Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : al-ashlah

Analisis Permohonan Dispensasi Kawin Dengan Latarbelakang Orang Tua Non Muslim Akhmad Rudi Maswanto
AL-ASHLAH : Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol. 5 No. 01 (2026): January 2026
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/p093ts84

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena permohonan dispensasi kawin yang diajukan oleh orang tua non-Muslim di Indonesia, dalam konteks hukum perkawinan dan perlindungan anak. Dispensasi kawin merupakan mekanisme hukum yang memungkinkan pernikahan dilakukan di bawah usia minimum yang ditentukan oleh undang-undang, dengan persetujuan pengadilan. Fokus kajian ini adalah pada aspek hukum, sosial, dan kultural yang melatarbelakangi permohonan dispensasi kawin dari keluarga non-Muslim, serta pertimbangan hakim dalam mengabulkan atau menolak permohonan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dan sosiologis, dengan analisis terhadap putusan-putusan pengadilan Agama terkait permohonan dispensasi kawin dari pemohon non-Muslim, serta wawancara dengan aparat peradilan dan pihak terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi, pendidikan, dan tekanan sosial menjadi pendorong utama permohonan dispensasi kawin, sementara pertimbangan hakim lebih menitikberatkan pada prinsip perlindungan anak dan kepentingan terbaik bagi anak. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif dalam penanganan perkara dispensasi kawin, termasuk penguatan peran konseling dan edukasi kepada orang tua serta calon mempelai.
PERAN ISTRI PEKERJA PERSPEKTIF MUI KABUPATEN BANYUWANGI (STUDI KASUS BURUH PABRIK SARDEN PT PASIFIK HARVEST INDONESIA) M. Ainul Yaqin; Akhmad Rudi Maswanto; Ansari Ansari
AL-ASHLAH : Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol. 5 No. 2 (2026): July, 2026
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/n6e8nt04

Abstract

This research aims to examine the role of wives of sardine factory workers at PT Pasifik Harvest Indonesia in Badean Village, Blimbingsari District, Banyuwangi Regency, as breadwinners, viewed from the perspective of the Indonesian Ulema Council (MUI) of Banyuwangi Regency. This research uses an empirical research design with a descriptive qualitative method and a case study approach. Primary data was obtained through interviews with female factory workers and MUI clerics, while secondary data was sourced from verses of the Al-Qur'an, hadith, and relevant scientific journals. Data validity was tested using the triangulation method. The research results indicate that the wife's decision to work as a factory worker is driven by economic factors, namely the husband's income, which is felt to be insufficient for living needs and children's education costs, as well as environmental factors and work habits. Working provides an opportunity for wives to contribute to the family's economic welfare and prepare for future savings, although it also poses challenges in the form of limited time with children and partners, which can potentially disrupt household harmony. According to the view of the MUI clerics of Banyuwangi Regency, the law for a wife working is fundamentally permissible as long as it does not contradict Islamic law, such as continuing to maintain modesty (aurat) and avoiding excessive mixing (ikhtilat), and is based on deliberation and the husband's permission with mutual understanding. This research confirms that the wife's role as an additional breadwinner can be in harmony with Islamic values if based on communication, agreement, and professionalism (itqan) between husband and wife.