Yana Sundayani
Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

STRATEGI BERTAHAN HIDUP MASYARAKAT KAMPUNG ADAT KUTA DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19 DI KABUPATEN CIAMIS Nindy Pradina; Theresia Martina Marwanti; Yana Sundayani
Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial (Rehsos) Vol 3 No 02 (2021): REHSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.587 KB) | DOI: 10.31595/rehsos.v3i02.446

Abstract

Dampak yang dirasakan akibat banyaknya kasus Covid-19 terasa oleh seluruh lapisan masyarakat, salah satunya oleh masyarakat adat Kampung Kuta. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan strategi bertahan hidup dalam menghadapi pandemi Covid-19 pada masyarakat adat Kampung Kuta. Metode dalam penelitian ini, menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara mendalam, observasi partisipatif dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan strategi aktif yang dilakukan yaitu dengan memaksimalkan potensi yang terdapat di Kampung Adat Kuta diantaranya aset fisik, manusia, finansial, sosial, spiritual, lingkungan dan aset teknologi dalam aktivitas sehari-hari. Kemudian strategi pasif yang dilakukan yaitu mengurangi biaya hidup keluarga dan pengeluaran masyarakat, saling membantu, tetap berinovasi dan berkreasi untuk usaha lain, menambah jenis tanaman pertanian dan memasarkan hasil pertanian ke orang-orang terdekat. Ketiga strategi jaringan yang dilakukan yaitu pemanfaatan jaringan antar individu, tetangga/keluarga, masyarakat, organisasi/kelompok, perangkat adat dan dusun bahkan pihak luar/swasta dengan menjalin hubungan yang baik. Didukung dengan kebersamaan dan kedekatan melalui kegiatan gotong royong juga adanya bantuan dari pemerintah.
KETAHANAN SOSIAL KOMUNITAS ADAT JALAWASTU TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL DI DESA CISEUREUH KABUPATEN BREBES Hendra Pramudya; Theresia Martina Marwanti; Yana Sundayani
Jurnal Ilmiah Perlindungan & Pemberdayaan Sosial, Vol 3 No 2 (2021): LINDAYASOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.562 KB) | DOI: 10.31595/lindayasos.v3i02.453

Abstract

The Jalawastu Indigenous Community is a community group that still maintains traditional values and traditions, in carrying out daily activities. Social resilience refers to the social unity of individuals, organizations or communities that have aspects of coping capacities, adaptive capacities and transformative capacities with various environmental and social changes. This study aims to determine the resilience of the Jalawastu Indigenous community to social change in Ciseureuh Village, Keanggungan District, Brebes Regency. The method used in this study is a qualitative research method. This research provides a deeper understanding of the social resilience of the Jalawastu Indigenous Community in the face of social change. Data collection techniques used are in-depth interviews, observation, and documentation studies. The results of the study stated that the Jalawastu Indigenous Community still has a fairly good social resilience in responding to social changes. Aspects of coping abilities are marked by still holding high traditional values in deliberation and family solidarity. The aspect of adaptability in responding to social change is carried out while maintaining customary values and accepting social changes that are beneficial to the community. Regarding the aspect of transformational capacity, the Jalawastu Indigenous Community is still in the process of making changes for the better to maximize the available local potential. The Jalawastu Indigenous Community still has good social resilience in facing social changes in Ciseureuh Village, Keanggungan District, Brebes Regency.
PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL MELALUI RUMAH SOSIAL AMANAH DI KELURAHAN MUARASANDING KECAMATAN GARUT KOTA KABUPATEN GARUT Dede Kuswanda; Yana Sundayani Sundayani
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 12 No 1 (2013): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v12i1.18

Abstract

Abstract Rumah Sosial Amanah is a social welfare service institution that based on community. Rumah Sosial Amanah established by the Decree of Muarasanding Village Head, Sub-district of Garut City dated December 9, 2011. Research on social welfare service through Rumah Sosial Amanah aims to gain an overview of social welfare services through Rumah Sosial Amanah. Social welfare service is a directed, integrated and sustainable effort to overcome social problems and to meet the needs of social welfare problem as a program that directly linked to the social welfare. The method which used in this research is the participatory action method. Data sources of research are: (1) Rumah Sosial Amanah administrator, (2) Rumah Sosial Amanah field-worker, (3) the village chief/village officials. Data collection techniques using in-depth interview technique, focus group discussions and documentation study. 18 informants were determined by using purposive sampling technique. The research result showed that the activities have been carried out by Rumah Sosial Amanah are socializing program, social problem attribute identification, framing program, determining field-worker and preparing plans  and submitting proposal. Rumah Sosial  Amanah has barriers that related to the institution, human resources, infrastructure facilities and the ability to access programs and budgets. The action taken is to increase the capacity of field-worker and administrator of Rumah Sosial Amanah in accessing programs and budgets for social welfare services. The Recommendation for increasing the social welfare services of Rumah Sosial Amanah is developing the institution, human resources and procurement of infrastructure. Keywords: services, social welfare, social house Abstrak Rumah Sosial Amanah merupakan lembaga pelayanan kesejahteraan sosial berbasis komunitas. Rumah Sosial Amanah ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Kelurahan Muarasanding Kecamatan Garut Kota Nomor: 467.2/06- Kel/2011 tanggal 9 Desember 2011. Penelitian tentang pelayanan kesejahteraan sosial melalui Rumah Sosial Amanah bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang pelayanan kesejahteraan sosial melalui Rumah Sosial Amanah. Pelayanan kesejahteraan sosial merupakan suatu  upaya yang terarah, terpadu dan berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan sosial dan memenuhi kebutuhan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) sebagai suatu program yang dihubungkan langsung dengan kesejahteraan sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan partisipatif. Sumber data penelitian adalah: (1) pengurus Rumah Sosial Amanah, (2) pendamping Rumah Sosial Amanah, (3) Kepala Desa/ aparat desa. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, dan studi dokumentasi. Penetapan informan sebanyak 18 orang menggunakan teknik  purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Rumah Sosial Amanah adalah sosialisasi program, identifikasi PMKS, penyusunan program, penentuan pendamping, dan rencana penyusunan serta pengajuan proposal.  Rumah Sosial mengalami hambatan yang berkaitan dengan kelembagaan, sumber daya manusia, prasarana sarana serta kemampuan dalam mengakses program dan anggaran. Tindakan yang dilakukan adalah meningkatkan kapasitas pendamping dan pengurus Rumah Sosial Amanah dalam mengakses program dan anggaran untuk pelayanan kesejahteraan sosial. Saran untuk meningkatkan pelayanan kesejahteraan sosial Rumah Sosial Amanah adalah pengembangan kelembagaan, pengembangan sumber daya manusia dan pengadaan prasarana sarana. Kata kunci: pelayanan, kesejahteraan sosial, rumah sosial 
PROFIL KELUARGA MIGRAN MISKIN Yana Sundayani; Bambang Sugeng; Decky Irianti; Aribowo .; Suradi .
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 14 No 1 (2015): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v14i1.43

Abstract

AbstractThe aim of the research is to gain emprical descriptions, examine and analyse deeply about the profile of poor migrant families in Babakan Surabaya Village, Kiaracondong Sub-district. The approach used is qualitative approach with descriptive qualitative method. The data resource in this research are poor migrant families, local government, city government and documentary data. Data collection technique uses in-depth interview, participative observation, documentation study and data analysis technique used is qualitative data analysis technique. The result showed that: 1) the characteristic of poor migrant families in Babakan Surabaya Village came from several regions beyond Bandung City. The basic needs fulfilment can be met  even if sober, divorced families and children and wives live in the village. Migrant workers have spirit and hopes to get a better life than their origin. 2). The livelihood of migrant workers generally in informal sector with income below the regional minimum wage. Assets in the form of house, and stalls, the educational background is elementary school. Division of labour system has been a regular and hereditary. 3). The Support network/system often shifts in accordance with the job requirements. Migrant workers always related to social system closest to jobs or social system derived from their origin and has close bond with social network. It is a system to strengthen their trading system and very useful in facing problems or needs fulfilment with their trade. The relation with nucleus family and community are mutual support and help each other. Social relationship with community in the village still stay in touch and the bond with families become a brace to back to hometown. 4). Social service accessibility and work mobility from poor migrant families not all of them can get the social service. The accessibility of formal resource system is very low. The formal system the most needed system is cooperation or credit agency. Informal system accessibility is very good and community resource can be reached and applied well. 5). Migrant workers mobility in doing activity performed in accordance with the requirements. Returning to hometown is still done by migrant workers as needed. It is indicated that migrant workers have a spirit to go to hometown because their families are waiting. According to the result in the field shows that the profile of poor migrant families in Babakan Surabaya Village, Kiaracondong Sub-district are the hard workers even though with the poor living condition and have no alternative self development. “Return to Religion” is a “coping mechanism”. The work system is division of labour that is standardised work system but must obey the existing work system rules. Mastering production tools and working tools is low, migrant workers have a strong bond in regional social capital or occupation, and it is prolonged and durable network.Keywords: migrant worker, poor families    AbstrakTujuan  penelitian adalah untuk memperoleh gambaran secara empirik, mengkaji serta melakukan analisis yang mendalam  tentang  profil keluarga migran miskin di Kelurahan Babakan Surabaya Kecamatan Kiaracondong. Pendekatan yang digunanakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian adalah keluarga migran miskin, tokoh pemerintah lokal, pemerintah kota dan data dokumenter. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi partisipasi, dan studi dokumentasi serta teknik analisa data yang digunakan adalah teknik analisa data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Karakteristik keluarga migran miskin yang ada di Kelurahan Babakan Surabaya berasal dari berbagai daerah  luar Kota Bandung. Pemenuhan kebutuhan pokok dapat terpenuhi walaupun seadanya,  keluarga pernah bercerai dan anak beserta isteri bertempat tinggal di kampung. Para pekerja migran mempunyai semangat dan harapan untuk mendapat kehidupan yang lebih baik dari daerah asal. 2) Matapencaharian para pekerja migran pada umumnya di sektor informal dengan penghasilan dibawah Upah Minimum Regional (UMR). Aset yang berupa rumah, warung dan lapak, latar pendidikan adalah SD.  Sistem  pembagian kerja telah teratur dan bersifat turun temurun sebagai warisan dari orangtua. 3) Jaringan/sistem pendukung pekerjaan terkadang berpindah-pindah tempat sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Para pekerja migran selalu terkait dengan sistem sosial yang terdekat dengan pekerjaannya atau sistem sosial yang berasal dari tempat asalnya dan mempunyai ikatan yang erat dengan jaringan sosial tersebut. Hal ini sebagai sistem untuk memperkuat sistem perdagangannya dan sangat berguna dalam  menghadapi  masalah maupun pemenuhan kebutuhan dengan usaha perdagangannya. Hubungan dengan keluarga inti dan masyarakat sekitar adalah saling mendukung, saling membantu. Hubungan sosial dengan masyarakat di kampung  masih tetap terjalin dan  ikatan  dengan keluarga di kampung menjadi penguat untuk pulang kampung. 4) Aksesibilitas pelayanan sosial dan mobilitas kerja dari keluarga migran miskin tidak semua mendapatkan pelayanan sosial. Aksesibilitas sistem sumber formal sangat rendah. Sistem formal yang paling dibutuhkan adalah koperasi atau lembaga perkreditan. Aksesibilitas sistem informal sangat baik dan sistem sumber kemasyarakatan dapat dijangkau dan dimanfaatkan dengan baik. 5) Mobilitas kerja pekerja migran dalam melakukan aktivitas dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan. Kepulangan ke kampung halaman masih dilakukan para pekerja migran sesuai dengan keperluan. Hal tersebut menunjukkan bahwa para pekerja migran mempunyai semangat untuk pulang kampung karena keluarganya menanti di kampung halamannya. Berdasarkan temuan hasil di lapangan menunjukkan bahwa profil keluarga migran miskin di Kelurahan Babakan Surabaya Kecamatan Kiaracondong adalah sebagai pekerja keras, meskipun dengan  kondisi kehidupan yang buruk, dan tidak memiliki alternatif  pengembangan diri.  “Return to Religion” merupakan “coping mechanism”. Sistem kerjanya adalah division of labour  yaitu sistem kerja secara baku, akan tetapi harus tunduk pada aturan sistem kerja yang ada. Penguasaan alat produksi dan alat kerja yang  rendah, para pekerja migran mempunyai keterikatan secara kuat dalam modal sosial kedaerahan maupun pekerjaan, dan bersifat  prolonged and durable network.Kata kunci: pekerja migran, keluarga miskin
DUKUNGAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENANGANAN ANAK JALANAN DI KOTA PADANG SUMATERA BARAT Yana Sundayani
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 15 No 1 (2016): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v15i1.62

Abstract

Abstract Support local governments (LGs) in the treatment of street children in West Sumatra is to see the institutional capacity of local street children in 2014. The research objectives were to obtain an overview empirically assess and perform a clear analysis related to local government support of Padang in the handling of street children. The study used a qualitative approach using primary and secondary data sources and data collection techniques using the technique of in-depth interviews, participatory observation, study the documentation and Focus Group Discussion (FGD). Data analysis technique used is descriptive qualitative analysis. Engineering samples by purposive sampling as many as 10 informants. The results showed the number of street children in West Sumatra and the 805 children in the city of Padang amounted to 695 children. Street children are the most numerous of the outside area of Padang. West Sumatra government preparedness in order to achieve child-friendly city, can be seen from the cooperation with various parties such as the Department of Education, Office of Population and Civil Registration (Dukcapil), the universities. It is necessary in the cooperation is the improvement of coordination between the units involved in the management of street children. Data base about street children is necessary so as to facilitate in getting data that can be justified on street children. Regulations related to street children in the form of draft Regulation (draft) on the protection of women and children, but there is no special local regulations about street children. Culture in West Sumatra related to local knowledge is a real public participation, but in fact people do not carry local knowledge optimally. Private parties (LSM / NGO) not all participate fully associated with the handling of street children. There is still a lack of human resources, especially of social workers in the field of children. So for handling street children in West Sumatra necessary cooperation and coordination with related work units, a data base of street children, street children associated regulations, application of local wisdom and cooperation with the private sector in handling street children. Expected future can be realized as an area of Padang eligible children. Key words: policy, local governments, street children Abstrak Dukungan pemerintah daerah (Pemda) dalam penanganan anak jalanan di Sumatera Barat adalah untuk melihat kesiapan daerah bebas anak jalanan pada tahun 2014. Tujuan penelitian untuk memperoleh gambaran secara empirik, mengkaji serta melakukan analisis yang jelas terkait dukungan pemerintah daerah Kota Padang dalam penanganan anak jalanan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan sumber data primer dan sekunder dan teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi partisipasi, studi dokumentasi serta Focus Group Discussion (FGD). Teknik analisa data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Teknik sampel dengan purposive sampling  sebanyak 10 informan.Hasil penelitian menunjukkan  jumlah anak jalanan di Sumatera Barat adalah 805 anak dan di Kota Padang berjumlah 695 anak. Anak jalanan yang paling banyak dari luar daerah Padang. Kesiapan pemerintah Sumatera Barat dalam  rangka mencapai kota layak anak, dapat terlihat dari kerjasama dengan berbagai pihak seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), dan pihak perguruan tinggi. Hal yang diperlukan dalam kerjasama  adalah peningkatan koordinasi antara unit kerja yang terkait dalam penanganan anak jalanan. Data base tentang anak jalanan merupakan hal yang diperlukan sehingga memudahkan dalam mendapatkan data yang dapat dipertanggungjawabkan tentang anak jalanan. Peraturan yang terkait anak jalanan dalam bentuk Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang perlindungan perempuan dan anak, tetapi belum ada peraturan daerah  yang khusus tentang anak jalanan. Budaya di Sumatera Barat yang berkaitan dengan kearifan lokal merupakan peran serta masyarakat secara nyata, namun dalam kenyataan masyarakat belum melaksanakan kearifan lokal secara optimal. Pihak-pihak swasta (LSM/ NGO) belum semuanya berpartisipasi secara penuh terkait dengan penanganan anak jalanan. Masih kurangnya sumber daya manusia khususnya dari pekerja sosial di bidang anak. Sehingga untuk penanganan anak jalanan yang ada di Sumatera Barat diperlukan kerjasama dan koordinasi dengan unit kerja terkait, data base anak jalanan, peraturan yang terkait anak jalanan, penerapan kearifan lokal serta kerjasama dengan pihak swasta dalam penanganan anak jalanan. Diharapkan kedepan dapat terwujud Kota Padang sebagai daerah layak anak. Kata kuci: kebijakan, pemerintah daerah, anak jalanan
KECEMASAN ANAK KORBAN TINDAK KEKERASAN SEKSUAL DI YAYASAN RUMAH AMAN SUMUR KABUPATEN NGANJUK Milla Sustika Dewi; Meiti Subardhini Subardhini; Yana Sundayani
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 18 No 2 (2019): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v18i2.197

Abstract

Penelitian ini tentang Kecemasan Anak Korban Tindak Kekerasan Seksual di Yayasan Rumah Aman Sumur Kabupaten Nganjuk. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran secara empirik karakteristik anak korban tindak kekerasan seksual, aspek kecemasan yaitu somatis, kognitif dan perilaku serta harapan dari anak korban tindak kekerasan seksual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa anak korban tindak kekerasan seksual mengalami kecemasan somatis yaitu mata kabur, sakit kepala, mual, sakit perut, jantung berdetak lebih cepat dan badan terasa lemas. Kecemasan kognitif yang muncul pada anak korban tindak kekerasan seksual adalah menyalahkan oranglain, menyalahkan diri sendiri, susah berkonsentrasi berpikirtidak dapat mengendalikan masalah, takut pada pikiran sendiri, berfirasat buruk, gangguan tidur (mengigau), merasa takut dan ingin membalas (dendam) perilaku pelaku. Kecemasan perilaku yang muncul pada anak korban tindak kekerasan seksual yaitu menghindar, tidak mampu bicara, sering menangis, melamun dan tidak ingin sendiri. Kecemasan yang dialami anak korban tindak kekerasan seksual tentunya berpengaruh pada aktivitas dan kehidupan sehari-harinya. Anak korban tindak kekerasan seksual membuuhkan dukungan dan rasa aman agar kecemasannya dapat berkurang atau hilang. Oleh karena itu, peneliti mengusulkan program yaitu "Terapi Psikososial untuk Mengatasi Kecemasan Anak Korban Tindak Kekerasan Seksual di Yayasan Rumah Aman Sumur Kabupaten Nganjuk". Program menggunakan metode socialcasework dengan menggunakan teknik terapi nourishment, Rational Emotiv Therapy (RET) dan terapi relaksasi. Melalui program ini diharapkan kecemasan dan trauma anak korban tindak kekerasan seksual berkurang atau hilang.
Development of Community Participation in Preventing Stunting Yana Sundayani
International Seminar on Social Work Update Vol 1 No 1 (2023): ISSW
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Participation is participation in an activity by playing an active role to achieve goals with full responsibility. This research aimed to determine the effect of the development of community participation on efforts to prevent stunting. The method used in this study is a survey method with a quantitative approach, and the main tool for collecting data is a questionnaire. The data analysis technique in this study was to use a simple linear regression formula with the help of SPSS 25 for windows. The research location is located in Leuwigoong Village, Leuwigoong District, Garut Regency. The results showed that based on the Anova test with F count 5,747 and a probability significance level of 0.019 <0.05, it can be concluded that the regression model can be used to predict stunting prevention variables. The results of the t test found that t count> t table (2,397 > 1,670), that H0 was rejected statistically significant. Based on the results of the t test, the significant value is less than 0.05 (0.019 <0.05) meaning that there is a significant influence between the development of community participation on stunting prevention.
KETAHANAN SOSIAL KOMUNITAS ADAT JALAWASTU TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL DI DESA CISEUREUH KABUPATEN BREBES Pramudya, Hendra; Marwanti, Theresia Martina; Sundayani, Yana
Jurnal Ilmiah Perlindungan & Pemberdayaan Sosial, Vol 3 No 2 (2021): LINDAYASOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/lindayasos.v3i02.453

Abstract

The Jalawastu Indigenous Community is a community group that still maintains traditional values and traditions, in carrying out daily activities. Social resilience refers to the social unity of individuals, organizations or communities that have aspects of coping capacities, adaptive capacities and transformative capacities with various environmental and social changes. This study aims to determine the resilience of the Jalawastu Indigenous community to social change in Ciseureuh Village, Keanggungan District, Brebes Regency. The method used in this study is a qualitative research method. This research provides a deeper understanding of the social resilience of the Jalawastu Indigenous Community in the face of social change. Data collection techniques used are in-depth interviews, observation, and documentation studies. The results of the study stated that the Jalawastu Indigenous Community still has a fairly good social resilience in responding to social changes. Aspects of coping abilities are marked by still holding high traditional values in deliberation and family solidarity. The aspect of adaptability in responding to social change is carried out while maintaining customary values and accepting social changes that are beneficial to the community. Regarding the aspect of transformational capacity, the Jalawastu Indigenous Community is still in the process of making changes for the better to maximize the available local potential. The Jalawastu Indigenous Community still has good social resilience in facing social changes in Ciseureuh Village, Keanggungan District, Brebes Regency.
The Pengembangan Desain Pemberdayaan Pemulung oleh Motivator Ketahanan Pangan dalam Program Pertanian Perkotaan di Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta: Pengembangan Desain Pemberdayaan Pemulung oleh Motivator Ketahanan Pangan dalam Program Pertanian Perkotaan di Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta MAISAROH, PUTRI; Kuswanda, Dede; Sundayani, Yana
Jurnal Ilmiah Kebijakan dan Pelayanan Pekerjaan Sosial (Biyan) Vol 7 No 1 (2025): BIYAN
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/biyan.v7i1.1305

Abstract

Pemulung termasuk dalam komunitas miskin perkotaan yang aktivitas kesehariaanya berada di sektor informal dimana profesi ini tidak memerlukan persyaratan formal, pekerjaan yang mudah dilakukan tanpak keterampilan khusus, dan tidak terikat dengan waktu kerja tertentu. Pemulung yang diberdayakan melalui program pemberdayaan tentunya mendapat dampak positif terhadap kondisi kesejahteraan. Upaya pengentasan kemiskinan berbasis program pemberdayaan yang menyentuh sektor pertanian dan pangan bagi komunitas pemulung juga turut dilaksanakan oleh Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta. Namun, fenomena saat ini, yayasan mengahadapi tantangan tersendiri setelah program pemberdayaan dilaksanakan yaitu menjaga konsistensi pemulung untuk menabung sampah dan merawat bibit tanaman yang diberikan dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menyempurnakan pengembangan desain Pemberdayaan Pemulung oleh Motivator Ketahanan Pangan dalam Program Pertanian Perkotaan dalam menjawab hambaatan dan tantangan yang dialami Yayasan Swara Peduli Indonesia Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Participatory Action Research (PAR) melalui teknik Focus Group Discussion (FGD), wawancara semi terstruktur, observasi, dan literature review. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah partisipan yang terdiri dari pengurus inti yayasan, anggota kelompok tani, dan motivator ketahanan pangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain Pemberdayaan Pemulung oleh Motivator Ketahanan Pangan dalam Program Pertanian Perkotaan dapat diimplementasikan dan kehadiran motivator ketahanan pangan dapat meningkatkan konsistensi pemulung untuk menjalankan siklus pertanian secara berkelanjutan.
Ms. Iffa Atlya Khairunnisa Pelatihan Vokasional untuk Mencapai Kemandirian Anak Berhadapan dengan Hukum: Penelitian pada Anak Berhadapan dengan Hukum di Sentra Handayani di Jakarta Iffa Atlya Khairunnisa; Sundayani, Yana; Vonika, Nike
Peksos: Jurnal Ilmiah Pekerjaan Sosial Vol 24 No 1 (2025): PEKSOS
Publisher : Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31595/peksos.v24i1.1611

Abstract

This study aims to obtain an in-depth understanding of; 1) the implementation process of vocational training to achieve the independence of children in conflict with the law, including emotional, behavioral, and value-based independence; 2) supporting factors; and 3) challenges encountered during the vocational training process. This research employs a qualitative approach with a descriptive method. Data sources were selected using purposive sampling. Data collection techniques included in-depth interviews with five informants, comprising two children in conflict with the law, one social worker, and two vocational training instructors, field observations and document studies. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results show that vocational training can serve to achieve independence and develop emotional, behavioral, and value-based independence in children in conflict with the law through the involvement of instructors and social workers, the process of independence formation, and strategies used by instructors to train independence. Factors supporting this process include the children's internal motivation, environment, parenting styles, and education. Challenges faced include children’s inconsistency in choosing training programs, lack of enthusiasm during training, and limited ability to adapt to productive activity routines.