Lisa Retno Sari
Universitas Lampung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Eksistensi Kesultanan Banten Di Lampung Barat Abad XVIII Berdasarkan Naskah Dalung Sukau Karsiwan Karsiwan; Lisa Retno Sari; Gaya Mentari; Hidayat Mohamad Wahyu; Wellfarina Hamer
PURBAWIDYA Vol. 15 No. 1 (2026): Vol. 15(1) Juni 2026
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/purbawidya.2026.15168

Abstract

The global demand for pepper at the end of the 17th century led the Sultanate of Banten to attempt to expand its influence on Lampung. Tthis study aims to determine the influence of Banten on the expansion of black pepper cultivation through a study of the Sukau dalung in West Lampung. The method used in this study is the historical method with four stages, namely heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The primary source was the Sukau dalung, and the secondary sources were books, manuscripts, and articles related to the Sukau dalung and black pepper cultivation during the Banten Sultanate. The Sukau dalung was an agreement on pepper cultivation between the Banten Sultanate and the traditional leader of Buay Nyerupa, who was based in Tapak Siring in the Sukau region of West Lampung. This dalung was issued during the reign of Sultan Abdul Mahasin Muhammad Zainal Abidin in 1692. The dalung manuscript contains agreements on, among other things, the position of Punggawa, rules on debt and credit, the obligation to plant 500 pepper plants, pepper trade transactions, taxes and rules on travelling to and from Lampung, and a ban on war between fellow Lampung people. The Sukau Dalung, from the perspective of Gramsci's theory of hegemony, is a tool for legitimising Banten's power over a region through political and cultural work by granting a few attributes and titles, as well as spreading Islamic ideology in West Lampung.
PENGUATAN KAPASITAS PENGELOLA DAN PENGGIAT BUDAYA PADA MUSEUM SANTA MARIA SEBAGAI MEDIA EDUKASI Karsiwan Karsiwan; Tubagus Ali Rahman Puja Kusuma; Wardani Wardani; Lisa Retno Sari; Yunisca Nurmalisa; Berchah Pitoewas
MALAQBIQ Vol. 5 No. 1 (2026): Malaqbiq : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jam.v5i1.2053

Abstract

Museum sebagai institusi budaya memiliki peranan penting dalam pelestarian, pendidikan, dan penguatan identitas budaya suatu daerah. Museum Mini Santa Maria merupakan klinik kesehatan tertua di Metro yang berdiri sejak tahun 1938, dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak pertengahan tahun 2021. Pendampingan dan penguatan kapasitas pelaku budaya (mahasiswa, penggiat budaya, dan pengelola museum), merupakan strategi penting untuk mendukung pengelolaan museum yang berkelanjutan dan branding yang efektif sebagai daya tarik wisata serta pusat edukasi sejarah dan budaya. Hal ini dilakukan untuk menjawab tantangan zaman, sekaligus menginformasikan keberadaan Museum Mini Santa Maria kepada masyarakat luas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan agar para pelaku dan penggiat budaya dapat mengembangkan literasi sejarah dan budaya Kota Metro kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. Metode pengabdian yang digunakan menggunakan pendekatan ABCD dengan menekankan pada pengembangan komunitas. Hasil dan capaian kegiatan pengabdian yang telah dilakukan diantaranya 1), Penguatan kapasitas pelaku budaya melalui pendampingan dan branding Museum Mini Santa Maria merupakan langkah strategis dalam pelestarian budaya dan sejarah daerah. 2) Pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi dan branding perlu dilakukan agar museum lebih dikenal masyarakat Metro pada khususnya dan Lampung pada umumnya. 3) Kolaborasi pemanfaatan Museum Mini Santa Maria perlu digalakkan antara pengelola dan lembaga mitra seperti pemerintah daerah, perguruan tinggi, pihak swasta, dan masyarakat serta komunitas sejarah menjadi sangat penting dalam menciptakan sinergi pemanfaatan museum sebagai sumber belajar secara efektif, massif, dan berkelanjutan. Kegiatan pendampingan pada stakeholder museum perlu digalakkan mengingat museum di Kota Metro memerlukan sosialisasi, konsolidasi, penguatan dan pendampingan kepada pengelola museum dan pelaku budaya sebagai garda terdepan dalam implementasi suatu kebijakan pemerintah seperti Ayo Kunjungi Museum. Keberadaan Museum Mini Santa Maria dapat dioptimalkan baik sebagai memori kolektif maupun sebagai alternatif sumber belajar.