Fitri Kurniasari
Pharmacy Program, Faculty Of Pharmacy, Universitas Setia Budi, Surakarta, Central Java

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Uji Antiinflamasi Ekstrak Daun Andong Merah (Cordyline Fruticosa L. A Cheval) terhadap Tikus Model Induksi Karagenan: Anti-inflammatory Test of Red Andong Leaf Extract (Cordyline Fruticosa L. A Cheval) in the Rat Model of Carrageenan-Induced Jena Widyasti; Fitri Kurniasari
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 7 No. 02 (2024): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijpnp.v7i02.3310

Abstract

Inflammation is a reaction to stimulation by harmful agents, infection, trauma, or tissue injury. One plant that has anti-inflammatory properties is red andong leaves. The chemical content of Andong leaf extract, which has anti-inflamatorry activity, is flavonoids. This study aims to determine the anti-inflammatory activity of ethanol extract of red andong leaves on carrageenan-induced white rats and determine the effective dose. Testing of the anti-inflammatory activity was carried out using 25 white rats as test animals and divided into 5 treatment groups, namely group 1 (diclofenac sodium dose 4.5 mg/kgBW), group II (Na CMC 0.5%), group III (extract dose 100 mg/kgBW), group IV (extract dose 200 mg/kgBW), group V (extract dose 400 mg/kgBW). After 30 minutes of administering the extract and comparator, the experimental animals were injected with carrageenan. Then, the rat leg volume was measured after 1 hour of injection, starting from the 1st to the 6th hour. The results of anti-inflammatory activity test observations were carried out by determining the percentage of inflammation in the rats' feet. The effective dose in the anti-inflammatory activity test was an extract dose of 200 mg/kgBW, which had inflammation percentage results that were comparable to the positive control.   ABSTRAK Peradangan adalah reaksi terhadap rangsangan agen berbahaya, infeksi, trauma, atau cedera pada jaringan. Salah satu tanaman yang memiliki khasiat antiinflamasi yaitu daun andong merah. Kandungan kimia dari ekstrak daun andong yang memiliki aktivitas antiinflamasi yaitu flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun andong merah terhadap tikus putih yang diinduksi karagenan dan mengetahui dosis efektifnya. Pengujian aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan menggunakan hewan uji tikus 25 ekor dibagi dalam 5 kelompok perlakuan yaitu kelompok I kontrol negatif (Na CMC 0,5 %), kelompok II kontrol positif (natrium diklofenak dosis 4,5 mg/kg BB), kelompok III (ekstrak dosis 100 mg/kg BB), kelompok IV (ekstrak dosis 200 mg/kg BB), kelompok V (ekstrak dosis 400 mg/kg BB). Hewan uji diberikan ekstrak dan pembanding, kemudian disuntik karagenan setelah 30 menit. Setelah penyuntikan, volume kaki tikus diukur setiap jam, dimulai pada jam pertama dan berakhir pada jam ke enam. Hasil pengamatan uji aktivitas antiinflamasi dilakukan dengan menentukan persentase peradangan pada kaki tikus. Dosis efektif pengujian antiinflamasi yaitu ekstrak dosis 200 mg/kgBB yang memiliki hasil persentase peradangan yang sebanding dengan kontrol positif.
Active Compounds, Antioxidant Potential, and Formulation Innovations of Oxalis sp.: A Bibliometric Perspective Fitri Kurniasari; Anita Sukmawati; Andi Suhendi
Jurnal Kefarmasian Indonesia VOLUME 16, NUMBER 1, JUNE 2026
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The genus Oxalis, belonging to the family Oxalidaceae R.Br., comprises approximately 504 recognized species that are widely distributed worldwide, particularly in regions ranging from South America to southern North America, as well as in the southwestern Cape region of South Africa. In Egypt, this genus is represented by five species and one variety, namely Oxalis anthelmintica A. Rich., O. corniculata L., O. corniculata var. repens (Thunb.) Zucc., O. corymbosa DC., O. latifolia Kunth, and O. pes-caprae L. However, information on the isolation and characterization of non-polar and volatile constituents from Oxalis species remains limited. Therefore, this study applied bibliometric analysis to evaluate the development of research on Oxalis sp., particularly regarding antioxidant activity, formulation development, and phytochemical studies. Data were obtained from the Crossref database, resulting in 57 selected articles published between 2015 and 2025. Bibliometric analysis was conducted using VOSviewer to map publication trends, keyword co-occurrence networks, overlay visualization, and influential articles related to Oxalis research. A total of 214 publications from 2015–2025 were analyzed. The results show that 22 keywords were grouped into four clusters, forming 154 links with a total link strength of 962, indicating a well-connected research structure. The dominant research themes focus on antioxidant activity, antibacterial activity, and secondary metabolites, particularly in studies on Oxalis corniculata. However, keywords related to formulation development and advanced phytochemical analysis appear less frequently, suggesting that these areas remain relatively underexplored. These findings provide a systematic overview of the research landscape and highlight potential directions for future studies on the development and application of Oxalis-derived bioactive compounds.
Formulasi Emulgel Minyak Atsiri Biji Pala (Myristica fragrans) dengan Variasi HPMC pada Luka Bakar Derajat II Ariana Ariana; Siti Aisiyah; Fitri Kurniasari
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1160

Abstract

Minyak atsiri biji pala (Myristica fragrans) memiliki aktivitas antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba sehingga berpotensi mempercepat penyembuhan luka bakar. Minyak atsiri bersifat lipofilik sehingga diformulasikan dalam bentuk emulgel yang dapat menghantarkan zat aktif yang sukar larut dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi HPMC terhadap mutu fisik, stabilitas, dan aktivitas sediaan emulgel terhadap penyembuhan luka bakar derajat IIa, serta menentukan formula terbaik. Penelitian diawali dengan identifikasi minyak atsiri biji pala meliputi pemeriksaan organoleptik, berat jenis, indeks bias, kelarutan dalam etanol, dan analisis GC-MS, serta pembuatan sediaan emulgel minyak atsiri biji pala 3% dengan variasi konsentrasi HPMC sebesar 4%, 5%, dan 6%. Evaluasi mutu fisik sediaan emulgel meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, tipe emulsi, diameter globul, dan stabilitas. Data dianalisis menggunakan One Way ANOVA dan dilanjutkan uji post hoc Tukey. Aktivitas penyembuhan luka bakar diuji pada tiga ekor kelinci yang diberikan luka bakar derajat IIa dengan formula berbeda selama 12 hari. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dan dilanjutkan uji Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi HPMC berpengaruh terhadap mutu fisik, stabilitas, dan aktivitas penyembuhan luka bakar sediaan emulgel minyak atsiri biji pala. HPMC 5% menghasilkan sediaan homogen, pH 7,13 ± 0,03, viskositas 13.066 ± 488,8 cPs, daya sebar 6,47 ± 0,23 cm, daya lekat 2,96 ± 0,07 detik, diameter globul < 2 µm, serta stabil selama pengujian. Persentase penyembuhan luka pada hari ke-12 untuk F1, F2, dan F3 masing-masing sebesar 100%, sedangkan kontrol negatif sebesar 77,08%. Formula dengan HPMC 6% menunjukkan kecepatan penyembuhan luka yang lebih tinggi pada beberapa hari pengamatan, namun formula HPMC 5% memberikan keseimbangan mutu fisik, stabilitas, dan efektivitas penyembuhan luka bakar derajat IIa yang paling baik.
Penyuluhan dan Pendampingan Sertifikasi Produk UMKM di Wilayah Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah untuk Meningkatkan Daya Jual Produk Fitri Kurniasari; Jena Hayu Widiyasti; Taufik Turahman; Anita Indrasari; Ismi Puspitasari; Carolina Eka Waty
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 4 (2026): JAMSI - Juli 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.2888

Abstract

Sertifikasi produk merupakan aspek penting dalam meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap kualitas, keamanan, dan legalitas produk, khususnya pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Rendahnya tingkat kepemilikan sertifikasi seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, notifikasi kosmetik, Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), dan sertifikasi halal menjadi latar belakang dilaksanakannya kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan jumlah produk UMKM yang tersertifikasi sehingga dapat meningkatkan daya saing dan nilai jual produk. Metode pelaksanaan meliputi tahapan persiapan, penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan langsung kepada mitra, yaitu pedagang di kawasan Waduk KPW, Desa Ngargorejo, Boyolali. Kegiatan penyuluhan difokuskan pada pentingnya legalitas produk, sedangkan pendampingan dilakukan untuk membantu proses pengurusan sertifikasi secara praktis dan berkelanjutan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata pemahaman peserta dari 37,5% (pre-test) menjadi 73,8% (post-test), atau meningkat sebesar 36,3%. Selain peningkatan pengetahuan, dampak konkret kegiatan ini ditandai dengan keberhasilan 12 UMKM dalam menerbitkan NIB, 8 UMKM yang telah memulai pengajuan sertifikasi halal jalur self-declare, serta 5 UMKM yang menyelesaikan pendaftaran PIRT dan notifikasi kosmetik. Hal ini menegaskan bahwa kombinasi penyuluhan dan pendampingan langsung sangat efektif dalam mendorong kepastian legalitas serta daya saing UMKM secara berkelanjutan
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI KOMBINASI EKSTRAK BIJI JINTAN HITAM (Nigella sativa L.) DAN DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum) TERHADAP BAKTERI Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 Tria Agustina; Ismi Rahmawati; Fitri Kurniasari
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 11 No 1 (2026)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.1191

Abstract

Pseudomonas secara intrinsik resisten terhadap antimikroba dan dapat mengembangkan resistensi selama kemoterapi antipseudomonal yang keduanya membahayakan pengobatan infeksi. Biji jintan hitam mengandung thymoquinone yang telah terbukti menghambat Pseudomonas, sementara daun cengkeh kaya eugenol yang memiliki aktivitas antibakteri signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri kombinasi ekstrak etanol biji jintan hitam dan daun cengkeh terhadap Pseudomonas, serta mengidentifikasi kombinasi tersebut menghasilkan efek sinergis atau antagonis. Penelitian ini menggunakan metode True Experimental Design dengan metode uji difusi cakram dan pita kertas. Uji dilusi digunakan untuk menetapkan nilai KHM dan KBM berdasarkan perbandingan yang paling efektif dalam membunuh bakteri dengan seri pengenceran mulai dari konsentrasi 50%; 25%; 12,5%; 6,25%; 3,12%; 1,56%; 0,78%; 0,39%; 0,19%; 0,09%. Uji difusi dengan kertas cakram menggunakan perbandingan antara (1:1); (1:2); (2:1). Aktivitas antibakteri kombinasi dilakukan uji pola interaksi menggunakan metode pita kertas. Analisis data menggunakan SPSS dengan nilai signifikansi (p> 0,05). Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tidak dapat ditentukan nilai KHM karena ekstrak berwarna gelap. Ekstrak biji jintan hitam memiliki KBM 50% dan daun cengkeh memiliki KBM 50%. Hasil uji difusi pada ekstrak tunggal biji jintan hitam memiliki diameter 20 mm dan daun cengkeh 17,7 mm. Kombinasi (1:1) memiliki diameter daya hambat 14,43 mm, kombinasi (1:2) 17,1 mm dan kombinasi (2:1) 20,43 mm. Aktivitas antibakteri kombinasi biji jintan hitam dan daun cengkeh yang efektif adalah perbandingan (2:1). Pada uji pita kertas hasil yang didapatkan adalah bersifat sinergis.
UJI AKTIVITAS FIBRINOLITIK EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L) DENGAN METODE CLOT LYSIS Apriyana; Ana Indrayati; Fitri Kurniasari
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 11 No 1 (2026)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.1254

Abstract

Ketidakseimbangan sistem hemostasis dapat memicu pembentukan bekuan fibrin yang dapat menyumbat pembuluh darah berisiko menyebabkan gangguan sirkulasi. Daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi untuk meningkatkan plasminogen menjadi plasmin enzim utama dalam proses fibrinolisis yang berperan memecah fibrin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas fibrinolitik dari ekstrak etanol dan fraksi daun belimbing wuluh n-heksana, etil asetat, dan air menggunakan metode clot lysis. Daun belimbing wuluh dilakukan determinasi, diolah hingga menjadi serbuk. Penetapan susut pengeringan serbuk, ekstraksi serbuk dengan etanol 96%, penetapan kadar air ekstrak. Fraksinasi ekstrak dengan pelarut n-heksan, etil asetat dan air. Identifikasi senyawa kimia kromatografi lapis tipis. Uji fibrinolitik menggunakan metode clot lysis sampel darah kelinci dengan kontrol positif nattokinase dan kontrol negatif aquadest 1% tween, ekstrak etanol dan fraksi dibuat variasi konsentrasi 10, 20, dan 30 mg/ml. Pengujian fibrinolitik dengan metode clot lysis variasi konsentrasi 10, 20, dan 30mg/ml ekstrak dan fraksiSenyawa yang diduga memiliki aktivitas fibrinolitik yaitu flavonoid, saponin dan minyak atsiri. Hasil uji menunjukkan aktivitas tertinggi fraksi etil asetat konsentrasi 30mg/ml yaitu 89,72%. Hasil analisis data SPSS (Statistical Package For The Social Science) uji Post-Hoc Tukey menghasilkan fraksi etil asetat 30mg/ml memiliki aktivitas fibrinolitik yang tinggi karena berada pada subset yang sama dengan kontrol positif dan nilai yang didapatkan tidak berada jauh yaitu sebesar 96,54%. Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak etanol daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) serta fraksi n-heksan, etil asetat, dan air, seluruhnya menunjukkan kemampuan fibrinolitik.