Ira Erwina
Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas, Universitas Andalas

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

UPAYA PEMULIHAN KESEHATAN MENTAL PASCABENCANA BANJIR MELALUI SKRINING KESEHATAN MENTAL Rika Sarfika; Nelwati Nelwati; Fitra Yeni; Dewi Eka Putri; Esthika Ariany Maisa; Ira Erwina; Windy Freska; Randy Refnandes
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i3.38837

Abstract

Abstrak: Bencana banjir berpotensi menimbulkan dampak psikologis pada masyarakat akibat tekanan lingkungan dan perubahan kondisi kehidupan pascabencana. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mendukung pemulihan kesehatan mental masyarakat melalui skrining kesehatan mental. Metode yang digunakan meliputi skrining menggunakan instrumen PHQ-9, GAD-7, dan MMYS pada 28 masyarakat dewasa dan 2 remaja dengan mitra Puskesmas Pauh, disertai wawancara singkat dan edukasi kesehatan mental. Evaluasi dilakukan melalui analisis hasil skrining dan observasi partisipasi masyarakat. Hasil menunjukkan 50,0% masyarakat mengalami depresi ringan, 14,3% depresi sedang, dan 17,9% depresi berat. Selain itu, 48,1% masyarakat mengalami kecemasan ringan dan 40,7% kecemasan sedang, dengan tingkat partisipasi mencapai 100%. Skrining kesehatan mental efektif dalam deteksi dini dan meningkatkan kesadaran masyarakat pascabencana. Kegiatan berkelanjutan diperlukan untuk mendukung pemulihan kesehatan mental masyarakat. Abstract: Flood disasters can cause psychological impacts on communities due to environmental stress and changes in post-disaster living conditions. This community service activity aimed to support mental health recovery through mental health screening. The methods included screening using PHQ-9, GAD-7, and MMYS instruments among 28 adults and 2 adolescents in collaboration with the Pauh Public Health Center, accompanied by brief interviews and mental health education. Evaluation was conducted through analysis of screening results and observation of community participation. The results showed that 50.0% of participants experienced mild depression, 14.3% moderate depression, and 17.9% severe depression. In addition, 48.1% experienced mild anxiety and 40.7% moderate anxiety, with 100% participation rate. Mental health screening proved effective for early detection and increasing community awareness. Continuous programs are needed to support post-disaster mental health recovery.
PELATIHAN PENGELOLAAN EMOSI DAN STRES UNTUK REMAJA DALAM MEMBENTUK GENERASI TANGGUH Rika Sarfika; Ira Erwina; Bunga Permata Wenny; Windy Freska; Dewi Eka Putri; Nindy Eka Wijaya; Rabia Ibrahim Suleiman; Fatma Yulia Putri
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i1.36150

Abstract

Abstrak: Remaja merupakan kelompok usia yang rentan mengalami tekanan emosional akibat tuntutan akademik, hubungan sosial, dan ekspektasi keluarga. Kondisi ini dapat menimbulkan masalah kesehatan mental seperti stres dan kesulitan mengelola emosi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan remaja dalam mengelola emosi dan stres melalui pelatihan edukatif. Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Andalas dengan melibatkan 41 remaja dengan usia rata-rata 14,92 tahun. Metode pelaksanaan meliputi pemberian materi, demonstrasi, praktik, dan diskusi interaktif. Evaluasi dilakukan melalui kuesioner sebelum dan sesudah pelatihan. Hasil menunjukkan bahwa skor rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 6,66 menjadi 9,22 setelah pelatihan, dengan peningkatan pemahaman mencapai lebih dari 80% perserta. Kegiatan ini berdampak positif terhadap peningkatan soft skill remaja dalam mengelola stres, sehingga direkomendasikan untuk diintegrasikan dalam kegiatan Posyandu Remaja dan program UKS secara berkelanjutan.Abstract: Adolescents are an age group that is vulnerable to emotional pressure due to academic demands, social relationships, and family expectations. These conditions can lead to mental health problems such as stress and difficulty in managing emotions. This community service activity aimed to improve adolescents’ knowledge and skills in managing emotions and stress through educational training. The activity was carried out in Andalas Subdistrict, involving 41 adolescents with an average age of 14.92 years. The implementation methods included material delivery, demonstrations, hands-on practice, and interactive discussions. Evaluation was conducted through questionnaires administered before and after the training. The results showed that the participants’ average knowledge score increased from 6.66 to 9.22 after the training, with more than 80% of participants able to correctly explain the steps of emotional regulation and simple relaxation techniques. This activity had a positive impact on enhancing adolescents’ soft skills in stress management and is recommended to be integrated into youth health programs such as Posyandu Remaja and School Health Units (UKS) to ensure sustainability.
DETEKSI DINI IDE BUNUH DIRI PADA REMAJA SEKOLAH KEJURUAN MELALUI PENYULUHAN KESEHATAN MENTAL Rika Sarfika; Bunga Permata Wenny; Ira Erwina; Windy Freska; Feri Fernandes; Randy Refnandes; Dewi Eka Putri; Atih Rahayuningsih
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 5 (2026): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i5.41206

Abstract

Abstrak: Ide bunuh diri merupakan indikator penting risiko bunuh diri pada remaja sehingga deteksi dini dan edukasi kesehatan jiwa berbasis sekolah diperlukan. Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi ide bunuh diri dan meningkatkan pengetahuan siswa mengenai kesehatan jiwa serta pencegahan bunuh diri. Sebanyak 225 siswa kelas XI mengikuti skrining menggunakan Suicidal Ideation Scale (SIS) dan penyuluhan melalui ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, serta demonstrasi strategi koping; evaluasi pengetahuan menggunakan 15 pernyataan benar-salah pada 196 peserta yang memiliki data pre-test dan post-test lengkap, dengan keberhasilan ditetapkan berdasarkan peningkatan rerata skor yang signifikan pada p<0,05. Hasil skrining menunjukkan tidak ada peserta yang teridentifikasi memiliki ide bunuh diri, sedangkan rerata skor pengetahuan meningkat dari 7,69 ± 1,89 menjadi 8,49 ± 1,91 atau sebesar 10,4% (selisih 0,80; t = -4,042; p<0,001). Kegiatan ini menunjukkan bahwa penyuluhan berbasis sekolah meningkatkan pengetahuan siswa secara signifikan meskipun ide bunuh diri tidak teridentifikasi pada saat skrining, sehingga edukasi berkala, pemantauan rahasia, dan jalur rujukan tetap diperlukan.Abstract:  Suicidal ideation is an important marker of suicide risk among adolescents, supporting the need for school-based early detection and mental health education. This program aimed to identify suicidal ideation and improve students' knowledge of mental health and suicide prevention. A total of 225 Grade XI students completed screening using the Suicidal Ideation Scale (SIS) and participated in interactive lectures, discussions, question-and-answer activities, and coping-strategy demonstrations; knowledge was evaluated using 15 true-or-false statements among 196 participants with complete paired pre-test and post-test data, with success defined as a statistically significant increase in the mean score at p<0.05. No participant screened positive for suicidal ideation, while the mean knowledge score increased from 7.69 ± 1.89 to 8.49 ± 1.91, equivalent to a 10.4% increase (mean difference 0.80; t = -4.042; p<0.001). The program significantly improved students' knowledge despite the absence of suicidal ideation at the time of screening, supporting periodic education, confidential monitoring, and an operational referral pathway.