ABSTRACT The increasing intensity of communication in digital spaces has not necessarily been accompanied by stronger linguistic ethics. The prevalence of impolite expressions, verbal conflicts, irresponsible information sharing, and declining sensitivity toward human dignity reflects a gap between communicative competence and moral awareness in language use. Against this backdrop, this study examines the concept of qawlan in the Qur’an to explore how the scripture provides an ethical foundation for communication that remains relevant to contemporary society. Employing a qualitative library research approach, the study analyzes Qur’anic verses containing the concept of qawlan as primary sources, supported by classical and contemporary exegetical literature, and further compares the findings with Robin Lakoff’s politeness theory and Joseph DeVito’s effective communication theory. The analysis reveals that qawlan sadīdan, qawlan ma‘rūfan, qawlan karīman, qawlan balīghan, qawlan maysūran, and qawlan layyinan constitute an integrated framework of communication ethics encompassing honesty, respect, propriety, effectiveness, empathy, and gentleness. These findings suggest that communication from a Qur’anic perspective is not merely directed toward successful message delivery but also toward character formation, the preservation of human dignity, and the cultivation of moral integrity and spiritual responsibility. Therefore, the concept of qawlan may be understood as a model of ethical communication that enriches contemporary communication discourse through the integration of social, moral, and spiritual dimensions within a unified conceptual framework. ABSTRAK Meningkatnya intensitas komunikasi di ruang digital tidak selalu diikuti oleh menguatnya etika berbahasa. Fenomena ujaran tidak santun, konflik verbal, penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab, serta melemahnya sensitivitas terhadap martabat orang lain menunjukkan adanya kesenjangan antara kemampuan berkomunikasi dan kesadaran moral dalam menggunakan bahasa. Berangkat dari persoalan tersebut, penelitian ini menelaah terminologi qawlan dalam Al-Qur’an untuk memahami bagaimana kitab suci tersebut membangun fondasi etika komunikasi yang relevan dengan kehidupan kontemporer. Kajian dilakukan melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan menempatkan ayat-ayat yang memuat konsep qawlan sebagai sumber utama, kemudian ditafsirkan melalui literatur tafsir dan dianalisis secara komparatif dengan teori kesantunan Robin Lakoff serta teori komunikasi efektif Joseph DeVito. Hasil analisis memperlihatkan bahwa qawlan sadīdan, ma‘rūfan, karīman, balīghan, maysūran, dan layyinan membentuk suatu sistem etika komunikasi yang mengintegrasikan kejujuran, penghormatan, kepantasan, efektivitas, empati, dan kelembutan dalam satu kesatuan nilai. Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi dalam perspektif Al-Qur’an tidak hanya diarahkan pada keberhasilan penyampaian pesan, tetapi juga pada pembentukan karakter, perlindungan martabat manusia, serta penguatan integritas moral dan tanggung jawab spiritual. Oleh karena itu, konsep qawlan dapat dipahami sebagai model komunikasi beradab yang memperluas diskursus komunikasi modern melalui integrasi dimensi sosial, moral, dan spiritual secara utuh.