Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Hubungan Makna Struktur Kalimat (Tarkib) dengan I’rob Juwairiyah Siregar; Agustiar
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 3 (2025): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v2i3.3680

Abstract

Penelitian ini membahas hubungan antara struktur kalimat (tarkib) dan i’rob dalam bahasa Arab, yang menjadi faktor utama dalam menentukan makna suatu kalimat. Dengan menggunakan pendekatan studi pustaka, penelitian ini mengumpulkan data dari berbagai literatur yang relevan untuk menganalisis bagaimana  struktur kalimat mempengaruhi perubahan akhir kata (i’rob) dan dampaknya terhadap makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan i’rob, sebagai bagian dari struktur kalimat, memiliki pengaruh signifikan terhadap pemahaman makna dalam bahasa Arab. Penelitian ini menegaskan pentingnya memahami i’rob untuk menghindari ambiguitas dan kesalahan dalam interpretasi makna, baik dalam konteks linguistik klasik maupun kontemporer. Implikasinya penelitian ini memberikan wawasan mendalam bagi pembelajar dan praktisi bahasa Arab dalam memahami hubungan antara nahwu dan semantik.  
ANALISIS SEMANTIK LEKSIKAL BERBASIS TEORI KATZ DAN FODOR TERHADAP MAKNA SURAH AL-INSYIRAH Karina Dwi Nabila; Agustiar
Al Ibrah: Journal of Arabic Language Education Vol. 9 No. 1 (2026): Al Ibrah: Journal of Arabic Language Education
Publisher : Universitas Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/jale.v9i1.10929

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis makna semantik leksikal dalam Surah Al-Insyirah menggunakan teori semantik Katz dan Fodor. Kajian terhadap bahasa Al-Qur’an semakin penting karena teks Qur’ani tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga memuat dimensi spiritual, psikologis, dan emosional yang dibangun melalui struktur makna yang kompleks. Berbagai penelitian terdahulu telah membahas Surah Al-Insyirah dari perspektif tafsir, psikologi Islam, dan stilistika bahasa, namun kajian yang secara khusus mengungkap struktur makna leksikal surah ini melalui pendekatan semantik struktural Katz dan Fodor masih terbatas. Celah penelitian tersebut menjadi dasar kebaruan penelitian ini, yakni penerapan konsep semantic markers dan distinguishers dalam mengkaji kosakata utama Surah Al-Insyirah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka library research. Data primer berupa ayat-ayat Surah Al-Insyirah, sedangkan data sekunder diperoleh dari kitab tafsir, buku linguistik, artikel ilmiah, dan penelitian terdahulu yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kosakata utama dalam Surah Al-Insyirah, seperti nasyraḥ, wizr, ‘usr, yusr, fanṣab, dan farghab, mengandung semantic markers dan distinguishers yang membentuk struktur makna ketenangan, kelapangan, optimisme, dan penguatan spiritual. Relasi oposisi antara al-‘usr dan yusr menghasilkan konstruksi makna bahwa kesulitan hidup tidak bersifat permanen karena selalu disertai kemudahan dan pertolongan Allah, sementara pengulangan ungkapan “inna ma‘a al-‘usri yusrā” berfungsi sebagai penegasan psikologis dan penguatan emosional. Penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa dalam Surah Al-Insyirah tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga memiliki dimensi terapeutik yang dibangun melalui struktur semantik yang sistematis serta memperluas penerapan teori Katz dan Fodor dalam kajian linguistik Al-Qur’an.
ZIKR SEBAGAI KONSEP MULTIDIMENSIONAL DALAM AL-QURAN: STUDI TAFSIR TEMATIK Lia Mahardika Harahap; Siti Aminah; Erka Pulungan; Agustiar
Al Ibrah: Journal of Arabic Language Education Vol. 9 No. 1 (2026): Al Ibrah: Journal of Arabic Language Education
Publisher : Universitas Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/jale.v9i1.10938

Abstract

Zikr is one of the fundamental concepts in the Qur’an, holding a significant place in the development of humanity’s spiritual, intellectual and social consciousness. This article examines the term zikr and its derivatives in the Qur’an from the perspectives of semantics, exegesis and Sufism. Using the mawdhu’i (thematic) exegesis method and semantic analysis, this study finds that the word zikr, in its various morphological forms, is mentioned no fewer than 292 times in the Qur’an and encompasses a very broad spectrum of meanings: from remembering Allah, referring to the Qur’an itself, signifying a reminder or lesson, honour or glory, the act of prayer, divine revelation in general, to the dimension of spiritual therapy. This diversity of meanings demonstrates just how central the concept of zikir is to the structure of Islamic theology, spirituality, and epistemology. This study also examines the practical dimensions of zikr within the Sufi tradition and its connection to the health of the soul (nafs) based on contemporary Islamic psychological studies. The main conclusion of this article affirms that zikr is not merely a verbal ritual, but rather an existential orientation that permeates every dimension of a Muslim’s life. Abstrak Zikr merupakan salah satu konsep fundamental dalam Al-Qur’an yang memiliki kedudukan penting dalam pembentukan kesadaran spiritual, intelektual, dan sosial umat manusia. Artikel ini mengkaji term zikir (ذِكْر) beserta derivasinya dalam Al-Qur’an dari perspektif semantik, tafsir, dan tasawuf. Dengan menggunakan metode tafsir mawdhu’i (tematik) dan analisis semantik, kajian ini menemukan bahwa kata zikir dengan berbagai bentuk morfologisnya muncul sebanyak 292 kali dalam Al-Qur’an — tersebar pada lebih dari 280 ayat, dengan beberapa ayat mengandung lebih dari satu kemunculan derivasi akar ر-ك-ذ — dan mencakup spektrum makna yang sangat luas: dari mengingat Allah, merujuk kepada Al-Qur’an itu sendiri, bermakna peringatan/pelajaran, kehormatan/kemuliaan, ibadah shalat, wahyu ilahi secara umum, hingga dimensi terapi spiritual. Keberagaman makna ini menunjukkan betapa sentralnya konsep zikir dalam bangunan teologi, spiritualitas, dan epistemologi Islam. Penelitian ini juga menelaah dimensi praktis zikir dalam tradisi sufisme dan kaitannya dengan kesehatan jiwa (nafs) berdasarkan kajian psikologi Islam kontemporer. Kesimpulan utama artikel ini menegaskan bahwa zikir bukan sekadar ritual verbal, melainkan sebuah orientasi eksistensial yang menembus seluruh dimensi kehidupan seorang Muslim.
TA’RIF AND TANKIR IN QUR’ANIC DISCOURSE: A LINGUISTIC STUDY OF CONTEXTUAL MEANING FORMATION Siti Aminah; Lia Mahardika Harahap; Erka Pulungan; Agustiar
Al Ibrah: Journal of Arabic Language Education Vol. 9 No. 1 (2026): Al Ibrah: Journal of Arabic Language Education
Publisher : Universitas Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/jale.v9i1.10942

Abstract

This study aims to analyse the function of ta’rif  wa tankir in the discourse structure of the Qur’an and to explain its contribution to the formation of contextual meaning from a Qur’anic linguistic perspective. This study is motivated by the tendency of previous research to treat ta’rif wa tankirprimarily as a grammatical and rhetorical phenomenon, whilst its role in meaning construction at the discourse level has received relatively little attention. The research employs a descriptive qualitative approach using library research. The research data consists of Qur’anic verses containing the phenomena of ta’rif wa tankīr, as well as various relevant literature in the fields of Qur’anic linguistics, semantics, pragmatics, discourse analysis, exegesis, and rhetoric. The data were analysed through the stages of data reduction, thematic categorisation, semantic and pragmatic interpretation, and discourse analysis to identify the relationship between the forms of maʿrifah and nakirah and the formation of contextual meaning. The results of the study indicate that ta’rif wa tankir not only function as markers of definiteness and indefiniteness, but also play a role in reference management, the organisation of information structure, the formation of semantic focus, the development of themes, and the construction of cohesion and coherence in Qur’anic discourse. This study found that the meaning produced by the maʿrifah and nakirah forms is dynamic and determined by the interaction between grammatical, semantic, pragmatic, and discourse-contextual aspects. The novelty of this research lies in the effort to reposition ta’rif wa tankiras a multidimensional linguistic mechanism functioning in the construction of contextual meaning at the discourse level, rather than merely a phenomenon of nahwu and balaghah. This study contributes to enriching the development of contemporary Qur’anic linguistics through the integration of semantic, pragmatic, and discourse analysis perspectives, whilst offering a new conceptual framework for understanding the relationship between definiteness, indefiniteness, and meaning formation in the Qur’an.
Representasi Karakter Manusia Melalui Gaya Bahasa Tasybih dalam Surat Al-Hujurat Hadi Mar’ei Zain; Siti Sumaiah; Anjeli Arda; Agustiar
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.7616

Abstract

Al-Qur’an sangat sering menggunakan gaya perumpamaan, analogi, atau membandingkan satu hal dengan hal lainnya. Gaya bahasa seperti ini sengaja digunakan agar pesan-pesan yang sifatnya abstrak, mendalam, atau sulit dibayangkan oleh pikiran, bisa menjadi lebih konkret dan mudah dicerna. Fokus utama yang sering digambarkan menggunakan gaya perumpamaan di dalam Al-Qur’an adalah mengenai sifat, mental, dan karakter manusia. Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks dengan segala sisi baik dan buruknya. Al-Qur’an tidak hanya menilai manusia secara hitam putih, melainkan memotret berbagai perilaku mereka dengan sangat detail. Oleh karena itu, artikel jurnal ini ditulis untuk mengupas lebih dalam mengenai perumpamaan-perumpamaan yang ada di dalam Surat Al-Hujurat dan melihat bagaimana cara bahasa tersebut menggambarkan karakter manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi kepustakaan (library research), di mana Surat Al-Hujurat diposisikan sebagai objek material dan teori tasybih dari rumpun ilmu Bayan bertindak sebagai objek formal. Pembahasan dirangkum ke dalam tiga tahapan utama yang saling berkaitan: identifikasi ayat tasybih dalam Surat Al-Hujurat, analisis representasi sifat dan karakter buruk manusia, serta relevansi representasi karakter Surat Al-Hujurat di era modern.
Asalib al-Bayan: The Tasybih Language Style And Its Variants: English Nur Fitri Ani fitriani; Ayu Afni Yurmita; Agustiar
Tatsqifiy: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Vol. 7 No. 1 (2026): Tatsqify: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/tjpba.v7i1.22979

Abstract

The development of global communication and Arabic language learning among non-Arabs demands a deeper understanding of classical rhetorical aspects. This study aims to analyze Tasybīh in the science of Ilm al-Bayān, examining its structure, elements, and variants, as well as evaluating its relevance to contemporary communication and Arabic language pedagogy. This qualitative literature review employs narrative and thematic approaches, integrating classical and modern references published between 2020 and 2025. The findings indicate that Tasybīh functions not only as a linguistic comparison but also as an aesthetic, emotional, and persuasive rhetorical device. Variants such as Mursal, Mu’akkad, Mufashshal, Mujmal, Balīgh, and Tamtsīl play a significant role in strengthening meaning and evoking vivid mental imagery. This study contributes novelty by linking classical Tasybīh analysis with pedagogical implications for modern Arabic language education, thereby preserving the aesthetic value, depth of meaning, and linguistic identity of classical Arabic.
Pendidikan Islam dan Ide Kreatif dalam Memulai Usaha Nurhasanah; Nini Aryani; Agustiar
GHIROH Vol 4 No 1 (2025)
Publisher : MGMP PAI SMP BINTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61966/ghiroh.v4i1.71

Abstract

Entrepreneurship is the skill of creating added value by managing resources in a creative and innovative way. Starting a business as an entrepreneur involves focusing on three key aspects: the business idea, market opportunities, and competition. A business idea forms the foundation of any entrepreneurial activity and can stem from personal interests, awareness of everyday problems, or market trends. Business opportunities are then evaluated by analyzing consumer needs, market segmentation, technological trends, and socio-economic conditions. To thrive in a competitive market, entrepreneurs must develop a competitive edge, conduct thorough market research, and apply effective innovation and marketing strategies. This article takes a structured and analytical approach to offer practical guidance for aspiring entrepreneurs in building sustainable and market-responsive businesses.
Enterpreneur Dalam Pendidikan Islam Inovasi dan Kreativitas Produk Usaha di Sekolah: Perspektif Pendidikan Islam Randi Saputra Amyus; Agustiar; Nini Aryani
GHIROH Vol 4 No 1 (2025)
Publisher : MGMP PAI SMP BINTAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61966/ghiroh.v4i1.72

Abstract

This study aims to analyze the application of innovation and creativity in developing business products within the school environment from the perspective of Islamic Education. Using a qualitative descriptive approach, the research examines how Islamic values such as honesty, trustworthiness (amanah), and justice can be integrated into the entrepreneurial process in schools and their impact on students’ character and skills. Data were collected through direct observation, in-depth interviews with teachers and students, and document analysis of entrepreneurship programs implemented in several schools. The results show that applying Islamic principles in entrepreneurial activities not only enhances the quality of students’ business products but also plays a crucial role in shaping students’ integrity and responsibility. Moreover, students’ creativity and innovation in developing products that benefit the community significantly improved. These findings emphasize that integrating Islamic education and entrepreneurship within the school context not only boosts intellectual abilities but also cultivates a generation of young people with strong character, ethical values, and high competitiveness to face future challenges.