kompleks memiliki fase perubahan daratan dan lautan yang cukup signifikan. Pembentukan daratan yang diiringi oleh perubahan muka air laut kemudian menjadikan lingkungan hidup foraminifera mengalami perubahan baik dari jenis foraminifera (planktonik atau bentonik) maupun spesies penciri lingkungan nya. Proses penelitian dilakukan dengan metode determinasi dan identifikasi secara kuantitatif pada sayatan tipis batuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi foraminifera bentonik besar guna mengetahui umur dari beberapa sampel di Daerah Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Hasil analisis pada 3 sampel sayatan tipis batuan menunjukkan bahwa terdapat 3 jenis genus foraminifera yang umum diantaranya Lepidocyclina, Amphistegina, dan Miogypsina dengan kelimpahan yang sedikit. Maka dari itu, pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa umur secara umum pada ketiga sayatan ini berada pada Kala Oligosen – Miosen.Kata Kunci : Foraminifera Bentonik Besar, Sayatan Tipis, Sepaku, Kalimantan Timur , Umur Relatif
GEOLOGI DAERAH WALURANMANDIRI DAN SEKITARNYA KECAMATAN WALURAN, KABUPATEN SUKABUMI, PROVINSI JAWA BARAT Adi Hardiyono, Cecep Yandri Sunarie, Fatima Riesma Khansa,
Geoscience Journal Vol 8, No 1 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v8i1.57195

Abstract

Secara geografis Luas daerah pemetaan ini yaitu 25 km2 yaitu 5 x 5 km dan berada pada koordinat 7°10'6"LS - 7°12'51"LS dan 106°34'59 "BT - 106°37'45"BT. Secara administratif, daerah penelitian ini berada dalam Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Termasuk ke dalam Peta Rupa Bumi Indonesia Lembar Ciemas (1208 – 431) dan Lembar Lengkong (1208-432). Daerah ini memiliki lokasi berupa perbukitan vulkanik. Berdasarkan aspek fisiografinya, daerah penelitian termasuk kepada Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat. Pada daerah penelitian dibagi menjadi 3 Satuan Geomorfologi yaitu dataran vulkanik datar, perbukitan structural agak landau, dan perbukitan vulkanik agak curam dan 4 Satuan Lithostratigrafi yaitu satuan batupasir, satuan tuf, satuan breksi vulknaik, satuan lava andesit. Struktur geologi daerah penelitian adalah adanya kekar. Sejarah geologi pada daerah penelitian ini terjadi pada skala waktu yang sama yaitu Miosen Awal, material penyusun daerah penelitian baik material vulkanik ataupun material sedimen memberikan korelasi keselarasan yang berbentuk menjemari dan menandakan keterbentukan satuan pada periode yang sama dengan pengendapan laut dicirikan dengan adanya perulangan lava serta breksi dan tuf bersamaan dengan pasir yang dicirikan adanya sifat karbonat pada yang menandakan lingkungan bawah laut. Penelitian yang dulunya merupakan suatu laut dangkal mengalami proses fase tektonik hingga akhirnya menjadi Pegunungan Selatan Jawa Barat. Potensi geologi didaerah ini terdapat geologi wisata berupa curug gentong dan bahan galian berupa andesit dan juga emas. Potensi kebencaan geologi daerah penelitian yaitu berupa potensi tanah longsor.Kata Kunci: Geologi, Sejarah, Waluranmandiri, Sukabumi, Pegunungan Selatan Jawa Barat
KARAKTERISTIK GEOKIMIA FLUIDA DAN PERKIRAAN TEMPERATUR BAWAH PERMUKAAN PANAS BUMI TEMPERATUR SEDANG DAERAH LARIKE DAN TULEHU KABUPATEN MALUKU TENGAH, PROVINSI MALUKU Agus Didit Haryanto, Johannes Hutabarat, Dewi Gentana, Gabriella Georgina Joktetimera,
Geoscience Journal Vol 7, No 3 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i3.53305

Abstract

Daerah penelitian terletak di Desa Larike, Kecamatan Leihitu Barat dan Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu pulau Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Kedua daerah tersebut dipilih karena memiliki manifestasi panas bumi berupa mata air panas di permukaan. Tujuan penelitian untuk mengaplikasikan metode geokimia fluida untuk mengetahui karakteristik fluida dan perkiraan temperatur bawah permukaan. Metode penelitian menggunakan dua metode yaitu pengamatan di lapangan dan pengolahan data serta analisis data berdasarkan data laboratorium hasil analisis kimia mata air panas terhadap 3 (tiga) sampel mata air (LRK-1, LRK-2, THU-1). Hasil ploting data laboratorium kimia air panas pada diagram segitiga Cl-SO4-HCO3, memperlihatkan mata air memiliki tipe air bikarbonat pada kondisi pheripiral waters. Hasil ploting rasio unsur kimia Cl-Li-B terbentuk pada kondisi absorption of low B/Cl steam mendekati puncak Cl, indikasi Cl yang tinggi diduga sebagai hasil kontaminasi dengan air laut dikarenakan daerah pengambilan sampel berada dekat dengan pantai. Hasil ploting rasio unsur kimia Na-K-Mg, menunjukkan mata air (LRK-1, LRK-2 dan THU-1) berada pada kondisi full equilibrium dengan kandungan Na yang tinggi, mengindikasikan mata air mengalami kesetimbangan penuh ketika terjadi interaksi antara fluida panas dengan batuan sekitar. Berdasarkan hasil perhitungan persamaan geotermometer fluida (air) terhadap sampel mata air panas (LRK-1 dan THU-1), diperkirakan estimasi temperatur bawah permukaan daerah penelitian berkisar antara 109°C - 228°C, dan termasuk dalam sistem panas bumi bersuhu sedang.Kata Kunci:Larike, Tulehu, Karakteristik Fluida Panas Bumi, Perkiraan Temperatur Bawah Permukaan.
PERUBAHAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN BERDASARKAN DATA PALINOLOGI DAERAH PEMALUAN, KECAMATAN SEPAKU, KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA, KAWASAN IBU KOTA NEGARA (IKN) Winantris, Rima Selviani Lukman, Lili Fauzielly,
Geoscience Journal Vol 7, No 3 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i3.53295

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umur dan lingkungan dari sampel batuan di daerah penelitian yaitu daerah Pemaluan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kawasan Ibu Kota Negara (IKN), melalui analisis polen dan spora. Hasil analisis menunjukkan umur daerah penelitian yaitu Oligosen awal−Miosen awal, berdasarkan kemunculan awal Alnipollenites verus dan Scolocyamus magnus. Analisis lingkungan pengendapan menunjukkan adanya perubahan lingkungan pengendapan dari tua ke muda. Lingkungan pengendapan dimulai dari lingkungan rawa gambut ditunjukkan dengan kelimpahan palinomorf lingkungan freshwater peat swamp, kemudian berubah kearah lingkungan brackish water dengan ditemukannya polen mangrove dan backmangrove. Kemudian lingkungan pengendapan berubah kembali kearah rawa gambut seiring dengan tidak ditemukannya polen mangrove dan backmangrove.Kata kunci: Ibu Kota Negara (IKN), Daerah Pamaluan, palinologi, umur, lingkungan pengendapan
POTENSI LIKUEFAKSI BERDASARKAN KRITERIA GEOTEKNIK PADA PESISIR SELATAN KABUPATEN PANGANDARAN, JAWA BARAT Cipta Endayana, Nur Khoirullah., Hafiz Ibnu Fadilah, Farah Destiasari,
Geoscience Journal Vol 7, No 6 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i6.53357

Abstract

Kabupaten Pangandaran Selatan yang terletak di selatan Pulau Jawa diperkirakan mempunyai potensi likuifaksi berdasarkan keterdapatannya beberapa faktor pemicu likuefaksi pada daerah ini, seperti nilai percepatan tanah puncak > 0,1 g pada periode ulang 50 tahun dan secara geologi daerah pesisir kabupaten Pangandaran tersusun oleh Endapan Aluvium yang terdiri lumpur, pasir dan kerikil. Selain itu, riwayat kegempaan pada Kabupaten Pangandaran tergolong intens dalam rentang waktu 1950 hingga 2023 (USGS, 2023). Sehingga, memperkuat potensi terjadinya likuefaksi pada daerah ini. Kondisi geologi daerah penelitian terdiri dari endapan Aluvial (Qa) dan endapan Aluvial dan Qoastal (Qal). Kondisi geologi teknik daerah penelitian terdiri dari tanah pasir, tanah pasir lanauan, tanah lempung lanauan, dan tanah lempung. Analisis potensi likuefaksi secara kuantitatif menggunakan metode Simplified yang dikemukakan oleh Idriss dan Boulanger (2004). Interpretasi data CPT menurut Robertson (1990) pesisir Selatan Kabupaten Pangandaran terdiri dari material pasir, pasir lanauan, lanau, lanau lempungan, dan lempung dengan beberapa titik CPT yang berpotensi likuefaksi. Titik CPT tersebut diantaranya S – 1 pada kedalaman 1,2 m dan 1,8 – 2,2 m, S – 5 pada kedalaman 1,7 – 2 m dan 3 – 3,8 m, S – 7 pada kedalaman 2 – 2,2 m, dan S – 10 pada kedalaman 1,5 – 2 m.Kata Kunci : Pangandaran Selatan, Likuefaksi, Pasir, Aluvium
EVALUASI KARAKTERISTIK BATUAN INDUK BERDASARKAN DATA GEOKIMIA DALAM MENENTUKAN POTENSI HIDROKARBON PADA CEKUNGAN SUMATERA SELATAN Nisa Nurul Ilmi, Edy Sunardi, Nadya Nurmadina Ramadhanti,
Geoscience Journal Vol 8, No 2 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v8i2.57219

Abstract

Penelitian dilakukan pada Cekungan Sumatera Selatan yang terdiri dari 4 (empat) sumur yaitu NR-1, NR-2, NR-3, dan NR-4. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakteristrik geokimia batuan induk seperti kualitas, kuantitas, kematangan material organik pada setiap formasi dengan metode pirolisis Rock – Eval, TOC, dan reflektansi vitrinit. Analisis biomarker menggunakan parameter alkana normal, isoprenoid, sterana, dan triterpana untuk menentukan tingkat kematangan dan organofasies sehingga dapat mengkorelasikan minyak bumi dan batuan induk. Hasil analisis geokimia menunjukkan bahwa formasi yang masuk ke dalam kategori batuan induk efektif (Waples, 1985) yaitu batuan induk yang telah menghasilkan hidrokarbon dengan kuantitas (TOC > 1 % wt) dan sudah matang (Tmax > 435˚ C dan > 0.6 % Ro) adalah Formasi Talang Akar. Hasil analisis biomarker pada minyak bumi dan batuan induk menunjukkan bahwa sampel minyak NR-1 memiliki korelasi positif dengan batuan induknya. Begitu pula pada sampel minyak dan batuan NR-3. Sedangkan, pada NR-4 tidak terdapat sampel batuan induk yang menyebabkan korelasi dilakukan pada sampel NR-1 karena terdiri dari Formasi yang sama. Namun, hasil korelasi negatif akibat perbedaan genetic baik secara asal material organik sampai tingkat kematangan.Kata kunci: Cekungan Sumatera Selatan, geokimia, biomarker, korelasi
KARAKTERISASI AKTIVITAS TEKTONIK BERDASARKAN ANALISIS INDEKS GEOMORFIK DAERAH ALIRAN SUNGAI CIBODAS, GARUT, JAWA BARAT F. Helmi , G.H. Fahira., R.P.D Nugraha, K. Almira, E. Sukiyah,
Geoscience Journal Vol 7, No 5 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v7i5.53321

Abstract

Tatanan tektonik daerah Garut Selatan dipengaruhi oleh aktivitas lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah lempeng Eurasia. Salah satu sesar di daerah ini adalah Sesar Garsela segmen Rakutak - Kencana. Daerah ini juga merupakan klaster gempa dangkal berarah Timur Laut – Barat Daya memanjang dari Bandung Selatan hingga Garut Selatan. Daerah Aliran Sungai (DAS) Cibodas berada di wilayah tersebut. Karakterisasi aktivitas tektonik dapat menggunakan beragam metode, diantaranya adalah berdasarkan analisis indeks geomorfik yang dikeanl sebagai Indeks Aktivitas Tektonik Relatif (IATR). Analisis IATR DAS Cibodas menggunakan 6 indeks geomorfik, yaitu indeks gradien panjang sungai (Sl), faktor asimetri (Af), hipsometri integral (Hi), rasio lebar dan tinggi lembah (Vf), indeks bentuk basin (Bs), serta sinusitas muka gunung (Smf). Pola kelurusan punggungan di daerah ini didominsi oleh arah Barat Daya-Timur Laut. Hasil analisis menunjukkan bahwa DAS Cibodas secara relatif aktivitas tektonik dapat dibagi 3 kelas dengan distribusi sebagai berikut: kelas tektonik tinggi sekitar 15,75% atau 1,84 km2, kelas tektonik menengah sekitar 73,37% atau 8,57 km2, serta kelas tektonik rendah sekitar 10,89% atau 1,27 km2. Berdasarkan kisaran IATR tersebut disimpulkan bahwa DAS Cibodas dikontrol oleh tektonik dengan aktivitas rendah sampai tinggi.Kata kunci: DAS Cibodas, Indeks Geomorfik, IATR, Garut Selatan, Sesar Garsela
STUDI PENDAHULUAN ENDAPAN EPITERMAL SULFIDA TINGGI PADA DAERAH BAKAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW, PROVINSI SULAWESI UTARA Cecep Yandrie Sunarie, Farrel Gibran, Aton Patonah,
Geoscience Journal Vol 8, No 4 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v8i4.61654

Abstract

Daerah penelitian terletak di Daerah Bakan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik endapan epitermal sulfida tinggi di daerah penelitian dengan melalui observasi lapangan Hasil pemetaan geologi menunjukan bahwa daerah penelitian terdiri atas litologi lava andesit, tuf, breksi vulkanik dan breksi diatrem. Berdasarkan hasil observasi lapangan, daerah penelitian terbagi menjadi lima zona alterasi, yaitu zona kuarsa (vuggy) + alunit, zona kuarsa (masif) + alunit, zona alunit + mineral lempung + kuarsa, zona mineral lempung, dan zona klorit + epidot. Alterasi pada daerah penelitian terindikasi terbentuk pada kondisi fluida hidrotermal yang asam ditandai dengan kehadiran mineral alterasi berupa alunit serta ditemukan kuarsa bertekstur vuggy. Mineral bijih pada daerah penelitian terdiri dari mineral sulfida pirit yang hadir secara terdiseminasi pada batuan dan mineral oksida berupa hematit, gutit, dan jarosit. Daerah penelitian menunjukan indikasi epitermal sulfida tinggi.Keywords: Geologi, alterasi, mineralisasi, epitermal sulfida tinggi
MODEL SPASIAL KERENTANAN LAHAN TERHADAP POTENSI TSUNAMI DI KECAMATAN MALINGPING, CIHARA, DAN PANGGARANGAN, KABUPATEN LEBAK, BANTEN Aton Patonah, Cecep Yandri Sunarie, Rizky Firmansyah,
Geoscience Journal Vol 8, No 3 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v8i3.61611

Abstract

Ancaman tsunami dari serangkaian gempa yang berpusat di dasar Samudra Hindia kian mengintai daerah pesisir selatan Pulau Jawa, tak terkecuali Kecamatan Malingping, Kecamatan Cihara, dan Kecamatan Panggarangan di Kabupaten Lebak, Banten. Salah satu instrumen untuk mengurangi dampak dari potensi risiko tersebut adalah model spasial kerentanan lahan yang diwujudkan melalui sebuah peta. Parameter yang digunakan untuk menganalisis tingkat kerentanan tsunami adalah jarak dari garis pantai, ketinggian lahan, kemiringan lereng, dan jarak dari alur sungai. Kerentanan dihitung dengan metode weighted overlay analysis, menghasilkan kelas kerentanan dari sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, hingga sangat tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area dengan kerentanan tinggi dan sangat tinggi menempati 12,44 persen dari total wilayah penelitian. Area ini berpotensi mengalami kerusakan paling tinggi karena berada dekat dengan laut dan sempadan sungai, serta memiliki nilai topografi dan lereng yang rendah. Berdasarkan sebarannya, Kecamatan Malingping adalah yang paling rentan sehingga baiknya mendapatkan prioritas dalam pengembangan strategi menghadapi risiko tsunami. Kata kunci: Kerentanan lahan, tsunami, Malingping, Cihara, Panggarangan

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 4 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 9, No 1 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 4 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 3 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 2 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 1 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 6 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 5 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 4 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 3 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 4 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 3 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 2 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 1 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 6 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 5 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 4 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 3 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 2 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 1 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 6 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 4 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 3 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 2 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 1 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 6 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 3 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 2 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 1 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 6 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 5 (2018): Padjadjaran Geoscience Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal More Issue