Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

STUDENTS' PREPAREDNESS LEVEL TO FACING AN EARTHQUAKE DISASTER IN YOGYAKARTA, INDONESIA: A CROSS-SECTIONAL STUDY Sahayati, Sri; Rahmuniyati, Merita Eka; Mardani, Sindy
Journal of Public Health Research and Community Health Development Vol. 8 No. 2 (2025): March
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA), Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jphrecode.v8i2.55447

Abstract

            Background: Sleman Regency has areas prone to natural disasters such as volcanic eruptions, droughts, earthquakes, and landslides. Faculty of Health Sciences Universitas Respati area has never been assessed for earthquake disaster preparedness, even though it is not exempt from disaster threats. With high preparedness it is hoped that it can minimize the risks due to disasters. Purpose: To find out the level of preparedness of students in dealing with earthquake disasters. Methods: The research design was cross-sectional, with a population of all Faculty of Health Sciences Universitas Respati Yogyakarta students. Samples were taken using the Proportionate Stratified Sampling technique, so a sample of 95 respondents was obtained. The research instrument was from the LIPI/UNESCO questionnaire, 2006. Data analysis used univariate with a quantitative descriptive approach. Results: The index value of earthquake disaster preparedness for students of the Faculty of Health Sciences, University of Respati Yogyakarta has an index value of 84 which is included in the high category. Conclusion: The level of earthquake disaster preparedness among students of the Faculty of Health Sciences, Respati University, Yogyakarta. generally included in the high category with several aspects of preparedness still in the low category such as disaster warning and the ability to mobilize resources.
UPAYA MENINGKATKAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN STUNTING MELALUI EDUKASI 1000 HPK DAN PILAR STBM Rahmuniyati, Merita Eka; Alfanan, Azir; Hallo, Frichenia Paskalin
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2024): Volume 5 No. 3 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i1.25463

Abstract

Siklus kehidupan yang dimulai sejak dalam masa kandungan sampai dewasa dapat ditemukan berbagai permasalahan gizi, terutama di awal etape kehidupan di masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yakni berkaitan erat dengan kejadian stunting. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak kerena kekurangan gizi secara kronis sehingga pertumbuhan anak lebih pendek dibanding usianya. Selain pentingnya masa 1000 HPK juga terdapat faktor lain yang terkait dengan stunting yakni keadaan lingkungan yang mempengaruhi kesehatan masyarakat. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan salah satu indikator faktor lingkungan yang secara tidak langsung dapat menyebabkan stunting di masyarakat. Permasalahan yang masih dihadapi mitra adalah masih terdapat rendahnya pengetahuan ibu dalam pengasuhan 1000 HPK dan sanitasi lingkungan dalam akses lima pilar STBM Kegiatan ini merupakan kegiatan edukasi gizi pemberian informasi mengenai pencegahan stunting melalui penyuluhan kepada ibu balita dan pasangan usia subur. Kegiatan ini dilakukan di bulan Desember 2023 di Padukuhan pokoh, Wedomartani. Peserta antusias mengikuti kegiatan sampai dengan selesai. Sebanyak 73,3% peserta mengalami peningkatan pengetahuan setelah mendapatkan edukasi melalui ceramah dan tanya jawab kepada peserta. Hasil intervensi menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan peserta yang ditunjukkan dengan hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa nilai siginifikansi sebesar 0,06. Artinya ada pengaruh antara pemberian edukasi kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan. Gangguan pemenuhan gizi dan akses STBM yang buruk dapat terjadi dikarenakan rendahnya tingkat pengetahuan, sikap, motivasi dan keterampilan ibu/keluarga dalam pengasuhan terhadap anak. Ibu berperan penting dalam proses pemenuhan gizi yang optimal bagi anak. Pengetahuan ibu terkait pencegahan stunting sejak dini perlu ditingkatkan baik dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak dalam 1000 HPK maupun implementasi STBM dalam keluarga.
Implementation of Family Planning Village as an Effort to Prevent Stunting among Children Under Five Rahmuniyati, Merita Eka; Sahayati, Sri
Journal of Health Education Vol 8 No 2 (2023): October 2023
Publisher : Universitas Negeri Semarang cooperate with Association of Indonesian Public Health Experts (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jhe.v8i2.75566

Abstract

Background: The prevalence of stunting in Yogyakarta City in 2022 has been successfully reduced to 13.8%. This figure is lower than the national prevalence of stunting, which is 21.6%. The success of reducing stunting is supported by the KB Village program. The research aims to explore the implementation of Family Planning Villages as an effort to prevent stunting in toddlers.Method: This research uses a qualitative approach. This research was carried out in the KB Village, Purwobinangun Village, Pakem Community Health Center Working Area in October – November 2022. Participants in this research were family planning instructors, health cadres, head of the KB Village, Nutritionist. In-depth interview technique was used for data collection. Data analysis was carried out in stages: data collection, data reduction, data presentation, drawing conclusions.Results: Efforts to prevent stunting in the KB Village area can be carried out by implementing various stunting prevention activities, such as providing education to the community and providing additional food to stunted toddlers, caring for children through the role of fathers. Encourage cooperation and collaboration across sectors and activity groups. There are obstacles such as not being able to maximize the activities of the Youth Information and Counseling Center (PIK-R) and online reporting due to limited human resources.Conclusion: The implementation of KB Villages in efforts to prevent stunting has gone well through cross-sectoral collaboration.
Aksesibilitas Sarana Sanitasi bagi Difabel di Tempat Transportasi Umum Lustiyati, Elisabeth Deta; Rahmuniyati, Merita Eka
INKLUSI Vol. 6 No. 1 (2019)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.492 KB) | DOI: 10.14421/ijds.060105

Abstract

Persons with disabilities often experience obstacles because there are no accessible facilities available to them in public places. The purpose of this study is to obtain an overview of the accessibility of public toilets in public transportation located in Yogyakarta. The research took the case of Giwangan bus station, Yogyakarta (Tugu) train station, Lempuyangan train station, Wates train station, Maguwoharjo train station, and Adisutjipto airport. This type of research is descriptive evaluative. Data collection is done by using purposive sampling technique and by the method of observation, documentation, and interviews. The results of this study indicate that the accessibility of sanitation services at Adisucipto airport and all train stations is good; while accessibility at the Giwangan terminal is still lacking.[Para difabel sering mengalami hambatan karena tidak terdapatnya fasilitas yang aksesibel bagi mereka di tempat-tempat umum. Tujuan penelitian ini adalan untuk memperoleh gambaran aksesibilitas toilet umum bagi difabel di tempat transportasi umum DIY. Penelitian mengambil kasus di terminal Giwangan, stasiun Yogyakarta (Tugu), stasiun Lempuyangan, stasiun Wates, stasiun Maguwoharjo, dan bandar udara Adisutjipto. Jenis penelitian ini adalah deskriptif evaluatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dan dengan metode observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa aksesibilitas layanan sanitasi di bandara Adisucipto dan semua stasiun kereta api sudah baik; sementara aksesibilitas di terminal Giwangan masih kurang.]