cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Geoscience Journal
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Padjadjaran Geoscience Journal adalah suatu jurnal Geologi berskala nasional yang mencakup berbagai pokok persoalan dalam kajian ilmu Geologi. Bidang kajian dalam jurnal ini meliputi Geologi Dinami,Geofisika, Geokimia dan Geothermal, Geomorfologi dan Penginderaan Jauh, Paleontologi, Petrologi dan Mineral, Sedimentologi dan Geologi Kuarter, Stratigrafi, Geologi Teknik dan Geologi Lingkungan serta Hidrogeologi
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
ANALISIS REKAHAN ALAMI RESERVOIR UNTUK MENGETAHUI KUALITAS SUMUR LAPANGAN JAS, CEKUNGAN SUMATERA SELATAN Iyan Haryanto, Abdurrokhim, Jamal Alaydrus, Jonathan Jason Filbert Jaya,
Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.207 KB)

Abstract

Konsumsi energi mencapai 962 juta Setara Barel Minyak (SBM) pada tahun 2014 (BPPT, 2016). Kebutuhan akan energi yang besar tersebut haruslah diimbangi oleh meningkatnya jumlah cadangan energi itu sendiri. Lapangan JAS yang berada di Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan belakang-busur dengan arah barat laut-tenggara merupakan salah satu lapangan milik Perusahaan ON yang ditemukan pada tahun 1998 dan mulai produksi tahun 2003. Hidrokarbon pada Lapangan JAS selama ini diyakini sebagai hasil dari aktivitas tektonik yang menyebabkan sistem rekahan di dalam reservoir. Karakterisasi rekahan reservoir merupakan studi yang membahas perkembangan, penyebarannya, orientasi, geometri, hubungan dan intensitas dari sesar atau rekahan yang mempengaruhi kualitas reservoir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakter rekahan alami reservoir dan arah pengeboran terhadap nilai maksimum deliverabilitas sumur Lapangan JAS dengan menggunakan analisis data core, well log, seismik 3D, data pengeboran dan Formation Micro Imager Log yang ditunjang dengan beberapa data sekunder yang ikut diolah. Dari pengolahan data diketahui 3 aspek penting dalam interpretasi kualitas sumur pada reservoir yang mengalami rekahan dan interpretasi kualitas sumur di Lapangan JAS. Analisis ini dapat digunakan untuk kedepannya menentukan titik sumur baru Lapangan JAS ataupun lapangan reservoir yang mengalami rekahan dengan hasil produksi maksimal karena sudah diketahui karakter sumur yang baik.Kata kunci: Rekahan, Lapangan JAS, Produksi Maksimum Sumur
PERAN TATAGUNA LAHAN DAN GEOLOGI DALAM ANTISIPASIPOTENSI PENCEMARAN AIR LINDI DI TPA GANET Emi Sukiyah,Johannes Hutabarat, M Arif Syaripuddin,Fery Erawan,
Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.122 KB)

Abstract

Permasalahan sistem TPA sanitary landfill  yang terjadi di lapangan yaitu terdapat rembesan air lindi atau leachate  yang    tidak terkendali dan dikhawatirkan dapat mencemari air tanah beserta lingkungan sekitar jika dibiarkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kawasan yang terkena dampak pencemaran air lindi TPA Ganet di Pulau Bintan. Metodologi yang digunakan berupa observasi lapangan untuk mengetahui karakteristik litologi dan analisis studio untuk mendapatkan informasi spasial. Parameter yang di analisis  berupa tataguna lahan, DAS dan  dikompilasikan dengan peta Hidrogeologi Regional.Berdasarkan pengamatan lapangan, material  penyusun di kawasan sekitar TPA Ganet berupa tanah hasil pelapukan batuan granit dan menurut Peta Hidrogeologi termasuk ke dalam area air tanah langka atau tidak berarti.Berdasarkan morfometri DAS,  TPA Ganet termasuk ke dalam DAS Cidompak. Kemudian dibedakan berdasarkan pembagian sungai orde 3 yaitu DTA Ganet atau Sub-DAS Ganet. Arah aliran sungai dari kawasan TPA Ganet mengalir ke Selatan yang bermuara ke Sungai  Cidompak. Terdapat setidaknya 0.684 km. kawasan pemukiman yang termasuk ke dalam sub-DAS Ganet dan berpotensi tercemar oleh air lindi. Berdasarkan analisis citra satelit ,terlihat beberapa lahan kosong berupa lapangan di sebelah Utara TPA Ganet yang tidak berpotensi terkena dampak air lindi. Salah satu solusi yang didapat yaitu arahan pengembangan pembangunan pemukiman  menuju ke sebelah Utara TPA Ganet dimana daerah tersebut masih terdapat beberapa lahan kosong, selain itu mempercepat studi mengenai karakteristik tanah penutup sanitary landfill yang sesuai sehingga limbah air lindi dapat dikendalikan.Kata Kunci : TPA Ganet, Pulau Bintan, Air Lindi
KARAKTERISTIK BATUAN ASAL PEMBENTUKAN ENDAPAN NIKEL LATERIT DI DAERAH MADANG DAN SERAKAMAN TENGAH Euis Tintin Yuningsih, Luhur Pambudi H., Adi Kurniadi, Mega Fatimah Rosana,
Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2377.371 KB)

Abstract

Salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan endapan nikel laterit adalah batuan asal. Pokok permasalahan yang akan di bahas pada penelitian ini adalah di fokuskan pada karakteristik batuan asalnya yaitu pada batuan ultrabasa berdasarkan intensitas serpentinisasinya, mineral penyusunnya, dan geokimia batuan pada sampel outcrop di lapangan serta kaitannya dengan potensi lateritisasi endapan nikel pada data sekunder yaitu pada data pemboran di daerah Madang dan Serakaman Tengah, Pulau Sebuku,Kalimantan Selatan. Metode penelitian yang di lakukan adalah dengan studi literatur, pemetaan geologi, analisis petrografi, serta analisis geokimia (elemen major berdasarkan metode X-Ray Fluoresence). Berdasarkan analisis perografi, karakteristik batuan asal pada batuan ultrabasa yaitu intensitasserpentinisasinya dominan tinggi, kemudian mineral utama penyusunnya adalah serpentin, olivine, orthopiroksen, klinopiroksen, mineral opak, dan mineral oksida. Secara geokimia batuan, unsur MgO lebih banyak kelimpahannya dibandingkan dengan unsur CaO dan Al2O3, menunjukan mineral utama nya yaitu olivine dan piroksen. Di interpretasikan pula fraksionasi utamanya adalah mineral olivine dan protolit batuannya di dominansi oleh dunit. Lateritisasi endapan nikel terdapat pada zona saprolit dalam suatu profil endapan nikel laterit. Di daerah Madang dan Serakaman Tengah mempunyai endapan nikel laterit yang cukup baik dan ekonomis meskipun kadar endapan nikel dan ketebalan zona saprolitnyarelatif berbeda-beda.Kata kunci : Batuan asal, serpentinisasi, mineral penyusun, geokimia, endapan nikel laterit
PENURUNAN ANGKA AKTIVITAS MELALUI PENCAMPURAN CaO PADA TANAH VULKANIK, JATINANGOR Raden Irvan Sophian, Aulia E.P.S. Chaniago, Zufialdi Zakaria
Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.282 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan di daerah Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Tanah daerah penelitian merupakan hasil lapukan breksi laharik. Mineral lempung dari hasil lapukan dapat meningkatkan angka aktivitas tanah. CaO merupakan bahan bangunan yang biasa digunakan untuk stabilisasi tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan angka aktivitas dengan penambahan CaO. Uji laboratorium untuk menentukan sifat fisik tanah dilakukan dengan penambahan CaO 5-30% dengan interval 5%. Berdasarkan metode Skempton, 1953 dalam Hunt, 2007, diperoleh angka aktivitas 1,12 yang bersifat aktivitas tinggi, berdasarkan Bowles, 1984. Terjadi perubahan pada angka aktivitas dengan persamaan A = 9,2323CaO2 - 3,4998CaO + 0,7734 pada penambahan CaO. Grafik yang terbentuk, menunjukkan titik minimum penurunan angka aktivitas pada penambahan CaO 20%. Oleh karena itu, penambahan CaO yang disarankan tidak melebihi 20%. Kata kunci: Lempung, angka aktivitas, CaO
GEOMETRI AKUIFER BERDASARKAN DATA HIDROGEOLOGI DAN GEOFISIKA DAERAH CEKUNGAN AIRTANAH MUARABUNGO PROVINSI JAMBI M.Nursiyam Barkah,Bombom Rachmat Suganda, Martin Arisandi,Sapari Dwi Hadian,
Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.19 KB)

Abstract

Berdasarkan letak geografis, daerah penelitian terletak pada 101027 31,4856" BT - 101052 33.312" BT dan 00 53 49.3152" LS - 1053 49.3152" LS. Sementara secara administratif, daerah penilitian ini termasuk ke Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi.Penelitian daerah ini ditujukan untuk mengetahui posisi akuifer pada kedalaman tertentu serta mengetahui kondisi bawah permukaan berdasarkan hasil pengukuran geolistrik dengan metoda geolistrik Schlumberger.Hasil penelitian adalah berupa nilai resistivitas batuan yang kemudian diinterpretasikan menjadi kurva, penampang, dan peta resistivitas tiap kedalaman.Kemudian dikorelasikan dengan data geologi dan hidrogeologi sehingga bisa menjadi model geometri akuifer.Berdasarkan nilai tahanan jenisnya, batuan yang ada mempunyai nilai tahanan jenis berkisar antara 0 hingga lebih dari 6000 Ohm.meter dengan ketebalan bervariasi. Distribusi sebaran batuan pada kedalaman 0 m, 5 m, 10 m, 25 m, 50 m, 75 m, 100 m, dan 125m. Terdapat 8 penampang geolistrik yaitu penampang AB, penampang CD, penampang EF, penampang GH, penampang IJ, penampang KL, penampang MN dan penampang OP. Kata Kunci :Geometri akuifer, Cekungan Air tanah, Hidrogeologi, Muarabungo, Jambi. 
ASAL SEDIMEN FORMASI CILETUH DI TELUK CILETUH, KABUPATEN SUKABUMI Abdurrokhim, Yoga A. Sendjaja, Reynaldo Sudithio, Mega F. Rosana,
Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.273 KB)

Abstract

Secara administratif, daerah Ciletuh dan sekitarnya, termasuk kedalam wilayah Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Terletak di Zona Pegunungan Selatan, menurut pembagian fisiografi oleh Van Bemmelen (1949). Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui asal material penyusun Formasi Ciletuh. Analisis petrografi dilakukan terhadap tiga belas sampel batupasir Formasi Ciletuh dan sembilan sampel dianalisis menggunakan metode perhitungan titik oleh Gazza – Dickinson (Ingersoll, dkk, 1984) dengan menghitung total 520 titik. Hasil analisis yang dilakukan, diketahui batupasir Formasi Ciletuh termasuk dalam jenis Lithic Arenite, Sublitharenite, Quartz Wacke, dan  Lithic Wacke. Hasil perhitungan jumlah butir Kuarsa, Feldspar, dan Fragmen batuan menunjukkan bahwa komposisi material batupasir Formasi Ciletuh berasal dari Craton Interior dan Recycled Orogenic. Hal ini mengindikasikan bahwa hasil dari kompleks subduksi purba berpengaruh besar terhadap asal material – material penyusun batupasir Formasi Ciletuh. Material penyusun tersebut didominasi oleh fragmen batuan beku dan batuan sedimen. Adapun dari struktur sedimen yang ditemukan, lingkungan pengendapan Formasi Ciletuh, berada pada wilayah palung hingga wilayah delta (shallow marine). Batuan sumber yang terendapkan pada lingkungan palung sepanjang zona subduksi adalah batuan beku asam dan basa tepi kontinental dan tepi samudra, serta sedimen laut dalam. Sedangkan batuan sumber yang terendapkan pada lingkungan pengendapan delta adalah batuan beku asam, yaitu granit yang diyakini berasal dari kontinental, yaitu Sumatra (bagian dari Sundaland). Kata kunci : Asal material, Batupasir, Formasi Ciletuh, Lingkungan pengendapan, Struktur sedimen.
PENGARUH AKTIVITAS TANAH TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI DANGKAL DI DAERAH DAGO GIRI KABUPATEN BANDUNG BARAT, PROVINSI JAWA BARAT Agung Mulyo, Fahrizal Ajie, Zufialdi Zakaria,
Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.029 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan di Daerah Dago Giri Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat ProvinsiJawa Barat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi geologi teknik serta aktivitas tanah danpengaruh terhadap nilai daya dukung tanah fondasi dangkal. Tanah permukaan termasuk jenis CH(lempung plastisitas tinggi), ML (lanau plastisitas rendah) dan SP (pasir bergradasi buruk). Analisislaboratorium pada kedalaman 1,5 - 2 m tanah pada daerah penelitian secara umum tergolong MH(lanau plastisitas tinggi) dan SM - SC (pasir lanauan - pasir lempungan). Daya dukung tanah (qa)untuk fondasi menerus (continuous) berkisar antara 18.69 sampai 89.61 T/m2. Hubungan antara nilai daya dukung tanah (qa) yang diijinkan untuk fondasi dangkal jenis menerus (continuous) dengan angka aktivitas (A) memperlihatkan hubungan negatif dengan koefisien korelasi (r= - 0.485). Daya dukung tanah menurun sejalan dengan peningkatan aktivitas tanah.Kata Kunci : Dago Giri, Geologi teknik, Daya dukung tanah, Aktivitas tanah
KONTROL STRUKTUR TERHADAP MINERALISASI PADA DAERAH NORTH WEST DI AREA TAMBANG BATU HIJAU, PT. NEWMONT NUSA TENGGARA Iyan Haryanto, Eddy Priowasono, Taufiqul Hafizh, Aton Patonah,
Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.577 KB)

Abstract

Dalam proses alterasi dan mineralisasi, struktur geologi sangat bereperan dalam menyediakan jalur dan tempat untuk larutan hidrotermal mengendap. Semakin banyak struktur yang berkembang, maka kemungkinan semakin banyak juga cadangan endapan bijih yang akan terbentuk. Anomali – anomali kadar Cu dan Au pada muncul zona sesar Bromo, Merapi dan Katala pada daerah North West Tambang Batu Hijau PT. Newmont Nusa Tenggara merupakan salah satu bukti struktur geologi berperan penting dalam proses mineralisasi dan alterasi. Tujuan dari penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui struktur apa saja yang berkembang dan apa pengaruhnya terhadap mineralisasi khusunya endapan tembaga dan emas. Metode pengumpulan data dilakukan dengan mengukur struktur yang berkembang pada daerah North West dengan Sesar Bromo, Merapi, dan Katala sebagai acuan utama. Data yang dikumpulkan adalah data kekar, sesar dan vein, kemudian data penyebaran tembaga dan emas. Hasil pengukuran struktur menunjukan bahwa, secara umum kekar, urat dan sesar yang berkembang didominasi oleh arah yang relatif orientasi barat laut – tenggara dengan arah kemiringan ke arah barat daya, yaitu dengan kemiringan rata – rata diatas 50o. Urat yang ditemukan berupa urat kuarsa, urat kuarsa-kalkopirit, dan urat kuarsa-pirit. Sesar Bromo, Merapi dan katala memotong seluruh struktur dan batuan pada tambang Batu Hijau. Penyebaran rata – rata nilai kadar tembaga pada daerah penelitian dibawah 0,5%, sedangkan penyebaran rata – rata kadar emas pada daerah penelitian dibawah 0,3 g/t. Hasil overlay antara penyebaran struktur dan anomali Cu dan Au yang muncul menunjukan bahwa, irisan antara struktur dan anomali Cu dan Au pada berada pada bagian hanging wall dari sesar Merapi, zona sesar Merapi dan zona sesar Katala. Anomali yang muncul berasosiasi dengan sesar minor yang terisi oleh hancuran feldspar dan tembaga, dengan arah relatif barat laut - tenggara, memiliki kemiringan 400-700  ke arah barat daya, kemudian berasosiasi dengan struktur Riedel P-Shear, R’antythetic dan X-fracture.  Hal ini dapat di interpretasikan bahwa, kemunculan anomali dipengaruhi oleh perkembangan pola struktur riedel yang berkembang pada mineralisasi akhir terjadi. Struktur bukaan riedel diperkirakan menjadi wadah atau tempat terbentuknya mineralisasi.Kata kunci : Sesar Bromo, Sesar Merapi, Sesar Katala, Struktur Riedel, alterasi
Karakteristik Geokimia Organik Formasi Talang Akar pada Graben Bandar Agung dan Tanjung Miring, Sub-Cekungan Palembang Selatan: Implikasinya Pada Paleodepositional Setting dan Potensi Generasi Hidrokarbon Yoga Andriana Sendjaja, Yara Regina, Ildrem Syafri,
Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1350.082 KB)

Abstract

Formasi Talang Akar Pada Graben Bandar Agung dan Tanjung Miring, Sub-Cekungan Palembang Selatan evaluasi menggunakan data geokimia dari dua puluh sampel sedimen (cuttings) dari empat sumur eksplorasi untuk analisis batuan induk meliputi kuantitas, kualitas, dan kematangan. Penelitian lebih lanjut menggunakan tiga ekstrak batuan yang dianalisis menggunakan metode geokimia molekular terdiri atas n-alkana, isoprenoids, terpana, dan sterana untuk mengetahui karakteristik geokimia organik, asal material organik, paleodepositinal setting, dan potensinya untuk menggenerasikan hidrokarbon. Berdasarkan hasil analisis geokimia organik, Formasi Talang Akar pada Graben Bandar Agung dan Tanjung miring memiliki kekayaan material organik good sampai excellent dengan tingkat kematangan early mature sampai peak mature. Sampel batubara pada Graben Tanjung Miring dan sampel batulempung pada Graben Bandar Agung merupakan bagian dari Formasi Talang Akar Bawah yang diendapkan pada lingkungan fluvio-deltaic dibawah kondisi suboksik sampai oksik dan kontribusi dominan dari tumbuhan tingkat tinggi. Sedangkan, sampel batulempung serpih Formasi Talang Akar pada Graben Tanjug Miring diinterpretasikan merupakan bagian dari Formasi Talang Akar Atas yang diendapkan pada lingkungan delta/laut dangkal dibawah kondisi suboksik sampai oksik dengan kontribusi dominan dari alga laut. Jenis material organik pada batuan induk berasosiasi dengan tipe kerogen dan jenis hidrokarbon tertentu yang digenerasikan dari suatu batuan induk, menunjukkan sampel Formasi Talang Akar yang memiliki nilai Indeks Hidrogen (HI) dibawah 200 mg HC/g TOC (kerogen tipe III) berpotensi tinggi untuk menggenerasikan hidrokarbon jenis gas, sedangkan sampel yang memiliki nilai HI lebih tinggi dari 200 mg HC/g TOC hanya dapat meggenerasikan minyak bumi dalam jumlah yang terbatas. Kata kunci: Geokimia organik, Paleodepositional setting, Formasi Talang Akar, Generasi Hidrokarbon
POLA PERTUMBUHAN BATUAN KARBONAT LAPANGAN KANCIL INTERVAL“MID MAIN CARBONATE” FORMASI CIBULAKAN ATAS, CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA Febriwan Mohammad, Gilang Anugrah Pribadi, Ildrem Syafri,
Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.176 KB)

Abstract

Interval Mid Main Carbonate pada Lapangan “Kancil” merupakan interval target pada penelitian ini. Termasuk kedalam bagian dari Formasi Cibulakan Atas, Cekungan Jawa Barat Utara. Cekungan Jawa Barat Utara terletak di barat laut Jawa dan meluas sampai lepas pantai utara Jawa. Cekungan Jawa Barat Utara secara regional merupakan sistem busur belakang (back arc system) yang terletak diantara lempeng mikro sunda dan tunjaman lempeng  India-Australia (Narpodo, 1996). Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan batuan karbonat berdasarkan parameter sikuen stratigrafi. Data – data yang digunakan adalah data wireline log pada 2 sumur , data serbuk bor, data batuan inti dan data lintasan seismik. Penelitian ini dimulai dengan interpretasi litofasies berdasarkan pada deskripsi data serbuk bor dan batuan inti. Kemudian melakukan analog terhadap interval yang tidak mempunyai data batuan inti melalui respon log gamma ray. Selanjutnya melakukan penentuan parasikuen pada setiap sumur untuk mengetahui kronostratigrafinya dan melakukan analisis bentuk pertumbuhanan batuan karbonat berdasarkan gambaran citra seismik. Secara umum pertumbuhan batuan karbonat memiliki pola yang sama, diawali oleh pola keep-up carbonate (Miall, 2010) pada parasikuen 1 , catch-up carbonate pada parasikuen 2 dan drowning atau give-up carbonate pada parasikuen 3.   Kata Kunci : Cekungan Jawa Barat Utara, Formasi Cibulakan Atas, Mid Main Carbonate, Sikuen 

Page 6 of 49 | Total Record : 488


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 1 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 4 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 3 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 2 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 1 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 6 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 5 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 4 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 3 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 4 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 3 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 2 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 1 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 6 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 5 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 4 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 3 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 2 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 1 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 6 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 4 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 3 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 2 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 1 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 6 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 3 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 2 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 1 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 6 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 5 (2018): Padjadjaran Geoscience Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal More Issue