cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Geoscience Journal
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Padjadjaran Geoscience Journal adalah suatu jurnal Geologi berskala nasional yang mencakup berbagai pokok persoalan dalam kajian ilmu Geologi. Bidang kajian dalam jurnal ini meliputi Geologi Dinami,Geofisika, Geokimia dan Geothermal, Geomorfologi dan Penginderaan Jauh, Paleontologi, Petrologi dan Mineral, Sedimentologi dan Geologi Kuarter, Stratigrafi, Geologi Teknik dan Geologi Lingkungan serta Hidrogeologi
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
STUDI GEOKIMIA BATUAN INDUK AKTIF PRA-TERSIER CEKUNGAN AKIMEUGAH, LEPAS PANTAI PAPUA SELATAN Yoga A. Sendjaja, Yusi Firmansyah, Yudha Situmorang, Baharianto Irfree,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.494 KB)

Abstract

Kebutuhan akan energi fosil di Indonesia selalu bertumbuh setiap tahunnya. Tingkat produksi minyak dan gas dalam negri tahun ke tahun tidak mampu mengimbangi permintaan akan energy fosil tersebut. Hal ini disebabkan karena 80% dari produksi minyak dan gas saat ini berasal dari cekungan – cekungan yang ada di Indonesia kawasan barat. Padahal 71 dari 128 cekungan yang ada di Indonesia berada di wilayah timur Indonesia. Program eksplorasi yang intensif intensif akan sangat penting untuk menemukan akumulasi hidrokarbon yang baru khususnya di wilayah Indonesia timur. Cekungan Akimeugah salah satu cekungan yang berada di wilayah timur Indonesia yang berasosiasi dengan cekungan - cekungan di Australia yang sudah berproduksi hidrokarbon. Cekungan Akimeugah berkembang sejak Paleozoikum hingga Tersier. Hasil evaluasi geokimia pada batuan induk pra-tersier formasi Woni – wogi dan Aiduna menunjukkan kekayaan material organik mencapai 3.45%. Kualitas material organik didominasi oleh tipe kerogen III (Gas Prone). Kedua formasi ini juga telah memasuki jendela kematangan dengan nilai Ro 0.47% - 1.01% (Belum matang – Akhir Matang). Pemendaman kala neogen, berperan aktif dalam mematangkan sediment pra-tersier pada cekungan ini. Data ini menunjukkan bahwa Cekungan Akimeugah memiliki petroleum system yang bekerja dan eksplorasi lebih lanjut dibutuhkan untuk menemukan cadangan hidrokarbon di cekungan ini.Kata Kunci : Batuan Induk Aktif, Cekungan Akimeugah, Formasi Woni – wogi, Formasi Aiduna, Geokimia
STUDI LITOFASIES DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN FORMASI HALANG PADA LINTASAN SUNGAI CIWARU, MAJALENGKA, JAWA BARAT Yusi Firmansyah, Muhamad Zaldi Nova F,Abdurrokhim,
Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.628 KB)

Abstract

Secara geologi Bantarujeg terdiri dari beberapa formasi, tetapi lintasan penelitian yaitu Sungai Ciwarumerupakan bagian dari Formasi Halang. Formasi Halang merupakan salah satu formasi yang terendapkandilingkungan pengendapan laut dalam. Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui Fasies yangmungkin terbentuk, intepretasi lingkungan pengendapan, asal sedimen dan proses yang terjadi didalamnya. Analisis fasies dan lingkungan pengendapan dilakukan dengan metode measure section padalintasan Sungai Ciwaru. Untuk mengetahui asal sedimen dilakukan analisis point counting pada 6 sampelbatuan di Sungai Ciwaru. Hasil penelitian terdapat 14 jenis fasies yang dikelompokan menjadi 5kelompok (fasies A-E), setiap kelompok mewakili ukuran butir yang berbeda. Terdapat 5 asosiasi fasiesyang dapat membantu dalam intepretasi lingkungan pengendapan, yaitu proximal canyon/channel fill (AF1), middle-fan channel (AF 2), distributary channel (AF 4), proximal levee (AF 3), sandylobe (AF 5).Dari hasil asosiasi fasies diatas dapat di intepretasikan litasan sebagian Sungai Ciwaru terdiri dariendapan upperfan – middle fan. Studi lithofasies, lingkungan pengendapan dan juga asal sedimen merepresentasikan sejarah sedimentasi,intepretasi proses sedimentasi didasarkan dari kenampakan batuan yang tersingkap didasari oleh teori danpercobaan terdahulu. Hasil dari analisi lithofasies dan lingkungan pengendapan menghadirkan sebuahintepretasi proses sedimentasi dengan faktor internal maupun eksternal dalam suatu lingkunganpengendapan yang mempengaruhi karakteristik batuan yang terbentukKata Kunci: Bantarujeg, Sungai Ciwaru, Fasies, Asosiasi Fasies, Lingkungan Pengendapan, FormasiHalang.
ANALISIS FASIES DAN PETROFISIKA FORMASI TALANG AKAR SUB-CEKUNGAN JAMBI SUMATERA SELATAN Vijaya Isnaniawardhani,Yusi Firmansyah, Andriansyah Permana, Faisal Helmi,
Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.811 KB)

Abstract

Pada penelitian ini digunakan data well logging dari tiga sumur eksplorasi di daerah Sub-cekungan Jambi, Sumatera Selatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui lingkungan pengendapan Formasi Talang Akar sehingga dapat mengetahui gambaran kualitas dari reservoir berdasarkan karakteritik tekstur pada lingkungan pengendapan hasil analisis fasies yang kemudian dibuktikan dengan data petrofisikanya sebagai data kuantitatif reservoir tersebut. Untuk penentuan lingkungan pengendapan dilakukan analisis fasies dari elektrofasies dan lithofasies. Dari elektrofasies diperoleh bentuk kurva log gamma ray Bloky,Bloky Serrated, Funnel, Funnel Serrated, Bell, dan Bell Serrated. Kemudian diperoleh juga lithofasies yang pada umumnya pada bagian bawah setiap sumur tersusun atas batupasir konglomratik sampai batupasir sangat kasar dan pada bagian atas tersusun atas batulempung dengan keterdapatan lapisan batubara dan batugamping sebagai sisipan. Berdasarkan analisis tersebut ditentukan lingkungan pengendapan pada Formasi Talang Akar yaitu berada pada lingkungan darat (fluvial) sampai transisi (estuarine). Analisis kuantitatif berupa perhitungan petrofisika ini dilakukan dengan bantuan perangkat lunak, dalam perhitungan volume shale rumus yang digunakan adalah rumus linear, perhitungan porositas dan saturasi air menggunakan metode Dual Water, dan perhitungan permeabilitas digunakan rumus Timur. Hasil petrofisika ini menunjukan adanya reservoir pada Formasi Talang Akar dengan porositas dan permeabilitas baik-istimewa.Kata Kunci : Lingkungan pengendapan, Reservoir, Formasi Talang Akar
ZONASI ALTERASI PADA TAMBANG TERBUKA GRASBERG PB9S3, KABUPATEN MIMIKA, PAPUA Agus Didit Haryanto, Firman Sumarwan, Kurniawan, Yonathan Kristiawan B, Mega F. Rosana,
Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1814.165 KB)

Abstract

Daerah penelitian secara administratif berada di Distrik Grasberg, Kecamatan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Metoda yang digunakan dalam penelitian yaitu pemetaan lapangan pada tambang terbuka Grasberg dengan meninjau aspek-aspek keselamatan, analisa petrografi menggunakansayatan tipis, dan analisa spectral device, dengan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik alterasi yang berkembang di tambang terbuka Grasberg. Litologi daerah penelitian dikelompokan menjadi dua, yaitu Intrusi Andesit Fragmental dan Intrusi Diorit. Alterasi yang berkembang pada daerah penelitian dibedakan atas alterasi kuarsa-biotit-magnetit-anhidrit, alterasi kuarsa, alterasi k-feldspar-biotit-kuarsa-anhidrit, alterasi kuarsa-biotit-aktinolit-anhidrit.Kata Kunci : Alterasi, Grasberg, Intrusi
DISTRIBUSI FORAMINIFERA BENTONIK RESEN DI PERAIRAN SUMBA NUSA TENGGARA TIMUR PurnaSulastya Putra,Septriono Hari Nugroho, Rahmi Susti, Abdurrokhim, Lia Jurnaliah
Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.624 KB)

Abstract

Tujuh sampel sedimen permukaan diambil di Perairan Sumba, Nusa Tenggara Timur untuk mengetahui distribusi foraminifera bentonik resen yang dilihat dari asosiasi sampel dan asosiasi spesies. Metode yang digunakan berupa analisis foraminifera secara kuantitatif sebanyak 300 individu dari setiap sampel. Dalam pengelompokkan asosiasi sampel dan spesies digunakan analisis kluster dengan speies yang mempunyai persentase = 5%. Hasil penelitian menunjukan terdapat 16 spesies dari total 59 individu. Distribusi kelimpahan foraminifera bentonik mengalami peningkatan jumlah individu ke arah timur dan mengalami penurunan jumlah individu ke arah barat – selatan (Samudera Indonesia). Hasil pengelompokkan menunjukan adanya tiga asosiasi sampel, yaitu: asosiasi A dengan spesies dominan Hanzawaia grossepunctata, berada pada lingkungan laut dangkal sampai dalam zona batimetri paparan tengah – batial bawah; asosiasi B dengan spesies dominan Bolivina Robusta, berada pada lingkungan dalam zona batimetri batial atas – batial bawah; asosiasi C dengan spesies dominan Hyalinea florenceace, berada pada lingkungan laut dangkal sampai dalam zona batimetri paparan tengah – batial bawah. Sedangkan untuk asosiasi spesies terdapat dua asosiasi, yaitu: asosiasi Bolivina dengan dan asosiasi Hyalinea. Distribusi asosiasi Bolivina menunjukkan hubungan dengan asosiasi A dan B. Sedangkan asosiasi Hyalinea memiliki hubungan dengan asosiasi C. Kata Kunci: Foraminifera bentonik, distribusi, Perairan Sumba, asosiasi sampel, asosiasi spesies
SIMULASI LERENG STABIL BERDASARKAN PENGARUH TINGGI MUKA AIR TANAH TERHADAP FAKTOR KEAMANAN LERENG (STUDI KASUS RUAS JALAN MENUJU GEOPARK CILETUH, KECAMATAN CIEMAS, SUKABUMI, JAWA BARAT) Agung Mulyo, Rizky Rizal Chairy, Zufialdi Zakaria
Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.253 KB)

Abstract

Curah hujan yang tinggi mempengaruhi infiltrasi air terhadap tanah. Dengan masuknya air ke dalamtanah, dapat mempengaruhi kadar air dalam tanah. Air tanah ini dapat mempengaruhi kestabilanlereng dan dapat menyebabkan terjadinya longsor. Hal ini yang menyebabkan terjadinya longsor diJalan Cipeucang, Kecamatan Ciemas, Sukabumi. Simulasi dilakukan dengan bertujuan untukmengetahui pengaruh kedalaman muka air tanah sehingga dapat diketahui rekomendasi muka airtanah agar lereng tetap dalam keadaan stabil. Penghitungan kestabilan lereng menggunakan metodeLimit Equilibrium dengan menggunakan metode Bishop. Limit Equilibrium ini menghitung faktorkeamanan lereng berdasarkan batas keseimbangan antara gaya pendorong dan gaya penahan. Setelahmelakukan pengolahan data melalui software Rocscience Slide, berdasarkan metode Bishop, lerengLR-2A dapat dikatakan stabil apabila kedalaman muka air tanah > 5,72m. Kata kunci: kestabilan lereng, simulasi, muka air tanah, faktor keamanan, Ciemas
KARAKTERISTIK ALTERASI BAWAH PERMUKAAN SUMUR RA WILAYAH KERJA PANASBUMI WAYANG WINDU, PANGALENGAN, JAWAB BARAT Aton Patonah, Ali Auza., Regista Arrizki,Ildrem Syafri,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (888.096 KB)

Abstract

Sumur RA merupakan salah satu sumur produksi milik PT. Star Energy Geothermal Indonesia yang terletak di Wilayah Kerja Panasbumi (WKP) Wayang – Windu, Pangalengan, Jawa Barat. Penelitian ini difokuskan pada studi alterasi dari sumur penelitian dengan menerapkan metode analisis petrologi yang akan memberikan hasil berupa zona mineral alterasi meliputi litologi, jenis mineral alterasi, tipe alterasi, temperatur dan fluida pembentukan mineral alterasi, dan korelasi temperatur antara geotermometer mineral alterasi dengan temperatur terukur sumur RA. Data yang digunakan dalam penelitian meliputi conto serbuk bor (cutting), data XRD, dan data temperatur terukur. Zona mineral alterasi pada sumur RA dari kedalaman dangkal hingga lebih dalam terdiri dari zona smektit-illit-kaolinit dan zona kloritsmektit. Zona smektit-ilit-kaolinit berada pada kedalaman 57-843 MD pada litologi lava andesit, tuf kristal, tuf litik, dan andesit. Zona smektit-illit-kaolinit bertindak sebagai zona penudung, termasuk ke dalam tipe alterasi argilik, pH fluida asam mendekati netral, kisaran temperatur berdasarkan geotermometer mineral 100°-<200°C dan 33°-167°C menurut temperatur terukur sumur. Zona kloritsmektit berada pada kedalaman 843-1150 MD pada litologi andesit, bertindak sebagai zona transisi karena keterdapatan klorit bersamaan dengan smektit, memiliki tipe alterasi sub-propilitik, pH fluida netral, kisaran temperatur berdasarkan geotermometer mineral >200°C dan 167°-250°C menurut temperatur terukur sumur.Kata kunci: Zona alterasi mineral, litologi, mineral alterasi, tipe alterasi, temperature, fluida
ANALISIS FASIES FORMASI CITALANG, KABUPATEN SUMEDANG, JAWA BARAT Yusi Firmansyah, Sony Hartono, Gilang Ramadhan,
Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1345.892 KB)

Abstract

Daerah penelitian berlokasi di daerah Kertaharja, Kecamatan Tanjungkerta dan Buahdua KabupatenSumedang, Jawa Barat. Daerah penelitian terdiri dari Formasi Citalang yang merupakan endapan darat. Penelitian ini terdiri dari analisis fasies fluvial yang bertujuan untuk mengetahui arsitektural elemen fluvial pada daerah penelitian. Hal ini penting mengingat lingkungan pengendapan fluvial memiliki arsitektural elemen yang  geometri dan karakteristik batuannya berbeda satu sama lain. Analisis ini dilakukan dengan melakukan deskripsi batuan, log singkapan, melakukan penampang stratigrafi terukur, dan analisis petrografi yang kemudian mengasilkan interpretasi dan peta fasies fluvial serta prediksi dari arsitektural elemen fluvial daerah penelitian. Hasil dari penelitian dapat digunakan juga sebagai studi reservoir minyak dan gas bumi di daerah fluvial.Kata Kunci : Fasies, Fluvial; Arsitektural elemen
STRUKTUR GEOLOGI DAERAH CIKADONGDONG DAN SEKITARNYA, KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN Iyan Haryanto, Moh. Qo’id Filayati, Aton Patonah,
Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1597.117 KB)

Abstract

Daerah Bayah memiliki kondisi struktur geologi dan tektonik yang cukup kompleks. Pola struktur yang banyak berkembang adalah sesar-sesar mendatar berarah utara-selatan. Data struktur kekar, struktur lipatan, dan struktur sesar menunjukkan bahwa rezim tegasan di daerah penelitian didominasi oleh sistem tegasan yang membentuk sesar-sesar normal dan mendatar. Mengacu pada konsep wrench fault tectonic, sesar-sesar yang ada di daerah penelitian merupakan sesar-sesar mendatar orde pertama dan kedua. Stratigrafi daerah penelitian ini dimulai dari pembentukan batuan metamorf pada umur mesozoikum pada tepi kontinen sundaland. Pada kala miosen batuan sedimen diendapkan diatas batuan dasar metamorf pada cekungan belakang busur. Proses pengendapan terus berlangsung bersamaan dengan proses pengangkatan yang terjadi. Proses pengangkatan terjadi dalam beberapa periode sampai saat ini sehingga membentuk Cekungan Bayah menjadi Bayah Dome.Kata Kunci: Struktur geologi, tektonik, rezim tegasan, Bayah Dome
FASIES DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN FORMASI TALANG AKAR, CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA Febriwan Mohamad, Mualimin, Mochammad Fahmi Ghifarry, Ildrem Syafri,
Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1183.551 KB)

Abstract

Lapangan ‘MFG’ adalah salah satu lapangan penghasil hidrokarbon yang terletak pada Cekungan Jawa Barat Utara. Cekungan Jawa Barat Utara merupakan cekungan belakang busur yang berada di bagian barat laut Pulau Jawa. Objek penelitian berada Formasi Talang Akar, Lapangan ‘MFG’, Cekungan Jawa Barat Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fasies dan lingkungan pengendapan.  Data – data yang digunakan adalah data wireline log pada 2 sumur dan data serbuk bor. Penelitian ini diawali dengan penentuan litofasies didasarkan pada deskripsi data serbuk bor. Batuan inti yang telah dideskripsi divalidasi terhadap log gamma ray. Pola dari log gamma ray dianalisis untuk mengetahui elektrofasies sehingga lingkungan pengendapan dari objek penelitian dapat diinterpretasikan. Fasies yang terbentuk pada daerah penelitian adalah Fasies Interbedded Shale – Coal, Fasies Estuary Shale, Fasies Estuary Sandstone, Fasies Channel Sandstone, Fasies Estuary Mouth Sandstone, dan Fasies Lagoonal Limestone.Paleoenvironment objek penelitian merupakan estuary.  Kata Kunci:  Fasies, Lingkungan Pengendapan, Formasi Talang Akar, Cekungan Jawa Barat Utara

Page 5 of 49 | Total Record : 488


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 1 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 4 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 3 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 2 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 1 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 6 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 5 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 4 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 3 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 4 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 3 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 2 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 1 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 6 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 5 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 4 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 3 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 2 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 1 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 6 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 4 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 3 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 2 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 1 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 6 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 3 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 2 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 1 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 6 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 5 (2018): Padjadjaran Geoscience Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal More Issue