Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Prosedur Tindakan Percutaneous Coronary Interventional dengan Menggunakan Intravaskular Ultrasound dengan Kasus Chronik Total Occlusion pada Arteri Koroner: Percutaneous Coronary Interventional Procedure Using Intravascular Ultrasound in Chronic Total Occlusion Cases in Coronary Arteries Maria Gristha Tengah; I Made Lana Prasetya; Dwi Hascaryo
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v12i1.12801

Abstract

Percutaneous coronary interventional (PCI) merupakan tindakan pelebaran pembuluh darah minimal invasive dengan menggunakan ballon dan stent, prosedur tindakan PCI dengan menggunakan intravaskular ultrasound (IVUS) pada kasus ini menggunakan single puncture pada arteri femoralis kanan. Studi ini mendeskripsikan proses dan hasil Percutaneous Coronary Intervention (PCI) dengan panduan IVUS pada pasien CTO LAD. Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif dengan pendekatan laporan kasus (case report). Pendekatan ini dipilih untuk memberikan gambaran rinci mengenai prosedur intervensi serta peranan radiografer pada tindakan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) dengan panduan Intravascular Ultrasound (IVUS) pada pasien dengan penyakit jantung koroner kompleks, chronic total occlusion (CTO) pada arteri LAD. Evaluasi angiografi awal menunjukkan oklusi total pada proximal LAD. Prosedur PCI dilakukan pada salah satu pembuluh utama, yaitu LAD, dengan penggunaan IVUS Opticross untuk mengevaluasi morfologi lesi, luas penampang minimal lumen area, dan efektivitas ekspansi stent. Hasil evaluasi IVUS pada LAD menunjukkan lesi fibrocalcified sepanjang 44,25 mm dengan MLA awal sebesar 2,72 mm², sehingga dilakukan implantasi dua stent DES dari mid LAD ke proximal LM. Evaluasi IVUS pasca PCI menunjukkan stent terpasang dengan baik dan mengembang optimal dengan MSA meningkat menjadi 4,44 mm² di mid LAD dan 10,03 mm² di proximal LM. Evaluasi angiografi akhir menunjukkan aliran darah TIMI grade 3 tanpa trombus, sisa stenosis, atau komplikasi lainnya. Beberapa tugas dan peranan radiografer dalam tindakan PCI adalah pada dasarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara tugas yang dilakukan Radiografer dalam SKKNI dan di lapangan.
Teknik Pemeriksaan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) pada Kasus Stenosis Right Coronary Artery (RCA): Percutaneous Coronary Intervention (PCI) Examination Technique in Right Coronary Artery (RCA) Stenosis Cases Kadek Bujangga Aris Priadil; I Made Lana Prasetya; Dwi Hascaryo
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v12i1.12802

Abstract

Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Salah satu terapi invasif minimal untuk mengatasi penyumbatan arteri koroner adalah Percutaneous Coronary Intervention (PCI). Penanganan terhadap PJK yang signifikan secara hemodinamik, khususnya pada pasien dengan lesi berat di satu pembuluh koroner utama (single vessel disease). Dalam kasus ini, pasien mengalami stenosis difus dengan lesi di segmen mid dari Right Coronary Artery (RCA). Prosedur dilakukan melalui akses radialis kanan dan dilakukan pemasangan satu buah stent di mid-RCA. Dilakukan teknik double wiring ke arah PDA dan PL untuk stabilisasi lesi. Tindakan PCI pada pasien dengan CAD 1 VD dan stenosis signifikan RCA membutuhkan beberapa persiapan dari kondisi pasien sampai alat dan bahan yang diperlukan saat tindakan. Peran Radiografer juga dibutuhkan dalam tindakan pemeriksaan PCI pada pasien dengan CAD 1 VD dengan stenosis yang signifikan di pembuluh darah RCA. Dalam tindakan ini radiografer juga perlu mempersiapkan tindakan sebelum maupun sesudah tindakan, mulai dari register pasien, pengoperasian alat untuk memastikan gambar angiografi jelas dan informatif untuk membantu diagnosis yang akurat hingga pelaporan hasil tindakan. Dalam penelitian ini penulis membahas mengenai prosedur tindakan PCI pada pasien dengan CAD 1 VD dengan stenosis signifikan di pembuluh darah RCA dan pentingnya peran radiografer dalam SKKNI dan di lapangan.
Pengujian Quality Control pada Pesawat CT Scan Canon Aquilion Lightning 16 Slicedi Instalasi Radiologi RSUD Panglima Sebaya: Quality Control Testing of the Canon Aquilion Lightning 16 Slice CT Scanner at the Radiology Department of RSUD Panglima Sebaya Roni Satria; I Made Lana Prasetya
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 3 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i3.8130

Abstract

Pesawat CT Scan Canon Aquilion Lightning 16 Slice di Instalasi Radiologi RSUD Panglima Sebaya memerlukan program manajemen mutu yang berkelanjutan untuk menjamin kualitas dan keamanan layanan radiodiagnostik. Pesawat ini diperiksa secara berkala menggunakan standar yang ditetapkan oleh Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 2 Tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas program kendali mutu pada pesawat CT Scan tersebut dengan mengukur kesesuaian parameter pengujian. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan survei, yang melibatkan pengukuran parameter CT Number, keseragaman CT Number, akurasi CT Number, dan pengujian artefak selama 30 hari pengujian quality control.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata CT Number pada arah jam 3 (-0,23), jam 6 (0,90), jam 9 (0,42), jam 12 (0,25), dan pusat (1,48) berada dalam rentang standar -2 hingga 2 HU. Nilai deviasi rata-rata terhadap CT Number pusat pada arah jam 3 (0,47), jam 6 (0,44), jam 9 (0,44), dan jam 12 (0,55) juga sesuai dengan standar toleransi. Keseragaman CT Number pada arah jam 3 (1,71), jam 6 (0,61), jam 9 (1,14), dan jam 12 (1,25) menunjukkan hasil baik. Pengujian akurasi CT Number menunjukkan nilai tertinggi pada irisan 5 (1,82 HU) dan nilai terendah pada irisan 1 (1,59 HU), yang keduanya berada dalam batas toleransi -4 hingga 4 HU. Tidak ditemukan artefak pada gambar irisan water phantom, dan semua fungsi serta tombol pada pesawat CT Scan berfungsi dengan baik berdasarkan hasil pemeriksaan checklist. Kesimpulannya, pesawat CT Scan Canon Aquilion Lightning 16 Slice di Instalasi Radiologi RSUD Panglima Sebaya beroperasi dalam batas normal sesuai dengan standar yang berlaku, sehingga dapat digunakan dengan aman untuk layanan radiodiagnostik.
Analisis Pemeriksaan MSCT Cardiac Triple Rule Out pada Kasus Aneurisma Aorta Ascenden dengan Protokol Flash ECG Gating di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta: Analysis of MSCT Cardiac Triple Rule Out Examination in Cases of Ascendent Aorta Aneurysm with Flash ECG Gating Ptotocol in Radiology Installation of Harapan Kita National Hearth Center Hospital Jakarta Ningrum Herawati; I Made Lana Prasetya; Ni Putu Mira Kristin K
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 3 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i3.8330

Abstract

Aneurisma aorta ascenden merupakan kondisi serius yang membutuhkan diagnosis cepat dan akurat. MSCT Cardiac Triple Rule Out dengan protokol Flash ECG Gating telah digunakan sebagai metode diagnostik untuk evaluasi simultan terhadap aorta, arteri koroner, dan arteri pulmonalis pada pasien dengan nyeri dada akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi teknik pemeriksaan, serta kelebihan dan kekurangan MSCT Cardiac Triple Rule Out dalam mendeteksi aneurisma aorta ascenden di Instalasi Radiologi RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Jakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian dilakukan pada lima pasien yang menjalani pemeriksaan MSCT Cardiac Triple Rule Out. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara dengan radiografer dan dokter spesialis, serta dokumentasi hasil pencitraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa protokol Flash ECG Gating mampu meminimalkan artefak gerakan jantung, sehingga menghasilkan gambar yang lebih jelas dan detail, terutama untuk evaluasi aorta ascenden. Teknik ini dinilai sangat efektif dalam mengurangi waktu diagnosis dengan mengevaluasi beberapa struktur kardiovaskular secara bersamaan, yang sangat penting untuk pasien dengan kondisi kardiovaskular kompleks. Namun, beberapa kendala yang ditemui meliputi persiapan pasien yang rumit, seperti pengaturan tekanan darah dan penggunaan beta-blocker, serta dosis radiasi dan media kontras yang memerlukan pemantauan ketat. Kesimpulannya, teknik MSCT Cardiac Triple Rule Out dengan Flash ECG Gating adalah metode yang efisien dan akurat dalam mendeteksi aneurisma aorta ascenden. Disarankan agar fasilitas kesehatan lebih sering menerapkan teknik ini, serta memberikan pelatihan berkelanjutan kepada tenaga medis untuk meningkatkan kualitas pemeriksaan dan keamanan pasien.
Pengaruh Variasi Number of Signal Average (NSA) Terhadap Kualitas Citra pada MRI Lumbosacral Potongan Sagital Sekuen TIW TSE pada Klinis Hernia Nukleus Pulposus (HNP): The Effect of Number of Signal Average (NSA) Variations on Image Quality in Sagittal TIW TSE Sequence Lumbosacral MRI in Clinical Herniated Nucleus Pulposus (HNP) Made Gede Andiana; I Made Lana Prasetya; Triningsih Triningsih
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 3 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i3.8339

Abstract

Pencitraan MRI Lumbosacral merupakan modalitas penting dalam diagnosis Hernia Nukleus Pulposus (HNP), yang mampu memvisualisasikan struktur tulang belakang secara mendetail. Kualitas citra yang dihasilkan dipengaruhi oleh berbagai parameter, salah satunya adalah Number of Signal Average (NSA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi NSA terhadap kualitas citra pada MRI Lumbosacral potongan sagital sekuen T1-weighted Turbo Spin Echo (TSE) pada klinis HNP. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif bersifat eksperimental dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, untuk mendapatkan sampel sesuai dengan kriteria klinis HNP. Dari 10 sampel yang diambil, hasil analisis statistik menggunakan uji Repeated Measures ANOVA menunjukkan nilai p < 0,05, yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara variasi NSA terhadap Contrast-to-Noise Ratio (CNR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan NSA berpengaruh signifikan terhadap kualitas citra yang diukur dengan nilai CNR. NSA 3 memberikan kualitas citra terbaik namun dengan waktu pemindaian yang lebih lama, sedangkan NSA 2 memberikan keseimbangan optimal antara kualitas citra dan waktu pemindaian. Berdasarkan penelitian ini, NSA 2 direkomendasikan sebagai pilihan optimal untuk memberikan keseimbangan antara waktu pemindaian dan kualitas citra. Kesimpulannya terdapat pengaruh signifikan dari variasi NSA terhadap kualitas citra MRI Lumbosacral pada kasus klinis HNP, dan penggunaan NSA yang tepat dapat membantu meningkatkan diagnosis yang lebih akurat.
Analisis Pemeriksaan CT Scan rologi dengan Teknik Low Contrast Klinis Urolithiasis di Bagian RIR Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung: Analysis of Urological CT Scan Examination Using Low Contrast Teqnique for Urolithiasis Cases at Santo Borromeus Hospital, Bandung Maria Mardiana Ruto; I Made Lana Prasetya; Kadek Sukadana
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 3 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i3.12000

Abstract

Ginjal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh dan fungsi ekskresi, termasuk mengatasi masalah seperti batu saluran kemih yang dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal. Urolithiasis di saluran kemih, lebih sering terjadi pada pria dan dapat ditemukan di seluruh bagian saluran kemih, terutama di pelvis ginjal. CT Scan Urologi menggunakan kontras untuk meningkatkan kualitas gambar dan mengurangi artefak. Penggunaan teknik Low Contras pada CT Scan Urologi memberikan hasil yang setara dengan kontras standar, mengurangi dosis radiasi, serta biaya dan risiko serangan jantung. CT Scan Urologi dengan persiapan pasien, alat dan bahan, posisi pasien dan protokol pemeriksaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus menggunakan 5 pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan CT Scan Urologi dengan Teknik Low Contrast dan kelebihan dan kekurangan pada pemeriksaan CT Scan Urologi dengan teknik Low Contrast pada klinis Urolithiasis. Hasil penelitian diperoleh berdasarkan teori dilakukan dengan 4 fase yaitu fase non kontras, fase Corticomedullary, fase nefrografik (Nephrographic) dan fase ekskresi (Excretory)(8-12 menit), sedangkan dilapangan dilakukan dengan 4 fase yaitu fase pre kontras, arterio portal, Nefrography dan Delay (20 Menit). Pemeriksaan CT scan urologi menggunakan low contrast 50 cc dapat mengevaluasi seluruh orga urologi serta organ intraabdomen lainnya.
Analisis Quality Control pada Pesawat MRI 1,5 Tesla di Instalasi Radiologi Rsud Bali Mandara Putri Wirya Febriyani; I Made Lana Prasetya; I Putu Surya Dharma Negara
KOLONI Vol. 5 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v5i2.922

Abstract

Magnetic Resonance Imaging (MRI) is a diagnostic imaging modality with a high capability to produce optimal soft tissue contrast. The quality of MRI images is strongly influenced by system performance; therefore, routine quality control (QC) is essential to maintain consistency and reliability of imaging results. This study aims to analyze the implementation of QC on a 1.5 Tesla MRI system through artifact evaluation and the application of a visual checklist at the Radiology Installation of RSUD Bali Mandara.This study employed a qualitative design with a survey approach. Data were collected through direct observation of MRI QC procedures, implementation of a visual checklist, and artifact evaluation using a water phantom. Scanning was performed using T1-weighted axial and T2-weighted axial sequences with standard parameters. The results showed that MRI QC procedures were conducted routinely through daily and weekly assessments. The visual checklist evaluation indicated that the MRI system was generally in good condition. Artifact evaluation revealed no artifacts in the phantom images. Environmental parameters, including room temperature (20.33°C), humidity (59.7%), and helium level (93.8%), were within stable and acceptable ranges. In conclusion, the implementation of MRI QC has been carried out effectively through a combination of artifact evaluation and visual checklist. This approach can serve as a practical method for maintaining MRI image quality and supporting reliable diagnostic outcomes in radiology services.
Analisis Prosedur Pemeriksaan MRI Hip Joint pada Kasus AVN Menggunakan Flexible Coil Nurul Syakirah; I Made Lana Prasetya; I Putu Surya Dharma Negara
KOLONI Vol. 5 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v5i2.946

Abstract

Avascular Necrosis (AVN) is a condition characterized by the death of bone tissue due to impaired blood supply, most commonly affecting the femoral head and potentially leading to progressive structural damage if not diagnosed at an early stage. Magnetic Resonance Imaging (MRI) is the preferred imaging modality for detecting AVN because of its high sensitivity in identifying bone marrow and soft tissue changes. At RSUD Bali Mandara, MRI examinations of the hip joint in AVN cases are performed using a flexible coil, making it necessary to evaluate the examination procedure and the resulting image quality. This study aimed to analyze the MRI hip joint examination procedure in AVN cases using a flexible coil and to assess the diagnostic value of the images produced. A descriptive qualitative research design was employed, with data collected through observation, interviews, and documentation involving two patients who underwent MRI hip joint examinations. The results showed that the examination procedure included patient preparation, equipment preparation, patient positioning, and image acquisition using multiplanar MRI sequences. Based on interviews with radiographers and radiologists, the use of a flexible coil produced images with low noise levels and sufficient quality to clearly demonstrate hip joint anatomy and AVN characteristics. In one patient, MRI revealed signal changes in the femoral head consistent with AVN, while the second patient showed imaging features more indicative of osteoarthritis. It can be concluded that the use of a flexible coil in MRI hip joint examinations provides diagnostically acceptable image quality and can support the diagnosis of AVN when combined with appropriate examination techniques and optimized imaging parameters.