Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Faktor Determinan dan Respon Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Jamban dalam Program Katajaga di Kecamatan Gunungpati Semarang Oktanasari, Wiji; Laksono, Budi; Rini Indriyanti, Dyah
Public Health Perspective Journal Vol 2, No 3 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.161 KB)

Abstract

Pada saat ini masih ada warga masyarakat yang memiliki perilaku buang air besar disembarang tempat karena tidak memiliki jamban. Hal ini sangat merugikan kondisi kesehatan masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor determinan dan respon masyarakat terhadap pemanfaatan jamban dalam program KATAJAGA (Kampung Total Jamban Keluarga) di Kecamatan Gunungpati Semarang. Desain penelitian yang digunakan adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini seluruh kepala keluarga yang mendapatkan bantuan jamban di Kecamatan Gunungpati berjumlah 1222 kepala keluarga. Sampelnya berjumlah 93 responden dengan teknik Proportionate Random Sampling. Pengambilan data diperoleh dengan cara memberi kuesioner dan wawancara pada responden. Analisis data dilakukan dengan program SPSS 17 secara bivariat (Chi Square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan pendidikan dengan pemanfaatan jamban (χ2=4,423; df=1; p=0,035<0,05), demikian pula ada hubungan status ekonomi (χ2=6,500; df=2; p=0,039<0,05), pengetahuan (χ2=6,928; df=2; p=0,031<0,05), ketersediaan air bersih (χ2=4,371; df=1; p=0,037<0,05), akseptabilitas (χ2=8,387; df=1; p=0,004<0,05), dan partisipasi (χ2=6,918; df=2; p=0,031<0,05) terhadap pemanfaatan jamban dalam program KATAJAGA di Kecamatan Gunungpati Semarang. Manfaat penelitian yaitu dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi dinas kesehatan dalam rangka pengambilan keputusan kebijakan dan evaluasi perbaikan program jamban.At this time there are still people who have a defecate behavior in place because they do not have latrines. This is very detrimental to public health conditions. The purpose of this research is to analyze the determinant factor and the community response to the utilization of latrines in the program of KATAJAGA (Total Village Family Latrine) in Gunungpati District Semarang. The research design used was analytic survey with cross sectional approach. The population of this study is the entire head of the family who received a toilet assistance in Gunungpati District amounted to 1222 families. The sample were 93 respondents with Proportionate Random Sampling technique. The data were collected by giving questionnaires and interviews to the respondents. Data analysis was done using SPSS 17 program in bivariate (Chi Square). The results showed that there were correlation between education with the utilization of latrines (χ2 = 4,423; df = 1; p = 0,035 <0,05), also there was correlation economic status (χ2 = 6,500; df = 2; p = 0,039 <0,05 ), knowledge (χ2=6,928; df=2; p=0,031<0,05), supply of clean water (χ2 = 4,371; df = 1, p = 0.037 <0.05), acceptability (χ2 = 8,387; df = 2, p = 0,031 <0,05), and participation (χ2 = 6,918; df = 2; p = 0,031 <0,05) to the utilization of latrines in the program of KATAJAGA in Gunungpati District Semarang. The benefits of research that can be used as a consideration for the health department in the framework of policy decision and evaluation of improvements to toilet programs.
The Relationship Between The Knowledge of leucorrhea on Handling of Leucorrhea in Student of SMK YPE Sumpiuh 2018 Grade X, Banyumas regency Fitriyani, Tanti; Oktanasari, Wiji
Kesmas Indonesia: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Kesmas Indonesia
Publisher : Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.289 KB) | DOI: 10.20884/1.ki.2019.11.2.1428

Abstract

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KEPUTIHAN DENGAN PENANGANAN KEPUTIHAN PADA SISWI KELAS X SMK YPE SUMPIUH KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018 The Relationship Between The Knowledge of leucorrhea on Handling of Leucorrhea in Student of SMK YPE Sumpiuh 2018 Grade X, Banyumas regency Tanti Fitriyani1, Wiji Oktanasari2 1-2Dosen Jurusan DIII Kebidanan STIKes Bina Cipta Husada Purwokerto ABSTRACT &nbsp;One of the clinical complaint from adolescent reproduction is leucorrhea. Leucorrhea is vagina?s liquid expenditure that not shaped blood. It is sometimes caused infection that always wet and make irritation, feel itchy and disturbance to the sufferer. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; The purpose of this research is to know about relation between knowledge of leucorrhea and handling of leucorrhea in student of SMK YPE Sumpiuh 2018 grade X, Banyumas regency. This research use analytic survey method with cross sectional approach. The subject of this research is students of SMK YPE Sumpiuh grade X. The number of students are 71 person. The&nbsp; analysis method of the statistic that used&nbsp; is chi square. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;The result from this research is 42 student (59,2%) have good level of knowledge about leucorrhea. And 39 student (54,9%) can handles leucorrhea correctly. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; The Conclusion of his research is there any relationship between knowledge of leucorrhea and handling of leucorrhea in class of student SMK YPE Sumpiuh grade X&nbsp; (c2hitung=5,722&gt; c2tabel=3,481). &nbsp; Keyword&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; : level of knowledge, leucorrhea handling. &nbsp; Bibliography : 29 ( 2005-2016) &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; PENDAHULUAN World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat 216 kematian ibu setiap 100.000 kelahiran hidup akibat komplikasi kehamilan dan persalinan tahun 2015. Jumlah total kematian ibu diperkirakan mencapai 303.000 kematian di seluruh dunia. Angka kematian ibu di negara berkembang mencapai 239/100.000 kelahiran hidup, 20 kali lebih tinggi dibandingkan negara maju.Indonesia termasuk salah satu negara berkembang sebagai penyumbang tertinggi angka kematian ibu di dunia. (WHO, 2015) Mengacu pada data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2015 AKI di Indonesia mencapai 305 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. (Kemenkes RI, 2016). Masalah kesehatan reproduksi merupakan masalah yang kompleks dan berkaitan dengan isu ketidaksetaraan gender dan pemenuhan hak-hak reproduksi bagi perempuan maupun laki-laki, sehingga memerlukan penanganan secara intensif dan terkoordinasi baik lintas program, lintas sektor maupun lintas disiplin ilmu dengan memperhatikan sosial budaya. Ada beberapa komponen kesehatan reproduksi yang dapat memberikan gambaran umum keadaan kesehatan reproduksi di Indonesia. Pertama, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih sangat tinggi dibandingkan negara-negara di ASEAN. Kedua, program Keluarga Berencana (KB) yang dianggap berhasil di tingkat internasional. Ketiga, masalah kesehatan reproduksi pada remaja (Siswono, 2013). Masa Remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Remaja akan mengalami berbagai perubahan dalam hidupnya, baik perubahan fisik maupun psikis. Memasuki masa remaja yang diawali dengan terjadinya kematangan organ reproduksi juga memberikan banyak perubahan pada diri remaja (Masroah,dkk.2015). Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa kini sebagai masa kritis. Pada usia tersebut organ reproduksi pada wanita sudah berfungsi dengan baik walaupun tidak mengenal batasan usia tetapi pada usia reproduksi atau remaja seorang wanita lebih sering mengalami keputihan oleh karena gangguan hormon atau pengaruh lain diantaranya adalah stress (Iskandar, 2012). Kesehatan reproduksi remaja tidak lepas dari kesehatan di bidang kebidanan dan kandungan. Hingga saat ini masih banyak dijumpai penyakit infeksi yang mengganggu alat reproduksi wanita. Di Indonesia saat ini belum ada data nasional yang bisa digunakan sebagai penunjuk status kesehatan reproduksi remaja. Namun, beberapa penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa remaja Indonesia beresiko untuk terkena infeksi PMS/ HIV/ AIDS. Survey surveillance perilaku yang diadakan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPK-UI) menunjukkan bahwa 2,8% pelajar SMA wanita dan 7% pelajar SMA pria melaporkan adanya gejala-gejala PMS (Utomo, 2016). Sebuah penelitian di Malang dan Manado dan sebuah penelitian di Bali menunjukkan bahwa 26% dan 29% anak muda berusia 20 sampai 24 tahun telah aktif seksual (Dwiyanto, 2016). Salah satu keluhan klinis dari infeksi atau keadaan abnormal alat kelamin tersebut adalah keputihan. Cairan ini bersifat selalu membasahi dan menimbulkan iritasi, rasa gatal dan gangguan rasa tidak aman pada penderita. Keputihan normal ditandai oleh keluarnya lendir jernih pada saat masih subur atau sebelum menstruasi, tidak berbau, serta tidak adanya keluhan gatal pada vagina. Sebaliknya, keputihan abnormal menandakan adanya infeksi pada vagina yang dibedakan berdasarkan penyebabnya, yaitu Bacterial Vaginosis, Trichomoniasis, dan Candidiasis (Manuaba, 2011). Hasil penelitian menyebutkan 3 dari 4 wanita di dunia ternyata pernah mengalami keputihan setidaknya sekali dalam hidupnya. Setiap wanita bisa terkena gangguan ini tanpa melihat golongan usia, latar belakang, dan jenis pekerjaan. Di Indonesia masalah keputihan semakin meningkat. Dari hasil penelitian menyebutkan bahwa tahun 2002, 50% wanita Indonesia pernah mengalami keputihan setidaknya sekali dalam hidupnya (Muninjaya, 2015). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada tanggal 15 Februari 2018 di SMK YPE Sumpiuh kepada 30 siswi yang mengalami keputihan, didapatkan siswi yang segera menindaklanjuti keputihan dengan cara sering mengganti celana dalam sejumlah 10 orang (33.33%) dan membersihkan vagina dengan pembersih kewanitaan sejumlah 5 orang (16,67%) sedangkan 15 siswi (50%) yang lain mengatakan tidak memperdulikan keadaannya. Hasil data tersebut menunjukkan cara penanganan keputihan yang baik hanya 33,33%, dan 66,67% tidak mengetahui bagaimana cara penanganan keputihan yang baik. Selain itu di SMK YPE Sumpiuh juga belum pernah diadakan penyuluhan tentang keputihan. Kurikulum pendidikan juga belum pernah mengajarkan pengetahuan mengenai keputihan sehingga masih banyak siswi yang belum mengetahui tentang keputihan. Berhubung masih banyaknya siswi yang belum mengetahui tentang cara penanganan keputihan secara benar, maka peneliti menilai betapa penting masalah ini untuk diketahui lebih lanjut mengenai ada tidaknya kaitan antara tingkat pengetahuan tentang keputihan dengan penanganan keputihan di SMK YPE Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun 2018. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi kelas X SMK YPE Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun 2018. &nbsp; METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan metode descriptive correlation study dengan pendekatan waktu secara Cross sectional yaitu penelitian yang dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel pada situasi atau sekelompok subyek yang dilakukan bersamaan pada satu waktu dengan cara responden mengisi kuesioner yang telah disediakan. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling yaitu &nbsp;sampling jenuh. Sampling jenuh adalah cara pengambilan sampel dengan mengambil semua anggota populasi menjadi sampel. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 71 siswi. Pada penelitian ini mengambil data variabel bebas yaitu tingkat pengetahuan tentang keputihan dan variabel terikat yaitu penanganan keputihan pada waktu yang bersamaan. Lokasi Penelitian ini di SMK YPE Sumpiuh Kabupaten Banyumas. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Pengambilan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada responden. Analisis data dalam penelitian ini meliputi editing, coding, tabulating kemudian dianalisis univariat dan bivariat dengan uji Chi Square HASIL DAN PEMBAHASAN &nbsp; Tabel 1 Pengetahuan siswi tentang keputihan NO Pengetahuan siswa putri tentang keputihan Jumlah Persentase (%) 1. Baik 42 59,2 2. Cukup 29 40,8 3. Kurang 0 0 &nbsp; Jumlah 71 100 &nbsp; &nbsp; Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 71 responden berhasil di ketahui bahwa sebagian besar pengetahuan siswi tentang keputihan berpengetahuan baik (59,2%). Ini menandakan bahwa sebagian responden berpengetahuan baik mengenai pengetahuan tentang keputihan. Meskipun sebagian besar responden berpengetahuan cukup baik&nbsp; (40,8%). Masalah keputihan adalah masalah yang sejak lama menjadi persoalan bagi kaum wanita. Tidak banyak wanita yang tahu apa itu keputiahan dan terkadang menganggap enteng persoalan keputihan ini. Padahal keputihan tidak bisa dianggap enteng, karena akibat dari keputihan ini bisa sangat fatal bila lambat ditangani. Tidak hanya bisa mengakibatkan kemandulan dan hamil di luar kandungan, keputihan juga bisa merupakan gejala awal dari kanker leher rahim, yang bisa berujung pada kematian (Iskandar, 2012). Menurut penyebabnya keputihan ada dua macam yaitu penyebab non potologis (bukan penyakit) dan penyebab patologis (karena penyakit). Penyebab non patologis (bukan penyakit) antara lain saat menjelang menstruasi, atau setelah menstruasi, rangsangan seksual, saat wanita hamil, stress, baik fisik maupun psikologi (Cakmoki, 2017). Responden yang diteliti adalah siswi yang memenuhi kriteria&nbsp;&nbsp; yaitu siswi kelas X SMK YPE Sumpiuh, siswi yang mengalami keputihan dan bersedia dijadikan responden. Walaupun sebagian besar responden berpengetahuan baik tetapi masih ada responden yang memiliki pengetahuan tentang keputihan cukup baik (40,8%). Pengetahuan keputihan yang cukup baik ini mungkin karena masih ada beberapa responden yang kurang aktif dalam mencari tahu atau mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi khususnya keputihan selain itu kurangnya dukungan dari orang tua responden. Menurut Notoatmodjo (2013) pengetahuan merupakan hasil ?tahu? dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan &nbsp;terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya perilaku seseorang. Pengetahuan akan merangsang terjadinya perubahan sikap dan bahkan tindakan seorang individu (Notoatmodjo, 2013: 123). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diamati bahwa pengetahuan siswi tentang keputihan adalah baik. Semakin tinggi pengetahuan siswi tentang keputihan, kemungkinan dapat mempengaruhi penangan keputihan. &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Tabel 2. Penanganan Keputihan &nbsp; &nbsp; NO Penanganan keputihan Jumlah Persentase (%) 1. Baik 39 54,9 2. Cukup 32 45,1 3. Kurang 0 0 &nbsp; Jumlah 71 100 &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penanganan keputihan sebagian besar baik (54,9%). Hal ini berarti sebagian besar responden di SMK YPE Sumpiuh sudah mengetahui bagaimana cara penanganan yang baik dalam mengatasi keputihan. Keputihan yang terjadi pada remaja terkadang menimbulkan suatu masalah tertentu pada sebagian besar remaja. Apabila keputihan tidak segera diobati dapat berakibat lebih parah dan bukan tidak mungkin menjadi penyebab kemandulan. Tidak hanya itu saja, keputihan yang sangat fatal dapat menyebabkan kematian. Seperti pernyataan Iskandar (2012) yaitu keputihan ini bisa sangat fatal bila lambat ditangani, tidak hanya mengalami kemandulan dan hamil di luar kandungan, keputihan juga merupakan segala awal dari kanker leher rahim yang bisa berujung pada kematian. Walaupun sebagian besar responden memiliki sikap penanganan benar dalam menangani keputihan tetapi masih ada beberapa responden yang memiliki penanganan cukup baik (45,1%). Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentang keputihan yang didapat responden. Atau sebenarnya mereka sudah mengatahui penanganan yang baik waktu mengalami keputihan tetapi mereka belum dapat mengaplikasikan dalam bentuk nyata. Sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Dapat dikatakan bahwa kesiapan tersebut merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respons (Azwar, 2013: 5). Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa penanganan keputihan pada siswi di SMK YPE Sumpiuh adalah baik. Hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan siswi tentang keputihan di SMK YPE Sumpiuh yang baik, meskipun di SMK YPE Sumpiuh sendiri belum ada pembinaan khusus tentang kesehatan reproduksi khususnya tentang keputihan. &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; Tabel silang antara pengetahuan siswi tentang keputihan dengan penanganan Pengetahuan Siswa Putri Penanganan Keputihan Total &nbsp; &nbsp; F % F % F % &nbsp; &nbsp; Baik Cukup &nbsp; &nbsp;Baik 28 66,7 14 33,3 42 100 &nbsp; Cukup 11 37,9 18 62,1 29 100 &nbsp; Jumlah 39 54,9 32 45,1 71 100 &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp; Dari tabel 3 dapat diketahui bahwa dari 71 responden dalam penelitian ini, terdapat 42 responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai keputihan dengan proporsi 28 siswi (66,7%) melakukan penanganan baik, dan 14 siswi (33,3%) yang melakukan penanganan keputihan dalam kategori cukup baik. Sedangkan selebihnya yaitu 29 responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup baik mengenai keputihan dengan proporsi 11 siswi (37,9%) melakukan penanganan baik dan 18 siswi (62,1%) melakukan penanganan cukup baik. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada penelitian ini untuk mencari hubungan antara tingkat pengetahuan tentang keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi SMK YPE Sumpiuh menggunakan analisis Chi-Square, dengan alat bantu program SPSS For Windows Release 16.0. Jika didapatkan c2hitung ? c2tabel, maka Ho ditolak artinya ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan. Jika c2hitung ? c2tabel, maka Ho diterima artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kemudian juga dapat dilihat pada nilai asymp.sign (P), bila P &lt; a (0,05) artinya ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel dan bila P &gt; a (0,05) artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh&nbsp; nilai c2hitung sebesar 5,722 dengan derajat frekuensi (df) = 1. Adapun nilai c2tabel untuk pengujian dengan taraf signifikansi (a) = 0,05 dan df = 1 adalah sebesar 3,481. Oleh karena c2hitung &gt; c2tabel, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dapat juga berdasarkan pada nilai c2hitung sebesar 5,722 dan P (Assymp.Sign) = 0,017 yang berarti nilai P &lt; a (0,05) yang berarti secara statisitik terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi kelas X SMK YPE Sumpiuh. Artinya adalah Ho ditolak dan Ha diterima sehingga ada hubungan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi kelas X SMK YPE Sumpiuh. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pengetahuan siswi tentang keputihan sebagian besar adalah baik yakni sebanyak 42 responden, Penanganan keputihan di SMK YPE Sumpiuh sebagian besar adalah dalam kategori baik yaitu 39 responden, dan Ada hubungan antara pengetahuan tentang keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi SMK YPE Sumpiuh(c2hitung=5,722&gt;c2tabel=3,481), maka Ho ditolak serta nilai asymp.sign (P) &lt; 0,05. &nbsp; &nbsp; Saran Dapat meningkatkan kualitas pengetahuan mengenai keputihan serta penanganan yang sesuai untuk keputihan. &nbsp; DAFTAR PUSTAKA Alimul, Aziz. 2013. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan ilmiah. Jakarta : Rineka Cipta. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka&nbsp;&nbsp; Cipta. Iskandar, M. 2012. Solusi Keluarga. Online available at http://www.mitrakeluarga.com. Diakses tanggal 23 Januari 2018 Kusumaningsih. 2007. Faktor Penyebab Keputihan. Online available at http://www.organisasi.org. Diakses tanggal 1 Januari 2018. Manuaba. 2011. Keputihan. Online available at http://www.mitrakeluarga.com.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Diakses tanggal 23 Januari 2018. Manuaba, I.G.B. 2011. &nbsp;Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta: EGC. Masroah, Intan Tri; Elviera Gamelia; Bambang Hariyadi. 2015. Perilaku Seksual Remaja Akibat Paparan Media Pornografi. Jurnal Kesmasindo, 7 (3):244-255. Muninjaya, S. 2005. Kejadian Keputihan. Online available at http://www.mitrakeluarga.com. Diakses tanggal 12 Januari 2018. Notoatmodjo, Soekidjo. 2013. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta: Rineka Cipta. &nbsp; Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Nugraeni, Novi. 2006. Keputihan. http://id.mikipedia.org/wiki/keputihan.html Diakses tanggal 12 Januari 2018. Panuju, Panut &amp; Umami, Ida. 2005. Psikologi Remaja. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya. &nbsp; Permatasari.2012.Hubungan Tingkat pengetahuan Remaja Putri tentang Personal Hygine dengan Tindakan Pencegahan Keputihan di SMA Negeri 9 Semarang. Skripsi. Universitas Muhamadiyah Semarang.http:journal.ums.ac.id &nbsp; Rahman. 2013. Hubungan Sosial. Online available at http://www.indonesia.cri.cnhtm. Diakses tanggal 15 Januari 2018 Rahmi, Egi Yunia.2016. Faktor Perilaku yang mempengaruhi terjadinya Keputihan pada remaja Putri. 2016. Skipsi.&nbsp; Riau: FIK-UNRI &nbsp; Saryono. 2008. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jogjakarta : Citra Cendikia. Sarwono S, W. 2007. Psikologi Remaja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Sugiyono. 2014. Statistik Untuk Penelitian. Cetakan Keenam. Bandung: Alfabeta. Sukardi. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Suryani, Eko &amp; Widyasih, Hesty. 2008. Psikologi Ibu dan Anak. Yogyakarta: Fitramaya. &nbsp; Wandha Paramitha, Misrawati. 2012. EfektifitasPendidikan Kesehatan tentang Hygine Kewanitaan terhadap Pengetahuan dan SikapRemaja Putri dalam menangani Keputihan.Jurnal Ners Indonesia, 2012 : vol 2. Riau. UNRI &nbsp; Wardani, K. 2007. Menghindari dan Mencegah Keputihan. Online available at http://www.dechacare.com. Diakses tanggal 12 Februari 2010. Widyastuti, Yani et al. 2009. Kesehatan reproduksi. Yogyakarta: Fitramaya. &nbsp; Wiknjosastro, H. 2012. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. &nbsp; Nursalam. (2008). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta&nbsp; : Salemba Medika. &nbsp; Saryono, A.S. (2010). Metodologi Penelitian Kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika. &nbsp; Saefudin. (2009). Langkah ? Langkah Membuat Proposal Penelitian Bidang Kedokteran Dan Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika. &nbsp; Siswanto, Susila, dan Suyanto. 2013. Metodologi Penelitian Kesehatan dan Kedokteran. Bursa Ilmu Karangkajen, Yogyakarta. &nbsp; Sugandi, Ahcmad., &amp; Haryanto. (2006). Teori Pembelajaran. Semarang : Universitas Negeri Semarang Press. &nbsp; Sugiyono. (2007). Statistik untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KEPUTIHAN DENGAN PENANGANAN KEPUTIHAN PADA SISWI KELAS X SMK YPE SUMPIUH KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018 Tanti Fitriyani; Wiji Oktanasari
Kesmas Indonesia Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Kesmas Indonesia
Publisher : Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.289 KB) | DOI: 10.20884/1.ki.2019.11.2.1428

Abstract

ABSTRACT One of the clinical complaint from adolescent reproduction is leucorrhea. Leucorrhea is vagina’s liquid expenditure that not shaped blood. It is sometimes caused infection that always wet and make irritation, feel itchy and disturbance to the sufferer. The purpose of this research is to know about relation between knowledge of leucorrhea and handling of leucorrhea in student of SMK YPE Sumpiuh 2018 grade X, Banyumas regency. This research use analytic survey method with cross sectional approach. The subject of this research is students of SMK YPE Sumpiuh grade X. The number of students are 71 person. The analysis method of the statistic that used is chi square. The result from this research is 42 student (59,2%) have good level of knowledge about leucorrhea. And 39 student (54,9%) can handles leucorrhea correctly. The Conclusion of his research is there any relationship between knowledge of leucorrhea and handling of leucorrhea in class of student SMK YPE Sumpiuh grade X (c2hitung=5,722> c2tabel=3,481). Keyword : level of knowledge, leucorrhea handling. Bibliography : 29 ( 2005-2016)
Hubungan Sikap Orang Tua Dengan Kualitas Komunikasi Orang Tua Dan Anak Tentang Pendidikan Seks Remaja Di SMP Negeri 1 Sewon Bantul Yogyakarta Wiji Oktanasari; Artathi Eka Suryandari
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 16 No 1 (2020): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.78 KB)

Abstract

Sikap orang tua yang menganggap pendidikan seks tabu untuk dibicarakan kepada anak sehingga menyebabkan komunikasi yang dilakukan antara orang tua dan anak menjadi terbatas dan saling tertutup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sikap orang tua dengan kualitas komunikasi orang tua dan anak tentang pendidikan seks remaja. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional dengan pendekatan waktu cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel 70 responden. Analisis data menggunakanSpearman Rank. Hasil menunjukkan bahwa p-value Spearman Rank sebesar 0,261 dan nilai signifikansi 0,029 (p < 0,05). Kesimpulannya ada hubungan antara sikap orang tua dengan kualitas komunikasi orang tua dan anak tentang pendidikan seks remaja di SMP Negeri 1 Sewon Bantul Yogyakarta.
Efektifitas Pelaksanaan Kelas Stunting Terhadap Penambahan Tinggi Badan Balita Artathi Eka Suryandari; Wiji Oktanasari; Beby Yohana Okta Ayuningtyas
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 16 No 1 (2020): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.519 KB)

Abstract

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat dari kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak bayi dalam kandungan sampai usia 2 tahun sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Salah satu cara pencegahan dan penanganan stunting dilaksanakan dengan kelas stunting yaitu kegiatan terencana sesuai kebutuhan untuk membahas materi tentang pemenuhan gizi balita secara diskusi dalam kelompok dan tukar pengalaman antara ibu, yang difasilitasi petugas kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektifitas pelaksanaan kelas stunting terhadap penambahan tinggi badan Balita. Penelitian ini bersifat pre eksperimen dengan desain the one group pre test and post test design. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 69 Balita dengan stunting di wilayah kerja Puskesmas Kebasen. Hasil penelitian didapatkan mayoritas Balita stunting berjenis kelamin laki-laki (39 anak), hasil pengukuran Tinggi Badan/ Umur didapatkan bahwa balita dengan kategori pendek lebih banyak (36 balita), jumlah balita dengan status gizi sangat kurus adalah 1 (satu) orang, kaaterogi kurus dan gemuk masing-masing 2 (dua) orang dan 64 orang balita memiliki status gizi normal. Hasil analisis dengan paired t-test di atas didapatkan hasil bahwa ρ value 0,000. Karena ρ value < α = 0,05, maka hipotesis diterima artinya pelaksanaan kelas stunting efektif terhadap penambahan tinggi badan balita
Respon Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Jamban Dalam Program Katajaga Di Kecamatan Gunungpati Semarang Wiji Oktanasari
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 16 No 2 (2020): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.155 KB)

Abstract

Pada saat ini masih ada warga masyarakat yang memiliki perilaku buang air besar sembarangan dikarenakan kepemilikan jamban masih rendah. Hal ini sangat merugikan kondisi kesehatan masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor determinan dan respon masyarakat terhadap pemanfaatan jamban dalam program KATAJAGA (Kampung Total Jamban Keluarga) di Kecamatan Gunungpati Semarang. Desain penelitian yang digunakan adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini seluruh kepala keluarga yang mendapatkan bantuan jamban di Kecamatan Gunungpati berjumlah 1222 kepala keluarga. Sampelnya berjumlah 93 responden dengan teknik Proportionate Random Sampling. Pengambilan data diperoleh dengan cara memberi kuesioner dan wawancara pada responden. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat (Chi Square), dan multivariat (Regresi Logistik). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan akseptabilitas (χ=8,387; df=1; ρ=0,004<0,05) dan partisipasi (χ=6,918; df=2; ρ=0,031<0,05) terhadap pemanfaatan jamban. Namun, tidak ada hubungan swadaya (χ=0,867; df=2; ρ=0,648>0,05) terhadap pemanfaatan jamban dalam program KATAJAGA di Kecamatan Gunungpati Semarang. Manfaat penelitian bagi dinas kesehatan adalah sebagai bahan pertimbangan dalam rangka pengambilan keputusan kebijakan dan evaluasi perbaikan program jamban. Memberikan informasi tentang pentingnya jamban keluarga dari segi kesehatan dalam upaya menghentikan perilaku buang air besar sembarangan.
Faktor Determinan Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Jamban Dalam Program KATAJAGA Wiji Oktanasari
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 17 No 1 (2021): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.665 KB)

Abstract

Pada saat ini masih ada warga masyarakat yang memiliki perilaku buang air besar sembarangan dikarenakan kepemilikan jamban masih rendah. Hal ini sangat merugikan kondisi kesehatan masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor determinan dan respon masyarakat terhadap pemanfaatan jamban dalam program KATAJAGA (Kampung Total Jamban Keluarga) di Kecamatan Gunungpati Semarang. Desain penelitian yang digunakan adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini seluruh kepala keluarga yang mendapatkan bantuan jamban di Kecamatan Gunungpati berjumlah 1222 kepala keluarga. Sampelnya berjumlah 93 responden dengan teknik Proportionate Random Sampling. Pengambilan data diperoleh dengan cara memberi kuesioner dan wawancara pada responden. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat (Chi Square), dan multivariat (Regresi Logistik). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan pendidikan dengan pemanfaatan jamban (χ=4,423; df=1; p=0,035<0,05), demikian pula ada hubungan status ekonomi (χ=6,500; df=2; p=0,039<0,05), pengetahuan (χ=6,928; df=2; p=0,031<0,05), ketersediaan air bersih (χ=4,371; df=1; p=0,037<0,05) terhadap pemanfaatan jamban. Diskusi : Manfaat penelitian bagi dinas kesehatan adalah sebagai bahan pertimbangan dalam rangka pengambilan keputusan kebijakan dan evaluasi perbaikan program jamban. Memberikan informasi tentang pentingnya jamban keluarga dari segi kesehatan dalam upaya menghentikan perilaku buang air besar sembarangan.
Hubungan Personal Hygiene Dengan Kejadian Keputihan Pada Remaja Putri Di SMK YPE CILACAP Beby Yohana Okta Ayuningtyas; Wiji Oktanasari
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 17 No 2 (2021): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.524 KB)

Abstract

WHO mengatakan 5 % remaja atau satu dari 20 remaja di dunia terjangkit Infeksi Menular Seksual (IMS) setiap tahunnya. Keputihan lebih banyak terjadi pada remaja dan perempuan yang belum menikah. Penelitian di India menunjukkan prevalensi tinggi keputihan 95% di antara siswa remaja perempuan. Di Indonesia sekitar 90% wanita berpotensi mengalami keputihan karena negara Indonesia adalah daerah yang beriklim tropis, sehingga jamur mudah berkembang yang mengakibatkan banyaknya kasus keputihan. Penyebab utama keputihan ialah infeksi (jamur, kuman dan parasit). Kurangnya personal hygiene merupakan salah satu faktor penyebab kejadian keputihan pada remaja. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui hubungan personal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri di SMK YPE Cilacap. Jenis Penelitian survie dengan pendekatan waktu cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah siswi kelas XI yang pernah mengalami keputihan sebanyak 47 responden yang diambil dengan teknik random sampling. Tabulasi silang hubungan antara variable bebas dan terikat dengan uji statistik chi-square. Analisis chi-square hubungan personal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri di SMK YPE Cilacap.diperoleh nilai signifikansi p = 0,034 < 0,05. Terdapat hubungan personal hygiene dengan kejadian keputihan pada remaja putri di SMK YPE Cilacap.
Pengaruh Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Terhadap Persepsi Tentang Perilaku Seksual Remaja Di SMK YPE CILACAP Wiji Oktanasari; Beby Yohana Okta Ayuningtyas
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 17 No 2 (2021): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.438 KB)

Abstract

Kesehatan reproduksi remaja merupakan salah satu komponen pokok dalam kesehatan reproduksi. Faktor-faktor yang berpengaruh buruk terhadap kesehatan remaja adalah masalah seks serta seksualitas meliputi pengetahuan yang tidak tepat tentang masalah seksualitas.. Untuk mengatasi permasalahan kesehatan reproduksi tersebut salah satunya dengan mewujudkan dalam upaya “Health Promotion” yaitu dengan melakukan penyuluhan kesehatan reproduksi bagi seluruh lapisan masyarakat. Dengan adanya penyuluhan kesehatan reproduksi remaja maka akan membentuk persepsi baik mengenai perilaku seksual remaja. Tujuan Penelitian ini adalah diketahuinya pengaruh penyuluhan kesehatan reproduksi remaja terhadap persepsi perilaku seksual siswa SMK YPE Cilacap.Penelitian ini berjenis “pre eksperiment” dengan bentuk rancangan “The One Group Pre Test-Post Test Design”. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMK YPE Cilacap yang berjumlah 81 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan “Total Sampling” sebanyak 81 orang. Alat pengumpulan data untuk mengetahui persepsi perilaku seksual menggunakan kuesioner dengan skala ordinal. Hasil uji statistik nonparametris dengan “uji jenjang-bertanda wilcoxon” yang diperoleh rata-rata rank 41,16 dengan nilai Z sebesar -7,300 dan Asymp.Sig. 0,000.Terdapat pengaruh penyuluhan kesehatan reproduksi remaja terhadap persepsi perilaku seksual remaja siswa siswa SMK YPE Cilacap.
Hubungan antara Pendapatan dengan Usia Pernikahan Dini pada Remaja di Keluarahan Tanjung Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas Beby Yohana; Wiji Oktanasari
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 18 No 1 (2022): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.744 KB)

Abstract

Menurut WHO, pernikahan dini (early married) merupakan pernikahan yang dilakukan oleh pasangan atau salah satu pasangan masih dikategorikan sebagai anak-anak atau remaja yang berusia dibawah usia 19 tahun. Pernikahan dini cenderung memberikan dampak negative terhadap anak. Kekhawatiran masyarakat dunia terhadap pernikahan dini berkaitan dengan fakta bahwa perkawinan anak melanggar hak asasi anak, membatasi pilihan dan peluang remaja, dan membuat remaja rentan terhadap kekerasan, eksploitasi dan pelecehan (UNICEF, 2017). Pernikahan dini berbahaya bagi ibu maupun bayi dan beresiko meningkatkan angka kematian ibu maupun bayi. Di Dunia jumlah pernikahan dini yang terbanyak terdapat di negara-negara Asia Selatan diikuti Sub-Sahara Afrika. Indonesia memasuki ranking 10 dengan angka pernikahan dini tertinggi di dunia, diperkirakan tahun 2018 mencapai 1.220.900 (UNICEF, 2020). Perilaku pernikahan dini dipengaruhi oleh faktor presdiposisi yaitu pendapatan orangtua. Tingkat pendapatan orangtua merupakan salah satu faktor penyebab kejadian pernikahan dini. Jenis penelitian ini survey analitk dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi penelitian adalah remaja putri di Kelurahan Tanjung, Kecamatan Purwokerto Selatan. Kabupaten Banyumas sebanyak 759 remaja. Sampel penelitian ini menggunakan rumus slovin sebanyak 89 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Uji statistic menggunakan chi square. Hasil penelitian didapatkan ρ value 0,000 ada hubungan antara pendapatan dengan usia pernikahan dini pada remaja di Kelurahan Tanjung Tahun 2021. Kesimpulan sebagian besar orangtua pendapatan rendah melakukan pernikahan dini pada remaja awal.