Generasi Alpha yang lahir dan tumbuh sebagai digital natives murni menghadapi tantangan perkembangan kognitif dan afektif akibat interaksi intens dengan gawai. Paparan layar (screen time) yang melampaui batas kewajaran kerap memicu kelebihan beban sensorik (sensory overload) dan fenomena tantrum digital pada anak usia dini. Sementara itu, terdapat kesenjangan literasi yang signifikan di kalangan orang tua, khususnya di wilayah urban padat penduduk, terkait manajemen gawai dan strategi meregulasi emosi anak secara tepat. Untuk merespons permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan literasi digital keluarga melalui implementasi program pendampingan Smart Parenting. Pengabdian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan melibatkan mitra sebanyak 40 orang ibu rumah tangga di wilayah Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Instrumen intervensi utama yang digunakan adalah Handbook Smart Parenting Gen Alpha, yang dirancang khusus dengan mengedepankan tata letak visual yang minimalis dan bersih untuk memudahkan pemahaman peserta. Tingkat efektivitas program diukur menggunakan instrumen pre-test dan post-test. Hasil analisis data menunjukkan adanya lonjakan pemahaman kognitif yang sangat signifikan pasca-intervensi, di mana skor rata-rata peserta meningkat drastis dari 48 menjadi 88,3, atau setara dengan peningkatan sebesar 83,9%. Seluruh peserta juga terbukti berhasil menyimulasikan teknik komunikasi 3M (Menenangkan, Memvalidasi, dan Mengalihkan) dengan presisi. Lebih jauh, evaluasi partisipatif mengonfirmasi komitmen perubahan perilaku komunal melalui kesepakatan penerapan "Jam Wajib Matikan Gawai Keluarga" setiap pukul 18.00 hingga 20.00 WIB. Program ini terbukti efektif dalam merestrukturisasi pola asuh keluarga secara komprehensif.