Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

THE EPISTEMOLOGY OF CLASSICAL ARABIC GRAMMAR: FROM BASHRAH–KUFAH PARADIGM SHIFTS TO CONTEMPORARY LINGUISTICS Siti Aminah; Siti Arfah; Siti Sumaiah; Husnatul Hamidiyyah Siregar
Al Ibrah: Journal of Arabic Language Education Vol. 9 No. 1 (2026): Al Ibrah: Journal of Arabic Language Education
Publisher : Universitas Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/jale.v9i1.10941

Abstract

Epistemological studies of classical Arabic grammar have so far tended to focus on historical descriptions and methodological comparisons between the Basra and Kufa schools, without interpreting their dialectic as a shift in the scientific paradigm that impacts contemporary Arabic linguistics; consequently, the relationship between classical heritage and modern challenges (including pedagogical needs and developments in language technology) has not yet been systematically formulated. This study aims to analyse the epistemological paradigm shift in grammar from the Basra School to the Kufa School and to formulate its implications for the development of contemporary Arabic linguistics. The research employs a qualitative approach utilising a literature review and a historical-philosophical analytical design. The research subjects consist of primary classical nahwu texts, specifically representative works of the Basra and Kufa schools, which are analysed through documentation techniques, conceptual comparison, and diachronic paradigm reconstruction. The research findings indicate that Basra represents a systematic rational-prescriptive paradigm based on qiyas and ta‘lil, whilst Kufa presents an empirical-descriptive paradigm that is more accommodating of linguistic variation and auditory data. The dialectic between the two gave rise to an epistemological crisis that culminated in a methodological synthesis in subsequent developments. The integration of the Bashrah school’s systemic rationality and the Kufah school’s empirical flexibility is theoretically relevant for the reconstruction of the epistemology of nahwu and has practical implications for the development of Arabic language pedagogy and corpus-based linguistic models in the digital age.
Representasi Karakter Manusia Melalui Gaya Bahasa Tasybih dalam Surat Al-Hujurat Hadi Mar’ei Zain; Siti Sumaiah; Anjeli Arda; Agustiar
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.7616

Abstract

Al-Qur’an sangat sering menggunakan gaya perumpamaan, analogi, atau membandingkan satu hal dengan hal lainnya. Gaya bahasa seperti ini sengaja digunakan agar pesan-pesan yang sifatnya abstrak, mendalam, atau sulit dibayangkan oleh pikiran, bisa menjadi lebih konkret dan mudah dicerna. Fokus utama yang sering digambarkan menggunakan gaya perumpamaan di dalam Al-Qur’an adalah mengenai sifat, mental, dan karakter manusia. Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks dengan segala sisi baik dan buruknya. Al-Qur’an tidak hanya menilai manusia secara hitam putih, melainkan memotret berbagai perilaku mereka dengan sangat detail. Oleh karena itu, artikel jurnal ini ditulis untuk mengupas lebih dalam mengenai perumpamaan-perumpamaan yang ada di dalam Surat Al-Hujurat dan melihat bagaimana cara bahasa tersebut menggambarkan karakter manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi kepustakaan (library research), di mana Surat Al-Hujurat diposisikan sebagai objek material dan teori tasybih dari rumpun ilmu Bayan bertindak sebagai objek formal. Pembahasan dirangkum ke dalam tiga tahapan utama yang saling berkaitan: identifikasi ayat tasybih dalam Surat Al-Hujurat, analisis representasi sifat dan karakter buruk manusia, serta relevansi representasi karakter Surat Al-Hujurat di era modern.